Vous êtes sur la page 1sur 11

UJIAN TENGAH SEMESTER

METODELOGI PENELITIAN

Di susun guna memenuhi tugas UTS mata kuliah Metodelogi penelitian


Dosen pembimbing :
Abdul Qodir, S.Kep., Ners., M. Kep
Nurma Afiani, S. Kep.,Ners., M. Kep
Dr. Wira Daramatasio., M. Biomed

Oleh
Candra Aprilia Kartika (1608.14201.476)

PROGAM STUDI PROFESI NERS


STIKES WIDYAGAMA HUSADA
MALANG
2019
ANALISIS ARTIKEL 1

Evaluating the Effectiveness of Mental Health First Aid Program for Chinese
People in HongKong

A. JUDUL
Judul pada artikel ini menggambarkan keseluruhan isi artikel, di karenakan
mulai dari Abstrak hingga Conclusion (kesimpulan) artikel tersebut
membahas Apa itu Mental Health First Aid, bagaimana prosedur dalam
Mental Health First Aid dan Bagaimana Efektivitas Progam Mental Health
First Aid atau Pertolongan pertama pada seseorang yang mengalami
gangguan mental yang di peruntukan oleh orang awam atau seperti pelajar,
mahasiswa, buruh, wiraswasta dan lain-lain.

B. LATAR BELAKANG
1. Kondisi saat ini yang sedang terjadi
Kondisi yang sedang terjadi saat ini adalah di Hongkong tingkat
pravelensi gangguan mental 15-25% dan tingkat kejadian penyakit
mental yang berat bervariasi yaitu 1% hingga 3% dengan populasi saat
ini mencapai tujuh juta orang. Di perkirakan bahwa ada 1,05-1.750.000
orang yang berpotensi menderita berbagai gangguan mental di
Hongkong. Sayangnya hanya sebagian kecil dari orang-orang tersebut
yang mencari bantuan dan menerimaperawata psikiatris dan psikologis
dari para professional kesehatan mental. Perilaku bantuan-mencari
kelompok budaya yang berbeda telah secara konsisten menunjukkan
bahwa sejumlah besar orang Asia dengan penyakit mental, termasuk
Cina, sering mengalami keterlambatan lebih lama di mencari bantuan
dari kelompok etnis lain masyarakat acuh tak acuh.
2. Kondisi ideal yang di harapkan adalah populasi gangguan mental di
Hongkong dapat di tekan sehingga tidak ada peningkatan dari tahun ke
tahun. Terutama untuk masyarakat China yang tinggal di Hongkong.
3. Kesenjangan atau permasalahan yang muncul adalah sebagian besar
Penduduk China yang Tinggal di Hongkong dalam penelitian orang
China memiliki persentase yang jauh lebih rendah dari melek kesehatan
mental di bandingkan dengan kelompok budaya lain dalam studi luar
negeri (Wong, Dia, Poon, & Lam, 2012; Wong, Lam, & Poon, 2010).
Untuk contoh, ketika membandingkan dengan persentase yang
ditemukan dalam sampel populasi umum Australia (yaitu, sekitar
64,20%), jauh lebih sedikit orang Cina di Shanghai (8.32%), Hong Kong
(18,43%), dan Australia (15,5%) bisa benar mengidentifikasi kondisi yang
dijelaskan dalam sketsa sebagai kasus skizofrenia akut. Demikian pula,
dibandingkan dengan persentase yang ditemukan dalam sampel
Australia dan Kanada (67% dan 75,6%, masing-masing), jauh lebih
sedikit orang Cina di Shanghai (12,3%), Hong Kong (13,9%), dan
Australia (14%) mengakui sketsa sebagai salah satu depresi. Dalam
penelitian yang dikutip di atas, itu juga menemukan bahwa ada sejumlah
besar orang Cina yang tidak memiliki banyak pemahaman tentang
perawatan medis untuk orang dengan penyakit mental (misalnya, obat-
obatan dan rawat inap). Selain itu, ada kecenderungan kuat bagi
sebagian orang Cina untuk mencari perawatan medis dan sosial
tradisional untuk masalah kesehatan mental mereka. Akhirnya, ada
beberapa kebingungan tentang peran dan fungsi berbagai profesional
(misalnya, psikiater dan psikolog). Mereka enggan untuk
mengungkapkan masalah mereka kepada orang lain karena takut
penolakan sosial, jarak sosial, dan permusuhan. Pada tahap awal
pengembangan penyakit mental, individu-individu mungkin mengabaikan
kehadiran gejala dan menganggap gejala ini penyebab selain penyakit
mental. Orang lain mungkin mencoba untuk mengelola gejala selama
mereka dapat mengatasi. Akibatnya, mereka mungkin tidak berani
keluar untuk mencari bantuan untuk masalah kesehatan mental mereka.
Akibatnya pravelensi gangguan mental di hongkong meningkat terutama
pada penduduk dari China.
4. Urgensi. Jika masalah tersebut tidak diatasi maka yang terjadi adalah
pravelensi gangguan mental yang terjadi di hongkong akan meningkat,
Serta masyarakat China akan tetap kurang mengetahui gangguan
mental yang terjadi pada dirinya, kerabat, teman dan orang lain yang
berada di sekitar. Gangguan mental jika tidak segera di atasi maka akan
menimbilkan berbagai bahaya seperti perilaku kekerasan,
penyalahgunaan zat yang mengakibatkan penyakit kejiawaan seperti
halusinasi, hingga skizofernia, dan yang lebih parah jika tidak segera di
tangani adalah penderita gangguan mental akan mencederai diri sendiri
atau bahkan bunuh diri.
5. Alternatif solusi, pemerintah menfasilitasi progam Mental Health first Aid
untuk mereka yang kurang melek terhadap kesehatan mental agar dapat
mengenali dan mencegah terjadinya gangguan mental pada diri sendiri,
keluarga, teman dan orang lain. Hongkong berharap untuk masyarakat
China tidak memiliki keterlambatan dalam mencari bantuan ketika
mengalami atau menemukan kasus gangguan mental yang terjadi
seperti segera datang ke psikolog atau pskiatri serta dapat meningkatkan
kepercayaan diri untuk menolong orang sekitar yang mengalami
gangguan mental dengan menggunakan metode Mental Health First
Aid. Mental Health Pertolongan Pertama (MHFA) Program berasal dari
Australia dan merupakan program pendidikan publik yang bertujuan
untuk membantu masyarakat umum untuk memberikan bantuan awal
untuk orang dengan masalah kesehatan mental. Di Hongkong, MHAHK
telah mensponsori masyarakat Cina dan telah memperkenalkan kepada
masyarakat Cina lokal sejak 2004. MHFA adalah program 12 jam yang
dijalankan oleh instruktur bersertifikat. Isi pelatihan MHFA dapat dibagi
menjadi tiga bagian :
1) Bagian pertama mendefinisikan kesehatan mental dan menyajikan
informasi yang berkaitan dengan epidemiologi dan dampak penyakit
mental di masyarakat Hongkong, bagian pertama diakhiri dengan
rencana aksi langkah-demi-langkah yang disebut ALGREE (A - ''
Approach, Menilai, dan Assist '' orang dengan krisis apapun; L - ''
Listen '' non-judgmentally; G - '' Berikan '' dukungan dan informasi; E
- '' encourage '' orang untuk mendapatkan bantuan profesional yang
tepat, dan Encourage other support - '' Mendorong '' dukungan
lainnya), yang memungkinkan peserta untuk mengingat rencana aksi
untuk membantu orang yang mengalami krisis kesehatan mental
atau yang mungkin mengembangkan masalah kesehatan mental.
2) Bagian kedua berisi berbagai jenis masalah kesehatan mental:
depresi, kecemasan, psikosis, dan substansi Penyalahgunaan. Di
bawah masing-masing kategori, informasi yang diberikan tentang
jenis, faktor risiko, intervensi, pentingnya intervensi dini, krisis terkait
dengan gangguan tersebut, dan sumber daya bermanfaat. Rencana
aksi diterapkan untuk setiap kategori, menentukan tindakan yang
perlu diambil.
3) Bagian ketiga meliputi pertolongan pertama untuk krisis kesehatan
mental, seperti pikiran untuk bunuh diri dan perilaku, nonsuicidal
cedera diri, negara psikotik parah, efek akut dari narkoba dan alkohol
penyalahgunaan, dan perilaku agresif. Karena bantuan profesional
tidak selalu segera datang dalam keadaan darurat, perlu untuk
penyedia MHFA memiliki pengetahuan tentang bagaimana untuk
mempertahankan hidup, mencegah kerusakan lebih lanjut,
mendorong pemulihan, dan memberikan kenyamanan.

C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian Orang-orang Cina umumnya tidak memiliki
pengetahuan tentang penyakit mental, Fenomena tersebut dapat
menyebabkan keterlambatan dalam mencari perawatan psikiatrik. Studi ini
mengevaluasi efektivitas program Pertolongan Pertama Kesehatan Mental
(MHFA) dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan mental masyarakat
umum di Hongkong. Menurut saya judul penelitian yang di ada apa artikel ini
sudah tepat karena seluruh isi dari artikel ini adalah bagaimana progam
Mental Health First Aid ini berjalan dan berpengaruh atau memberikan efek
pada masyarakat Hongkong terutama penduduk China yang kurang
pengetahuan tetntang kesehatan Mental.

D. HIPOTESIS
Penelitian ini memiliki hipotesis berikut. Ketika membandingkan dengan
kelompok kontrol, para peserta dalam kelompok eksperimen akan memiliki:
1. Peningkatan pengetahuan tentang gangguan mental yaitu :
a. pengakuan depresi dan skizofrenia
b. perjanjian dengan profesional kesehatan mengenai pengobatan
untuk orang dengan depresi dan skizofrenia pada saat selesainya
MHFA dan pada 6 bulan follow-up;
2. Stigma sosial yang kurang yaitu,
a. Dirasakan atau mengarti keberbahayaan,
b. Dirasakan atau mengarti ketergantungan,
c. jarak sosial lebih menyukai menuju orang dengan gangguan mental
pada saat selesainya MHFAatau lebih peduli dan pada 6 bulan
follow-up;
3. meningkatnya kepercayaan diri lebih dalam memberikan bantuan untuk
orang dengan masalah kesehatan mental pada saat selesainya MHFA
dan pada 6 bulan follow-up.
Menurut saya, hipotesis yang sudah di terapkan dalam artikel ini sudah tepat
karena memang artikel tersebut membuktikan hasil dari pelatihan Mental
Health First Aid dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang
gangguan mental, menurunkan stigma kepada penderita gangguan mental,
dan meningkatkan kepercayaan diri dalam memberikan pertolongan awal
kepada kerabat, teman atau orang lain atau bahkan diri sendiri ketika
mengalami gejala awal gangguan mental.

E. METODE PENELITIAN
1. Desain penelitian pada artikel ini adalah mengunakan desain quasi-
experimental. Quasi-experimental adalah jenis desain penelitian yang
memiliki kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak dipilih secara
random. Desain ini sudah tepat karena untuk mengukur atau
mengevaluasi sebuah Progam atau perlakuan maka di butuhkan design
yaitu Sebelum diberi treatment, baik kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol diberi test yaitu pretest, dengan maksud untuk mengetahui
keadaan kelompok sebelum treatment. Kemudian setelah diberikan
treatment, kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diberikan
testyaitu posttest, untuk mengetahui keadaan kelompok setelah
treatment.
2. Metode sampling, metode sampling yang di gunakan adalah purposive
sampling dimana Metode ini menggunakan kriteria yang telah dipilih oleh
peneliti dalam memilih sampel. Kriteria pemilihan sampel terbagi menjadi
kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi merupakan kriteria sampel
yang diinginkan peneliti berdasarkan tujuan penelitian. Sedangkan
kriteria eksklusi merupakan kriteria khusus yang menyebabkan calon
responden yang memenuhi kriteria inklusi harus dikeluarkan dari
kelompok penelitian.
Teknik sampling representative dikarenakan dapat mewakili karakteristik
populasi dan besarnya sample memadai dan ciri-ciri sampel sama atau
hampir sama dengan ciri-ciri populasi, tetapi pada penelitian ini tidak
dilakukan teknik random sampling atau pengacakan pada sample
dikarenakan semua peserta berminat dalam mengikuti pelatihan ini.
Besar sample adalah 138 mendapat pelatihan Mental Health first aid dan
139 mengambil dari seminar kesehatan umum.
ANALISIS ARTIKEL 2

PENGARUH LATIHAN COPING WITH STRESS TERHADAP RISIKO BUNUH


DIRI PADA REMAJA DI SMP KASIH KOTA DEPOK TAHUN 2010

A. JUDUL
Judul pada artikel ini tidak menggambarkan keseluruhan pada artikel
dikarena pada artikel ini hanya membahas atau menggambarkan bagaimana
faktor ide resiko bunuh diri, hubungan umur yang mempunyai ide resiko
bunuh diri, dan dalam artikel ini tidak menjelaskan bagaimana teknik dari
coping with strees dalam mencegah resiko bunuh diri, peneliti langsung
menyebutkan bahwa penanganan resiko bunuh diri pada remaja dengan
coping with stress dapat menurunkan ide atau perilaku resiko bunuh diri
pada remaja.
B. LATAR BELAKANG
1. Kondisi saat ini yang sedang terjadi
Setiap tahun, hampir satu juta orang meninggal akibat bunuh diri. Suatu
tingkat kematian global dimana terdapat 16 kematian per 100.000
penduduk atau satu kematian setiap 40 detik. Pada 45 tahun terakhir ini,
bunuh diri telah meningkat sebesar 60% di seluruh dunia. Bunuh diri
adalah salah satu dari tiga diantara penyebab kematian pada mereka
yang berusia 15–44 tahun di beberapa negara dan penyebab utama
kedua, kematian pada kelompok umur 10–24 tahun. Angka–angka ini
tidak termasuk usaha bunuh diri yang mencapai 20 kalilebih sering
frekuensinyad ari pada tindakan bunuh diri. Melihat angka ini kejadian
bunuh diri di seluruh dunia cukup tinggi dan pelakunya termasuk pada
kelompok umur yang relatif sangat muda. Pada tahun 2002 Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa pada tahun 2020 akan
adasekitar 1.530.000 orang yang akan mati denganbunuh diri, menurut
tren saat ini. Diseluruh dunia ,percobaan bunuh diri akan menjadi sekitar
10-20kali lebih dari kematian dengan bunuh diri. Ini berarti rata-rata ada
satu orang bunuh diri setiap 20 detik dan setiap 1-2 detik akan ada
upaya atau usaha bunuh diri. Kondisi ini adalah masalah serius yang
memerlukan solusi yang tepat sebagai tindakan preventif.
2. Kondisi ideal yang di harapkan adalah angka kejadian serta perilaku
resiko bunuh diri pada remaja di Indonesia dapat di tangani dengan baik
sehingga angka kejadian bunuh diri di Indonesia dari tahun ke tahun
tidak terus meningkat. Berbagai faktor yang tidak boleh diabaikan dalam
menilai risiko bunuh diri remaja adalah upaya bunuh diri sebelumnya,
riwayat orang lain dalam keluarga yang melakukan bunuh diri
sebelumnya, penyakit mental, penggunaan alkohol, penggunaan
narkoba dan perilaku yang merusak diri sendiri.
3. Kesenjangan atau permasalahan yang muncul adalah penelitian tentang
upaya pencegahan bunuh diri pada remaja telah dilakukan di Amerika.
Penelitian di lakukan oleh Institut Nasional Kesehatan Mental pada tahun
2004 (AFSP, 2009) menunjukkan bahwa faktor risiko bunuh diri termasuk
depresi, gangguan mental dan penyalahgunaan zat. Resiko bunuh diri
sering terjadi pada remaja merupakan gabungan keadaan eksternal
yang dialami remaja dengan adanya kerentanan faktor predisposisi
seperti gangguan mental. Dalam penelitian ini belum ditemukan adanya
intervensi dalam upaya pencegahan bunuh diri yang dilakukan oleh
remaja. Sekolah, konselor, terapis dan lain-lain profesi yang dapat
membantu, akan lebih baik untuk mengurangi risiko bunuh diri ketika
remaja terfokus pada masalah yang dapat membuat putus asa
,bermusuhan, konsep diri negatif dan kurangnya dukungan sosial. Hal ini
jelas menunjukkan bahwa profesi kesehatan khususnya keperawatan
jiwa harus mampu melihat secara tanggap berbagai faktor apa saja yang
dapat meningkatkan resiko bunuh diri pada remaja, sehingga dapat
menentukan solusi yang tepat untuk penangananya penanganannya.
4. Urgensi. Jika masalah tersebut tidak diatasi maka yang terjadi adalah
pravelensi bunuh diri pada kalangan remaja akan terus menerus
meningkat, mengingat pada usia remaja yaitu 12-20 tahun adalah usia
yang rentan terjadi gangguan mental dikarenan proses dalam pencarian
identitas, proses penerimaan diri dari remaja, dan banyaknya berbagai
tekanan dari sosial seperti prestasi akademis, konflik dengan orangtua,
pengaruh teman sebaya, dan penyalahgunaan zat. Hal tersebut dapat
mengibatkan kematian yang di sebabkan oleh bunuh diri meningkat serta
akan merusak generasi penerus bangsa.
5. Alternatif solusi, Pencegahan bunuh diri terdiri dari berbagai upaya,
Salah satu program pencegahan bunuh diri berbasis sekolah adalah
General suicide education. Program dikembangkan dengan pendekatan
metode kurikulum yang berfokus pada social skills, problem solving
strategies, coping skills dan help-seeking skills. Pada penelitian ini
remaja yang mendapatkan program pencegahan bunuh diridiberikan
latihan meningkatkan kemampuan diridalam menghadapi stres sebagai
copping skills yang perlu dimiliki oleh setiap remaja.

C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian memperoleh gambaran tentang pengaruh Program
latihan coping with stress terhadap risiko bunuh diri pada remaja di SMP
Kasih kota Depok. Menurut saya, tujuan dari penelitian ini lebih tepat lagi jika
memang di jelaskan bagaimana prosedur Latihan Coping with strees bukan
hanya menjelaskan hubungan apa yang menyebabkan ide bunuh diri atau
perilaku resiko bunuh diri.

D. HIPOTESIS
Penelitian ini tidak memiliki hipotesis. Maka menurut saya hipotesis untuk
artikel ini adalah Ketika membandingkan dengan kelompok kontrol, para
peserta dalam kelompok eksperimen akan memiliki:
1. Menunjukkan peningkatan dalam mencegah munculnya ide bunuh diri.
2. Para remaja di harapkan dapat melakukan coping stress dengan baik
sehingga perilaku resiko bunuh diri dapat di hindari.
3. Menurunya Angka kejadian bunuh diri pada kalangan remaja setelah
dilakukannya intervensi coping with stress.

E. METODE PENELITIAN
1. Desain penelitian pada artikel ini adalah mengunakan Quasi
experimental pre-post test with control group, dalam desain ini terdapat
dua kelompok yang di pilih secara random, kemudian di beri pretest
untuk mengetahui keadaan awal, adakah perbedaan antara kelompok
eksperimen dan kelompok control. Desain ini menurut saya sudah tepat
dalam penelitian inidi karenakan peneliti ingin mengetahui seberapa
besar efek dari sebuah intervensi atau perlakuan.
2. Metode sampling, metode sampling yang di gunakan adalah purposive
sampling dimana Metode ini menggunakan kriteria yang telah dipilih oleh
peneliti dalam memilih sampel. Kriteria pemilihan sampel terbagi menjadi
kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi merupakan kriteria sampel
yang diinginkan peneliti berdasarkan tujuan penelitian. Sedangkan
kriteria eksklusi merupakan kriteria khusus yang menyebabkan calon
responden yang memenuhi kriteria inklusi harus dikeluarkan dari
kelompok penelitian.
Teknik sampling representative dikarenakan peneliti menerapkan teknik
random sampling atau pengacakan pemilihan kelompok control dan
eskprimen serta dapat mewakili karakteristik populasi dan besarnya
sample memadai dan ciri-ciri sampel sama atau hampir sama dengan
ciri-ciri populasi. Besar sampel untuk kelompokintervensi dan kelompok
non intervensi masing-masing berjumlah 28 orang yang dibagi dengan
teknik simple random sampling.
DAFTAR PUSTAKA

Daniel F. K., Ying Lau., Sylvia Kwok., Pruduce Wong., Christopher Tori.
(2017). Evaluating the Effectiveness of Mental Health First Aid Progam
for Chinese People in HongkonG. Research on Social Work Practice.
Vol 27 (1) 59-67.

Tinneke A Tololiu., Budi Anna Keliat., Etty Rekawati. Pengaruh Latihan


Coping with Stress Terhadap Resiko Bunuh Diri Pada Remaja di SMP
KASIH kota DEPOK Tahun 2010. Juiperdo. Vol 1 No 1 Maret 2012.