Vous êtes sur la page 1sur 63

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT

SEKUNDER DARI KULIT BATANG TUMBUHAN JENGKOL


(Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen) SERTA
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI

(Skripsi)

Oleh

RIZKY FIJARYANI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2019
ii

ABSTRACT

ISOLATION AND IDENTIFICATION OF SECONDARY METABOLITE


COMPOUNDS FROM THE STEM BARK OF JENGKOL
(Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen) AND
ANTIBACTERIAL ACTIVITY ASSAY

By

Rizky Fijaryani

Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen Pers is one of species in Archidendron


genus of Fabaceae family’s which is locally known as jengkol. Jengkol contains
secondary metabolite compounds that display some biological activities including
antibacterial, antioxidant, and antifungal. This study has been carried out on the
isolation and identification of secondary metabolites from the stem bark of jengkol
(A. jiringa) as well as the evaluation of their antibacterial activity. The isolation
and separation work were conducted by several steps including sample preparation,
extraction, isolation, and fractionation using thin layer chromatography (TLC),
vacuum liquid chromatography (VLC), and Column Chromatography (CC). The
fractions obtained were assayed their antibacterial activity against B. subtilis and
E. coli. The most active fraction (code: JG15; 19 mg) showed the inhibition zone
at the concentration of 0,5 mg/disk and 0,4 mg/disk against B. subtilis and E. coli,
respectively. The structure analysis of the most active fraction was determined by
using UV-Vis, IR, NMR, and HPLC instruments. Based on its spectroscopic
analysis and by comparison with the previous reported data, the sub fraction JG15
was characterized as steroid. However, the purification further of sub fraction JG15
is still required to determine the structure of the bioactive compound.

ii

Keywords: Archidendron jiringa, antibacterial, B. subtillis, E.coli, steroid


ABSTRAK

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT


SEKUNDER DARI KULIT BATANG TUMBUHAN JENGKOL
(Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen) SERTA
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI

Oleh

Rizky Fijaryani

Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen merupakan salah satu spesies dari genus
Archidendron famili Fabaceae yang dikenal dengan nama Jengkol. Jengkol
mengandung senyawa metabolit sekunder yang memiliki aktivitas biologis seperti
antibakteri, antijamur, dan antioksidan. Pada penelitian ini telah dilakukan isolasi
dan identifikasi senyawa metabolit sekunder dari kulit batang tumbuhan jengkol
(A. jiringa) serta mengevaluasi aktivitas antibakteri. Isolasi dan pemisahan
dilakukan dengan beberapa langkah meliputi preparasi sampel, ekstraksi, isolasi,
dan fraksinasi menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT), kromatografi cair
vakum (KCV), dan kromatografi kolom (KK). Fraksi yang diperoleh diuji aktivitas
antibakteri terhadap B. subtilis dan E. coli. Fraksi paling aktif (kode: JG15; 19 mg)
menunjukkan zona hambat pada konsentrasi 0,5 mg/disk dan 0,4mg/disk terhadap
B. subtilis dan E. coli. Analisis struktur fraksi paling aktif ditentukan dengan
menggunakan spektroskopi UV-Vis, IR, NMR dan HPLC. Berdasarkan analisis
spektroskopi dan dibandingkan dengan data yang dilaporkan sebelumnya sub
fraksi JG15 dikarakterisasi sebagai steroid. Namun pemurnian lebih lanjut dari sub
fraksi JG15 masih diperlukan untuk menentukan struktur senyawa bioaktif.

Kata Kunci: Archidendron jiringa, antibakteri, B. subtillis, E.coli, steroid


ii

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT


SEKUNDER DARI KULIT BATANG TUMBUHAN JENGKOL
(Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen) SERTA UJI
AKTIVITAS ANTIBAKTERI

Oleh

Rizky Fijaryani

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar


SARJANA SAINS

Pada

Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS LAMPUNG
ii
BANDAR LAMPUNG
2019
vi

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kotagajah pada tanggal 16 Juni 1996,

sebagai anak kedua dari tiga bersaudara yang merupakan

putri dari pasangan Bapak Mujiono dan Ibu Mujiem. Penulis

menyelesaikan pendidikan Taman Kanak-Kanak di TK Darul

Fallah Purworejo pada tahun 2002, Sekolah Dasar di SD N

02 Purworejo pada tahun 2008, Sekolah Menengah Pertama di SMP N 02

Kotagajah pada tahun 2011, dan Sekolah Menengah Atas di SMA N 01 Kotagajah

pada tahun 2014. Pada tahun yang sama, penulis terdaftar sebagai mahasiswa

Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas

Lampung melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri

(SBMPTN).

Selama menjadi mahasiswa, penulis menerima Beasiswa BIDIKMISI (Bantuan

Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi), yaitu beasiswa yang diberikan untuk

mahasiswa miskin dan berprestasi selama delapan semester. Penulis menjadi

Anggota Muda Rois (AMAR) pada tahun 2014/2015, Kader Muda Himaki

(KAMI) pada tahun ajaran 2014/2015, bergabung dalam Himpunan Mahasiswa

Kimia (Himaki) sebagai anggota bidang Kesekertariatan pada tahun ajaran


ii
2015/2016 dan 2016/2017. Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN)
vii

Program Pengabdian Masyarakat (PPM) yang bekerjasama dengan Kementrian

Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristek-Dikti) di Desa Penyungkaian,

Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat.

ii
viii

“Dengan mmenyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

Atas Rahmat Allah SWT


Ku persembahkan Karya sederhanaku ini
Teruntuk

Kedua Orang Tuaku tercinta


yang senantias memberikan doa, kasih sayang, dukungan, motivasi dan
semangat kepada adinda selama ini, semoga Allah SWT memberikan
kesehatan dan perlindungan kepada Bapak dan Ibu

Saudara kandungku dan segenap keluarga besarku


yang telah memberikan semangat, dukungan dan doa kepada penulis

Dr. Noviany, S.Si., M.Si. dan semua Dosen Jurusan Kimia FMIPA Unila yang
telah membimbing penulis selama menempuh pendidikan

Sahabat-sahabat terbaikku serta


Partner yang telah mendampingiku dalam doa

Almamater Tercinta
Universitas Lampung

ii
ix

MOTTO

“…. dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang


yang berbuat baik”
(Q.S. Al-Baqarah : 195)

“Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang Engkau dustakan?”


(Q.S. Ar-Rahman : 56)

“Aku akan bersabar, sampai kesabaranpun mencoba kesabaranku”


(Ali Bin Abu Thalib)

“One Action Better than One Million Word”


(Rinaldi Ihza Kurnia)

ii
x

SANWACANA

Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji hanya milik Allah subhanahu wata’ala,

Tuhan semesta alam. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada suri

tauladan ummat yaitu Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wassalam. Rasa syukur

penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wata’ala yang telah memberikan

kelancaran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ISOLASI

DAN IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER DARI

KULIT BATANG TUMBUHAN JENGKOL (Archidendron jiringa (Jack)

I.C. Nielsen) SERTA UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI.”

Teriring doa yang tulus, penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Kedua orang tuaku, Bapak Mujiono dan Ibu Mujiem yang tiada henti

memberikan kasih sayang, do’a, perhatian, kepercayaan, serta senantiasa

mendukung dalam keadaan apapun.

2. Ibu Noviany, Ph.D., selaku dosen pembimbing I yang senantiasa

memberikan ilmu pengetahuan, bimbingan, gagasan, arahan, saran serta

solusi terbaik kepada penulis dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan

penyelesain skripsi ini.

3. Bapak Dr. Eng. Heri Satria, M.Si., selaku dosen pembimbing II yang

senantiasa memberikan bimbingan, gagasan, dan arahan sehingga penulis

ii
dapat menyelesaikan skripsi ini.
xi

4. Bapak Mulyono, Ph.D., selaku dosen pembahas atas ketersediaannya

memberikan arahan, koreksi, serta saran demi kemajuan penulis.

5. Bapak Hardoko Insan Qudus, DRS., MS. DR., selaku dosen pembimbing

akademik atas segala bimbingan, dukungan, motivasi, informasi, dan saran

yang bermanfaat kepada penulis.

6. Bapak Dr. Eng. Suripto Dwi Yuwono, M.T., selaku Ketua Jurusan Kimia

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung.

7. Bapak Prof. Warsito, S.Si., D.E.A., Ph.D., selaku Dekan Fakultas

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung.

8. Bapak/Ibu dosen Jurusan Kimia yang telah memberikan bekal ilmu

pengetahuan, wawasan, motivasi, serta pengalaman yang menginspirasi.

9. Kakakku Niar Irianti dan Kakak Iparku Bagus Mengku Negara serta adikku

Pramudia Tri Nugroho yang selalu memberikan semangat, keceriaan,

dukungan dan doa kepada penulis.

10. Kakek dan Nenekku yang tidak henti-hentinya memberikan dukungan dan

doa kepada penulis.

11. Keponakanku tersayang, Shanum Syifa Syauqiya yang selalu menjadi

pelipur-lara bagi penulis, memberikan hiburan dan keceriaan disetiap hari.

12. Sahabatku terkasih, Agung Setyo Wibowo, Ainun Nadya, Bidari Maulid

Diana, Bunga Lantri Dwinta, Diva Amila, Hidayatul Mufidah, Jefry

Romansyah, Khumil Adjmila, Liana Hariyanti, Ni Putu Rahma Agustina,

Nur Laelatul Khotimah, Riza Mufarida Akhsin, Rizka Ari Wandari, Siti

Fatimah,Widia Sari dan Yusuf Hadi Kurniawan yang selalu memberikan


ii
dukungan, motivasi, doa dan hiburan bagi penulis.
xii

13. Sahabatku INABADI, Dwi Febriana, Faizatur Rokhmah, Siti Khoirrur

Rohmah, Ulfa Mia Lestari, dan Sri Wahyuni memberikan dukungan,

motivasi, doa dan hiburan bagi penulis.

14. Teman-temanku Electric, Agung Firmansyah, Agus Indro P., Ana Aprilia,

Angga Kusuma Jaya, Anissa Kusuma D., Dedi Saputra Jaya, Daniel Setyo

Adi, Dwi Febriana, Dy Uswatun Khasanah, Fauzi Alaik Rahmatullah,

Gabriella Setia W., Haddad Ikhram, Helin Meilinawati, Ida Ayu Utami W.,

Janik Diyan P., M. Iqbal Jamaludin A., Mahendra Raga K., Mega Deviana,

Ni Komang Juvi H., Ni Nyoman Ray S., Peppy Anggun S., Rahmad Rianto,

Rahmaji Dwi S., Ridha Muzayyana, Rinaldi Ihza K., Saputri Wahyuning D.,

Setia Budi A., dan Yuda Saputra yang selalu memberikan semangat dan

motivasi bagi penulis.

15. Sepupuku Rani Maryani dan adikku Dewi ayu Lestari yang selalu

memberikan semangat, hiburan dan motivasi bagi penulis.

16. Patner Kontrakan SMA yaitu Annisa Nurul Hidayati, Siti Khoirrur Rohmah,

dan Ulfa Mia Lestari terimakasih atas doa, hiburan, semangat serta

dukungannya.

17. Patner Kosan C3 No.1 yaitu mba Lina, Shella, Elci, Mita, Mba Yeti, Yutia,

Mia, Mba Marlia, Mba Susi, Mba Dora, Mba Diana, Mba Lita, Laili, Leni,

Mei, terimaksih atas doa, dukungan, dan hiburannya.

18. Partner Noviany’s Research 2014 terimakasih atas motivasi, bantuan dan

kerjasamanya.

19. Noviany’s Research Group 2015 dan 2016 terimakasih atas dukungan dan
ii
kerjasamanya.
xiii

20. Rekan-rekan kerja di Laboratorium Kimia Organik atas dukungan, semangat

dan kerjasamanya.

21. Rekan-rekan kerja di Laboratorium Kimia Biokimia atas dukungan,

semangat dan kerjasamanya.

22. Sahabat-sahabat Kimia Angkatan 2014 yang saling memberikan dukungan,

semangat.

23. Teman-teman KKN PPM Ristek Dikti Desa Penyukaian Lampung Barat.

24. Rinaldi Ihza Kurnia terimakasih selalu membersamai penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

Akhir kata, penulis menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan,

akan tetapi semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Bandar Lampung, September 2019


Penulis

Rizky Fijaryani

ii
DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ................................................................................................ iii


DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. v
I. PENDAHULUAN .............................................................................................. 1
A. Latar Belakang .............................................................................................. 1
B. Tujuan Penelitian .......................................................................................... 4
C. Manfaat Penelitian ........................................................................................ 5

II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 6


A. Fabacea ......................................................................................................... 6
B. Jengkol (Archidendron jiringa Jack) ............................................................ 6
C. Kandungan Senyawa Metabolit Sekunder pada Famili Fabaceae ................ 8
1. Terpenoid .................................................................................................. 8
2. Flavanoid ................................................................................................ 10
3. Steroid .................................................................................................... 11
D. Senyawa Metabolit Sekunder Tanaman Jengkol ........................................ 13
E. Efek Farmakologi Tanaman Jengkol…………………………………...... 14
F. Bakteri ........................................................................................................ 15
G. Antibakteri .................................................................................................. 16
H. Uji Aktivitas Antibakteri ............................................................................ 17
1. Metode Difusi ......................................................................................... 17
2. Metode Dilusi ......................................................................................... 18
I. Isolasi Senyawa Fabaceae .......................................................................... 19
1. Isolasi ...................................................................................................... 19
2. Ekstraksi ................................................................................................. 19
3. Kromatografi .......................................................................................... 20
J. Karakterisasi Senyawa secara Spektroskopi............................................... 25
1. Spektroskopi Ultraungu–tampak (UV-Vis)............................................ 26
2. Spektroskopi Inframerah (IR) ................................................................ 27
3. Spektroskopi Resonansi Magnetik Inti (RMI) ....................................... 28

III. METODE PENELITIAN......................................................................... 30


A. Waktu dan Tempat Penelitian..................................................................... 30
B. Alat dan Bahan ........................................................................................... 30
1. Alat-alat yang digunakan ........................................................................ 30
2. Bahan-Bahan yang Digunakan ............................................................... 31
C. Prosedur Penelitian ..................................................................................... 31
1. Persiapan Sampel ................................................................................... 31
2. Ekstraksi dengan Berbagai Pelarut ......................................................... 32
3. Uji Aktivitas Antibakteri ........................................................................ 32
ii

4. Kromatografi .......................................................................................... 33
5. Analisis Kemurnian ................................................................................ 35
6. Analisis Spektroskopi ............................................................................. 35

IV. PEMBAHASAN ............................................................................................ 37


A. Ekstraksi Sampel ........................................................................................ 37
B. Isolasi dan Uji Antibakteri .......................................................................... 38
C. Analisis Kemurnian .................................................................................... 52
D. Penentuan Senyawa Hasil Isolasi ............................................................... 53
1. Spektroskopi Ultraviolet - Tampak (UV-Vis) ........................................ 53
2. Spektroskopi Inframerah (IR) ................................................................ 54
3. Spektroskopi Nuclier Magnetic Resonance (NMR) ............................... 55
4. High Performance Liquid Cromatography (HPLC) .............................. 57
E. Rendemen ................................................................................................... 57

V. SIMPULAN DAN SARAN ........................................................................... 60


A. SIMPULAN ................................................................................................. 60
B. Saran ............................................................................................................ 61

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 62

LAMPIRAN ......................................................................................................... 67
1. Diagram isolasi dan uji antibakteri...............................................................68
2. Hasil uji skrining fitokimia.......................................................................... 72
3. Perhitungan 2 variasi konsentrasi uji antibakteri ........................................ 74
4. Gambar hasil uji antibakteri ........................................................................ 75
5. Hasil Determinasi Tanaman Jengkol ........................................................... 82
6. Kromatogram HPLC Sub fraksi JG15 .......................................................... 83

ii
iii

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Urutan kepolaran eluen, elusi senyawa, dan kekuatan adsorben dalam


kromatografi (Sudjadi, 1985). ........................................................................ 22

2. Karakteristik frekuensi uluran beberapa gugus fungsi ................................... 28

3. Pergeseran kimia untuk proton dalam molekul organik. ............................... 29

4. Hasil pengukuran zona hambat ekstrak kasar terhadap bakteri B. subtillis ... 39

5. Hasil pengukuran zona hambat ekstrak kasar terhadap bakteri E. coli .......... 39

6. Hasil pengukuran zona hambat fraksi A, B, C, dan E terhadap bakteri B.


subtillis ........................................................................................................... 42

7. Hasil pengukuran zona hambat fraksi A, B, C, dan E terhadap bakteri


E.coli .............................................................................................................. 42

8. Hasil pengukuran zona hambat subfraksi B4, B5, B6, B7, dan B8 terhadap
bakteri B. subtillis .......................................................................................... 44

9. Hasil pengukuran zona hambat subfraksi B4, B5, B6, B7, dan B8 terhadap
bakteri E.coli .................................................................................................. 44

10. Hasil pengukuran zona hambat subfraksi KBH, KBI, KBJ, KBK, dan KBL
terhadap bakteri B. subtillis ............................................................................ 46

11. Hasil pengukuran zona hambat subfraksi KBH, KBI, KBJ, KBK, dan KBL
terhadap bakteri E.coli ................................................................................... 46

12. Hasil pengukuran zona hambat subfraksi JG7, JG12, JG13, JG15, JG14 dan 16
terhadap bakteri B. Subtillis ........................................................................... 49

13. Hasil pengukuran zona hambat subfraksi JG7, JG12, JG13, JG15, JG14 dan 16
terhadap bakteri E.coli ................................................................................... 49
ii
14. Hasil pengukuran zona hambat fraksi gabungan KBK11, KBK12, dan KBK13
dengan JG15 terhadap bakteri B. subtillis ....................................................... 51
iv

15. Hasil pengukuran zona hambat fraksi gabungan KBK11, KBK12, dan KBK13
dengan JG15 terhadap bakteri E.coli ............................................................... 51

16. Interpretasi spektrum IR dari sub fraksi JG15 dan senyawa Steroid (literatur)
........................................................................................................................ 55
17. Presentase Rendemen ..................................................................................... 58

ii
v

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Bagian-bagian dari tanaman jengkol : (a) batang (b) buah (c) daun ............... 7

2. Kromatogram hasil KCV ekstrak etil asetat (Sinar UV λ= 254 nm) ............. 40

3. Kromatogram subfraksi hasil KCV III (Sinar UV λ= 254 nm) ..................... 43

4. Kromatogram subfraksi B7 hasil Kromatografi Kolom ................................. 45

5. Kromatogram subfraksi KBJ hasil Kromatografi Kolom (Sinar UV ............. 48

6. Kromatogram subfraksi BJG hasil Kromatografi Kolom ............................... 48

7. Kromatogram fraksi KBI, KBK, dan KBL yang dibandingkan dengan ........... 50

8. Kromatogram fraksi KBK11, KBK12, dan KBK13 yang dengan sub fraksi........ 51

9. Kromatogram hasil KLT subfraksi JG15 (a) eluen n-heksan/etil asetat 7:3

(Sinar UV λ = 254 nm) (b) n-heksan/aseton 8:2 (Sinar UV λ = 254 nm) (c)

metanol/klorofom 8:2 (Sinar UV λ = 254 nm) .............................................. 53

10. Spektrum UV-Vis sub fraksi JG15 .................................................................. 54

11. Spektrum IR sub fraksi JG15 .......................................................................... 54

12. Spektrum H1NMR sub fraksi JG15 ................................................................. 56

ii
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Infeksi merupakan masalah besar yang menyita perhatian dunia. Penyakit infeksi

telah menyebabkan kematian sebesar 13 juta orang diseluruh dunia setiap

tahunnya (Salni dkk., 2011). Data WHO menunjukkan bahwa infeksi virus,

bakteri, jamur, dan parasit merupakan penyebab kematian terbesar di dunia

terutama di negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Demikian

pula data Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2008 menunjukkan

bahwa penyakit infeksi seperti infeksi pernapasan dan diare merupakan penyakit

yang sering diderita oleh masyarakat Indonesia (Sartinah dkk., 2010).

Bakteri merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya dan tersebar luas

pada makhluk hidup. Kebanyakan bakteri bersifat patogen dan menjadi penyebab

penyakit pada manusia serta makhluk hidup lainnya (Juariah dan Oktaviyani,

2015). Bacillus subtillis dan Escherichia coli merupakan bakteri patogen yang

paling banyak menyerang manusia. B. subtillis merupakan bakteri gram positif

yang hidup sebagai saprofit di dalam saluran membran tubuh manusia (Manu,

2013) sedangkan E. coli merupakan bakteri gram negatif yang banyak ditemukan

dalam usus besar manusia sebagai (Maryati dkk., 2007).


2

Penyebab utama penyakit diare terutama pada bayi dan anak-anak adalah infeksi

bakteri E. coli (Susilowati dkk., 2007). Angka kematian akibat diare di Indonesia

masih sekitar 7,4 %, sedangkan angka kematian akibat diare persisten lebih tinggi

yaitu 45%. Dalam 1000 penduduk, 200-374 pendunduk mengalami diare dengan

60 - 70% diantaranya anak-anak usia dibawah 5 tahun (Rizal dkk., 2016).

Pengobatan penyakit akibat infeksi bakteri dapat dilakukan dengan menggunakan

obat sintetik maupun dengan bahan alam. Pengobatan dengan obat sintetik dapat

menggunakan zat antibakteri yang terkandung dalam antibiotik. Antibiotik

merupakan obat pilihan untuk menanggulangi penyakit infeksi, tetapi pemakaian

antibiotik yang tidak tepat dalam pengobatan infeksi bakteri dapat menimbulkan

masalah yaitu munculnya bakteri yang resisten terhadap antibakteri tersebut

termasuk B. subtillis dan E. coli.

Berdasarkan hasil penelitian Refdanita dkk. (2004) diketahui bahwa E. coli

resisten terhadap antibiotik golongan kloramfenikol sebesar 83,9% dan

amoxicillin sebesar 86.2%. Semakin besar persentase resistensi bakteri terhadap

suatu antibiotik menyatakan bahwa bakteri tidak lagi rentan terhadap antibiotik

tersebut. Perlu dicari antibakteri baru, salah satunya berasal dari bahan alam yang

didapatkan dari tanaman. Alasan penggunaan tanaman yang mengandung zat

antimikroba ini dikarenakan bahan alami tidak menimbukan efek samping yang

berbahaya, tidak membutuhkan biaya yang mahal untuk mendapatkannya dan

tanaman tersebut lebih mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Kemampuan bahan alam dapat


ii digunakan sebagai media penyembuhan
diperkirakan karena kandungan senyawa metabolit sekunder. Senyawa metabolit
3

sekunder seperti terpenoid, steroid, kumarin, flavonoid, dan alkaloid memiliki

bioaktivitas yang berfungsi sebagai pelindung tumbuhan tersebut dari gangguan

hama penyakit ataupun lingkungannya.

Kurang lebih 80% obat-obatan yang digunakan oleh masyarakat Indonesia berasal

dari tumbuhan obat. Potensi bahan zat anti mikroba dari tumbuhan cukup

memadai dan turunan-turunan hasil sintesisnya dapat menunjukkan kenaikan

potensi antimikrobia yang lebih baik (Sasongko dan Asmara, 2002). Salah satu

tumbuhan yang belum dikaji secara intensif di Indonesia adalah tumbuhan famili

Fabaceae. Famili Fabaceae ini memiliki bioaktivitas yang cukup menarik seperti

antioksidan, antimalaria, antikanker, serta antibakteri.

Tumbuhan jengkol (Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen) merupakan salah

satu tumbuhan famili Fabaceae yang digunakan oleh masyarakat indonesia

sebagai obat tradisional. Daun jengkol berkhasiat sebagai obat eksim, kudis, luka,

dan bisul, kulit buahnya digunakan sebagai obat borok (Salni dkk., 2011).

Beberapa penelitian telah dilakukan terhadap tumbuhan jengkol, baik bagian

daun, kulit buah jengkol, dan biji jengkol. Nurussakinah (2010) telah melakukan

skrining fitokimia ekstrak kulit buah tanaman jengkol dengan kandungan senyawa

kimia aktif pada biji, kulit batang, dan daun jengkol adalah alkaloid, steroid,

triterpenoid, glikosida, saponin, flavonoid, dan tannin.

Salni dkk. (2011) melakukan isolasi senyawa antibakteri dari daun jengkol (P.

lobatum) dan uji antibakteri. Hasil penelitian menunjukkan senyawa terpenoid

merupakan senyawa antibakteri


ii yang terdapat di dalam fraksi etil asetat.
Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) senyawa terpenoid terhadap
4

Staphylococcus aureus adalah 160 µg/mL dan terhadap Escherichia coli 200

µg/mL. Lee et al., (1992) telah mengisolasi ekstrak aseton daun jengkol (P.

lobatum) diperoleh lima senyawa derivat flavan-3-ol tiga diantaranya senyawa

baru yaitu flavan-3-ol-galat, 3-galokatokin dan 4-O-galat serta dua senyawa

gabungan 3,7-galokatokin dan 4,7-di-O-galat.

Menurut Cholisoh dan Utami (2008) terdapat aktivitas penangkap radikal dan

antioksidan dari ekstrak etanol 70% biji jengkol. Juariah dan Oktaviyani (2015)

juga melakukan uji aktivitas antifungi ekstrak etanol kulit jengkol terhadap jamur

Candida albicans. Hasil menunjukkan mengandung senyawa-senyawa saponin,

tannin dan flavonoid. Hutauruk (2010) melaporkan hasil isolasi kulit buah

jengkol yang telah dimurnikan diperoleh senyawa flavonoid.

Sedangkan penelitian mengenai kulit batang tanaman jengkol belum pernah

dilakukan. Sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai kulit batang tanaman

jengkol dengan mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder

dari kulit batang jengkol (A. jiringa) serta uji aktivitas antibakteri terhadap

Bacillus subtillis dan Escherichia coli.

B. Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian ini sebagai berikut:

1. Mengisolasi senyawa metabolit sekunder kulit batang tumbuhan jengkol

(A. jiringa) yang memiliki bioaktivitas antibakteri terbaik.

2. Mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder yang memiliki bioaktivitas


ii
antibakteri terbaik.
5

C. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah diperoleh senyawa bioaktif terbaik dari kulit

batang tumbuhan jengkol (A. jiringa) yang berpotensi dikembangkan sebagai agen

antibakteri

ii
6

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Fabacea

Famili Fabaceae merupakan famili tumbuhan besar yang sering disebut dengan

Leguminosae. Famili Fabaceae dikelompokkan ke dalam 3 subfamili yaitu

Mimosoidae, Caesalpiniodeae, dan Papilionoideae (Sprent, 2009).

Pengelompokkan ini didasarkan pada morfologi bunga khususnya pada bentuk

kelopaknya dan adanya buah polong (Purnomo, 2010). Beberapa penelitian telah

dilakukan dan menyatakan bahwa famili Fabaceae memiliki kandungan metabolit

primer seperti lectin, kitin, dan inhibitor 𝛼- amilase serta metabolit sekunder.

Contoh senyawa metabolit sekunder diantaranya alkaloid, terpenoid, tannin, dan

senyawa fenolik. Kajian farmakologi beberapa senyawa yang berhasil diisolasi

dari spesies Fabaceae mengindikasikan bahwa sub fraksi yang diperoleh

menunjukkan aktivitas sebagai antimikroba. Umumnya spesies tumbuhan ini

digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat Indonesia (Saifudin, 2014).

B. Jengkol (Archidendron jiringa Jack)

A. jiringa umumnya dikenal sebagai Dogfruit, Jering (Malaysia), Jengkol

(Indonesia) atau Luk Nieng (Thailand) (Bunawan et al., 2013). A. jiringa


ii
merupakan tumbuhan tropis yang bijinya digemari untuk dikonsumsi tetapi juga
7

dihindari karena baunya. Tumbuhan ini dibudidayakan secara umum oleh

penduduk di Jawa dan di beberapa daerah tumbuh secara liar. Jengkol paling baik

tumbuh di daerah dengan musim kemarau yang tidak terlalu panjang.

Klasifikasi tumbuhan jengkol adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Archidendron
Spesies : Archidendron jiringa Jack (Hutauruk, 2010).

Gambar 1. Bagian-bagian dari tanaman jengkol : (a) batang (b)


buah (c) daun

Jengkol merupakan tumbuhan yang memiliki tinggi mencapai 26 m dengan

diameter 40 cm. Batangnya tegak lurus dengan bebas cabang lebih dari 3 m dari

permukaan tanah (Hartanto dkk., 2018) tegak bulat berkayu, licin, percabangan

simpodial, halus berwarna putih abu-abu (Norulaini et al., 2010). Bentuk

ii panjang 10-20 cm, lebar 5-15 cm, pertulangan


majemuk, lonjong, berhadapan,

menyirip, tangkai panjang 0,5–1 cm, warna hijau tua. Bentuk buah menyerupai
8

kelopak mangkok, benang sari kuning, putik silindris, kuning mahkota lonjong,

putih kekuningan. Buah berwarna cokelat kehitaman, berkeping dua dan berakar

tunggang (Hutauruk, 2010).

C. Kandungan Senyawa Metabolit Sekunder pada Famili Fabaceae

Senyawa metabolit sekunder merupakan senyawa kimia yang terdapat dalam

suatu organisme yang digunakan untuk bertahan terhadap predator, kompetitor,

dan untuk mendukung proses reproduksi (Lenny, 2006). Memiliki kemampuan

bioaktivitas dan berfungsi sebagai pelindung tumbuhan tersebut dari gangguan

hama penyakit untuk tumbuhan itu sendiri atau lingkungannya (Nugroho, 2017).

1. Terpenoid

Terpenoid mempunyai kerangka karbon yang terdiri dari dua atau lebih unit C5

yang disebut unit isopren. Berdasarkan jumlah atom C yang terdapat pada

kerangkanya, terpenoid dapat dibagi menjadi hemiterpen, monoterpen,

seskuiterpen, diterpen, triterpen dan seterusnya (Nagegowda, 2010).

Telah diisolasi tiga senyawa diterpen baru yang berasal dari Caesalpinia minax

Hance (Liu et al., 2017) golongan Fabaceae. Senyawa tersebut adalah (1)

caesalmin X, (2) caesalmin Y dan (3) caesalmin Z. Senyawa ini diperoleh dari

ekstraksi 95% Etil Asetat.

ii
9

Dyzoyem et al. (2017) telah mengisolasi tiga senyawa terpenoid yang berpotensi

sebagai antibakteri dari Entada abyssinica. Senyawa tersebut diantaranya (4)

Asam orsolat (5) (8S)-Asam kolavat-15-metil-ester (6) Asam 13,14,15,16-

tetranor-3-klerodena-12,18-dioat.

ii
10

2. Flavanoid

Flavanoid umumnya mempunyai kerangka flavon C6-C3-C6, dengan tiga atom

karbon sebagai jembatan antara gugus fenil yang biasanya juga terdapat atom

oksigen. Senyawa fenolik yang banyak ditemukan pada Fabaceae adalah

Flavanoid. Misalnya dari kulit batang Sesbania grandiflora, diperoleh senyawa

baru jenis 2-arilbenzofuran yaitu Sesbagrandiflorain A (7) dan Sesbagrandiflorain

B (8) (Noviany et al., 2018).

Dyzoyem et al. (2017) telah mengisolasi tiga senyawa flavanoid yang berpotensi

sebagai antibakteri dari Entada abyssinica. Senyawa tersebut diantaranya (9)


ii
11

Kuarsetin-3-O-α-l-ramnosida (10) Kuarsetin 3-O-β-d-glukosil (1→4)-α-l-

ramnosida (11) Entadanin.

3. Steroid

Steroid merupakan senyawa organik lemak sterol tidak terhidrolisis yang

merupakan hasil reaksi dari turunan terpen atau skualena (Hanani, 2005). Steroid

terdiri dari beberapa kelompok senyawa yang pengelompokannnya didasarkan

pada efek fisiologis yang diberikan oleh masing-masing kelompok. Kelompok-

kelompok tersebut diantaranya sterol, asam-asam empedu, hormon seks, hormon

adrenokortikoids, aglikon kardiak, dan sapogenin. Steroid yang terdapat di alam


ii steroid yang terdapat pada jaringan hewan
berasal dari triterpen, sedangkan
12

berasal dari triterpen lanosterol. Sifat-sifat steroid pada dasarnya ditentukan oleh

reaksi gugus fungsi yang dikandungnya. Walaupun prinsip reaksi dari gugus

fungsi sama, akan tetapi reaksi itu dapat berbeda tergantung pada posisi gugus

fungsi dalam inti steroid (Achmad, 1986).

Kurnia (2017) telah mengisolasi senyawa turunan steroid yaitu (12) β-sitosterol

dari akar tumbuhan Bauhinia purpurea yang memiliki bioaktivitas antibakteri.

Selain itu Herlina (2009) juga mengiisolasi tiga senyawa turunan steroid yaitu

(12) β-sitosterol, (13) 5,8,9,10,13,22-heksametil-20-en-kolan-15-ol, dan (14)

(22E)-5α,8α-epidioksierosta-6,22-dien-3β-ol dari tanaman Erythrina variegata

sebagai antikanker.

ii
13

D. Senyawa Metabolit Sekunder Tanaman Jengkol

Menurut Rizal dkk. (2016) hasil uji skrining fitokimia dari ekstrak etanol kulit

buah jengkol positif mengandung alkaloid, terpenoid, flavanoid, tannin, steroid,

triterpenoid, dan saponin. Lee et al., (1992) melaporkan hasil isolasi ekstrak

aseton daun jengkol (A. jiringa) diperoleh lima senyawa derivat flavan-3-ol tiga

diantaranya senyawa baru yaitu (15) flavan-3-ol-galat, (16) 3-galokatekin dan 4-

O-galat serta dua senyawa gabungan (17) 3,7-galokatekin dan (18) 4,7-di-O-galat.

Selain itu dari ekstrak aquades diperoleh senyawa (19) 3-O-galat.

ii
14

E. Efek Farmakologi Tanaman Jengkol

Hasil uji aktivitas antidiare ekstrak etanol 70% kulit buah jengkol (A. jiringa)

terhadap mencit jantan yang diinduksi oleum ricini menunjukkan bahwa ekstrak

etanol 70% kulit buah jengkol memberikan aktivitas antidiare non spesifik.

Kandungan senyawa metabolit tersebut adalah tanin, flavonoid, dan steroid.

Ekstrak etanol kulit buah jengkol 1,2 mg/g BB mempunyai efek yang lebih kuat

dalam menekan diare dan memberikan aktivitas optimum sebagai antidiare non

spesifik (Rizal dkk., 2016).

Berdasarkan penelitian (Salni dkk., 2011) daun jengkol memilki tingkat aktivitas

antibakteri cukup kuat dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dan


ii
E. coli berturut-turut adalah 160 µg/mL dan 200 µg/mL. Menurut Cholisoh dan
15

Utami (2008) terdapat aktivitas penangkap radikal dan antioksidan dari ekstrak

etanol 70% biji jengkol dengan mengukur daya tangkap ekstrak etanol 70%

terhadap radikal stabil DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) serta pembanding

berupa vitamin C.

Hutauruk (2010) telah melakukan isolasi kulit buah jengkol, senyawa yang telah

dimurnikan diperoleh dalam bentuk gum berwarna cokelat 185 mg dan

disimpulkan sebagai senyawa flavonoid. Juariah dan Oktaviyani (2015) juga

melakukan uji aktivitas antifungi ekstrak etanol kulit jengkol terhadap jamur

Candida albicans. Hasil menunjukkan mengandung senyawa senyawa saponin,

tannin dan flavonoid. Ekstrak etanol kulit jengkol memiliki kemampuan sedang

dalam menghambat pertumbuhan jamur C. albicans yakni berkisar antara 9 mm-

12,33 mm.

F. Bakteri

Bakteri adalah sel prokariotik yang khas, uniselular, pleomorfik dan tidak

mengandung struktur yang terbatasi membran di dalam sitoplasmanya. Sel-selnya

secara khas berbentuk bola (kokus), batang (basilus), atau spiral (spirilium).

Ukurannya berkisar antara 0,1 sampai 0,3 mm dengan diameter sekitar 0,5 sampai

1,0 mm. Berdasarkan pewarnaan gram, bakteri dibagi menjadi dua yaitu bakteri

Gram positif dan Gram negatif. Keduanya mempunyai respon yang berbeda

terhadap antibiotik karena adanya perbedaan struktur dan komposisi dari dinding

selnya. Bakteri Gram negatif mengandung lipid, lemak atau substansi seperti

lemak dalam persentasi lebih iitinggi daripada yang dikandung bakteri Gram

positif. Dinding sel bakteri Gram negatif lebih tipis dibanding bakteri Gram
16

positif. Sel bakteri Gram positif memiliki dinding sel yang terdiri atas lapisan

peptidoglikan yang tebal dimana di dalamnya mengandung senyawa teikoat dan

asam teikuronat. Struktur bakteri Gram negatif memiliki membran lapisan luar

yang menyelimuti lapisan tipis peptidoglikan, struktur luar peptidoglikan ini

adalah lapisan ganda yang mengandung fosfolifid, protein dan lipopolisakarida

(LPS). LPS terletak pada lapisan luar dan merupakan karakteristik bakteri Gram

negatif (Brooks et al., 2013).

G. Antibakteri

Antibakteri adalah zat yang digunakan sebagai pembasmi bakteri khususnya

bakteri yang merugikan manusia (Staf Pengajar Departemen Farmakologi, 2009).

Bahan antimikroba dapat dibedakan secara fisik atau kimia dan berdasarkan

penggunaannya dapat berupa desinfektan, antiseptic, sterilizer, sanitizer, dan

sebagainya. Aktivitas senyawa antibakteri dipengaruhi oleh pH, suhu, stabilitas

senyawa tersebut, jumlah bakteri yang ada, lamanya inkubasi, dan aktivitas

metabolisme bakteri (Madigan et al., 2015).

Mekanisme penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri oleh senyawa

antibakteri dapat berupa perusakan dinding sel dengan cara menghambat

pembentukannya atau mengubahnya setelah selesai terbentuk, perubahan

permeabilitas membran sitoplasma sehingga menyebabkan keluarnya bahan

makanan dari dalam sel, perubahan molekul protein, dan asam nukleat,

penghambatan kerja enzim dan penghambatan sintesis asam nukleat serta protein.

Aktivitas daya hambat bakteriii dinyatakan berdasarkan zona bening yang

dihasilkan di sekitar paperdisk. Diameter zona hambat pertumbuhan bakteri


17

diukur dalam satuan mm dan dijadikan ukuran kuantitatif untuk ukuran zona

hambat. Efektifitas dari bahan aktif, ditentukan oleh perbandingan diameter zona

hambat dengan nilai standar. Aktivitas tersebut dikelompokkan menjadi 4

kategori yaitu : aktivitas lemah (<5mm), sedang (5–10 mm), kuat (>10–20 mm),

sangat kuat (>20–30 mm).

H. Uji Aktivitas Antibakteri

Uji aktivitas antibakteri dapat dilakukan dengan metode difusi dan metode

pengenceran. Disc diffusion test atau uji difusi disk dilakukan dengan mengukur

diameter zona bening (clear zone) yang merupakan petunjuk adanya respon

penghambatan pertumbuhan bakteri oleh suatu senyawa antibakteri dalam ekstrak

(Scholar and William, 2000). Aktivitas antimikroba diukur secara in vitro untuk

menentukan potensi zat antibakteri dalam larutan, konsentrasinya dalam cairan

tubuh atau jaringan dan kepekaan suatu bakteri terhadap konsentrasi obat yang

digunakan. Metode yang digunakan untuk uji aktivitas antimikroba secara in vitro

ada dua macam, yaitu metode difusi dan metode dilusi.

1. Metode Difusi

Pada metode ini sampel akan berdifusi ke lempeng agar yang telah ditanami

bakteri. Teknik ini dilakukan dengan menginokulasikan mikroba secara merata

diseluruh media permukaan agar, selanjutnya ditempatkan di atas permukaan agar.

Setelah waktu inkubasi selama 18-24 jam akan terbentuk zona hambat di

sekeliling sampel. Pengamatan


ii didasarkan ada atau tidaknya zona hambatan
pertumbuhan bakteri disekeliling kertas cakram. Zona hambat ditampakkan oleh
18

aktivitas senyawa aktif yang terdapat di dalam bahan yang diperiksa terhadap

pertumbuhan mikroorganisme uji (Jawetz and Adelberg, 1986).

2. Metode Dilusi

Metode ini digunakan untuk menentukan Konsentrasi Hambatan Minimum

(KHM) sampel antimikroba terhadap mikroba. Teknik ini dilakukan dengan cara

mencampurkan zat antimikroba dengan media yang diinokulasikan dengan

mikroba. Pengamatannya didasarkan ada tidaknya pertumbuhan mikroba.

Berdasarkan media yang digunakan, metode ini dibagi menjadi dua yaitu

penipisan lempeng agar dan pengenceran tabung.

Pada penipisan lempeng agar, zat antibakteri yang akan diuji dilarutkan terlebih

dahulu dalam air suling steril atau pelarut steril lain yang sesuai. Kemudian

dilakukan pengenceran secara serial dengan kelipatan dua sampai kadar terkecil

yang dikehendaki. Hasil pengenceran dicampur medium agar yang telah

dicairkan dan didinginkan pada suhu 45ºC sampai 50ºC. Selanjutnya dituang ke

dalam cawan petri steril, dibiarkan dingin dan membeku. Lalu diinkubasikan

pada suhu 37ºC selama 30 menit. Pada tiap cawan petri diinokulasikan dengan

suspensi kuman yang mengandung kira-kira 105 sampai 106 sel kuman/mL.

Untuk setiap seri pengenceran digunakan kontrol negatif.

Pada pengenceran tabung, zat antibakteri dilarutkan dalam pelarut yang sesuai,

kemudian diencerkan dengan kaldu berturut-turut pada tabung-tabung yang

disusun dalam satu deret terkecil yang dikehendaki, dengan metode Kerby
ii
Bauwer yang dimodifikasi. Tiap tabung yang berisi 1 mL campuran dengan
19

berbagai kadar tersebut diinokulasikan dengan suspensi kuman yang mengandung

kira-kira 105 sampai 106 sel kuman/mL. Diinkubasikan selama 18 sampai 24 jam

pada suhu 37ºC. Sebagai kontrol gunakan paling sedikit satu tabung cair dengan

inokulum bakteri tersebut. KHM yaitu konsentrasi terkecil dari obat yang

menghambat pertumbuhan bakteri, sehingga tabung kaldu dengan konsentrasi

sampel antibakteri tersebut kelihatan jernih dan tidak memperlihatkan

pertumbuhan bakteri bila dibandingkan dengan kontrol (Lorian, 2005).

I. Isolasi Senyawa Fabaceae

1. Isolasi

Isolasi merupakan suatu proses memisahkan senyawa aktif atau kompenen

tertentu dari komponen lain yang tidak diinginkan dan berkembang menjadi

ekstraksi. Ekstraksi yaitu metode yang digunakan untuk memisahkan senyawa

aktif atau komponen yang diinginkan berdasarkan prinsip perpindahan massa

komponen zat ke dalam pelarut yang dimulai dari pelapisan antar muka kemudian

berdifusi masuk ke dalam pelarut. Banyak faktor yang berpengaruh dalam

ekstraksi suatu senyawa metabolit sekunder diantaranya adalah waktu ekstraksi,

suhu, jenis dan komponen pelurut serta perbandingan pelarut terhadap bahan yang

akan diekstraksi (Satishkumar et al., 2008).

2. Ekstraksi

Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan dari campurannya dengan

menggunakan pelarut yang sesuai


ii dan dihentikan ketika tercapai kesetimbangan

antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman.
20

Ekstrak awal sulit dipisahkan melalui teknik pemisahan tunggal sehingga perlu

dipisahkan ke dalam fraksi yang memiliki polaritas dan ukuran molekul yang

sama (Mukhriani, 2014).

Pada penelitian ini digunakan metode maserasi. Maserasi merupakan metode

sederhana yang paling banyak digunakan. Cara ini sesuai, baik untuk skala kecil

maupun skala industri (Nugroho, 2017). Metode ini dilakukan dengan

memasukkan serbuk tanaman dan pelarut yang sesuai ke dalam wadah inert yang

tertutup rapat pada suhu kamar. Proses ini sangat menguntungkan karena terjadi

pemecahan dinding dan membran sel akibat perbedaan tekanan antara di dalam

dan di luar sel sehingga senyawa metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma

akan terlarut dalam pelarut organik dan ekstrasi senyawa akan sempurna karena

dapat diatur lama perendaman yang dilakukan (Lenny, 2006).

3. Kromatografi

Kromatografi merupakan suatu teknik pemisahan campuran didasarkan atas

perbedaan distribusi dari komponen-komponen campuran tersebut diantara dua

fase yaitu fase diam (padat atau cair) dan fase gerak (cair atau gas). Bila fase

diam berupa zat padat yang aktif, dikenal dengan kromatografi penyerapan

(adsorption chromatography). Bila fase diam berupa zat cair, disebut

kromatografi pembagian (partition chromatography). Pada penelitian ini akan

digunakan beberapa jenis metode kromatografi serta analisis kemurnian. Metode

kromatografi yang digunakan antara lain kromatografi cair vakum (KCV),

ii dan kromatografi kolom (KK).


kromatografi lapis tipis (KLT)
21

a. Kromatografi Cair Vakum (KCV)

KCV merupakan salah satu kromatografi vakum khusus yang biasanya

menggunakan silika gel sebagai adsorben. Kelebihan KCV jika dibandingkan

dengan kromatografi kolom biasa terletak pada kecepatan proses (efisiensi waktu)

karena proses pengelusian dipercepat dengan memvakumkan kolom selain dapat

memisahkan sampel dalam jumlah banyak. Pemilihan jenis silika gel yang tepat

merupakan faktor yang sangat penting untuk mendapatkan hasil pemisahan yang

baik. Ukuran partikel silika gel yang terlalu kecil akan menyebabkan proses elusi

berjalan sangat lambat. Urutan eluen yang digunakan dalam kromatografi cair

dimulai dari eluen dengan tingkat kepolaran rendah kemudian kepolarannya

ditingkatkan secara perlahan-lahan (Hostettmann et al., 1986 ).

b. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Kromatografi lapis tipis merupakan suatu metode pemisahan fisikokimia dengan

menggunakan lapisan pemisah (fase diam). Campuran yang akan dipisah berupa

larutan yang ditotolkan baik berupa bercak ataupun pita (Madigan et al., 2015).

Pemilihan fasa gerak yang tepat sangat menentukan keberhasilan analisis dengan

KLT. Sifat-sifat pelarut pengembang merupakan faktor dominan dalam

penentuan mobilitas komponen-komponen campuran. Kemampuan suatu pelarut

pengembang untuk menggerakkan senyawa pada suatu adsorben berhubungan

dengan polaritas pelarut disebut elusi. Urutan kepolaran eluen, elusi senyawa dan

kekuatan adsorben dalam kromatografi disajikan pada Tabel 1.

ii
22

Tabel 1. Urutan kepolaran eluen, elusi senyawa, dan kekuatan adsorben dalam
kromatografi (Sudjadi, 1985).

Urutan Polaritas Eluen Urutan Elusi Senyawa Urutan Adsorben


Petroleum eter Hidrokarbon tak jenuh Selulosa
Karbon tetraklorida Alkena Gula
Benzena Hidrokarbon aromatic Asam silica (Silika gel)
Kloroform Eter Florisil (Magnesium
silikat)
Dietil eter Aldehida, Keton, Ester Alumunium oksida
Etil asetat Alkohol
Aseton Asam karboksilat
Etanol
Metanol
Air

Pendeteksian bercak hasil pemisahan dapat dilakukan dengan beberapa cara.

Untuk senyawa tak berwarna dilakukan pengamatan dengan sinar ultraviolet.

Beberapa senyawa organik bersinar atau berfluorosensi jika disinari dengan sinar

ultraviolet gelombang pendek (254 nm) atau gelombang panjang (366 nm), jika

dengan cara itu senyawa tidak dapat dideteksi maka harus dicoba disemprot

dengan pereaksi yang membuat bercak tersebut tampak Menurut Mulja dan

Suharman (1995), perilaku senyawa tertentu di dalam sistem kromatografi tertentu

dinyatakan dengan harga Rf (faktor retardasi). Faktor retardasi untuk tiap-tiap

noda kromatogram dapat didefenisikan sebagai:

jarak yang ditempuh solut


Rf=
jarak yang ditempuh fase gerak

ii
23

c. Kromatografi Kolom

Pada kromatografi kolom sampel sebagai lapisan terpisah diletakkan di atas fase

diam. Sampel dihomogenkan dengan fase diam sehingga merupakan serbuk

kering, di atas lapisan ini dapat diletakkan pasir untuk menjaga tidak terjadinya

kerusakan ketika ditambahkan fase gerak di atas lapisan sampel. Fase diam dan

sampel ini berada di dalam kolom yang biasanya dibuat dari gelas, logam ataupun

plastik. Selama elusi fase gerak dialirkan dari atas, mengalir karena gaya gravitasi

atau ditekan dan juga disedot dari arah bawah. Komponen sampel akan terpisah

selama bergerak dibawa fase gerak di dalam kolom (fase diam). Komponen yang

paling tidak tertahan oleh fase diam akan keluar lebih dahulu dan diikuti oleh

komponen lain. Semuanya ditampung sebagai fraksi, volume tiap fraksi

tergantung besarnya sampel (kolom). Kromatografi kolom diterapkan secara luas

untuk pemisahan senyawa-senyawa hasil alam khususnya metabolit sekunder

(Ibrahim dkk., 2013)

d. High Performance Liquid Cromatography (HPLC)

Berdasarkan fase gerak yang digunakan, kromatografi dibedakan menjadi dua

golongan besar yaitu kromatografi gas (gas chromatography) dan kromatografi

cair (liquid chromatography). Terdapat dua macam variasi yang digunakan dalam

HPLC tergantung pada polaritas dari pelarut dan fase diam, yaitu :

1. Fase normal

Kolom (fase diam) diisiiidengan partikel silika, dan menggunakan pelarut

non polar seperti heksan. Kolom yang digunakan memiliki diameter dalam
24

4,6 mm (atau lebih kecil) dan memiliki panjang 150-250 mm. Campuran

senyawa polar akan tertahan lebih lama di dalam kolom dibandingkan

dengan senyawa non polar. Sehingga senyawa non polar akan keluar dari

kolom lebih cepat dibandingkan dengan senyawa polar (Harmita, 2006).

2. Fase terbalik

Pada HPLC fase terbalik, ukuran kolom yang digunakan sama dengan fase

normal, namun partikel silika diganti dengan senyawa non polar yang

mempunyai rantai karbon yang panjang, umumnya C8 atau C18. Pelarut

yang digunakan adalah yang bersifat polar, seperti campuran air dan

alkohol, contohnya metanol. Pada fase ini terdapat interaksi antara pelarut

polar dengan senyawa polar dalam campuran bahan, senyawa polar dalam

bahan tidak akan tertahan di dalam kolom, karena kolom bersifat non polar

sehingga senyawa polar akan keluar lebih cepat dari kolom. HPLC fase

terbalik merupakan jenis yang umum digunakan dalam analisis dengan

HPLC.

Alat HPLC terdiri dari beberapa komponen, diantaranya pompa, injektor,

detektor, dan perangkat pengolah data. Sistem yang paling sederhana terdiri

dari sebuah pompa isokratik, injektor manual, detektor UV dan perekam

pengolah data. Konfigurasi seperti ini jarang di laboratorium farmasi

modern, yang cenderung memiliki instrumen yang lebih tinggi untuk presisi

yang lebih baik, produktivitas dan kepatuhan terhadap peraturan.

Fase gerak pada HPLC iimerupakan salah satu pengubah yang mempengaruhi

pemisahan. Variasi fase gerak pada HPLC sangat beragam dalam hal
25

kepolaran dan selektivitasnya terhadap komponen dalam sampel. Fase

gerak atau eluen biasanya terdiri atas campuram pelarut yang dapat

bercampur yang secara keseluruhan dapat berperan dalam daya elusi dan

resolusi. Daya elusi dan resolusi ini ditentukan oleh polaritas keseluruhan

pelarut, polaritas fase diam, dan sifat komponen-komponen sampel.

Senyawa yang akan dipisahkan harus larut dalam pelarut yang akan

digunakan. Pelarut ini tidak tepat sama dengan eluen yang digunakan, akan

tetapi pelarut tersebut harus dapat larut di dalam eluen (Putra, 2004).

Waktu yang dibutuhkan oleh senyawa untuk bergerak melalui kolom

menuju detektor disebut sebagai waktu retensi (tR). Waktu retensi diukur

berdasarkan waktu dimana sampel diinjeksikan sampai sampel

menunjukkan ketinggian puncak yang maksimum dari senyawa itu,

sedangkan waktu yang diperlukan oleh fase gerak (pelarut) untuk melewati

kolom disebut dengan tM atau waktu retensi zat inert (contoh: pelarut)

(Harmita, 2006).

J. Karakterisasi Senyawa secara Spektroskopi

Salah satu teknik yang dapat digunakan dalam penentuan struktur dari suatu

senyawa organik adalah teknik spektroskopi. Teknik spektroskopi ini didasarkan

pada interaksi antara radiasi elektromagnetik. Radiasi elektromagnetik tersebut

dapat berupa radiasi sinar γ, sinar-X( X-ray), UV-Vis (ultra ungu-tampak), infra

merah (IR), gelombang mikro dan gelombang radio (Harvey, 2000). Metode

ii penelitian ini antara lain, spektroskopi ultraungu-


spektroskopi yang dipakai pada
26

tampak (UV-Vis), spektroskopi inframerah, spektroskopi resonansi magnetik inti

(RMI).

1. Spektroskopi Ultraungu–tampak (UV-Vis)

Pada spektoskopi UV-Vis senyawa yang dianalisis mengalami transisi elektronik

akibat penyerapan sinar tampak dan ultraviolet oleh senyawa yang dianalisis.

Transisi tersebut pada umumnya antara orbital ikatan, orbital non-ikatan atau

orbital anti-ikatan. Panjang gelaombang serapan yang muncul merupakan ukuran

perbedaan tingkat-tingkat energi dari orbital suatu molekul. Umumnya spektrum

UV-Vis berbentuk pita melebar dikarenakan energi yang diadsorbsi selain

menyebabkan transisi elektronik, terjadi pula transisi rotasi elektron dan vibrasi

elektron ikatan dalam molekul (Suhartati, 2017).

Teknik analisis ini menggunakan sumber radiasi elektromagnetik ultraviolet dekat

(190-380) nm dan sinar tampak (380-780) nm. Kegunaan spektrofotometer UV-

Vis untuk mengukur jumlah ikatan rangkap atau konjugasi aromatik di dalam

suatu molekul. Spektrofotometer ini dapat secara umum membedakan diena

terkonjugasi dari diena tak terkonjugasi, diena terkonjugasi dari triena dan

sebagainya. Letak serapan dipengaruhi oleh subtituen dan terutama yang

berhubungan dengan subtituen yang menimbulkan pergeseran dalam diena

terkonjugasi dari senyawa karbonil (Suhartati, 2017).

Absorptivitas molar senyawa dihitung dengan menggunakan persamaan Lambert-

Beer berikut:
ii
27

𝐴
A = ε b c atau ε =
𝑏.𝑐

Keterangan: A = absorbansi
ε = absorptivitas molar
b = tebal sel (cm)
c = konsentrasi (mol/liter)

Absorbansi (A) ini diperoleh dari data spektrum dimana terdapat puncak-puncak

serapannya. Tebal sel (b) adalah ketebalan sel dalam alat yang digunakan,

sedangkan konsentrasi (c) dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan:

𝑚𝑜𝑙 𝑔
Konsentrasi (c) = =
𝐿 𝐵𝑀.𝐿

Keterangan: g = Massa senyawa hasil isolasi (gram)


BM = Berat molekul relatif (gram/mol)
L = Volume larutan yang digunakan (L)
(Suhartati, 2017).

2. Spektroskopi Inframerah (IR)

Spektroskopi IR merupakan suatu analisis senyawa organik dan anorganik yang

berdasarkan pada interaksi antara gelombang elektromagnetik infra merah dengan

materi. Molekul-molekul senyawa pada sampel akan menyerap seluruh atau

sebagian radiasi yang diakibatkan adanya sejumlah vibrasi terkuantisasi dari

atom-atom yang berikatan secara kovalen pada molekul-molekul itu. Spektra IR

absorpsi yang bersifat aditif atau sebaliknya dikarnakan overtone dari vibrasi-

vibrasinya. Dengan demikian, jenis ikatan yang berlainan (C-H, C-C, atau O-H)

menyerap radiasi IR pada panjang gelombang yang berlainan. Serapan


ii
Inframerah memiliki kerakteristik frekuensi uluran beberapa gugus fungi Tabel 2.
28

Tabel 2. Karakteristik frekuensi uluran beberapa gugus fungsi

Konstanta Daerah Adsorpsi (cm-1)


Jenis Ikatan
Kekuatan Perhitungan Penelitian

C-O 5 x 105 1113 1300 – 800


C-C 4,5 x 105 1128 1300 – 800
C-N 4,9 x 105 1135 1250 – 1000
C=C 9,7 x 105 1657 1900 – 1500
C=O 12,1 x 105 1731 1850 -1600
C≡C 15,6 x 105 2101 2150 – 2100
C-D 5 x 105 2225 2250 – 2080
C-H 5 x 105 3032 3000 – 2850
OH 7 x 105 3553 3800 – 2700

(Silverstein et al., 2005).

3. Spektroskopi Resonansi Magnetik Inti (RMI)

Spektroskopi resonansi magnetik inti adalah teknik yang memanfaatkan sifat

magnetik dari inti tertentu. Metode spektroskopi jenis ini didasarkan pada

penyerapan energi oleh partikel yang sedang berputar di dalam medan magnet

yang kuat (Silverstein et al., 2005). Informasi yang diberikan oleh sinyal-sinyal

pada resonansi magnetik inti ini cukup banyak, digunakan untuk mengidentifikasi

suatu struktur senyawa atau rumus bangun molekul senyawa organik. Beberapa

pergeseran kimia senyawa organik dapat dilihat pada Tabel 3.

ii
29

Tabel 3. Pergeseran kimia untuk proton dalam molekul organik.

Jenis Senyawa 1H-NMR (ppm) 13C

Alkana 0.5-1.3 5-35


Monosubtitusi 2-5 25-65
alkana 3-7 20-75
Disubtitued alkanes -0.5-0.5 0-10
Cyclopropyl 2-3 42-70
R__CH2__NR2 2-3 20-40
R__CH2__SR2 2.2-3.2 50-75
R__CH2__PR2 3.5-4.5 50-75
R__CH2__OH 4-4.6 70-85
R__CH2__NO2 4.2-5 70-80
R__CH2__F 3-4 25-50
R__CH2__Cl 2.5-4 10-30
R__CH2__Br 2-4 -20-0
R__CH2__I 2.2-2.7 35-45
Epoxida - 100-120
Nitril 4.5-7.5 100-150
Alkena 1.6-2.1 18-30
Alilik 2-3 75-95
Alkuna 6-9 110-145
Aromatik 2.2-2.8 18-30
Benzilik 10-13 160-180
Asam - 160-175
Ester 5-9 150-180
Amida 9-11 185-205
Aldehida - 190-220
Keton 4-6 -
(Silverstein et al., 2005).

ii
30

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2018 – Februari 2019, bertempat di

Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia FMIPA Universitas Lampung

meliputi tahapan ekstraksi dan isolasi. Pengujian antibakteri dilakukan di

Laboratorium Biokimia Jurusan Kimia FMIPA Universitas Lampung. Analisis

spektroskopi yang digunakan spektroskopi Ultraungu-Tampak (UV-Vis)

dilakukan di Laboratorium Biokimia Jurusan Kimia FMIPA Universitas

Lampung, spektroskopi Infra Merah (IR) dan High Performance Liquid

Chromatography (HPLC) dilakukan di Unit Pelayanan Teknis Laboratorium

Terpadu dan Sentra Inovasi Teknologi (UPT LT-SIT), Universitas Lampung serta

Resonansi Magnetik inti (RMI) dilakukan di The Oregon State University Nuclear

Magnetic Resonance Facility, USA.

B. Alat dan Bahan

1. Alat-alat yang digunakan

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini meliputi; alat isolasi diantaranya

alat-alat gelas, penangas air, oven, batang pengaduk, peralatan destilasi, rotary
ii
evaporator, lampu UV, pipet kapiler, oven, chamber, satu set alat Kromatografi
31

Cair Vakum (KCV), satu set alat Kromatografi Kolom (KK). Alat-alat untuk

karakterisasi adalah spektrofotometer FT-IR, spektrofotometer ultraungu-tampak

(UV-Vis), spektroskopi RMI, dan HPLC. Alat-alat untuk uji bioaktivitas

antibakteri seperti autoclave, Laminar Air Flow (LAF), cawan petri, tabung

reaksi, jarum ose, bunsen, pipet mikro, inkubator, dan gelas beaker.

2. Bahan-Bahan yang Digunakan

Bahan yang digunakan adalah kulit batang tumbuhan jengkol (A. jiringa) yang

telah dikeringkan dan dihaluskan, diperoleh dari Desa Purworejo, Kecamatan

Kotagajah, Kabupaten Lampung Tengah pada bulan November 2017. Bahan

kimia yang dipakai meliputi etil asetat (EtOAc), metanol (MeOH), n-heksana (n-

C6H14), aseton (C3H6O2), akuades (H2O), serium sulfat 1,5% dalam asam sulfat

(H2SO4) 2 N, diklorometana (CH2Cl2), silika gel Merck G 60, silika gel 60 GF

254 (35-70 Mesh), plat KLT, kertas saring, media Nutrient Agar (NA),

kloramfenikol, sebagai kontrol positif dan metanol sebagai kontrol negatif.

Mikroba uji yang digunakan yaitu E. coli dan B. Subtillis.

C. Prosedur Penelitian

1. Persiapan Sampel

Determinasi tumbuhan dilakukan di Herbarium Bogoriensis bidang Botani Pusat

Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cibinong, Jawa

Barat (Lampiran 5). Kulit batang jengkol dicuci bersih dengan air dan dipotong

kecil-kecil kemudian dikeringkan


ii dengan cara dijemur di bawah panas sinar
matahari sampai kering. Kulit batang yang telah kering digiling menjadi serbuk
32

halus kemudian digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini. Bagan diagram

isolasi dijelaskan pada Lampiran 1.

2. Ekstraksi dengan Berbagai Pelarut

Sebanyak 3000 g serbuk kulit batang jengkol (A. jiringa) dimaserasi dengan tiga

pelarut yaitu n-heksana selama 1x 24 jam dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan,

perlakuan yang sama juga dilakukan menggunakan pelarut etil asetat dan metanol.

Ketiga ekstrak hasil maserasi disaring dengan kertas saring. Masing-masing

filtrat yang diperoleh dipekatkan dengan rotary evaporator. Ekstrak pekat yang

didapat kemudian dikeringkan lalu ditimbang. Selanjutnya dilakukan uji

antibakteri dengan metode difusi untuk mengetahui ekstrak kasar yang memiliki

bioaktivitas antibakteri paling baik dipilih untuk isolasi lebih lanjut.

3. Uji Aktivitas Antibakteri

Pada uji aktivitas antibakteri digunakan bakteri E. coli dan B.subtilis. Uji

antibakteri pada penelitian ini dilakukan untuk menentukan fraksi terbaik yang

memiliki bioaktivitas besar dari hasil fraksinasi untuk dilanjutkan pada proses

isolasi lebih lanjut. Metode yang digunakan adalah metode difusi agar. Hal

pertama dilakukan adalah sterilisasi alat dan media menggunakan autoclave

selama 15 menit. Media pertumbuhan yang digunakan adalah Nutrien Agar (NA).

Sebanyak 2,8 g NA dilarutkan dalam 100 mL kemudian dipanaskan dan

disterilkan dalam autoclave pada teperatur 121ºC dengan tekanan 1 atam selama

15 menit. Media NA steril kemudian


ii dituang sebanyak 15mL/ cawan petri yang

telah disterilisasi dalam Leminar Air Flow (LAF). Sebanyak 3 kertas cakram
33

diletakkan pada permukaan media. Seluruh perlakuan antibakteri dilakukan

dalam LAF dan diberi sinar UV selama 3 menit. Kertas cakram yang digunakan

ada 3 jenis yang berisi (1) kontrol negatif berupa metanol, (2) kontrol positif

berupa kloramfenikol, dan (3) sampel senyawa hasil isolasi. Sampel senyawa

hasil isolasi dibuat variasi konsentrasi yaitu 0,5 mg/disk dan 0,4 mg/disk.

Perhitungan variasi konsentrasi sampel dapat dilihat pada Lampiran 2. Pengujian

ini diinkubasi selama 1x24 jam pada suhu 25-300C, lalu diamati untuk melihat

dan menghitung zona hambatnya (Jawetz and Adelberg, 1986).

4. Kromatografi

a. Kromatografi Cair Vakum (KCV)

Ekstrak kasar kemudian difraksinasi dengan KCV. Terlebih dahulu fasa diam

silika gel halus sebanyak 3 kali berat sampel dimasukkan ke dalam kolom.

Kemudian kolom dikemas kering dalam keadaan vakum menggunakan alat

vakum. Eluen yang kepolarannya rendah, dimasukkan ke permukaan silika gel

halus terlebih dahulu kemudian divakum kembali. Kolom dihisap hingga kering

dengan alat vakum dan siap digunakan.

Ekstrak kasar yang telah dilarutkan dalam aseton dan diimpregnasikan kepada

silika gel kasar, kemudian dimasukkan pada bagian atas kolom yang telah berisi

fasa diam dan kemudian dihisap secara perlahan-lahan ke dalam kemasan dengan

cara memvakumkannya. Setelah itu kolom dielusi dengan etil asetat/n-heksana

0% sampai dengan etil asetat 100%. Kolom dihisap dengan vakum sampai kering

ii (tiap kali elusi dilakukan). Kemudian fraksi-fraksi


pada setiap penambahan eluen

yang terbentuk dikumpulkan berdasarkan pola fraksinasinya. Fraksinasi sampel


34

dengan teknik KCV dilakukan berulang kali dengan perlakuan yang sama seperti

tahapan KCV awal di atas (Ajileye et al., 2014). Fraksinasi sampel selalu

dilakukan pada sampel yang memiliki bioaktivitas antibakteri paling baik.

b. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Uji KLT dilakukan terhadap fraksi-fraksi yang akan difraksinasi juga fraksi-fraksi

yang didapat setelah perlakuan fraksinasi. Uji KLT dilakukan menggunakan

sistem campuran eluen menggunakan pelarut n-heksana, etilasetat, aseton,

metanol, dan diklorometana. Hasil kromatogram tersebut kemudian disemprot

menggunakan larutan serium sulfat untuk menampakkan bercak/noda dari

komponen senyawa tersebut. Ketika diperoleh fraksi yang lebih sedikit

bercak/noda dilihat dibawah lampu UV setelah dilakukan elusi terhadap plat KLT.

Setiap fraksi yang menghasilkan pola pemisahan dengan Retention factor (Rf)

yang sama pada kromatogram, digabung dan dipekatkan sehingga diperoleh

beberapa fraksi gabungan yang akan difraksinasi lebih lanjut (Ajileye et al.,

2014).

c. Kromatografi Kolom (KK)

Setelah dihasilkan fraksi-fraksi dengan jumlah yang lebih sedikit, tahapan

fraksinasi selanjutnya dilakukan menggunakan teknik kromatografi kolom.

Adsorben silika gel Merck (35-70 Mesh) dilarutkan dalam pelarut yang akan

digunakan dalam proses pengelusian. Slurry dari silika gel dimasukkan terlebih

dahulu ke dalam kolom, fasa iidiam diatur hingga rapat (tidak berongga) dan rata.

Selanjutnya sampel yang telah diimpregnasi dimasukkan pada silika gel ke dalam
35

kolom yang telah berisi fasa diam. Pada saat sampel dimasukkan, kolom

diusahakan tidak kering/kehabisan pelarut karena akan mengganggu fasa diam

yang telah dikemas rapat, sehingga proses elusi tidak akan terganggu (Ajileye et

al., 2014).

5. Analisis Kemurnian

Uji kemurnian dilakukan dengan metode KLT. Uji kemurnian secara KLT

menggunakan beberapa campuran eluen. Kemurnian suatu senyawa ditunjukkan

dengan timbulnya satu noda dengan berbagai campuran eluen yang digunakan,

kemudian disemprot menggunakan larutan serium sulfat untuk menampakkan

bercak/noda dari komponen senyawa tersebut (Stahl, 1969).

6. Analisis Spektroskopi

a. Spektroskopi Ultraungu–tampak (UV-Vis)

Sampel berupa sub fraksi hasil isolasi sebanyak 1 mg dilarutkan dalam 10 mL

metanol pa. Larutan ini digunakan sebagai persediaan untuk beberapa kali

pengukuran. Sampel diukur serapan maksimumnya dalam metanol.

b. Spektroskopi Inframerah (IR)

Sampel sub fraksi hasil isolasi dianalisis menggunakan spektrofotometer

inframerah. Kristal yang telah murni dibebaskan dari air kemudian digerus

bersama-sama dengan halida anorganik, KBr. Gerusan kristal murni dengan KBr
ii
dibentuk menjadi lempeng tipis atau pelet dengan bantuan alat penekan
36

berkekuatan 8-10 ton per satuan luas, kemudian pelet tersebut diukur puncak

serapannya. Apabila sampel dalam bentuk larutan dapat dilarutkan menggunakan

pelarut organik sebanyak 1 mL serta dalam kondisi pekat. Spektroskopi

Inframerah memberikan informasi yang menunjukkan tipe-tipe dari adanya gugus

fungsi dalam suatu molekul (Sathyadevi and Subramanian, 2015).

c. Spektroskopi Resonansi Magnetik Inti (RMI)

Penentuan struktur senyawa hasil isolasi juga dilakukan dengan menggunakan

NMR. Sampel berupa kristal murni yang akan diidentifikasi dilarutkan ke dalam

pelarut inert yang tidak mengandung proton seperti CCl4 dan CdCl ditambahkan

sedikit senyawa acuan. Larutan ini ditempatkan dalam tabung gelas tipis dengan

tebal 5 mm di tengah-tengah kumparan frekuensi radio (rf) di antara dua kutub

magnet yang sangat kuat kemudian energi dari kumparan rf ditambah secara terus-

menerus. Energi pada frekuensi terpasang dari kumparan rf yang diserap cuplikan

direkam dan memberikan spectrum RMI (Silverstein et al., 2005).

d. High Performance Liquid Cromatography (HPLC)

Sub fraksi sampel hasil isolasi sebanyak 1 mg dilarutkan dalam 1 mL metanol Pa

dan disaring dengan kapas, selanjutnya dianalisis dengan HPLC (Shimadzu)

menggunakan kolom C18. Fase gerak yang digunakan adalah metanol:air (90:10,

v/v) yang diidentifikasi menggunakan detektor UV pada panjang gelombang 230

nm.

ii
60

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka didapatkan

simpulan sebagai berikut :

1. Pada penelitian ini telah diisolasi sub fraksi JG15 sebanyak 19 mg yang

mengandung steroid dan memiliki aktivitas antibakteri terbaik.

2. Randemen sub fraksi JG15 yang diperoleh terhadap ekstrak etil asetat adalah

2,16 x 10-2 %

3. Hasil uji antibakteri menunjukkan bahwa sub fraksi JG15 memiliki aktivitas

antibakteri kategori tinggi pada dua jenis bakteri yaitu bakteri B. Subtillis

sebesar 16,5 mm (0,5 mg/disk) dan 12 mm (0,4 mg/disk) serta E.coli

sebesar 11,5 (0,5 mg/disk) dan 10 mm(0,4 mg/disk).

ii
61

B. Saran

Dari penelitian yang telah dilakukan, saran yang berkaitan dengan penelitian ini

adalah sebagai berikut:

1. Perlu dilakukan isolasi kembali pada kulit batang tumbuhan jengkol dengan

penambahan jumlah sampel yang lebih banyak untuk mendapatkan sub

fraksi JG15.

2. Pada uji bioaktivitas antibakteri perlu memperhatikan konsentrasi, masa

hidup bakteri, dan jenis bakteri yang digunakan agar diperoleh hasil uji

antibakteri yang lebih akurat.

3. Perlu dilakukan pemurnian lebih lanjut untuk mendapatkan senyawa yang

lebih murni dan melakukan karakterisasi serta indentifikasi kembali untuk

memperoleh informasi lebih lengkap mengenai struktur senyawa hasil

isolasi dari kulit batang tumbuhan jengkol.

4. Melakukan uji bioaktivitas lain terhadap senyawa hasil isolasi dari kulit

batang tumbuhan jengkol.

ii
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, S.A. 1986. Buku Materi Pokok Kimia Organik Bahan Alam.
Karunika Universitas Terbuka. Jakarta. Hlm 39.

Ajileye, O.O., E.M. Ubuotor., E.O. Akinkunmi, and M.A. Aderogba. 2014. Sub
fraksiion and Characterization of Antioxidant and Antimicrobial
Compounds from Anacardium occidentale L. (Anacardiaceae) Leaf Extract.
Journal of King Saud University. 27 (3): 244-252.

Alhusna, E. 2017. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder dari Kulit
Akar Tumbuhan Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth). (Skripsi).
Universitas Lampung. Lampung.

Brooks, G.F., K.C. Carroll, J.S. Butel, S.A. Morse, and T.A. Mietzner. 2013.
Jawetz, Melnick, & Adelberg’s Medical Microbiology Twenty-Sixth
Edition. The McGraw-Hill Companies, Inc. USA. Hlm 150-151, 379.

Bunawan, H., L. Dusik., S.N.M. Bunawan, and N.M. Amin. 2013. Botany,
Traditional Uses, Phytochemistry and Pharmacology of Archidendron
jiringa: A Review. Global Journal of Pharmacology. 7 (4): 474–478.

Chaves, O.S., Y.C.F. Teles., M.M.O. Monteiro., I.G.M. Junior., M.F. Agra., V.A.
Braga., T.M.S. Silva. and M.F.V. Souza. 2017. Alkaloids and Phenolic
Compound from Sida rhombifolis L. and Vasorelaxant Activity of Two
Indoquinoline Alkaloids. Molecules. 22 (1): 94.

Cholisoh, Z. dan W. Utami. 2008. Aktivitas Penangkap Radikal Ekstrak Etanol


70% Biji Jengkol (Archidendron jiringa). Pharmacon. 9 (1): 33-34.

Dewick, P.M. 2009. Medicinal Natural Products, Third Edition. John Wiley and
Sons, Inc. United States of America.

Dzoyem, J.P., R. Melong., A.T. Tsamo., A.T. Tchinda., D.G.W.F. Kapche., B.T.
Ngadjul., L.J. McGaw. and J.N. Eloff. 2017. Cytotoxicity, Antimicrobial
and Antioxidant Activity of Eight Compounds Sub fraksied from Entada
abyssinica (Fabaceae). BMC Research Notes. 10: 118.
63

Hanani, E., A. Mun’im, dan R. Sekarini. 2005. Identifikasi Senyawa Antioksidan


dalam Spons Callyspongia Sp dari Kepulauan Seribu. Majalah Ilmu
Kefarmasian. 2 (3): 127-133.

Harmita. 2006. Buku Ajar Analisis Fisikokimia. Departemen Farmasi FMIPA


Universitas Indonesia. Depok. 144-161.

Hartanto, B.A., N. Carolia., dan M. Maulana. 2018. Pengaruh Ekstrak Etanol 96


% Biji Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth) terhadap Gambaran
Histopatologi Pankreas Tikus Putih (Rattus norvegicus) Jantan Galur
Sprague dawley (Skripsi). Universitas Lampung. Lampung.

Harvey, D. 2000. Modern Analytical Chemistry. McGraw-Hill Companies, Inc.


United States of America.

Herlina, T. 2009. Senyawa Antikanker dari Dadap Ayam (Erythrina variegata).


Indonesian Journal of Cancer. 3 (4): 153.

Hostettmann, K., M. Hostettmann, and A. Marston. 1986. Preparative


Chromatography Techniques. Springer. Jerman.

Hutauruk, J.E. 2010. Isolasi Senyawa Flavonoida dari Kulit Buah Tumbuhan
Jengkol (Pithecollobium Lobatum Benth.). (Skripsi). Universitas Sumatra
Utara. Medan.

Ibrahim., H.M. Sanusi., Sitorus, dan Marham. 2013. Teknik Laboratorium Kimia
Organik. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Jawetz, E., L.J. Melnick, dan A.E. Adelberg. 1986. Mikrobiologi untuk Profesi
Kesehatan ed 16, terjemahan Tonang, H. EGC Penerbit Buku kedokteran.
Jakarta. Juariah, S. dan S. Oktaviyani. 2014. The Activity Test of Ethanol
Extract Jengkol Skin (Pithecellobium jiringa) to Inhibit of Fungus Growth
Candida albicans. SCI-003.1: 1-2.

Jawetz, E., Melnick, J.L., Adelberg E.A. 1986. Mikrobiologi Untuk Profesi
Kesehatan. EGC. Jakarta.

Juariah, S. dan S. Oktaviyani. 2015. The Activity Test of Ethanol Extract Jengkol
Skin ( Pithecellobium Jiringa ) to Inhibit of Fungus Growth Candida
Albicans. Akademi Analis Kesehatan Yayasan Fajar Pekanbaru. Pekanbaru.

Kurnia, N. 2017. Isolasi Senyawa Metabolit Sekunder dari Akar Tumbuhan


Bunga Kupu-Kupu (Bauhinia purpurea) dan Uji Aktivitas Antibakter
Senyawa Hasil Isolasi. (Skripsi). Universitas Lampung. Lampung.

Lee, M.W., S. Moromoto., G.I.


ii Nonaka, and I. Nishioka. 1992. Flavan-3-ol
Gallates And Proanthocyanidins from Pithecellobium lobatum.
Phytochemistry. 31 (6): 2117-2120.
64

Lenny, S. 2006. Senyawa Terpenoida dan Senyawa Steroida. (Skripsi).


Universitas Sumatra Utara. Sumatra Utara.

Liu, Q., B. Bai., Y. De-po., P. Shi-yi., Z. Long-ping., L. Mai-hui, and Z. Zhi-min.


2017. Three new cassane diterpenes from the seeds of Caesalpinia minax
Hance. Natural Product Research. 6419. 1-7.

Lorian, V. 2005. Antibiotics in Laboratory Medicine, Fifth Edition. Lippincott


Williams and Wilkins. New York.

Maryati., R.S., Fauzia, dan T. Rahayu. 2007. Antibacteria Activity Test of


Ocimum basilicum L. Toward Staphylococcus aureus and Escherechia coli.
Jurnal Penelitian Sains dan Teknologi. 8 (1): 30 – 38.

Manu, R.R.S. 2013. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas (Pluchea
Indica L.) terhadap Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis dan
Pseudomonas aeruginosa. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya.
2 (1): 7-8.

Madigan, M.T., J.M. Martinko., K.S. Bender., D.H. Buchkley, and D.A. Stahl.
2015. Brock Biology of Microorganisms, Fourteenth Edition. Pearson
Education, Inc. United States of America.

Mukhriani. 2014. Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, dan Identifikasi Senyawa Aktif.


Jurnal Kesehatan. 7 (2): 362.

Mulja, M. dan Suharman. 1995. Analisis Instrumen, Cetakan 1. Airlangga


University Press. Surabaya.

Nagegowda, D.A. 2010. Plant Volatile Terpenoid Metabolism: Biosynthetic


Genes, Transcriptional Regulation and Subcellular Compartmentation.
FEBS Letters Journal. 584 (14): 2965-2973.

Norulaini, N.A.N., I.S.M. Zaidul., C.Y.M. Azizi., I. Zhari., M.N. Noramin., F.


Sahena, and A.K.M. Omar. 2010. Supercritical Carbon Dioxide
Fractionation of Pithecellobium jiringan Jack Seed Compositions Using Fast
Gas Chromatography Time of Flight Mass Spectrometry. Journal of Food
Process Engineering. 34: 1746–1758.

Noviany., A. Nurhidayat., S. Hadi., T. Suhartati., M. Aziz., N. Purwitasari, and I.


Susbasman. 2018. Sesbagrandiflorain A and B: Sub fraksiion of Two New
2- arylbenzofurans from The Stem Brak of Sesbania grandiflora. Natural
Product Research.

Nugroho, A. 2017. Buku Ajar Teknologi Bahan Alam. Lambung Mangkurat


University Press. Banjarmasin.
ii
65

Nurussakinah. 2010. Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak


Kulit Buah Tanaman Jengkol (Pithecellobium jiringa (Jack) Prain.) terhadap
Bakteri Streptococcus mutans, Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
(Skripsi). Universitas Sumatra Utara. Sumatra Utara.

Purnomo, H. 2010. Pengantar Pengendalian Hayati. Penerbit Andi. Yogyakarta.

Putra, Effendy D L. 2004. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Dalam Bidang


Farmasi. Universitas Sumatra Utara. Sumatra Utara.

Refdanita., R. Maksum., A. Nurgani, dan P. Endang. 2004. Pola Kepekaan


Kuman Terhadap Antibiotika di Ruang Rawat Intensif Rumah Sakit
Fatmawati Jakarta Tahun 2001–2002. MAKARA Kesehatan. 8 (2). 41-48.

Risnafiani, A.R., E. Rismawati, dan H. Aprilia. 2015. Karakterisasi Daun Buncis


(Phaseolus vulgaris L.) dan Identifikasi Kandungan Senyawa Steroid dengan
Metode Kromatografi Lapis Tipis dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi.
Prosiding Penelitian SPeSIA Unsiba 2015. 2 : 607- 615.

Rizal, M., Yusransyah, dan S.N., Stiani. 2016. Uji Aktivitas Antidiare Ekstrak
Etanol 70% Kulit Buah Jengkol (Archidendron paucifiorum (Benth.)
I.C.Nielsen) terhadap Mencit Jantan yang Diinduksi Oleum Ricini. Jurnal
Ilmiah Manuntung. 2 (2): 131-136.

Saifudin, A. 2014. Senyawa Alam Metabolit Sekunder. Deepublish. Yogyakarta.

Salni., H. Marisa, dan R.W. Mukti. 2011. Isolasi Senyawa Antibakteri dari Daun
Jengkol (Pithecolobium lobatum Benth) dan Penentuan Nilai KHM-nya.
Jurnal Penelitian Sains. 14: 1-2.

Sartinah, A., P. Astuti, dan S. Wahyuono. 2010. Identification of Antibacterial


Compounds Sub fraksied from Leucaena leucocephala (Lam) Leaves.
Majalah Obat Tradisional. 15 (3): 22 – 28.

Sasongko, H. dan W. Asmara. 2002. Pengaruh Minyak Atsiri Dlingo (Acorus


calamus, L.) terhadap Profil Protein Bakteri Gram Positif dan Gram Negatif.
Teknosains. 15 (3): 527-543.

Sathishkumar, T., R. Baskar., S. Shanmugam., P. Rajasekaram., S. Sadasivam,


and V. Manikandan. 2008. Optimization of Flavonoids Extraction from The
Leaves of Tabernaemontana heyneana Wall. Using L16 Orthogonal
Design. Nature and Science. 6 (3): 1545-0740.

Sathyadevi, M. and S. Subramanian. 2015. Extraction, Sub fraksiion and


Characterization of Bioactive Flavonoids from The Fruits of Physalis
peruviana Linn Extract.iiAsian Journal of Pharmaceutical and Clinical
Research. 8 (1): 152-157.
66

Scholar, E.M. and B.P. William. 2000. The Antimicrobial Drugs, Second Edition.
Oxford Univercity Press, Inc. New York.

Silverstein, R.M., F.X. Webster, and D.J. Kiemle. 2005. Spectrometric


Identification of Organic Compound. John Wiley and Sons, Inc. United
States of America.

Sprent, J.I. 2009. Legume Nodulation. A. John Wiley and Sons, Ltd. United States
of America.

Staf Pengajar Departemen Farmakologi. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi.


Buku Kedokteran EGC. Palembang.

Stalh, E. 1969. Thin Layer Chromatography. Springer. Jerman.

Sudjadi. 1985. Penentuan Struktur Senyawa Organik. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Suhartati, T. 2017. Dasar-Dasar Spektrofotometri UV-Vis dan Spektrofotometri


Massa untuk Penentuan Struktur Senyawa Organik. Anugrah Utama
Raharja. Lampung.

Susilowati, D.N., R.D. Hastuti, dan E. Yuniarti. 2007. Isolasi dan Karakterisasi
Aktinomisetes Penghasil Antibakteri Enteropatogen Escherichia coli K1.1,
Pseudomonas pseudomallei 02 05, dan Listeria monocytogenes 5407. Jurnal
AgroBiogen. 3 (1):15-23.

Tukiran, B.E. Hamdani., R. Mahyudi., S. Hidayati. Dan N. Hidayati. 2009.


Beberapa Senyawa Hasil Isolasi dari Kulit Batang Tumbuhan Kedoya.
Jurnal Ilmu Dasar. 10 (2): 236-244.

Widjajanti, V. N. 1996. Obat-Obatan. Kanisius. Yogyakarta.

Yu, X., Z. Qing-qing., Y. Wei-hong., W. Lei., G. Zhi-yong., L. Cheng-Xiong., H.


Hai-bo, and Z. Kun. 2017. Three New Terpenoids from The Eupatorium
chinense. Phytochemistry Letters journal. 20. 224

ii