Vous êtes sur la page 1sur 8

GUGATAN CLASS ACTION DALAM PENEGAKAN HUKUM

PENYELESAIAN HUBUNGAN INDUSTRIAL (STUDI PUTUSAN


PENGADILAN NEGERI NOMOR 16/PHI.G/2009/PN Mks. Junto PUTUSAN
MAHKAMAH AGUNG NOMOR 304 K/PDT.SUS/2012

Edrian Renanda, Hidayat Dwi Prasetiamoko, Asna Surya Kusuma, Ismail


Mahasiswa Fakultas Hukum Sebelas Maret
Email: edrianrenanda@rocketmail.com

ABSTRACT
This study aims to ind out what the criteria of class action in a dispute resolution of industrial
disputes which related to the appeal iled labor group PT. INCO Tbk. through the class action and to
ind out the reason for the Supreme Court rejected the petition. The method used in the writing are as
follows: normative research, the descriptive nature of the research, the approach of cases, legal materials
analysis techniques with deductive method, the collection of legal materials to the study of literature
concerning or relating to the legal issues, primary legal materials and secondary legal materials were
inventoried. Based on the research and discussion done produced the conclusion that the class action
has four criteria (4), namely: Numeriousity, commonality, typicality and adequacy of representation and
the criteria have been met by the applicant appeal the group workers of PT. INCO Tbk. The Supreme
Court subsequently rejected the appeal iled by a group workers of PT. INCO Tbk. with the decision
having judex facti not mistaken, the class action mechanism is not known in the Industrial Relations
Court and judex facti in this case is not contrary to law and / or the Act.

Keywords: Class Action Lawsuit, Settlement of Industrial Dispute, Appeal

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja kriteria gugatan class action pada sengketa
penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang dikaitkan pada permohonan kasasi yang diajukan
kelompok buruh PT. INCO Tbk. melalui gugatan class action dan untuk mengetahui alasan Makamah
Agung menolak permohonan tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan hukum ini
adalah se-bagai berikut: Jenis penelitian normatif, sifat penelitian deskriptif, pendekatan ka-sus, teknik
analisis bahan hukum dengan metode deduktif, pengumpulan bahan hukum dengan studi kepustakaan
mengenai atau yang berkaitan dengan isu hukum tersebut, bahan hukum primer dan bahan hukum
sekunder yang diinventarisasi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan dihasilkan
kesimpulan bahwa kriteria gugatan class action ada 4 (empat) yaitu: Numeriousity, commonality,
typicality dan adequacy of representation dan keempat kriteria diatas telah dipenuhi oleh para pemohon
kasasi yaitu kelompok buruh PT. INCO Tbk. Mahkamah Agung selanjutnya menolak permohonan kasasi
yang diajukan oleh kelompok buruh PT. INCO Tbk. dengan alasan putusan judex facti tidak keliru,
mekanisme gugatan class action tidak dikenal dalam Pengadilan Hubungan Industrial dan judex facti
dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau Undang-Undang.

Kata kunci : Gugatan Class Action, Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, Kasasi

PENDAHULUAN hukum acara harus lengkap, serta sistem


Hukum acara adalah keseluruhan hukum acara yang baik harus menyediakan
peraturan hukum yang mengatur tentang lembaga-lembaga yang memadai untuk
bagaimana cara menjamin ditaatinya hukum kepentingan penuntutan hak ke pengadilan
materil dengan perantara hakim. Sistem baik menyangkut penuntutan hak oleh
seseorang atau sekelompok orang dalam
GEMA, Th. XXVII/49/Agustus 2014 - Januari 2015 1509
GUGATAN CLASS ACTION DALAM PENEGAKAN HUKUM PENYELESAIAN HUBUNGAN INDUSTRIAL (STUDI PUTUSAN
PENGADILAN NEGERI NOMOR 16/PHI.G/2009/PN Mks. Junto PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 304 K/PDT.SUS/2012

jumlah yang besar atau masyarakat banyak permintaan injunction/ganti kerugian) yang
atau yang disebut juga dengan class diajukan oleh sejumlah orang (dalam jumlah
action yang disingkat CA. Dewasa ini di terbatas) sebagai perwakilan kelas (class
Indonesia terkait dengan perkembangan representatives) mewakili kepentingan
dunia, tampaknya semakin banyak gugatan mereka dan orang lain yang mereka wakili
yang menggunakan prosedur class action sebagai korban (class members). Class action
yang diajukaan di beberapa instansi sendiri dikenal di Indonesia dengan sebutan
pengadilan dengan berbagai variasi Gugatan Kelompok atau Gugatan Perwakilan.
alasan yang menjadi landasan gugatan. Di Indonesia sendiri sistem ini baru dikenal
Oleh karena itu, kebutuhan informasi secara formil dan resmi pada tahun 2002 yang
serta perkembangan pengetahuan tentang diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung
gugatan class action yang bersifat praktis, Nomor 1 Tahun 2002, tanggal 26 April 2002
kini sangat kebutuhannya di Indonesia. (M. Yahya Harahap, 2012: 138-139).
Selanjutnya sejarah class action di Secara umum gugatan class action
Indonesia berkembang melalui munculnya banyaknya digunakan untuk penyelesaian
pengaturan hukum positif mengenai class sengketa lingkungan hidup, kehutanan,
action, baru mengakui gugatan class action perlindungan konsumen dan jasa konstruksi.
setelah diberlakukannya Undang-Undang Akan tetapi dalam perkembangannya
Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan ditemukan penggunaan mekanisme gugatan
Lingkungan Hidup di Indonesia. Setelah class action untuk penyelesaian sengketa
pengakuan atas class action pada tahun industrial seperti yang ditemukan dalam
1997 tersebut, gugatan class action putusan Mahkamah Agung Nomor 304 K/
menjadi sering digunakan oleh para PDT.SUS/2012.
pencari keadilan. Berawal dari Pasal 37
Dalam putusan Mahkamah Agung
ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun
Nomor 304 K/PDT.SUS/2012 yang
1997, selanjutnya pemerintah melahirkan
merupakan salah satu sengketa perselisihan
beberapa peraturan yang mengadung nilai
industrial yang menggunakan mekanisme
class action. Peraturan yang dimaksud
gugatan class action. Sengketa ini melibatkan
tersebut antara lain, yaitu: Pasal 46 ayat (1)
Andi karman, Abdul Malik, Haeruddin
huruf b Undang-Undang Nomor 8 Tahun
Hasan selaku class representative atau wakil
1999 tentang Perlindungan Konsumen,
kelas dari kelompok buruh PT. INCO. Tbk.
Pasal 38 Undang-Undang Nomor 18
yang berjumlah 1075 (seribu tujuh puluh
Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, Pasal
lima) orang pekerja melawan PT. INCO
71 ayat (1) Undang-Undang Nomor 41
Tbk. Sengketa ini dilatarbelakangi oleh
Tahun 1999 tentang Kehutanan, Peraturan
pemotongan upah yang dilakukan oleh PT.
Mahkamah Agung atau PERMA Nomor
INCO Tbk. dengan bentuk no pay for sift
2 tahun 1999 tentang pengawasan partai
code, sick leave dan/atau no pay (pengurang)
politik Oleh Mahkamah Agung dan yang
kepada Andi Karman.
terbaru adalah PERMA Nomor 1 Tahun
2002 tentang Acara Gugatan Perwakilan Sebagai aksi protes terhadap
Kelompok (Class Action). pemotongan upah yang dilakukan PT. INCO
Tbk. pada tanggal 15 s/d 25 November
Class action yang pada intinya
2007 aksi mogok kerja dilakukan oleh
merupakan gugatan perdata (biasa terkait
para penggugat dan kelompoknya, dan

1510 GEMA, Th. XXVII/49/Agustus 2014 - Januari 2015


GUGATAN CLASS ACTION DALAM PENEGAKAN HUKUM PENYELESAIAN HUBUNGAN INDUSTRIAL (STUDI PUTUSAN
PENGADILAN NEGERI NOMOR 16/PHI.G/2009/PN Mks. Junto PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 304 K/PDT.SUS/2012

kemudian pada tanggal 23 November 2009 hipotesa, agar memperkuat teori lama
Andi Karman dkk. mengajukan gugatan dalam kerangka menyusun teori-teori baru
di Pengadilan Hubungan Industrial pada (Soerjono Soekanto, 2010: 10). Pendekatan
Pengadilan Negeri Kelas IA Khusus penelitian yang digunakan oleh penulis
Makassar. Dalam tuntutannya Andi Karman dalam penelitian hukum ini yaitu pendekatan
dkk. menggugat dengan permohonan pada kasus (case approach). Pendekatan ini
hakim tuntutan ganti rugi materiil sebesar perlu dipahami oleh penulis adalah ratio
Rp. 804.990.919,00 (delapan ratus empat juta decidendi, yaitu alasan-alasan hukum yang
sembilan ratus sembilan puluh ribu sembilan digunakan oleh hakim untuk sampai pada
ratus sembilan belas rupiah) dan kerugian putusannya. sumber bahan hukum yang
imateriil sebesar Rp. 5.000.000.000,00 (lima digunakan oleh penulis dalam penelitian ini
miliar rupiah) yang harus dibayar oleh PT. adalah primer dan sekunder. Jenis penelitian
INCO Tbk. Sengketa ini sudah berjalan mulai yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dari tingkat Pengadilan Negeri Makassar penelitian hukum normatif, sehingga teknik
dengan Putusan Nomor 16/PHI.G/2009/PN. pengumpulan bahan hukum yang digunakan,
Mks. sampai dengan Tingkat Kasasi dengan adalah studi kepustakaan, pengumpulan
Putusan Nomor 304 K/PDT.SUS/2012. bahan hukum primer, bahan hukum sekunder
Berdasarkan alasan diatas, maka diinventarisasi dan diklasiikasi dengan
penulis tertarik untuk mengadakan penelitian menyesuaikan masalah yang diteliti. Teknik
yang tertuang dalam bentuk penulisan Jurnal analisis yang dilakukan oleh penulis adalah
Hukum dengan judul: “GUGATAN CLASS mempergunakan metode silogisme deduktif.
ACTION DALAM PENEGAKAN HUKUM
“PENYELESAIAN PERSELISIHAN HASIL PENELITIAN DAN
HUBUNGAN INDUSTRIAL (Studi PEMBAHASAN
Putusan Pengadilan Negeri Nomor 16/ 1. Kriteria dari gugatan class action
PHI.G/2009/PN. Mks Juncto Putusan untuk sengketa perselisihan hubungan
Mahkamah Agung Nomor 304 K/PDT. industrial
SUS/2012)” Kriteria mekanisme gugatan class
action yang diatur dalam Pasal 2 huruf a
METODE PENELITIAN sampai dengan c PERMA Nomor1 Tahun
Jenis penelitian yang digunakan 2002, isi Pasal tersebut berbunyi:
penulis untuk penulisan penelitian ini adalah “Gugatan dapat diajukan dengan
penelitian hukum doktrinal atau normatif. mempergunakan tata cara Gugatan
Penelitian hukum doktrinal adalah penelitian Perwakilan Kelompok apabila: a. Jumlah
hukum yang bersifat preskriptif bukan anggota kelompok sedemikian banyak
deskriptif sebagaimana ilmu sosial dan ilmu sehingga tidaklah efektif dan eisien jika
alam (Peter Mahmud Marzuki, 2005: 33). gugatan dilakukan secara sendiri-sendiri
Sifat yang digunakan dalam penelitian ini atau secara bersama-sama dalam satu
adalah deskriptif. Maksud dari penelitian gugatan, b. Terdapat kesamaan fakta atau
deskriptif adalah untuk memberikan data peristiwa dan kesamaan dasar hukum
yang seteliti mungkin tentang manusia, yang digunakan yang bersifat substansial,
keadaan atau gejala-gejala lainnya, serta terdapat kesamaan jenis tuntutan di
terutama untuk mempertegas hipotesa- antara wakil kelompok dengan anggota

GEMA, Th. XXVII/49/Agustus 2014 - Januari 2015 1511


GUGATAN CLASS ACTION DALAM PENEGAKAN HUKUM PENYELESAIAN HUBUNGAN INDUSTRIAL (STUDI PUTUSAN
PENGADILAN NEGERI NOMOR 16/PHI.G/2009/PN Mks. Junto PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 304 K/PDT.SUS/2012

kelompoknya, c. Wakil kelompok tercapai. Aspek numeriousity dalam gugatan


memiliki kejujuran dan kesungguhan yang dimohonkan Andi Karman Dkk. ke
untuk melindungi kepentingan anggota Mahkamah Agung dinilai telah terpenuhi,
kelompok yang diwakilinya”. mengingat jumlah anggota kelompok yang
Berdasar pasal yang telah dibahas diatas mencapai 1.075 (Seribu tujuh puluh lima)
dapat dipetik beberapa poin kriteria yang orang yang akan tidak praktis jika dilakukan
harus dipenuhi dalam pengajuan gugatan gugatan secara individual atau sendiri-sendiri.
perwakilan kelompok atau class action, yaitu: Selanjutnya yang kedua, commonality
a. Numeriousity yaitu menyangkut yaitu harus ada kesamaan fakta atau question
banyaknya jumlah orang yang of law antara pihak yang mewakili dan
mengajukan gugatan (agar praktis & yang diwakili. Dalam Pasal 2 huruf b
eisien). yang menyatakan “…..Terdapat kesamaan
b. Commonality yaitu harus ada kesamaan fakta atau peristiwa dan kesamaan dasar
fakta atau question of law antara pihak hukum yang digunakan…..”, berdasar pada
yang mewakili dan yang diwakili. penggalan pasal tersebut diketahui bahwa
c. Typicality yaitu tuntutan yang sejenis dari commonality adalah sebagai aspek yang
wakil dan seluruh anggota kelas. harus juga dipenuhi dalam pengajuan surat
d. Adequacy of representation yaitu gugatan class action, bahwa harus adanya
kelayakan dari perwakilan berapa kesamaan fakta atau question of law antara
jaminan untuk bisa jujur, adil serta ketua maupun anggotanya. Dalam kasus yang
mampu melindungi kepentingan mereka penulis bahas pada penelitian ini, dengan
yang diwakili. Surat putusan Nomor 304 K/PDT.SUS/2012
Setelah mengupas pengertian dan yang dimana Andi Karman, Abdul Malik
kriteria yang termuat dalam aturan yang dan Haeruddin Hasan sebagai wakil kelas
berkaitan, kemudian kasus yang diangkat dari kelompok buruh PT. INCO Tbk. adalah
dalam penelitian ini dapat diidentiikasi wakil kelas yang sah, karena dari seluruh
berlandaskan aturan-aturan tersebut. penggugat termasuk wakil dan anggota
Identiikasi yang dilakukan untuk kelas memiliki question of law yang sama.
mempermudah peneliti untuk mengetahui Penilaian ini diambil dari salah satu amar
apakah kasus yang dibahas memenuhi kriteria putusan Mahkamah Agung dalam putusan
yang diatur. yang telah disebut diatas pada halaman 49,
yang menyatakan bahwa “…..1075 orang
Pertama perlu diketahui apakah aspek
penggugat memiliki kesamaan kerugian
numeriousity atau banyaknya jumlah orang
akibat pemotongan upah…..”.
yang mengajukan gugatan (agar praktis
& eisien). Dalam Pasal 2 huruf a yang Kriteria dari gugatan class action
menyatakan “…..Jumlah anggota kelompok yang ketiga adalah typicality yang diatur
sedemikian banyak sehingga tidaklah efektif dalam Pasal Dalam Pasal 2 huruf b yang
dan eisien jika gugatan dilakukan secara telah dikutip oleh penulis yang menyatakan
sendiri-sendiri….”, dari penggalan pasal “…..serta terdapat kesamaan jenis tuntutan
tersebut penulis berpendapat bahwa aspek di antara wakil kelompok dengan anggota
numeriousity adalah hal yang harus dipenuhi kelompoknya…..”. Pada putusan yang
agar esensi dari gugatan class action yang penulis teliti sudah jelas bahwa gugatan atau
bertujuan agar efektiitas dan eisiensi dapat permohonan dari seluruh penggugat adalah

1512 GEMA, Th. XXVII/49/Agustus 2014 - Januari 2015


GUGATAN CLASS ACTION DALAM PENEGAKAN HUKUM PENYELESAIAN HUBUNGAN INDUSTRIAL (STUDI PUTUSAN
PENGADILAN NEGERI NOMOR 16/PHI.G/2009/PN Mks. Junto PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 304 K/PDT.SUS/2012

sejenis yaitu berupa tuntutan ganti rugi yang Abdul Malik, Haeruddin Hasan selaku class
telah dialami para penggugat atas pemotongan representative atau wakil kelas dari kelompok
upah yang dilakukan oleh PT. INCO Tbk. buruh PT. INCO. Tbk. yang berjumlah 1075
Selanjutnya kriteria keempat atau yang (seribu tujuh puluh lima) orang pekerja
terakhir adalah adequacy of representation melawan PT. INCO Tbk. Sengketa ini
yaitu kelayakan dari perwakilan wakil dilatarbelakangi oleh pemotongan upah yang
kelas dan mampu melindungi kepentingan dilakukan oleh PT. INCO Tbk. dengan bentuk
mereka yang diwakili. Kriteria adequacy no pay for sift code, sick leave dan/atau
of representation yang dibahas ini diatur no pay (pengurang) kepada Andi Karman
dalam Pasal 2 huruf b yang menyatakan Dkk. Setelah itu, Serikat buruh menggugat
“Wakil kelompok memiliki kejujuran dan PT. INCO Tbk. dengan menggunakan
kesungguhan untuk melindungi kepentingan mekanisme gugatan class action melalui
anggota kelompok yang diwakilinya”. Pengadilan Khusus Industrial yang berada
Selanjutnya jika dikaitkan dengan Putusan pada pengadilan Makassar.
Mahkamah Agung 304 K/PDT.SUS/2012 Pengadilan Negeri Kelas IA Makassar
yaitu pada dasar kedudukan dan kepentingan kemudian menjatuhkan putusan yang menolak
hukum termohon nomor 5 yang menjelaskan gugatan tersebut dengan salah satu amarnya
bahwa “…..wakil kelompok adalah orang yang berbunyi “Menyatakan Gugatan tidak dapat
bertindak untuk dasar dan atas nama sendiri- diterima (Niet OnvantkelijkeVerklaard/
sendiri juga sekaligus wakil dari sekelompok NO)” dalam putusan Nomor02/PHI.G/2011/
orang i.c buruh PT. INCO Tbk……”, dari PN.Mks dan kemudian sebagai tindak lanjut
penggalan dasar kedudukan dan kepentingan terhadap putusan tersebut para penggugat
hukum penggugat tersebut memiliki arti melakukan permohonan kasasi ke Mahkamah
dalam arti lain adanya persetujuan secara Agung.
bawah dari seluruh anggota kelompok buruh Terhadap permohonan kasasi yang
PT. INCO Tbk., dan meninjau kembali pada diajukan oleh pemohon Mahkamah Agung
Pasal 4 PERMA Nomor 1 Tahun 2002 yang berpendapat dan memutus:
menyatakan “Untuk mewakili kepentingan a. Bahwa keberatan kasasi pemohon tidak
Hukum anggota kelompok, wakil kelompok dapat dibenarkan karena pertimbangan
tidak dipersyaratkan memperoleh surat kuasa dan amar putusan judex facti tidak salah
khusus dari anggota kelompok”, kemudian atau tidak keliru dalam penerapan hukum
dapat ditarik kesimpulan bahwa persetujuan serta keberatan kasasi para pemohon
bawah tangan dari seluruh penggugat adalah tidak memenuhi ketentuan Pasal 30
sah karena tidak dipersyaratkan dalam pasal Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985
4 tersebut. sebagaimana telah dirubah dan ditambah
2. Alasan Mahkamah Agung menolak dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun
menolak permohonan kasasi yang 2004 dan perubahan kedua dengan
diajukan melalui gugatan class action Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009
pada putusan Nomor 304 K/PDT. sehingga permohonan kasasi pemohon
SUS/2012. ditolak.
b. Bahwa gugatan yang diajukan di
Putusan Mahkamah Agung Nomor
Pengadilan Hubungan Industrial tidak
304 K/PDT.SUS/2012 adalah putusan dengan
dikenal perwakilan kelompok pekerja,
perkara yang melibatkan Andi karman,
GEMA, Th. XXVII/49/Agustus 2014 - Januari 2015 1513
GUGATAN CLASS ACTION DALAM PENEGAKAN HUKUM PENYELESAIAN HUBUNGAN INDUSTRIAL (STUDI PUTUSAN
PENGADILAN NEGERI NOMOR 16/PHI.G/2009/PN Mks. Junto PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 304 K/PDT.SUS/2012

karena sebagai pihak yang mewakili dapat disimpulkan menjadi 3 (tiga) hal yaitu:
gugatan para pekerja sesuai ketentuan a. Keberatan kasasi Pemohon tidak dapat
Pasal 87 Undang-Undang Nomor 2 dibenarkan karena pertimbangan dan
Tahun 2004 dapat diberikan kuasa amar putusan Judex Facti tidak salah atau
kepada Pengurus Serikat Pekerja atau tidak keliru dalam penerapan hukum.
jika bukan anggota dari serikat pekerja b. Gugatan yang diajukan di Pengadilan
dapat memberikan kuasa kepada kuasa Hubungan Industrial tidak dikenal
yang telah memenuhi persyaratan sesuai perwakilan kelompok pekerja.
dengan peraturan perundang-undangan c. Putusan Judex Facti dalam perkara ini
yang berlaku atau secara sendiri-sendiri tidak bertentangan dengan hukum dan/
menggugat di Pengadilan Hubungan atau Undang-Undang.
Industrial. Dengan melihat dan memahami serta
c. Menimbang, bahwa berdasarkan meneliti putusan dan alasan yang terdapat
pertimbangan-pertimbangan tersebut didalam Putusan Mahkamah Agung Nomor
diatas, lagi pula dari sebab ternyata 304 K/PDT.SUS/2012, secara jelas memang
bahwa putusan judex facti dalam perkara sudah ada pengaturan tentang gugatan
ini tidak bertentangan dengan hukum dan/ class action yaitu PERMA Nomor 1 Tahun
atau Undang-undang, maka permohonan 2002 Tentang Acara Gugatan Perwakilan
kasasi yang diajukan oleh para Pemohon Kelompok tetapi substansinya masih samar
Kasasi: Andi Karman, Dkk., tersebut jika mengatur seluruh aspek-aspek gugatan
harus ditolak. perwakilan kelompok atau class action,
d. Menimbang, bahwa meskipun sehingga dalam implementasinya masih
permohonan kasasi ditolak dan para menggunakan pedoman pengadilan sendiri-
pemohon kasasi sebagai pihak yang sendiri atau tidak ada keseragaman, maka
kalah, namun karena nilai gugatan ini dari itu kebutuhan akan adanya peraturan
dibawah Rp 150.000.000 (seratus lima mengenai gugatan class action yang lebih
puluh juta rupiah) maka sesuai dengan kuat seperti halnya memasukkan aturan
Pasal 58 Undang-Undang Nomor2 Tahun mengenai gugatan class action kedalam
2004 biaya perkara dalam tingkat kasasi Hukum Acara positif dirasa sangat
ini dibebankan kepada Negara. dibutuhkan. Meskipun demikian sementara
Selanjutnya Mahkamah Agung melalui belum adanya tentang perundang-undangan
H. Yulius, S.H., M.H. selaku Hakim Ketua, baru yang mengatur, sementara PERMA
Jono Sihono, S.H. dan Arief Soedjito, S.H., Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Acara Gugatan
M.H. selaku masing-masing hakim anggota Perwakilan Kelompok perlu dioptimalkan
menyatakan menolak permohonan kasasi 1. penggunaannya guna memenuhi kebutuhan
Andi Karman, 2. Abdul Malik, 3. Haeruddin dalam praktik peradilan perdata.
Hasan dan membebankan biaya perkara kasasi
kepada Negara dengan putusan Nomor304 K/ KESIMPULAN
PDT.SUS/2012. 1. Kriteria gugatan class action yang diatur
Berdasarkan pada penjabaran diatas dalam PERMA Nomor1 Tahun 2002 ada
maka kemudian penulis menyimpulkan 4 (empat) kriteria, yaitu : Numeriousity,
alasan-alasan Mahkamah Agung dalam commonality, typicality dan adequacy of
putusan Nomor 304 K/PDT.SUS/2012 intinya representation. Berdasar pada penelitian
yang dilakukan penulis bahwa semua
1514 GEMA, Th. XXVII/49/Agustus 2014 - Januari 2015
GUGATAN CLASS ACTION DALAM PENEGAKAN HUKUM PENYELESAIAN HUBUNGAN INDUSTRIAL (STUDI PUTUSAN
PENGADILAN NEGERI NOMOR 16/PHI.G/2009/PN Mks. Junto PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 304 K/PDT.SUS/2012

kriteria class action dalam Putusan pengadilan sendiri-sendiri atau tidak ada
Mahkamah Agung Nomor 304 K/PDT. keseragaman.
SUS/2012 telah dipenuhi mengingat
adanya 1.075 (seribu tujuh puluh lima) SARAN
orang penggugat, kesamaan question 1. Dalam praktek pengajuan gugatan
of law dari wakil maupun anggota class action perlu dipenuhinya 4
kelompok, kesamaan tuntutan yang (empat) kriteria yaitu: Numeriousity,
dituntut dalam gugatan para penggugat commonality, typicality dan adequacy of
dan kelayakan dari Andi Karman, Abdul representation. Perlu adanya pengaturan
Malik serta Haeruddin Hasan sebagai yang lebih jelas lagi karena dari kriteria
wakil kelas. numeriousity yang belum ada batas
2. permohonan kasasi yang dimohonkan minimum serta maksimum penggugat
Andi Karman Dkk. kepada Mahkamah dalam satu kelas untuk mengajukan
Agung dan diputus oleh Mahkamah gugatan class action dan kriteria
Agung dengan Putusan Mahkamah adequacy of representation belum diatur
Agung Nomor 304 K/PDT.SUS/2012 mengenai tolak ukur kelayakan individu
yang menyatakan menolak permohonan yang jelas dalam pengaturan PERMA
dengan alasan: Keberatan kasasi Nomor1 Tahun 2002 tentang Acara
Pemohon tidak dapat dibenarkan karena Gugatan Perwakilan Kelas.
pertimbangan dan amar putusan Judex 2. Perlu adanya aturan yang lebih kuat
Facti tidak salah atau tidak keliru dalam dalam pengaturan gugatan class action
penerapan hukum, Gugatan yang diajukan karena PERMA Nomor 1 Tahun 2002
di Pengadilan Hubungan Industrial tidak tentang Acara Gugatan Perwakilan Kelas
dikenal perwakilan kelompok pekerja masih samar jika dimaksudkan untik
dan Putusan Judex Facti dalam perkara mengatur secara umum. Dalam kata lain
ini tidak bertentangan dengan hukum penulis memberi saran untuk pengaturan
dan/atau Undang-Undang. Meskipun gugatan class action lebih dioptimalkan
telah lahir PERMA Nomor 1 Tahun demi memenuhi kebutuhan dalam praktik
2002 Tentang Acara Gugatan Perwakilan peradilan perdata, sehingga adanya
Kelompok tetapi substansinya masih kepastian hukum mengenai gugatan class
samar jika mengatur seluruh aspek-aspek action. Seperti contohnya menuangkan
gugatan perwakilan kelompok atau class aturan tersebut kedalam Hukum Acara
action, sehingga dalam implementasinya Perdata agar adanya gugatan class action
masih menggunakan pedoman lebih jelas dan memiliki kekuatan hukum
yang jelas.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Aloysius Uwiyo Nomor 2014.Asas-asas Hukum Perburuhan. Jakarta: Raja Graindo.

Bambang Sutiyoso. 2007. Hukum Acara Perdata dam perkembangannya di Indonesia.


Yogyakarta: Gamamedia.

GEMA, Th. XXVII/49/Agustus 2014 - Januari 2015 1515


GUGATAN CLASS ACTION DALAM PENEGAKAN HUKUM PENYELESAIAN HUBUNGAN INDUSTRIAL (STUDI PUTUSAN
PENGADILAN NEGERI NOMOR 16/PHI.G/2009/PN Mks. Junto PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 304 K/PDT.SUS/2012

Bambang Waluyo. 1992. Sistem Pembuktian dalam Peradilan Indonesia. Jakarta: Sinar Graika.

Harjono. 2009. Bahan perkuliahan. 2014:UNS

Jeff Kosseff. 2008. “Protecting Privacy During Class Action Discovery”. Vol. 97. No289.

M. Yahya Harahap. 2012. Hukum Acara Perdata. Jakarta: Sinar Graika.

Majalah Forum Keadilan, November 2007.

Mas Achmad Santoso. 1999. Pedoman Penggunaan Gugatan Perwakilan. Jakarta: ICEL –
PIAC – YLBHI.

Peter Mahmud Marzuki. 2013. Penelitian Hukum Edisi Revisi. Jakarta: Pranada Media.

Supomo. 1967.Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri. Jakarta: Pradnjaparamita.

Ranying Bunu. 2007.”Pelaksanaan Asas Peradilan Cepat Dalam Pemeriksaan Perkara Perdata
Pada Tingkat Banding”. Vol.2. Nomor 3.

Soerjono Soekanto. 2010. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: Rajawali Press.

Sudikno Mertokusumo. 1998. Hukum Acara Perdata Indonesia. Yogya: Liberty.

Sundari. 2002. Pengajuan Gugatan secara Class Action (Suatu Studi Perbandingan dan
Penerapannya di Indonesia). Yogyakarta: Universitas Atmajaya.

Supomo,1967. Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri. Jakarta: Pradnjaparamita.

Peraturan

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata

Putusan Pengadilan Negeri Nomor 16/PHI.G/2009/PN

Putusan Mahkamah Agung Nomor 304 K/PDT.SUS/2012

Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 tahun 1999 tentang pengawasan partai politik oleh
Mahkamah Agung.

Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2002 tentang Gugatan Perwakilan Kelas

Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-


undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi.

Undang-undang 71 UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial.

Website:

http://www.jimly.com/ diakses pada 30 Juli 2014 pukul 21.47 WIB

1516 GEMA, Th. XXVII/49/Agustus 2014 - Januari 2015