Vous êtes sur la page 1sur 10

Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 6 No 1 : 1183-1192, 2019

e-ISSN:2549-9793, doi: 10.21776/ub.jtsl.2019.006.1.17

INFILTRASI DAN SIMPANAN AIR PADA JENIS NAUNGAN


YANG BERBEDA DI LAHAN KOPI DESA AMADANOM
KECAMATAN DAMPIT KABUPATEN MALANG
Infiltration and Water Storage on Different Shade Types in Coffee Land at
Amadanom Village, Dampit Distric, Malang Regency

Ika Lestiana Sari, Sugeng Prijono*


Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijayan, Jl. Veteran no 1, Malang 65145
* Penulis korespondensi: sugengprijono@gmail.com

Abstract
Coffee plants belong to important commodities in Indonesia. In 2003, coffee productivity in
Indonesia reached 725 kg ha-1 and decreased 0.41% in 2016 to 722 kg ha-1. Climate change is
expected on the production of coffee crops. Some possibilities to reduce the effect of climate
change are mitigation by implementing shade plants. This study aimed to understand the influence
of differences shade on coffee plants toward infiltration and water storage in the soil. This study
used a randomized block design that consisted of three treatments and five replications. The
parameters observed were infiltration and water content in the soil conducted in three periods as
well as the bulk density, particle density, porosity, macro pore, texture and structure. The results
showed that the differences of shade on coffee plants gave a significant effect (p<0.5) toward
infiltration of water. The highest total of infiltration was found in coffee plant with sengon shade
(309.968 ± 5.855 mm) from total rainfall of 354.731 mm. The results of water storage observation
showed that the differences of shade in coffee plants had no significant effect (p>0.05) toward the
amount of water storage in the soil. The value of water storage in the soil continued to decrease.
The highest value in the coffee plant with durian shade was (287.0 ± 15.086 mm) in the first week
and the lowest value was found in the coffee plant with sengon shade (239.4 ± 10.871 mm) in fifth
week.
Keywords: coffee plant, infiltration, shade, water storage

Pendahuluan perkebunan yang banyak dibudidayakan di


Desa Amadanom, Kecamatan Dampit,
Tanaman kopi termasuk ke dalam komoditas Kabupaten Malang. Permasalahan yang sering
penting di Indonesia. Sebagai negara penghasil dialami oleh petani kopi di Desa Amadanom
kopi, Indonesia menduduki empat besar di yaitu menurunnya produksi tanaman kopi
dunia. Produksi kopi Indonesia mencapai 600 akibat adanya perubahan iklim. Perubahan
ribu ton per tahun dan lebih dari 80% berasal iklim diperkirakan memiliki dampak negatif
dari perkebunan rakyat (Winarni et al., 2013). terhadap produksi tanaman kopi. Curah hujan
Pertumbuhan produktivitas kopi di Indonesia yang tinggi seringkali mengakibatkan
pada periode 2013-2016 tidak mengalami penurunan produksi dan terganggunya siklus
perubahan signifikan. Pada tahun 2003, hidrologi. Gangguan terhadap siklus hidrologi
produktivitas kopi di Indonesia mencapai 725 berakibat pada kemarau berkepanjangan dan
kg ha-1 dan menurun 0,41% di tahun 2016 musim hujan lebih intensif namun pendek
menjadi 722 kg ha-1 (Kementan, 2016). (Rejekiningrum, 2014). Beberapa kemungkinan
Tanaman kopi merupakan salah satu tanaman untuk mengurangi efek dari perubahan iklim

http://jtsl.ub.ac.id 1183
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 6 No 1 : 1183-1192, 2019
e-ISSN:2549-9793, doi: 10.21776/ub.jtsl.2019.006.1.17

yaitu berupa mitigasi dengan cara Amadanom memiliki total luas lahan 611,40
mengimplementasikan tanaman naungan untuk hektar dengan lahan yang digunakan untuk
menghalangi cahaya matahari (Iscaro, 2014). perkebunan 266 hektar (Kecamatan Dampit
Tanaman kopi memerlukan naungan sebagai dalam Angka 2015/BPS Kab. Malang). Jenis
pelindung untuk meningkatkan kelembaban tanaman perkebunan yang dibudidayakan di
udara serta mengurangi suhu udara ekstrim Desa Amadanom adalah tanaman Kopi
(Camargo, 2010). Adanya naungan pada Robusta. Letak lokasi untuk kopi naungan
tanaman kopi akan mempengaruhi jumlah air sengon dan naungan pisang berada pada
hujan yang terintersepi dan tebal seresah yang koordinat 8o12’38.75”S dan 112o46’40.16”T
ada di permukaan tanah sehingga berdampak sedangkan tanaman kopi naungan durian
pada air yang masuk ke dalam tanah akan berada pada koordinat 8o12’27.16”S dan
berbeda. Banyaknya air hujan yang tidak dapat 112o47’04.69 T.
mencapai permukaan tanah secara langsung Lahan tanaman kopi yang digunakan
tergantung pada karakteristik tanaman penutup merupakan milik Kelompok Tani Trisno
yang meliputi bentuk dan ukuran daun serta Manunggal. Karakteristik yang diukur berupa
bentuk dan kerapatan tajuk (Pramono dan Adi, kerapatan tanaman (jumlah populasi dalam satu
2017). hektar), umur tanaman kopi dan tanaman
Potensi semberdaya air berupa simpanan penaung. Umur tanaman kopi yang diamati
air tersedia dalam tanah sangat diperlukan yaitu 5 tahun dengan kerapatan populasi 2000
dalam hidrologi pertanian dan manajemen air pohon ha-1, umur tanaman sengon yaitu 6
dalam rangka pengembangan pertanian dengan kerapatan populasi 625 pohon ha-1
khususnya tanaman kopi. Nilai simpanan air tahun, umur tanaman pisang yaitu 1,5 tahun
dapat diketahui dengan memperhitungkan dengan kerapatan populasi 508 pohon ha-1, dan
kandungan air di dalam tanah (Prijono, 2009). umur tanaman durian yaitu 12 tahun dengan
Masukknya air ke dalam tanah yang sering kerapatan populasi 70 pohon ha-1. Jenis tanah
dikenal dengan proses infiltrasi dapat diukur pada lokasi penelitian berupa tanah Latosol.
menggunakan single ring infiltrometer dan analisis Tanah Latosol disebut juga sebagai tanah
neraca air. Proses intersepsi air hujan oleh Inceptisol (Setiawan et al., 2015).
tanaman dapat memberikan dampak terhadap
Bahan dan rancangan penelitian
hasil air pada suatu daerah dengan skala yang
bervariasi tergantung pada jenis tanaman dan Bahan yang digunakan ialah contoh tanah yang
jarak tanamannya (Safriani et al., 2016). diambil dari lahan kopi dengan jenis naungan
Tutupan vegetasi seperti tanaman penaung yang berbeda di Desa Amadanom. Metode
memiliki peran besar dalam menentukan yang digunakan pada penelitian adalah
infiltrasi dimana infiltrasi pada lahan observasi lapang dan Analisa laboratorium.
bervegetasi heterogen cenderung lebih tinggi Rancangan penelitian yang digunakan adalah
dibandingkan dengan lahan bervegetassi Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas
homogeny (Utaya, 2008). Penelitian mengenai perlakuan tanaman kopi naungan sengon,
infiltrasi dan simpanan air pada perbedaan jenis tanaman kopi naungan pisang dan tanaman
naungan tanaman kopi sangat penting kopi naungan durian masing-masing terdiri atas
dilakukan karena dapat digunakan sebagai 5 ulangan. Jenis parameter yang diamati yaitu
pertimbangan untuk evaluasi keseimbangan infiltrasi dan kandungan air di dalam tanah
neraca air di daerah tersebut. serta berat isi, berat jenis, porositas, pori
makro, tekstur dan struktur sebagai pendukung
penelitian. Contoh tanah diambil masing-
Bahan dan Metode masing pada kedalaman 0 - 20 cm, 20 - 40 cm
Lokasi penelitian dan 40 - 60 cm tanpa ulangan kecuali pada
Lokasi penelitian berada di Desa Amadanom, contoh tanah untuk analisis kadar air aktual
Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Desa diambil dalam 5 ulangan dengan 3 periode
Amadanom memiliki ketinggian rata - rata 500 waktu yang berbeda untuk mengetahui
mdpl dengan kontur lahan berbukit. Desa perubahan jumlah simpanan air di dalam tanah.

http://jtsl.ub.ac.id 1184
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 6 No 1 : 1183-1192, 2019
e-ISSN:2549-9793, doi: 10.21776/ub.jtsl.2019.006.1.17

Pengukuran infiltrasi BKO = Berat kering tanah oven


Pengukuran infiltrasi dilakukan melalui 2 C = Cawan
metode yaitu metode single ring infiltrometer dan
metode pendekatan neraca air. Pengukuran
Infiltrasi menggunakan metode singlering Perhitungan simpanan air
infiltrometer dilakukan untuk mengetahui Simpanan air dalam mintakat perakaran
kapasitas infiltrasi dari masing-masing lahan diperoleh mengunakan pendekatan persamaan
kopi. Perhitungan infiltrasi dapat dilakukan menurut (Prijono, 2009; Klaus et al., 2013)
dengan menggunakan model Infiltrasi Horton, sebagai berikut:
yaitu dengan menggunakan pendekatan analisis
persamaan sebagai berikut: Ɵ = 𝐵𝐼
Wx
𝐵𝐽
f= fc + (fo – ft) x e-kw......................(1) S60 = [(30 x Ɵ20) + (20 x Ɵ40) + (10 x
f = Kapasitas infiltrasi (cm/jam) Ɵ60)] x 10 mm…………….(4)
fo = Laju infiltrasi awal (cm/menit)
fc = Laju infiltrasi konstan (cm/menit) Dimana:
k = Tetapan untuk tanah (koefisien Ɵ = Kadar air volume (cm/cm3)
infiltrasi) S = Simpanan air (mm)
w = Waktu untuk mencapai infiltrasi W = Kadar air massa (g/g)
konstan BI = Berat Isi (g/cm3)
e = 2,718 BJ = Berat Jenis Air (1 g/cm3)

Neraca air menjadi salah satu metode


pendekatan yang dapat digunakan untuk Analisis data
mengetahui nilai laju infiltrasi dinamis pada
satu lahan.Pada pendekatan ini, perhitungan Data yang diperoleh dianalisis ragam dengan uji
laju infiltrasi dinamis diperoleh melalui F (ANOVA 5%). Analisa ragam ditujukan
persamaan sebagai berikut: untuk melihat pengaruh jenis naungan terhadap
infiltrasi dan simpanan air. Apabila hasil
I = H – (Int + RO)……….mm (2) tersebut terdapat pengaruh nyata, kemudian
dilakukan uji lanjutan BNT 5% untuk melihat
Keterangan: perbedaan antar perlakuan.
I = Infiltrasi
H = Hujan Hasil dan Pembahasan
Int = Intersepsi
RO = Run off Berat isi dan berat jenis tanah
Nilai berat isi pada tanaman kopi naungan
sengon dan tanaman kopi naungan pisang
Pengukuran kadar air memiliki nilia berat isi semakin rendah dengan
Pengukuran kadar air dilakukan dalam 3 semakin dalamnya lapisan tanah. Sedangkan
periode waktu yang berbeda untuk mengetahui pada tanaman kopi naungan durian memiliki
perubahan simpanan air di dalam tanah. Jumlah nilai berat isi semakin tinggi dengan semakin
air yang hilang yaitu kadar air sampel kemudian dalamnya lapisan tanah. Nilai berat isi tertinggi
dapat dihitung menggunakan persamaan berada pada tanaman kopi naungan sengon di
sebagai berikut: kedalaman tanah 0 - 20 cm sebesar 1,17 g cm-3
dan nilai berat isi terendah secara keseluruhan
(BB + C) -(BKO + C)
berada pada tanaman kopi naungan durian di
KA= (BKO + C)-C
..................... g g-1(3) kedalaman tanah 0 – 20 cm sebesar 0,93 g cm-3.
Tingginya nilai berat isi tanah dapat
dipengaruhi oleh adanya pengolahan tanah
Keterangan: secara intensif berupa pembuatan teras bangku,
BB = Berat basah tanah
http://jtsl.ub.ac.id 1185
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 6 No 1 : 1183-1192, 2019
e-ISSN:2549-9793, doi: 10.21776/ub.jtsl.2019.006.1.17

guludan ataupun rorak. Pada kopi naungan Porositas dan pori makro tanah
pisang, diketahui terdapat manajemen Hasil penelitian porositas tanah menunjukkan
pengelolaan lahan dimana pada lahan tersebut bahwa nilai porositas tertinggi terdapat pada
dibuat teras bangku untuk mengurangi erosi tanaman kopi naungan pisang dengan
dan rorak untuk menyimpan air hujan. Selain kedalaman tanah 20 - 40 cm sebesar 59,44%
itu nilai berat isi yang tinggi juga dapat sedangkan nilai porositas terendah terdapat
dikarenakan rendahnya vegetasi penutup pada pada tanaman kopi naungan sengon dengan
lahan sehingga pukulan butir hujan tinggi kedalaman tanah 0 - 20 cm sebesar 45,39%.
berpengaruh pada bobot isi tanah. Menurut Tingginya porositas tanah dipengaruhi oleh
Rosyidah dan Wirosoedarmo (2013) nilai berat adanya tekstur, berat isi tanah, dan material
isi dapat dipengaruhi oleh pengolahan tanah perekat tanah. Menurut Nimmo (2005)
dimana jika pengolahan tanah dilakukan secara menjelaskan bahwa tekstur medium
benar maka nilai berat isi akan naik, dan begitu berhubungan dengan distribusi ukuran pori.
juga sebaliknya. Berat jenis partikel dari suatu Partikel besar akan memiliki pori yang besar
tanah menunjukkan kerapatan dari partikel dan akan berpengaruh terhadap kurva retensi
secara keseluruhan. Tabel 1 menunjukkan air. Rendahnya porositas tanah berdampak
bahwa nilai berat jenis tanah yang diambil di pada aerasi tanah dan kapasitas menahan air
lahan kopi dengan 3 jenis naungan berbeda menurun. Penurunan kapasitas menahan air ini
masih dalam kisaran 2 g cm-3. Menurut sangat signifikan dalam ruang pori yang lebih
Rosyidah dan Wirosoedarmo (2013) perbedaan besar dimanaseharusnya ruang pori tersebut
nilai berat jenis yang tidak besar dapat tersedia untuk menampung air yang dapat
disebabkanoleh pengaruh bahan induk.Berat dimanfaatkan oleh tanaman. Air yang
jenis tanah dapat dipengaruhi oleh tekstur terinfiltrasi akan ditentukan oleh jumlah pori
tanah dimana semakin kasar partikel penyusun makro yang ada di dalam tanah. Pori makro
tanah maka nilai berat jenis akan semakin yang lebih besar lebih efisien dalam
rendah. Tekstur pasir secara tidak langsung mengalirkan air hujan ke dalam tanah, namun
memiliki pengaruh signifikan terhadap tidak dapat mengalirkan air selama
kerapatan massa dan kerapatan partikel tanah. penambahan air ke permukaan tanah relatif
Kandungan pasir dan debu yang ditemukan kecil. Masuknya air ke dalam tanah
pada fraksi tanah sangat efektif dalam berhubungan langsung dengan lapisan tanah
mempengaruhi berat jenis tanah (Askin dan atas.
Ozdemir, 2003).

Tabel 1. Karakteristik sifat fisik tanah


Jenis Kedalaman Berat Isi Berat Porositas Pori Tekstur Struktur
Naungan (cm) (g cm-3) Jenis (%) Makro
(g cm-3) (%)
KS 0-20 1,17 2,14 45,39 13,46 Lb GM
20-40 1,10 2,12 48,13 16,98 Lb GM
40-60 1,09 2,12 48,73 5,36 Lb GM
KP 0-20 1,13 2,20 48,59 7,39 L GM
20-40 0,95 2,35 59,44 13,24 Lb GM
40-60 0,99 2,39 58,39 6,70 Lb GM
KD 0-20 0,93 2,17 57,20 4,94 Lb GM
20-40 1,16 2,32 50,21 14,02 Lb GM
40-60 1,14 2,20 48,09 6,52 Lb GM
Keterangan: KS (Kopi Sengon); KP (Kopi Pisang); KD (Kopi Durian); Lb (Lempung berdebu); L
(Lempung); GM (Gumpal Membulat))

http://jtsl.ub.ac.id 1186
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 6 No 1 : 1183-1192, 2019
e-ISSN:2549-9793, doi: 10.21776/ub.jtsl.2019.006.1.17

Hasil pengukuran pori makro menunjukkan menjelaskan bahwa sebagian besar kota
bahwa nilai peresentase pori makro tertinggi Dampit memiliki jenis tanah inseptisol dengan
terdapat pada kopi naungan sengon dengan formasi geologi Tmw terdiri atas breksi dan
kedalaman tanah 0 - 20 cm sebesar 13,46% dan lava bersusun andesit–basalt, terdiri atas batuan
nilai terendah terdapat pada tanaman kopi vulkanik holosen lebih tua terutama berbutiran
naungan durian dengan kedalaman tanah 0 - 20 sedang sampai kasar dan aglomerat. Tanah
cm sebesar 4,94%. Porositas menentukan Inceptisol dicirikan memiliki tekstur yang
tingkatkemampuan tanah untuk dilalui aliran air berlempung dan di dominasi oleh struktur
atau kecepatan aliran air untuk melewati massa gumpal sampai gumpal mebulat. Keberagaman
tanah (perkolasi) (Hanafiah, 2005). Besarnya bentuk struktur ini dipengaruhi oleh kadar liat
total ruang pori tanah menunjukkan tanah dari setiap tanah dimana salah satu agen
tersebut gembur dan memiliki banyak ruang penyemen terpenting sebagai penunjang
pori tanah. Pada kopi naungan sengon dan agregasi adalah koloid liat (Nurdin, 2012).
naungan pisang semakin dalam lapisan tanah Zurhalena dan Farni (2010) dalam
meiliki nilai porositas semakin tinggi. penelitiannya juga menjelaskan bahwasanya
Berbanding terbalik dengan nilai berat isi tanah tekstur tanah tidak dipengaruhi oleh tipe
dimana semakin dalam lapisan tanah pada penggunaan lahan ataupun perbedaan umur
tanaman kopi naungan sengon dan tanaman tanaman karena perubahan tekstur memerlukan
kopi naungan pisang nilai berat isi semakin rentang waktu yang lama.
rendah. Hal ini juga terjadi pada tanaman kopi
Tebal seresah
naungan durian. Porositas tanah berbanding
terbalik dengan berat isi tanah. Apabila suatu Hasil pengukuran tebal seresah pada Tabel 2
tanah memiliki berat isi yang tinggi maka nilai diperoleh informasi bahwa di lahan tanaman
porositasnya akan rendah. Jika suatu tanah kopi dengan 3 jenis naungan yang berbeda
yang berada dilapisan bawah lebih padat maka memiliki pengaruh nyata (p<0,05) terhadap
ruang porinya akan sedikit. tebal seresah. Rata-rata tebal seresah pada kopi
naungan durian (1,226 ± 0, 399 cm). Melihat
Tekstur dan struktur tanah
pada karakteristik tanamankopi naungan durian
Secara fisik, tanah terdiri atas mineral dan memiliki kerapatan populasi terendah
organik tersusun oleh berbagai partikel dalam dibandingkan dengan kopi naungan sengon.
bentuk matriks yang memiliki pori-pori sekitar
50%. Tekstur dan struktur tanah memiliki
kaitan dengan pergerakan dan penahanan air Tabel 2. Rata-rata tebal seresah
dalam tanah. Pada 3 jenis naungan yang
Jenis naungan Tebal seresah
berbeda diperoleh satu jenis struktur yaitu
KS 0,240 ± 0,024 a
gumpal membulat baik pada kedalaman 0 - 20,
KP 0,347 ± 0,100 a
20 - 40 maupun 40 - 60. Hasil analisis tekstur
KD 1,226 ± 0,399 b
diperoleh hasil (Tabel 1) yang berbeda pada
BNT 5% 0,622
kedalaman tanah 0 - 20 cm yaitu tanaman kopi
naungan pisang memiliki tekstur lempung, Keterangan: Angka yang didampingi huruf yang
tanaman kopi naungan sengon dan tanaman sama tidak berbeda nyata berdasarkan pada uji BNT
5% KS (Kopi Sengon); KP (Kopi Pisang); KD
kopi naungan durian memiliki tekstur lempung
(Kopi Durian)
berdebu. Sementara pada kedalaman tanah 20 -
40 cm maupun 40 - 60 cm dari ketiga naungan
yang berbeda masing-masing memiliki tekstur Tingginya nilai tebal seresah dapat dipengaruhi
lempung berdebu. Tekstur tanah dipengaruhi oleh kerapatan vegetasi dalam satu lahan. Jenis
oleh pelapukan bahan induk. Pada lokasi naungan tanaman kopi memiliki morfologi
penelitian diketahui memiliki jenis tanah daun yang berbeda sehingga perbedaan jenis
Inceptisol. Jenis tanah ini berkembang dari dan kualitas daun akan mempengaruhi
bahan induk batuan beku, sedimen dan kecepatan pelapukan seresah (Prijono dan
metamorf. Menurut Setiawan et al. (2015) Wahyudi, 2009). Menurut Yulistyarini (2011),
http://jtsl.ub.ac.id 1187
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 6 No 1 : 1183-1192, 2019
e-ISSN:2549-9793, doi: 10.21776/ub.jtsl.2019.006.1.17

jenis vegetasi dankerapatan pohon yang tinggi ±5,855 mm) dari total curah hujan sebesar
pada satuan penggunaan lahan memiliki seresah 354,731 mm. Tanaman kopi naungan sengon
yang cukup tebal. Menurut Riyanto dan memiliki total infiltrasi tertinggi dengan rata-
Bintoro (2013) bahwa produksi seresah rata total infiltrasi 8,86 ± 0,168 mm hari-1.
dipengaruhi oleh kerapatan vegetasi dan jumlah Tingginya total infiltrasi ini dapat disebabkan
kerapatan tegakan pada areal pengamatan. oleh beberapa faktor seperti waktu saat hujan,
Semakin rapat vegetasi maka semakin tanaman tekstur tanah, struktur tanah, kadar air dan
setiap satuan luas sehinggan produksi seresah tebal seresah. Berdasarkan hasil uji BNT 5%
akan semakin tebal. Adanya pengelolaan lahan diketahui tebal seresah pada kopi naungan
juga mempengaruhi ketebalan lapisan seresah pisang tidak berbeda nyata dengan kopi
dimana masyarakat petani pada lahan berbasis naungan sengon, tetapi keduanya berbeda nyata
kopi sering melakukan kegiatan penyiangan dengan kopi naungan durian (Tabel 2). Variasi
rumput, pembersihan cabang dan ranting di rata-rata nilai total infiltrasi pada tanaman kopi
permukaan tanah. Hal tersebut dapat dengan 3 jenis naungan berbeda
menurunkan ketebalan seresah di lapisan mengindikasikan adanya hubungan tebal
permukaan tanah. seresah dengan total infiltrasi. Hubungan tebal
Kapasitas infiltrasi (single ring seresah dengan total infiltrasi ditunjukkan oleh
infiltrometer) hasil analisis korelasi negatif dari tebal seresah
dan total infiltrasi.
Hasil pengukuran lapangan menggunalan single Tebal seresah memberi pengaruh rendah
ring infiltrometer setelah dilakukan uji BNT 5% terhadap nilai total infiltrasi dengan nilai (n =
diketahui nilai kapasitas infiltrasi pada 3 jenis 15, r = -0,240) namun tidak berkorelasi nyata.
naungan tanaman kopi memiliki perbedaan Nilai korelasi negatif dapat diartikan bahwa
yang nyata (p<0,05). Kapasitas infiltrasi terdapat hubungan yang berbanding terbalik
tertinggi terdapat pada tanaman kopi naungan antara tebal seresah dengan total infiltrasi. Jika
sengon.Pada tanaman kopi naungan sengon suatu lahan memiliki tebal seresah tinggi, maka
persentase pori makro lebih tinggi total air yang terinfiltrasi akan rendah. Hal ini
dibandingkan pada naungan durian ataupun dapat disebabkan oleh air yang jatuh ke
naungan pisang sehingga kapasitas infiltrasi permukaan masih tertahan oleh seresah, terjadi
yang dimiliki juga tinggi dibanding 2 jenis limpasan permukaan atau terjadi
naungan lainnya (Tabel 3). Pada kedalaman evapotranspirasi. Faktor yang memberikan
tanah 0 - 20 cm tanaman kopi naungan durian andil lebih besar terhadap peningkatan laju
memiliki persentase porositas 57,20% tertinggi infiltrasi adalah produksi seresah masing-
dibandingan naungan kopi dan naungan masing tanaman (Arrijani, 2006).
sengon akan tetapi persentase porositas Menurut Pramono dan Adi (2017) dalam
tersebut hanya di dominasi pori makro 4,94% penelitiannya menjelaskan bahwa ketebalan
terendah dibandingkan kopi naungan sengon seresah daun di bawah tanaman berpengaruh
(13,46%) dan naungan pisang (7,39%). Partikel terhadap besarnya curah hujan yang terinfiltrai
besar akan memiliki pori yang besar dan akan ke dalam tanah dimana semakin tebal seresah
berpengaruh terhadap kurva retensi air. yang telah tedekomposisi maka semakin banyak
Rendahnya porositas tanah berdampak pada air yang dapat ditahan pada lantai hutan dan
aerasi tanah dan kapasitas menahan air dapat masuk ke dalam lapisan tanah yang lebih
menurun (Nimmo, 2005). dalam. Sehingga air yangsampai ke permukaan
Infiltrasi berdasarkan neraca air tidak akan masuk secara langsung ke dalam
tanah, tetapi harus tertahan oleh seresah untuk
Hasil perhitungan neraca air pada lokasi sementara waktu. Menurut Prijono (2009),
penelitian yang mewakili total infiltrasi air di 3 adanya karakteristik permukaan dapat
jenis naungan tanaman kopi memiliki menentukan banyaknya air yang terinfiltrasi.
perbedaan nyata (p<0,05). Total infiltrasi Tanah yang memiliki lapisan permukaan
tertinggi di lokasi penelitian terdapat pada bertekstur halus lebih lambat dibandingkan
tanaman kopi naungan Sengon (309,968 dengan yang memiliki tekstur kasar.

http://jtsl.ub.ac.id 1188
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 6 No 1 : 1183-1192, 2019
e-ISSN:2549-9793, doi: 10.21776/ub.jtsl.2019.006.1.17

Perbandingan infitrometer dan neraca air pengukuran infiltrasi di lapang ataupun


Pengukuran infiltrasi berdasarkan metode infiltrasi dengan metode neraca air. Pada
infiltrometer dan neraca air diperoleh hasil metode infiltrometer, infiltrasi terendah ada
tanaman kopi dengan naungan sengon pada tanaman kopi naungan pisang yaitu
memiliki laju infiltrasi tertinggi dibandingkan sebesar 15 mm jam-1 sedangkan metode neraca
dengan naungan lainnya. Namun terjadi air, infiltrasi terendah ada pada tanaman kopi
perbedaan infiltrasi terendah baik pada naungan durian yaitu sebesar 6,64 ± 0,261 mm
hari-1.

Tabel 3. Infiltrasi tanah


Jenis Naungan Single ring Neraca air
infiltrometer
Kapasitas Infiltrasi Total Hujan Total Total
(mm jam-1) (mm) Infiltrasi Infiltrasi
(mm 5 minggu-1) (mm hari-1)
KS 118,8 c 354,731 309,968 ± 5,855 b 8,86 ± 0,168 b
KP 15 a 354,726 238,381 ± 11,173 a 6,81 ± 0,320 a
KD 61,2 b 321,529 232,464 ± 9,113 a 6,64 ± 0,261 a
BNT 5% 36,064 28,154 0,767
Keterangan: Angka yang didampingi huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan pada uji BNT 5% KS
(Kopi Sengon); KP (Kopi Pisang); KD (Kopi Durian)

Keunggulan dari penggunaan ring infiltrometer kadar air tanah sehingga berguna untuk
diantara metode lainnya ialah biaya yang relatif menyusun strategi pengelolaan usaha tani
murah, mudah dalam penggunaan dan analisis seperti mengatur pemberian irigasi, pemilihan
data serta tidak memerlukan keterampilan yang jenis tanaman dan mengatur jadwal panen
tinggi dari penggunanya. Kelemahan dari (Nasir, 2002).
metode infiltrometer sendiri adalah peluang
Simpanan air di dalam tanah
untuk terjadinya gangguan terhadap tanah
relatif tinggi sehingga untuk mendapatkan hasil Simpanan air di dalam tanah merupakan jumlah
yang mewakili, diperlukan ulangan pengukuran air yang ditahan dalam tanah selama selang
yang relatif banyak, baik ulangan secara spasial waktu tertentu.Jenis naungan tanaman kopi
maupun temporal (Clothier, 2001). selama 3 periode pengambilan contoh tanah
Berbeda dengan hasil pengukuran tidak memberikan pengaruh yang nyata
infiltrasi di lapang, pengukuran infiltrasi (p>0,05) terhadap jumlah simpanan air di
menggunakan neraca air tergantung pada hasil dalam tanah. Hal ini menunjukkan bahwa
pengukuran curah hujan, aliran permukaan, dan setiap jenis naungan tanaman kopi baik sengon,
pendugaan-pendugaan faktor lain dari siklus pisang ataupun durian memberikan respon
air. Dalam analisis ini diperlukan biaya yang yang sama terhadap jumlah simpanan air di
relatif mahal sehingga dalam beberapa kasus, dalam tanah.
penetapan infiltrasi sering dilakukan pada Secara umum nilai jumlah simpanan air
luasan yang sangat kecil menggunakan alat terus mengalami penurunan selama 3 periode.
infiltrometer. Keuntungan dari metode neraca Penurunan jumlah simpanan air dapat
air yaitu dapat digunakanuntuk mengetahui dikarenakan adanya variabilitas hujan dimana
kondisi agroklimat terutama dari segi siklus air semakin mendekati minggu 5 intensitas hujan
dalam bentang lahan tertentu. semakin menurun. Menurut Suharto (2006),
Informasi penting dari neraca air lahan variabel yang menentukan kapasitas simpanan
adalah untuk mengetahui dinamika perubahan air di dalam tanah dari suatu sistem tata guna

http://jtsl.ub.ac.id 1189
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 6 No 1 : 1183-1192, 2019
e-ISSN:2549-9793, doi: 10.21776/ub.jtsl.2019.006.1.17

lahan adalahkedalaman efektif tanah, distribusi Perbandingan total infiltrasi dan simpanan
ruang pori mikro tanah, distribusi ukuran air
partikel tanah yang seimbang antara partikel liat
Hasil perbandingan simpanan air aktual dengan
dan pasir. Tekstur tanah berpengaruh terhadap
simpanan air jenuh menunjukkan jika simpanan
ketersediaan air tanah,hal ini berkaitan dengan
air aktual pada minggu 1, minggu 3 dan minggu
adanya pengaruh terhadap proporsi bahan
5 dari 3 jenis naungan tanaman kopi masih
koloid, ruang pori dan luas permukaan
berada dibawah nilai simpanan air jenuh. Nilai
adsorptive. Sehingga kapasitas simpanan airnya
simpanan air jenuh pada tanaman kopi
akan semakin besar (Suyanto, 2014). Kapasitas
naungan sengon, tanaman kopi naungan pisang
penyimpanan air tanah didefinisikan sebagai
dan tanaman kopi naungan durian yaitu
jumlah total air yang disimpan dalam tanah di
berturut-turut 229 mm, 306 mm dan 288 mm.
dalam zona akar tanaman. Kapasitas simpanan
Perbandingan simpanan air aktual dengan
air tanah ini ditentukan oleh tekstur dan
simpanan air kapasitas lapang pada Gambar 1.
kedalaman perakaran tanaman. Semakin dalam
menunjukkan jika simpanan air aktual berada di
perakaran berarti terdapat volume air yang
atas simpanan air kapasitas lapangan.
lebih besar disimpan oleh tanah (Ministry of
Agriculture, 2015).

(a) (b)
350 350
Sto Sto
Simpanan Air (mm)
Simpanan Air (mm)

300 300
250 StKL 250 StKL
200 200
150 150
100 100
50 50
0 0
Minggu 1 Minggu 3 Minggu 5 Minggu 1 Minggu 3 Minggu 5
Waktu Waktu
Infiltrasi Simpanan Air Infiltrasi Simpanan Air

(c)
350
Simpanan Air (mm)

300 Sto
250 StKL
200
150
100
50
0
Minggu 1 Minggu 3 Minggu 5
Waktu
Infiltrasi Simpanan Air
Gambar 1. Perbandingan nilai total infiltrasi dan simpanan air (a) kopi naungan sengon; (b) kopi
naungan pisang; (c) kopi naungan durian; (Sto (simpanan air keadaan jenuh);
StKL (simpanan air keadaan kapasitas lapangan)

http://jtsl.ub.ac.id 1190
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 6 No 1 : 1183-1192, 2019
e-ISSN:2549-9793, doi: 10.21776/ub.jtsl.2019.006.1.17

Tabel 4. Rata-rata simpanan air di dalam tanah 2006). Kodisi yang dapat dilihat pada Gambar
(mm) 1. yaitu status simpanan air aktual masih berada
di atas nilai simpanan air kapasitas lapang. Air
Jenis Minggu Minggu Minggu
yang dapat ditahan oleh tanah tersebut terus
Naungan 1 3 5
menerus akan diserap oleh akar-akar tanaman
KS 282,9 ± 268,7 ± 239,4 ± atau menguap sehingga tanah semakin lama
9,098 8,943 10,871 akan semakin mengering. Pergerakan air ke
KP 250,1 ± 247,1 ± 242,2 ± dalam tanah dikenal sebagai infiltrasi. Gerakan
3,996 10,447 6,417 melalui tanah dikenal sebagai perkolasi dan
KD 287,0 ± 282,1 ± 246,4 ± rembesan keluar bagian bawah sebagai
15,086 15,679 4,698 drainase. Sejumlah faktor terlibat dalam
BNT 5% tn tn tn menciptakan gerakan air, termasuk gravitasi
Keterangan: Angka yang didampingi huruf yang yang menarik air ke bawah dan gaya kapiler
sama tidak berbeda nyata berdasarkan pada uji BNT menarik air ke dalam dan di sepanjang pori-
5% KS (Kopi Sengon); KP (Kopi Pisang); KD pori. Air hanya akan bergerak ke tanah karena
(Kopi Durian)
lapisan progresif melebihi kapasitas lapang
(Hawkes Bay Regional Council, 2006). Pada
Nilai simpanan air kapasitas lapang pada penelitian ini diperoleh informasi bahwa status
tanaman kopi naungan sengon, tanaman kopi simpanan air aktual akan terus menurun selama
naungan pisang dan tanaman kopi naungan masih berada di atas status simpanan air
durian yaitu berturut-turut 220 mm, 239 mm kapasitas lapang. Artinya meskipun terjadi
dan 234 mm. Simpanan air aktual mengalami penambahan air, air tersebut tidak akan lama
penurunan meskipun terjadi penambahan total tersimpan oleh tanah dan akhirnya akan terus
infiltrasi pada minggu 3 dan tetap mengalami mengalir kebawah mengalami perkolasi
penurunan ketika total infiltrasi menurun pada ataupun evaporasi.
minggu 5. Hal ini dapat dikarenakan air yang
masuk ke dalam tanah tertahan oleh seresah
ataupun mengalami evaporasi. Variasi nilai Kesimpulan
simpanan air pada tanaman kopi dengan 3 jenis Jenis naungan kopi mempengaruhi jumlah total
naungan berbedamengindikasikan adanya infiltrasi. Infiltrasi tertinggi di lokasi penelitian
pengaruh tebal seresahterhadap simpanan air. terdapat pada lahan kopi naungan Sengon
Pengaruh tebal seresah terhadap total infiltrasi (309,968±13,093 mm). Infiltrasi dipengaruhi
ditunjukkan oleh hasil analisis korelasi negatif oleh beberapa faktor seperti waktu saat hujan,
dari tebal seresah dan total infiltrasi tebal tekstur tanah, struktur tanah, kadar air dan
seresah memberi pengaruh rendah terhadap tebal seresah. Jumlah simpanan air di dalam
nilai total infiltrasi dengan nilai (n = 15, r = - tanah tidak dipengaruhi oleh jenis naungan
0,243) namun tidak memiliki korelasi nyata. tanaman kopi. Simpanan air lebih dipengaruhi
Nilai korelasi negatif dapat diartikan bahwa oleh nilai kadar air dan karakteristik sifat fisik
terdapat hubungan yang berbanding terbalik tanah. Variabel yang menentukan kapasitas
antara tebal seresah dengan simpanan air. simpanan air tanah suatu sistem tata guna lahan
Adanya penggunaan simpanan air oleh adalah kedalaman efektif tanah, distribusi
tanaman jugamenjadi penyebab terjadinya ruangpori mikro tanah, distribusi ukuran
perubahan nilai simpanan air di dalam tanah. partikeltanah yang seimbang antara partikel liat
Ketika periode basah, air di dalam tanah dan pasir.
akanmencapai kapasitas lapang. Ketika
kapasitas lapang tercukupi maka akan terjadi
surplus air dimana sebagian akan masuk ke Daftar Pustaka
dalam tanah melalui infiltrasi dan perkolasi dan Arrijani. 2006. Korelasi Model Arsitektur Pohon
sebagian mengalir sebagai limpasan permukaan dengan Laju aliran Batang, Curahan Tajuk,
yang terjadi pada saat hujan atau dilepaskan Infiltrasi, Aliran Permukaan dan Erosi. Disertasi
menjadi mata air (Djuwansah dan Narulita,

http://jtsl.ub.ac.id 1191
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 6 No 1 : 1183-1192, 2019
e-ISSN:2549-9793, doi: 10.21776/ub.jtsl.2019.006.1.17

Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Prijono, S. 2009. Agrohidrologi Praktis. Malang:
IPB, Bogor. Lembaga Cakrawala Indonesia.
Askin, T dan Ozdemir, N. 2003. Soil Bulk Density Rejekiningrum, P. 2014. Dampak perubahan iklim
as Related to Soil Particle Size Distribution and terhadap sumberdaya air: identifikasi, simulasi
Organic Matter Content. Original Scientific dan rencana aksi. Jurnal Sumberdaya Lahan 8(1):
Paper. p1-4. 1-15.
BPS (Badan Pusat Statistik Kabupaten Malang). Riyanto, I. dan Bintoro A. 2013. Produksi seresah
2015. Kecamatan Dampit dalam Angka 2015. pada tegakan hutan di blok penelitian dan
Malang: Badan Pusat Statistik pendidikan Taman Hutan Raya Wan Abdul
Camargo, M.B.P. 2010. The impact of climatic Rachman Provinsi Lampung. Jurnal Sylva
variability and climate change on arabic coffee Lestari. 1(1): 1-8.
crop in Brazil. Journal Agrometeorology 69(1): Rosyidah, E. dan Wirosoedarmo R. 2013. Pengaruh
239-247. sifat fisik tanah pada konduktivitas hidrolik
Clothier, B. 2001. Infiltrationin Soil and jenuh di 5 penggunaan lahan (studi kasus di
Environmental Analysis: Physical Methods. Kelurahan Sumbersari Malang). Jurnal Agritech.
United States of America: Macel Dekker, Inc. 33(3): 340-345
Djuwansah R. dan Narulitas I. 2006. Neraca air Safriani, M., Yulianur, A. danAzmeri. 2016. Analisis
spasial di bagian hulu DAS Citarum sebagai pengaruh intersepsi lahan kelapa sawit terhadap
basis data anggaran air. Jurnal Teknologi ketersediaan air di Kabupaten Nagan Raya (studi
Indonesia 29(1): 21-28. kasus pada sub DAS Krueng Isep). Jurnal
Hanafiah, K.A. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Teknik Sipil. 23(2): 135-144.
Jakarta: PT. Grafindo Persada. Setiawan, I.A., Asmaranto R. dan Prasetyorini L.
Hawke’s Bay Regional Council. 2006. Water 2015. Analisa Secaran Daerah Rawan Longsor di
Management: Understanding Soil-Water. Sub DAS Lesti Kabupaten Malang dengan
Environment Topic. p1-4 Sistem Informasi Geografis. Universitas
Iscaro, J. 2014. The impact of climate change on Brawijaya.
coffee production in Colombia and Ethiopia. Suharto, Edi. 2006. Kapasitas simpanan air tanah
Journal Global Majority. 5(1): 33-43. pada sistem tata guna lahan LPP Tahura Rejo
Kementan. 2016. Outlook Kopi. Pusat Data dan Lelo Bengkulu. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian
Sistem Informasi Pertanian. Sekretariat Jendral- Indonesia 8(1): 44-49.
kementrian Pertanian. Jakarta. Suyanto, V.L.A. 2014. Kajian Kerapatan Pohon,
Klaus, R., Dourado-Neto, D., Schwantes, A.P. and Infiltrasi dan Ketersediaan Ait di Hutan Kota
Timm, L.C. 2013. Soil Water Storage as Related Malabar dan Velodrome Kota Malang. Skripsi.
to Water Balance. International Centre for Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.
Theoretical Physics. 1-12. Malang.
Ministry of Agriculture. 2015. Water Conservation Utaya, W. H. 2008. Pengaruh perubahan
Factsheet. British Columbia. 1-4. penggunaan lahan terhadap sifat biofisik tanah
Nasir, A. 2002. Neraca Air Agroklimatik. Makalah dan kapasitas infiltrasi di Kota Malang. Forum
Pelatihan Bimbingan Pengamanan Tanaman Geografi 22(2): 99-112.
Pangan dan Bencana Alam. Bogor. Winarni, E., Ratnani R.D. dan Riwayari I. 2013.
Nimmo, J.R. 2005. Porosity and Pore-Size Pengaruh jenis pupuk organik terhadap
Distribution. US Geological Survey. p295-303. pertumbuhan tanaman kopi. Momentum 9(1):
Nurdin. 2012. Morfologi, Sifat fisik dan kimia tanah 35-39.
inceptisols dari bahan lakustrin Paguyaman- Yulistriani, T. 2011. Keragaman Vegetasi dan
Gorontalo kaitanya dengan pengelolaan tanah. Pengaruhnya Terhadap Laju Infiltrasi di Daerah
JATT 1(1): 13-22. Resapan Mata Air Seruk, Desa Pesanggrahan-
Pramono, I.B. dan Adi R.H. 2017. Pendugaan Batu. Jurnal Penelitian Hayati edisi Khusus: 5F.
infiltrasi menggunakan data neraca air di SUB p39-43
Daerah Aliran Sungai Watujali, Gombong. Zurhalena dan Y. Farni. 2010. Distribusi pori dan
Jurnal Penelitian Pengolahan Daerah Aliran permeabilitas ultisol pada beberapa umun
Sungai 1(1): 35-48. pertanaman. Jurnal Hidrolitan 1(1): 43-47.
Prijono, S. dan Wahyudi, H.A. 2009. Peran
agroforestry dalam mempertahankan
makroporositas tanah. Primordia 5(3): 203-212.

http://jtsl.ub.ac.id 1192