Vous êtes sur la page 1sur 8

Vol. 3 No.

02 Desember 2017

ANALISIS SEBAB-SEBAB KERUSAKAN PERKERASAN


DAN ALTERNATIF PENANGANAN PADA JALAN AKSES PUSAT
MISI PEMELIHARAAN PERDAMAIAN SENTUL – BOGOR

Marnala R. Chandra1, Hary C. Hardiyatmo2

Mahasiswa Magister Sistem dan Teknik Transportasi1


Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan2
1,2
Universitas Gadjah Mada
Email: aumarnalachandra@gmail.com1, hary.christady@tsipil.ugm.ac.id2

Abstract

Road segment on Indonesian Peacekeaping and Security Center (IPSC) access, Sentul – Bogor, has been
damaged within 3 until 6 months after the provitional hand over (PHO). Rigid pavement along this road
segment encountered damages as longitudinal cracks, transverse cracks, and block cracking on several
locations. The objective of this research is to obtain the causes of road damage, investigated from the sub-
grade to surface layer. Analyzing the cause of damage starts from the subgrade layer by investigating index
properties and swelling test of subgrade in laboratory as well as bearing capacity test (CBR) with Dynamic
Cone Penetrometer (DCP). Based on the CBR value obtained, it will then be used to evaluate the thickness
of concrete, subbase, and base for road layers. Laboratory test result towards soil properties shows that
the subgrade has high plasticity index. For swelling test result, the subgrade is classified as high potential
of swelling. The result of swelling compressive test is also considered high, therefore it becomes one of the
causes of road damage. Inspected from layer thickness of the pavement, the concrete thickness has fulfilled
the requirements. On the contrary, the thickness of subbase and base layers do not fulfill as required by the
requirements. These may be the additional cause for road damage along this segment.

Keywords: road damage, swelling soils, rigid pavement.

Abstrak

Ruas jalan akses Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP), Sentul – Bogor mengalami kerusakan dalam
rentang waktu 3 sampai 6 bulan setelah masa pelaksanaan berakhir. Perkerasan kaku pada ruas jalan ini
mengalami kerusakan retak memanjang, retak melintang, hingga retak pada blok perkerasan di beberapa
lokasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebab-sebab kerusakan ditinjau dari lapisan tanah dasar
(subgrade) hingga ke lapis permukaan. Analisis penyebab kerusakan dimulai dari tanah dasar (subgrade)
dengan meneliti indeks propertis dan uji pengembangan sampel tanah dasar di laboratorium serta uji
daya dukung (CBR) tanah dasar dengan alat Dynamic Cone Penetrometer (DCP). Berdasarakan hasil nilai
CBR kemudian digunakan untuk mengevaluasi tebal pelat beton, tebal pondasi bawah (subbase) dan tebal
pondasi jalan (base). Hasil uji laboratorium terhadap propertis tanah menunjukkan bahwa tanah dasar ter-
golong memiliki nilai plastisitas yang tinggi. Untuk hasil uji pengembangan dihasilkan tanah dasar masuk
ke dalam klasifikasi potensi pengembangan tinggi. Hasil uji tekanan pengembangan juga termasuk tinggi
sehingga menjadi salah satu penyebab kerusakan jalan. Ditinjau dari tebal susunan lapisan perkerasan,
untuk tebal pelat beton yang dilaksanakan telah memenuhi persyaratan tetapi untuk tebal lapis pondasi
bawah dan pondasi jalan yang dilaksanakan tidak memenuhi persyaratan. Tidak terpenuhinya persyaratan
tebal lapis pondasi bawah dan pondasi jalan juga menjadi penyebab kerusakan di ruas jalan ini.

Kata kunci: kerusakan jalan, pengembangan tanah, perkerasan kaku.

1 - 32 JURNAL INFRASTRUKTUR
Vol. 3 No. 02 Desember 2017

1. PENDAHULUAN pengaruh perubahan kadar air (Hardiyatmo, 2014).


Ketika lempung mengalami pengembangan, tekan-
Ruas jalan Akses Pusat Misi Pemeliharaan Per- an pengembangan tersebut dapat mengangkat ban-
damaian (PMPP) terletak di Jalan Anyar, Sentul, gunan seperti perkerasan jalan sehingga perkerasan
Bogor-Jawa Barat. Kondisi eksisting ruas jalan ini jalan mengalami kerusakan (Hardiyatmo, 2014).
merupakan akses jalan ke desa Tangkil, kecamatan Identifikasi tanah ekspansif dapat dilakukan dalam
Citereup – Sentul, Kabupaten Bogor yang dikem- dua cara, yaitu:
bangkan menjadi jalan akses untuk kawasan keg-
iatan pelatihan militer. Oleh karena itu, volume lalu A. Identifikasi secara tidak langsung
lintas yang melewati ruas ini tidak terlalu tinggi.
Klasifikasi potensi pengembangan menurut Chen
Kondisi perkerasan di lokasi ini mengalami keru- (1983 & 1988) berdasarkan nilai batas cair dan in-
sakan seperti retak pada trotoar, retak pada per- deks plastisitas suatu sampel tanah dapat dilihat
kerasan kaku, dan kerusakan yang paling ekstrim pada Tabel 1.
yaitu badan jalan yang bergelombang. Identifika-
si penyebab utama kerusakan pada ruas jalan ini Tabel 1. Klasifikasi Potensi Pengembangan
adalah permasalahan pada tanah dasar. dengan Nilai Batas Cair dan Indeks Plastisitas
(Chen, 1983 & 1988)
Lapis tanah dasar untuk perkerasan jalan raya harus Potensi Pengembangan Batas Cair (1983) Indeks Plastisitas (PI) (1988)
dapat dibentuk dan tidak memiliki potensi pengem- Sangat tinggi LL > 60 PI > 35

bangan yang tinggi. Tanah dasar dengan jenis tanah Tinggi 40 < LL < 60 20 < PI ≤ 55

lempung dimana mengalami pengembangan dan Sedang 30 ≤ LL ≤ 40 10 < PI ≤ 35

penyusutan yang tinggi atau sering dikenal dengan Rendah LL < 30 0 < PI ≤ 15

jenis tanah ekspansif. Tanah ekspansif (expansive


soil) adalah istilah yang digunakan pada tanah yang B. Identifikasi secara langsung
mempunyai potensi pengembangan atau penyusu-
tan yang tinggi oleh pengaruh perubahan kadar air. C. Pengujian pengembangan

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai Pengujian pengembangan dengan menggunakan
berikut: alat oedometer yang kemudian diberikan beban.
Pengembangan yang terjadi dapat dianalisis dengan
A. Mengidentifikasi jenis kerusakan dan memperki- Persamaan 1.
rakan sebab-sebab kerusakan jalan pada per-
kerasan kaku di ruas jalan akses PMPP, Sentul (1)
– Bogor.
dengan S = regangan pengembangan (%),
B. Menganalisis pengaruh potensi dan tekanan = perubahan tinggi sampel (cm).
pengembangan tanah dasar (subgrade) terhadap Besarnya nilai regangan pengembangan (S) yang di-
lapisan perkerasan di lokasi penelitian. dapat kemudian diklasifikasikan menurut tabel kla-
sifikasi tingkat pengembangan dari Snethen (1984)
C. Menganalisis penyebab kerusakan melalui evalu-
pada Tabel 2.
asi terhadap struktur lapisan perkerasan yang
Tabel 2. Klasifikasi Tanah ekspansif
telah dilaksanakan.
(Snethen, 1984)
TINJAUAN PUSTAKA Potensi pengembangan (%) Klasifikasi ekspansif
< 0,5 Rendah
2.1. Tanah Dasar
0,5 – 1,5 Sedang
Tanah dasar sebagai pondasi jalan merupakan tanah > 1,5 Tinggi
yang memiliki ketebalan tertentu dengan material
dalam galian atau urugan yang dipadatkan di bawah D. Pengujian tekanan pengembangan
struktur perkerasan.
Pengujian ini merupakan kelanjutan dari uji
Perkerasan jalan sebagai pelindung tanah dasar, pengembangan dimana dilakukan dengan memberi-
mendistribusikan beban roda kendaraan ke tanah kan beban yang berangsur-angsur bertambah dan
dasar tersebut. Dukungan tanah dasar yang kurang, kemudian dicatat nilai regangan (%) yang terjadi
dapat mengakibatkan kerusakan perkerasan (Hardi- di akhir pembebanan sampai kembali ke volume
yatmo, 2011). semula. Dari pengujian ini dapat diketahui tekanan
yang mencegah tanah mengembang.
2.2. Tanah Ekspansif
2.3. Perencanaan Perkerasan Kaku
Tanah ekspansif (expansive soil) adalah istilah yang
digunakan pada tanah yang mempunyai potensi Perkerasan kaku atau Rigid pavement pada umum-
pengembangan atau penyusutan yang tinggi oleh nya terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan atas berupa

JURNAL INFRASTRUKTUR 1 - 33
Vol. 3 No. 02 Desember 2017

pelat beton dan lapisan material granuler yang ber- Gambar 1. Tebal minimum lapis pondasi bawah un-
fungsi sebagai lapis pondasi bawah (subbase) terle- tuk perkerasan beton
tak di atas tanah dasar (subgrade) yang dipadatkan.
Pelat beton pada perkerasan kaku memiliki peranan 2.3.3. Pondasi Jalan Pada Tanah Ekspansif
kekuatan yang sangat besar dikarenakan pelat be-
ton ini dengan nilai kekakuan dan modulus elastisi- Mengacu pada Manual desain perkerasan jalan
tasnya yang tinggi cenderung menyebarkan beban Bina Marga dimana diperlukan persyaratan tamba-
ke area yang lebih luas ke tanah dasar (Hardiyatmo, han untuk perbaikan tanah dasar dengan jenis ta-
2015). Perkerasan kaku dapat dilengkapi dengan nah ekspansif disyaratkan diberi lapis peningkatan
tulangan ataupun tidak menggunakan tulangan. atau penopang yang juga berfungsi sebagai lapisan
Tulangan dalam perkerasan kaku berperan dalam penutup (sealing corse). Tebal minimum lapis pen-
mengendalikan retak (cracking). ingkatan tanah dasar yang seharusnya dilaksanakan
di lapangan dapat dilihat dalam Tabel 3.
2.3.1. Perancangan Tebal Perkerasan Kaku Tabel 3. Tebal Peningkatan Tanah Dasar
(MDP Jalan Bina Marga No. 02/M/BM/2013)
Langkah perhitungan evaluasi terhadap tebal pelat
Lalu lintas lajur
beton pada perkerasan kaku didasarkakan pada desain umur
metode AASHTO 1993. Evaluasi perhitungan dilaku- rencana 40 tahun
(juta ESAL)
kan terhadap masing-masing lokasi berdasarkan CBR tanah Deskripsi struktur
2–
dasar pondasi jalan <2 >4
hasil CBR dan faktor kehilangan kemampuan akibat 4
pengembangan (ΔPSIpengembangan) yang berbeda-beda Tebal minimum
peningkatan tanah
di masing-masing lokasi. Adapun persamaan perhi- dasar (mm)
tungan tebal perkerasan kaku dengan metode AAS- ≥6
Tidak perlu pening-
katan
HTO 1993 pada Persamaan 2.
5 Perbaikan tanah dasar - - 100
4 meliputi bahan stabi- 100 150 200
lisasi kapur atau tim-
3 bunan pilihan (pema- 150 200 300
2,5 datan berlapis ≤ 200 175 250 350
mm tebal lepas)
Tanah ekspansif
(potential swell 400 500 600
> 5 %)

3. METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi penelitian


(2)
Penelitian ini mengambil lokasi kerusakan jalan di
dimana, lokasi ruas jalan akses PMPP yang terletak pada Jl.
Anyar, Sentul, Bogor – Jawa Barat.
W18 = lalu lintas rancangan (ESAL)
ZR = deviasi standar normal 3.2. Metode pengumpulan data
So = standar deviasi keseluruhan
Pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan
D = tebal pelat beton (in)
dengan pengambilan data secara langsung di la-
∆PSI = kehilangan kemampuan pelayanan lalu
pangan (data primer). Data primer tersbut adalah
lintas (∆PSIlalu lintas)
pengambilan sampel tanah undisturbed dengan
= kuat lentur beton (psi)
menggunakan tabung besi berukuran panjang 40
Cd = koefesien drainase
cm dan diameter 7 cm. Untuk mendapatkan data
J = koefesien transfer beban
daya dukung tanah dasar (CBR) dilakukan dengan
Ec = modulus elastisitas beton (psi)
alat Dynamic Cone Penetrometer (DCP) di lokasi
k = modulus reaksi tanah dasar efektif
penelitian. Data primer diambil pada sebelas lokasi
(pci)
yang berbeda terdiri dari enam lokasi yang mengal-
ami kerusakan dan lima lokasi yang tidak mengal-
2.3.2. Lapis Pondasi Bawah (Subbase)
ami kerusakan. Untuk data volume lalu lintas har-
Perencanaan jenis dan tebal lapis pondasi minimum ian rata-rata (LHR) dilaksanakan survey langsung di
dari lapis pondasi bawah digunakan pedoman Aus- lokasi selama 3 hari. Data sekunder yang diperoleh
troads atau Pd. T-14-2003. Dalam menentukan tebal seperti data As build drawing dan data kualitas dari
lapis pondasi bawah berdasarkan pedoman terse- material yang digunakan seperti beton dan agregat.
but diperlukan perhitungan jumlah repetisi sumbu
3.3. Metode analisis data
dari kendaraan yang lewat dan nilai kekuatan tanah
dasar (CBR) yang kemudian diplot pada Gambar 1. Sampel tanah kemudian diuji di laboratorium un-
tuk mendapatkan data indeks propertis tanah dan
data potensi pengembangan tanah. Hasil dari batas
cair diklasifikasikan potensi pengembangannya ber-

1 - 34 JURNAL INFRASTRUKTUR
Vol. 3 No. 02 Desember 2017

dasarkan klasifikasi dari Chen (1983), sedangkan 4.1.2. Hasil identifikasi langsung
hasil uji pengukuran langsung diklasifikasikan ber-
dasarkan potensi pengembangan menurut Snethen Hasil identifikasi potensi pengembangan dan tekan-
(1984). an pengembangan dari hasil pengukuran secara
langsung dari alat oedometer dapat dilihat pada Ta-
Evaluasi terhadap tebal struktur perkerasan kaku bel 5.
yang telah dilaksanakan dilakukan dari lapis tanah
dasar sampai dengan lapis permukaan. Tebal pelat
beton dievaluasi menggunakan metode AASHTO
1993, tebal lapis pondasi bawah dievaluasi berdasar-
kan pedoman Pd T-14-2003, dan tebal peningkatan
tanah dasar dievaluasi berdasarkan manual desain
perkerasan jalan Bina Marga No. 02/M/BM/2013.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.1.1. Hasil uji pendahuluan dan identifikasi ti-


dak langsung

Hasil identifikasi potensi pengembangan secara ti-


dak langsung berdasarkan batas cair tercantum
pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil Uji Pendahuluan dan Identifikasi Secara Tidak Langsung

Tabel 5. Hasil uji pendahuluan dan identifikasi secara tidak langsung

JURNAL INFRASTRUKTUR 1 - 35
Vol. 3 No. 02 Desember 2017

4.2. Uji Daya Dukung Tanah (CBR) A. Dowel

Hasil uji daya dukung tanah (CBR) DCP dapat dilihat Dengan tebal pelat yang dilaksanakan sebesar 27
pada Tabel 6. cm maka diameter tulangan dowel yang seharusnya
Tabel 6. Hasil rata-rata nilai CBR

4.3. Analisis Struktur Perkerasan Jalan digunakan berdasarkan AASHTO 1993 adalah 33,75
mm ≈ 34 mm, dengan jarak 300 mm dan panjang
4.3.1. Analisis tebal perkerasan kaku tulangan 450 mm. Berdasarkan Pd T-14-2003 diam-
eter dowel maksimum adalah 36 mm untuk tebal
Adapun tebal perkerasan kaku pada masing-masing
pelat maksimum 25 cm jarak 300 mm dan panjang
lokasi dengan nilai kehilangan kemampuan (∆PSI)
tulangan 450 mm. Dengan demikian penggunaan
dan kekuatan tanah dasar (CBR) yang berbeda-be-
diameter dowel di lapangan sebesar 25 mm tidak
da dapat dilihat pada Tabel 7.
memenuhi kedua persyaratan.
4.3.2. Analisis sambungan tulangan perkerasan
B. Tie-bar
yang digunakan
Berdasarkan kedua acuan di atas penggunaan tu-
Perancangan sambungan tulangan dalam pemba-
langan tie-bars di lapangan dengan diameter 16 mm
hasan ini menggunakan acuan yang dikeluarkan
– 600 mm dan panjang 700 mm telah memenuhi
oleh AASHTO 1993 dilengkapi dari Pd T-14-2003
persyaratan.
untuk sambungan dowel dan tie-bar.
Tabel 7. Hasil tebal pelat beton di masing-masing lokasi dengan metode AASHTO 1993

1 - 36 JURNAL INFRASTRUKTUR
Vol. 3 No. 02 Desember 2017

4.3.3. Analisis lapis pondasi bawah (subbase) mengalami kerusakan. Lokasi yang memiliki nilai
potensi pengembangan tinggi tetapi tidak men-
Untuk dapat mengetahui jenis dan tebal dari lapis galami kerusakan terdapat di sta 0+750, 1+500,
pondasi bawah (subbase) menggunakan kurva pada 2+100, dan 2+950. Kondisi di keempat lokasi ini
Gambar 1 dengan nilai jumlah repetisi sumbu ter- berada di area yang teduh sehingga keseimbangan
jadi sebesar 1,36 x 107 dan nilai CBR tanah dasar di kadar air tetap terjaga.
masing-masing lokasi. Adapun hasil jenis dan tebal
lapis pondasi bawah minimum di masing-masing lo- 4.5. Alternatif penanganan kerusakan per-
kasi dapat dilihat pada Tabel 8. kerasan jalan akses Sentul – Bogor

Dalam pelaksanaan di lapangan berdasarkan as Dari hasil penelitian ini disarankan alternatif pen-
build drawing dilaksanakan pekerjaan pondasi anganan yang dapat diterapkan di lokasi ini, antara
bawah (subbase) dengan material campuran beton lain:
kurus (lean mix concrete) dengan tebal 100 mm
(10 cm) di keseluruhan lokasi. Hal ini menunjukkan A. Membongkar dan mengganti material serta ser-
bahwa pelaksanaan tebal lapis pondasi bawah (sub- ta dikombinasikan dengan pembuatan saluran
base) tidak memenuhi persyaratan yang ada. drainase bawah permukaan. Penggantian ma-
terial tanah terhadap tanah dilakukan hingga
4.3.4. Analisis Pondasi Jalan pada Tanah kedalaman 1,2 meter dan dilakukan penimbu-
Ekspansif nan dengan pemadatan per lapis. Material ta-
nah dasar pengganti dipastikan bukan material
Mengacu pada Tabel 3.3, tebal minimum peningka- yang tanah yang ekspansif, tidak lolos air, dan
tan tanah dasar yang seharusnya dilaksanakan di dipadatkan melebihi kepadatan tanah lempung
lapangan berdasarkan masing-masing nilai CBR dan ekspansif.
volume lalu lintas diatas 4 juta ESAL di masing-ma-
sing lokasi dapat dilihat dalam Tabel 4.5. B. Saluran drainase di bawah permukaan dapat
dikombinasikan pada penanganan ini yang dilak-
Pelaksanaan di lapangan berdasarkan as build draw- sanakan pada kedalaman 1,2 m dari lapis per-
ing adanya lapisan tambahan pondasi agregat kelas mukaan. Dengan adanya drainase bawah per-
A dengan tebal 150 mm (15 cm). Dengan tebal lapis mukaan ini aliran air akibat muka air tanah dan
pondasi tersebut menunjukkan bahwa tebal pelak- rembesan dapat tersalurkan sehingga mencegah
sanaan di lapangan kurang dari yang dipersyaratkan berkurangnya daya dukung tanah pondasi jalan.
dalam manual desain pondasi jalan. Seperti disyaratkan dalam spesifikasi Bina Marga
Tabel 8. Tebal lapis pondasi bawah dan pondasi jalan minimum

4.4. Analisis Kondisi Lapangan 2010 revisi 3 bahwa material untuk drainase ini
dapat menggunakan pipa beton berlubang ban-
Hasil survey kondisi lapangan di sekitar lokasi bera-
yak atau pipa PVC berlubang banyak dengan di-
da pada daerah gersang dan dikelilingi dengan rum-
ameter 10 cm. Pemasangan pipa drainase ini di-
put liar dan semak-semak. Kondisi ini menyebabkan
lakukan dalam dua posisi yaitu posisi melintang
kadar air pada tanah dasar tidak terjaga keseimban-
dan memanjang.
gannya sehingga ketika terjadi perubahan musim
menyebabkan tanah dasar mudah mengembang. 5. KESIMPULAN DAN SARAN
Lain halnya dengan kondisi lingkungan sekitar per-
kerasan yang teduh dimana kondisi keseimbangan 5.1. Kesimpulan
kadar air tetap terjaga meskipun terjadi perubahan
musim. Faktor inilah yang menyebabkan terdapat Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan,
lokasi yang memiliki hasil potensi pengembangan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
tinggi dan tekanan pengembangan tinggi tapi tidak

JURNAL INFRASTRUKTUR 1 - 37
Vol. 3 No. 02 Desember 2017

A. Perkerasan kaku pada ruas jalan akses Pusat F. Dari hasil penelitian ini, perhitungan tebal per-
Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP), Sentul kerasan dengan menggunakan AASHTO 1993
– Bogor mengalami kerusakan retak, bergelom- yang memperhitungkan faktor kehilangan pelay-
bang, hingga blok perkerasan patah. Ditinjau anan akibat pengembangan tanah () belum me-
dari jenis kerusakan yang terjadi, maka identi- nyelesaikan masalah akibat tanah ekspansif.
fikasi penyebab utama kerusakan adalah faktor
pengembangan dari tanah dasar sehingga diper- 5.2. Saran
lukan penelitian terhadap potensi dan tekanan
pengembangan dari sampel tanah dasar di labo- Dari hasil penelitan dan analisis yang telah dilaku-
ratorium. kan beberapa saran yang dapat disampaikan adalah
sebagai berikut:
B. Hasil pengujian sampel tanah dasar pada jalan
akses PMPP, Sentul - Bogor menunjukkan bah- A. Dalam pembangunan jalan baru perlu dilak-
wa subgrade merupakan tanah lempung yang sanakan adanya penelitian terhadap tanah dasar
memiliki plastisitas tinggi dimana berdasarkan sekurang-kurangnya untuk mengetahui klasifika-
sistem AASHTO jenis tanah termasuk klasifi- si dari tanah dasar tersebut. Dari hasil klasifikasi
kasi A-7-5 dan A-7-6. Dari hasil klasifikasi po- tanah dasar ini nantinya dapat ditentukan baik
tensi pengembangan berdasarkan nilai batas atau buruknya kualitas tanah dasar.
cair menunjukkan bahwa tanah dasar memiliki
B. Untuk mengantisipasi pengembangan tanah aki-
potensi pengembangan tinggi. Untuk hasil uji
bat adanya aliran air liar dapat dilaksanakan
pengembangan langsung (direct measurement)
pembuatan saluran di bawah permukaan per-
yang selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan
kerasan sehingga dapat menampung aliran air
Snethen (1984) menunjukkan bahwa lapis tanah
yang masuk ke dalam lapisan tanah.
dasar masuk dalam klasifikasi potensi pengem-
bangan yang tinggi. Hasil regangan pengemban- C. Sampel tanah untuk pengujian pengembangan
gan terbesar adalah 13,94% sedangkan terkecil diusahakan diambil dalam kondisi ketika kering
sebesar 0,17%. Dengan potensi pengembangan atau dalam musim kemarau, sementara untuk
tinggi menjadi salah satu penyebab kerusakan pengujian dynamic cone penetrometer (DCP)
perkerasan jalan di lokasi ini. sebaiknya dilakukan ketika tanah dalam kondisi
jenuh atau di saat musim hujan.
C. Hasil analisis uji tekanan pengembangan di ke-
seluruhan lokasi memiliki nilai yang lebih besar DAFTAR PUSTAKA
daripada tekanan akibat beban perkerasan. Nilai
tekanan pengembangan terbesar terdapat pada American Association of State Highway and Trans-
lokasi sta 0+950 sebesar 1233,22 kPa, sedang- portation Officials (AASHTO), 1993. Interim
kan terkecil di lokasi sta 0+300 sebesar 114,89 Guide for Design of Pavement Structures,
kPa. Dari hasil ini menunjukkan bahwa di keselu- USA: AASHTO.
ruhan lokasi perkerasan berpotensi mengalami
kerusakan akibat tekanan pengembangan tanah Austroads, 1992. Pavement Design, A Guide to the
yang melebihi tekanan perkerasan. Structural Design of Road Pavements. Aus-
tralia: Austroads.
D. Hasil evaluasi terhadap tebal pelat beton per-
kerasan kaku yang dilaksanakan telah memenuhi Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah,
hasil perhitungan tebal perkerasan dengan 2003. Perencanaan perkerasan jalan beton
metode AASHTO 1993. Namun, untuk tebal la- semen PD T-14-2003. Jakarta: Ditjen Prasa-
pis pondasi bawah dan tebal lapis peningkatan rana Wilayah, Departemen Permukiman dan
tanah dasar tidak memenuhi tebal yang disyarat- Prasarana Wilayah.
kan. Tidak terpenuhinya tebal lapis pondasi
bawah dan tebal peningkatan tanah dasar pada Hardiyatmo, H.C, 2014 Tanah Ekspansif. Yogyakar-
perkerasan jalan ini mengakibatkan berkurang- ta: Gadjah Mada University Press.
nya tekanan akibat perkerasan untuk menahan
Hardiyatmo, H.C, 2015. Perencanaan dan Per-
tekanan pengembangan tanah dasar.
kerasan Jalan dan Penyelidikan Tanah. 2nd
E. Dari hasil analisis terhadap kondisi lapangan ed. Yogyakarta: Gadjah Mada University
bahwa area di sekitar perkerasan yang gersang Press.
dengan banyaknya tumbuhan rumput liar dan
Kementerian Pekerjaan Umum, 2013. Manual Desain
semak-semak menyebabkan kondisi kadar air
Perkerasan Jalan Nomor 02/M/BM/2013. Ja-
tanah dasar tidak terjaga keseimbangannya.
karta: Ditjen Bina Marga, Kementerian Pe-
Sebaliknya di area kondisi yang teduh dengan
kerjaan Umum.
banyaknya pepohonan, keseimbangan kadar
air tetap terjaga dengan baik ketika perubahan
musim.

1 - 38 JURNAL INFRASTRUKTUR
Vol. 3 No. 02 Desember 2017

Kementerian Pekerjaan Umum, 2014. Spesifikasi


Umum 2010 (Revisi 3), Jakarta: Ditjen Bina
Marga, Kementerian Pekerjaan Umum.

Suryawan, Ari, 2013. Perkerasan Jalan Beton Se-


men Portland (Rigid Pavement), cetakan ke-
tiga. Yogyakarta: Beta Offset.

JURNAL INFRASTRUKTUR 1 - 39