Vous êtes sur la page 1sur 18

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/316710521

Pembentukan Identitas Remaja di Yogyakarta

Article · December 2016


DOI: 10.22146/jpsi.12338

CITATION READS

1 1,258

2 authors, including:

Darmawan Muttaqin
Universitas Surabaya
2 PUBLICATIONS   1 CITATION   

SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Darmawan Muttaqin on 18 May 2017.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Jurnal Psikologi
Volume 43, Nomor 3, 2016: 231 – 247

Pembentukan Identitas Remaja di Yogyakarta


Darmawan Muttaqin1, Endang Ekowarni2
Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

Abstract. Context has been identified as an important factor of identity formation among
adolescents. The aim of this study was to understand adolescent identity formation
component in Indonesian context especially in Yogyakarta, considering gender
differences, age groups, and correlation between components as well. This study involved
450 Indonesian adolescents aged 12-21 years (225 boys and 225 girls) that constituted of
early, middle, and late adolescents. This study used Identity Style Inventory to assess
identity style (informational, normative, and diffuse-avoidant), Utrecht-Management of
Identity Commitments Scale to assess the identity dimensions (commitment, in-depth
exploration, and reconsideration of commitment), and Ego Identity Process Questionnaire
to assess identity status (diffusion, foreclosure, moratorium, and achievement). Results
showed there were significant differences in identity styles, dimensions, and statuses by
considering gender and age groups. The correlation between adolescent’s identity styles,
dimensions, and statuses was also found in the Indonesian context.

Keywords: identity dimensions, identity formation, identity status, identity style

Abstrak. Konteks telah diidentifikasi sebagai faktor yang penting dari pembentukan
identitas remaja. Penelitian ini bertujuan untuk memahami komponen pembentukan
identitas remaja pada konteks Indonesia khususnya di Yogyakarta, terutama terkait
perbedaan gender dan kelompok usia serta keterkaitan antar komponen pembentukan
identitas. Partisipan penelitian adalah 450 (225 laki-laki dan 225 perempuan) remaja
Indonesia berusia 12-21 tahun yang terdiri dari remaja awal, tengah, dan akhir. Alat ukur
Identity Style Inventory, Utrecht-Management of Identity Commitments Scale, dan Ego Identity
Process Questionnaire digunakan untuk mengukur gaya identitas (informatif, normatif,
dan menunda-menghindar), dimensi identitas (komitmen, eksplorasi mendalam, dan
peninjauan kembali komitmen), dan status identitas (diffusion, foreclosure, moratorium, dan
achievement). Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan gaya, dimensi, dan status
identitas ditinjau dari gender dan kelompok usia. Keterkaitan antara gaya, dimensi, dan
status identitas remaja juga ditemukan pada konteks Indonesia.

Kata kunci: dimensi identitas, gaya identitas, pembentukan identitas, status identitas

Pembentukan1 identitas merupakan dalam mengembangkan teori pemben-


tugas perkembangan yang utama bagi tukan identitas mempertimbangkan
remaja (Erikson, 1968). Erikson (1950) pentingnya konteks. Para peneliti menge-
mukakan bahwa pembentukan identitas
1
merupakan proses interaksi antara
Korespondensi mengenai isi artikel ini dapat
individu dan konteks (Adams & Marshall,
dilakukan melalui: darmawan.muttaqin@
1996; Bosma & Kunnen, 2001; Kroger,
staff.ubaya.ac.id dan ekowarni@ugm.ac.id

JURNAL PSIKOLOGI 231


MUTTAQIN & EKOWARNI

2000). Bahkan, konteks telah dianggap dapat dipahami sebagai situasi di


sebagai faktor penting dari pembentukan Indonesia yang menjadi tempat terjadinya
identitas (Côté & Levine, 1988; Phinney, perkembangan individu.
2005). Secara khusus Baumeister dan Pada konteks Indonesia, mayoritas
Muraven (1996) menjelaskan bahwa tujuan remaja tinggal dalam keluarga besar yang
utama pembentukan identitas adalah terdiri dari keluarga inti (suami, istri,
adaptasi terhadap konteks sehingga anak) dan ditambah dengan anggota
individu terlibat dalam proses pemben- keluarga lain seperti nenek, kakek, paman,
tukan identitas berdasarkan apa yang bibi, serta sanak keluarga lainnya (Shwalb
mereka pikirkan terhadap konteks yang dkk., 2010; Suardiman, 2011). Pada
mereka hadapi. keluarga inti, sikap orang tua terhadap
Untuk memahami pembentukan anak cenderung dominan dan hak orang
identitas yang sesuai dengan konteks tua atas diri anak bersifat mutlak
tertentu, beberapa peneliti telah menun- (Sarwono, 2013). Pada umumnya, orang
jukkan sejumlah cara yang berbeda (lihat tua di Indonesia merasa tanggung jawab
Schwartz, Zamboanga, Meca, & Ritchie, untuk mendidik anaknya sudah berakhir
2012). Pada umumnya penelitian tentang ketika anak mampu mengembangkan diri
pembentukan identitas yang mempertim- menjadi pribadi yang mandiri dan tidak
bangkan konteks dilakukan secara lintas tergantung pada orang lain (Suardiman,
negara (misalnya Bang & Montgomery, 2011). Mandiri dapat ditandai dengan
2013; Busch & Hofer, 2011; Eryigit & kemampuan anak untuk tidak tergantung
Kerpelman, 2011) maupun hanya di suatu secara finansial, yang berarti anak sudah
negara tertentu (misalnya Laghi, Baiocco, bekerja untuk memenuhi kebutuhannya,
Liga, Guarino, & Baumgartner, 2013; Lee dan anak sudah menikah.
& Beckert, 2012; Wängqvist & Frisén, Berkaitan dengan pembentukan iden-
2013). Pada penelitian ini, kami mencoba titas yang sesuai dengan konteks, Yoder
untuk memahami pembentukan identitas (2000) menjelaskan bahwa pembentukan
remaja pada konteks Indonesia khususnya identitas tergantung pada kesempatan,
di Yogyakarta. harapan, dan kebebasan yang dimiliki
Memahami pembentukan identitas individu. Individu harus sadar bahwa
remaja di Indonesia bukanlah sesuatu mereka memiliki kesempatan untuk
yang mudah karena tidak terdapat profil mengeksplorasi dan mengevaluasi alter-
remaja yang seragam dan berlaku secara natif identitas (Erikson, 1968). Meskipun
nasional (Sarwono, 2013). Hal ini demikian, kenyataannya tidak semua
mengingat remaja di Indonesia terdiri dari individu memiliki kesempatan yang sama.
berbagai suku, adat, status sosial-ekonomi, Perbedaan kesempatan tersebut dapat
dan tingkat pendidikan. Oleh karena itu, disebabkan oleh perbedaan gender dan
pemahaman mengenai konteks yaitu kelompok usia pada konteks tertentu.
situasi terjadinya perkembangan individu Adanya perbedaan gender dalam
(Santrock, 2011), dapat digunakan untuk pembentukan identitas telah ditunjukkan
mendeskripsikan remaja di Indonesia. oleh beberapa penelitian sebelumnya
Dengan demikian, remaja pada konteks (Berman, Weems, Rodriguez, & Zamora,
Indonesia dapat didefinisikan sebagai 2006; Graf, Mullis, & Mullis, 2008; Vleioras
remaja yang tumbuh dan berkembang di & Bosma, 2005). Hal ini dikarenakan
konteks Indonesia. Konteks Indonesia adanya perbedaan harapan dan proses

232 JURNAL PSIKOLOGI


PEMBENTUKAN IDENTITAS REMAJA

sosialisasi untuk setiap gender pada setiap masalah yang konkret bagi remaja Indo-
masyarakat (Lee & Beckert, 2012). Adanya nesia (Sarwono, 2013).
peran gender laki-laki dan perempuan
menunjukkan perbedaan norma sosial dan Pembentukan Identitas: Gaya, Dimensi, dan
harapan budaya terhadap laki-laki dan Status Identitas
perempuan (Möller-Leimkühler, 2003).
Pembentukan identitas digambarkan
Mayoritas remaja Indonesia tumbuh dan
sebagai interaksi dari dua dinamika yaitu
berkembang dalam keluarga patrilineal
pencapaian identitas dan kebingungan
(Utomo, 2006). Jenis kelamin biasanya
identitas (Erikson, 1950, 1968). Pencapaian
memengaruhi peran dan tanggung jawab
identitas menggambarkan individu yang
anak di dalam keluarga (Hidajadi, 2001;
mampu melakukan pengaturan diri terha-
Shwalb dkk., 2010). Anak laki-laki memi-
dap identifikasi diri yang ideal, sedangkan
liki tanggung jawab besar melanjutkan
kebingungan identitas merupakan keti-
garis keluarga sehingga seolah lebih
dakmampuan untuk mengembangkan
diperhatikan orang tua daripada anak
identifikasi diri yang dapat diterapkan
perempuan. Anggapan bahwa anak laki-
sebagai bentuk identitas orang dewasa
laki adalah penerus garis keluarga telah
(Schwartz, 2001). Sebagai upaya meng-
membuat posisi anak perempuan menjadi
operasionalkan pencapaian dan kebi-
tidak menguntungkan (Hidajadi, 2001).
ngungan identitas, beberapa peneliti
Selain perbedaan gender, perbedaan mengembangkan model pembentukan
kelompok usia juga dapat menyebabkan identitas, misalnya gaya identitas
perbedaan pembentukan identitas (Berzonsky, 1989), tiga faktor dimensi
(Berzonsky, 2011; Klimstra, Hale, identitas (Crocetti, Rubini, & Meeus, 2008),
Raaijmakers, Branje, & Meeus, 2010; dan status identitas (Marcia, 1966).
Kroger, Martinussen, & Marcia, 2010).
Model gaya identitas menggambarkan
Kroger dan Marcia (2011) menjelaskan
pendekatan individu dalam mengeks-
bahwa pembentukan identitas yang
plorasi alternatif dan membuat keputusan
optimal berkaitan dengan kesempatan
tentang identitas (Berzonsky, 1989). Model
yang dimiliki individu untuk berperan
gaya identitas terdiri dari tiga pendekatan
sebagai individu yang dewasa. Remaja
pemrosesan identitas yaitu gaya informa-
Indonesia akan mendapatkan kesempatan
tif, normatif, dan menunda-menghindar
untuk berperan sebagai individu yang
(Berzonsky, 2004, 2011). Individu dengan
dewasa saat memasuki masa remaja akhir
gaya informatif secara sengaja mencari,
yaitu sekitar usia 18-21 tahun. Pada masa
mengolah, dan mengevaluasi informasi
remaja akhir, remaja Indonesia pada
yang relevan dengan identitas. Individu
umumnya sudah lulus sekolah menengah
dengan gaya normatif akan melakukan
dan masuk perguruan tinggi. Ketika
internalisasi dan mematuhi tujuan, nilai-
remaja Indonesia masuk perguruan tinggi,
nilai, dan petunjuk dari orang lain yang
tidak sedikit dari mereka yang harus
signifikan dengan cara yang relatif oto-
berpisah dengan orang tua agar dapat
matis sehingga akan membuat komitmen
melanjutkan pendidikan di perguruan
yang terlalu dini tanpa melakukan
tinggi yang sesuai dengan minat dan
evaluasi dan pertimbangan. Individu
kemampuan. Pada masa remaja akhir
dengan gaya menunda-menghindar
pula, masalah mencari pekerjaan menjadi
menunjukkan keengganan untuk

JURNAL PSIKOLOGI 233


MUTTAQIN & EKOWARNI

menghadapi dan mengatasi permasalahan kesatuan dalam konsep pembentukan


identitas. identitas (Berzonsky dkk., 2013; Crocetti,
Model tiga dimensi identitas menje- Rubini, Berzonsky, & Meeus, 2009;
laskan tiga dimensi pembentukan identitas Zimmermann, Mahaim, Mantzouranis,
yaitu komitmen, eksplorasi mendalam, Genoud, & Crocetti, 2012). Gaya, dimensi,
dan peninjauan kembali komitmen dan status identitas dianggap sebagai pro-
(Crocetti dkk., 2008; Meeus, Van De ses, struktur, dan hasil yang merupakan
Schoot, Keijsers, Schwartz, & Branje, 2010). komponen pembentukan identitas
Komitmen mengarah pada proses meman- (Schwartz & Montgomery, 2002).
tapkan pilihan terkait dengan berbagai Penelitian ini mencoba untuk menguji
domain identitas yang disertai dengan beberapa hipotesis yaitu: (1) ada perbe-
rasa percaya diri terhadap pilihannya. daan gaya, dimensi, dan status identitas
Eksplorasi mendalam mengarah pada antara remaja laki-laki dan perempuan; (2)
proses merefleksikan komitmen yang ada perbedaan gaya, dimensi, dan status
sudah dibuat, mencari informasi tam- identitas antara remaja awal, tengah, dan
bahan, dan berdiskusi dengan orang lain akhir; (3) ada hubungan antara gaya
terkait alternatif identitas yang sudah identitas (informatif, normatif, dan me-
dipilih. Peninjauan kembali komitmen nunda-menghindar) dan dimensi identitas
mengarah pada kemungkinan untuk (komitmen, eksplorasi mendalam, dan
mengubah atau merevisi komitmen yang peninjauan kembali komitmen); dan (4)
tidak lagi memuaskan bagi individu. ada hubungan antara gaya identitas
Model status identitas didasarkan (informatif, normatif, dan menunda-
pada dua dimensi pembentukan identitas menghindar) dan status identitas (diffusion,
yaitu eksplorasi dan komitmen yang foreclosure, moratorium, dan achievement).
digunakan untuk mengklasifikasikan
status identitas yang terdiri dari diffusion, Metode
foreclosure, moratorium, dan achievement
(Kroger & Marcia, 2011; Marcia, 1993). Partisipan
Individu yang sudah mencapai komitmen Partisipan penelitian adalah 450
melalui proses eksplorasi berada pada remaja yang berada di Yogyakarta (225
status achievement. Individu yang masih laki-laki dan 225 perempuan) yang berusia
berusaha untuk mencapai komitmen dan 12-21 tahun (M = 16,34 tahun, SD = 2,62).
masih dalam proses eksplorasi berada Partisipan penelitian terdiri dari 150
pada status moratorium. Individu yang remaja awal (75 laki-laki, 75 perempuan)
sudah mencapai komitmen dengan meng- yang berusia 12-15 tahun (M = 13,34 tahun,
ambil komitmen orang lain yang SD = 0,59), 150 remaja tengah (75 laki-laki,
signifikan dalam hidupnya berada pada 75 perempuan) yang berusia 15-18 tahun
status foreclosure. Individu yang belum (M = 16,14 tahun, SD = 0,62), dan 150
mencapai komitmen dan menjalani proses remaja akhir (75 laki-laki, 75 perempuan)
eksplorasi berada pada status diffusion. yang berusia 18-21 tahun (M = 19,53 tahun,
Gaya, dimensi, dan status identitas SD = 0,77).
memiliki fokus yang berbeda dalam
pembentukan identitas, tetapi beberapa Instrumen Penelitian
peneliti telah menunjukkan kaitan ketiga Alat ukur yang digunakan belum
hal tersebut dan menjadikannya satu pernah diadaptasi di Indonesia sehingga

234 JURNAL PSIKOLOGI


PEMBENTUKAN IDENTITAS REMAJA

alat ukur harus diterjemahkan ke dalam Gaya identitas


bahasa Indonesia dengan menggunakan
Identity Style Inventory (ISI-5;
panduan dari International Test Commission
Berzonsky dkk., 2013) digunakan untuk
(Hambleton, 2005). Ada empat tahap yang
mengukur gaya identitas yang dikonsep-
dilakukan dalam proses adaptasi alat
tualisasikan oleh Berzonsky (1989) yaitu
ukur. Pertama, alat ukur diterjemahkan
gaya informatif, normatif, dan menunda-
dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia
menghindar. Respons pada ISI-5 meng-
oleh dua orang penerjemah independen.
gunakan lima pilihan respons skala Likert
Kedua, alat ukur versi Bahasa Indonesia
mulai dari 1 (sangat tidak sesuai) sampai 5
direviu oleh dua orang reviewer untuk
(sangat sesuai). Aitem ISI-5 berjumlah 27
memeriksa kejelasan kalimat, tingkat
aitem yang terdiri tiga sub skala yaitu
kesulitan kata, dan akurasi terjemahan
gaya informatif (9 aitem), gaya normatif (9
dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.
aitem), dan gaya menunda-menghindar (9
Ketiga, alat ukur versi Bahasa Indonesia
aitem). Model pengukuran ISI-5 meli-
diterjemahkan kembali ke Bahasa Inggris
batkan 9 paket yang terdiri dari 3 paket
oleh dua penerjemah independen yang
pada sub skala gaya informatif, normatif,
berbeda dari penerjemahan awal.
dan menunda-menghindar dengan setiap
Terakhir, alat ukur versi Bahasa Indonesia
paket berisi 3 aitem.
yang sudah disempurnakan disajikan
kepada beberapa partisipan untuk menge- Reliabilitas komposit dari model
tahui pemahaman partisipan terhadap pengukuran ISI-5 menunjukkan reliabilitas
setiap aitem. komposit sebesar 0,826 untuk sub skala
gaya informatif, 0,705 untuk sub skala
Informasi mengenai properti psiko-
gaya normatif, dan 0,723 untuk sub skala
metris alat ukur diperoleh dari evaluasi
menunda-menghindar. Validitas konver-
model pengukuran melalui program IBM
gen dari model pengukuran ISI-5
SPSS Amos 21 (Arbuckle, 2012). Model
menunjukkan bahwa semua paket secara
pengukuran disusun dengan melakukan
signifikan mampu mengukur konstruk
pemaketan aitem yaitu menggabungkan
latennya dengan muatan faktor mulai dari
beberapa aitem secara acak dengan
0,588 sampai 0,936. Evaluasi mengenai
menggunakan rata-rata untuk menjadi
validitas diskriminan dari model pengu-
satu paket. Prosedur pemaketan dilakukan
kuran ISI-5 menunjukkan bahwa semua
pada aspek/skala yang memiliki aitem
paket memiliki muatan faktor (mulai dari
lebih dari 5 yang melibatkan jumlah
0,651 sampai 0,917) yang lebih tinggi
sampel yang besar (Bagozzi & Heatherton,
dibandingkan muatan silangnya (mulai
1994). Kriteria yang digunakan untuk
dari -0,173 sampai 0,292). Model pengu-
mengevaluasi model pengukuran yaitu
kuran ISI-5 memiliki nilai CFI sebesar
reliabilitas komposit, validitas konvergen,
0,962, GFI sebesar 0,965, dan RMSEA
dan validitas diskriminan (Hair, Hult,
sebesar 0,067.
Ringle, & Sarstedt, 2014). Evaluasi properti
psikometris terhadap alat ukur yang
Dimensi identitas
digunakan melibatkan partisipan yang
berbeda dengan partisipan penelitian Utrecht-Management of Identity Commit-
yaitu 396 remaja berusia 12-21 tahun yang ments Scale (U-MICS; Crocetti, Rubini, &
berada di Yogyakarta. Meeus, 2008) digunakan untuk mengukur
dimensi identitas yang dikonseptualisasi-
kan oleh Crocetti, Rubini, dan Meeus

JURNAL PSIKOLOGI 235


MUTTAQIN & EKOWARNI

(2008) yaitu komitmen, eksplorasi menda- kur status identitas yang dikonseptuali-
lam, dan peninjauan kembali komitmen. sasikan oleh Marcia (1966) yaitu diffusion,
Respons pada U-MICS menggunakan lima foreclosure, moratorium, dan achievement
pilihan respons skala Likert mulai dari 1 berdasarkan eksplorasi dan komitmen.
(sangat tidak sesuai) sampai 5 (sangat EIPQ digunakan untuk mengukur
sesuai). Aitem U-MICS berjumlah 26 aitem eksplorasi dan komitmen pada delapan
yang terdiri dari tiga sub skala yaitu domain identitas yaitu empat domain
komitmen (10 aitem), eksplorasi menda- ideologi (politics, religion, occupation, dan
lam (10 aitem), dan peninjauan kembali values) dan empat domain interpersonal
komitmen (6 aitem). Model pengukuran (friendships, dating, sex roles, dan family).
U-MICS melibatkan 9 paket dengan Respons pada EIPQ menggunakan enam
masing-masing sub skala terdiri dari 3 pilihan respons skala Likert mulai dari 1
paket untuk sub skala komitmen, (sangat tidak sesuai) sampai 6 (sangat
eksplorasi mendalam, dan peninjauan sesuai). Aitem EIPQ berjumlah 32 aitem
kembali komitmen. Secara khusus, sub yang terdiri dari 16 aitem yang mengukur
skala komitmen dan eksplorasi mendalam eksplorasi dan 16 aitem yang mengukur
masing-masing terdiri dari 1 paket yang komitmen. Model pengukuran dari EIPQ
berisi 4 aitem dan 2 paket yang berisi 3 disusun dengan melibatkan 8 paket yang
aitem sedangkan sub skala peninjauan mewakili dua sub skala yaitu eksplorasi
kembali komitmen terdiri dari 3 paket dan komitmen. Baik sub skala eksplorasi
yang berisi 2 aitem. maupun komitmen memiliki 4 paket
Model pengukuran U-MICS memiliki dengan masing-masing paket berisi 4
reliabilitas komposit sebesar 0,865 untuk aitem.
sub skala komitmen, 0,709 untuk sub skala Reliabilitas komposit dari model
eksplorasi mendalam, dan 0,802 untuk sub pengukuran EIPQ menunjukkan relia-
skala peninjauan kembali komitmen. bilitas komposit sebesar 0,710 untuk sub
Validitas konvergen dari model pengu- skala eksplorasi dan 0,705 untuk sub skala
kuran U-MICS menunjukkan bahwa komitmen. Validitas konvergen dari
semua paket secara signifikan mampu model pengukuran EIPQ menunjukkan
mengukur konstruk latennya dengan bahwa semua paket secara signifikan
muatan faktor mulai dari 0,595 sampai mampu mengukur konstruk latennya
0,869. Evaluasi mengenai validitas diskri- dengan muatan faktor mulai dari 0,502
minan dari model pengukuran U-MICS sampai 0,691. Validitas diskriminan dari
menunjukkan bahwa semua paket memi- model pengukuran EIPQ menunjukkan
liki muatan faktor (mulai dari 0,696 bahwa semua paket memiliki muatan
sampai 0,868) yang lebih tinggi dibanding- faktor (mulai dari 0,622 sampai 0,801)
kan muatan silangnya (mulai dari -0,141 yang lebih tinggi dibandingkan muatan
sampai 0,293). Model pengukuran UMICS silangnya (mulai dari -0,096 sampai 0,223).
nilai CFI sebesar 0,960, GFI sebesar 0,959, Model pengukuran EIPQ memiliki nilai
dan RMSEA sebesar 0,075. CFI sebesar 0,923, GFI sebesar 0,960, dan
RMSEA sebesar 0,078.
Status identitas
Teknik Analisis Data
Ego Identity Process Questionnaire
(EIPQ; Balistreri, Busch-Rossnagel, & Data gaya dan dimensi identitas
Geisinger, 1995) digunakan untuk mengu- berupa data interval yang merupakan skor

236 JURNAL PSIKOLOGI


PEMBENTUKAN IDENTITAS REMAJA

total dari masing-masing sub skala Hasil


sehingga terdapat tiga skor gaya identitas
yaitu gaya informatif, normatif, dan Perbedaan Gaya, Dimensi, dan Status
menunda-menghindar serta tiga skor Identitas ditinjau dari Gender
dimensi identitas yaitu komitmen, eks-
Hasil analisis MANOVA menunjuk-
plorasi mendalam, dan peninjauan
kan bahwa tidak terdapat perbedaan skor
kembali komitmen. Sedangkan data status
gaya identitas ditinjau dari gender (Wilks’
identitas berupa data kategorikal yang
λ = 0,984, F = 2,465, p > 0,05). Hasil analisis
terdiri dari empat status identitas yaitu
univariat (Tabel 1) menunjukkan bahwa
status diffusion, foreclosure, moratorium, dan
antara remaja laki-laki dan perempuan
achievement. Klasifikasi status identitas
tidak ada perbedaan skor gaya informatif
ditentukan dengan cara membelah skor
(F = 1,624, p > 0,05) dan normatif (F = 0,581,
eksplorasi dan komitmen berdasarkan
p > 0,05), tetapi ada perbedaan pada skor
median yaitu median untuk skor
gaya menunda-menghindar (F = 6,314, p <
eksplorasi sebesar 60 dan median untuk
0,05). Remaja laki-laki memiliki skor gaya
skor komitmen sebesar 62.
menunda-menghindar yang lebih tinggi
Untuk menguji perbedaan gaya, dibandingkan dengan remaja perempuan.
dimensi, dan status identitas ditinjau dari
Pada dimensi identitas, hasil analisis
gender dan kelompok usia dilakukan
MANOVA menunjukkan adanya perbe-
analisis MANOVA pada gaya dan dimensi
daan skor dimensi identitas ditinjau dari
identitas serta analisis chi-square pada
gender (Wilks’ λ = 0,909, F = 14,748, p <
status identitas dengan gender dan
0,001). Hasil analisis univariat (Tabel 2)
kelompok usia sebagai variabel inde-
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
penden. Untuk menguji hubungan gaya
antara remaja laki-laki dan perempuan
dengan dimensi identitas serta hubungan
pada skor komitmen (F = 4,115, p < 0,05),
gaya dengan status identitas dilakukan
eksplorasi mendalam (F = 12,726, p <
analisis korelasi bivariat. Ketika menga-
0,001), dan peninjauan kembali komitmen
nalisis korelasi bivariat antara gaya
(F = 14,042, p < 0,001). Remaja laki-laki
dengan status identitas, data mengenai
memiliki skor peninjauan kembali komit-
status identitas ditransformasikan ke
men yang lebih tinggi dibandingkan
dalam bentuk variabel dummy sehingga
remaja perempuan, sedangkan remaja
terdapat empat variabel dummy yaitu
perempuan memiliki skor komitmen dan
status diffusion, foreclosure, moratorium, dan
eksplorasi mendalam yang lebih tinggi
achievement. Partisipan yang berada pada
daripada remaja laki-laki.
status diffusion, foreclosure, moratorium, dan
achievement diberi kode 1 sedangkan Hasil analisis chi-square yang diguna-
partisipan yang tidak berada pada status kan untuk menguji perbedaan status
tersebut diberi kode 0. identitas ditinjau dari gender menunjuk-
kan bahwa tidak terdapat perbedaan
status identitas antara remaja laki-laki dan
perempuan (χ2(3) = 5,252, p > 0,05).

JURNAL PSIKOLOGI 237


MUTTAQIN & EKOWARNI

Tabel 1
Rata-rata (dan standar deviasi) skor gaya identitas ditinjau dari gender
Gender
Gaya Identitas F
Laki-laki Perempuan
Informatif 35,21 (4,33) 35,69 (3,51) 1,624
Normatif 30,57 (3,91) 30,32 (3,39) 0,581
Menunda-menghindar 25,46 (5,00) 24,33 (4,55) 6,314*
* p < 0,05 *** p < 0,01 *** p < 0,001

Tabel 2
Rata-rata (dan standar deviasi) skor dimensi identitas ditinjau dari gender
Gender
Dimensi Identitas F
Laki-laki Perempuan
Komitmen 38,73 (5,82) 39,73 (4,49) 4,115**
Eksplorasi mendalam 35,93 (4,79) 37,36 (3,76) 12,726***
Peninjauan kembali komitmen 18,76 (3,47) 17,56 (3,36) 14,042***
*** p < 0,05 *** p < 0,01 *** p < 0,001

Perbedaan Gaya, Dimensi, dan Status Pada dimensi identitas, hasil analisis
Identitas ditinjau dari Kelompok Usia MANOVA menunjukkan adanya perbe-
daan skor dimensi identitas ditinjau dari
Berdasarkan analisis MANOVA
kelompok usia (Wilks’ λ = 0,920, F = 6,265,
diketahui bahwa terdapat perbedaan skor
p < 0,001). Hasil analisis univariat (Tabel 4)
gaya identitas ditinjau dari kelompok usia
menunjukkan bahwa tidak terdapat
(Wilks’ λ = 0,929, F = 5,489, p < 0,001).
perbedaan antara remaja awal, tengah,
Hasil analisis univariat (Tabel 3) menun-
serta akhir pada skor komitmen (F = 1,467,
jukkan bahwa tidak terdapat perbedaan
p > 0,05) dan peninjauan kembali komit-
antara remaja awal, tengah, serta akhir
men (F = 3,022, p > 0,05), tetapi ada perbe-
pada skor gaya informatif (F = 0,904, p >
daan pada skor eksplorasi mendalam (F =
0,05) dan menunda-menghindar (F = 0,011,
8,784, p < 0,001). Remaja tengah memiliki
p > 0,05), sedangkan pada skor gaya
skor eksplorasi mendalam yang lebih
normatif ditemukan perbedaan antara
tinggi dibandingkan dengan remaja awal
remaja awal, tengah, dan akhir (F = 10,617,
dan akhir.
p < 0,001). Remaja awal memiliki skor
gaya normatif yang lebih tinggi diban-
dingkan dengan remaja tengah dan akhir.

Tabel 3
Rata-rata (dan standar deviasi) skor gaya identitas ditinjau dari kelompok usia
Kelompok Usia Remaja
Gaya Identitas F
Awal Tengah Akhir
Informatif 35,13 (3,55) 35,47 (4,41) 35,75 (3,84) 0,904
Normatif 31,54 (3,43) 29,79 (3,56) 30,00 (3,76) 10,617***
Menunda-menghindar 24,93 (4,98) 24,89 (4,39) 24,85 (5,05) 0,011
*** p < 0,05 *** p < 0,01 *** p < 0,001

238 JURNAL PSIKOLOGI


PEMBENTUKAN IDENTITAS REMAJA

Tabel 4
Rata-rata (dan standar deviasi) skor dimensi identitas ditinjau dari kelompok usia
Kelompok Usia Remaja
Dimensi Identitas F
Awal Tengah Akhir
Komitmen 39,77 (5,64) 38,74 (4,83) 39,19 (5,13) 1,467
Eksplorasi mendalam 35,83 (3,69) 37,80 (4,71) 36,31 (4,40) 8,784***
Peninjauan kembali komitmen 17,65 (3,54) 18,61 (3,21) 18,23 (3,58) 3,022
*** p < 0,05 *** p < 0,01 *** p < 0,001

Hasil analisis chi-square yang diguna- berhubungan positif dengan komitmen


kan untuk menguji perbedaan status (r = 0,468, p < 0,001), eksplorasi mendalam
identitas ditinjau dari kelompok usia (r = 0,524, p < 0,001), dan peninjauan
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kembali komitmen (r = 0,173, p < 0,001).
status identitas antara remaja awal, Gaya normatif memiliki hubungan positif
tengah, dan akhir (χ2(6) = 27,294 p < 0,001). dengan komitmen (r = 0,356, p < 0,001) dan
Remaja awal lebih banyak berada pada eksplorasi mendalam (r = 0,198, p < 0,001).
status diffusion dan foreclosure, remaja Selain itu, hasil korelasi bivariat juga
tengah lebih banyak berada pada status menunjukkan bahwa gaya menunda-
moratorium, sedangkan remaja akhir lebih menghindar berhubungan negatif dengan
banyak berada pada status achievement. komitmen (r = -0,198, p < 0,001) dan
Persentase status identitas ditinjau dari eksplorasi mendalam (r = -0,108, p < 0,05),
kelompok usia dapat dilihat pada tabel 5. tetapi memiliki hubungan yang positif
dengan peninjauan kembali komitmen (r =
Hubungan antara Gaya dan Dimensi Identitas 0,181, p < 0,001). Hasil analisis korelasi
bivariat antara gaya dan dimensi identitas
Berdasarkan analisis korelasi bivariat
dapat dilihat pada tabel 6.
diketahui bahwa gaya informatif

Tabel 5
Persentase status identitas ditinjau dari kelompok usia
Kelompok Usia Remaja
Status Identitas
Awal Tengah Akhir
Diffusion 29,33% 20,67% 14,00%
Foreclosure 32,00% 21,33% 27,33%
Moratorium 12,00% 32,67% 26,00%
Achievement 26,67% 25,33% 32,67%

Tabel 6
Korelasi bivariat antara gaya dan dimensi identitas
Dimensi Identitas
Gaya Identitas
Komitmen Eksplorasi mendalam Peninjauan kembali komitmen
Informatif 0,468*** 0,524*** 0,173***
Normatif 0,356*** 0,198*** 0,069
Menunda-menghindar -0,198*** -0,108* 0,181***
* p < 0,05 *** p < 0,01 *** p < 0,001

JURNAL PSIKOLOGI 239


MUTTAQIN & EKOWARNI

Hubungan antara gaya dan status identitas dari anak laki-laki lebih banyak dilatih
untuk pekerjaan yang dilakukan di luar
Hasil korelasi bivariat menunjukkan
rumah sedangkan anak perempuan dilatih
bahwa gaya informatif memiliki hubung-
untuk melakukan tugas-tugas rumah
an positif dengan status moratorium (r =
tangga (Suardiman, 2011). Dengan
0,105, p < 0,05) dan achievement (r = 0,192,
demikian, remaja laki-laki diprediksi akan
p < 0,001), tetapi berhubungan negatif
memiliki lebih banyak kesempatan untuk
dengan status diffusion (r = -0,263, p <
mengeksplorasi identitasnya daripada
0,001). Gaya normatif berhubungan positif
remaja perempuan. Namun sebaliknya,
dengan status foreclosure (r = 0,096, p <
temuan penelitian ini mengindikasikan
0,05) dan achievement (r = 0,119, p < 0,05),
bahwa remaja laki-laki dan perempuan
tetapi memiliki hubungan negatif dengan
memiliki kesempatan yang sama dalam
status diffusion (r = -0,125, p < 0,01) dan
proses pembentukan identitas, bahkan
moratorium (r = -0,106, p < 0,05). Hasil
remaja perempuan dapat lebih mengopti-
korelasi bivariat juga menunjukkan bahwa
malkan kesempatan tersebut dibanding-
gaya menunda-menghindar berhubungan
kan dengan laki-laki.
positif dengan status diffusion (r = 0,205,
p < 0,001), tetapi memiliki hubungan Temuan ini tidak terlepas dari moder-
negatif dengan status foreclosure (r = -0,098, nisasi dan perubahan konstruksi sosial
p < 0,05) dan achievement (r = -0,107, p < mengenai peran laki-laki dan perempuan
0,05). Hasil korelasi bivariat antara gaya di Indonesia yang berusaha mewujudkan
dan status identitas dapat dilihat pada kesetaraan gender dalam berbagai bidang.
tabel 7. Berry, Poortinga, Segall, dan Dasen (2002)
menjelaskan bahwa konstruksi sosial
memengaruhi variasi peran gender laki-
Diskusi
laki dan perempuan berdasarkan waktu
Temuan mengenai perbedaan gender dan budaya. Perubahan peran gender di
pada gaya, dimensi, dan status identitas Indonesia tergambarkan dari kegiatan
menggambarkan kesempatan yang dimi- remaja perempuan pada tahun 1961 yang
liki remaja laki-laki dan perempuan dalam lebih banyak mengurus rumah tangga dan
proses pembentukan identitas. Kondisi menikah berubah menjadi lebih banyak
remaja Indonesia yang mayoritas tumbuh menempuh pendidikan dan bekerja pada
dan berkembang dalam keluarga tahun 2000 (Adioetomo, 2006). Perubahan
patrilineal membuat laki-laki dan perem- ini tidak terlepas dari perubahan yang
puan mendapatkan perlakuan yang terjadi dalam sistem sosial, misalnya
berbeda yang lebih menguntungkan laki- keluarga dan sekolah. Pada lingkungan
laki (Hidajadi, 2001). Hal ini tergambarkan keluarga, orang tua mulai memberikan

Tabel 7
Korelasi bivariat antara gaya dan status identitas
Status Identitas
Gaya Identitas
Diffusion Foreclosure Moratorium Achievement
Informatif -0,263*** -0,053 0,105* 0,192***
Normatif -0,125** 0,096* -0,106* 0,119*
Menunda-menghindar 0,205*** -0,098* -0,019 -0,107*
* p < 0,05 *** p < 0,01 *** p < 0,001

240 JURNAL PSIKOLOGI


PEMBENTUKAN IDENTITAS REMAJA

kesempatan yang sama untuk anak laki- mematuhi keinginan atau harapan orang
laki dan perempuan untuk memilih tua dan mengabaikan keinginan priba-
pendidikan dan pekerjaan. Pada ling- dinya (Nilan, Parker, Bennett, & Robinson,
kungan sekolah, siswa memperoleh 2011). Selain itu, berbagai domain identitas
pengetahuan baik secara langsung mau- (misalnya karier) belum menjadi masalah
pun tidak langsung tentang kesetaraan konkret bagi remaja awal di Indonesia
gender melalui kurikulum, buku teks, dan yang pada umumnya masih menempuh
proses pembelajaran (Analytical and pendidikan di Sekolah Menengah Pertama
Capacity Development Partnership, 2013). (Sarwono, 2013).
Perbedaan pencapaian pembentukan Remaja tengah di Indonesia yang
identitas antara remaja laki-laki dan pada umumnya sedang menempuh
perempuan dapat disebabkan remaja pendidikan di Sekolah Menengah Atas
perempuan memiliki prioritas yang lebih mulai mempersiapkan diri terkait dengan
tinggi pada domain karier, politik, agama, berbagai domain identitas (misalnya
hubungan interpersonal, dan peran gender karier). Mereka mulai mencari informasi
dibandingkan dengan laki-laki (Alberts, sebanyak mungkin mengenai jurusan di
Mbalo, & Ackermann, 2003; Sandhu, 2006). perguruan tinggi atau pekerjaan yang
Prioritas tersebut memengaruhi remaja sesuai minat dan potensi yang dimiliki
perempuan mencari informasi tambahan (Sarwono, 2013). Pada tahapan usia remaja
untuk mengevaluasi komitmen yang tengah, remaja memang cenderung
sudah dipilih supaya semakin sesuai menggunakan gaya kognitif yang ber-
dengan tujuan dan potensi yang dimiliki orientasi pada informasi dengan mulai
(Crocetti dkk., 2008; Crocetti, Schwartz, mencari dan mengumpulkan informasi
Fermani, Klimstra, & Meeus, 2012). mengenai berbagai domain identitas
Kurangnya prioritas bagi remaja laki-laki (Crocetti dkk., 2009, 2012) dan fokus pada
pada berbagai domain identitas menye- pengalaman yang mereka miliki (Stephen,
babkan mereka kurang memiliki informasi Fraser, & Marcia, 1992).
mengenai alternatif identitas yang sesuai Berbeda dengan remaja awal dan
dengan tujuan dan potensi yang dimiliki. tengah, berbagai domain identitas
Hal ini yang menyebabkan remaja laki-laki (misalnya karier) sudah menjadi masalah
memiliki identitas yang tidak stabil konkret bagi remaja akhir di Indonesia
sehingga selalu mempertimbangkan untuk (Sarwono, 2013). Kondisi ini tidak terlepas
memilih komitmen yang lain ketika dari remaja akhir di Indonesia yang pada
komitmen yang dipilih tidak lagi memuas- umumnya sedang menempuh pendidikan
kan (Berzonsky dkk., 2013; Crocetti, di perguruan tinggi. Hal ini menggam-
Klimstra, Hale, Koot, & Meeus, 2013). barkan bahwa mereka telah mengambil
Temuan mengenai perbedaan gaya, keputusan mengenai pilihan karier yang
dimensi, dan status identitas ditinjau dari sesuai dengan minat dan kemampuan
kelompok usia menggambarkan peru- berdasarkan informasi yang diperoleh
bahan pembentukan identitas pada masa sebelumnya. Remaja akhir mampu menca-
remaja yang sesuai dengan kondisi di pai level tertinggi dalam mengintegrasikan
Indonesia. Remaja awal di Indonesia berbagai dimensi identitas karena mereka
masih tergantung pada keluarga dan lebih mampu berpikir rasional dan
diperlakukan sebagai individu yang mengambil keputusan yang tepat, serta
belum dewasa sehingga mereka akan

JURNAL PSIKOLOGI 241


MUTTAQIN & EKOWARNI

memiliki lebih banyak pengalaman (Boyes Indonesia. Remaja dengan gaya informatif
& Chandler, 1992; Phinney, 2008). akan menunjukkan komitmen, eksplorasi
Hubungan antara gaya, dimensi, dan mendalam, dan peninjauan kembali
status identitas menunjukkan keterkaitan komitmen serta berada pada status
model pembentukan identitas remaja pada moratorium atau achievement, remaja
konteks Indonesia. Remaja Indonesia pada dengan gaya normatif akan menunjukkan
umumnya tinggal dalam keluarga besar komitmen dan eksplorasi mendalam serta
dengan orang tua cenderung dominan berada pada status foreclosure, sedangkan
terhadap anak (Sarwono, 2013; Suardiman, remaja dengan gaya menunda-meng-
2011). Dominasi orang tua terhadap anak hindar akan menunjukkan peninjuan
tergambarkan melalui kecenderungan kembali komitmen dan berada pada status
orang tua memberikan aturan atau diffusion.
batasan yang mengatur perilaku anak
(Suardiman, 2011). Kondisi ini mengarah- Kesimpulan
kan remaja Indonesia cenderung mema-
tuhi keinginan atau harapan orang tua dan Kesimpulan dari penelitian ini adalah
mengabaikan keinginan pribadinya (Nilan model gaya, dimensi, dan status identitas
dkk., 2011). Mematuhi keinginan orang dapat digunakan untuk memahami pem-
tua telah dianggap sebagai perwujudan bentukan identitas remaja pada konteks
rasa hormat dari seorang anak terhadap Indonesia. Pada konteks Indonesia, remaja
orang tuanya pada masyarakat Indonesia laki-laki dan perempuan memiliki kesem-
sebagai bentuk interdependensi diri yang patan yang sama dalam pembentukan
bersifat hirarkhis (Moffatt, 2012; Sartana & identitas, bahkan remaja perempuan dapat
Helmi, 2014; Suardiman, 2011). Selain itu, lebih mengoptimalkannya. Seiring dengan
kepatuhan anak terhadap keinginan dan bertambahnya usia, remaja pada konteks
petunjuk orang tua akan menjadi Indonesia dapat mencapai pembentukan
kepuasan dan kebanggaan tersendiri bagi identitas yang optimal. Sesuai dengan
orang tua (Suardiman, 2011). kemampuan adaptasi terhadap konteks
yang dihadapi, remaja pada konteks
Meskipun ada kecenderungan remaja
Indonesia dapat menggunakan berbagai
Indonesia untuk patuh terhadap keinginan
gaya identitas yang berkaitan erat dengan
dan petunjuk orang tua, namun penelitian
dimensi dan status identitas sebagai satu
ini menunjukkan bahwa remaja Indonesia
kesatuan komponen pembentukan
tidak hanya menggunakan gaya normatif
identitas.
tetapi juga menggunakan gaya informatif
dan menunda-menghindar. Hal ini
Saran
disebabkan karena adanya kemungkinan
remaja untuk mematuhi, berkompromi, Saran untuk penelitian selanjutnya
maupun mempertimbangkan harapan adalah perlu mempertimbangkan konteks
orang tua dan tuntutan masyarakat ketika yang lebih spesifik (misalnya domisili
mengambil keputusan terkait dengan tempat tinggal dan budaya) serta perlu
berbagai domain identitas (Marcia, 1966, mengeksplorasi faktor-faktor yang
1993). Sesuai dengan hasil penelitian, memengaruhi pembentukan identitas agar
penggunaan gaya identitas yang berbeda dapat memahami pembentukan identitas
dapat menunjukkan perbedaan dimensi remaja pada konteks Indonesia secara
dan status identitas remaja pada konteks lebih komprehensif.

242 JURNAL PSIKOLOGI


PEMBENTUKAN IDENTITAS REMAJA

Kepustakaan Wisdom and ego-identity for Korean


and American late adolescents.
Adams, G. R., & Marshall, S. K. (1996). A Journal of Cross-Cultural Psychology,
developmental social psychology of 44(5), 807–831. http://doi.org/10.1177/
identity: Understanding the person- 0022022112466941
in-context. Journal of Adolescence,
Baumeister, R. F., & Muraven, M. (1996).
19(5), 429–442.
Identity as adaptation to social,
http://doi.org/10.1006/jado.1996.0041
cultural, and historical context.
Adioetomo, S. M. (2006). Wajah baru Journal of Adolescence, 19(5), 405–416.
penduduk Indonesia. In T. H. Hull http://doi.org/10.1006/jado.1996.0039
(Ed.), Masyarakat, kependudukan, dan
Berman, S. L., Weems, C. F., Rodriguez, E.
kebijakan di Indonesia (pp. 155–205).
T., & Zamora, I. J. (2006). The relation
Jakarta: PT Equinox Publishing
between identity status and romantic
Indonesia.
attachment style in middle and late
Alberts, C., Mbalo, N. F., & Ackermann, C. adolescence. Journal of Adolescence,
J. (2003). Adolescents’ perceptions of 29(5), 737–748.
the relevance of domains of identity http://doi.org/10.1016/j.adolescence.20
formation: A South African cross- 05.11.004
cultural study. Journal of Youth and
Berry, J. W., Poortinga, Y. H., Segall, M. H.,
Adolescence, 32(3), 169–184.
& Dasen, P. R. (2002). Cross-culltural
http://doi.org/10.1023/A:102259130290
psychology: Research and applications.
9
Cambridge: University Press.
Analytical and Capacity Development
Berzonsky, M. D. (1989). Identity style:
Partnership. (2013). Gender equality in
Conceptualization and measurement.
education in Indonesia. Jakarta:
Journal of Adolescent Research, 4(3),
Balitbang-Kemendikbud.
268–282.
Arbuckle, J. L. (2012). IBM SPSS Amos 21 http://doi.org/10.1177/07435548894300
users guide. Amos Development 2
Corporation.
Berzonsky, M. D. (2004). Identity
Bagozzi, R. P., & Heatherton, T. F. (1994). processing style, self-construction,
A general approach to representing and personal epistemic assumptions:
multifaceted personality constructs: A social-cognitive perspective.
Application to state self-esteem. European Journal of Developmental
Structural Equation Modeling: A Psychology, 1(4), 303–315.
Multidisciplinary Journal, 1(1), 35–67. http://doi.org/10.1080/17405620444000
http://doi.org/10.1080/10705519409539 120
961
Berzonsky, M. D. (2011). A social-cognitive
Balistreri, E., Busch-Rossnagel, N. A., & perspective on identity construction.
Geisinger, K. F. (1995). Development In S. J. Schwartz, K. Luyckx, & V. L.
and preliminary validation of the Ego Vignoles (Eds.), The handbook of
Identity Process Questionnaire. identity theory and research (pp. 55–76).
Journal of Adolescence, 18(2), 179–192. New York: Springer.
http://doi.org/10.1006/jado.1995.1012
Berzonsky, M. D., Soenens, B., Luyckx, K.,
Bang, H., & Montgomery, D. (2013). Smits, I., Papini, D. R., & Goossens, L.

JURNAL PSIKOLOGI 243


MUTTAQIN & EKOWARNI

(2013). Development and validation college students. Journal of


of the revised Identity Style Inventory Adolescence, 32(2), 425–433.
(ISI-5): Factor structure, reliability, http://doi.org/10.1016/j.adolescence.20
and validity. Psychological Assessment, 08.04.002
25(3), 893–904. Crocetti, E., Rubini, M., & Meeus, W. H.
http://doi.org/10.1037/a0032642 (2008). Capturing the dynamics of
Bosma, H. A., & Kunnen, E. S. (2001). identity formation in various ethnic
Determinants and mechanisms in ego groups: Development and validation
identity development: A review and of a three-dimensional model. Journal
synthesis. Developmental Review, 21(1), of Adolescence, 31(2), 207–222.
39–66. http://doi.org/10.1016/j.adolescence.20
http://doi.org/10.1006/drev.2000.0514 07.09.002
Boyes, M. C., & Chandler, M. (1992). Crocetti, E., Schwartz, S. J., Fermani, A.,
Cognitive development, epistemic Klimstra, T. A., & Meeus, W. H.
doubt, and identity formation in (2012). A cross-national study of
adolescence. Journal of Youth and identity status in Dutch and Italian
Adolescence, 21(3), 277–304. adolescents. European Psychologist,
http://doi.org/10.1007/BF01537019 17(3), 171–181.
Busch, H., & Hofer, J. (2011). Identity, http://doi.org/10.1027/1016-
prosocial behavior, and generative 9040/a000076
concern in German and Cameroonian Erikson, E. H. (1950). Childhood and society.
Nso adolescents. Journal of New York: W.W. Norton &
Adolescence, 34(4), 629–638. Company, Inc.
http://doi.org/10.1016/j.adolescence.20 Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and
10.09.009 crisis. New York: W.W. Norton &
Côté, J. E., & Levine, C. (1988). A critical Company, Inc.
examination of the ego identity status Eryigit, S., & Kerpelman, J. L. (2011).
paradigm. Developmental Review, 8(2), Cross-cultural investigation of the
147–184. http://doi.org/10.1016/0273- link between identity processing
2297(88)90002-0 styles and the actual work of identity
Crocetti, E., Klimstra, T. A., Hale, W. W., in the career domain. Child & Youth
Koot, H. M., & Meeus, W. H. (2013). Care Forum, 40(1), 43–64.
Impact of early adolescent http://doi.org/10.1007/s10566-010-
externalizing problem behaviors on 9117-3
identity development in middle to Graf, S. C., Mullis, R. L., & Mullis, A. K.
late adolescence: A prospective 7-year (2008). Identity formation of United
longitudinal study. Journal of Youth States American and Asian Indian
and Adolescence, 42(11), 1745–1758. adolescents. Adolescence, 43(169), 57–
http://doi.org/10.1007/s10964-013- 69.
9924-6
Hair, J. F., Hult, G. T. M., Ringle, C. M., &
Crocetti, E., Rubini, M., Berzonsky, M. D., Sarstedt, M. (2014). A primer on partial
& Meeus, W. H. (2009). Brief report: least squares structural equation
The Identity Style Inventory – modeling (PLS-SEM). Thousand Oaks,
Validation in Italian adolescents and CA: Sage Publications, Inc.

244 JURNAL PSIKOLOGI


PEMBENTUKAN IDENTITAS REMAJA

Hambleton, R. K. (2005). Issues, designs Services Review, 35(3), 482–487.


and technical guidelines for adapting http://doi.org/10.1016/j.childyouth.201
tests into multiple languages and 2.12.018
cultures. In R. K. Hambleton, P. F. Lee, C.-T., & Beckert, T. E. (2012).
Merenda, & C. D. Spielberger (Eds.), Taiwanese adolescent cognitive
Adapting educational and psychological autonomy and identity development:
tests for cross-cultural assessment (pp. The relationship of situational and
3–38). Mahwah, NJ, US: Erlbaum. agential factors. International Journal of
Hidajadi, M. (2001). Hubungan ibu dan Psychology, 47(1), 39–50.
anak perempuan: Sebuah distorsi? http://doi.org/10.1080/00207594.2011.5
Jurnal Perempuan, 16, 7–15. 72972
Klimstra, T. A., Hale, W. W., Raaijmakers, Marcia, J. E. (1966). Development and
Q. A. W., Branje, S. J. T., & Meeus, W. validation of ego-identity status.
H. (2010). Identity formation in Journal of Personality and Social
adolescence: Change or stability? Psychology, 3(5), 551–558.
Journal of Youth and Adolescence, 39(2), http://doi.org/10.1037/h0023281
150–162. Marcia, J. E. (1993). The ego identity status
http://doi.org/10.1007/s10964-009- approach to ego identity. In J. E.
9401-4 Marcia, A. S. Warterman, D. R.
Kroger, J. (2000). Ego identity status Matterson, S. L. Archer, & J. L.
research in the new millennium. Orlofsky (Eds.), Ego identity: A
International Journal of Behavioral handbook for psychosocial research (pp.
Development, 24(2), 145–148. 1–21). New York: Springer.
http://doi.org/10.1080/01650250038325 Meeus, W. H., Van De Schoot, R., Keijsers,
0 L., Schwartz, S. J., & Branje, S. J. T.
Kroger, J., & Marcia, J. E. (2011). The (2010). On the progression and
identity statuses: Origins, meanings, stability of adolescent identity
and interpretation. In S. J. Schwartz, formation: A five-wave longitudinal
K. Luyckx, & V. L. Vignoles (Eds.), study in early-to-middle and middle-
The handbook of identity theory and to-late adolescence. Child Development,
research (pp. 31–53). New York: 81(5), 1565–1581.
Springer. http://doi.org/10.1111/j.1467-
Kroger, J., Martinussen, M., & Marcia, J. E. 8624.2010.01492.x
(2010). Identity status change during Moffatt, A. (2012). Indonesian cultural
adolescence and young adulthood: A profile. Australia: Diversicare.
meta-analysis. Journal of Adolescence, Möller-Leimkühler, A. M. (2003). The
33(5), 683–698. gender gap in suicide and premature
http://doi.org/10.1016/j.adolescence.20 death or: Why are men so vulnerable?
09.11.002 European Archives of Psychiatry and
Laghi, F., Baiocco, R., Liga, F., Guarino, A., Clinical Neuroscience, 253(1), 1–8.
& Baumgartner, E. (2013). Identity http://doi.org/10.1007/s00406-003-
status differences among Italian 0397-6
adolescents: Associations with time Nilan, P., Parker, L., Bennett, L., &
perspective. Children and Youth Robinson, K. (2011). Indonesian youth

JURNAL PSIKOLOGI 245


MUTTAQIN & EKOWARNI

looking towards the future. Journal of around the world: An overview. New
Youth Studies, 14(6), 709–728. Directions for Child and Adolescent
http://doi.org/10.1080/13676261.2011.5 Development, (138), 1–18.
80523 http://doi.org/10.1002/cad.20019
Phinney, J. S. (2005). Ethnic identity in late Shwalb, D. W., Shwalb, B. J., Nakazawa, J.,
modern times: A response to Rattansi Hyun, J.-H., Le, H. Van, &
and Phoenix. Identity, 5(2), 187–194. Satiadarma, M. P. (2010). East and
http://doi.org/10.1207/s1532706xid050 Southeast Asia: Japan, South Korea,
2_7 Vietnam, and Indonesia. In Handbook
Phinney, J. S. (2008). Bridging identities of Cultural Developmental Scienc (pp.
and disciplines: Advances and 445–464). New York: Psychology
challenges in understanding multiple Press.
identities. New Directions for Child and Stephen, J., Fraser, E., & Marcia, J. E.
Adolescent Development, (120), 97–109. (1992). Moratorium-achievement
http://doi.org/10.1002/cd.218 (MAMA) cycles in lifespan identity
Sandhu, D. (2006). Gender differences in development: Value orientations and
adolescent identity formation. reasoning system correlates. Journal of
Pakistan Journal of Psychological Adolescence, 15(3), 283–300. Retrieved
Research, 21(1–2), 29–40. from
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubme
Santrock, J. W. (2011). Life-span development
d/1447414
(13th ed.). New York: McGraw-Hill.
Suardiman, S. P. (2011). Psikologi usia
Sartana, & Helmi, A. F. (2014). Konsep diri
lanjut. Yogyakarta: Gadjah Mada
remaja Jawa saat bersama teman.
University Press.
Jurnal Psikologi, 41(2), 190–204.
Utomo, I. D. (2006). Kehidupan
Sarwono, S. W. (2013). Psikologi remaja edisi
perempuan: Lima puluh tahun
revisi. Jakarta: Rajawali Pers.
perubahan dan kontinuitas. In T. H.
Schwartz, S. J. (2001). The evolution of Hull (Ed.), Masyarakat, kependudukan,
Eriksonian and Neo-Eriksonian dan kebijakan di Indonesia (pp. 85–154).
identity theory and research: A Jakarta: PT Equinox Publishing
review and integration. Identity, 1(1), Indonesia.
7–58.
Vleioras, G., & Bosma, H. A. (2005). Are
http://doi.org/10.1207/S1532706XSCH
identity styles important for
WARTZ
psychological well-being? Journal of
Schwartz, S. J., & Montgomery, M. J. Adolescence, 28(3), 397–409.
(2002). Similarities or differences in http://doi.org/10.1016/j.adolescence.20
identity development? The impact of 04.09.001
acculturation and gender on identity
Wängqvist, M., & Frisén, A. (2013).
process and outcome. Journal of Youth
Swedish 18-year-olds’ identity
and Adolescence, 31(5), 359–372.
formation: Associations with feelings
http://doi.org/10.1023/A:101562860855
about appearance and internalization
3
of body ideals. Journal of Adolescence,
Schwartz, S. J., Zamboanga, B. L., Meca, 36(3), 485–493.
A., & Ritchie, R. A. (2012). Identity http://doi.org/10.1016/j.adolescence.20

246 JURNAL PSIKOLOGI


PEMBENTUKAN IDENTITAS REMAJA

13.02.002 Identity Style Inventory (ISI-3) and


Yoder, A. E. (2000). Barriers to ego identity the Utrecht-Management of Identity
status formation: A contextual Commitments Scale (U-MICS): Factor
qualification of Marcia’s identity structure, reliability, and convergent
status paradigm. Journal of validity in French-speaking univer-
Adolescence, 23(1), 95–106. sity students. Journal of Adolescence,
http://doi.org/10.1006/jado.1999.0298 35(2), 461–465.
http://doi.org/10.1016/j.adolescence.20
Zimmermann, G., Mahaim, E. B.,
10.11.013
Mantzouranis, G., Genoud, P. A., &
Crocetti, E. (2012). Brief report: The

JURNAL PSIKOLOGI 247

View publication stats

Centres d'intérêt liés