Vous êtes sur la page 1sur 30

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayatNya kami dapat menyelesaikan Tugas
tentang ”Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin dengan Sungsang”.
Tujuan dari penyelesaian Tugas mata kuliah Midwifery II ini adalah untuk
menambah pengetahuan dan ketrampilan dalam memberikan asuhan pada ibu
bersalin khususnya dengan presentasi letak sungsang
Tidak lupa kami ucapkan terima kasihkepada pembimbing dan teman-
teman yang telah bekerja sama dan terima kasih atas kritik dan saran yang telah di
berikan kepada kami. Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan
makalah ini terdapat kekurangan. Oleh karena itu, segala kritik yang membangun
sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat
digunakan sebagai tambahan pengetahuan bagi kita semua. Demikian kami
sampaikan semoga makalah ini berguna bagi para pembaca sekalian dan kami
ucapkan terimakasih.

Pekalongan, Maret 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................. i
DAFTAR ISI........................................................................................... ii
BAB I : PENDAHULUAN.................................................................... 1
A. Latar Belakang.................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah............................................................................. 2
C. Tujuan Penulisan................................................................................ 2
D. Manfaat.............................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN......................................................................... 4
A. Definisi Letak Sungsang................................................................... 4
B. Diagnosis Letak Sungsang................................................................. 4
C. Bentuk - bentuk letak sungsang........................................................ 5
D. Penyebab letak sungsang.................................................................. 6
E. Penatalaksanaan letak sungsang....................................................... 7
F. Komplikasi persalinan letak sungsang............................................ 13
G. Mekanisme persalinan..................................................................... 14
BAB III : TINJAUAN KASUS........................................................... 16
BAB IV : PEMBAHASAN.................................................................. 24
BAB V : PENUTUP.............................................................................. 25
5.1 Kesimpulan..................................................................................... 25
5.2 Saran............................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA

ii
iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Malpresentasi adalah bagian terendah janin yang berada dibagian bawah ra
him, bukan belakang kepala. Malposisi adalah penunjuk (presenting part) tidak be
rada di anterior. Secara epidemiologis pada kehamilan tunggal didapatkan present
asi kepala sebesar 96,8 %, bokong 2,7 %, letak lintang 0,3 %, majemuk 0,1 %,
muka 0,05 %, dan dahi 0,01 %,. Apabila janin dalam keadaan malpresentasi atau
malposisi, maka dapat terjadi persalinan yang lama atau bahkan macet.
Presentasi bokong adalah janin letak memanjang dengan bagian terendahn
ya adalah bokong, kaki atau kombinasi keduannya. Dengan insiden 34% dari selur
uh kehamilan tunggal pada umur kehamilan cukup bulan (≥ 37 minggu), presen
tasi bokong merupakan malpresentasi yang paling sering dijumpai. Sebelum umur
kehamilan 28 minggu, kejadian presentasi bokong berkisar antara 25-30%, dari
sebagian besar akan berubah menjadi presentasi kepala setelah umur kehamilan
34 minggu (Prawirohardjo, 2013).
Kejadian letak sungsang berkisar antara 2% sampai 3% bervariasi di ber
bagai tempat. Sekalipun kejadiannya kecil tetapi mempunyai penyulit yang besar
dengan angka kematian sekitar 20% sampai 30%. Persalinan kepala pada letak su
ngsang tidak mempunyai mekanisme “maulage” karena susunan tulang dasar kep
ala yang padat dan rapat, sehingga hanya mempunyai waktu 8 menit, setelah bayi
lahir. Keterbatasan waktu persalinan kepala dan tidak mempunyai mekanisme ma
ulage dapat menimbulkan kematian bayi yang besar. (Manuaba, 1998)
Manajemen presentasi bokong mengalami perubahan yang mengarah kepa
da semakin dipilihnya cara persalinan bedah sesar dibandingkan vaginal. Pada tah
un 1990 sebanyak kasus presentasi bokong dilahirkan secara bedah sesar, sedangk
an pada tahun 1970 hanya sebanyak 11,6 %. Kecenderungan tersebut sangat berka
itan dengan bukti-bukti yang menunjukan hubungan cara persalinan dengan resiko
kematian atau morbiditas perinatal. Meskipun nilai ambang dilakukanya bedah
sesar pada kasus presentasi bokong semakin tinggi, ketrampilan melakukan

1
persalinan vaginal masih tetap diperlukan. Kontroversi masih terjadi dalam
pilihan cara persalinan pada presentasi bokong. Hal tersebut hendaknya tidak
membuat kekhawatiran terjadi nya kematian atau morbiditas perinatal membuat
semua kasus presentasi bokong dilakukan bedah sesar (prawirohardjo 2013).
Berdasarkan kasus diatas, maka Penulis tertarik mengambil judul “Asuhan Kebida
nan Ibu Bersalin Dengan Letak Sungsang Di Puskesmas Kesesi 1”.

B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang yang telah diuraikan diatas dapat ditarik peru
musan masalah dengan studi kasus ini adalah “Bagaimana Penatalaksanaan “Asuh
an Kebidanan Ibu Bersalin Dengan Letak Sungsang Di PuskesmasKesesi
1” dengan menggunakan manajemen kebidanan 7 langkah varney.

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Melaksanakan Asuhan Kebidanan Ibu bersalin Kala II dengan letak
sungsang terhadap Ny.N G5P3A1 dengan menggunakan Manajemen Kebid
anan 7 Langkah Varney.
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian Ibu bersalin Kala II dengan letak sungsang terha
dap Ny.N G1P0A0
b. Menginterprestasi data yang meliputi diagnose kebidanan Ibu bersalin
dengan letak sungsang terhadap Ny.N G1P0A0
c. Menentukan identifikasi diagnose dan masalah potensial pada Ibu bersal
in dengan letak sungsang terhadap Ny.N G1P0A0
d. Menentukan identifikasi kebutuhan akan tindakan segera atau kolaborasi
pada Ibu bersalin dengan letak sungsang terhadap Ny.N G1P0A0
e. Menentukan perencanaan asuhan yang akan diberikan pada Ibu bersalin
dengan letak sungsang terhadap Ny.N G1P0A0
f. Menentukan pelaksanaan asuhan yang akan diberikan pada Ibu bersalin
dengan letak sungsang terhadap Ny.N G1P0A0

2
g. Melakukan evaluasi asuhan pada Ibu bersalin dengan letak sungsang ter
hadap Ny.N G1P0A0

D. Manfaat
1. Bagi Tenaga Kesehatan
Dapat meningkatkan pelayanan kesehatan pada ibu bersalin dengan Prese
ntasi Letak Sungsang.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat digunakan sebagai referensi untuk menambah wawasan khususnya
dalam asuhan kebidanan persalinan pada ibu bersalin dengan Presentasi
Letak Sungsang.
3. Bagi Mahasiswa
Sebagai upaya peningkatan pengetahuan dalam memberikan asuhan kebid
anan persalinan yang sesuai dengan 7 langkah Varney.

3
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi Letak Sungsang


Letak sungsang merupakan letak janin yang memanjang dengan bokong sebagai
bagian terendah (persentasi bokong). Persalinan sungsang adalah persalinan untuk
melahirkan janin yang membujur dalam uterus dengan bokong atau kaki pada bagi
an bawah dimana bokong atau kaki akan dilahirkan terlebih dahulu daripada anggo
ta badan lainnya (Sondakh,2013).
Presentasi bokong adalah janin letak memanjang dengan bagian terendahnya
bokong, kaki,atau kombinasi keduanya. (Prawirohardjo, 2013).
Persalinan letak sungsang adalah persalinan yang terjadi pada letak bokong yang
lahir terlebih dahulu dari pada bagian lainya. Pada letak kepala,kepala yang
merupakan bagian terbesar lahir terlebih dahulu, sedangkan persalinan letak
sungsang justru kepala yang merupakan bagian terbesar bayi akan lahir terakhir
(Manuaba, 2009).

B. Diagnosis
Pergerakan anak teraba oleh ibu di perut bagian bawah,di bawah pusat,
dan ibu sering merasaadanaya benda keras (kepala) mendesak tulang iga. Pada pe
meriksaan secara palpasi, akan teraba bagian keras, bundar, dan melenting pada fu
ndus uteri, sedangkan pada bagian atas dari simpisis akan teraba bagian yang kura
ngbundar dan lunak(Sondakh,2013).

Pada punggung anak setinggi pusat akan terdengar bunyi jantung anak jika pembu
kaan sudahbesar, maka dapt teraba tiga tonjolan tulang pada pemeriksaan dalam.
Tiga tonjolan tulang tersebut adalah kedua tuber ossis ischii dan ujung ost sacrum.
Selain itu, diantara tiga tonjolan tulang tersebut dapat diraba dan anus anus dan
genetalia anak (sondakh, 2013).

Diagnosis letak sungsang pada umumnya tidak sulit. Pada pemeriksaan


luar, di bagian bawa uterus tidak dapat diraba bagian yang keras dan bulat, yakni

4
kepala, dan kepala teraba di fundus uteri. Kadang-
kadang bokong janin teraba bulat dan dapat memberi kesan seolah-
olah kepala, tetapi bokong tidak dapat digerakkan semudah kepala. Seringkali wa
nita tersebu menyatakan bahwa kehamilannya terasa lain daripada kehamilannya y
ang terdahulu, karena
terasa penuh di bagian atas dan gerakan terasa lebih banyak di bagian bawah. Den
yut jantung janin pada umumnya ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi dari
pada umbilikus (Sondakh,2013).

Apabila diagnosis letak sungsang dengan pemeriksaan luar tidak dapat dib
uat, karena misalnya dinding perut tebal, uterus mudah berkontraksi atau banyakn
ya air ketuban, maka diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan dalam. Apabi
la masih ada keraguraguan, harus dipertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan
ultrasonografik atau M.R.I. ( Magnetic Resonance Imaging). Setelah ketuban pec
ah, dapat diraba lebih jelas adanya bokong yang ditandai dengan adanya sakrum,
kedua tuber ossis iskii, dan anus. Bila dapat diraba kaki, maka harus dibedakan de
ngan tangan. (Manuaba,2009).
Pada kaki terdapat tumit, sedangkan pada tangan ditemukan ibu jari yang letakny
tidak sejajar dengan jarijari lain dan panjang jari kurang lebih sama dengan
panjang telapak tangan.Pada persalinan lama, bokong janin mengalami edema,
sehingga kadangkadang sulit membedakan wajah dan bokong.Pemeriksaan yang
teliti dapat membedakan bokong dengan muka karena jari yang akan dimasukkan
ke dalam anus mengalami rintangan otot, sedangkan jari yang dimasukkan ke
dalam mulut akan meraba tulang rahang dan alveola tanpa ada hambatan. Pada pre
sentasi bokong kaki sempurna, kedua kaki dapat diraba disamping bokong, sedang
kan pada presentasi bokong kaki tidak sempurna, hanya teraba satu kaki di
samping bokong (Ningrum, 2012).

C. Bentuk-bentuk Letak Sungsang


Berdasarkan komposisi dari bokong dan kaki dapat ditetukan beberapa bentuk
letak sungsang sebagai berikut:

5
1. Letak bokong murni
a. Teraba bokong
b. Kedua kaki menjungkit ke atas sampai kepala bayi
c. Kedua kaki bertindak sebagai spalk
2. Letak bokong kaki sempurna
a. Teraba bokong
b. Kedua kaki berada di samping bokong
3. Letak bokong tak sempurna
a. Teraba bokong
b. Di samping bokong teraba satu kaki
4. Letak kaki
a. Bila bagian terendah teraba salah satu dan kedua kaki atau lutut
b. Dapat dibedakan: letak kaki, bila kaki terendah; letak lutut bila lutut terendah.
Untuk menentukan berbagai letak sungsang dapat dilakukan dengan melakukan
pemeriksan dalam, pemeriksaan poto abdomen , dan pemeriksaan ultasonografi.(
Manuaba,2009)

D. Penyebab Letak Sungsang


Penyebab letak sungsang dapat berasal dari:
1. Sudut ibu
2. Keadaan rahim
a. Rahim arkuatus
b. Septum pada rahim
c. Uterus dupleks
d. Mioma bersama kehamilan
3. Keadaan plasenta
a. Plasenta letak rendah
b. Plasenta previa
4. Keadaan jalan lahir
a. Kesempitan panggul
b. Deformitas tulang panggul

6
c. Terdapat tumor menghalangi jalan lahir dan perputaran ke posisi kepala
(Manuaba,2009).
5. Sudut janin
Pada janin terdapat berbagai keadaan yang menyebabkan letak sungsang:
a. Tali pusat pendek atau lilitan tali pusat
b. Hidrosefalus atau anensefalus
c. Kehamilan kembar
d. Hidramnion atau oligohidromnion
e. Prematuritas.
Dalam keadaan normal, bokong mencari tempat yang lebih luas sehingga terd
apat kedudukan letak kepala. Di samping itu kepala janin merupakan bagian t
erbesar dank eras serta paling berat. Melalui hokum gaya berat. Melalui hoku
m gaya berat, kepala janin akan menuju kearah pintu atas panggul. Dengan g
erakan kaki janin, keteganagn ligamentum rotundum dan kontraksi Braxton h
icks, kepala janin berangsur-
angsur masuk ke pintu atas panggul. (Manuaba,2009).Penyebab letak sungsa
ng adalah sebagai berikut:
a) Prematuritas karena bentuk rahim relative kurang lonjong, jumlah air ketu
ban masih banyak, dan ukuran kepala anak relative besar.
b) Hidramnion sehingga anak mudah bergerak.
c) Plasenta previa karena menghalangi turunnya kedalam pintu atas panggul.
d) Bentuk rahim yang abnormal, seperti uterus bikornis.
e) Panggul sempit.
f) Kelainan bentuk kepala, yaitu hidrosefalus dan anensefalus karena kepala
urang sesuai dengan bentuk pintu atas panggul.

E. Konsep Penatalaksanaan Letak Sungsang


Pertolongan persalinan letak sungsang memerlukan perhatian karena dapat
menimbulkan komplikasi kesakitan, cacat permanen sampai dengan kematian
bayi. Menghadapi kehamilan letak sungsang dapat diambil tindakan.
1. Saat kehamilan melakukan versi luar

7
2. Persalinan diselsaikan dengan:
a. Pertolongan persalinan pervaginam.
1) Pertolongan fisiologis secara brach
2) Ekstraksi parsial
a) Secara klasik
b) Secara Mueller
c) Secara loevset
3) Persalinan kepala
a) Secara maurriceau veit smellie
b) Mempergunakan ekstraksi forsep
c) Ekstraksi bokong totalis
d) Ekstarksi bokong
e) Ekstraksi kaki.
b. Pertolongan persalinan dengan seksio sesarea.
Untuk penjelasan lebih lengkap di uraikan di bawah ini:
1. Saat kehamilan
Diusahakan melalui versi luar kea rah letak kepala. Versi luar (eksternal v
ersi) dilakukan pula pada kasus letak melintang yang dapat menuju letak
kepala atau letabokong.
2. Pertolongan persalinan sungsang pervaginam.Pertolongan persalinan leta
k sungsang pervaginamyang tidak sempat atau tidak berhasil dilakukan ve
rsi luar adalah:
a. Persalinan menurut metode brach.Persalinan brach berhasil bila berlan
gsung
dalam satu kali his dan mengejan, sedangkan penolong membnatu mel
akukan
hiperlordose. Teknik melakukan hiperlordose adalah sebagai berikut:
1) Saat bokong tampak disuntikkan oksitosin 5 unit
2) Setelah bokong lahir, bokong dipegang secara brach (kedua ibu jari
Pada kedua paha bayi, dan keempat jari kedua tangan lainya
memegang bokong bayi)

8
3) Dilakukan hiperlordose dengan melengkungkan bokong kearah
perut ibu,Seseorang membantu melakukan tekanan kristeller pada
fundus uteri, saat his dan mengejan
4) Lahir berturut-turut dagu, mulut, hidung, muka dan kepala bayi
Bayi diletakkan di perut ibu untuk pemotongan tali pusat dan
selanjutnya di rawat sebagaiman mestinya.Bila persalinan dengan
satu kali his dan mengejan tidak berhasil, maka pertolongan brach
dianggap gagal, dan dilanjutkan dengan ekstraksi (manual aid).
b. Ekstraksi bokong parsial
Persalinan dengan ekstraksi bokong parsial dimaksudkan bahwa:
1) Persalinan bokong sampai umbilicus berlangsung dengan kekuatan sendiri.
2) Terjadi kemacetan persalinan badan dan kepala
3) Dilakukan persalinan bantuan dengan jalan: secara klasik, secara muller,
dan lovset.
c. Pertolongan ekstraksi bokong secara klasik
Teknik ekstraksi bokong parsial, secar klasik dilakukan sebagai berikut:
1) Tangan memegang bokong dengan telnjuk pada spina ischiadiak anterior
superior
2) Tarik curam ke bawah samapi ujung scapula tampak.
3) Badan anak dipegang sehingga perut anak didekatkan keperut ibu dengan
demikian kedudukan bahu belakang samapai persendian siku.
4) Tangn belakang dilahirkan, degan mendorong persendian siku menelusur
badan bayi.
5) Selanjutnya badan anak dipegang sedemikian rupa, sehingga punggung
anak mendekati panggul ibu
6) Tangan lainnya menelusuru bahu depan, menuju persendian siku
selanjutya lengan atas dilahirkan denagn dorrongan pada persendian siku.
d. Persalinan kepala dilakukan sebgai berikut:
1) Badan anak seluruhnya ditunggangkan pada tangan kiri
2) Jari tengah dimasukkan kedalam mulut si bayi, untuk mempertahankan
situasi fleksi

9
3) Dua jari lain menekan pada os maksiliaris umtuk membantu fleksi kepala
4) Tangan kanan memegang leher bayi, menarik curam ke bawah sehingga s
boksiput berada di bawah simfisis sebagai hipomoklion
5) Kepala bayi dilahirkan melakukan tarikan tangan kana, samba melakukan
putaran kearah perut ibu
6) Berturut-turut lahir, dagu, mulut, dahi dan kepala seluruhnya
7) Seelah bayi lahirr diletakkan di atas perut si ibu, tali pusat dipotong, lendir
Dibersihkan dan selanjutnya dirawat sebagaimana mestinya (Manuaba,
2009).
e. Persalianan ekstaraksi bokong parsial menurut Mueller.
Persalinan ekstraksi bokong parsial menurrut muellerr tidak banyak mempun
yai perbedaan dengan secara “klasik”. Perbedaannya terletak pada persalinan
lengan depan dilakukan terlebih dahulu dengan jalan:
1) Punggung bayi didekatkan ke punggung ibu, sehingga scapula tampak.
2) Tangan lainnya menelusuri bahu depan menuju lengan atas, sampai perse
dian siku untuk melahirkan lengan atas.
3) Perut bayi didekatkan ke perut ibu, tanagn lain menelusuri bahu belakang,
samapi persendian siku, dan selanjutnya lengan belakang dilahirkan.
4) Persalinan kepala dilakukan menurut tekhnik mauriceau.
5) Setelah bayi lahir tali pusat dipotong dan dibersihkan untuk dirawat
Sebagaimana mestinya.(Manuaba,2009)
f. Pertolongan persalinan bahu menurut loevset.
Konsep tekhnik loevset untuk melahirkan bersasarkan:
1) Perbedaan panjang jalan lahir depan dan belakang
2) Bahu depan yang berada dibaawah simfisis bila diputar menjadi bahu
belakang kedudukannya menjadi lebih rendah sehingga otomatis terjadi
persalinan.
3) Bahu belakang setelah putaran 90 derajat menjadi bahu depan, keduduka
nya menjadi lebih rendah sehingga otomatis terjadi perslinan.
4) ada waktu melakukan putaran disertai tarikan sehingga dengan putaran
tersebut kedua bahu dapat dilahirkan.

10
5) Persalianan kepala dapat dilakukan dengan tekhnik mauriceau.
g. Pertolongan persalinan kepala
Pertolongan prsalinan kepala menurut Mauriceau-veit Smellie.
Bila terjadi kegagalan persalinan kepala dapat dilakukan pertolongan secara
Mauriceau Viet Smellie):
1) Badan anak ditunggangkan pada tanagn kiri
2) Tali pusat dilonggarkan
3) Jari tengah dimasukkan kedalam mulut bayi, dua lain diletakkan pada
tulang pipi serta menekan kearah badan bayi sehingga fleksi kepala dapat
dipertahankan. Tangan kanan memegang leher bayi, menarik curam kebawah
sampai sub oksiput sebagai hipomoklion, kepala bayi diputar keatas sehingga
berturut-turut lahir dagu, mulut, hidung, ,mata, dahi , kepala bayi seluruhnya.
Persalinan kepala dengan ekstraksi forsep.
Kegagalan persalinan kepala dengan tekhnik Maureceau Viet Smellie dapat
diteruskan dngan ekstraksi forsep:
1) Seluruh badan bayi dibungkus dengan duk steril diangkat keatas sehingga
kepala bayi
mudah dilihat untuk aplikasi forsep.
2) Daun forsep kiri dipasang terlebih dahulu, diikuti daun forsep kanan, dilak
uan pengu
cian forsep.
3) Badan bayi ditunggangkan pada gagang forsep.
4) Dilakukan tarikan curam kebawah sehingga suboksiput berada di bawah
simfisis, dilakukan tarikan katas sehingg berturut-
turut lahir dagu, mulut dan hidung.
5) Mata dan dahi diikuti seluruh kepala bayi.
6) Bayi diletakkan di atas perut ibu, untuk memotong tali pusat.
7) Lendir dibersihkan dari jalan napas.
8) Selanjutnya dilakukan perawatan sebagaimana mestinya (Manuaba,2009).

11
h. Ekstraksi bokong total.
Ekstraksi bokong total bila diproses persainan Letak sungsang seluruhnya dila
kukan dengan kekuatan dari penolong sendiri. Bentu pertolongan ekstraksi bo
kong dan ekstraksi kaki (satu kaki, dua kaki). Ekstraksi bokong dilakukan seb
agai berikut:
1) Jari telunjuk tanagn kana dimasukkan agar dapat mencapai pelipatan paha
depan.
2) Dengan mengait pada spina ischiadika anterior superior dilakuakan
tarikancuram ke arah sehingga trochanter depan dapat dilahirkan.
3) Setelah rtochanter depan lahir dilakukan tarikan ke atas sehingga trochant
er belakang mencapai perineum.
4) Setelah trochanter belakang mencapai perineum telunjuk tangan kiri dima
sukkan ke lipatan paha, dan mencapai spina ischiadika anterior superior
belakang.
5) Dengan kedua telunjuk dilakukan persalinan seperti metode seara klasik
kombinasi dengan tindakan loevset.
6) Persalinan kepala dilakukan menurut Mauriceau V. Smellie.
7) Setelah bayi lahir dilakukan perawatan sebagaiman mestinya
(Manuaba, 2009).
i. Ekstraksi kaki
Ekstraksi kaki lebih mudah dibandingkan ekstraksi bokong. oleh karena
itu, bila diperkirakan akan melakukan ekstraksi bokong diubah menjadi
letak kaki. Menurunkan kaki berdasarkan profilaksis pinard, yaitu pembu
kaan sedikitnya 7 cm, ketuban telah pecah atau dipecahkan, dan diturun
kan kaki ke depan. Bila terdapat indikasi dilakukan ekstraksi, kaki dengan
seluruh kekuatan berasal dari penolong persalinan. Tekhnik lainnya sama
dengan dengan di atas (Manuaba, 2009).

12
F. Komplikasi Pertolongan Persalinan Letak Sungsang
Pertologan persalinan letak sungsang secara fisiologis dilakukan menutut meto
de brach. Kegagalan pertolongan secara brach diikuti oleh persalinan dengan
ekstraksi bokong parsial atau dengan ekstraksi total yang dapat menimbulkan
komplikasi.
Komplikasi persalinan letak sungsang dapat dibagai sebagai berikut:
1. Komplikasi pada ibu
Trias komplikasi ibu: perdarahan, robekan jalan lahirr, dan infeksi.
2. Komplikasi pada bayi.
Trias komplikasi bayi: asfiksi, trauma persalinan, infeksi.
a. Asfiksia bayi.
Dapat disebabkan oleh:
a) Kemacetan persalinan kepala: aspirasi air ketuban-lendir
b) Perdarahan jaringan atau edema jaringan otak
c) Kerusakan medulla oblongata
d) Kerusakan persendian tulang leher
e) Kematian bayi karena asfiksia berat
b. Trauma persalinan
a) Dislokasi- fraktur persendian, tulang ekstermitas
b) Kerusakan alat vital: lien, hati, paru-paru atau jantung
c) Dislokasi fraktura persendian tulang leher: fraktura tulang dasar kepala;
fraktur tulang kepala, kerusakan pada mata, hidung atau telinga,
kerusakan pada jaringan otak.
c. Infeksi dapat terjadi karena:
a) Persalinan berlangsung lama
b) Ketuban pecah pada pembukaan kecil
c) Manipulasi dengan pemeriksaan dalam.

13
G. Mekanisme persalinan
Mekanisme persalinan sungsang yaitu pada letak ini dimulai dengan garis
pangkal paha yang masuk secara serong ke dalam pintu atas panggul. Bagian bok
ong depan memutar kearah depan setelah mengalami rintanagan yang berasal dari
otototot dasar panggul sehingga
terjadi laterofleksi.Bokong depan akan terliaht paad vulva dan denagn trokhanter
depan sebagai hipomoklionnya dan secara laterofleksi dari badan lahirlah bokong
belakang pada pinggir depan perineum dan disusul dengan bokong depan. Setelah
itu, terjadi putar paksi luar, punggung berputar sedikit kedepan sehingga bahu dap
at masuk pintu atas panggul. Oleh karena itu, punggung berputar lagi ke samping.
(Sondakh,2013).
Ketika bahu sudah saatnya untuk lahir, kepala dalam keadaan fleksi masuk
pintu atas panggul dengan ukuran melintang pintu atas panggul. Kepala ini meng
adakan putaran paksi sedemikian rupa hingga kuduk/tengkuk terdapat di bawah
simfisis dan dagu disebelah belakang. Kemudian, pada perineum secara berturuttu
rut lahir bagianbagian janin, seperti dagu, mulut, hidung, dahi, dan belakang
kepala (Sondakh,2013).
Bokong masuk atas panggul dapat melintang atu miring mengikuti jalan lahir dan
melakukan jalan lahir dan melakukan putar faksi dalam sehingga trochanter depan
berada di baawah simfisis. Dengan trochanter depansebagai hipomoklion, akan
lahir trochanter belakang, dan selanjutnya seluruh bokong lahir.
Sementara itu bahu memasuki jalan lahir dan mengikuti jalan lahir dan mengikuti
jalan lahir untuk melakukan putar paksi dalam sehinggabahu depan berada
dibawah simfisis. Dengan bahu depan sebagai hipomoklion akan lahir bahu
belakang bersama dengan tenaga belakang diikuti kelahiran bahu depan dan
tangan depan (Manuaba,2009).
Bersamaan dengan kelahiran bahu, kepala bayi memasuki jalan lahir daapt melint
ang atau miring, serta melakukan putar paksi dalam sehingga suboksiput berada di
baawah simfisis. Suboksiput menjadi hipomoklon, berturutturut akan lahir, dagu,
mulut, muka dan kepala seluruhnya. Persalianan kepala mempunyai waktu

14
terbatas 8 menit, setelah bokong lahir. Melampaui batas 8 menit dapat meimbulka
n kesakitan atau kematian bayi (Manuaba, 2009).

15
BAB III
TINJAUAN KASUS

Tanggal : 6 maret 2019 Pukul : 15.00 WIB

I. PENGKAJIAN
A. DATA SUBJEKTIF
1. IDENTITAS
Nama ibu : Ny.I Nama Suami : Tn. R
Umur : 25 tahun Umur : 30 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/bangsa : Jawa / Indonesia Suku/bangsa : Jawa / Indonesia
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Kesesi Alamat : Kesesi
Status perkawinan : kawin
Kawin : 1 kali
Lama : 3 tahun

2. ANAMNESE (DATA SUBJEKTIF)


1. Alasan Utama Masuk Kamar Bersalin : ingin bersalin
2. Perasaan (Sejak terakhir datang ke klinik/RS) : cemas,takut karena nyeri
dari pinggang menjalar ke perut, serta keluar lendir bercampur darah dari
vagina.
3. Tanda-tanda bersalin
Kontraksi : Sejak Pukul : 20:30 WIB
Frekuensi : 2 x / 10 menit
Lamanya : 25 detik Kekuatan : kuat
Lokasi Ketidaknyamanan : dari pinggang menjalar ke perut

16
4. Pengeluaran Pervaginam
Darah lendir : Ada/tidak ada
5. Masalah-masalah khusus : keluar lendir bercampur darah dari vagina.
6. Riwayat kehamilanan sekarang
HPHT : 13 juni 2018
HPL : 20 maret 2019
ANC : teratur, frekuensi 6x dibidan
keluhan lain : nyeri dari pinggang menjalar ke perut
7. Riwayat imunisasi : 2x dibidan UK : 16 minggu dan 20 minggu
8. Riwayat kehamilan, persalinan yang lalu
Hamil pertama ini
9. Pergerakan janin dalam 24 jam terakhir
ada
10. Makanan dan minuman terakhir, pukul : 12:00 WIB
Jenis makanan : Nasi, Lauk Tempe Tahu, Sayur, buah
11. BAB (Buang Air Besar) : 1 x / hari
12. BAK (Buang Air Kecil) : 10 x / hari
13. Tidur : tidur siang 1 jam, tidur malam 6 jam
14. Psikologis : Stabil
15. Keluhan Lain (bila ada) : tidak ada
16. Riwayat Kesehatan Pasien
Jantung : tidak ada
Hipertensi : tidak ada
Asma : tidak ada
DM : tidak ada
Ginjal : tidak ada
Hepatitis : tidak ada
TBC : tidak ada
Riwayat gemeli : tidak ada
17. Riwayat Kesehatan Keluarga
Jantung : tidak ada

17
Hipertensi : tidak ada
Asma : tidak ada
DM : tidak ada
Ginjal : tidak ada
Hepatitis : tidak ada
TBC : tidak ada
Riwayat gemeli : tidak ada

B. PEMERIKSAN FISIK (DATA OBJEKTIF)


1. Keadaan Umum : Baik
Keadaan Emosional : stabil
Kesadaran : compos mentis
2. Tanda-tanda Vital
Tensi : 110/90 mmHg
Nadi : 80 kali/menit
RR : 20 kali/menit
Suhu : 36,5 0 C
3. Tinggi Badan : 156 cm Berat badan : 62 kg
4. Muka
Oedem : ya/tidak
Pucat : ya/tidak
5. Mata
Kelopak mata : oedem : ya/tidak
Sklera : putih/iketrus
Konjungtiva : pucat/merah muda

6. Mulut
Keadaan mulut : kebersihan: cukup/kurang
Keadaan bibir : mukosa bibir: kering/lembab,pucat/tidak
Lidah : bersih/kotor
7. Leher

18
Bendungan vena jugularis : ada/tidak
Pemb.Keljr Limfe : ada /tidak
8. Dada
Bentuk Dada : simetris/tidak
9. Payudara
Kebersihan Payudara : cukup/kurang
Areola mamae : hiperpigmentasi/tidak
Puting susu : menonjol/datar/terbenam
Payudara Massa : ada/tidak
Colostrums : keluar /belum keluar
Kebersihan putting susu : bersih
10. Abdomen
Pembesaran kearah : depan /tidak
Striae : lividae/albican
Linea : alba/nigra
Bekas operasi : ada/tidak
11. Ekstremitas
Atas
Oedem : ya/tidak
Bawah
Oedem : ya/tidak
Varices : ya/tidak
Reflek patella tendon patella kiri/kanan: positive

C. PEMERIKSAAN KEBIDANAN
1. Palpasi Uterus
Leopoid I : Tinggi Fundus Uteri (TFU) : 29 cm, fundus teraba
bulat, kera, melenting : kepala
Leopoid II : bagian kanan teraba panjang, keras : punggung dan
bagian kiri teraba bagian kecil janin : tangan dan kaki

19
Leopoid III : bagian bawah teraba lunak, bulat, tidak melenting :
bokong
Leopoid IV : bagian bawah belum masuk PAP
Kontraksi : 2 x dalam 10 menit, selama 25 detik
Fetus
Letak : longitudinal
Posisi : teraba sakrum
Presentasi : bokong
Taksiran Berat Janin : 2790 gram
2. Auskultasi
Denyut Jantung Janin : 138 kali / menit
Frekuensi : teratur /tidak
Punctum maximum : atas kanan umbilikus
3. Ano-genital
Perineum : ada
Vulva vagina : Warna : merah kebiruan Luka : tidak ada
Fistula : tidak ada Varices : tidak ada
Pengeluaran pervaginam : lendir bercampur darah
Kelenjar Bartolini
Pembengkakan : tidak ada
Konsistensi : -
Anus : Ada / tidak Hemoroid
4. Pemeriksaan dalam
Atas Indikasi : keluar lendir bercampur darah pukul : 14:00 WIB
Dinding Vagina : tidak ada benjolan
Portio : terjadi penipisan portio
Posisi portio : antefleksi
Konsistensi : lunak
Pembukaan Servik : 4 cm
Ketuban : belum pecah
Presentasi fetus : bokong

20
Hodge : hodge II
Mulase : tidak ada

D. UJI DIAGNOSTIK
Pemeriksaan penunjang
Darah: Hb : 11,8 gr%
Gol. Darah : O
Urine: Protein : negatif
Glukosa : tidak dilakukan
USG : Janin tunggal, Presentasi bokong (usia kehamilan 30 minggu)

II. INTERPRESTASI DATA


Diagnosa :
Ny. I, 26 tahun, G1 P0A0 usia kehamilan 39 minggu, janin tunggal, hidup intra
uteri, letak bokong, puka, dengan presbo
Masalah
1. Ibu merasa cemas dan khawatir dengan kehamilannya
2. Ibu merasa nyeri saat kontraksi
Kebutuhan
1. Informasi kepada ibu bahwa kehamilan ibu dalam keadaan baik dan ibu
sebentar lagi akan melahirkan
2. Dukungan dari suami, keluarga dan dukungan dari tenaga kesehatan

III. DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL


Tidak ada masalah potensial

IV. TINDAKAN SEGERA


Melakukan rujukan

21
V. PERENCANAAN (PLANNING)
1. Beritahu hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga
2. Beri dukungan psikologis pada ibu
3. kolaborasi dokter
4. Lakukan inform consent
5. Siapkan rujukan

VI. PELAKSANAAN (IMPLEMENTASI)


1. Memberitahu hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga bahwa posisi kepala bayi
berada diatas dan kemungkinan harus melahirkan dirumah sakit dengan fasilitas
yang lebih lengkap
2. Menyiapkan mental ibu dan keluarga dalam menghadapi persalinan dengan
memberikan dukungan pada ibu dan keluarga agar tidak terlalu khawatir dan cemas
3. melakukan kolaborasi dengan dokter puskesmas
4. Meminta persetujuan pada ibu dan keluarga untuk dilakukan rujukan serta meminta
tanda tangan keluarga
5. Melakukan persiapan rujukan yaitu “BAKSO KUDA” meliputi bidan, alat (partus
set), keluarga, surat (surat rujukan), obat, kendaraan (ambulans), Uang dan Darah
atau doa.

VII. EVALUASI
1. Ibu dan keluaga telah mengetahui hasil pemeriksaan
2. Ibu sedikit merasa lega atas dukungan yang diberikan
3. advis dokter pasang infus RL, rujuk
4. ibu dan keluarga setuju, keluarga sudah menandatangani inform consent
5. persiapan rujukan sudah lengakap, ibu sudah terpasang infus RL

22
BAB IV
PEMBAHASAN

1. Pengumpulan data dasar


Pada anamnesa, ibu mengatakan merasa mulas dan mengeluarkan lendir
darah. Pada pemeriksan leopod I teraba keras, melenting yang berarti
kepala, leopod II bagian kanan teraba datar memanjang yang berarti
punggung, bagian kiri teraba bagian kecil-kecil yang berarti ekstremitas,
leopod III teraba lunak, tidak melenting yang berarti bokong dan leopod
IV bagian terbawah belum masuk PAP.
2. Interpretasi data
Dari pengumpulan data dasar meliputi data subjektif dan objektif yang
diperoleh dianalisis dalam langkah interpretasi data ini yang selanjutnya
akan muncul diagnosa, masalah dan kebutuhan.
Pada kasus inni ditegakan diagnosa kebidanan Ny. I, 26 tahun, G1P0A0,
hamil 39 minggu, janin tunggal hidup intra uteri dengan presbo, yang
ditegakan melalui anamnesa dan pemeriksaan fisik. Masalah yang
ditemukan dalam kasus ini adalah rasa cemas dan khawatir pada ibu
sehubungan dengan kondisinya.
3. Mengidentifikasi diagnosa potensial, masalah potensial
Pada kasus ibu bersalin dengan letak sungsang diagnosa
potensial tidak ditemukan, dikarenakan adanya kesigapan dari tenaga
kesehatan dalam menangani kasus ini.
4. Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera
Pada kasus ini antisipasi tindakan segera adalah melakukan rujukan ke
fasilitas kesehatan yang lebih memadai.
5. Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh
Rencana asuhan kebidanan yang diberikan dalam kasus ini adalah
melakukan pemeriksaan pada ibu, melakukan kolaborasi dengan dokter

23
untuk rencana tindak lanjut, memberikan support mental pada ibu dan
keluarga serta melakukan rujukan
6. Pelaksanaan perencanaan
Penatalaksanaan asuhan sesuai dengan rencana yang disusun dan telah
dilakukan dengan baik
7. Evaluasi
Evaluasi yang dilakukan pada kasus ini yaitu dengan melakukan rujukan
pada fasilitas kesehatan yang memadai untuk penanganan persalinan
dengan presbo atau sungsang.

24
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Letak sungsang merupakan letak janin yang memanjang dengan bokong sebagai
bagian terendah (persentasi bokong). Persalinan sungsang adalah persalinan untuk
melahirkan janin yang membujur dalam uterus dengan bokong atau kaki pada bagi
an bawah dimana bokong atau kaki akan dilahirkan terlebih dahulu daripada anggo
ta badan lainnya(Sondakh,2013).
Presentasi bokong adalah janin letak memanjang dengan bagian terendahnya
bokong, kaki,atau kombinasi keduanya. (Prawirohardjo, 2013).
Persalinan letak sungsang adalah persalinan yang terjadi pada letak bokong yang
lahir terlebih dahulu dari pada bagian lainya. Pada letak kepala,kepala yang
merupakan bagian terbesar lahir terlebih dahulu, sedangkan persalinan letak
sungsang justru kepala yang merupakan bagian terbesar bayi akan lahir terakhir
(Manuaba, 2009).
Pergerakan anak teraba oleh ibu di perut bagian bawah,di bawah pusat,
dan ibu sering merasaadanaya benda keras (kepala) mendesak tulang iga. Pada pe
meriksaan secara palpasi, akan teraba bagian keras, bundar, dan melenting pada fu
ndus uteri, sedangkan pada bagian atas dari simpisis akan teraba bagian yang kura
ngbundar dan lunak (Sondakh,2013).

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis akan menyampaikan saran yang
dapat bermanfaat yaitu :

25
1. Bagi penulis
Diharapkan bagi penulis agar dapat meningkatkan pengetahuan dan
pengalaman nyata alam memberikan asuhan kebidanan pada ibu bersalin
dengan presentasi letak sugsang di fasilitas dasar.
2. Bagi profesi
Diharapkan bidan lebih mampu mengkaji masalah yang timbul, melakukan
antisipasi atau tindakan segera dan merencanakan asuhan kebidanan pada ibu
bersalin dengan presentasi letak sungsang.
3. Bagi instansi pendidikan
Agar lebih meningkatkan mutu pendidikan dalam proses pembelajaran baik
teori maupun praktek. Agar mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan dan
wawasan tentang teori-teori persalinan patologis.

26
DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, Ida Bagus Gde. 2009. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Bere
ncana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC
Mochtar, Rustam.2011. Sinopsis Obstetri jilid 1 edisi 3. Jakarta : EGC
Johariyan. Ningrum, Ema Wahyu. 2012. Asuhan KebidananPersalinan dan Bayi Baru Lah
ir. Jakarta : Trans Info Media
Prawirohardjo, Sarwono. 2013. Ilmu Kebidanan edisi Keempat. Jakarta : Bina Pustaka
Sondakh, Jenny J. S. 2013. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Jakarta : E
rlangga

27