Vous êtes sur la page 1sur 8

Jurnal

Manajemen Kesehatan Indonesia

Volume 7 Nomor 1 April 2019

Pengembangan Instrumen RDQA Untuk Surveilans Epidemiologi DBD


Di Dinas Kesehatan Kota Tarakan

Haikal*, Martini**, Eko Sediyono***


*Alumni Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro,
**Staf Pengajar Program Magister Ilmu Kesehatan
Manajemen Masyarakat Universitas Diponegoro
Kesehatan
***Staf Pengajar Program Magister Sistem Informasi
Manajemen Kesehatan Universitas Kristen Satya Wacana
Email: haikalfaqih04@gmail.com
Indonesia

ABSTRACT study are that data quality assessment


In 2016 from 7 Puskesmas in instruments have been developed
Tarakan City, 4 (four) Puskesmas (58%) according to RDQA and routine data
sent their reports above the 5th of each quality assessments by the Ministry of
month. There is still a mismatch of the Health with R & D research methods
number of source data with the results of modified with eight indicators namely
recapitulation such as the number of DHF timeliness, data availability, data
cases in Tarakan DHO with the number of completeness, monitoring and evaluation
DHF cases in the Ministry of Health unit capabilities, reporting indicators and
Republic of Indonesia SKDR as well as the guidelines, data collection and reporting
incompatibility of the reporting format by format, data management process,
recording surveillance staff. The purpose linkages with the national reporting system
of this study was to develop a Routine Data and the use of data for decision making.
Quality Assessment (RDQA) instrument for The results of the assessment of the
DHF Epidemiological Surveillance in instruments developed, namely the aspect
Tarakan City Health Office. of content feasibility has an average value
The type of research used is of 81%, the feasibility aspect of
Research and Development. The total presentation is 78% and language
subjects of the study were 9 people with assessment aspects 81%. Based on the
details of 7 data management officers in results of the assessment of the three
the Puskesmas in the Tarakan DKK aspects assessed in the development of the
working area and 1 person in charge of the RDQA instrument, a good conclusion is
DHF Program in Tarakan DKK. The steps reached, but there are general
in this study, namely: (1) Potential and recommendations given both by the Chair
problems, (2) Data Collection (3) Product of the DHF Program in the DHO and the
Design (4) Design Validation (5) Design Epidemiological Surveillance Data
Revision (6) Product Trial (7) Product Management Officer in DHO and
Revision (8) Trial Use. The results of this
16
Puskesmas, namely the use of modules and kualitas data serta upaya untuk
6, 7, 8
manuals RDQA instrument. meningkatkan kualitas data.
RDQA merupakan instrumen yang
Keywords: Surveillance Epidemiolgy DHF; dapat digunakan untuk menilai kualitas
Routine Data Quality Assesment (RDQA) data. Penerapan RDQA yang pernah
dilakukan yaitu melakukan penilaian pada
PENDAHULUAN bidang Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
Berdasarkan laporan Pusdatin, Penilaian ini dilakukan terhadap sumber
disebutkan bahwa kualitas data kesehatan data pada seluruh tingkatan pelayanan
di Indonesia dapat dikatakan masih rendah. kesehatan terkait KIA untuk
Hasil penilaian terhadap Sistem Informasi mengidentifikasi dan mengurangi
Kesehatan (SIK) Indonesia yang dilakukan kesalahan yang ada. Penilaian juga
oleh Health Metrick Network (HMN) yang dilakukan terhadap peran dari tenaga
bekerja sama dengan Pusdatin kesehatan yang berwenang dalam
Kementerian Kesehatan pada tahun 2012, monitoring dan evaluasi sistem KIA, serta
menunjukkan hasil untuk sumber daya (60 melakukan peninjauan terhadap indikator
%), indikator (62%), sumber data (51%), kunci KIA untuk keakuratan dan rencana
kualitas data (57%), penggunaan dan pengembangan lanjutan untuk perbaikan
diseminasi data (62%) dan manajemen data kualitas data.9, 10, 11
(42%). Padahal, Sistem Informasi Pada penerapannya di Indonesia,
Kesehatan merupakan komponen penting RDQA membutuhkan beberapa
dalam sistem kesehatan dan merupakan penyesuaian terkait dengan keadaan
penyedia informasi bagi proses surveilans epidemiologi DBD. Surveilans
1
pengambilan keputusan. epidemiologi DBD terdiri dari beberapa
Berdasarkan studi pendahuluan data yang digunakan untuk beberapa hal,
terdapat beberapa permasalahan terkait seperti pada surveilans kasus, surveilans
kualitas data diantaranya: masih terdapat 4 vektor, penanggulangan kasus,
Puskesmas (58%) mengirimkan laporannya penanggulangan dan penyelidikan
di atas tanggal 5 setiap bulannya. Kejadian Luar Biasa (KLB) serta terkait
Terjadinya ketidaksesuaian jumlah data dengan peningkatan profesionalisme
sumber dengan hasil rekapitulasi seperti sumber daya manusia.12, 13, 14
jumlah kasus DBD di DKK Tarakan Pada RDQA, tidak dapat
dengan jumlah kasus DBD di SKDR menjelaskan secara rinci tentang
Kemenkes RI, masih ditemukannya penggunaan data tersebut. RDQA hanya
ketidaksesuaian format pelaporan dengan dapat mengelompokkan data sesuai dengan
pencatatan oleh tenaga surveilans. indikator yang telah dipilih (misal;
Sehingga diperlukan upaya untuk indikator IR, CFR dan ABJ pada
meningkatkan kualitas data. Kualitas data epidemiologi DBD), sedangkan pada
yang baik adalah prasyarat untuk informasi surveilans epidemiologi DBD terdiri atas
yang lebih baik serta pengambilan pengelompokkan data yang spesifik dan
keputusan yang lebih baik. 2, 3, 4, 5 Penilaian dibutuhkan.15, 16
kualitas data merupakan salah satu cara Sehingga, berdasarkan latar belakang
untuk mengetahui permasalahan terkait tersebut peneliti melakukan pengembangan
instrumen RDQA untuk menjamin kualitas
17
data pada surveilans epidemiologi DBD di nilai rata-rata 2,86 atau berada pada
Dinas Kesehatan Kota Tarakan. kategori ideal, sedangkan Puskesmas Juata
Laut, Puskesmas Pantai Amal dan
METODE PENELITIAN Puskesmas Mamburungan memiliki nilai
Jenis penelitian yang digunakan 2,43 atau berada pada kategori sedang pada
adalah Research and Development. Metode penilaian kemampuan unit monitoring dan
penelitian dan pengembangan atau evaluasi, sedangkan pada penilaian proses
Research and Development adalah metode manajemen data, Puskesmas Gunung
penelitian yang digunakan untuk Lingkas, Puskesmas Sebengkok dan
menghasilkan produk tertentu, dan menguji Puskesmas Karang Rejo memiliki nilai
keefektifan produk tersebut.17 Subyek 2,44 atau berada pada kategori sedang.
penelitian yaitu 9 orang dengan rincian 7 Pada verifikasi data, Puskesmas
orang petugas pengelola data di Puskesmas Karang Rejo, Puskesmas Gunung Lingkas,
wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Puskesmas Sebengkok, Puskesmas Juata
Tarakan dan 1 orang sebagai Penanggung Laut, Puskesmas Pantai Amal memiliki
Jawab Program DBD di Dinas Kesehatan skor kurang dari 95 % atau over-reporting
Kota Tarakan. Langkah-langkah pada pada indikator ABJ yang sehingga
peneitian ini , yaitu : (1) Potensi dan pelaporan yang telah dilakukan masih
masalah, (2) Pengumpulan Data (3) Desain kurang lengkap. Penilaian sistem pada
Produk (4) Validasi Desain (5) Revisi Dinas Kesehatan Kota Tarakan memiliki
Desain (6) Uji Coba Produk (7) Revisi nilai rata-rata 2,96 atau berada pada
Produk (8) Uji Coba Pemakaian. kategori ideal. Pada verifikasi data, Dinas
Pada pengujian produk/ analisis Kesehatan Kota Tarakan memiliki
produk menggunakan penilaian pada aspek memiliki skor ideal yaitu 100 % sehingga
kelayakan isi, aspek penyajian dan aspek pelaporan yang telah dilakukan telah sesuai
penilaian bahasa. Penilaian dilakukan oleh dengan yang diharapkan. Kinerja
sembilan penilai yang terdiri atas satu Pelaporan pada Dinas Kesehatan Kota
orang Ketua Program DBD di DKK Tarakan memiliki skor ideal yaitu 100 %,
Tarakan dan satu orang sebagai petugas sehingga pelaporan yang telah dilakukan
pengelola data di DKK Tarakan serta tujuh telah lengkap, tersedia dan tepat waktu.
orang petugas pengelola data di Puskesmas
Kota Tarakan. Penilaian Kualitas Data Berdasarkan
Penelitian ini telah lolos kaji etik Metode Kemenkes
yang diterbitkan oleh Komisi Etik Penilaian Kualitas Data berdasarkan
Penelitian Kesehatan FKM Undip dengan metode Kemenkes maka, rata-rata
No: 062/EC/FKM/2018 pada tanggal 4 juni ketersediaan data di Puskesmas Kota
2018. Tarakan memiliki nilai yang baik yaitu
95%. Sehingga laporan telah tersedia untuk
HASIL DAN PEMBAHASAN dilakukan pengumpulan dan pengolahan.
Penilaian Kualitas Data Berdasarkan Puskesmas Pantai Amal dan Puskesmas
Metode RDQA Juata Laut memiliki Nilai terendah pada
Penilaian Kualitas Data berdasarkan penilaian ketersediaan data yaitu 85%.
metode RDQA maka, penilaian sistem Rata-rata kelengkapan data di Puskesmas
pada Puskesmas di Kota Tarakan memiliki Kota Tarakan memiliki nilai yang baik
18
yaitu 100%, sehingga laporan telah Pengumpulan Data
lengkap untuk dilakukan pengumpulan dan Data yang dikumpulkan telah dinilai
pengolahan. Rata-rata Ketepatan Waktu dan ditelaah dengan menggunakan metode
pada Pelaporan Surveilans Epidemiologi RDQA dan metode Penilaian Surveilans
DBD memiliki nilai yang baik yaitu 100 %, Epidemiologi DBD oleh Kemenkes. Secara
sehingga pengumpulan pelaporan yang garis besar dapat disimpulkan kedua
telah dilakukan telah tepat waktu. metode tersebut mempunyai kelemahan
dan kelebihan masing-masing. Sehingga
Pengembangan Metode Routine Data diperlukan modifikasi metode penilaian
Quality Assesment (RDQA) kualitas data dengan menggabungkan
Potensi dan Masalah indikator kualitas data berdasarkan metode
Potensi yang ada dalam penelitian ini RDQA dan indikator kualitas data
adalah adanya metode penilaian kualitas berdasarkan metode Penilaian Surveilans
data yang dapat dikembangkan sebagai Epidemiologi DBD oleh Kemenkes.
penunjang kegiatan telaah data di Dinas
Kesehatan Kota untuk menilai kualitas data Desain Produk
rutin. Potensi lain adalah pada dasarnya Instrumen pengembangan RDQA
semua tingkatan tersebut memiliki staf untuk Surveilans Epidemilogi DBD di
pengelola data program kesehatan yang Dinas Kesehatan Kota Tarakan terdiri dari
harus mengolah data agar menjadi delapan indikator penilaian kualitas data
informasi yang baik. Berdasarkan studi yaitu 1) Pengumpulan Data dan Format
literatur yang dilakukan didapatkan hasil Pelaporan, 2) Keterkaitan dengan
bahwa metode penilaian kualitas data yang Pelaporan Nasional, 3) Penggunaan Data
ada sekarang ini menilai beberapa untuk Pengambilan Keputusan, 4)
komponen saja.18,19,20 Misalnya pada Indikator dan Pedoman Pelaporan, 5)
Surveilans Epidemiologi DBD melakukan Proses Manajemen Data, 6) Kemampuan
penilaian kualitas data melalui indikator Unit Monitoring dan Evaluasi, 7) Cross-
kelengkapan, ketersediaan dan ketepatan check hasil Pelaporan, 8) Review
waktu. Sedangkan, komponen kualitas data Dokumen.
menurut beberapa literatur yang lain terdiri Kegiatan penilaian kualitas data rutin
atas verifikasi data, penilaian sistem yang dilakukan dengan cara menilai kualitas
menghasilkan data, Kelengkapan data, data rutin dari laporan rutin (bulanan atau
Ketersediaan Data dan Keteatan Waktu triwulan) yang telah dikirim secara
Pengumpulan Data.21,22,23,24 langsung dari unit di bawahnya atau
Apabila indikator atau kriteria tingkat yang lebih rendah (seperti
penilaian yang terdapat dalam suatu Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kota).
metode penilaian kualitas data semakin Diperlukan kunjungan ke lapangan untuk
lengkap maka tingkat penilaian metode penilaian terhadap verifikasi data yang
tersebut akan semakin tinggi terhadap telah dilaporkan. Setelah data rutin dan
suatu data, sehingga dapat menghasilkan data verifikasi terkumpul, maka petugas
informasi mengenai kualitas data dengan penilai kualitas data melakukan kalkulasi
indikator penilaian yang semakin lengkap atau perhitungan sederhana dengan
dari pada sebelumnya.25,26,27 menggunakan instrumen RDQA yang telah
dikembangkan. Output dari hasil penilaian
19
menggunakan instrumen RDQA tersebut Berdasarkan hasil penilaian terhadap
yaitu laporan yang menyajikan indikator tiga aspek yang dinilai dalam
penilaian kualitas data berupa grafik laba- pengembangan instrumen RDQA
laba dan grafik batang berupa nilai dan mendapatkan kesimpulan yang baik, akan
presentase dari hasil penilaian kualitas data tetapi ada beberapa saran secara umum
yang telah dilakukan. yang diberikan baik oleh Ketua Program
DBD di Dinas Kesehatan Kota Tarakan
Validasi Desain maupun Petugas Pengelola Data Surveilans
Terdapat tiga aspek yang dinilai Epidemiologi DBD di Dinas Kesehatan
dalam pengembangan instrumen RDQA ini, Kota Tarakan dan Puskesmas, antara lain:
antara lain aspek kelayakan isi, aspek
a. Manual penggunaan instrumen
kelayakan penyajian dan aspek penilaian
pengembangan RDQA harus lebih
bahasa.
runtut sesuai dengan langkah-
Penilaian dilakukan oleh sembilan
langkah yang seharusnya dilakukan.
penilai yang terdiri atas satu orang Ketua
b. Penambahan penjelasan mengenai
Program DBD di Dinas Kesehatan Kota
hasil akhir penilaian kualitas data
Tarakan dan satu orang sebagai petugas
c. Perlu ditambahkan pengantar serta
pengelola data di Dinas Kesehatan Kota
keterangan mengenai masing-
Tarakan serta tujuh orang petugas
masing indikator penilaian
pengelola data di Puskesmas Kota Tarakan.
Dari beberapa saran dan masukan
Pada Aspek Kelayakan Isi, dapat
yang diberikan oleh Ketua Program DBD
disimpulkan bahwa kesesuaian latar
dan Petugas Pengelola Data di Dinas
belakang sudah baik, kesesuaian instrumen
Kesehatan Kota Tarakan, maka perbaikan
sudah baik, serta keakuratan instrumen dan
yang dilakukan terhadap pengembangan
pendukung instrumen juga baik. Indikator
instrumen RDQA ini terdapat pada modul
Kemungkinan Penggunaan dalam
dan manual penggunaan instrumen RDQA
Penilaian Kualitas Data memiliki nilai
yang terdapat pada lampiran.
tertinggi yaitu sebesar 85%, hal ini
disebabkan karena instrumen hasil Uji Coba Produk
pengembangan memiliki kelengkapan Hasil penilaian kualitas data dengan
indikator penilaian kualitas data metode yang dikembangkan adalah
dibandingkan instrumen yang digunakan penilaian sistem pada puskesmas di Kota
sebelumnya. Pada Aspek Kelayakan Tarakan memiliki nilai rata-rata 2,85 atau
Penyajian, disimpulkan bahwa teknik berada pada kategori ideal, sedangkan
penyajian instruksi penggunaan instrumen, Puskesmas Gunung Lingkas, Puskesmas
pendukung penyajian dan kelengkapan Sebengkok dan Puskesmas Karang Rejo
penyajian memiliki rata-rata baik. Pada memiliki nilai 2,38 atau berada pada
Aspek Penilaian Bahasa, disimpulkan kategori sedang pada penilaian proses
bahwa semua indikator aspek penilaian manajemen data. Pada penilaian Verifikasi
bahasa (lugas, komunikatif dan Data Puskesmas, rata-rata ketersediaan
penggunaan istilah dan simbol) semuanya data masih kurang yaitu 89 %, sedangkan
masuk dalam kriteria baik. pada ketepatan waktu dan kelengkapan
data telah ideal yaitu 100 %. Penilaian
Revisi Desain
sistem pada Dinas Kesehatan Kota Tarakan
20
memiliki nilai rata-rata 2,96 atau berada
pada kategori ideal. Kemampuan unit UCAPAN TERIMAKASIH
monitoring dan evaluasi memiliki nilai Penulis mengucapkan terimakasih
paling rendah diantara keseluruhan kepada Dinas Kesehatan Kota Tarakan dan
indikator penilaian sistem, yaitu 2,78. Pada Puskesmas di Kota Tarakan (Puskesmas
verifikasi data, Dinas Kesehatan Kota Sebengkok, Puskesmas Gunung Lingkas,
Tarakan memiliki memiliki skor ideal yaitu Puskesmas Juata Laut, Puskesmas Juata
100 % sehingga pelaporan yang telah Permai, Puskesmas Pantai Amal,
dilakukan telah sesuai dengan yang Puskesmas Mamburungan dan Puskesmas
diharapkan. Kinerja Pelaporan pada Dinas Karang Rejo) .
Kesehatan Kota Tarakan memiliki skor
ideal yaitu 100 %, sehingga pelaporan DAFTAR PUSTAKA
yang telah dilakukan telah lengkap, 1. Kementerian Kesehatan RI. Penilaian
tersedia dan tepat waktu. Mandiri Kualitas Data Rutin (PMKDR)
Sistem Informasi Kesehatan. Jakarta:
KESIMPULAN Kemenkes RI; 2013.
Hasil penilaian kualitas data dengan 2. Saeed KMI, Bano R and Asghar RJ.
metode yang dikembangkan adalah Evaluation of the national tuberculosis
penilaian sistem pada Puskesmas di Kota surveillance system in Afghanistan.
Tarakan memiliki nilai rata-rata 2,85 atau Eastern Mediterranean Health Journal.
berada pada kategori ideal. Pada penilaian Feb 2013; vol 19;no.2;200-207.
Verifikasi Data Puskesmas, rata-rata 3. Matheson AI, et al. Implementation
ketersediaan data masih kurang yaitu 89 %, and Expansion of An Electronic
sedangkan pada ketepatan waktu dan Medical Record for HIV Care and
kelengkapan data telah ideal yaitu 100 %. Treatment in Haiti: An Assessment of
Penilaian sistem pada Dinas Kesehatan System Use and The Impact of Large-
Kota Tarakan memiliki nilai rata-rata 2,96 Scale Disruptions. International
Journal of Medical Informatics. Apr
atau berada pada kategori ideal. Pada
2012; vol 81;no.4;244-256.
verifikasi data, Dinas Kesehatan Kota 4. Ayub M and Petter N. Reporting
Tarakan memiliki memiliki skor ideal yaitu Practices And Data Quality In Health
100 % sehingga pelaporan yang telah Information Systems In Developing
dilakukan telah sesuai dengan yang Countries: An Exploratory Case Study
diharapkan. Kinerja Pelaporan pada Dinas In Kenya. Journal of Health
Kesehatan Kota Tarakan memiliki skor Informatics in Developing Countries.
Dec 2016; vol 10;no.1;114-126.
ideal yaitu 100 %, sehingga pelaporan
5. Muthee V, et al. The Impact of Routine
yang telah dilakukan telah lengkap, Data Quality Assessments on
tersedia dan tepat waktu. Electronic Medical Record Data
Dinas Kesehatan Kota Tarakan dapat Quality in Kenya. PLOS ONE. Apr
memanfaatkan hasil pengembangan 2018; vol 13;no.4
metode ini untuk melakukan penilaian 6. Joseph AF, et al. Conducting a
kualitas data demi menunjang tersedianya Surveillance Data Quality Audit in
Grand Bassa County, Liberia. The Pan
informasi, pengambilan keputusan dan African Medical Journal. Mei 2017;
perencanaan program kesehatan pada masa vol 32; no.10.
yang akan datang.
21
7. Petter S and Fruhling A. Evaluating
The Success of An Emergency
Response Medical Information System. 15. PPeraturan Menteri Kesehatan No 45
International Journal of Medical
Tahun 2014. Penyelenggaraan
Informatics. Jul 2011; vol 80;no.7;480-
489. Surveilans Kesehatan. Jakarta:
8. Chen H, Yu P and Wang N. Do we Kemenkes RI; 2015.
have the reliable data? An exploration 16. Rahel A, et al. A Comparison of
of data quality for AIDS information Electronic Medical Record Data to
system in China. Stud. Health Technol. Paper Records in Antiretroviral
Inform. Aug 2012, vol 192;1042–1042. Therapy Clinic in Ethiopia: What is
9. World Health Organization. Manual on affecting the Quality of the Data?.
Use of Routine Data Quality (RDQA) Online Journal of Public Health
tool for TB Monitoring. Geneva: WHO; Informatics. Sep 2018;vol 10;no.2
17. eDepartemen Kesehatan RI. Petunjuk
2011.
Tekhnis Pengamatan Penyakit Demam
10. Nalianya JM and Stephen WL.
Monitoring and Evaluation Systems Berdarah Dengue. Jakarta: Depkes RI;
and Performance of Non- 1999.
Governmental Based Maternal Health 18. Sugiyono. Metode Penelitian
Projects in Bungoma South Sub- Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
County, Kenya. European Scientific Bandung: Alvabeta; 2015
Journal. Aug 2017;vol 13;no.23;11-38. 19. Lippeveld, T., Sauerborn, R., & Bodart,
11. Antoinette AB, et al. Quality of routine
C. Design and implementation of
facility data for monitoring priority
maternal and newborn indicators in health information systems Design and
DHIS2: A case study from Gombe State, implementation of health information
Nigeria. PLOS ONE. Jan 2019; vol systems. Geneva: WHO; 2000.
14;no.1 20. Singh, Gajinder P, Jordan T and
12. Ahanhanzo YG, Ouendo EM, Michael PR. Improving Data for
Kpozehouen A, Leveque A, Decision-Making: Leveraging Data
Makoutode M and Wilmet MD. Data Quality Audits in Haryana, India.
Quality Assessment in The Routine Delhi: USAID India; 2014
Health Information System: an 21. Petter N. Reporting Practices and Data
Application of The Lot Quality Quality in Health Information Systems
Assurance Sampling in Benin. Health in Developing Countries: An
Policy and Planning. Jul 2014; vol 30; Exploratory Case Study in Kenya.
no.7; 837-843. Journal of Health Informatics in
13. Sarah G, et al. An Assessment Of Developing Countries. Dec 2016; vol
Routine Primary Care Health 10; no.1; 114-126.
Information System Data Quality In
22. Colton, David dan Robert W. Covert.
Sofala Province, Mozambique.
Population Health Metrics. Jan 2012; Designing and Constructing
vol 9;no.12 Instruments for Social Research and
14. Maramraj KK, et al. Evaluation Of Evaluation. San Francisco: Jossey-
Dengue Surveillance System, Basse; 2007
Telangana State, India. International 23. Chen H, Hailey D, Wang N and Yu P.
Journal of Infectious Diseases. Aug
a Review of Data Quality Assessment
2018;vol 73;263-267.
Methods for Public Health Information
22
Systems. International Journal of
Environmental Research and Public
Health. May 2014; vol 11; no.5; 5170–
520.
24. AbouZahr C and Boerma T. Health
Information Systems: The Foundations
of Public Health. Bulletin of the World
Health Organization. Jan 2005; vol 83;
no.8; 578–583.

25. Bowen S, Erickson T, Martens PJ and


Crockett S. more than “Using
Research”: The Real Challenges in
Promoting Evidence-Informed
Decision-Making. Healthcare Policy.
May 2009; vol 4; no.3; 87–102.
26. Ndabarora E, Chipps JA and Uys L.
Systematic Review of Health Data
Quality Management and Best
Practices at Community and District
Levels in LMIC. Information
Development. Dec 2013; vol 30; no.2;
103–120.
27. Jørn B, Arthur H and Sundeep S.
Improving Quality and Use of Data.
Bull World Health Organ. Jan 2012;
vol 90; no.1; 379–384.

23