Vous êtes sur la page 1sur 17

Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya x, x (xxxxx): x-xx

Website: journal.uinsgd.ac.id/index.php/jw
ISSN 2502-3489 (online) ISSN 2527-3213 (print)

Makna Kata “Awliya” dalam Alquran


(Aplikasi Metode Semantik Tosihiko Izutsu)

Harry Hadiyansyah
Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Jl. A.H. Nasution 105 Cibiru, Bandung 40614, Indonesia.
E-mail: hadiyansyahharry@gmail.com
_________________________
In the Qur'an many key terms are found. An understanding of this key term, has a profound effect on the lives of
Muslims. Among the key terms are the word awliya. At this time the meaning and understanding of the word awliya
very much. Where such understanding makes some polemics in Islamic society today. Departing on the matter of
research about this word awliya is done. In order to explain some differences and understanding of the meaning of the
word awliya. The methodology used in this awliya word study is the semantic method. The semantic method itself is
one branch of linguistics that studies the meaning of words in a language. Semantic method used is semantic method
developed by Tosihiko Izutsu. Furthermore, the steps used in this study is to examine the word awliya. In accordance
with the semantic stages of Tosihiko Izutsu. After analyzed in the Qur'an, this awliya word found 81 verses in 30
letters and repetition of words as much as 86 times. The verses are then analyzed to some of the previously mentioned
phases. This study resulted in the conclusion that the basic meaning of the word awliya is the ruler of a case or a
master of something. and its relational meaning is protector, helper, leader, servant of God, friend, and heir. While the
meaning of awliya from these three periods is very diverse it relates to the concept of religion that dipbilanyuf
masyarakt in each period and the development of interpretive methods. While the whole concept of the word awliya
centered on God. By the explanation of Allah is the ruler, the protector of the world and the hereafter.

Keywords:
awliya; semantic; Tosihiko Izutsu;
__________________________

Abstrak
Di dalam Alquran banyak ditemukan istilah-istilah kunci. Pemahaman tentang istilah kunci ini, memiliki efek yang
sangat besar dalam kehidupan umat Muslim. Diantara istilah kunci tersebut adalah kata awliya. Pada saat ini
pemaknaan dan pemahaman tentang kata awliya sangat banyak. Dimana pemahaman tersebut membuat beberapa
polemik di masyarakat islam saat ini. Berangkat atas hal tersebut penelitian tentang kata awliya ini dilakukan. Dengan
tujuan bisa menjelaskan beberapa perbedaan dan pemahaman tentang makna kata awliya. Metodelogi yang digunakan
pada penelitian tentang kata awliya ini adalah metode semantik. Metode semantik itu sendiri adalah salah satu cabang
ilmu linguistik yang mempelajari makna kata pada sebuah bahasa. Metode semantik yang digunakan adalah metode
semantik yang dikembangkan oleh Tosihiko Izutsu. Selanjutnya, langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian
ini adalah meneliti kata awliya. Sesuai dengan tahapan semantik Tosihiko Izutsu. Setelah dianalisis dalan Alquran,
Kata awliya ini ditemukan sebanyak 81 ayat dalam 30 surat serta pengulangan kata sebanyak 86 kali. Ayat ayat
tersebut kemudian dianalisis ke beberapa tahapan yang telah disebutkan sebelumnya. Penelitian ini menghasilkan
kesimpulan bahwa makna dasar kata awliya yaitu penguasa suatu perkara atau yang menguasai sesuatu. dan makna
relasionalnya yaitu pelindung, penolong, pemimpin, hamba Allah, teman, dan ahli waris. Sedangkan makna awliya
dari ketiga periode tersebut sangatlah beragam hal itu berkaitan dengan konsep agama yang dipeganyufg masyarakt
di setiap periode dan perkembangan metode penafsiran. Sedangkan konsep secara keseluruan dari kata awliya berpusat
kepada Allah. Dengan penjelasan Allah lah sang penguasa, pelindung di dunia dan akhirat.

Kata Kunci:
Awliya; semantik; Tosihiko Izutsu.
__________________________
DOI: http://dx.doi.org/10.15575/jw.xxx.xxx
Received: xxxxxx ; Accepted: xxxxxx ; Published: xxxxxxx
Harry Hadiyansyah Makna kata “Awliya” dalam Alquran (Aplikasi Metode
Semantik Tosihiko Izutsu)

A. PENDAHULUAN penyebab, salah satunya adalah pemahaman


Bagi kaum muslim, Alquran adalah Wahyu umat Islam yang beragam tentang makna
dari Allah. Membaca Alquran berarti melihat “Awliya “ dalam ayat Al-Qur’an. Karena
dan mendengar firman Allah .1Dalam berbagai sesungguhnya pemahaman tentang suatu
hal, Umat Islam selalu menggunakan Alquran bahasa sangat berpengaruh terhadap
dan Hadits sebagai pedomannya, baik masalah penghayatan suatu konsep. Serta Jika dilihat
‘Ubudiyyah maupun Masalah Mu’amalah. dari Interrelasi budaya, bahasa dan konsep
Diantara keduanya Alquran merupakan salah adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkkan4
satu sumber hukum Islam yang menduduki Metode semantik yang dicetus oleh
peringkat teratas, dan seluruh ayatnya berstatus Tosihiko Izutsu, memberi gambaran bahwa
Qath’iy Al-Wurud yang diyakini eksistensinya sebuah kosa kata dalam Alquran itu diteliti dari
sebagai Wahyu dari Allah Swt.2 berbagai segi sehingga menghasilkan
Demikian pula dalam hal memilih seorang pengetahuan tentang perubahan, sebuah kata
pemimpin, umat Islam tetap menjadikan baik dari segi teks maupun konteks. Maka dari
Alquran sebagai referensi hukum paling utama. itu pendekatan semantik Tosihiko Izutsu
Jika kita lihat dalam Alquran, diantaranya surat menjadi relevan digunakan dalam mencari
Al-Maidah ayat 51 : makna awliya dalam Alquran.
ُ ‫اَرى أَ ْو ِليَا ََء َبَ ْع‬
‫ض ُه ْم‬ َ َّ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َ َمنُوا ََل تَتَّ ِخذُوا ْاليَ ُهوَدَ َوالن‬
َ ‫َص‬ Dengan demikian penggunaan metode
‫ض َو َم ْن‬ ٍ ‫أَ ْو ِليَا َُء َبَ ْع‬ semantik Tosihiko Izutsu dalam menganalisa
َّ ْ
)51( َ‫ّللاَ ََل يَ ْهدِي القَ ْو َم الظا ِل ِمين‬ َّ ‫يَت ََولَّ ُه ْم ِم ْن ُك ْم فَإِنَّهُ ِم ْن ُه ْم ِإ َّن‬ makna kata awliya menjadi sangat penting
Artinya: “Hai orang-orang yang untuk dilakukan, agar menghasilkan
beriman, janganlah kamu mengambil orang- pemahaman secara menyeluruh tentang makna
orang Yahudi dan Nasrani menjadi kata awliya. Untuk tujuan inilah, maka tulisan
pemimpin-pemimpin(mu) sebahagian ini bermaksud untuk menjelaskan bagaimana
mereka adalah pemimpin bagi sebahagian makna kata awliya dengan menggunakan
yang lain. Barangsiapa diantara kamu metode semantik.
mengambil mereka menjadi pemimpin, maka
sesungguhnya orang itu termasuk golongan B. HASIL DAN PEMBAHASAN
mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi 1. Semantik Alquran
petunjuk kepada orang-orang yang zalim3.
Alquran diturunkan oleh Allah swt ke dunia
Dari ayat di atas bisa dikatakan secara
ini menggunakan bahasa Nabinya, yakni
singkat bahwa menurut terjemah Alquran
bahasa Arab. Setelah pemaparan tentang
kementrian agama menjelaskan bagaiamana
pengertian ilmu semantik sebelumnya bahwa
Allah melarang orang orang muslim untuk
makna adalah menjadi kajian pokok dalam
memilih non muslim sebagai pemimpin.
semantik, maka dengan kata lain ilmu semantik
Akan tetapi hari ini dibeberapa negara yang
bisa digunakan untuk menjelaskan makna
mayoritas penduduknya agama Islam,
makna yang ada di dalam Alquran.
ironisnya dipimpin oleh seorang pemimpin non
Penggunaan ilmu semantik dalam
muslim, tidak terkecuali di Indonesia hari ini
memahami Alquran ini didasari oleh posisi
disalah satu provinsi terbesar di pulau Jawa di
semantik sebagai salah satu ilmu yang
pimpin oleh pemimpin non muslim. Adanya
digunakan dalam menafsirkan Alquran.
kejadian yang demikian berakar dari berbagai

1 3
Ziauddin Sardar, Ngaji Quran di Zaman Edan,terj, Terj, Al.qur.an Kementrian Agama , Surah An-nissa
Zainul Am, dkk, ( Jakarta: Serambi Ilmu semesta, 2014 Ayat 51.
4
) hal. 35. Tosihiko Izutsu, Konsep Etika Religius dalam
2
Hasanuddin. Af, Perbedaan Qira’at dan pengaruhnya Al.qur.an, Terj, Agus Fahri Husein, dkk ( Yogyakarta :
terhadap Istinbat hukum dalam Al.qur.an, , ( Jakarta: Tiara wacana, 1993 ), hal 16-17.
RajaGrafindo Persada Cet 1, 1995 ), hal 1.

Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya x, x (xxxxxxx): x-xx


Harry Hadiyansyah Makna kata “Awliya” dalam Alquran (Aplikasi Metode
Semantik Tosihiko Izutsu)

Adapun untuk lebih jelasnya kita bisa lihat َ َ ‫َوأ‬


‫ع ُّز نَ َف ارا‬
dalam 2 hal yakni: Artinya : dan dia mempunyai kekayaan besar,
a. Posisi ilmu semantik dalam ilmu maka ia berkata kepada kawannya ( yang
metodologi Tafsir mukmin ) ketika bercakap cakap dengan dia:
Dalam ilmu metodologi tafsir, penafsiran “hartaku lebih banyak dari hartamu dan
Al.quran menggunakan ilmu semantik pengikut – pengikutku lebih kuat”
termasuk ke dalam metode maudu’i/tematik. Kata tsamar pada ayat di atas memiliki makna
Dikatakan demikian, karena dalam tahapan dasar buah – buahan. Akan tetapi oleh Mujahid
tahapan menafsirkan Alquran melalui metode Ibnu Jabbar dimaknai dengan emas dan perak
semantik memiliki persamaan dengan metode (harta kekayaan). Perubahan makna tersebut
tematik, yakni dengan cara mengumpulkan terjadi atas dasar makna relasional berdasarkan
ayat ayat Alquran tidak sesuai dengan urutan konteks pembicaraan ayat secara keseluruhan.
mushaf, kemudian meneliti bagaimana konteks Serta perubahan tersebut menunjukan
ayat itu sehingga menjadi sebuah kesimpulan pentingnya konteks dan pertimbangan
makna. “lokalitas” dari sebuah teks.5
b. Posisi ilmu semantik dalam
perkembangan penafsiran 2) Era Kontemporer
Secara eksplisit dalam sejarah penafsiran pada zaman sekarang ini, banyak para ulama
Alquran, terutama pada era klasik, tidak yang menggunakan pendekatan bahasa dalam
dikemukakan penggunaan ilmu semantik menafsirkan Alquran. seperti Amin al Khulli
dalam menafsirkan Alquran. karena pada yang menekankan pada aspek mikro struktural
waktu itu belum adanya istilah ilmu liguistik makna, akan tetapi semantik hanya sebagai alat
dan cabang ilmu semantik secara independen. bantu penafsiran saja.
Akan tetapi tidak menutup kemungkinan, Adapun M Syahrur dalam kitab “Al kitab
embrio-embrio penggunaan ilmu semantik wa Al Kuna: Qira’ah Mu’assirah” menunjukan
dalam penafsiran Alquran telah dilakukan, kecenderungan semantik dalam menafsirkan
walaupun tidak secara spesifik menekankan ayat ayat Alquran. hal ini terlihat jelas ketika
pada aspek makna. Untuk menjelaskannya, ia membedakan antara makna kata Al kitab dan
maka pada pembahasan ini dibagi ke dalam 2 Al-Quran sebagai nama untuk sebutan mushaf
fase. usmani.
1) Era Klasik Tokoh kontemporer yang sangat jelas dalam
Adapun yang dimaksud dengan era klasik penggunaan semantiknya dalam Alquran
pada pembahasan ini adalah, setelah wafatnya adalah Tosihiko Izutsu. Dalam bukunya yang
Nabi Muhammad Saw dan para penerus beliau sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia
yang mulai mencoba memahami ayat ayat menjadi judul “Relasi Tuhan dan Manusia” ia
Alquran, dengan menggunakan pendekatan menggunakan semantik sebagai pendekatan
kebahasaan. pokok dalam menganalisis makna makna kosa
Embrio dari penafsiran menggunakan kata dalam Alquran.. Menurut Izutsu, semantik
semantik ini, secara eksplisit terlihat pada Alquran adalah kajian analitik terhadap istilah-
penafsiran Mujahid Ibnu Jabbar, yang mencoba istilah kunci suatu bahasa dengan suatu
mengalihkan makna dasar kepada makna pandangan yang akhirnya sampai pada
relasional, pada surah Al-kahfi ayat 34 : pengertian konseptual Weltanschauung atau
‫اح ِب ِه َو ُه َو يُ َحا ِو َُرهُ أَنَا أ َ ْكث َ ُر‬ َ ‫َكانَ لَهُ ثَ َم ٌر فَقَا َل ِل‬
ِ ‫َص‬ pandangan dunia masyarakat yang
‫ِم ْن َك َما اَل‬ menggunakan bahasa itu6. Dalam bukunya ini

5
M Nur kholis Setiawan, Al-Qur’an Kitab Sastra 6
Tosihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia Terj.
Terbesar, ( Yogyakarta, Elsaq prees, 2005 ) hal 138. Agus Fahri Husen (dkk), ( Yogyakarta: Tiara Wacana,
1997) hlm. 3

Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya x, x (xxxxxxx): x-xx


Harry Hadiyansyah Makna kata “Awliya” dalam Alquran (Aplikasi Metode
Semantik Tosihiko Izutsu)

pula sangat terlihat penggunaan metode atau dalam suatu hubunga dengan kata yang
analisis semantik sebagai salah satu aspek lain.
metodologis dan kosa kata Alquran sebagai 2. Mencari aspek sinkronik dan diakronik
aspek materialnya.7 sebuah kata
Sinkronik dan Diaokronik adalah
2. Semantik Tosihiko Izutsu
Tosihiko Izutsu lahir di Tokyo Mei 1914 dan metodologi semantik yang menitik beratkan
meninggal di Kamakura pada tanggal 7 Januari pada analitis history kata. Sinkronik adalah
1993.8 Tosihiko Izutsu menempuh jenjang sebuah aspek dari sebuah kata yang tidak
pendidikanya dari mulai sekolah dasar hingga pernah berubah dari waktu ke waktu.
Universitas di Tokyo. Di salah satu Universitas Diakronik adalah aspek bahasa yang tumbuh
di Tokyo inilah, tepatnya Universitas Keio, dan berubah secara bebas dengan caranya
beliau mengembangkan kemampuan sendiri yang khas,12 dari waktu ke waktu.
intelektualnya sebagai dosen. Beliau mengajar Dalam menganalisis makna kosa kata
di Universitas ini dari tahun 1954 sampai 1968, dalam Alquran, ada tiga titik poin dalam
serta mendapat gelar profesor di Universitas historitas kata, yang harus diperhatikan.
yang sama.9 a. Sebelum turunnya Alquran atau masa
Tingkat akademisi keislaman Tosihiko jahhiliyah
Izutsu dan karya karya tentang Islam mulai b. Masa turunya Alquran
terlihat, ketika dirinya dipinta oleh Wilfred c. Setelah turunya Alquran, terutama pada
Cantwell Smith ( direktur kajian islam di masa periode Abbasiyah.13
Universitas MacGill Montreal Canada) untuk
mengajar di perguruan tinggi tersebut. Di 2. Ayat-ayat tentang Awliya
Universitas MacGill ini ia mengajar sebagai Di dalam Alquran, banyak sekali ayat-ayat
Professor tamu, dari tahun 1962 – 1968.10 yang menjelaskan tentang awliya. Untuk
Salah satu karya Tosihiko Izutsu yang mendapatkan ayat-ayat tentang awliya ini,
sangat terkenal adalah God and Man in the penulis menggunakan kamus Mu’jam
Koran ( Relasi Tuhan dan Manusia )11 dalam Mufahras li Alfaz Alquran karya M. Fu’ad
bukunya ini diterangkan tentang bagaimana ‘Abdul Baqi. Dari kamus ini penulis
memahami kosa kata Alquran melalui mendapatkan ayat-ayat yang memuat tentang
pendekatan semantik. Adapun tahapan dalam kata awliya dan bentuk yang sama denganya.
pendekatan semantiknya adalah sebagai Kata awliya ini ditemukan dengan jumlah 81
berikut: ayat dalam 30 surat serta pengulangan kata
1. Mencari makna dasar dan makna relasional sebanyak 86 kali.14 Yaitu: surah al-Baqarah
Makna dasar adalah makna yang terus ada (2): 107, 120, 257 (2x), 282; Ali Imrān (3): 28,
dimanapun kosa kata itu ditempatkan. Makna 68; an-Nisa (4): 45, 75, 76, 89 (2x), 119, 123,
relasional adalah sebuah makan yang muncul 139, 144, 173; al-Maidah (5): 51 (2x), 55, 57;
ketika suatu kata berada dalam suatu konteks al-An’am (6): 51, 70, 41, 127, 128, 121; al-

7 pendidikan Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah,


Tosihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia Terj. Agus
Fahri Husen (dkk), hal 1. Jakarta, 2010, hal 52.
11
Zuhadul ismah, “Konsep Iman menurut Tosihiko
8
Zuhadul Ismah, “Konsep Iman menurut Tosihiko Izutsu” hal 209
12
Izutsu”, Hermenetik, Vol 9, No 1, Juni 2015, hal Tosihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia Terj.
207.Pdf Agus Fahri Husen (dkk. Hal 32
13
9
Zuhadul Ismah, “Konsep Iman menurut Tosihiko Tosihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia Terj.
Izutsu” hal 208 Agus Fahri Husen (dkk. Hal 35
10
Fathurrahman, “Al.qur.an dan Tafsirnya dalam 14
M Fu’ad ‘Abdul Baqi, Mu’jam Mufahras li Alfaz
perspektif Tosihiko Izutsu”, Tesis Pasca sarjana bidang Alquran, ( Beirut, Dar al-Hadits 1364 ) hlm. 766-767.

Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya x, x (xxxxxxx): x-xx


Harry Hadiyansyah Makna kata “Awliya” dalam Alquran (Aplikasi Metode
Semantik Tosihiko Izutsu)

A’rāf (7): 151, 196, 3, 27, 30; al-Anfāl (8): 72, untuk menjelaskan bahwa di antara salah satu
34; at-Taubah (9): 74, 116, 23, 71; Yūnus (10): dari hubungan dua orang ada yang mengjadi
62; Hūd (11): 20, 113; Yūsuf (12): 101; ar- penguasa perkara terhadap satu yang lain.
Ra’du (13): 37, 16; an-Nahl (16): 63; al-Isra Dari pemaparan diatas, penulis
(17): 111, 33, 97; al-Kahfi (18): 26, 50, 17, 102; menyimpulkan bahwa makna dasar kata awliya
Maryam (19): 5,45; al-Furqan (25): 18; an- dalam Alquran adalah penguasa suatu perkara
Naml (27): 49; al-‘Ankabūt (29): 22, 41; as- atau yang mneguasai sesuatu.
Sajdah (32): 4; al-Ahzāb (33): 6, 17, 65; Saba’ 4. Makna relasional kata awliya
(34): 41; az-Zumar (39): 3; al-Fushshilat (41): Makna relasional adalah sesuatu yang
31-34; as-Syūra (42): 6, 9, 28, 31, 44, 46; al- konotatif yang diberikan dan ditambahkan
Jātsiyah (45): 10; al-Ahqāf (46): 32; al-Fath pada makna yang sudah ada, dengan meletakan
(48): 22; al-Mumtahanah (60): 1; al-Jumu’ah kata itu pada posisi khusus dalam bidang
(62): 6. khusus18, atau dengan kata lain makna yang
3. Makna dasar kata awliya muncul ketika suatu kata berhubungan dengan
Kata wali/awliya asal katanya adalah ( kata lain dalam suatu konteks yang khusus.
Dalam menentukan makna relasional suatu
‫ )ولى ي ِلى – ولياا‬yang artinya dekat. Seperti kata, kita harus menentukan medan
dalam ungkapan )‫ (جلست مما يليه‬yang artinya semantiknya terlebih dahulu. Medan semantik
aku duduk di dekatnya. Walaupun begitu, adalah suatu medan yang terbentuk antara
penggunaan makna dekat ini jarang/sedikit hubungan dua kata, yang mana hubungan
sekali penggunaannya.15 tersebut memberi makna dan konsep yang baru
Dalam kamus lisanul ‘Arab dijelaskan pada kedua kata tersebut.
bahwa kata wali adalah salah satu nama Allah Untuk menentukan makna relasional kata
swt yang memiliki arti pelindung atau wali atau awliya, penulis terlebih dahulu telah
dikatakan pula yang menguasai dan mengatur menentukan medan semantik kata wali atau
segala sesuatu.16Menurut Ibnu Asyar, Indikasi awliya. Adapun medan semantiknya adalah
makna wali adalah ketika berkumpulnya makna sebagai berikut :
merencanakan, mampu untuk mengerjakan dan
melaksanakan rencana tersebut. Dengan kata
lain ketika seseorang mampu mengerjakan, ‫هللا‬
mampu melaksanakan, serta melaksanakan ‫الشيط‬ ‫نصير‬
rencana tersebut, maka boleh orang itu disebut
wali. ‫ان‬
Dalam bentuk Isimnya wali Jamaknya , ‫ولي‬
adalah Awliya yang memiliki arti teman, ‫أولياء‬
penolong, tetangga, pengikut, atau seluruh
orang yang mengatur / menguasai urusan orang
lain. ‫كافر‬ ‫مؤمنو‬
Dalam kamus mu’jam mufradat li alfadzil
Quran pun dijelaskan bahwa makna wali yang
‫ن‬
paling secara haqiqi adalah penguasaan perkara
‫الظالم‬
( yang menguasai perkara).17 kata ini digunakan

15
Louwis Maluf, al-Munjid Fi Lughah Wal a’lam, 17
Ragib Al-Asfahani, Mu’jam mufradat li alfadzil
(Beirut: Dar Al-Masyriq, 1986), hlm 918 quran, Damaskus: Dar al-Qalam hlm 570
16 18
Muhammad bin Mukarram bin Munzur Al-Mishri, Tosihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia
Lisan al-‘Arab li Ibnu Munzur, Dar al-Ma’arif, Juz 15, terj. Agus Fahri Husen (dkk) hlm. 12.
hlm 406-407.

Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya x, x (xxxxxxx): x-xx


Harry Hadiyansyah Makna kata “Awliya” dalam Alquran (Aplikasi Metode
Semantik Tosihiko Izutsu)

ayat ayat tersebut. Adapun tema dan ayatnya


Keteranga adalah sebagai berikut :
No Kosa Kata Makna 1) Tidak ada pelindung selain Allah swt
n Allah swt adalah pelindung seluruh
makhluknya. Allah lah yang pelindung di dunia
Penguasa dan di akhirat. Dan tidak ada lagi pelindung
Wali atau Makna selain Allah swt. Adapun ayat ayat tentang wali
1 suatu atau awliya membicarakan tentang itu adalah
awliya dasar sebagai berikut ini.
perkara No Surah Ayat

Pelindung 1 al-Baqarah 107

Allah wali ( dunia 2 an-Nisa 45

Mukmin dan 3 al-Maidah 55

akhirat ) 4 al-A’raf 155

Mukmin Hamba 5 at-Taubah 116

wali Allah yang taat 6 Yusuf 101


Makna
2 Mukmin 7 al-Isra 97
relasional
wali Penolong 8 al-Kahfi 26

mukmin 9 al-‘Ankabut 22

Pelindung 10 as-Sajdah 4
Setan wali
( dunia
Kafir
saja ) 11 as-Syura 9
Kafir wali Penolong,
mukmin pemimpin 12 as-Syura 28
Kafir wali Teman
13 Fusshilat 31
setan dekat
Wali +
Pelindung
Nashir 2) Orang-orang yang dilindungi oleh Allah
swt.
a) Orang-orang yang beriman kepada Allah
5. Kesatuan Tema swt.
a. Pemaparan Tema dan Ayat-ayat yang Adapun ayat yang membahasnya adalah
membahasnya sebagai berikut :
Setelah melalui tahap analisis dengan cara No Surah Ayat
mengelompokkan ayat-ayat Alquran yang
memiliki tema yang sama atau mirip, maka
penulis menemukan kesatuan tema di antara

Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya x, x (xxxxxxx): x-xx


Harry Hadiyansyah Makna kata “Awliya” dalam Alquran (Aplikasi Metode
Semantik Tosihiko Izutsu)

1 al-Baqarah 257 a) Orang- orang kafir ( termasuk yahudi dan


nashrani )
Adapun ayat yang membahasnya adalah
2 ali Imran 68 sebagai berikut:
No Surah ayat

3 ali Imran 122


1 al-Baqarah 257

b) Orang-orang yang bertakwa 76


Adapun ayat yang membahasnya adalah 2 an-Nisa
sebagai berikut:
No Surah Ayat 3 al-An’am 70

1 al-An’am 51 4 al-Ahzab 64-65

2 Al-Jatsiyah 19 5 al-‘Ankabut 41

6 as-Syura 6

c) Orang-orang yang mengerjakan amal Shaleh.


Adapun ayat yang membahasnya adalah 7 ar-Ra’du 16
sebagai berikut:
No Surah Ayat
8 al-Fath 22

1 al-An’am 127
b) Orang-orag munafik
2 al-A’raf 196 Adapun ayat yang membahasnya adalah
sebagai berikut:
No Surah ayat
3 Yusuf 101

1 at-Taubah 74

d) Orang-orang yang terdzalimi.


Adapun ayat yang membahasnya adalah 2 al-Ahzab 17
sebagai berikut:
No Surah Ayat
c) Orang-orang dzalim.
1 an-Nisa 75 Adapun ayat yang membahasnya adalah
sebagai berikut:
No Surah ayat

3) Orang–orang yang mencari perlindungan


kepada selain Allah.

Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya x, x (xxxxxxx): x-xx


Harry Hadiyansyah Makna kata “Awliya” dalam Alquran (Aplikasi Metode
Semantik Tosihiko Izutsu)

1 as-Syura 8 No Surah ayat

2 as-Syura 9 1 an-Nisa 119

3 as-Syura 46 2 al-An’am 121

4 al-Jaatsiyah 19 3 al-A’raf 30

4 an-Nahl 63
d) Orang-orang Musyrik.
Adapun ayat yang membahasnya adalah
sebagai berikut.
c) Menyembah Jin
ayat Adapun ayat yang membahasnya adalah
No Surah sebagai berikut.
No Surah ayat
1 al-An’am 14

1 Saba’ 41
2 az-Zumar 3

d) Tidak beriman kepada Allah swt.


4) Indikasi orang-orang yang mencari Adapun ayat yang membahasnya adalah
perlindungan kepada selain Allah swt. sebagai berikut.
a) Mengikuti orang-orang yahudi dan nashrani No Surah ayat
Adapun ayat yang membahasnya adalah
sebagai berikut.
ayat 1 an-Nisa 173
No Surah

120 2 Maryam 45
1 al-Baqarah

2 an-Nisa 123
e) Menolak seruan untuk beriman kepada Allah
swt.
37 Adapun ayat yang membahasnya adalah
3 ar-Ra’du
sebagai berikut.
No Surah ayat

b) Mengikuti setan dan menjadikannya sebagai


pelindung 1 al-Ahqaaf 32
Adapun ayat yang membahasnya adalah
sebagai berikut.
f) Tidak mengerjakan perintah Allah

Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya x, x (xxxxxxx): x-xx


Harry Hadiyansyah Makna kata “Awliya” dalam Alquran (Aplikasi Metode
Semantik Tosihiko Izutsu)

Adapun ayat yang membahasnya adalah a) Tidak mendapat perlindungan dan


sebagai berikut. pertolongan Allah swt.
No Surah ayat Adapun ayat yang membahasnya adalah
sebagai berikut.
No Surah ayat
1 al-Kahfi 50

1 al-Baqarah 120

g) Membela orang yang dzalim


Adapun ayat yang membahasnya adalah 2 an-Nisa 123
sebagai berikut.
No Surah ayat
3 ar-Ra’du 57

1 Hud 113
4 as-Syura 8

5 as-Syura 31
h) Menjadikan orang kafir sebagai penolong
dan meninggalkan orang Mu’min
6 al-Fath 22
Adapun ayat yang membahasnya adalah
sebagai berikut.

No Surah ayat b) Masuk neraka Jahannam dan kekal di


dalamnya
Adapun ayat yang membahasnya adalah
1 an-Nisa 139
sebagai berikut.
No Surah ayat
2 an-Nisa 144

1 al-Baqarah 257
3 ali Imran 28

2 al-Ahzab 65

i) Menolong orang Kafir untuk


3 Hud 113
menghancurkan Islam
Adapun ayat yang membahasnya adalah
sebagai berikut. 97
ayat 4 al-Isra
No Surah

5 al-Kahfi 102
1 al-Mumtahanah 1

6 as-Syura 44
5. balasan orang yang mencari perlindungan
kepada selain Allah Swt.

Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya x, x (xxxxxxx): x-xx


Harry Hadiyansyah Makna kata “Awliya” dalam Alquran (Aplikasi Metode
Semantik Tosihiko Izutsu)

7 Maryam 45 2 al-‘Ankabut 41

8 al-An’am 128
f) Mendapatkan siksa dari Allah swt
Adapun ayat yang membahasnya adalah
9 al-Jaatsiyah 10 sebagai berikut.
No Surah ayat

c) Mendapat minuman air yang mendidih di 28


neraka 1 ali Imran
Adapun ayat yang membahasnya adalah
sebagai berikut. 144
2 an-Nisa
No Surah ayat

3 Hud 2
1 al-An’am 70

4 al-Jaatsiyah 19

d) Berada dalam kesesatan


Adapun ayat yang membahasnya adalah
sebagai berikut.

No Surah ayat
g) Mendapatkan Adzab di dunia dan akhirat
dari Allah swt.
1 al-A’raf 30 Adapun ayat yang membahasnya adalah
sebagai berikut.
No Surah ayat
2 az-Zumar 3

1 an-Nahl 63
3 asSyura 46

2 at-Taubah 74
4 al-Mumtahanah 1

3 al-Ahqaaf 32
e) Berada dalam kerugian
Adapun ayat yang membahasnya adalah
sebagai berikut.
No Surah ayat 6. Makna Sinkronik dan Diakronik kata awliya
Sinkronik adalah sebuah aspek dari sebuah
kata yang tidak pernah berubah dari waktu ke
1 an-Nisa 119 waktu. Diakronik adalah aspek bahasa yang
tumbuh dan berubah secara bebas dengan

Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya x, x (xxxxxxx): x-xx


Harry Hadiyansyah Makna kata “Awliya” dalam Alquran (Aplikasi Metode
Semantik Tosihiko Izutsu)

caranya sendiri yang khas,19 dari waktu ke Dari Syair di atas penulis bisa mengambil
waktu. kesimpulan bahwa kata wali dan awliya
Analisis terhadap aspek sinkronik dan bermakna menguasai, orang yang mempunyai
diakronik kata, memliki beberapa manfaat, kekuasaan atas sesuatu.21 Kesimpulan makna
diantarannya, mengetahui ada tau tidaknya di atas, sesuai dengan makna dari Kamus
perubahan makna kata dari waktu ke waktu, Lisanul ‘Arab, yang mana kamus itu
mengetahui konsep dari makna sebuah karta, membahas tentang bagaiman penggunaan kosa
dan mengetahui perkembangan pemahaman kata arab oleh orang arab itu sendiri.
terhadap suatu kata.
b. Makna Kata Awliya Periode Quranik
a. Makna Kata Awliya Periode Pra Quranik Periode Quranik adalah masa di mana
Periode Pra Quranik adalah masa di mana Alquran telah turun. Pada masa ini kosa kata
Alquran belum diturunkan. Untuk memahami bahasa Arab telah dipergunakan dalam
makna wali atau awliya sebelum Alquran Alquran.
diturunkan, maka syair-syair jahili menjadi makna wali atau awliya pada periode
salah satu media yang representatif untuk Quranic terbagi ke dalam beberapa makna,
digunakan. yaitu :
Ibnu Abbas, ra berkata: “bila kamu 1. Kata wali bermakna Pelindung
membaca sesuatu dari kitab Alquran tetapi Kata wali dimaknai pelindung dalam Tiga
kamu tidak mengetahui maksudnya, maka keadaan :
carilah dengan mempelajari syair-syair sebab a. Kata wali dinisbhkan kepada kata Allah,
syair-syair itu adalah dewan bangsa Arab”. yang kemudian diikuti kata Mu’min. (
Begitulah cara menafsirkan Alquran apabila pelindung dunia dan akhirat )
para sahabat kurang memahami suatu kata. b. Kata wali yang diikuti dengan kata Nashir.
Terlebih lagi dalam memahami arti lughawi ( c. Kata wali yang dinisbahkan kepada kata
arti kata demi kata ).20 setan, yang kemudian diikuti dengan kata
Dalam menentukan makna wali atau awliya, Kafir. ( pelindung urusan dunia bagi orang
penulis meneliti penggunaan kata wali atau kafir )
awliya dalam syair-syair jahiliyyah. Adapun di Berikut ini adalah ayat-ayat tentang kata
antara syair-syairnya yang penulis temukan wali yang dimaknai dengan makna
adalah sebagai berikut : pelindung :
‫ي‬ ّ
ّ ‫ وأنت ول‬.......,‫الحق تقضي َبفَصله‬ ّ ‫أَنت ول‬
‫ي‬
ayat
‫العفو إذ هو مذنب‬ No Surah
“Engkaulah yang memiliki kebenaran, 55
1 al-Maidah
engkau yang memutuskan, engkaulah yang
memiliki ampunan karena ia pendosa” 2 al-Baqarah 257
‫ معاشر غير مظلو ٍل‬......... ‫ي أليته جوى‬
ّ ‫لقد ول‬ 68
3 ali Imran
‫أخوها‬
“Sungguh aku telah memastikan bahwa 4 al-Jaatsiyah 19
sumpah jawi dipegang oleh sekelompok orang
yang tidak menghilangkan darah saudaranya” 5 al-A’raf 196

19 21
Tosihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia Ismatilah, Ahmad Faqih M Maimun,
terj. Agus Fahri Husen (dkk), hlm. 32. “Makna wali dan awliya dalam Alquran”, Diya al-
20 Afkar, Vol 4, No 2, Desember 2016, hlm. 46.Pdf
Yunus Ali Al Muhdar dan H. Bey Arifin,
Sejarah kesusateraan Arab, (Surabaya: Bina Ilmu
1983), hlm. 28.

Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya x, x (xxxxxxx): x-xx


Harry Hadiyansyah Makna kata “Awliya” dalam Alquran (Aplikasi Metode
Semantik Tosihiko Izutsu)

6 al-Baqarah 107 No Surah ayat

7 al-Baqarah 120 1 ali Imran 28

8 at-Taubah 74 2 an-Nisa 89

9 at-Taubah 116 3 an-Nisa 139

10 al-‘Ankabut 22 4 an-Nisa 144

11 as-Syura 8 5 al-Maidah 81

12 as-Syura 31 6 al-A’raf 3

13 an-Nisa 89 7 at-Taubah 23

14 an-Nisa 123 8 al-Anfal 72

15 an-Nisa 173 9 al-Ahzab 6

16 al-Ahzab 17 10 Maryam 5

17 al-Ahzab 65 11 al-Baqarah 282

18 al-Fath 22 12 at-Taubah 71

13 al-Anfal 73
2. Kata wali bermakna hamba yang taat
Kata wali dimaknai dengan makna hamba yang 14 al-Jaatsiyah 19
taat, ketika kata wali disandarkan kepada kata
Mukmin, yang kemudian diikuti dengan kata
4. Kata wali bermakna pemimpin.
Allah swt.
Kata wali bermakna pemimpin dalam dua
No Surah ayat ayat, yakni pada surat al-Maidah ayat 51 dan
62 al-Maidah ayat 57. Karena adanya asbab an-
1 Yunus nuzul yang mendukung makna kata wali
175 adalah pemimpin.
2 ali Imran

No Surah ayat
3. Kata wali bermakna penolong
Kata wali dimaknai penolong dalam tiga 1 al-Maidah 51
keadaan :
a. Kata wali dinisbahkan kepada kata kafir, 2 al-Maidah 57
yang kemudian diikuti dengan kata
Mu’min. ( dalam konteks larangan ). 5. Kata wali bermakna teman
b. Kata wali dinisbahkan kepada kata Kata wali dimaknai dengan teman, dalam dua
Mu’min, yang kemudian diikuti dengan keadaan :
kata Mu’min. a. Kata wali dinisbahkan kepada kata kafir,
c. Kata wali dinisbahkan kepada kata Kafir, yang kemudian diikuti dengan kata setan.
yang kemudian diikuti dengan kata kafir. b. Pada surat al-Mumtahanah ayat 1, karena
Berikut ini adalah ayat-ayat tentang kata wali didukung oleh asbab an-nuzul.
yang dimaknai dengan makna penolong :

Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya x, x (xxxxxxx): x-xx


Harry Hadiyansyah Makna kata “Awliya” dalam Alquran (Aplikasi Metode
Semantik Tosihiko Izutsu)

Berikut ini adalah ayat-ayat tentang kata wali 2. Tafsir al-Maragi.


yang dimaknai dengan makna Teman : a) al-Baqarah ayat 257. Kata wali bermakna
No Surah ayat penguasa.
b) Yunūs ayat 62. Kata wali bermakna orang
1 an-Nisa 76 yang bertakwa kepada Allah swt.
45 c) Ali-Imran ayat 28. Kata wali bermakna orang
2 Maryam yang dikasihi.
3 al-Mumtahanah 1 d) al-Maidah ayat 51. Kata wali bermakna
pemimpin.
e) An-Nisa ayat 76. Kata wali bermakna orang
c. Makna Kata Awliyā Periode Pasca yang taat kepada setan.
Quranik
Peiode pra Quranik adalah setelah 3. Tafsir al-Misbah.
selesainya penurunan Alquran, dan mulai a) al-Baqarah ayat 257. Kata wali bermakna
munculya buku-buku Tafsir. Pada masa ini penguasa.
banyak para mufassir yang menjelaskan ulang b) Yunūs ayat 62. Kata wali bermakna orang
beberapa kosa kata Alquran, baik penjelasan yang bertakwa dan memcintai kepada Allah
yang sama dengan periode Quranik maupun
swt.
penjelasan yang berdebda dengan periode
c) Ali-Imran ayat 28. Kata wali bermakna
quranik.
pemimpin.
Pada tahap ini penulis akan mengambil
beberapa penjelasan tentang kata wali, dari d) al-Maidah ayat 51. Kata wali bermakna cinta
beberapa tafsir. Pengambilan penjelasan itu kasih yang mengantar kepada meleburnya
dilakukan untuk mengetahui makna kata wali perbedaan-perbedaan dalam satu wadah,
pada periode pasca Quranic. Buku tafsir yang menyatukan jiwa yang tadinya berselisih,
akan dijadikan sampel adalah Tafsir Ibnu saling terkaitnya akhlak hingga sampai
Ktasir, Tafsir Al-Maraghi, Tafsir Al-Misbah.
kepada miripnya tingkah laku.
Adapun ayat-ayat tentang kata wali atau
e) An-Nisa ayat 76. Kata wali bermakna teman
awliya, yang dikaji dalam tafsir-tafsir tersebut
setan.
tidak seluruhnya. Akan tetapi yang dikaji
adalah ayat-ayat yang mewakili makna kata Perubahan makna kata awliya dari setiap
wali atau awliya pada masa Quranik. periode bisa dilihat dalam tabel berikut ini.
N Makna kata awliya
1. Tafsir Ibnu Katsir
a) al-Baqarah ayat 257. Kata wali bermakna o
Pelindung.
1 Pra Quranik Pasca
b) Yunūs ayat 62. Kata wali bermakna orang yang
bertakwa kepada Allah swt. Quranik Quranik
c) Ali-Imran ayat 28. Kata wali bermakna kata wali kata awliya kata
pelindung/penguasa.
d) al-Maidah ayat 51. Kata wali bermakna dan dan wali awliya dan
pemimpin. awliya dimaknai wali
e) An-Nisa ayat 76. Kata wali bermakna orang
yang taat kepada setan.
bermakna dengan dimaknai
menguasa beberapa dengan
i, orang makna beberapa
yang yaitu :

Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya x, x (xxxxxxx): x-xx


Harry Hadiyansyah Makna kata “Awliya” dalam Alquran (Aplikasi Metode
Semantik Tosihiko Izutsu)

mempuny 1. Pelindu makna


ai ng yaitu :
C. SIMPULAN
kekuasaan 2. Hamba 1. Pelindun Dari uraian yang telah dijelaskan dan di
paparkan pada bab-bab sebelumnya, dapat
atas yang g
disimpulkan beberapa hal, yaitu :
sesuatu.22 taat 2. Hamba
1. Makna dasar dan makna relasional kata
3. Penolon yang
awliya
g taat Makna dasar kata awliya yaitu penguasa suatu
perkara atau yang menguasai sesuatu.
4. Pemimp 3. Penolon
Sedangkang makna relasional kata awliya itu
in g banyak, tergantung konteks ayatnya. Diantara
maknanya adalah pelindung, penolong, hamba
5. Teman 4. Pemimp
yang taat, teman, dan pemimpin.
in
2. Makna Sinkronik dan Diakronik kata awliya
5. Teman
Pada masa Pra Islam kata waliatauawliya
memiliki makna orang yang mempunyai
d. Konsep Awliya dalam Alquran. kekuasaan atas sesuatu. Kemudian pada masa
Langkah terakhir dalam semantik Tosihiko Quranik dan pasca Quranik makna kata
Izutsu adalah weltanschaung. Weltanschaung awliyaatauwali berkembang menjadi beberapa
bisa kita lihat ketika kita selesai menganalisa makna yakni pelindung, pemimpin, penguasa,
makna sinkronik dan diakronik sebuah kata. pemimpin, penolong, lebih utama.
Weltanschaung adalah pandangan dunia Perkembangan makna ini adalah hasil dari
masyarakat yang menggunakan bahasa itu. sebuah transformasi kata, dari yang dahulu kata
Keseluruhan ayat yang menggunakan kata waliatauawliya dimaknai dengan yang
Awliya memiliki kesamaan tema, tema-tema mengusai sesuatu, setelah datangnya islam kata
tersebutlah yang menysusun konsep kata itu dikaitkan dengan kata Allah sehingga tidak
Awliya. Untuk itu Konsep kata Awliya secara ada yang lagi maha kuasa selain Allah swt.
keseluruhan meliputi pembahsan bahwa Allah Kemudian adanya larangan orang kafir
swt adalah satu satunya pelindung manusia. menjadi penguasa orang-orang mu’min, serta
Janji Allah itu lebih diutamakan untuk orang kafir dikuasai oleh syetan.
melindungi orang-orang yang beriman,
bertaqwa dan orang yang lemah. Sedangkan 3. Konsep awliya dalam Alquran
orang-orang yang mencari perlindungan Secara keseluruhan konsep makna awliya
kepada selain Allah swt adalah orang kafir. berpusat kepada Allah, yang menjelaskan
Orang kafir mencari perlindungan kepada bahwa Allah swt adalah satu satunya
setan. Bagi mereka orang-orang kafir akan pelindung, baik di dunia maupun di akhirat.
mendapatkan adzab dan siksaan kelak di Allah secara khsusu lebih mengutamakan
akhirat. orang-orang yang beriman dan taat kepadanya.
Sedangkan bagi mereka yang tidak mau taat
kepada Allah, mereka menjadikan Setan

22
Ismatilah, Ahmad Faqih M Maimun, Makna wali dan
awliya dalam Alquran, Diya al-Afkar, Vol 4, No 2,
Desember 2016, hlm 46.Pdf

Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya x, x (xxxxxxx): x-xx


Harry Hadiyansyah Makna kata “Awliya” dalam Alquran (Aplikasi Metode
Semantik Tosihiko Izutsu)

sebagai pelindungnya, bagi merekalah adzab Cress well, Jhon. Research design: Pendekatan
dan siksa neraka.
Kualitatif, dan Kuantitatif, dan Mixed, (
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013)
DAFTAR PUSTAKA
Dagun, Save M. Kamus Besar Ilmu
Af, Hasanuddin. Perbedaan Qira’at dan Pengetauan, (Jakarta: LPKN, 2006 )
pengaruhnya terhadap Istinbat hukum Departemen Agama. Alquran dan terjemahnya.
dalam Alquran, ( Jakarta: RajaGrafindo Djalal, Abu. Ulumul Quran, (Surabaya: Dunia
Persada, 1995 ) ilmu, 2000),
Aminuddin. SEMANTIK Pengantar Studi Fathurrahman. “Alquran dan Tafsirnya dalam
Tentang Makna, ( Bandung: Sinar Baru perspektif Tosihiko Izutsu”, Tesis Pasca
Algensindo, 2015) sarjana bidang pendidikan Bahasa Arab
ar-Rifa’i, Muhammad Nasib. Ringkasan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah, (Jakarta:
Ibnu Katsir terj.Syihabuddin, ( Jakarta: 2010).
Gema Insani Press, 2012),. Guntur Tarigan, Henry. Pengajaran Semantik,
Asfahani, Ragib. Mu’jam mufradat li alfadzil (Bandung: Angkasa, 1985)
quran, (Damaskus: Dar al-Qalam) Ikhwan, Munirul. “Western Studies of The
As-suyuthi, Jalaluddin ‘Abdurrahman. Al-Itqan Quranic Narative: from historical
fi Ulum al-Quran, (Beirut: Dar al-Kutub Orientaion into The Literary Analysis”
al-‘Ilmiyah, 2000) Al-Jamiah, Vol 48, No 2, 2010.Pdf
_____________, Lubab an-Nuqul fi Asbab an- Ismah, Zuhadul. “Konsep Iman menurut
Nuzul, (Beirut: Dar al-Kutub al- Tosihiko Izutsu”, Hermenetik, Vol 9, No
‘Ilmiyyah) 1, Juni 2015.
Azima, Fauzan. Semantik Al-Quran sebuah Ismatilah, Ahmad Faqih M Maimun. Makna
metode penafsiran, Makalah Pasca Wali dan Awliya Dalam Alquran, Diya
sarjana konsentrasi Al-Quran dan hadis, al-Afkar, Vol 4, No 2, Desember
program Studi Agama dan Filsafat UIN 2016,.Pdf
Yogyakarta, ( Yogyakarta: 2012 ) Izutsu, Tosihiko. Konsep Etika Religius dalam
Baqi, M Fu’ad ‘Abdul. Mu’jam Mufahras li Alquran, Terj, Agus Fahri Husein, dkk (
Alfaz Alquran, ( Beirut: Dar al-Hadits Yogyakarta : Tiara wacana, 1993 )
1364 ) _________, Relasi Tuhan dan Manusia Terj.
Chaer, Abdul. Linguistik Umum, ( Jakarta: Agus Fahri Husen (dkk), ( Yogyakarta:
Rineka Cipta, 2007), Tiara Wacana, 1997)

Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya x, x (xxxxxxx): x-xx


Harry Hadiyansyah Makna kata “Awliya” dalam Alquran (Aplikasi Metode
Semantik Tosihiko Izutsu)

Ma’luf, Louwis. Al-Munjid Fi Lughah Wal Tafsir Hadis, Volume 4, No 1, Juni


A’lam, (Beirut : Daar Al-Masyriq, 1986) 2014.Pdf
Maraghi, Syeikh Ahmad Mustofa. Tafsir Al- Sahidah, Ahmad. “Tosihiko Izutsu dan
Maraghi, (Kairo: Musthafa Al-Babi Al- sumbangan pemikiran keislaman
Halabi, 1946) jepang”, Afkarina, Vol 1, No 2, Oktober
Maulana, Muhammad Iqbal. “Konsep Jihad 2014 – februari 2015.Pdf
dalam Alquran ( Kajian Analisis Santoso, Eko Budi. “Makna Tawakul dalam
Semantik Tosihiko Izutsu )”, Skripsi Alquran ( aplikasi semantik Tosihiko
Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Izutsu )” Skripsi Fakultas Ushuluddin
Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, dan Pemikiran Islam UIN Sunan
2015.pdf Kalijaga, (Yogyakarta: 2015,).pdf
Muhdar, Yunus Ali. dan H. Bey Arifin, Sejarah Sardar, Ziauddin. Ngaji Quran di Zaman
kesusateraan Arab, (Surabaya: Bina Edan,terj, Zainul Am, dkk, ( Jakarta:
Ilmu, 1983). Serambi Ilmu semesta, 2014 )
Mishri, Muhammad bin Mukarram bin Setiawan, M Nur kholis. Al-Qur’an Kitab
Munzur. Lisan al-‘Arab li Ibnu Munzur, Sastra Terbesar, ( Yogyakarta: Elsaq
(Beirut: Dar al-Ma’arif, Juz 15) press, 2005 )
Qattan, Manna’ Khalil. Studi ‘Ilmu-‘Ilmun Shaleh dkk, Asbabun Nuzul: latar Belakang
Alquran, terj. Mudzakir AS, (Jakarta : Historis Turunnya ayat-ayat Alquran, (
Litera AntarNusa, 2007) Bandung: Diponegoro, 1973)
Rahman, Nailur. Konsep Salam dalam Alquran Shihab, M.Quraish. Mukjizat Alquran
dengan Pendekatan Semantik Tosihiko (Bandung: Anggota IKAPI, 2007)
Izutsu, Skripsi Fakultas Ushuluddin dan _________, Tafsir Al Misbah: pesan, kesan
Pemikiran dan Pemikiran Islam UIN dan keserasian Al-Qur’anI, ( Jakarta:
Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2014.Pdf lentera Hati, 2009 )
Rahmi, Yulia. Makna Khair dalam Alquran, Tanaka, Stefan. Imaging History : Inscribing
Skripsi Fakultas Ushuluddin dan Belief in the Nations, the Journal of
Pemikiran dan Pemikiran Islam UIN Asian Studies, 53, 1994.pdf
Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2014.Pdf Zainu, Muhammad Ibnu Jamil. Pemahaman
Romziana, Lutfiyah. Pandangan Alquran Alquran, terj. Mashuri Ikhwany,
Tentang Makna Jahiliyah Perspektif (Bandung: Gema Risalah press, 1997).
Semantik, Mutawatir Jurnal Keilmuan

Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya x, x (xxxxxxx): x-xx


Harry Hadiyansyah Makna kata “Awliya” dalam Alquran (Aplikasi Metode
Semantik Tosihiko Izutsu)

Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya x, x (xxxxxxx): x-xx