Vous êtes sur la page 1sur 10

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF PADA

SDR. F DENGAN ORIF

DI IBS RSUD PANDANARANG BOYOLALI

OLEH:

RIZQI RACHMILIA

P17420613070

D IV KEPERAWATAN SEMARANG

JURUSAN KEPERAWATAN

POLTEKKES KEMENKES SEMARANG

2017
ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF

Nama Pasien : Sdr. F Ahli Anastesi : dr. Dzulfrida


L/ P :L Perawat Anastesi : Yuni
Umur : 22 th Scrube Nurse : Timur
RM : 17535424 Dx Pre OP : CF Femur Dextra
Ruang : Binahong Dx Post OP : CF Femur Dextra
Jenis Operasi : Mayor Tindakan Operasi :ORIF
Operator : dr. Anang

PRE OPERASI
Pengkajian
DS:
Klien mengatakan paha kanan masih terasa nyeri.
DO:
TD : 120/80 mmHg
N : 80 x/mnt
RR : 20 x/mnt
BB : 60 kg
S : 36,80C
Jantung :
I : ictus cordis tidak tampak,
P : teraba ictus cordis pada intercosta V
P : terdengar suara redup
A : terdengar suara jantung S1/ S2
Paru :
I : tampak pengembangan dada, tidak mengalami kelainan bentuk dada.
P : pengembangan dada simetris, taktil fremitus getaran teraba sama antara lapang
paru dextra dan sinistra.
P : terdengar suara sonor di seluruh lapang paru
A : terdengar suara vesikuler di seluruh lapang paru.
Persyarafan :
GCS : E4 M6 V5 Kesadaran : compos mentis
Penginderaan :
Penglihatan : mata kanan klien tampak bengkak karena benturan, pupil isokor,
rangsang pada cahaya reaktif, ukuran pupil 2 mm, konjungtiva tidak anemis,
sklera tidak ikterik.
Penciuman : tidak ada polip pada hidung
Perkemihan
Klien tidak terpasang DC, BAK : 3-4 x sehari
Pencernaan
I : perut tampak datar
A : terdengar suara bising usus : 9x/ mnt
P : terdengar suara timpani di seluruh kuadran abdomen
P : tidak terdapat nyeri tekan pada seluruh kuadran abdomen
Muskuloskeletal
Terdapat nyeri di bagian paha kanan, paha kanan tampak bengkak.
P : nyeri timbul jika di gerakan
Q : seperti di tusuk-tusuk
R : paha kanan
S:8
T : hilang timbul 5 menit
Kekuatan otot
5 5
3 5
Integumen
Terdapat lesi pada wajah dan kaki kanan, turgor kulit < 2 detik

Premedikasi : ketorolac, ondansetron, asam tranexamat


Produk Darah : -
Riwayat Alergi: klien tidak memiliki riwayat alergi.
Hasil Lab
HB : 15,2 g/dl
HT : 47,2
Gol. Darah :B
IV Line : klien terpasang infus dilengan kanan dengan cairan infus asering
NGT : tidak terpasang
Kateter : tidak terpasang
Diagnosa Keperawatan:
Nyeri akut b.d agen penyebab cidera fisik
NCP Implementasi Ttd Evaluasi
1. Jelaskan 1. Menjelaskan penyebab S : Klien
penyebab timbulnya nyeri mengatakan
2. Mengajarkan teknik
timbulnya nyeri masih terasa nyeri
2. Ajarkan teknik rileksasi nafas dalam P : saat bergerak
3. Menganjurkan pada Q : seperti
rileksasi nafas
pasien untuk tidak ditusukk
dalam untuk
S:3
banyak bergerak
mencapai T : hilang timbul
kenyamanan 3 menit
3. Anjurkan pada O : klien tak
pasien agar tidak tampak meringis
banyak bergerak kesakitan
A : masalah
untuk
teratasi hentikan
mengurangi rasa
intervensi
sakitnya

Cemas b.d akan dilaksanakan prosedur pembedahan


NCP Implementasi Ttd Evaluasi
4. Jelaskan semua 4. Menjelaskan S : pasien
prosedur dan apa prosedur mengatakan
yang dirasakan pembedahan yaitu masih sedikit
selama prosedur akan dilakukan cemas karena ini
5. Instruksikan pada
pembiusan sehingga operasi
pasien untuk
tidak akan terasa pertamanya klien
menggunakan
tehnik relaksasi sakit selama proses percaya
dan berdoa agar operasi operasinya akan
5. Mengatakan pada
proses berhasil
pasien untuk lebih O : Klien Nampak
pembedahan
rilex dan tenang lebih rileks
berjalan lancar
A : masalah
teratasi
P : hentikan
intervensi

INTRA OPERASI
Tgl. Operasi : 4 Februari 2017
Waktu : 10.00
Posisi : Sim kiri
Jumlah instrumens sebelum/ sesudah operasi :
Kassa 65, jarum 4, instrument 10 item
Teknik Anastesi: Spinal anastesi
Jenis Obat : Bupifaxain HCL
Obat lain : Miloz intra vena
Balance cairan:
Masuk : 1500 cc
Keluar : 800 cc
Diagnosa keperawatan:
1. Resiko infeksi berhubungan dengan proses pembedahan
2. Resiko hipotermi berhubungan dengan proses pembedahan
3. Resiko perdarahan berhubungan dengan proses pembedahan
NCP Implementasi Ttd Evaluasi
1. Mengurangi 1. Gunakan pakaian Pasien terhindar dari
resiko infeksi khusus di ruang resiko infeksi dengan
dengan factor operasi semua petugas ruangan
2. Pertahankan
resiko yaitu operasi mengenakan
prinsip aseptic dan
selama baju khusus ruang
antiseptic
pembedahan operasi dan pembedahan
berlangsung mempertahankan teknik
aseptik antiseptik
2. Mengurangi 1. Atur temperature Suhu pasien tetap
resiko ruangan agar tetap dipertahankan dalam
hipotermi nyaman batas normal
2. Lindungi area di
dengan faktor
luar wilayah
resiko
operasi
3. Resiko 3. Monitor TTV dan TTV dalam batas normal
perdarahan tanda perdarahan Hb Ht dalam batas
4. Catat nilai Hb Ht
normal
sebelum dan
Intake cairan sama
sesudah
dengan output
perdarahan
5. Monitor koagulasi
meliputi
PT,PTT,AT
6. Kolaborasi
pemberian produk
darah
7. Identifikasi
penyebab
perdarahan
8. Pertahankan
patensi IV line
9. Monitor status
cairan yang
meliputi intake dan
output

POST OPERASI
Pengkajian
DS :
DO :
BROMAGE SCORE
Point yang dinilai Masuk Keluar
Gerakan penuh dari tungkai (0)
Tak mampu extensi tungkai (1)
3 2
Tak mampu flexi lutut (2)
Tak mampu flexi pergelangan kaki (3)
Catatan Lain :
Perawatan Di Ruangan :
Kesakitan Diberi : Ketorolac
Mual Muntah Diberi : Ondansetron
Diagnosa Keperawatan :
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik
2. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh yang adekuat
3. Hambatan mobilitas fisik b.d kehilangan integritas struktur tulang
4. Resiko cidera berhubungan dengan proses pembedahan

NURSING CARE PLAN


No. Intervensi Implementasi Evaluasi Ttd
Dx
1 1. Lakukan 1. Melakukan pengkajian DS :
P : nyeri timbul saat
pengkajian nyeri secara
pasien bergerak
nyeri secara komprehensif termasuk
Q : perih seperti
komprehensif lokasi, karakteristik,
tersayat
termasuk lokasi, durasi, dan frekuensi R : paha kanan
2. Gunakan teknik S : 3 (masih ada efek
karakteristik,
komunikasi terapeutik anestesi)
durasi, dan
3. Ajarkan teknik tarik T : hilang timbul 1
frekuensi
nafas dalam menit
2. Gunakan teknik
4. Control ligkungan yang DO : klien tampak
komunikasi
dapat mempengaruhi menahan sakit
terapeutik A : masalah teratasi
nyeri
3. Ajarkan teknik
5. Ukur tanda-tanda vital sebagian
tarik nafas P : lanjutkan
dalam intervensi
4. Control
ligkungan yang
dapat
mempengaruhi
nyeri
5. Ukur tanda-
tanda vital

2 1. Mencuci tangan 1. Mencuci tangan setiap S :


O:
setiap sebelum sebelum dan setelah
TD : 130/ 80 mmHg
dan setelah melakukan tindakan N : 89x/ mnt
RR : 22x/ mnt
melakukan keperawatan
S : 360C
2. Memonitor tanda dan
tindakan SpO2 : 100%
gejala infeksi sistemik Kulit area luka tak
keperawatan
2. Memonitor dan local tampak kemerahan,
3. Menginspeksi kulit dan
tanda dan gejala bengkak, teraba
membrane mukosa
infeksi sistemik dingin.
4. Mengukur tanda-tanda
dan local
vital
3. Menginspeksi
kulit dan
membrane
mukosa
4. Menginspeksi
kondisi
luka/insisi
beedah
5. Mengukur
tanda-tanda
vital
3 1. Ajarkan klien 1. Ajarkan klien ROM S : klien mengatakan
ROM ekstremitas tungkai kaki sudah
2. Anjurkan klien untuk
ekstremitas bisa di gerakan
2. Anjurkan klien melakukan ROM klien mengatakan
untuk ekstremitas bawah dapat melakukan
melakukan setelah 2-4 jam pindah ROM sendiri
O : tungkai kaki klien
ROM ruangan
3. Annjurkan perawat tampak sudah bisa di
ekstremitas
ruang utuk mengawasi gerakan
bawah setelah
Klien tampak
klien melakukan ROM
2-4 jam pindah
memahami saat di
setelah 2-4 jam di
ruangan
jelaskan ROM
3. Anjurkan ruangan
A ; masalah teratasi
4. Anjurkan klien boleh
perawat ruang
sebagian
duduk setelah 24 jam
utuk mengawasi P : lanjutkan
dilakukan pembedahan
klien melakukan intervensi
1. Menganjurkan
ROM setelah 2-
perawat ruang
4 jam di
mengawasi saat
ruangan
4. Anjurkan klien mobilisasi
2. Menganjurkan
boleh duduk
perawat ruang
setelah 24 jam
untuk melatuh
dilakukan
duduk setelah 24
pembedahan
jam pasca
pembedahan
4 Mengurangi resiko 1. Tidurkan pasien pada Klien diposisikan
cidera dengan meja operasi dengan supinasi, klien
factor resiko posisi sesuai kebutuhan terhindar dari resiko
2. Monitor penggunaan
cidera seperti
instrument, jarum, dan
dipastikan tidak
kasa
adanya instrument,
3. Pastikan tidak ada
jarum, kasa yang
instrument, jarum, kasa
tertinggal pada tubuh
yang tertinggal dalam
klien.
tubuh pasien