Vous êtes sur la page 1sur 12

1b) etiologi sifilis

Pada Tahun 1905 penyebab sifilis ditemukan oleh Schaudinn dan Hoffman yaitu Treponema pallidum.
Penyebab sifilis adalah bakteri dari famili Spirochaetaceae, ordo Spirochaetales dan Genus Treponema
spesies Treponema pallidum. Treponema berupa spiral halus, panjang 5-15 mikron dan diameter 0,009-
0,5 mikron, setiap lekukan gelombang berjarak 1 mikron dan rata-rata setiap bakteriterdiri dari 8-14
gelombang dan bergerak secara aktif, karena spiralnya sangat halus maka hanya dapat dilihat pada
mikroskop lapangan gelap dengan menggunakan teknik immunofluoresensi. Kuman ini bersifat anaerob
dan diantaranya bersifat patogen pada manusia 1(CDC, 2010).

Ada tiga macam antigen Treponema pallidum yaitu protein tidak tahan panas, polisakarida, dan antigen
lipoid. Dalam keadaan anaerob pada suhu 25°C, Treponema pallidum dapat bergerak secara aktif dan
tetap hidup selama 4-7 hari dalam perbenihan cair yang mengandung albumin, natrium karbonat,
piruvat, sistein, ultrafiltrat serum sapi. Kuman ini sukar diwarnaidengan zat warna lilin tetapi dapat
mereduksi perak nitrat menjadi logam perak yang tinggal melekat pada permukaan sel kuman. Kuman
berkembang biak dengan cara pembelahan melintang. Waktu pembelahan kuman ini kira-kira 30 jam 2 (J
Todd et.al, 2001).

Sumber:

1. US CDC, 2010. MMWR Sexually Transmitted Disease Treatment


Guidelines, Vol 59, NoRR-12. Center for Disease Control and
Prevention, US Department Healthand Human Services, Atlanta.
2. J Todd, K Munguti, H Grosskurth et al, 2001. Risk factors for active
syphilis and TPHA seroconversion in a rural African population, Sex
Transm Infect 2001

1h) manifestasi sifilis1,2

Treponema dapat masuk ke tubuh calon penderita melalui selaput lendir yang utuh atau kulit
dengan lesi. Kemudian masuk ke peredaran darah dari semua organ dalam tubuh.Penularan terjadi
setelah kontak langsung dengan lesi yang mengandung treponema.3–4 minggu terjadi infeksi, pada
tempat masuk Treponema pallidum timbul lesi primer (chancre primer) yang bertahan 1–5 minggu dan
sembuh sendiri. Banyak orang terinfeksi sifilis tidak memiliki gejala selama bertahun- tahun, namun
tetap berisiko untuk terjadinya komplikasi akhir jika tidak dirawat. Gejala-gejala yang timbul jika terkena
penyakit ini adalah benjolan-benjolan di sekitar alat kelamin. Timbulnya benjolan sering pula disertai
pusing-pusing dan rasa nyeri pada tulang, mirip seperti gejala flu. Anehnya, gejala-gejala yang timbul ini
dapat menghilang dengan sendirinya tanpa pengobatan.

Gejala klinis penyakit sifilis menurut klasifikasi WHO sebagai berikut:

a. Sifilis Dini

1. Sifilis Primer

Sifilis stadium I (Sifilis primer), timbul 10-90 hari setelah terjadi infeksi. Lesi pertama berupa makula atau
papula merah yang kemudian menjadi ulkus (chancre), dengan pinggir keras, dasar ulkus biasanya merah
dan tidak sakit bila dipalpasi. Sering disertai dengan pembengkakan kelenjar getah bening regional.
Lokalisasi chancre sering pada genitalia tetapi bisa juga ditempat lain seperti bibir, ujung lidah, tonsil, jari
tangan dan puting susu. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang khas berupa chancre
serta ditemuiTreponema pallidum pada pemeriksaan stadium langsung dengan mikroskop lapangan
gelap. Apabila pada hari pertama hasil pemeriksaan sediaan langsung negatif, pemeriksaan harus
diulangi lagi selama tiga hari berturut-turut dan bila tetap negatif, diagnosis ditegakkan berdasarkan
gejala klinis dan serologis. Selama dalam pemeriksaan sebaiknya ulkus dibersihkan atau dikompres
dengan larutan garam faal fisiologis.

2. Sifilis Sekunder (S II)

Timbul setelah 6-8 minggu sejak S I. Pada beberapa kasus keadaan S II ini sering masih disertai S I. Pada S
II dimulai dengan gejala konsistensi seperti anoreksia, demam, athralgia, angina. Pada stasium ini
kelainan pada kulit, rambut, selaput lendir mulut dan genitalia, kelenjar getah bening dan alat dalam.
Kelainan pada kulit yang kita jumpai pada S II ini hampir menyerupai penyakit kulit yang lain, bisa berupa
roseola, papel-papel, papulo skuamosa, papulokrustosa dan pustula. Pada SII yang dini biasanya kelainan
kulit yang khas pada telapak tangan dan kaki. Kelainan selaput lendir berupa plakula atau plak merah
(mucous patch) yang disertai perasaan sakit pada tenggorokan (angina sifilitica eritematosa). Pada
genitalia sering kita jumpai adanya papul atau plak yang datar dan basah yang disebut kondilomata lata.
Kelainan rambut berupa kerontokan rambut setempat disebut alopesia areata. Kelainan kuku berupa
onikia sifilitaka, kuku rapuh berwarna putih, suram ataupun terjadi peradangan (paronikia sifilitaka).
Kelainanmata berupa uveitis anterior. Kelainan pada hati bisa terjadi hepatitis dengan pembesaran hati
dan ikterus ringan. Kelainan selaput otak berupa meningitis dengan keluhan sakit kepala, muntah dan
pada pemeriksaan cairan serebro spinalis didapati peninggian jumlah sel dan protein. Untuk
menegakkan diagnosis, disamping kelainan fisik juga diperlukan pemeriksaan serologis.

3. Sifilis Laten Dini

Gejala klinis tidak tampak, tetapi hasil pemeriksaan tes serologi untuk sifilis positif. Tes yang dilanjutkan
adalah VDRL dan TPHA.

b. Sifilis Lanjut

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan sikatrik bekas S I pada genitalia atau makula atrofi bekas papul-
papul S II. Pemeriksaan tes serologi sifilis positif.

1. Sifilis Tersier (S III)

Lesi pertama timbul 3-10 tahun setelah S I berupa gumma yang sirkumskrip. Gumma sering perlunakan
dan mengeluarkan cairan seropurulen dan kadang-kadang disertai jaringan nekrotik sehingga terbentuk
ulkus. Gumma ditemukan pada kulit, mukosa mulut, dan organ dalam terutama hati. Dapat pula
dijumpai kelainan pada tulang dengan keluhan, nyeri pada malam hari. Pada pemeriksaan radiologi
terlihat kelainan pada tibia, fibula, humerus, dan tengkorak berupa periostitis atau osteitis gummatosa.
Pemeriksaan TSS positif.

2. Sifilis Kardiovaskuler

Timbul 10-40 tahun setelah infeksi primer dan terdapat pada sekitar 10% kasus lanjut dan 40% dapat
bersama neurosifilis. Diagnosis ditegakkan berdasarkan berdasar gejala klinis, foto sinar X dan
pemerikasaan pembantu lainnya. Sifilis kardiovaskuler dapat dibagi dalam 3 tipe: Sifilis pada jantung,
pada pembuluh darah, pada pembuluh darah sedang. Sifilis pada jantung jarang ditemukan dan dapat
menimbulkan miokarditis difus atau guma pada jantung. Pada pembuluh darah besar, lesi dapat timbul
di aorta, arteri pulmonalis dan pembuluh darah besar yang berasal dari aorta. Aneurisma umumnya
terdapat pada aorta asendens, selain itu juga pada aorta torakalis dan abdominalis. Pembuluh darah
sedang, misalnya aorta serebralis dan aorta medulla spinalis paling sering terkena. Selain itu aorta
hepatitis dan aorta femoralis juga dapat diserang (J Todd, 2001).

3. Sifilis Kongenital Dini

Gambaran klinis sifilis kongenital dini sangat bervarasi, dan menyerupai sifilis stadium II.Karena infeksi
pada janin melalui aliran darah maka tidak dijumpai kelainan sifilis primer. Pada saat lahir bayi dapat
tampak sehat dan kelainan timbul setelah beberapa minggu, tetapi dapat pulakelainan sejak lahir.

Sumber:

1. US CDC, 2010. MMWR Sexually Transmitted Disease Treatment


Guidelines, Vol 59, NoRR-12. Center for Disease Control and
Prevention, US Department Healthand Human Services, Atlanta.
2. J Todd, K Munguti, H Grosskurth et al, 2001. Risk factors for active
syphilis and TPHA seroconversion in a rural African population, Sex
Transm Infect 2001

1i) tatalaksana sifilis1,2,3,4

Klasifikasi Terapi Anjuran Alternatif Terapi Alternatif terapi


pada alergi
penisilin
Hamil Tidak hamil

Sifilis stadium dini Benzatin Prokain Eritromisin, 500 Dosisiklin


(Sifilis primer, benzilpenisilin 2,4 benzilpenisilin 1,2 mg oral (4x sehari 100mg
Sifilis sekunder) juta IU injeksi IM juta IU injeksi IM selama 14 hari) (2xsehari)

Tetrasiklin
500mg
(4xsehari
selama 14 hari)
Sifilis stadium Benzatin Prokain Eritromisin, 500 Dosisiklin
lanjut benzilpenisilin 2,4 benzilpenisilin 1,2 mg oral (4x sehari 100mg
juta IU injeksi IM juta IU injeksi IM selama 30 hari) (2xsehari)
(1x seminggu (setiap hari selama
Tetrasiklin
selama 3 minggu 20 hari berturut-
500mg
berturut-turut di turut)
(4xsehari
hari ke 1,8, dan
selama 30 hari)
15)
Neurosyphilis Aquaous Prokain Dosisiklin
benzylpenicillin, benzilpenisilin 1,2- 100mg
18-24 juta IU 2,4 juta IU injeksi (2xsehari
injeksi IV (setiap 4 IM setiap hari dan selama 30 hari)
jam selama 14 probenesid 500mg
Tetrasiklin
hari pemberian oral (4x sheari)
500mg
dengan 3-4 juta selama 10-14hari
(4xsehari
IU)
selama 14 hari)

Sifilis Kongenital Usia <2 th dan Usia >20; Aquaous Eritromisin 7,5-
infant dengan benzylpenicillin 2,5 mg/kg oral
abnormal CSF 200000-300000 (4x sehari)
dengan; juta IU/kg/hari selama 30 hari
benzylpenicillin injeksi IM. Dengan awal kehidupan
100000-150000 pemberian 50000
juta IU/kg/hari juta IU/kg/dosis
injeksi IV setiap setiap 4-6 jam
12 jam, selama 7 selama 10-14 hari
hari awal
kehidupan dan
setelah itu setiap
8 jam, totalnya
selama 10 hari

Sumber:

1. Holmes KX, Sparling PF, Stam WE, Piot P, Wasserheit J, Corey L, et al. In: Sexually Transmitted
rd
Disease 4 . New York: McGraw Hill. 2008
2. Cherneskle T, Augenbraun M, Blank S, Dunn A, Friedenberg E, Hermoso A, et al. an Update and
Riview of the Diagnosis and Management of Syphilis. NYC Health. p15-17
3. Janier M, Hegyi V, Dupin N, Unemo M, Tiplica GS, Potocnik M, et al. 2014 European Guideline on
the Management of Syphilis. J Eur Acad Dermatol Venereol. 2014 Oct;28(1):1-29
4. World Health Organization. Guidlines for the Management of Sexually Transmitted Infection.
WHO. 2012. p39-46
2c) ulkus piogenik

2d) kondiloma

Kutil anogenitalyang sering disebut kondiloma akuminata adalah penyakit


menular seksual yangdisebabkan oleh Human Papilomavirus (HPV). Infeksi HPV dapat
menyebar melalui kontak langsung atau autoinokulasi. Masa inkubasi bervariasi dari 1 -
12 bulan dengan rata-rata 2-3 bulan. Infeksi HPV pada genital diduga subklinis sampai
70%, dan tidak disadari oleh pasien tetapi terdeteksi dengan pemeriksaan klinis
lengkap, histologis, dan sitologis atau analisis molekular.
Kondiloma akuminata memiliki infektivitas yang tinggi, di mana permukaan
mukosa yang lebih tipis akan lebih rentan terhadap inokulasi virus dibanding kulit yang
memiliki keratin tebal. Infektivitas HPV genital dari ibu sehubungan dengan papiloma
pada anak tampaknya rendah, namun risiko penularan dari ibu ke anak dengan
perkembangan penyakit selanjutnya pada anak diperkirakan 1 antara 80 dan 1 antara
1500.Selama kehamilan, kondiloma akuminata dapat berproliferasi dengan cepat karena
perubahan imunitas dan peningkatan suplai darah, dan kelainan ini dapat muncul dalam
bentuk klinis atau subklinis (laten). Bentuk klinis lebih menyebabkan gangguan
emosional dan fisik pada pasien karena ibu harus melahirkan secara sectio caesaria
dan jika melahirkan secara spontan akan terdapat kemungkinan risiko kontaminasi HPV
pada bayi

Sumber: Yenny, SW dan Rahmah Hidayah. Laporan Kasus Kondiloma Akuminata pada Wanita Hamil:
Salah Satu Modalitas Terapi. Jurnal Kesehatan Andalas. 2013. Diakses di http://jurnal.fk.unand.ac.id

11) penyakit menular seksual dan cara penularannya

Gonorrhea
Gonore mencakup semua penyakit yag disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae

(Daili et al., 2011). Neisseria gonorrhoeae adalah diplokokus gram negatif, obligat

patogen manusia yang biasanya berdiam dalam uretra, serviks, faring atau saluran anus

wanita. Infeksi terutama mengenai epitel kolumner atau transisionel saluran kemih dan

kelamin. Gonore bersama IMS lain memfasilitasi transmisi dari human immunodeficiency

virus (HIV) (Benson, 2008; Gross & Tyring, 2011). Gambaran klinis pada wanita dapat

asimptomatik, kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri pada panggul bawah. Pada

umumnya wanita datang berobat kalau sudah ada komplikasi (Daili et al., 2011).
Infeksi Chlamidia
Chlamydia trachomatis adalah mikroorganisme intraseluler obligat dengan dinding sel

yang menyerupai bakteri gram negatif. Tanda-tanda dan gejala yang terjadi cenderung

terlokalisit di tempat yang terinfeksi misalnya mata atau saluran genital tanpa adanya

invasi ke jaringan dalam (Benson, 2009). Pada wanita gejalanya adalah terdapat duh dari

vagina, disuria, perdarahan postcoital atau intermenstrual, sakit pada abdomen bawah, atau

simptom lain dari uretritis, servisitis, salpingitis, epididymitis atau konjungtivitis

(Handsfield, 2011).

Sifilis

Sifilis merupakan penyakit yang disebabkan oleh spirokaeta Treponema pallidum, merupakan

penyakit kronik dan bersifat sistemik, selama perjalanan penyakit dapat menyerang seluruh

organ tubuh, ada masa laten tanpa manifestasi lesi di tubuh, dan dapat ditularkan kepada bayi

di dalam kandungan. Periode inkubasi sifilis biasanya 3 minggu. Fase sifilis primer ditandai

dengan munculnya tukak baik tunggal maupun multipel. Lesi awal biasanya berupa papul yang

mengalami erosi, teraba keras dan terdapat yang mengelilingi lesi meninggi dan keras.

Infeksi juga dapat terjadi tanpa ditemukannya chancer (ulkus durum) yang jelas, misalnya

kalau infeksi terjadi di rektum atau serviks. Tanpa diberi pengobatan, lesi primer akan

sembuh spontan dalam waktu 4 hingga 6 minggu. Sepertiga dari kasus yang tidak diobati

mengalami stadium generalisata (sekunder). Timbul ruam makulo papuler bisanya pada

telapak tangan dan telapak kaki diikuti dengan limfadenopati. Erupsi sekunder ini

merupakan gejala klasik dari sifilis yang akan menghilang secara spontan dalam beberapa

minggu atau sampai dua belas bulan kemudian. Sifilis sekunder dapat timbul berupa ruam

pada kulit, selaput lendir dan organ tubuh dan dapat disertai demam dan malaise. Pada

kulit kepala dijumpai alopesia yang disebut moth-eaten alopecia yang dimulai di daerah

oksipital. Penularan dapat terjadi jika ada lesi mukokutaneus yang basah pada penderita

sifilis primer dan sekunder. Penderita stadium erupsi sekunder ini, sepertiga dari mereka

yang tidak diobati akan masuk kedalam fase laten. Fase laten merupakan stadium sifilis
tanpa gejala klinis namun dengan pemeriksaan serologis yang reaktif. Akan tetapi bukan

berarti perjalanan penyakit akan berhenti pada tingkat ini, sebab dapat terjadi sifilis

stadium lanjut berbentuk gumma, kelainan susunan syaraf pusat dan kardiovaskuler (Daili

et al., 2011).
Kandidiasis
Kandidiasis adalah infeksi yeast yang disebabkan oleh jamur Candida albicans. Candida

albicans merupakan bakteri yang umum terdapat pada vagina. Pertumbuhan yang

berlebihan dapat menimbulkan gejala peradangan, gatal dan perih di daerah kemaluan.

Juga terdapat keluarnya cairan vagina yang menyerupai bubur (James, Berger, & Elston,

2006). Kandidiasis dapat ditularkan secara seksual seperti bola pingpong antar pasangan

seks, sehingga dua pasangan harus diobati secara simultan. Kandidiasis pada pria biasanya

berupa kemerahan dan iritasi pada glans di bawah preputium pada yang tidak disirkumsisi.

Disertai rasa gatal ringan sampai rasa panas hebat (Daili et al., 2011).

Ulkus Mole
Ulkus Mole atau yang sering disebut chancroid (chancre lunak) ,disebabkan oleh kuman

batang gram negatif Haemophilus ducreyi, dengan gejala klinis berupa ulkus pada tempat

masuk dan seringkali disertai supurasi kelenjar getah bening regional. Infeksi pada wanita

dimulai dengan lesi papula atau vesikopustuler pada perineum, serviks atau vagina 3-5 hari

setelah terpapar. Lesi berkembang selama 48-72 jam menjadi ulkus dengan tepi tidak rata

berbentuk piring cawan yang sangat lunak. Beberapa ulkus dapat berkembang menjadi

satu kelompok. Discharge kental yang dihasilkan ulkus berbau busuk atau infeksius

(Benson, 2008; Djuanda, 2011).


Kondiloma Akuminata
Kondiloma akuminata (KA) atau disebut juga venerel warts atau Genital Warts disebabkan

oleh Human Papiloma Virus (HPV). Virus masuk melalui mikrolesi pada kulit sehingga

KA sering timbul pada daerah yang mudah mengalami trauma pada saat hubungan seksual.

KA dapat berbentuk berjonjot-jontot seperti jari, lebih besar seperti kembang kol, lebih

kecil berbentuk papul dengan permukaan yang halus dan licin, multipel tersebar secara

diskret atau lesi terlihat sebagai makula atau tidak terlihat dengan mata telanjang. Infeksi

HPV juga dihubungkan dengan terjadinya karsinoma serviks (Daili et al., 2011).

Herpes Genitalis
Herpes genitalis adalah infeksi pada genital yang disebabkan oleh herpes simplex virus

atau herpes virus hominis. Keluhan biasanya didahului rasa terbakar dan gatal didaerah

lesi beberapa jam sebelum timbulnya lesi setelah lesi muncul dapat disertai gejala seperti

malaise, demam dan nyeri otot. Lesi yang timbul berbentuk vesikel yang berkelompok

dengan dasar eritem. Vesikel mudah pecah dan menimbulkan erosi multipel. Bila ada

infeksi sekunder akan terjadi penyembuhan yang lebih lama dan menimbulkan infeksi

parut (Daili et al., 2011).


Infeksi HIV & AIDS
Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah sindrom dengan gejala penyakit

infeksi oportuninistik atau kanker tertentu akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh

infeksi Human Immunodefiency Virus (HIV) baik tipe 1 ataupun tipe 2. Human

Immunodefiency Virus ditularkan melalui perantara darah, semen dan sekret vagina baik

melalui hubungan seksual atau cara transmisi yang lainnya. Penyakit IMS lainnya dapat

meningkatkan risiko transmisi HIV pada seseorang. Human Immunodefiency Virus

menyerang sel yang memiliki antigen permukaan CD4, terutama linfosit T4 yang

memegang peranan penting dalam mengatur dan mempertahankan sistemn kekebalan

tubuh. Virus juga dapat menginfeksi sel monosit dan makrofag, sel Langerhans pada kulit,

sel dendrit folikuler pada kelnjar limfe, makrofag pada alveoli paru, sel retina, sel serviks

uteri dan sel-sel mikroglia otak. Virus yang masuk ke dalam limfosit T4 selanjutnya

mengadakan replikasi sehingga menjadi banyak dan akhirnya menghancurkan sel limfosit

itu sendiri. Gen tat yang terdapat dalam HIV dapat menyebabkan penghancuran limfosit

T4 secara besar-besaran yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menjadi lumpuh.

Kelumpuhan sistem kekebalan tubuh ini mengakibatkan timbulnya oportunistik dan

keganasan yang merupakan gejala-gejala klinis AIDS (Handsfield, 2011; Daili et al.,

2011).
Trichomoniasis
Trichomoniasis atau trich adalah suatu infeksi vagina yang disebabkan oleh suatu protozoa

yang disebut Trichomonas vaginalis. Trichomoniasis hampir semuanya ditularkan secara

seksual. Penyakit ini sering menyerang pada traktur urogenitalis bagian bawah pada wanita

maupun pria. Pada wanita sering asimptomatik, bila ada keluhan berupa duh tubuh vagina

yang banyak, berbau, bisa berwarna kuning, hijau dan berbusa. Terdapat perasaan gatal

dan terbakar di daerah kemaluan, disertai dengan perasaan tidak enak di perut bawah.

Sewaktu bersetubuh atau kencing sering terasa agak nyeri di vagina. Variasi gambaran

klinis tricomoniasis sangat luas, berbagai kuman lain penyebab IMS dapat menimbulkan

gejala yang sama sehingga diagnosis hanya berdasar gambaran klinis tidak dapat

dipercaya. Pada wanita, diagnosis trikomoniasis ditegakkan setelah ditemukannya T.

vaginalis pada sediaan langsung atau pada biakan duh tubuh penderita (Djuanda, 2011).

Sumber:

1. Adhi Djuanda, dkk. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 6.


Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2011

2. Daili SF. Gonore. Dalam Daili SF, Makes WIB, Zubier F. Infeksi Menular Seksual. Edisi
Keempat. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009.