Vous êtes sur la page 1sur 10

Jurnal Keuangan dan Bisnis

Vol. 4 No. 2, Juli 2012

PENGARUH MEREK, IKLAN DAN KUALITAS PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN


MEMBELI MIE INSTAN SUPERMI (STUDI KASUS PADA MASYARAKAT
KELURAHAN TANAH SERIBU KECAMATAN BINJAI SELATAN, BINJAI)

Eko Wahyu Widayat


(exho-w2@yahoo.com)
Dosen Universitas Pembangunan Panca Budi Medan

ABSTRACT

Development of an increasingly consumerist society has increased the development of the


fast food business and switch to the very practical product. Supermi instant noodle as one of the
products of PT. Indofood, Inc. has provided an alternative to the public to be able to obtain a
practically and fast served food, however, due to the number of instant noodle products in the
market makes Supermi instant noodle even less known in the community. Based on the
background, the author conducted a study that aims to determine the variables of brand,
advertising, and product quality of the buying decision of the people in Tanah Seribu Village,
Sub-district of South Binjai, Binjai to buy Supermi instant noodle by doing questionnaire data
collection, interview, observation, and documentation study in the research methods. Analysis
model of data used in this research is multiple linear regression analysis.
Regression test result shows that 32.80% buying decision factors can be explained by the
brand, advertising, and product quality while the remaining 67.20% is explained by other
factors which are not examined in this study. F test results indicate the brand, advertising, and
product quality simultaneously which have significant influence on the buying decision
variables. While the T tests show that the variables of brand and advertising have a positive and
significant impact on buying decisions of Supermi instant noodle while product quality variable
has no significant influence and impact on the buying decisions of Supermi instant noodle. The
dominant variable buying decisions of Supermi instant noodle is a brand with a value of
standaridized coefficient beta of 0.310.

Keywords: Brands, Advertising, Product Quality, Buying Decisions

PENDAHULUAN baru yang ramai-ramai memproduksi mie


instan dengan berbagai jenis dan macamnya.
Perkembangan dunia usaha dewasa ini
semakin pesat. Berbagai produk baru PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk
diluncurkan oleh perusahaan-perusahaan sebagai salah satu perusahaan ternama di
yang sudah jauh lebih dulu berkembang Indonesia yang telah memproduksi berbagai
maupun yang relatif baru. Perkembangan produk yang ditawarkan ke pasar juga telah
dunia usaha tersebut telah menyebabkan memproduksi mi instan dengan merek
tuntutan akan produk yang semakin Supermi bahkan saat ini Supermi yang
berkembang sesuai dengan perubahan ditawarkan tersebut telah memiliki banyak
jaman. variasi. Hal ini tentunya merupakan salah
satu upaya yang dilakukan oleh PT.
Dalam hidupnya, manusia tidak mampu
Indofood Sukses Makmur, Tbk untuk
terlepas dari berbagai kebutuhan hidupnya.
memberikan pilihan lebih banyak lagi
Salah satu kebutuhan manusia tersebut
kepada masyarakat dengan harapan bahwa
adalah makan untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat akan tetap lebih memilih
kalori dalam menjalankan berbagai aktifitas
mengkonsumsi mi instan dengen merek
sehari-hari. Namun demikian, disisi lain
Supermi tersebut.
kesibukan manusia telah menyebabkan
berubahnya pola konsumsi manusia yang Namun demikian, berdasarkan hasil
biasa saja menjadi serba instan, sehingga pengamatan sementara yang penulis lakukan
wajar jika saat ini muncul berbagai merek khususnya di wilayah Kelurahan Tanah
mie instan di pasaran Indonesia. Hal ini Seribu, Kecamatan Binjai Selatan, Binjai,
dapat dilihat dari banyaknya perusahaan saat ini masyarakat lebih banyak memilih mi

172
2012 Eko Wahyu Widayat

instan dengan merek yang lain seperti dapat dirumuskan sebagai berikut: Apakah
Indomie walaupun sebenarnya baik Supermi variabel merek, iklan dan kualitas produk
maupun Indomie merupakan hasil produksi berpengaruh terhadap keputusan membeli
dari perusahaan yang sama yaitu PT. Mi Instan Supermi Masyarakat Kelurahan
Indofood Sukses Makmur, Tbk. Hal ini Tanah Seribu, Kecamatan Binjai Selatan,
menunjukkan bahwa kekuatan merek sebuah Binjai?
produk akan sangat mempengaruhi
pelanggan dalam mengkonsumsi sebuah
produk yang ditawarkan ke pasar. TINJAUAN PUSTAKA
Sampai saat ini masyarakat khususnya Merek
yang ada di Kelurahan Tanah Seribu, Merek adalah nama, istilah, tanda,
Kecamatan Binjai Selatan, Binjai masih lambang, desain atau kombinasinya, yang
bernaggapan bahwa Indomie mempunyai dimaksudkan untuk mengidentifikasikan
tingkat kekuatan merek yang lebih tinggi barang atau jasa dari salah satu penjual atau
jika dibandingkan dengan dengan merek kelompok penjual dan mendeferensikannya
Supermi walaupun kedua-duanya diproduksi dari para pesaing. Maka merek adalah
oleh perusahaan yang sama. Oleh sebab itu produk atau jasa yang dimensinya
sebagian besar Kelurahan Tanah Seribu, mendiferensiasikan merek tersebut dengan
Kecamatan Binjai Selatan, Binjai masih beberapa cara dari produk atau jasa lainnya
lebih memilih mi instan dengan merek yang dirancang untuk memuaskan
Indomie dibandingkan dengan merek kebutuhan yang sama (Kotler dan Keller
Supermi. dalam Sabran, 2009).
Selain itu, faktor lain yang disinyalir Merek berperan mengidentifikasikan
turut mempengaruhi minat pelanggan sumber atau pembuat produk dan
khususnya masyarakat Kelurahan Tanah menungkinkan konsumen untuk menuntut
Seribu, Kecamatan Binjai Selatan, Binjai tanggung jawab atas kinerjanya kepada
dalam memutuskan membeli Mi instan pabrikan atau distributor tertentu. Merek
Supermi adalah iklan. Walaupun Indomie juga melaksanakan fungsi yang berharga
maupun Supermi diproduksi oleh bagi perusahaan. Merek mampu
perusahaan yang sama, namun jika kita menyederhanakan penanganan atau
melihat strategi penjualan yang dilakukan penelusuran produk. Merek juga
oleh PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk menawarkan perlindungan hukum kepada
dalam mempromosikan produknya, masih perusahaan untuk fitur-fitur atau aspek unik
lebih sering untuk produk Indomie. Hal ini produk. Disisi lain, merek menandakan
bisa kita lihat diberbagai iklan media tingkat kualitas tertentu sehingga pembeli
televisi. Iklan Indomie lebih banyak terlihat yang puas dapat dengan mudah memilih
diberbagai stasiun televisi jika dibandingkan produk kembali (Kotler dan Keller dalam
dengan iklan Supermi. Bahkan tagline Sabran, 2009).
Indomie yaitu “Indomie, seleraku” sudah Keputusan manajemen perusahaan
sangat tertanam dibenak masyarakat tentang penggunaan merek dagang suatu
Indonesia termasuk masyarakat yang tinggal produk yang dihasilkan bisa berbeda.
di Kelurahan Tanah Seribu, Kecamatan Keputusan tersebut dapat berwujud: (1)
Binjai Selatan, Binjai sampai saat ini. Tidak menggunakan merek, (2)
Disisi lain, kualitas produk antara Mempergunakan nama perusahaan sebagai
Indomie dan Supermi banyak diyakini merek semua produk yang dihasilkan, (3)
berbeda. Mungkin hal ini memang sudah Mempergunakan satu merek untuk tiap seri
menjadi salah satu strategi marketing yang produk yang dihasilkan, (4)
diterapkan oleh PT. Indofood Sukses Mempergunakan merek khusus untuk tiap
Makmur, Tbk dimana produk Indomie jenis produk, (5) Mempergunakan
didesain memiliki kualitas yang lebih baik kombinasi merek, dan (6) Mempergunakan
jika dibandingkan dengan Supermi, sehingga merek pedagang ritel (Sutojo, 2009).
banyak masyarakat lebih memilih produk Penetapan merek (branding) adalah
Indomie dibandingkan dengan Supermi. memberikan kekuatan kepada produk dan
Berdasarkan latar belakang di atas, jasa sehingga tercipta perbedaan antara
maka permasalahan dalam penelitian ini merek yang satu dengan yang lain. Agar

173
172 - 181 Jurnal Keuangan & Bisnis Juli

strategi penetapan merek berhasil dan nilai Iklan


merek dapat tercipta, maka konsumen harus
diyakinkan bahwa ada perbedaan berarti di Periklanan (advertising) adalah semua
antara merek dalam kategori produk atau bentuk terbayar atas presentasi non pribadi
jasa (Kotler dan Keller dalam Sabran, 2009). dan promosi ide, barang atau jasa oleh
sponsor yang jelas (Kotler dan Keller dalam
Beberapa bagian merek (Laksana,
Sabran, 2009). Periklanan adalah
2008) adalah:
penggunaan media bayaran oleh seorang
(1) Nama merek (brand name) adalah penjual untuk mengkomunikasikan
bagian dari merek yang dapat informasi persuasive tentang produk, jasa,
diucapkan maupun organisasi dan merupakan alat
(2) Tanda merek (brand mark) adalah promosi yang kuat (Suyanto, 2004). Iklan
bagian dari merek yang dapat dikenal adalah presentasi nonpersonal dari ide,
namun tidak bisa diucapkan barang, atau jasa apa pun yang dibayar oleh
suatu sponsor (Cannon dalam Fitriati dan
(3) Tanda merek dagang (trade mark)
Cahyani, 2008). Periklanan adalah segala
adalah merek atau sebagian dari merek
bentuk penyajian non personal dan promosi
yang dilindungi oleh hukum karena
ide, barang, atau jasa oleh suatu sponsor
kemampuannya untuk menghasilkan
tertentu yang memerlukan pembayaran
sesuatu yang istimewa. Tanda dagang
(Laksana, 2008).
ini melindungi penjual dengan hal
istimewanya untuk menggunakan nama Tujuan atau sasaran iklan adalah tugas
merek dan atau tanda merek komunikasi khusus dan tingkat pencapaian
yang harus dicapai dengan pemirsa tertentu
(4) Hak cipta (copyright) adalah hak
dalam jangka waktu tertentu (Kotler dan
istimewa yang dilindungi oleh undang-
Keller dalam Sabran, 2009). Berdasarkan
undang untuk memproduksi,
tujuannya, iklan dapat diklasifikasikan
menerbitkan dan menjual karya tulis,
sebagai berikut:
karya musik atau karya seni.
(1) Iklan informatif, bertujuan menciptakan
kesadaran merek dan pengetahuan
Merek memiliki manfaat khususnya tentang produk atau fitur baru produk
bagi penjual (Laksana, 2008) sebagai yang ada.
berikut: (2) Iklan persuasif, bertujuan menciptakan
(1) Nama merek memudahkan penjual kesukaan, preferensi, keyakinan dan
untuk mengolah pesanan-pesanan dan pembelian produk atau jasa.
menekan permasalahan (3) Iklan pengingat, bertujuan menstimulus
(2) Nama merek atau tanda dagang secara pembelian berulang produk atau jasa.
hukum akan melindungi penjual dari (4) Iklan penguat, bertujuan meyakinkan
pemalsuan ciri-ciri produk, karena bila pembeli saat ini bahwa mereka
tidak demikian maka setiap pesaing melakukan pilihan yang tepat.
akan meniru produk yang telah berhasil Perencana media harus mengetahui
dipasarkan kepasitas jenis media iklan utama untuk
(3) Merek memberi penjual peluang menghantarkan jangkauan, frekuensi dan
kesetiaan konsumen pada produk dampak. Perencana media membuat
(4) Merek dapat membantu penjual dalam pilihannya dengan mempertimbangkan
mengelompokkan pasar kedalam variabel-variabel yaitu: (1) Kebiasaan
segmen-segmen pemirsa media sasaran, (2) Karakteristik
(5) Citra perusahaan dapat dibina dengan produk, (3) Karakteristik pesan, dan (4)
adanya merek yang baik dimana dengan biaya (Kotler dan Keller dalam Sabran,
membawa nama perusahaan, merek 2009).
sekaligus mengiklankan kualitas dan
Dalam mengembangkan program iklan,
besarnya perusahaan.
seseorang harus mulai dengan
mengidentifikasi pasar sasaran dan motif
pembeli. Lalu menggunakan lima keputusan
utama yang dikenal dengan 5M yaitu (1)
Misi (mission), apa tujuan iklan anda? (2)

174
2012 Eko Wahyu Widayat

Uang (money), barapa banyak uang yang Sementara ini, tinggi rendahnya mutu
akan dihabiskan? (3) Pesan (message), apa produk di pasar ditentukan oleh konsumen
pesan yang harus dikirimkan? (4) Media, bukan produsen. Tinggi rendahnya mutu
apa media yang harus digunakan? (5) produk di mata konsumen antara lain
Pengukuran (measurement), bagaimana ditentukan oleh: (1) Panjang pendeknya
mengevaluasi hasilnya? Yang dirangkum jangka waktu pemakaian produk tanpa
pada gambar dibawah ini. gangguan yang berarti, (2) Tinggi rendahnya
nilai manfaat yang disajikan produk, (3)
Cara penggunaan produk yang mudah, dan
Kualitas Produk (4) Biaya reparasi yang tidak memberatkan
Produk adalah segala sesuatu yang pemilik produk yang bersangkutan (Sutojo,
dapat ditawarkan kepada pasar untuk 2009).
memuaskan suatu keinginan atau kebutuhan, Dalam kehidupan bisnis sehari-hari
termasuk barang fisik, jasa, pengalaman, seringkali dirasakan perlunya
acara, orang, tempat, properti, organisasi, mengembangkan kualitas produk yang
informasi dan ide (Kotler dan Keller dalam sudah berjalan. Tujuan utama strategi
Sabran, 2009). Produk terdiri dari ciri-ciri pengembangan kualitas produk adalah
atau sifat, rancangan, pilihan, gaya, merek meningkatkan jangka waktu penggunaan,
dagang, kemasan, ukuran, pelayanan, daya tahan dan ketangguhan produk melalui
jaminan dan pengembalian (Suyanto, 2004). penggunaan bahan baku yang lebih baik
Produk adalah segala sesuatu baik yang mutunya atau perbaikan proses produksinya
bersifat fisik maupun non fisik yang (Sutojo, 2009). Salah satu manfaat yang
ditawarkan kepada konsumen untuk diperoleh perusahaan dari upaya
memenuhi kebutuhan dan keinginannya pengembangan kualitas produk adalah dapat
(Laksana, 2008). Produk adalah semua lebih banyak menarik konsumen yang
atribut yang dapat memuaskan konsumen menjadikan mutu sebagai salah satu
baik yang tangible maupun intangible motivasi pembelian konsumen tersebut
(Rachman, 2010). (Sutojo, 2009).
Kualitas produk (product quality) Pengembangan kualitas produk dapat
adalah totalitas fitur dan karakteristik produk dilakukan karena berbagai macam sebab
atau jasa yang bergantung pada (Sutojo, 2009) antara lain:
kemampuannya untuk memuaskan
kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat (1) Adanya persepsi konsumen bahwa
(Kotler dan Keller dalam Sabran, 2009). kualitas produk tersebut rendah
Disisi lain, kualitas merupakan salah satu (2) Adanya pemicu bahwa perusahaan lain
alat penting bagi pemasar untuk menetapkan telah melakukan pengembangan
posisi. Kualitas mempunyai dua dimensi kualitas produk terlebih dahulu
yaitu tingkat dan konsistensi. Ketika sehingga muncul kekhawatiran akan
mengembangkan suatu produk, pemasaran daya saing produk di pasaran
mula-mula harus memilih tingkat kualitas (3) Adanya keinginan untuk mendominasi
yang akan mendukung posisi produk di segmen pasar yang pembelinya
pasar sasaran. Disitu kualitas produk berarti mengutamakan kualitas produk
kemampuan produk untuk melaksanakan
fungsinya. Disini, kualitas produk berarti Keputusan Membeli
kemampuan produk untuk melaksanakan Keputusan pembelian merupakan
fungsinya, termasuk didalamnya keawetan, kegiatan individu yang secara langsung
keandalan, ketepatan, kemudahan terlibat dalam pengambilan keputusan untuk
dipergunakan dan diperbaiki serta atribut melakukan pembelian terhadap produk yang
bernilai yang lain (Rachman, 2010). Kualitas ditawarkan oleh penjual. Ada tiga aktivitas
produk adalah kemampuan produk yang berlangsung dalam proses keputusan
menunaikan fungsi utamanya, dengan pembelian oleh konsumen yaitu (Hahn
perkataan laintingkat mutu produk dalam Lembang, 2010) :
ditentukan oleh kemampuannya memenuhi
(1) Rutinitas konsumen dalam melakukan
kebutuhan utama pembeli atau manfaat inti
pembelian.
(Sutojo, 2009).

175
172 - 181 Jurnal Keuangan & Bisnis Juli

(2) Kualitas yang diperoleh dari suatu melaksanakan maksud pembelian,


keputusan pembelian. konsumen dapat membentuk lima
(3) Komitmen atau loyalitas konsumen subkeputusan: (1) merek, (2) penyalur,
untuk tidak akan mengganti keputusan (3) kuantitas, (4) waktu dan (5)
yang sudah biasa di beli dengan produk pembayaran.
pesaing. (e) Perilaku Pascapembelian. Setelah
Perilaku membeli memiliki urutan melakukan pembelian, konsumen
sebagai berikut: (1) Store contact, meliputi mungkin mengalami konflik
tindakan mencari outlet, pergi ke outlet, dan dikarenakan melihat fitur yang
memasuki outlet, (2) Product contact, mengkhawatirkan tertentu atau
konsumen akan mencari lokasi produk, mendengarkan hal-hal menyenangkan
mengambil produk tersebut dan tentang merek lain dan waspada
membawanya ke kasir, dan (3) Transaction, terhadap informasi yang mendukung
konsumen akan membayar produk tersebut keputusannya. Komunikasi pemasaran
dengan tunai, kartu kredit, kartu debet atau seharusnya memasok keyakinan dan
alat pembayaran lainnya (Sumarwan, 2004). evaluasi yang memperkuat pilihan
Perusahaan yang cerdas berusaha untuk konsumen dan membantunya merasa
memahami proses keputusan pembelian nyaman tentang produk tersebut. Oleh
pelanggan secara penuh. Periset pemasaran sebab itu, tugas pemasar tidak berakhir
telah mengembangkan “model tingkat” dengan pembelian. Pemasar harus
proses keputusan pembelian konsumen mengamati kepuasan pascapembelian,
melalui lima tahap, yaitu: tindakan pascapembelian, dan
penggunaan produk pascapembelian
(a) Pengenalan Masalah. Proses pembelian (Kotler dan Keller dalam Sabran,
dimulai ketika pembeli menyadari suatu 2009:184-190).
masalah atau kebutuhan yang dipicu
oleh rangsangan internal dan eksternal.
Pemasar harus mengidentifikasi Hipotesis Penelitian
keadaan yang memicu kebutuhan Sesuai dengan deskripsi teoritis yang
tertentu dengan mengumpulkan telah penulis sampaikan di atas, maka
informasi dari sejumlah konsumen. hipotesis penelitian ini penulis rumuskan
(b) Pencarian Informasi. Konsumen sering sebagai berikut:
mencari jumlah informasi yang
terbatas. Melalui pengumpulan Hipotesis 1: Variabel merek, iklan dan
informasi, konsumen mempelajari kualitas produk berpengaruh
merek pesaing dan fitur produk positif dan signifikan
tersebut. terhadap keputusan membeli
Mi Instan Supermi
(c) Evaluasi Alternatif. Beberapa konsep
Masyarakat Kelurahan Tanah
dasar yang akan membantu dalam
Seribu, Kecamatan Binjai
proses evaluasi adalah (1) konsumen
Selatan, Binjai.
berusaha memuaskan sebuah
kebutuhan, (2) konsumen mencari
Hipotesis 2: Variabel yang dominan
manfaat tertentu dari solusi produk, (3)
mempengaruhi keputusan
konsumen melihat masing-masing
membeli adalah merek.
produk sebagai sekelompok atribut
dengan berbagai kemampuan untuk
menghantarkan manfaat yang METODE PENELITIAN
diperlukan untuk memuaskan
Jenis Penelitian
kebutuhan ini.
(d) Keputusan Pembelian. Dalam tahap Sesuai dengan tujuannya yaitu
evaluasi, konsumen membentuk menjelaskan hubungan dan pengaruh
preferensi antarmerek dalam kumpulan beberapa variabel yang sudah ditetapkan,
pilihan. Konsumen juga mungkin maka jenis penelitian yang digunakan adalah
membentuk maksud untuk membeli penelitian penjelasan (explanatory),
merek yang paling disukai. Dalam merupakan penelitian yang menggunakan

176
2012 Eko Wahyu Widayat

data yang sama, dimana peneliti b. Iklan (X2)


menjelaskan hubungan kausal antara Adalah adalah semua bentuk terbayar
variabel-variabel melalui pengujian hipotesis atas presentasi non pribadi dan promosi
yang telah dirumuskan sebelumnya. ide, barang atau jasa oleh sponsor yang
jelas (Kotler dan Keller dalam Sabran,
Populasi dan Sampel Penelitian 2009).
Populasi merupakan objek atau subjek c. Kualitas Produk (X3)
yang berada pada suatu wilayah dan
Adalah totalitas fitur dan karakteristik
memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan
produk atau jasa yang bergantung pada
dengan masalah penelitian (Riduwan, 2006).
kemampuannya untuk memuaskan
Populasi adalah wilayah generalisasi yang
kebutuhan yang tersirat (Kotler dan
terdiri atas obyek/subyek yang merupakan
Keller dalam Sabran, 2009).
kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, Variabel Terikat (Dependent Variabel)
2008).
Sampel adalah bagian dari jumlah dan Variabel terikat adalah variabel yang
karakteristik yang dimiliki oleh populasi dapat dipengaruhi oleh variabel lain. Dalam
tersebut (Sugiyono, 2010:81). Sampel penelitian ini digunakan keputusan membeli
merupakan suatu bagian yang ditarik dari yaitu berupa keinginan yang mendasari
populasi (Istijanto, 2009). tindakan para pelanggan untuk membeli
(Kotler dan Keller dalam Sabran, 2009).
Populasi dalam penelitian ini
jumlahnya cukup banyak yaitu mencapai Kuesioner penelitian ini menggunakan
1.148 orang untuk setiap bulannya, maka alat pengukuran skala Likert. Skala likert
penulis menggunakan rumus Slovin untuk digunakan untuk mengukur sikap, pendapat
menentukan jumlah sampel. Jumlah sampel dan persepsi seseorang atau kelompok
pada penelitian ini sebesar 92 orang. tentang kejadian atau gejala. Dengan skala
likert maka variabel yang diukur
dijabarkankan menjadi dimensi, dimensi
Teknik Pengumpulan Data dijabarkan menjadi sub-variabel, kemudian
Dalam mengumpulkan data penulis sub-variabel dijabarkan lagi menjadi
menggunakan metode pengumpulan data indikator-indikator yang dapat diukur.
primer. Pengumpulan data tersebut Akhirnya indikator-indikator yang terukur
dilakukan dengan survey melalui ini dapat dijadikan titik tolak untuk
penyebaran kuisioner. membuat item instrumen yang berupa
pertanyaan atau pernyataan yang perlu
dijawab oleh responden (Riduwan, 2006).
Definisi Operasional Variabel Penelitian Setiap jawaban dihubungkan dengan bentuk
Variabel Bebas (Independent Variable) pernyataan atau dukungan sikap yang
diungkapkan dengan kata-kata sangat tidak
Variabel bebas (independent variable) setuju (1) hingga sangat setuju (5).
yaitu suatu variabel yang mempengaruhi
variabel lainnya (variabel terikat). Dalam
penelitian ini digunakan variabel bebas Pengujian Hipotesis
meliputi merek, iklan dan kualitas produk,
yang didefenisikan sebagai berikut:… Pengujian hipotesis bertujuan untuk
mengetahui apakah jawaban sementara
a. Merek (X1)
terhadap suatu masalah yang dimaksud
Adalah nama, istilah, tanda, lambang, dalam penelitian yang telah dikemukakan
desain atau kombinasinya, yang sebelumnya adalah benar dan mencari
dimaksudkan untuk mengidentifikasikan jawaban sesungguhnya (Sugiono, 2006).
barang atau jasa dari salah satu penjual Teknik analisis statistik yang digunakan
atau kelompok penjual dan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini
mendeferensikannya dari para pesaing adalah analisis regresi berganda yaitu untuk
(Kotler dan Keller dalam Sabran, 2009). mengetahui sejauh mana pengaruh variabel
bebas terhadap variabel terikatnya. Analisis

177
172 - 181 Jurnal Keuangan & Bisnis Juli

regresi berganda adalah suatu alat analisis PNS/BUMN, 28,3% responden bekerja
peramalan nilai pengaruh dua variabel bebas sebagai wiraswasta, 9,8% responden
atau lebih terhadap variabel terikat untuk pelajar/mahasiswa. Sedangkan dilihat dari
membuktikan ada atau tidaknya hubungan penghasilan responden menunjukkan bahwa
fungsi atau hubungan kausal antara dua sebesar 8,7% responden penghasilannya
variabel bebas atau lebih (X1), (X2), kurang dari Rp 1.000.000/bulan, 42,4%
(X3)……. (Xn) dengan satu variabel terikat responden penghasilannya antara Rp
(Riduwan, 2006). Guna menguji pengaruh 1.000.000 hingga Rp 2.000.000/bulan,
beberapa variabel bebas dengan variabel 31,5% responden penghasilannya antara Rp
terikat dapat digunakan model matematika 2.000.000 hingga Rp 3.000.000/bulan, 12%
sebagai berikut: responden penghasilannya antara Rp
3.000.000 hingga Rp 4.000.000/bulan, 5,4%
responden penghasilannya antara Rp
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + ε 4.000.000 hingga Rp 5.000.000/bulan.
Keterangan:
Y = Variabel terikat Uji Hipotesis
(keputusan membeli)
a = Intersep (titik potong Pengujian hipotesis dilakukan untuk
dengan sumbu Y) mengetahui pengaruh variabel merek, iklan,
b1, b2, b3 = Koefisien regresi dan kualitas produk terhadap keputusan
(konstanta) X1, X2, X3 membeli Mi Instan Supermi (Studi Kasus
X1 = Merek Masyarakat Kelurahan Tanah Seribu,
X2 = Iklan Kecamatan Binjai Selatan, Binjai).
X3 = Kualitas Produk Berdasarkan hasil pengujian maka dapat
ε (epsilon) = Standar error dirumuskan persamaan sebagai berikut:

HASIL PENELITIAN Y = 5,502 + 0,358X1 + 0,285X2 + 0,069X3


Identitas Responden Besarnya variabel dependen
Identitas responden penelitian dapat dipengaruhi oleh variabel independen dapat
dideskripsikan sebagai berikut : 22,80% dilihat dari nilai Adjusted R Square sebesar
responden berjenis kelamin laki-laki dan 0,328. Berarti bahwa 32,8% faktor-faktor
77,20% responden berjenis kelamin keputusan membeli dapat dijelaskan oleh
perempuan. Usia responden menunjukkan merek, iklan dan kualitas produk sedangkan
4,3% responden berusia kurang dari 20 sisanya 67,2% dijelaskan oleh faktor lain
tahun, 39,1% responden berusia antara 21 yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
hingga 30 tahun, 26,1% responden berusia
antara 31 hingga 40 tahun, 20,7% responden
Uji Serempak (Uji F)
berusia antara 41 hingga 50 tahun, 9,8%
responden berusia diatas 50 tahun. Dilihat Uji serempak yang juga disebut uji
dari tingkat pendidikan responden simultan atau Uji F bertujuan untuk
menunjukkan bahwa 75% responden mengetahui apakah variabel-variabel
berpendidikan SLTA, 13% responden independen secara bersama-sama (simultant)
berpendidikan Diploma 3, 12% responden mempunyai pengaruh yang signifikan atau
berpendidikan sarjana. Adapun jenis tidak terhadap variabel dependen. Dibawah
pekerjaan responden sebesar 39,1% ini disajikan hasil Uji F dengan bantuan
responden bekerja sebagai karyawan swasta, SPSS versi 15.
22,8% responden bekerja sebagai

178
2012 Eko Wahyu Widayat

Tabel 1.
Hasil Uji Serempak (Uji F)
ANOVA(b)

Sum of
Model df Mean Square F Sig.
Squares
1 Regression 408.460 3 136.153 15.834 .000(a)
Residual 756.703 88 8.599
Total 1165.163 91
a Predictors: (Constant), Kualitas_produk, Merek, Iklan
b Dependent Variable: Keputusan_Membeli
Sumber : Data Primer Diolah

Data di atas menunjukkan bahwa Fhitung Uji Parsial (Uji t)


= 15,834 dengan tingkat signifikansi 0,000a.
Uji parsial atau Uji-t bertujuan untuk
Jika dibandingkan dengan Ftabel pada tingkat
mengetahui apakah variabel-variabel
kepercayaan 5% ( = 0,05) yang besarnya independen secara individu (parsial)
hanya 2,700 maka nilai Fhitung (15,834) > mempunyai pengaruh yang signifikan atau
Ftabel (2,700) yang berarti variabel bebas tidak terhadap variabel dependen sekaligus
(merek, iklan dan kualitas produk) secara menentukan variabel independen yang
serempak (simultant) berpengaruh signifikan dominan mempengaruhi variabel
terhadap variabel terikat (keputusan dependennya. Dibawah ini disajikan hasil
membeli). Uji-t dengan menggunakan SPSS versi 15.

Tabel 2.
Hasil Uji Parsial (Uji t)
a
Coefficients

Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients Collinearity Statistics
Model B Std. Error Beta t Sig. Tolerance VIF
1 (Constant) 5.502 2.319 2.373 .020
Merek .358 .140 .310 2.554 .012 .501 1.998
Iklan .285 .140 .287 2.027 .046 .367 2.724
Kualitas_produk .069 .155 .057 .444 .658 .450 2.224
a. Dependent Variable: Keputusan_Membeli

Sumber : Data Primer Diolah

Untuk menentukan Ho maupun Ha ttabel (1,980) serta nilai signifikansinya


ditolak atau diterima maka nilai thitung diatas dibawah 5%.
dapat dibandingkan dengan nilai ttabel pada 2) Secara parsial iklan berpengaruh positif
tingkat signifikasi 5% ( = 0,05). Nilai ttabel dan signifikan terhadap keputusan
pada tingkat signifikansi 5% ( = 0,05) membeli Mi Instan Supermi (Studi
adalah 1,980. Dengan membandingkan thitung Kasus Masyarakat Kelurahan Tanah
dan ttabel maka dapat diambil kesimpulan Seribu, Kecamatan Binjai Selatan,
sebagai berikut: Binjai) karena thitung (2,027) > ttabel
1) Secara parsial merek berpengaruh (1,980) serta nilai signifikansinya
positif dan signifikan terhadap dibawah 5%.
keputusan membeli Mi Instan Supermi 3) Secara parsial kualitas produk tidak
(Studi Kasus Masyarakat Kelurahan berpengaruh dan tidak signifikan
Tanah Seribu, Kecamatan Binjai terhadap keputusan membeli Mi Instan
Selatan, Binjai) karena thitung (2,554) >
179
172 - 181 Jurnal Keuangan & Bisnis Juli

Supermi (Studi Kasus Masyarakat kemasan, sehingga akan mudah dibaca


Kelurahan Tanah Seribu, Kecamatan pelanggan.
Binjai Selatan, Binjai) karena thitung 2. Agar kualitas produk tetap terjaga
(0,444) < ttabel (1,980) serta nilai disarankan kepada produsen untuk
signifikansinya diatas 5%. menggunakan vahan baku yang baik
dan berkualitas.
SIMPULAN, KETERBATASAN dan 3. Dalam mengiklankan produknya
SARAN sebaiknya menggunakan media yang
tepat serta menggunakan figure yang
Simpulan sudah dikenal oleh pelanggan sehingga
akan mudah diingat.
Berdasarkan analisis data dan
evaluasi yang telah dilakukan terhadap 4. Untuk mendapatkan hasil yang lebih
variabel-variabel dalam penelitian ini, ada sempurnya dalam mencari faktor-faktor
beberapa hal yang dapat diambil untuk yang mempengaruhi keputusan
dijadikan simpulan dan saran sebagai membeli, maka alangkah baiknya jika
berikut: peneliti lain bersedia melanjutkan
penelitian ini dengan mencoba variabel
1. Secara serempak (simultant) variabel independen yang lain sehingga
bebas (merek, iklan dan kualitas diperoleh kesimpulan yang lebih detail.
produk) berpengaruh signifikan
terhadap variabel terikat (keputusan
membeli) dengan tingkat signifikannya DAFTAR PUSTAKA
0,000a. Karena tingkat probabilitasnya
jauh lebih kecil dibawah 0,05. Cannon, Joseph P., William D. Perreault,
2. Secara parsial merek dan iklan dan E. Jerome McCarthy. (2008).
berpengaruh positif dan signifikan Pemasaran Dasar, Pendekatan
terhadap keputusan membeli sedangkan Manajerial Global. Terjemahan Afia
kualitas produk tidak berpengaruh dan R. Fitriati dan Ria Cahyani. Buku 1.
tidak signifikan terhadap keputusan Edisi 16. Penerbit Salemba Empat.
membeli.. Jakarta.
3. Variabel yang dominan mempengaruhi Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller.
keputusan membeli Mi Instan Supermi (2009). Manajemen Pemasaran.
(Studi Kasus Masyarakat Kelurahan Penerjemah Bob Sabran. Edisi 13.
Tanah Seribu, Kecamatan Binjai Jilid 1. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Selatan, Binjai) adalah merek.
4. Determinasi/Adjusted R. Square sebesar ------------ (2009). Manajemen Pemasaran.
0,328 berarti bahwa 32,8% faktor- Penerjemah Bob Sabran. Edisi 13.
faktor keputusan membeli dapat Jilid 2. Penerbit Erlangga. Jakarta.
dijelaskan oleh merek, iklan dan Laksana, Fajar. (2008). Manajemen
kualitas produk sedangkan sisanya Pemasaran, Pendekatan Praktis.
67,2% dijelaskan oleh faktor lain yang Edisi Pertama. Penerbit Graha Ilmu.
tidak diteliti dalam penelitian ini. Yogyakarta.

Saran Lembang, Rosvita Dua. 2010. Analisis


Pengaruh Faktor Kualitas Produk,
Dalam rangka meningkatkan Harga, Promosi, dan Cuaca
keputusan membeli, maka penulis dapat Terhadap Keputusan Pembelian Teh
memberikan beberapa saran sebagai berikut: Siap Minum Dalam Kemasan Merek
1. Untuk lebih menarik perhatian Teh Botol Sosro (Studi Kasus Pada
pelanggan khususnya dalam membuat Mahasiswa S1 Fakultas Ekonomi
merek dikemasan sebaiknya tulisan Reguler II Universitas Diponegoro).
merek dibuat lebih jelas dan menonjol Skripsi. Universitas Diponegoro
dibandingkan dengan gambar ataupun Semarang. http://www.google.co.id.
informasi lain yang ada dalam

180
2012 Eko Wahyu Widayat

Nugroho. (2005). Strategi Jitu Memilih


Metode Statistik Penelitian dengan
SPSS. Andi Press. Yogyakarta.
Rachman, Taufiq. (2010). Manajemen
Pemasaran. Cetakan Pertama.
Penerbit Perdana Publishing. Medan.
Riduwan. (2006). Metode dan Teknik
Menyusun Tesis. Cetakan Keempat.
Alfabeta. Bandung.
Situmorang, Syafrizal Helmi, Doli M. Ja’far
Dalimunthe, Iskandar Muda, Muslich
Lufti, Syahyunan. (2007). Analisis
Data Penelitian (Menggunakan
Program SPSS). Terbitan Pertama.
USU Press. Medan.
Sugiyono. (2006). Metode Penelitian Bisnis.
Penerbit Alfabeta. Bandung.
------------- (2010). Metode Penelitian
Bisnis. Penerbit Alfabeta. Bandung.
Sumarwan, Ujang. (2004). Perilaku
Konsumen, Teori dan Penerapannya
Dalam Pemasaran. Ghalia Indonesia.
Bogor.
Sutojo, Siswanto. (2009). Manajemen
Pemasaran, Untuk Eksekutif Non-
Pemasaran. Edisi Kedua. Penerbit
Damar Mulia Pustaka. Jakarta.
Suyanto. (2004). Analisis dan Desain
Aplikasi Multimedia untuk
Pemasaran. Penerbit Andi.
Yogyakarta.

181