Vous êtes sur la page 1sur 13

ANTARA ALTAR DAN PELATARAN: Etika Kristiani dalam Tata Bisnis dan

Perekonomian
17 JUNE 2012ALBERTUSJONI.SCJBONUM COMMUNE, CATHOLIC BUSINESS
ETHICS, EMPOWERMENT, ETERNAL-LIFE, ETHICS OF CARE, ETHICS OF
VIRTUE, HUMAN DIGNITY, LOVE AND RESPONSIBILITY, MORAL-
THEOLOGY, NORMATIVE ORIENTATION, SOLIDARITY AND
JUSTICE, SUSTAINABLE DEVELOPMENT.LEAVE A COMMENT

‘Altar and Agora’: Separted Ways?

0. Abstract

Good business is not only a profitable business, but also a morally good and ethical
ones. The basis of morality in business-activities urges the proper practices which are
oriented to the norms of conscience, golden rules and public considerations. Religion
as strong basis of morality in society have a wide opportunity to set and shape those
three normative orientations. In the Judeo-Christian tradition, we can use the
specifically-related terms of ‘altar and agora’ to further describe the close
relationship between faith and economy. There are a lot of religious rules, laws,
stories and parables in both Torah and Gospel that seek to maintain or to put into
question the order of business and economy. Therefore, it has been always the task of
moral-theology to determine the main foundations for present ethics and morality in
economy through those sacred texts and to reflect them in the light of the past
Tradition, the present Church’s magisterium and the contemporary theological-
philosophical insights.

This paper aims to investigate the Christian ethical-moral basis of reflection found in
those various respected resources. It will show us some important and urgent notions
of Catholic business-ethics, such as: the discourse on love and responsibility, the
issue of human dignity, the philosophical pursuit of bonum commune and the
perspective of eternal-life as the hic-et-nunc life-orientation. At the last part of this
paper, we will see how the strongly emerged demands for solidarity and justice in
world-economy might be realized in two entry points which manifest clearly the
approach of etichs of care, i.e. public-policy making in political field and the
empowerment of the poor in the framework of sustainable development.
Keywords: Catholic business ethics, normative orientation, moral-theology, love
and responsibility, human dignity, bonum commune, eternal-life, solidarity and
justice, ethics of virtue, ethics of care, empowerment, sustainable development.

1. Pendahuluan
“Ada tertulis: ‘RumahKu adalah Rumah Doa, tetapi kamu menjadikannya
sarang penyamun”
(Luk 19: 46)
Bisnis yang baik bukan saja bisnis yang menguntungkan, namun adalah
juga bisnis yang baik secara moral. Basis moralitas dalam bisnis menuntut perilaku
yang sesuai dengan standar norma – yang menurut Bertens meliputi: hati nurani,
kaidah emas (golden rules) dan penilaian umum.[1] Agama sebagai sebuah
basis moralitas yang kuat dalam masyarakat mempunyai modalitas
untuk mengatur tiga standar norma etis dalam kegiatan bisnis ini.
Analogi sosiologis yang dapat dipakai untuk menggambarkan dekatnya
ajaran agama dengan tindakan bisnis ini adalah hubungan antara altar dan
pelataran. Dalam banyak tradisi masyarakat, altar – yang melambangkan agama –
selalu dekat dengan pelataran – yang melambangkan pasar, agora, tempat
bertemunya orang-orang untuk saling bertukar kebutuhan. Dalam tradisi Yudeo-
Kristiani, altar dan pelataran merupakan bentuk relasi sosial yang tak dapat
dipisahkan. Dalam Taurat kita temukan aturan-aturan yang mengikat para
pedangang, para peminjam hutang dan tentang persembahan yang harus diberikan
pada Bait Allah.[2] Injil juga mengisahkan bagaimana Yesus mengusir para
pedagang di sekitar Bait Allah dan yang mengajarkan bahwa seseorang tidak dapat
mengabdi sekaligus pada Allah dan pada uang, pada mamon.[3]
Dengan memandang dekatnya hubungan altar-pelataran dalam tradisi, paper ini
berusaha untuk menggali tiga hal. Pertama, pendasaran etis dari iman Kristiani yang
memberi prinsip dasar bagi mungkinnya sebuah etika bisnis Kristiani. Kedua, paper
ini akan berusaha menganalisa prinsip bonum commune yang menjadi tujuan
umum dalam tindakan bisnis dan bagaimana implikasi etis yang lahir dari prinsip ini
harus berhadapan dengan etika individualis yang menjadi akar dari ‘business as
usual’. Ketiga, kita akan melihat secara lebih konkret aspek tindakan etis-moral
Kristiani yang harus diambil sebagai imperatif penebusan Kristus dalam tata
ekonomi.
2. Etika Kristiani dalam Bisnis: Mungkinkah?
“Bisnis adalah bisnis – Jangan dicampuradukkan dengan etika.” Demikianlah
ungkapan yang sering kita dengar. Ungkapan ini, menurut Richard T. de George,
lahir dari ‘mitos bisnis amoral’; yaitu bisnis sebagai sesuatu yang lepas seluruhnya
dari etika karena orientasi bisnis adalah mencari profit sebesar mungkin sementara
etika justru merupakan aturan-aturan yang menghalangi orientasi tersebut
dilaksanakan.[4] Padahal bila kita melihat lebih mendalam proses bisnis, kita akan
menemukan bahwa ada banyak nilai manusiawi dan hubungan antar-manusia yang
terjadi di dalam bisnis. Hal inilah yang membuat etika tidak mungkin tidak
mengambil peran penting dalam bisnis. Sonny Keraf menulis bahwa: “bisnis perlu
dilandasi oleh pertimbangan-pertimbangan yang etis…(agar) tidak bertujuan untuk
untung, melainkan juga untuk memperjuangkan nilai-nilai manusiawi. Karena kalau
tidak, bisnis itu sendiri akan mengorbankan hidup banyak orang, bahkan hidup
orang bisnis itu sendiri.”[5]
Iman Kristiani dapat menjadi salah satu titik pijak bagi sebuah ‘etika bisnis’ yang
khas karena peranannya yang menentukan pandangan manusia terhadap sesama
dan dunianya. Iman Kristiani dapat menjadi sebuah terang baru bagi etika bisnis
melalui setidaknya 3 pilar utama ajaran moralnya, yaitu: cintakasih, hormat pada
manusia, dan perspektif hidup kekal. Berikut ini adalah paparan masing-masing
pilar moral tersebut untuk menjadi dasar sebuah etika bisnis Kristiani.

2.1. Cinta Kasih yang Menuntut Tanggung Jawab: Dasar Proses


Berbisnis
Dalam Injil kita menemukan Yesus yang menetapkan ‘hukum baru dan utama’,
yaitu: ‘hukum cinta kasih.’[6] Cinta kasih yang dimaksudkan oleh Yesus mempunyai
dua aspek: cinta pada Allah dan cinta pada sesama manusia. Cinta kasih – caritas
– inilah yang bagi Yesus dan pengikutNya mesti menjadi dasar seluruh tindakan,
termasuk di dalamnya tindakan bisnis. ‘Business as usual’ yang berorientasi pada
profit harus diubah menjadi bisnis sebagai realisasi cinta pada Allah dan pada
sesama. Cinta kasih ini memang sekilas tampak kontras dengan orientasi profit ini
dalam dunia bisnis pada umumnya. Timothy Radcliffe dengan tajam menunjukkan
bahwa cintakasih – yang adalah ‘hidup’ Allah sendiri dan yang dibagikan paling
nyata ketika Yesus bersabda “Ambil dan makanlah, inilah tubuhKu yang diserahkan
bagimu”[7]– itu selalu hadir dalam perayaan kemurahan hati. Radcliffe menulis:
“Kemurahan hati inilah yang sulit dimengerti oleh masyarakat modern. Apa yang membuat
seruan Allah: “Datanglah kepadaKu semua yang haus dan lapar, Aku akan memberi engkau
makan dan minum tanpa bayar!” ini menjadi sesuatu yang masuk akal? Semua masyarakat
memiliki pasarnya, proses jual-beli dan pertukaran barang-barang. Masyarakat Barat
bahkan terbagi-bagi menurut posisi ‘adanya’ dalam pasar itu… Segalanya diperjual-
belikan: kesuburan alam, tanah dan air menjadi komoditas. Bahkan kita, manusia, masuk
dalam ‘pasar tenaga kerja’…”[8]
Dalam paparan di atas, terlihat jelas bahwa ‘business as usual’ itu mereduksi nilai
hidup manusia sebagai sebuah ‘transaksi kebutuhan’ melulu. Cintakasih Kristiani –
yang ditandai dengan hadirnya kemurahan hati – sebaliknya mendorong manusia
untuk mengerti kebenaran terdalam tentang dirinya sendiri yang lebih dari sekadar
salah satu instrumen dalam mekanisme pasar. Cinta kasih Kristiani yang
dimaksudkan di sini bukanlah sebuah sentimentalitas rasa saja. Lebih dari itu, cinta
kasih adalah bentuk tanggungjawab manusia atas rahmat kehidupan yang diberikan
dari Allah sendiri. Tanggungjawab kita sebagai manusia yang hidup inilah yang
membuat cintakasih tidak dapat lepas dari tuntutan untuk hidup secara etis. Bagi
orang Kristen, bahkan anugerah kehidupan dari Allah ini dialami sebagai sebuah
bentuk cintakasih Allah yang luar biasa, yang ditampakkan paling jelas dalam
penebusan Kristus – dalam sengsara, wafat dan kebangkitanNya. Hidup yang
diterima saat ini adalah hidup dalam iman akan Putera Allah yang begitu mencintai
manusia hingga rela mati dan memberikan diriNya sebagai tebusan atas dosa dan
maut.[9] Sejauh kita telah menerima anugerah cintakasih Allah inilah, orang Kristen
dituntut untuk juga hidup sesuai dengan hukum cintakasih itu.
Dalam tataran bisnis, cinta kasih Kristiani inilah yang memberi warna khas. Cinta
kasih Kristiani ini dapat direfleksikan sebagai motivasi dan orientasi tindakan bisnis.
Sebagai motivasi, cinta kasih yang dialami sebagai pemberian dari Allah mendorong
pelaku bisnis untuk (1) dengan murah hati melihat bisnis sebagai tindakan sosial,
tindakan yang mengatasi kepentingan pribadi semata dan logika kekuasaan serta
untuk (2) dengan hormat akan martabat manusia sebagai ‘pribadi’ yang telah ditebus
oleh cinta Allah. Sebagai orientasi, cinta kasih Kristiani menjadi ukuran konkret
setiap tindakan bisnis dan menjadi keutamaan di atas ‘keuntungan sebesar-
besarnya’. Cinta kasih ini – juga dalam dunia bisnis – melahirkan keutamaan Injili
yang lain: iman dan harapan.

Untuk dapat sampai pada cintakasih yang membangkitkan tanggungjawab ini,


seseorang harus juga menyertakan penalaran budi dan iman yang seimbang.
Ensiklik Caritas in Veritate dari Paus Benediktus XVI menunjukkan bahwa
perpaduan ini dibutuhkan agar manusia – lebih-lebih dalam hubungan yang
terstrukturasi seperti negara – mengerti benar nilai dan martabat manusia yang
terdalam. Ia menulis:
“The risk for our time is that the de factointerdependence of people and nations is not
matched by ethical interaction of consciences and minds that would give rise to truly human
development. Only incharity, illumined by the light of reason and faith, is it
possible to pursue development goals that possess a more humane and humanizing
value”[10]
Perkembangan yang lebih manusiawi dan me-manusia-kan ini adalah buah cinta
kasih yang diharapkan tumbuh juga sebagai benih Kabar Gembira. Perkembangan
ini bukanlah sesuatu yang abstrak, melainkan sungguh hadir dalam ranah ekonomi
dan bisnis. Pada gilirannya, tidak mungkinlah bahwa ‘perintah cinta kasih’ itu dapat
diwartakan tanpa mendukung keadilan, perdamaian dan kemajuan manusia di
bidang sosial-ekonomi.[11]
2.2. Hormat pada Manusia sebagai Gambar dan Citra Allah
Pilar pertama ditutup dengan cinta kasih yang menaruh tanggung jawab pada
kemanusiaan yang bermartabat. Martabat manusia yang menjadi identitas
terdalamnya menurut iman Kristiani terletak dalam harkatnya sebagai gambar dan
citra Allah. Maksim teologis ini berpijak pada kisah Kejadian 1:27. Dengan menjadi
citra Allah, manusia bukan sekedar ciptaan seperti ciptaan-ciptaan Allah yang lain.
Ia menjadi pusat dan puncak ciptaan Allah. Kitab Kejadian bahkan menggambarkan
bahwa Allah menciptakan manusia sebagai tuan atas segala ciptaan lain. Pribadi
manusia merupakan cerminan paling gamblang dari Allah yang hadir di tengah-
tengah kita. Karena itu, hidup manusia dipandang suci dan martabat pribadi
manusia adalah titik pijak awal bagi visi moral sebuah masyarakat.[12] Fakta
bahwa setiap orang adalah citra Allah memiliki beberapa konsekuensi penting dalam
membangun etika bisnis Kristiani.
Pertama, setiap orang memiliki martabat yang sama, yang mengalir dari
kecitraannya dengan Allah. Martabat manusia sama sekali bukanlah hasil kerja,
usaha, dan prestasinya sendiri. Martabat itu semata-mata merupakan anugerah
Allah. Maka, selama ia adalah manusia yang diciptakan oleh Allah dan karenanya
secitra dengan Allah, ia punya martabat, derajat, dan hak yang sama dengan
manusia lain. Dalam tataran bisnis, ini berarti diskriminasi akses ke sumber-sumber
ekonomi atas dasar perbedaan warna kulit, bahasa, agama, kelompok, pangkat,
posisi, identitas, dan sebagainya tidak dapat dibenarkan.

Kedua, karena secitra dengan Allah, maka pribadi manusia jauh lebih penting
daripada benda dan ciptaan lain. Karena itu, manusia tidak pernah bisa dan tidak
boleh diperlakukan sebagai sarana atau alat yang dapat dieksploitasi demi
kepentingan ekonomis. Justru karena sederajat dalam martabat dan hak, tidak ada
manusia yang berhak memperalat manusia lain.[13] Setiap tindakan memperalat
manusia demi kepentingan manusia lain otomatis berarti merendahkan martabat
manusia. Namun, tidak hanya berhenti di situ. Karena manusia adalah citra Allah
dan ciptaanNya yang paling sempurna, tindakan tersebut juga bermakna
merendahkan Allah sendiri.
Ketiga, martabat manusia sebagai gambar dan citra Allah ini menuntut para pelaku
bisnis untuk menjadi kritis terhadap kegiatan ekonomi yang tidak membawa hormat
dan kemajuan pada hak-hak manusiawi, pribadi maupun sosial, di bidang ekonomi
maupun politik.[14]
2.3. Perspektif Hidup Kekal: Sumbangan Khas Etika Bisnis
Kristiani
Pragmatisme dalam dunia ‘business as usual’ mengandaikan keyakinan untuk
mengejar keuntungan sebesarnya pada situasi kini-sini saja, pada dunianya yang
sekarang ini. Pandangan seperti ini cenderung memberi justifikasi bagi pemanfaatan
sebesar-besarnya semua sumber daya ekonomi demi kesehjateraan saat ini.
Akibatnya, ekploitasi alam dan manusia menjadi-jadi. Prinsip utilitarianisme yang
mengarahkan pada kebaikan bersama dilanggar sejauh ‘kebersamaan dengan
generasi yang akan datang’ diabaikan begitu saja. Pada titik ini, argumen utilitarian
berubah menjadi argumen individualistis yang sarat dominasi dan – sekali lagi –
eksploitasi.

Sementara itu, iman Kristiani yang percaya akan hidup kekal dapat menjadi
perspektif baru baik dalam pengelolaan sumber daya ekonomi dan dalam disposisi
batin para pelaku bisnis untuk tidak serakah dan materialistis. Hidup kekal yang
menjadi pokok iman Kristiani adalah hidup bersatu dengan Allah dalam kebahagian
dan kesempurnaan selama-lamanya; sebuah keadaan yang mengingatkan kita akan
batas dan akan asal-tujuan hidup manusia. Dengan perspektif hidup kekal ini, hidup
kita di dunia saat ini merupakan suatu peziarahan. Kita adalah musafir-musafir
Allah yang sedang dalam peziarahan menuju ke rumah Bapa di surga.

Dengan demikian bagi iman Kristen, semua tindakan duniawi akan berakhir pada
kematian. Namun, kematian hanyalah suatu peralihan dari dunia yang nyata kepada
dunia yang baru seperti yang dikatakan dalam kitab Wahyu: “Aku melihat langit
yang baru dan bumi yang baru sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama
telah berlalu dan lautan tidak ada lagi. Aku melihat kota yang kudus Yerusalem
surgawi turun dari surga dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan
yang berdandan untuk suaminya.”[15] Pada saat kematian inilah tiap orang akan
mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah.
Memang tidak selalu mudah menerima perspektif ini dalam etika bisnis Kristiani
karena (1) kesulitan besar membuat justifikasi riil atas dasar keselamatan kekal pada
tindakan ekonomi yang saat ini dibuat dan (2) adanya kesulitan untuk
menggambarkan secara eksplisit hidup kekal itu, bahkan dalam ranah teologi
sekalipun. Tidak heran bahwa masyarakat modern lebih memilih pandangan
pragmatis yang disemboyankan dengan manis lewat ‘carpe diem’. Dalam
ensikliknya, Spe Salvi, Paus Benediktus XVI dengan tajam menulis:
“… perhaps many people reject the faith today simply because they do not find the prospect
of eternal life attractive. What they desire is not eternal life at all, but this present life, for
which faith in eternal life seems something of an impediment. To continue living for ever –
endlessly – appears more like a curse than a gift.”[16]
Perspektif hidup kekal yang dianggap sebagai ‘kutukan’ ini pada dasarnya justru
menjadi sumbangan khas etika bisnis Kristiani. Refleksi teleologis sistem tindakan
bisnis dapat menemukan orientasinya pada masa yang akan datang, masa sesudah
kehidupan yang sementara ini berlalu. Artinya, dengan perspektif ini, para pelaku
bisnis diajak untuk juga memikirkan kerangka moral-etis setiap tindakan bisnisnya
selama hidup di dunia ini agar dapat mencapai keselamatan kekal yang dijanjikan
dalam Kristus.

3. Bisnis demi Bonum Commune


Bonum commune diterjemahkan secara literal dari bahasa Latin sebagai
‘Kebaikan Umum’. Dalam konteks Ajaran Sosial Gereja, terma ini berarti:
“kepentingan umum, kesehjateraan bersama sebagai ringkasan dan lambang segala
sesuatu yang kita butuhkan untuk hidup layak manusiawi, termasuk peluang untuk
berkembang, dan sulit – untuk tidak mengatakan mustahil – diusahakan sendiri-
sendiri saja.”[17] Bonum commune ini menjadi prinsip dan orientasi penting
dalam bisnis dan tindakan ekonomi. Kesehjateraan bersama adalah salah satu tujuan
dari setiap tindakan bisnis dan ini juga berarti menjadi semacam kontrol moral atas
kepemilikan pribadi.
Pengertian bonum commune berkembang di sepanjang sejarah Gereja dan berakar
dalam dua tradisi besar teologi Agustinus dari Hippo dan Thomas Aquinas.
[18] Karena itu, dalam bagian berikut akan sedikit didalami pengertian bonum
commune menurut masing-masing pemikir dan bagaimana khasanahnya sampai
diterima oleh Gereja dalam ajaran sosial.
3.1. Agustinus dari Hippo
Paham bonum commune dalam pemikiran Agustinus terletak pada dua tesis
dasar yang nanti akan dikembangkan oleh Thomas Aquinas pada abad Skolastik.
Pertama, Agustinus berangkat dari etika kebaikan (eudamonia) yang telah
dikembangkan sebelumnya oleh para filsuf Yunani. Agustinus menyakini bahwa
kebaikan individual tidak akan mungkin terwujud tanpa kebaikan bersama yang
datang dari partisipasi aktif tiap keluarga dalam negara dan kerajaan. Kedua, karena
tiap individu adalah bagian dari negara atau kerajaan, maka seseorang perlu dengan
jujur menganggap apa yang baik dirinya sesuai dengan kebaikan bagi orang banyak.
Disposisi kebaikan bagi tiap-tiap bagian bergantung pada relasinya dengan
keseluruhan (pars pro toto et totem pro parte), karena itu bagian-bagian yang
tidak mendukung secara harmonis keseluruhan adalah ofensif sifatnya.[19] Dalam
kata lain, kebaikan individu dan kesejahteraan umum selalu berkorelasi
satu sama lain.
3.2. Thomas Aquinas
Pemikiran Thomas Aquinas tentang Bonum Commune amat dipengaruhi oleh
Etika Nicomachean yang ditulis oleh Aristoteles. Aristoteles mengemukakan bahwa
‘kebaikan’ (bonum) adalah apa yang diinginkan oleh segala makhluk. Dengan dasar
inilah Thomas menegaskan bahwa ‘kebaikan’ adalah kodrat semua ciptaan.
Pemikiran Aristoteles kemudian disatukan dengan konsep teologis tentang
persatuan Tubuh Mistik Kristus.
Kodrat semua makhluk hidup adalah kebaikan yang dicari dengan kebaikan dan
cinta kasih dan bertujuan untuk sampai dan bersatu dengan Allah, sang Kebaikan
Tertinggi.[20]
Ideal ‘persatuan dengan Kebaikan Tertinggi’ ini mendominasi filsafat politik Barat
abad pertengahan. Humanisme abad pertengahan mengubah pandangan ‘dua warga
kota’ Agustinus yang dianut masyarakat. Kelompok umat manusia adalah sebuah
masyarakat besar yang ‘bersatu’ (incorporated) dalam Tubuh Kristus, yaitu Gereja
dengan Kristus sendiri sebagai Kepala, Sumber Hukum dan Tujuan Akhir negara.
Persatuan ini membentuk organisme hirarkis yang kompleks, sebuah tubuh dengan
banyak anggota bagian, yang masing-masing memiliki fungsi, tugas dan pelayanan
bagi seluruh tubuh yang satu itu.[21] Warga manusia seluruhnya membangun hanya
satu tubuh, yang dipimpin oleh satu kepala yang tidak kelihatan, yaitu Kristus, dan
pimpinan yang kelihatan adalah paus.
Dalam kerangka inilah Thomas meletakkan pengertian bonum commune itu.
[22] Bonum commune hanya dapat menjadi terwujud bila tiap individu yang
membentuk satu masyarakat, satu Tubuh itu, berinteraksi dan bekerjasama satu
sama lain dalam kebaikan. Hyoo Mik menulis bahwa menurut Thomas,
“… (T)here is a negative and a positive aspect of common good. In a negative sense, the
common good is the establishment and maintanence of order. When each knows his rights
and duties, then individuals have the scope to act without hindrance and to develop as
persons. Order provides the peace and harmony needed by society and individuals. In the
positive sense, the common good ‘consists in giving to others and receiving from them the
powers and resources that as individuals none would posses.”[23]
Saya melihat sekurangnya ada dua sumbangan besar Aquinas dalam pemikirannya
tentang bonum commune. Pertama, dengan pendasaran bonum
commune sebagai hukum kodrat, Thomas Aquinas memberi dasar filosofis-teologis
yang kuat untuk kepentingan sosio-ekonomis, yaitu: keterlibatan warga negara
dalam membangun negaranya – juga di bidang ekonomi dan negara juga menjamin
warganya untuk tumbuh dalam kebaikan. Kedua, cita-cita persatuan dengan Allah –
Sumber Kebaikan – sebagai tujuan semua ciptaan memungkinkan pendasaran moral
bagi laku para pebisnis dalam menjalankan usahanya. Dalam hal ini, etika
keutamaan yang didasari hukum spiritual-lah yang menjadi pedoman bagi para
pebisnis untuk mengusahakan kebaikan.
3.3. Bonum Commune versus Etika Individualis
Kita dapat menemukan pola pemikiran tentang bonum commune dalam Gereja
modern dengan kontras pada etika individualis yang ditentang oleh Gaudium et
Spes (GS) 30.[24] Rumusan GS 30 diawali dengan keprihatian sangat konkret
tentang kelompok yang tidak peduli dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat luas.
Pada bagian awal tertulis dengan amat gamblang:
“Malahan, di pelbagai daerah, tidak sedikit pula yang meremehkan hukum- hukum
dan peraturan-peraturan sosial. Tidak sedikit juga yang dengan bermacam-macam
tipu muslihat berani mengelakkan pajak-pajak yang wajar maupun hal-hal lain yang
termasuk hak masyarakat. Orang-orang lain menganggap sepele beberapa peraturan
hidup sosial, misalnya, untuk menjaga kesehatan, atau mengatur lalu-lintas,tanpa
mempedulikan bahwa dengan kelalaian semacam itu mereka membahayakan hidup
mereka sendiri dan sesama.”

Dari bagian ini kita dapat menemukan tiga sifat etika individualis, yaitu: (1)
pelecehan terhadap hukum dan peraturan sosial (2) demi kepentingan individu
sendiri dan (3) sekaligus melanggar hak-hak dasar diri sendiri dan masyarakat.

Dalam kontras dengan tiga kondisi ‘individualis’ ini, dapat ditemukan tiga kondisi
yang mencirikan adanya bonum commune, yaitu: (1) dihormatinya kewajiban suci
menghargai hubungan sosial sebagai tugas utama manusia zaman sekarang (2) di
mana, kepentingan umum harus lebih didahulukan sembari (3) tiap-tiap individu
mengembangkan keutamaan moral-sosial dalam diri dan dalam masyarakatnya. Tiga
ciri implisit dalam GS 30 ini mendefinisikan secara biner bonum commune dalam
khasanah Gereja modern.
Kompendium Ajaran Sosial Gereja no. 339 berbicara secara praktis bagaimana
prinsip bonum commune ini mendapatkan wujudnya:
“Semua orang yang terlibat dalam kegiatan bisnis mesti mencamkan
bahwa masyarakat di mana mereka bekerja mewakili sebuah kebaikan
bagi setiap orang dan bukan suatu struktur yang memperbolehkan
pemenuhan kepentingan pribadi semata-mata dari seseorang. Kesadaran
ini saja sudah memungkinkan terbangunnya sebuah ekonomi yang sungguh-
sungguh melayani umat manusia serta menciptakan program-program kerja sama
nyata di antarapara pihak yang berbeda-beda di dalam kerja.”

Dalam etika Kristiani, kemungkinan konflik yang terjadi antara prinsip bonum
commune dengan kepentingan individualistis – yang paling kentara terlihat dalam
hak milik pribadi – dapat merujuk pada lima butir ajaran sosial berikut:
(1) Semua orang berhak memiliki kekayaan pribadi; namun milik pribadi harus melayani
kesejahteraan umum.[25]
(2) Hak milik atas kekayaan (diakui) bercorak individual maupun sosial (bilamana
menyangkut kesejahteraan umum).[26]
(3) Oleh karena itu, dua bahaya yang mungkin timbul harus dihindari: ”Individualisme”,
bilamana aspek sosial atau umum dari pemilikan itu disangkal; dan ”Kolektivisme”, bila
pemilikan individu itu ditolak.[27]
(4) Hak memiliki kekayaan berbeda dengan penggunaannya. Hak pribadi atas kekayaan tak
dapat dihancurkan, namun serentak pula kewajiban sosial dari kekayaan tak dapat
dilupakan.[28]
(5) Kelebihan pendapatan dapat dipergunakan untuk karya cinta kasih atau penciptaan
pekerjaan.[29]
3.4. Prinsip Solidaritas dan Keadilan
Ajaran mengenai bonum commune selalu berkaitan dengan prinsip solidaritas dan
keadilan. Di satu pihak, semua anggota masyarakat bertanggungjawab atas
masyarakat sebagai keselurahan dan seperlunya bersedia berkorban demi bangsa
dan negara. Di lain pihak, masyarakat perlu bertanggungjawab atas semua
anggotanya tanpa diskriminasi dan oleh karena itu tidak membiarkan anggota
masyarakat atau golongan tertentu menderita ketidakadilan dan penindasan. Ke-
saling-bertanggung-jawab-an inilah yang mencirikan solidaritas Kristiani dalam
etika bisnisnya:
“Mereka yang berpengaruh lebih besar karena beroleh bagian besar dari harta benda
maupun jasa-jasa umum, hendaklah merasa bertanggungjawab atas mereka yang lebih
lemah, dan bersedia berbagi segala milik-kepunyaan dengan mereka …Sedangkan
kelompok-kelompok tengahan janganlah karena cinta diri mendesakkan kepentingan-
kepentingan mereka yang khas, melainkan menghormati kepentingan-kepentingan
sesama”[30]
Pilihan atau sikap mengutamakan kaum miskin dan lemah merupakan pilihan atau
bentuk khusus solidaritas cinta kasih Kristiani. Dalam tata perekonomian, setiap
anggota Gereja harus menyadari bahwa sikap mengutamakan kaum miskin ini selalu
berarti tidak pernah menolak kelompok-kelompok lain atau menjalankan
diskriminasi terhadapnya.[31]
Di sisi lain, keadilan adalah salah satu prinsip moral dasar Kristiani yang
utama dan dapat amat penting diterapkan dalam etika bisnis.[32] Ada tiga jenis
keadilan yang dapat menjadi prinsip etis. Adil pada hakikatnya adalah memberikan
kepada siapa saja apa yang menjadi haknya. Keadilan menuntut agar orang jangan
mencapai tujuan termasuk hal yang baik dengan melanggar hak orang lain.
Gereja tidak cukup hanya melakukan tindakan karitatif belaka. Terbukanya tata
politik – terutama politik praktis – memberi kesempatan pada anggota Gereja untuk
turut terlibat merombak struktur dunia yang tidak adil ini. Keadilan merupakan
bagian integral dari pewartaan injil Kerajaan Allah. Alasannya adalah: (1) dalam
seluruh Injil dikatakan bahwa iman sejati tidak semata-mata merupakan
kepercayaan batin, tetapi harus menjadi nyata dalam semua tindakan dan seluruh
kehidupan, (2) penegakan keadilan mutlak perlu untuk pewartaan Injil secara
meyakinkan. Pewartaan yang tidak disertai kesaksian konkret adalah omong kosong.
Dan (3) setiap bentuk ketidakadilan bertentangan dengan semangat Injil dan tujuan
Kerajaan Allah.

Anggota Gereja ikut serta dalam hidup nyata di dunia terbuka akan masalah-
masalah yang ada di dunia bukan berkutat ke dalam saja. Hal ini ditunjukkan dari
berlimpahnya refleksi dan ajaran gereja tentang peri hidup sosial. Artinya, Gereja
hadir di dunia diajak untuk mewartakan cinta kasih Allah sendiri dengan ikut
mewujudkan keadilan sesuai dengan kapasitas dan batas-batas yang ada. Gereja
dengan kekhasannya pada nilai-nilai Injili ikut bersama-sama dan bekerjasama
mewujudkan keadilan juga dalam tata bisnis-perekonomian.

4. Imperatif Inkarnasi dan Penebusan Tata Bisnis – Perekonomian


Inkarnasi yang menjadi salah satu inti iman Kristiani adalah titik refleksi yang
membawa tata bisnis dan perekonomian pada imperatif penebusan sepenuhnya.
Kisah tentang Allah yang menjadi manusia itu selalu membawa perspektif
penebusan dan karenanya setiap orang Kristen juga dipanggil untuk membawa
‘keselamatan’ yang dimisikan oleh Bapa itu juga ke dalam dunia manusia, termasuk
dunia bisnis dan perekonomian.

Penebusan itu selalu lekat dengan dimensi ruang dan waktu karena Allah sendiri
menyatakan diri melalui peristiwa-peristiwa dalam sejarah umat manusia. Lebih-
lebih dalam Inkarnasi, Allah menunjukkan bahwa dalam setiap situasi ruang dan
waktu yang tertentu kita harus mencari kehendak Allah dan rencanaNya, yaitu:
keselamatan umat manusia dan persatuan dengan Dia sendiri. Perutusan redemptif
ini juga berati penciptaan manusia baru dalam Kristus dan pengutusan Kristus
mencakup humanisasi.

Maka dari itu, pembangunan yang sejati, lebih-lebih dalam bisnis dan ekonomi yang
berakitan langsung dengan pemenuhan kebutuhan hidup manusia, adalah usaha
manusia menuju tatarelasi baru dengan Allah, sesama dan alam di mana dia hidup.
Setiap peningkatan nilai dan martabat manusia secara penuh (humanisasi) yang
dilakukan oleh siapa pun, termasuk dalam dunia bisnis dan ekonomi, disadari atau
tidak, adalah hasil karya Penyelamatan Kristus dalam Roh. Saya mengusulkan dua
poin mewujudkan imperatif penebusan Kristus dalam tata bisnis dan
perekonomian:, (1) dialog penguasa politik dan penguasa moralitas (agama) dan (2)
penguatan ’ethics of care’ dalam bisnis melalui pemberdayaan dari ’bawah’ dalam
kerangka pembangunan berkelanjutan.

4.1. Bisnis: Dialog Penentu Kebijakan Publik dengan Pemegang


Moralitas
Keprihatinan besar saat ini yang terjadi dalam masyarakat kita adalah tidanya
komunikasi antara pemilik modal dengan mereka yang memiliki pedoman etis-
moralistis. Hasilnya adalah sebuah sistem ekonomi yang sarat keserakahan dan
menciptakan konsumerisme dan hedonisme hingga satuan masyarakat yang terkecil.
Pola pikir yang mengedepankan uang sebagai kriteria utama kehidupan semakin
berkembang luas di masyarakat. Solidaritas sosial luntur ditelan cara berpikir
kapitalistik yang memuja penumpukan modal. Nilai-nilai kemanusiaan takluk di
hadapan nilai uang. Seseorang baru diperhitungkan jika ia memiliki daya beli yang
kuat. Dalam bahasa Jürgen Habermas, dunia kehidupan (Lebenswelt) telah dijajah
oleh cara berpikir sistem ekonomi. Spontanitas dan solidaritas yang mendasari
komunikasi antarmanusia secara perlahan hancur. Ini adalah akibat berkembangnya
cara berpikir yang mengedepankan kontrol, efektivitas, dan efisiensi.
Sejauh tindakan bisnis amat ditentukan oleh sistem ekonomi yang dianut, etika
Kristiani memandang perlulah dialog antara penentu kebijakan publik (baik
Pemerintah maupun Swasta) dengan pemegang moralitas. Dialog ini diperlukan agar
baik negara dan swasta tidak sewenang-wenang mengendalikan perekonomian
warga atas dasar yang keliru.[33] Dalam dialog dengan pemegang moralitas
ekonomi, para pemegang kebijakan publik dalam bidang ekonomi perlu
memperhatikan ‘etika tanggung jawab’ dalam ekspansi, kontrol maupun seleksi
dalam tindakan bisnis. Terlebih dalam kaitannya dengan efek negatif globalisasi,
dialog penentu kebijakan publik dengan pemegang moralitas ini
“… should be inspired by a series of core values and principles: respect for human dignity,
responsibility, solidarity, subsidiarity, coherence, transparency and accountability. For a new
commitment to these principles and values the report seeks support from Catholic social
teaching.”[34]
Selain dijiwai oleh nilai-nilai di atas, semua bentuk kebijakan publik haruslah dibuat
dalam proses komunikasi yang terbuka, bebas paksaan, dan egaliter dari semua
pihak; terutama pihak-pihak yang terkait dengan kebijakan tersebut.

Suara kenabian para pemegang parameter moralitas dan etika, seperti golongan
agamawan dan akademisi etika, juga amat diperlukan agar kritisisme tidak menjadi
bungkam di depan godaan kenyamanan yang dapat ditawarkan para pelaku bisnis.
Kita saksikan dengan geram ada beberapa golongan agamawan yang ‘dijinakkan’
dengan uang dan lantas tak lagi berbicara bagi korban ketidak-adilan dalam bisnis.

4.2. Ethics of Care: Pemberdayaan Komunitas dari Bawah dan


Pembangunan Berkelanjutan
Penguatan ethics of care sebagai perwujudan imperatif penebusan tata ekonomi
dan bisnis mengandaikan adanya elemen fundamental hubungan saling
ketergantungan antar manusia dan antar manusia dengan alam. ‘Care’ dalam etika
ini dimaksudkan sebagai usaha mempertahankan alam seraya dengan penuh
perhatian menjumpai kebutuhan-kebutuhan liyan dan diri sendiri secara terukur.
Aliran etika ini berbeda dari etika deontologi dan utilitarianisme karena letak
tekanannya ada pada relasi dan jaringan sosial yang menyangkut ‘rasa’, ‘empati’ dan
melewati batas-batas yang ‘diwajibkan’. Walau berangkat dari keprihatinan para
feminis memandang dunia, aliran ‘ethics of care’ ini sesuai dengan ajaran cinta kasih
Kristiani yang ‘memberi pipi kanan saat pipi kiri ditampar, yang berjalan sejauh dua
mil ketika diminta satu mil dan yang memberi bahkan seluruh jubah saat hanya
diminta bajunya’.
Bentuk konkret dari ‘ethics of care’ ini dapat kita jumpai dalam terwujudnya
kerjasama di tataran akar-rumput – dengan kekuatan ekonomi menengah ke bawah
– yang dengan pasti mengetahui kebutuhan dasar masyarakat dan dengan kreatif
berusaha mengembangkan diri dan masyarakatnya untuk menjawab kebutuhan itu.
[35] Di Indonesia, bentuk gerakan ekonomi alternatif yang paling kentara adalah
sistem ekonomi koperasi kredit (seperti credit union) yang didasarkan pada
kepentingan bersama dan pemberdayaan kelompok kecil yang tidak membebankan
riba besar untuk pinjaman usaha berjangka.
Pemberdayaan kelompok-kelompok masyarakat kecil seperti ini merupakan jawaban
atas keprihatinan besar bahwa mayoritas penduduk dunia saat ini tidak memiliki
akses pada sumber-sumber daya yang membuat mereka mampu mewujudkan hidup
sebagai manusia yang bermartabat. Kritik atas sistem pasar bebas dan kapitalisme
global perlu dijawab dengan mencari jalan ekonomi alternatif yang efektif pada
golongan masyarakat menengah ke bawah.

Sonia Buglione and Rainer Schlüter menulis bahwa perkembangan ‘gerakan


ekonomi alternatif’ sebagai lawan tanding globalisasi dan neo-kapitalisme selalu
menempatkan ‘nilai-nilai solidaritas’ dalam usaha mereka. Mereka melanjutkan:

“Alternative economic theories developed in the last decade have many points in common:
They emphasize the relationships among people and to the environment and insert values of
solidarity into these relationships (co-operative, egalitarian, democratic, locally based, and
sustainable). They support an economy based on human needs rather than profit, and aim at
breaking down oppressive economic hierarchies of all types, the development of human
potential, and the preservation of local communities and the environment.”[36]
Menjadi jelaslah bahwa etika kepedulian ini lebih jauh juga menaruh hormat pada
ekologi. Di dalamnya, selain hubungan ekonomi antar manusia diperkuat, visi
pembangunan berkelanjutan menjadi sangat ditekankan. Visi pembangunan
berkelanjutan erat kaitannya dengan pemberdayaan kelompok kecil di tataran akar
rumput ini. Perubahan hanya dapat dilakukan bila sekelompok orang memiliki
komitmen bersama yang dengan aktif dilaksanakan. Pembangunan berkelanjutan
adalah “pembangunan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masa kini,
namun tidak mengganggu kebutuhan generasi masa mendatang”.[37] Ini berarti
bahwa harus ada batasan ekologikal terhadap pertumbuhan ekonomi masa kini,
yang belakangan ini hampir menyentuh batasan tersebut. Di sisi lain, ada batasan
yang bersifat politis dan moral yang selalu mengingatkan kita untuk harus menjaga
pertumbuhan ekonomi global. Selain untuk melindungi ekosistem planet kita,
pembangunan jenis ini dapat membawa suatu pengurangan dalam kemiskinan
dengan mewujudkan jenis pertumbuhan ekonomi yang menawarkan peluang bagi
semua.[38]
Dalam kegitan bisnis, berbagai masalah seperti efisiensi energi, perubahan iklim,
pemanfaatan produk, keselamatan dan pasar terbuka, setiap hari membawa
pengaruh terhadap para pelaku bisnis. Mengatasi berbagai masalah ini dan masalah-
masalah lainnya akan membutuhkan perubahan signifikan dari cara berpikir
utilitarianis dan oerientasi-keuntungan saja menuju pada ‘kepedulian dan harapan
akan masa mendatang yang lebih baik bagi generasi penerus kita.’ Hal ini pasti akan
membutuhkan penerapan dari teknologi-teknologi baru, yang sebagian besar belum
ditemukan. Oleh karena itu penguatan etika kepedulian ini juga berimplikasi pada
usaha peningkatan kerjasama tim dengan kumpulan mitra dan cabang ilmu yang
berlainan – termasuk periset, akademisi, pemerintah, organisasi non-pemerintah
dan lainnya[39]
5. ‘Oikonomia’ dan ‘Koinonia’: Penutup
Pada akhirnya, ‘oikonomia’ yang sungguh menyandarkan dirinya pada etika Kristiani
adalah ‘oikonomia’ yang menyadari bahwa…

“… development requires a transcendent vision of the person, it needs God: without him,
development is either denied, or entrusted exclusively to man, who falls into the trap of
thinking he can bring about his own salvation, and ends up promoting a dehumanized form
of development. Only through an encounter with God are we able to see in the other
something more than just another creature, to recognize the divine image in the other, thus
truly coming to discover him or her and to mature in a love that ‘becomes concern and care
for the other’”[40]
Perkembangan tata ekonomi yang etis secara Kristiani mengandaikan juga
dihidupinya unsur-unsur ‘koinonia’ – ‘persaudaraan’ sebagai orang-orang yang telah
mendapat rahmat penebusan; sebagai orang-orang yang dengan ‘sadar’ berjalan
bersama Allah dan sesama mereka – lebih-lebih sesama yang menderita – dalam
tiap tindak ekonomi-bisnisnya.

Catatan Akhir

[1] bdk. K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis, Kanisius, Yogyakarta 2000, 22-
32.
[2] bdk. Im 25: 36-37; 52, Kel 30: 16, Kel 22:25, Ul 23:18, Zak 14:21, Yeh
28:5.
[3] bdk. Yoh 2: 13-25, Mat 6: 24
[4] bdk. Richard T. de George, Business Ethics, ed. 2. MacMillan Publishing
Company, New York 1986, 3-5
[5] bdk. A. Sonny Keraf, Etika Bisnis, Kanisius, Yogyakarta 1991, 61
[6] bdk. Yoh 13: 34; Yoh 15: 9-17
[7] bdk. Mat 26:26
[8] Timothy Radcliffe, Sing a New Song, Dominican Publications, Dublin
1999, 46-47.
[9] bdk. Gal 2:20
[10] Caritas in Veritate n. 9 – penekanan cetak miring sesuai tulisan asli.
[11] bdk. Evangelii Nuntiandi, n. 31.
[12] Bdk. Mater et Magistra, n. 219-220.
[13] Bdk. National Conference of US Catholic Bishops, Economic Justice for
All: Pastoral Letter on Catholic Social Teaching and the US Economy, n. 28
dan n. 32.
[14] Sollicitudo Rei Socialis, n. 33.
[15] Why 21:1-2
[16] Spe Salvi, n. 10.
[17] Piet Go, O.Carm, “Hak Asasi Manusia dalam Etika Politik” dalam
Anicetus B. Sinaga, OFM Cap (ed.), Etos dan Moralitas Politik, Kanisius,
Yogyakarta 2004, 15
[18] bdk. Gregory M. Scott, Political Science: Foundations for a Fifth
Millenium, Prentice Hall, New Jersey 1997, 33-35
[19] “…turpis est omnis pars suo toti non congruans.” Bdk. Agustinus dari
Hippo, Confessiones, III, 8
[20]bdk. “Thomas Aquinas on the Common Good”
dalam http://www.hyoomik.com/aquinas/ commongood.html. diunduh
pada 20 September 2011
[21] bdk. Christopher Dawson, Religion and the Rise of Western Culture,
Image Book, New York 1958, 171-172
[22] bdk. Eddy Krsitianto, Gagasan yang Menjadi Peristiwa, Kanisius,
Yogyakarta 2002, 124
[23]“Thomas Aquinas on the Common Good”
dalam http://www.hyoomik.com/aquinas/ commongood.html. diunduh
pada September 2011
[24] Gaudium et Spes (“Kegembiraan dan Harapan”) adalah salah satu
dari dokumen yang dihasilkan oleh Konsili Vatikan II untuk menanggapi
seruan pembaharuan Gereja (aggiornamento) di hadapan dunia yang
berubah begitu cepat. Konsili ini diundangkan oleh Paus Yohanes XXIII
pada 1962 dan ditutup pada 1965.
[25] Rerum Novarum, n. 2, 9, 10, 15.
[26] Quadragesimo Anno, n. 45.
[27] Quadragesimo Anno, n. 46.
[28] Quadragesimo Anno, n. 47-48.
[29] Quadragesimo Anno, n. 50-51.
[30] Sollicitudo Rei Socialis, n. 39 par. 1
[31] Bdk. Centessimus Annus, n. 57 par. 2
[32] Franz Magnis Suseno SJ., Etika Dasar, Kanisius, Yogyakarta 2005, 131-
133.
[33] bdk. Al. Purwa Hadiwardoyo, 7 Masalah Sosial Aktual: Sikap Gereja
Katolik, Kanisius, Yogyakarta 2006, 40-41.
[34] “Economic Globalization in Christian Perspective” – diunduh 1
November 2011 pada http://www.warc.ch/pc/soester/08.html
[35] bdk.David Hollenbach, “The Market and Catholic Social Teaching”
dalam Concillium: “Outside the Market no Salvation?”, 1997/2, 72.
[36] Sonia Buglione and Rainer Schlüter, “Solidarity-Based and Co-
Operative Economy and Ethical Business” – diunduh 1 November 2011
pada http://rosalux-
europa.info/userfiles/file/Solidarity_Based_Economy_in_Europe.pdf
[37] Atmonobudi Soebagio, “Pembangunan Berkelanjutan dan Visi
Indonesia 2030” dalam Suara Pembaruan, 1 Mei 2007, 5.
[38] bdk. M.S. Zulkarnaen, “Pembangunan Berkelanjutan: Sebuah Definisi”
dalam J.B. Banawiratma, SJ (ed.), Iman, Ekonomi dan Ekologi, Kanisius,
Yogyakarta 1996, 44-47.
[39] Jim Owens, “Dunia Kita Membutuhkan Pembangunan
Berkelanjutan”, pro manuscripto.
[40] Caritas in Veritate, n. 11.