Vous êtes sur la page 1sur 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit pneumonia merupakan penyebab kematian balita di dunia. Di
perkirakan ada 1,8 juta atau 20% dari kematian anak di akibatkan oleh
pneumonia melebihi kematian akibat AIDS, malaria, dan tuberculosis.
Pneumonia adalah peradangan akut di parenkim paru, bronkiolus respiratorius
dan alveoli yang menimbulkan konsolidasi jaringan paru sehingga dapat
mengganggu pertukaran oksigen dan karbondioksida di paru-paru. Konsolidasi
pada pneumonia ditandai oleh alveolus yang terisi oleh eksudat, sel radang, dan
fibrin (Nurul dkk, 2015). Gejala dari infeksi pneumonia disebabkan invasi pada
paru-paru oleh mikroorganisme dan respon sistem imun terhadap infeksi.
Ketika sel imun merespon terhadap infeksi virus, dapat terjadi kerusakan paru.
Kumpulan dari sel yang rusak dan cairan dalam alveoli mempengaruhi
pengangkutan oksigen ke dalam aliran darah sehingga pasien mengalami
sianosis, saturasi oksigen rendah, gangguan pertukaran gas sehingga pasien
pneumonia sering mengalami batuk tidak efektif, sputum berlebih, mengi,
wheezing, ronkhi kering, sesak nafas sehingga akan terjadi masalah bersihan
jalan nafas tidak efektif pada pasien peneumonia (Fransisca, 2012).
Kejadian pneumonia di Dunia merupakan masalah kesehatan karena
angka kematiannya tinggi di negara maju seperti Amerika, Canada, dan Eropa.
Terdapat 2 juta sampai 3 juta pertahun dengan jumlah kematian rata-rata 45.000
jiwa di Amerika. Di Indonesia, pneumonia merupakan urutan ke dua penyebeb
kematian pada balita setelah diare. Angka kematian yang diakibatkan
pneumonia di Indonesia berdasarkan Rikesdas 2013 sebesar 1,8 persen dan 4,5
persen. Angka ini meningkat 49,45% dari tahun 2008 (Novitasari dkk, 2015).
Menurut Rikesdas 2013, angka kejadian pneumonia di Bali khususnya kota
Denpasar adalah sebesar 1,2 persen (Rikesdas Bali, 2013).
Pneumonia di katagorikan dalam penyakit menular yang di tularkan
melalui udara, dengan sumber penularan adalah penderita pneumonia yang
menyebebkan kuman dalam bentuk droplet ke udara pada saat batuk atau bersin.
Bakteri ataupun virus yang sudah menginfeksi bakteri akan masuk ke dalam
tubuh yang dapat menyebabkan penyakit yang serius atau bahkan fatal seperti
syok septik dengan tekanan darah rendah dan kerusakan pada bagian organ-
organ tubuh seperti otak, ginjal, dan jantung. Apabila kondisi ini tidak ditangani
dengan serius akan menyebabkan pasien mengalami komplikasi dari
pneumonia atau bahkan mengalami gagal napas dan sirkulasi (Fransisca, 2012).
Penanganan awal pada pasien pneumonia adalah mempertahankan
kepatenan jalan napas (airway), pola napas (breathing), dan sirkulasi
(circulation), tempatkan pasien pada posisi semifowler untuk meningkatkan
kadar oksigen ke paru-paru. Terapi suportif pada pasien pneumonia adalah
pemberian Nebulizer dalam penanganan terhadap gangguan pada saluran
pernafasan. Selain itu adapun penanganan yang dapat di lakukan yaitu monitor
saturasi oksigen, pemberian posisi yang nyaman untuk meminimalkan aspirasi,
pemberian cairan, pemberian antibiotik (Justina dkk, 2017).
Berdasarkan uraian diatas dapat di simpulkan bahwa pneumonia
merupakan masalah kesehatan yang tinggi di dunia, termasuk di Indonesia
dimana penderita akan mengalami ketidakadekuatan sehingga penderita
mengalami masalah pada bersihan jalan nafas yang ditandai dengan batuk tidak
efektif, sputum berlebih, mengi, wheezing, ronkhi kering, sesak nafas sehingga
terjadi masalah bersihan jalan nafas tidak efektif. Sehingga di perlukan tindakan
kolaborasi perawat dengan tim kesehatan lain yaitu dengan dilakukan
pemberian terapi nebulizer pada penderita pneumonia yang mengalami
bersihan jalan nafas tidakefektif. Maka dari itu penulis tertarik untuk
mengangkat gambaran asuhan keperawatan pada pasien anak pneumonia
dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif dalam
pemberian nebulizer di Ruang Cempaka 3 RSUP Sanglah Denpasar.
1.2 Rumusan Masalah

Bagaimanakah gambaran asuhan keperawatan pada pasien pneumonia

dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif dalam pemberian

nebulizer?

1.3 Tujuan Studi Kasus

1.3.1 Tujuan Umum

Menggambarkan asuhan keperawatan pada pasien anak pneumonia dengan

masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif dalam pemberian nebulizer.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi pengkajian pada pasien anak Pneumonia dengan

masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif

b. Mengidentifikasi analisa data dan diagnosa keperawatan pada pasien

anak Pneumonia dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas

tidak efektif

c. Mengidentifikasi rencana asuhan keperawatan pada pasien anak

Pneumonia dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak

efektif

d. Mengidentifikasi pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien anak

Pneumonia dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak

efektif dalam pemberian nebulizer


e. Mengidentifikasi evaluasi asuhan keperawatan pada pasien anak

Pneumonia dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak

efektif dalam pemberian nebulizer

1.4 Manfaat Studi Kasus

Studi kasus ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :

a. Masyarakat:

Menambah pengetahuan masyarakat tentang manfaat pemberian terapi

nebulizer pada anak pneumonia.

b. Bagi Pengembangan Ilmu dan Teknologi Keperawatan:

Menambah keluasan ilmu dan teknologi terapan bidang keperawatan

pada pasien anak Pneumonia dengan bersihan jalan nafas tidak efektif

dalam pemberian nebulizer

c. Bagi penulis

Memperoleh pengalaman dalam melakukan penelitian asuhan

keperawatan, khususnya dalam studi kasus tentang pelaksanaan asuhan

keperawatan pada pasien anak Pneumonia dengan bersihan jalan nafas

tidak efektif dalam pemberian nebulizer.