Vous êtes sur la page 1sur 11

JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL

VOL. 6, NO. 1, APRIL-SEPTEMBER 2017 https://doi.org/10.18196/hi.61102

Pemikiran Johan Galtung tentang


Kekerasan dalam Perspektif Feminisme
Linda Dwi Eriyanti
Program Studi Ilmu Hubungan Internasional
Universitas Jember
Jalan Kalimantan No. 37, Kampus Tegalboto, Jember, Jawa Timur 68121
elindadwi@yahoo.com
Diserahkan: 30 Juli 2017, diterima: 19 September 2017

Abstract
This article aims to analyze the gender aspects in Johan Galtung thought about Violence. Johan Galtung conception of violence, namely, direct
violence, structural violence, and cultural violence was comprehensive enough to observe violence at all levels, including gender-based violence.
The issue of violence appeal to feminists because of violence against women is a mechanism of subordination of women. Violence against women
has an impact not only for women victims but also women in general, which ultimately in the lives of women always feel threatened by numerous
acts of violence in public and private sphere. Using the sociology of knowledge, this article seeks the connection between Johan Galtung’s thought
and his life background. The research method is a qualitative method with literature study used secondary data. This article found that there
are similarities between Johan Galtung thought with numerous streams of feminism that ever existed. Telling about direct violence, Johan
Galtung puts women at enmity with men on one hand. On the other hand, the structure and culture of patriarchy that have existed in society
also become violent themselves. In its efforts to realize peace, Johan Galtung wants the equality between the sexes, where there are
cooperation and a balance of roles between men and women who all of them lead to the peace process.
Keywords : Johan Galtung’s Thought, Violence, Feminism, Peace

Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk menganalisa aspek gender dalam pemikiran Johan Galtung tentang kekerasan. Konsep kekerasan Johan Galtung
yang meliputi kekerasan langsung, kekerasan struktural, dan kekerasan kultural, cukup komprehensif untuk melihat kekerasan di semua
tingkat, termasuk kekerasan berbasis gender. Isu kekerasan menarik bagi feminis karena kekerasan terhadap perempuan merupakan
mekanisme subordinasi perempuan. Kekerasan terhadap perempuan tidak hanya berdampak pada korban, tapi juga perempuan pada
umumnya, yang pada akhirnya dalam kehidupan perempuan selalu merasa terancam oleh berbagai tindakan kekerasan di ranah publik dan
privat. Dengan menggunakan sosiologi pengetahuan, artikel ini mencoba menganalisis hubungan antara Johan Galtung dan latar belakang
kehidupannya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan studi literatur menggunakan data sekunder. Penelitian ini
menemukan bahwa ada kesamaan antara pemikiran Johan Galtung dengan berbagai aliran feminisme yang pernah ada. Berbicara tentang
kekerasan langsung, Johan Galtung menempatkan perempuan berhadapan dengan laki-laki yang merupakan pelaku kekerasan. Di sisi lain,
struktur dan budaya patriarki yang ada di masyarakat juga merupakan bentuk kekerasan, di mana struktur yang keras, dilegitimasi oleh
budaya kekerasan menciptakan lingkungan yang penuh kekerasan. Dalam upayanya mewujudkan perdamaian, Johan Galtung
menginginkan persamaan antara jenis kelamin, di mana ada kerjasama dan keseimbangan peran antara pria dan wanita yang semuanya
mengarah pada proses perdamaian.
Kata Kunci: Pemikiran Johan Galtung, Kekerasan, Feminisme, Perdamaian

PENDAHULUAN
Johan Galtung menjadi salah satu pemikir juga positive peace. Konsep kekerasan dari Johan
penting di abad ini terkait dengan berbagai tulisannya Galtung yang melingkupi kekerasan langsung,
tentang perdamaian dan kekerasan. Karyanya menjadi kekerasan struktural, dan kekerasan kultural penting
rujukan para akademisi, NGO, pembuat kebijakan, untuk mengidentifikasi sumber kekerasan beserta
bahkan politisi di banyak negara. Pemikiran Galtung dampaknya, sehingga memungkinkan untuk mencari
yang terinspirasi dari Mahatma Gandhi berkontribusi solusi yang lebih komprehensif. Konsep kekerasan
dalam upaya mewujudkan perdamaian yang Johan Galtung telah diterima secara luas dalam Studi
menurutnya bukan hanya sekedar negative peace, tetapi
Perdamaian (Salmi, 1993:141-153; Bufacchi, yang memproduksi subordinasi perempuan oleh laki-
2005:193-204). laki (Pilcher & Whelehan, 2004:173).
Johan Galtung menjadi pengajar studi Permasalahan yang akan dibahas dalam artikel
perdamaian di berbagai universitas. Galtung juga ini adalah, bagaimana aspek gender dalam pemikiran
menjadi negosiator dalam sejumlah konflik Johan Galtung tentang kekerasan dilihat dengan
internasional, juga aktif terlibat sebagai fasilitator perspektif feminis?
resolusi konflik, misalnya antara Korea Utara dan
Korea Selatan, Israel, dan Palestina di wilayah Teluk, KERANGKA PEMIKIRAN
juga bekas Negara Yugoslavia. Upayanya di bidang Untuk melihat pemikiran Johan Galtung,
kemanusiaan dan perdamaian memberinya banyak penulis merasa perlu melihat latar belakang
penghargaan. Johan Galtung menerima Right kehidupannya. Karena pemikiran seseorang sudah
Livelihood Award, penghargaan alternatif yang tentu dipengaruhi oleh situasi di mana dan di saat
mengimbangi Penghargaan Nobel, pada tahun 1987. seseorang hidup. Untuk itu penulis menggunakan
Tahun 1988 ia menerima Norwegian Humanist Prize, sosiologi pengetahuan, yakni cabang sosiologi yang
pada ada tahun 1990 ia menerima Socrates Prize for mempelajari hubungan antara pengetahuan dan
Adult Education dan Bajay International Award for masyarakat yang fokus kajiannya adalah kondisi sosial
Promoting Gandhian Values pada tahun 1993. Ia juga dan kondisi eksistensial dari pengetahuan, terutama
menerima gelar Doktor Honoris Causa dan Profesor yang menyangkut eksistensi sosiologis dari
Kehormatan dari sedikitnya 15 universitas terkemuka pengetahuan dan masyarakat.
di dunia, yang diterimanya mulai tahun 1975. Mannheim menjelaskan bahwa sosiologi
‘Segitiga Kekerasan’ yang diungkapkan Johan pengetahuan berguna untuk menjelaskan persoalan-
Galtung, yaitu kekerasan langsung, struktural, dan persoalan, gagasan-gagasan, atau pemikiran-pemikiran
kultural, membantu untuk mengidentifikasi bentuk- yang bersifat sosial atau eksistensial. Pengetahuan dan
bentuk kekerasan. Kekerasan langsung bisa terlihat gagasan selalu dipengaruhi oleh faktor tempat di
secara nyata demikian pula dengan pelakunya. mana pengetahuan itu ada, meskipun pada tingkatan
Kekerasan struktural melukai kebutuhan dasar yang berbeda-beda dalam struktur sosial dan proses
manusia, tetapi tak ada pelaku langsung yang bisa sejarah. Gagasan-gagasan atau ide-ide yang menyebar
diminta tanggung jawabnya. Sementara kekerasan di masyarakat selalu merujuk kepada struktur sejarah
kultural adalah legitimasi atas kekerasan struktural dan struktur sosial yang memandang sesuatu dengan
maupun kekerasan langsung secara budaya (Galtung, menggunakan perspektif tertentu (Coser, 1971: 431).
1990: 291-305). Sosiologi pengetahuan digunakan dalam artikel
Feminisme adalah gerakan pembebasan ini untuk menelusuri latar belakang pemikiran,
perempuan yang tujuan akhirnya adalah tatanan pemahaman, serta teori yang dihasilkan oleh Johan
kehidupan yang adil dan manusiawi. Pemikiran Galtung. Johan Galtung sebagai seorang pemikir dan
Galtung terkait kekerasan berkontribusi terhadap aktifis perdamaian memiliki kesadaran akan pilihan-
gerakan kaum feminis dalam upaya untuk pilihan dalam hidupnya, yang dipengaruhi faktor
menumbuhkan kesadaran akan adanya kekerasan, eksternal maupun internal. Rangkaian dialektis dalam
penindasan, dan ketidakadilan terhadap perempuan, proses eksternalisasi, obyektifikasi, dan internalisasi,
serta adanya tindakan sadar yang dilakukan baik oleh yang berpengaruh terhadap pembentukan pemikiran
laki-laki maupun perempuan untuk mengubah manusia, bisa dijelaskan dengan melihat masyarakat
keadaan tersebut untuk mewujudkan perdamaian. Isu sebagai produk individu, juga masyarakat sebagai
kekerasan menjadi penting bagi kaum feminis, karena realitas obyektif, serta bahwa individu adalah produk
selama ini kekerasan yang menimpa perempuan, masyarakat. Masyarakat yang merupakan produk
berupa penyiksaan, pemerkosaan, kekerasan individu menjadi kenyataan obyektif melalui proses
domestik, pelecehan seksual, merupakan mekanisme eksternalisasi, sebaliknya individu produk masyarakat
melalui proses internalisasi (Nur Syam, 2005: 37-38).
PEMBAHASAN Banyak pemikiran Johan Galtung yang
LATAR BELAKANG PEMIKIRAN JOHAN terinspirasi dari Mahatma Gandhi. Galtung yang saat
GALTUNG TENTANG KEKERASAN itu masih berusia 17 tahun menangis mendengar
Johan Galtung yang seorang aktifis perdamaian, kematian Gandhi yang disebutnya sebagai fisik yang
mau tidak mau selalu bersentuhan dengan banyak jenius.
kasus kekerasan. Dari banyak kasus kekerasan itulah "Gandhi memberi kita hadiah yang tidak ternilai,
Johan Galtung merasa perlu memikirkan kembali satyagraha, yakni berpegang teguh pada satya. Bagi
Gandhi satya adalah esensi menjembatani konsep
perlunya memasukkan dimensi gender dalam upaya Tuhan, Cinta, dan Kebenaran, menyatukan
mewujudkan perdamaian. Kekerasan berbasis gender spiritual, emosional, dan kognitif - tidak
terjadi di seluruh dunia, dalam situasi tidak ada menempatkan mereka dalam ruang yang terpisah
perang dan bahkan lebih banyak lagi dalam situasi seperti yang kita lakukan di Barat, yang
menyingkirkan dua hal tersebut dari penelitian
konflik. Kekerasan berbasis gender, yang korbannya dan ilmu pengetahuan " (Galtung, 2007).
mayoritas adalah perempuan, muncul dalam wujud
yang beragam. Gagasan gender sebagai konstruksi Galtung mengaku mendapat pelajaran penting,
sosial menjadi salah satu unsur yang mewujudkan bahwa kekerasan yang membunuh dengan cepat
hubungan kekuasaan di masyarakat. Lebih jauh, melalui peluru ataupun membunuh secara perlahan
pemahaman tentang gender yang patriarkis bisa melalui kelaparan dan penyakit adalah sama jahatnya.
menjadi kunci untuk produksi dan reproduksi Galtung optimis kekerasan dapat dihapus bila kita
kekerasan di semua tingkatan. mengetahui penyebabnya. Dia mengaku belajar dari
Hingga usia 81 tahun, Galtung telah memiliki Gandhi tentang strukturalisme, bahwa yang menjadi
pengalaman lebih dari 50 tahun melihat bagaimana penyebab kekerasan adalah struktur yang salah dan
perempuan dan laki-laki secara berbeda berhubungan bukannya aktor yang jahat. Dikatakannya non-violence
dengan isu-isu perdamaian dan keamanan; dalam adalah non-kooperasi dengan struktur yang salah dan
politik formal dan informal, dalam mediasi dan pada saat yang sama mengusulkan dan membuat
pelatihan mediasi, dalam operasi penjaga perdamaian, struktur alternatif (Mas’oed dalam Windhu, 1992).
dan dalam pertemuan-pertemuan. Dia menyatakan:
"Sangat banyak proses perdamaian yang ada di KEKERASAN MENURUT JOHAN GALTUNG
dunia dilakukan di pundak perempuan...dan yang
Kekerasan dalam arti luas dikatakan Galtung,
terpenting dalam negosiasi perdamaian adalah
peran perempuan yang mampu dengan cara sebagai sesuatu penghalang yang seharusnya bisa
holistik, dialektis, memiliki empati tinggi dan dihindari yang menyebabkan seseorang tidak bisa
kasih sayang, antikekerasan, lebih suka dialog, mengaktualisasikan diri secara wajar. Penghalang
mampu menangani konflik, dan menciptakan
perdamaian dengan cara yang kreatif (Galtung,
tersebut menurut Galtung sebenarnya dapat
2009)." dihindarkan, sehingga sebenarnya kekerasan itu juga
bisa dihindari jika penghalang itu disingkirkan
Johan Galtung bekerja di puluhan universitas (Muchsin, 2006).
dan lembaga penelitian, diantaranya di Oslo, "Singkatnya, kekerasan adalah setiap kondisi fisik,
Dubrovnik, Berlin, Santiago, Princeton, Jenewa, emosional, verbal, institusional, struktural atau
spiritual, juga perilaku, sikap, kebijakan atau
Hawaii, Kyoto, Schlaining, Witten/Herdecke, dan kondisi yang melemahkan, mendominasi atau
lain-lain. Ia mendirikan International Peace Research menghancurkan diri kita sendiri dan orang lain"
Institute, Oslo (PRIO) pada tahun 1959 dan Journal of (Galtung, 1971).
Peace Research pada tahun 1964. Saat ini Galtung juga
menjadi konsultan dari berbagai Badan PBB seperti Kekerasan langsung bisa bermacam-macam
UNESCO, UNCTAD, WHO, ILO, FAO, UNU, bentuknya. Dalam bentuk yang klasik, ia melibatkan
UNEP, UNIDO, UNDP, UNITAR, dan UNRISD. penggunaan kekuatan fisik, seperti pembunuhan atau
penyiksaan, pemerkosaan dan kekerasan seksual, juga
pemukulan. Kekerasan verbal, seperti penghinaan,
secara luas juga diakui sebagai kekerasan (Galtung, kebutuhan kekerasan. Lebih mengingat cerita sejarah
1971). yang mengagungkan catatan dan laporan perang
Johan Galtung menggambarkan kekerasan maupun kemenangan militer daripada cerita
langsung sebagai: pemberontakan tanpa kekerasan ataupun
“...gangguan yang harusnya dihindari terkait kemenangan melalui koneksi dan kolaborasi. Hampir
dengan kebutuhan dasar manusia, kebutuhan semua budaya mengakui bahwa membunuh seseorang
untuk hidup layak, sesuatu yang menurunkan
tingkat kepuasan kebutuhan riil di bawah potensi adalah pembunuhan, namun membunuh puluhan,
yang ada. Ancaman penggunaan kekerasan juga ratusan atau ribuan selama terjadinya konflik yang
merupakan kekerasan." (Galtung, 1990: 291-305). dideklarasikan, disebut 'Perang' (Galtung, 1971).

Selain kekerasan langsung, Galtung menekankan PEMIKIRAN JOHAN GALTUNG DAN FEMINISME
bentuk lain dari kekerasan, yaitu kekerasan struktural, Berbicara tentang kekerasan, dalam banyak hal,
yang tidak dilakukan oleh individu tetapi tersembunyi pemikiran Johan Galtung sejalan dengan pemikiran
dalam struktur yang lebih kecil maupun lebih luas. kaum feminis radikal. Galtung mengklaim patriarki
Penetrasi, segmentasi, marginalisasi dan fragmentasi, sebagai kekerasan langsung, struktural dan kultural.
sebagai bagian dari eksploitasi merupakan komponen Patriarki membuat dikotomi antara peran publik dan
penguat dalam struktur yang berfungsi menghalangi privat, produktif dan reproduktif, yang membentuk
formasi dan mobilitas untuk berjuang melawan relasi kuasa yang timpang antara laki-laki dan
eksploitasi. Pertama, penetrasi menanamkan perempuan. Tubuh perempuan merupakan objek
pandangan tertentu kepada kelompok lemah, utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki. Tubuh
dikombinasikan dengan segmentasi yang memberikan serta hak-hak reproduksi, seksualitas, seksisme, relasi
pandangan yang sangat parsial atas sesuatu yang kuasa perempuan dan laki-laki, dan dikotomi privat-
sedang terjadi. Selanjutnya marginalisasi menjaga publik menjadi fokus permasalahan.
kelompok yang lemah tetap berada di luar batas yang “Banyak pria bodoh yang tidak tahu bagaimana
ditetapkan, dikombinasikan dengan fragmentasi perkosaan berdampak pada pada tubuh, pikiran,
untuk menjaga agar sang underdog tetap berjauhan satu dan jiwa perempuan, sebagai trauma yang
mengganggu pertumbuhan rohaninya (Galtung,
sama lain. Keempat hal tersebut beroperasi dalam 2010).
konteks gender – bahkan ketika perempuan tidak
selalu memiliki tingkat kematian dan kesengsaraan Galtung menyatakan, dengan melihat faktor
yang lebih tinggi. Dan sebenarnya perempuan bisa biologis, kekerasan nampak tidak dapat dimodifikasi:
jadi memiliki tingkat harapan hidup lebih tinggi dari “Biologisme digunakan sebagai kekerasan budaya
laki-laki, jika mereka bisa menghindarkan diri dari terhadap perempuan dengan melegitimasi
aborsi akibat seleksi jenis kelamin, pembunuhan bayi, dominasi laki-laki melalui kekuatan otot dan
menunjukkan kelemahan perempuan berupa
dan kerentanan terhadap kematian pada masa kanak- instabilitas dan kemunduran perempuan selama
kanak (Galtung, 1996: 199). siklus menstruasi dan prokreasi.” (Galtung, 1996:
“... Aspek-aspek budaya, lingkungan simbolik 42)
dimana kita berada, seperti agama-agama dan
ideologi, bahasa dan seni, ilmu pengetahuan Persoalan penindasan perempuan didasarkan
empiris dan ilmu formal (logika, matematika) -
atas hubungan kekuasaan di mana ada kecenderungan
yang dapat digunakan untuk membenarkan atau
melegitimasi kekerasan langsung atau kekerasan laki-laki untuk mengontrol perempuan. Kegiatan laki-
struktural.” (Galtung, 1996:196). laki dilegitimasi oleh institusi masyarakat yang
patriarkis. Galtung menyatakan:
Galtung mendefinisikan kekerasan kultural “Patriarki, formasi sosial kekerasan (seperti
sebagai sikap yang berlaku dan keyakinan kita yang subkultur kriminal dan struktur militer),
telah diajarkan sejak kecil dan mengelilingi kita dalam menggabungkan kekerasan langsung, struktural
dan kultural dalam segitiga setan. Mereka
kehidupan sehari-hari tentang kekuasaan dan memperkuat satu sama lain dalam siklus yang
dimulai dari sudut manapun. Kekerasan langsung gangguan serius dibawah kesadaran.” (Galtung,
- seperti perkosaan, mengintimidasi dan 1996: 43)
menindas; kekerasan struktural melembagakan,
dan kekerasan budaya menginternalisasi Sejalan dengan kaum feminis liberal, Galtung
hubungan itu - khususnya bagi korban, yakni
perempuan, menjadikan struktur sangat kokoh.” juga menginginkan perempuan memiliki peran di
(Galtung, 1996: 40) ruang publik. Namun demikian mereka berbeda, di
satu sisi feminis liberal mengklaim peran publik
Galtung memberikan solusi untuk tersebut sebagai hak dan karena perempuan memiliki
menghapuskan kekerasan berbasis gender dengan potensi yang sama dengan laki-laki, Galtung justru
cara: melihat perbedaan antara laki-laki dan perempuan itu
1. Meningkatkan empati laki-laki melalui pola yang membuat perempuan harus memiliki peran di
sosialisasi yang serupa dengan sosialisasi untuk ruang publik. Galtung menyebutkan salah satu peran
perempuan. Dari sudut pandang untuk perempuan itu diperlukan dalam upaya mewujudkan
mengurangi kekerasan, kesamaan antar gender perdamaian:
tidak boleh dengan membesarkan anak gadis "Pengalaman konkret saya menunjukkan bahwa
seperti laki-laki, juga tidak boleh menaikkan perempuan jauh lebih kuat dalam semua aspek
manusia dan karena alasan itu juga perempuan
keduanya di posisi antara, tetapi dengan
bisa menjadi pekerja perdamaian yang lebih
membesarkan anak laki-laki seperti anak gadis dan baik." (Galtung, 2004: 67)
menjadikan ayah lebih mirip ibu dalam bidang
yang secara psiko-fisiologis sangat penting. Sedangkan dengan feminis posmodern, yang
(Galtung, 2010: 46). menyebut bahasa menjadi salah satu penyebab opresi
2. Ada kemungkinan untuk memperpanjang terhadap perempuan karena seksisme bahasa sebagai
hubungan ibu dengan anak laki-laki di mana upaya memuliakan laki-laki dan mengesampingkan,
perempuan memahami tugas untuk menyepelekan ataupun menghina perempuan,
menghumaniskan laki-laki. (Galtung, 2010: 46). Galtung juga menyatakan bahwa salah satu unsur
kekerasan budaya adalah bahasa, di mana sebenarnya
Laki-laki dan perempuan memang berbeda, perempuan bisa keluar dari kekerasan budaya
namun demikian tidak berarti perbedaan itu khususnya bahasa tersebut.
membuat perempuan berada pada posisi tertindas. “Gerakan penting untuk penulisan non seksis
Selama ini asumsi yang dibuat oleh laki-laki yang adalah salah satu contoh yang baik tentang
transformasi kultural untuk menghindari
dijadikan pedoman untuk menilai perempuan. kekerasan kultural.” (Galtung, 1996: 204-205)
Galtung mendukung hal tersebut dengan menyatakan
bahwa secara biologis, tingkat monoamine oxidase Berbicara tentang Feminis Marxis-Sosialis,
(MAO) berbeda antar jenis kelamin: Galtung pernah menyatakan feminisme telah
memberikan kontribusi besar dalam upaya mereduksi
“Rendahnya enzim ini berkecenderungan kekerasan. Feminis menyumbang dengan membuat
terhadap agresi. 90% laki-laki memiliki enzim
patriarki terlihat dengan jelas, mengingatkan pada
MAO rendah, dan akan meningkat seiring
meningkatnya usia, sedangkan untuk perempuan fokus Marxis pada struktur yang menghubungkan
10% memiliki MAO rendah. MAO menyebabkan sarana dan mode produksi (Galtung, 2010).
kehancuran metabolik amines, khususnya amines “...dengan mengidentifikasi patriarki sebagai pola
biogenik yang dianggap sebagai komponen kritis dasar kapitalisme dan militerisme. Dari sudut
dalam patogenesis berbagai gangguan psikotik. patriarki perdamaian negatif adalah kombinasi
Tingkat MAO yang rendah berarti berkurangnya yang sangat kejam antara kekerasan langsung,
kemampuan untuk amines biogenik, dengan kekerasan struktural, dan kekerasan kultural:
demikian memungkinkan bagi gangguan psikotik merugikan dan menyakiti, membunuh-
tertentu. Kekerasan dapat dilihat sebagai pra- mengalahkan, semua jenis ketidakadilan yang
psikotik atau psikotik, yang menunjukkkan mengarah ke segala macam ketidaksetaraan, dan
pembenaran, dan beberapa di antaranya laki, di mana hampir semua kekerasan dilakukan oleh
bersumber dari tafsir kitab suci.” (Galtung, 2010). laki-laki dan menjadikan perempuan sebagai
korbannya. Kekerasan yang menimpa perempuan
Peminggiran perempuan adalah suatu hal
adalah langsung dan pribadi, yang bisa dialami
esensial bagi kapitalisme (Galtung, 2010:181). Aturan
perempuan yang berada di ruang publik maupun di
baru bagi laki-laki dan perempuan tercipta ketika
ranah domestik.
kekuatan kapitalis memberikan batas antara tempat
“Banyak faktor yang mendukung perang, tiga di
kerja dan rumah, mengirim laki-laki sebagai tenaga antaranya adalah patriarki, sistem negara dengan
kerja primer, keluar menuju tempat kerja dan memonopoli kekuasaan dan sistem negara atau
memenjarakan perempuan, sebagai tenaga kerja superpower dengan monopoli tertinggi di tangan
penguasa. Laki-laki lebih cenderung pada
sekunder, di rumah. kekerasan daripada perempuan.” (Galtung,
Sejalan dengan ekofeminisme, Galtung yakin 1996:5).
bahwa peran utama perempuan akan membawa dunia
pada perdamaian, jauh dari kekerasan dan perang. Kekerasan langsung adalah sebuah fenomena
Juga dalam perang melawan kejahatan sosial lain laki-laki (Galtung, 1996: 88-89). 95% kekerasan
seperti perbudakan, kolonialisme, penghancuran langsung dilakukan oleh laki-laki dan terdapat
alam, segregasi, patriarki. kekerasan langsung laki-laki yang masif pada semua
Galtung menempatkan alienasi sebagai bagian tingkat sosial, sebagai kekerasan kriminal dalam
dari kekerasan struktural, sebagaimana ekofeminisme keluarga dan masyarakat, dan sebagai kekerasan
menjelaskan orang dalam patriarki kapitalis politik di dalam dan antara masyarakat satu dengan
cenderung untuk teralienasi dari segala sesuatu: masyarakat lainnya (Galtung, 1996: 90-91).
produk dari kerja mereka, alam, satu sama lain, dan Meskipun perempuan seringkali menjadi korban
bahkan dirinya sendiri, yang mengakibatkan manusia kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki, dengan
berperilaku aneh (Galtung, 2010: 392). adanya struktur dan kultur pro kekerasan di
Galtung juga setuju dengan ekofeminisme masyarakat, perempuan sendiri akhirnya merasa
mengklaim bahwa orang-orang dalam patriarki kekerasan sebagai sesuatu hal yang tidak bisa
kapitalis, terutama laki-laki yang karena alienasi dihindari. Bahkan kemudian para perempuan
mereka dari alam cenderung lebih besar daripada yang menjadi korban kesekian kalinya dari kekerasan laki-
dialami perempuan, ingin lebih dekat dengan alam, laki, di mana perempuan terpaksa ikut melestarikan
tetapi tidak tahu caranya (Mies, 1993). Galtung budaya kekerasan dan bahkan menjadi pelaku
menyatakan : kekerasan terhadap perempuan lain, untuk
“Laki-laki juga menginginkan cinta, keintiman, kepentingan laki-laki.
belaian, kehangatan, perawatan dan kebaikan, seperti “Perempuan seringkali terlibat dalam kekerasan
halnya perempuan, anak-anak, dan orang tua. Tetapi verbal daripada kekerasan fisik, ...apa yang orang
cinta pada laki-laki begitu dibayangi oleh kebencian marjinal (perempuan) lakukan (berupa tindakan
patriarki, sehingga akhirnya hanya kebencian yang kekerasan) adalah untuk membela diri mereka
dirasakan banyak laki-laki.” (Galtung, 2010). sendiri.” (Galtung, 2000: 860-872).

MENEMPATKAN PEMIKIRAN JOHAN GALTUNG Galtung memilah kekerasan yang dilakukan oleh
Kekerasan Langsung: Laki-laki vs Perempuan laki-laki dan perempuan dengan mencontohkan
Johan Galtung mempunyai perhatian khusus kekerasan yang menimpa perempuan dengan
terhadap kekerasan berbasis gender dengan menyebut menunjuk data statistik Swedia yang menyebut 1400
perkosaan dan penyerangan seksual, intimidasi, kasus perkosaan dan 14.000 kasus kekerasan dalam
menindas, sebagai bagian dari kekerasan langsung. rumah tangga, selama satu tahun dalam populasi
Aktifitasnya sebagai peneliti dan mediator sekitar 8 juta, di mana angka sebenarnya tentu lebih
perdamaian, membuatnya melihat fakta bahwa besar. Secara umum dia membuat standar 25:1, antara
fenomena kekerasan langsung adalah fenomena laki- laki-laki dan perempuan pelaku kekerasan kriminal,
dan dalam kasus kekerasan seksual jelas laki-laki manusia dalam kehidupan sehari-hari tentang
menempati posisi lebih tinggi (Galtung, 2000: 41). kekuasaan dan kebutuhan kekerasan (Galtung, 2000:
Dikatakannya, laki-laki melakukan kekerasan di 41). Kekerasan kultural ini membuat kekerasan
semua tingkatan sosial, berupa kekerasan kriminal langsung dan struktural terlihat sebagai sesuatu benar
dalam keluarga dan masyarakat, juga sebagai atau setidaknya tidak salah. Mekanisme psikologisnya
kekerasan politik di dalam dan di antara masyarakat dapat berupa internalisasi. Salah satu cara kekerasaan
yang satu dengan yang lainnya. Bahkan Galtung kultural berjalan dengan cara mengubah warna moral
menyebut perempuan yang turut serta dalam aktifitas suatu aksi dari merah/salah menjadi hijau/benar atau
kekerasan politik dan terorisme, juga disebabkan oleh sekurang-kurangnya kuning/dapat diterima, misalnya
pengaruh laki-laki, dan sebenarnya perempuan membunuh atas nama negara adalah benar sedangkan
tetaplah sebagai korbannya. Demikian pula ketika membunuh atas nama pribadi adalah salah. Cara lain
perempuan terlibat dalam pasukan militer dan adalah dengan mengaburkan realita, dengan demikian
menjadi tentara, laki-lakilah yang memberikan kita tidak melihat aksi atau fakta kekerasan, atau
perintah untuk melakukan kekerasan, bahkan setidaknya bukan sebagai satu kekerasan (Galtung,
pembunuhan (Galtung, 1996). 1996: 198).
Menggabungkan konsepsi kekerasan Johan
Patriarki: Kekerasan Struktural dan Kekerasan Galtung dengan manifestasi ketidakadilan gender
Kultural yang dialami oleh perempuan yang diilustrasikan oleh
Dengan konsepsi kekerasan struktural dan Mansour Fakih (2008), penulis memetakan bentuk-
kekerasan kultural Johan Galtung, patriarki bisa bentuk kekerasan yang dialami perempuan terkait
dilihat sebagai penyebab utama terjadinya kekerasan. dengan struktur dan kultur patriarki di antaranya
Patriarki menempatkan laki-laki dengan adalah:
maskulinitasnya pada posisi dominan dan perempuan 1. Kekerasan langsung terhadap perempuan, berupa
dengan femininitasnya dalam posisi subordinat. kekerasan fisik dan psikologis yang dirasakan
“Patriarki sebagai institusionalisasi dominasi laki-laki secara langsung oleh perempuan, berupa
dalam struktur vertikal, dengan korelasi sangat tinggi penyiksaan, serangan seksual, pelacuran,
antara posisi dan gender yang dilegitimasi oleh
kebudayaan, dan sering muncul sebagai kekerasan pornografi, pemaksaan KB, dan trafficking.
langsung dengan laki-laki sebagai subyek dan 2. Kekerasan struktural dan kultural yang berwujud :
perempuan sebagai obyek.” (Galtung, 1996: 40). a. Beban ganda perempuan
Pemilahan ranah publik dan privat, di mana
Eksploitasi merupakan bagian utama kekerasan perempuan ditempatkan di ruang privat dan laki-
struktural. Struktur patriarkis jelas menempatkan laki- laki di ruang publik, terkait dengan biologisme
laki pada posisi atas, dan karenanya ia mendapatkan laki-laki dan perempuan. Peran perempuan di
keuntungan substansial dari posisinya tersebut. dalam rumah membuat perempuan menjadi
Penetrasi, segmentasi, marginalisasi dan fragmentasi, memiliki penilaian menyeluruh terhadap berbagai
beroperasi dalam konteks gender, di mana sebenarnya hal, dan memiliki dialektika konsep realita yang
perempuan berpotensi untuk memiliki harapan hidup tinggi, lebih memahami lingkungan, dan tidak
sama atau bahkan lebih tinggi dari laki-laki. Potensi hanya terfokus pada salah satu aspek saja. Hal ini
ini bisa terwujud jikalau perempuan bisa membuat perempuan lebih dekat dengan alam,
menghindarkan diri dari aborsi akibat seleksi jenis aspek biologis, dan organis, yang membentuk
kelamin, pembunuhan bayi, dan kerentanan terhadap perempuan lebih peduli, feminin, dan kurang suka
kematian pada masa kanak-kanak (Galtung, berkompetisi (Galtung, 1986). Namun demikian
1996:199). kenyataannya perempuan harus menjalankan
Patriarki sebagai kekerasan kultural peran di ruang publik, berupa peran
membentuk sikap yang berlaku dan keyakinan yang kemasyarakatan, dan bagi perempuan tertentu,
telah diajarkan sejak manusia lahir dan mengelilingi
mereka juga harus mencari nafkah untuk laki dan perempuan. Dengan banyak alasan,
keluarganya. pembedaan laki-laki dan perempuan tersebut menjadi
b. Marginalisasi perempuan sumber terjadinya kekerasan yang menimpa
Perempuan memiliki peluang yang lebih kecil perempuan. Dengan demikian yang dibutuhkan
untuk bisa mengakses sumber daya ekonomi, adalah kualitas manusia, baik laki-laki maupun
berupa modal, pasar, kredit, juga fasilitas untuk perempuan yang kondusif untuk mereduksi kekerasan
pengembangan lifeskill perempuan. Oleh karenanya di semua tingkatan.
perempuan menjadi miskin, dan eksploitasi Untuk memberikan solusi dalam rangka
terhadap perempuan masif seiring dengan menghilangkan segala bentuk kekerasan dan
globalisasi saat ini. mewujudkan perdamaian Galtung selalu mencari
c. Subordinasi perempuan negasinya. Ketika patriarki dianggap sebagai sumber
Perempuan berada dalam posisi subordinan, kekerasan maka yang harus dibentuk adalah paritas,
dalam keluarga, di masyarakat, maupun sebagai yakni kesetaraan antara kedua jenis kelamin dan
warga negara. Hal ini berdampak kepada bukannya matriarki. Dan ketika melihat sifat feminin
perempuan yang akhirnya tidak bisa memutuskan lebih cenderung kondusif untuk menciptakan
banyak hal, bahkan yang terkait dengan dirinya perdamaian, maka Galtung memberikan solusi agar
sendiri. Ditambah lagi dengan kebijakan negara semua manusia memiliki sifat feminin tersebut, baik
yang juga menempatkan perempuan sebagai obyek, mereka yang jenis kelamin laki-laki atau perempuan.
karena dalam proses perumusannya hanya “Perempuan berpotensi untuk bisa mengubah
melibatkan sedikit perempuan, bahkan terkadang dunia, ... Tidak akan ada perdamaian positif, tanpa
adanya kesamaan pandangan dan kerja sama untuk
tidak dilibatkan sama sekali. saling menguntungkan antara jenis kelamin.”
d. Stereotype terhadap perempuan (Galtung, 2010).
Johan Galtung melihat posisi perempuan
dalam budaya yang bersumber dari keyakinan- Struktur masyarakat yang patriarkis dan
keyakinan tertentu selalu tidak menguntungkan. maskulin, bagi Galtung harus diganti dengan
Perempuan dianggap bernilai negatif dari sudut kesetaraan dan kerja sama antara laki-laki dan
pandang agama (Galtung, 1996: 202). Posisi itu perempuan, dengan mengembangkan femininitas
diperparah dengan adanya bahasa yang juga yang lebih kondusif untuk terwujudnya perdamaian.
menjadi alat efektif untuk meminggirkan Dia tidak melihat semata-mata dari jenis kelamin laki-
perempuan (Galtung, 1996: 205). Bahkan ilmu laki atau perempuan saja. Ketika laki-laki dan
pengetahuan yang seharusnya bisa memposisikan perempuan sama-sama memiliki potensi kekerasan,
semua manusia sebagai makhluk yang setara, justru meskipun dengan tingkatan yang berbeda, sebenarnya
menjadi alat untuk sekali lagi mengeksploitasi mereka juga sama-sama berpotensi untuk
perempuan. menghapuskan kekerasan.
Berbicara tentang struktur negara, Galtung
Bijak Gender pemikiran Johan Galtung menyatakan keberadaan laki-laki dan perempuan
Terkait dengan fenomena kekerasan, Galtung berempati rendah akan berakibat sama, yakni
lebih melihat permasalahan kekerasan sebagai memunculkan kekerasan di mana-mana. Dia
permasalahan kemanusiaan secara universal. Namun mencontohkan Margaret Thatcher, Golda Meir, dan
demikian Galtung tidak menafikan fakta yang Indira Gandhi, yang menurutnya keberadaannya
menunjukkan bahwa perempuan banyak menjadi identik dengan kekerasan.
korban kekerasan, baik berupa kekerasan langsung, Hal tersebut akan berbeda jika dalam masyarakat
kultural maupun struktural, meskipun tidak berarti dan negara dibangun struktur yang horisontal dengan
laki-laki tidak pernah menjadi korban kekerasan. ditumbuhkannya solidaritas, partisipasi, dan kerja
Galtung melihat manusia yang terposisikan, baik sama, dan setiap orang bisa memahami orang lain.
secara kodrati atau fisiologis dan gender sebagai laki- Semua manusia, laki-laki maupun perempuan
akhirnya akan menjadi lebih humanis, di mana laki- patriarki yang ada di masyarakatlah yang lebih
laki tidak lagi beralasan menggunakan fisiologisnya dominan. Struktur dan kultur yang didominasi dan
untuk melakukan kekerasan, dan perempuan merasa berorientasi laki-laki, dengan segala cara, telah
nyaman dengan femininitasnya. membentuk laki-laki menyukai kekerasan.
“Sindrom segitiga kekerasan, yakni kekerasan Solusi selanjutnya untuk menghapuskan
langsung, kekerasan struktural, dan kekerasan kekerasan Galtung menawarkan penghancuran
kultural seharusnya dikontraskan dengan sindrom
segitiga perdamaian yang meliputi tindakan patriarki untuk membentuk masyarakat yang setara
kooperatif, persahabatan, dan cinta” (Galtung, antar gender:
2010: 459). “Kombinasi antara gender, struktur, dan
perdamaian/kekerasan membawa kita langsung ke
Bagi Galtung, laki-laki dan perempuan bisa patriarki sebagai formasi sosial. Kegagalan untuk
mempersepsi realitas patriarki ke dalam masyarakat
bekerja bersama menghapuskan kekerasan, baik
merupakan contoh yang sempurna adanya
kekerasan langsung, kekerasan dalam struktur kekerasan budaya yang sedang bekerja. Konsep
masyarakat dan negara, maupun kekerasan kultural. apapun sebaiknya dipahami dari segi negasinya, dan
Inklusifitas, saling menghargai perbedaan yang ada, negasi dari patriarki bukanlah matriarki, tetapi
paritas, atau persamaan struktur gender horizontal
kemampuan memahami orang lain, kepedulian, saling yang menghubungkan gender dalam kemitraan.”
menjaga, saling mengasihi, melihat sesuatu secara (Galtung, 1996: 40).
holistik, menjadi hal yang penting. Dan pada dasarnya
melalui sosialisasi, semua manusia, laki-laki maupun Galtung mengambil kelebihan teori feminis
perempuan bisa memiliki sifat positif tersebut. sosialis yang bisa inklusif, karena menunjukkan
bagaimana kekuatan seksisme dan klasisme saling
EKLEKTISME JOHAN GALTUNG terkait dalam patriarki kapitalis yang mendominasi
Johan Galtung mengadobsi perspektif feminis struktur kehidupan di belahan dunia saat ini. Juga
yang dianggapnya memiliki kelebihan dan mampu bagaimana status sosial perempuan ditentukan oleh
menjelaskan fenomena kekerasan yang terjadi. Di sisi peran produktif dan reproduktifnya. Dengan
lain Galtung juga tidak menutup mata terhadap menggunakan perspektif Marxis – Sosialis, Galtung
kelemahan dari perspektif tersebut, sehingga dia melihat struktur yang patriarkis dan kapitalis
menggunakan perspektif feminis yang lain untuk menjadikan penindasan dan kekerasan terhadap
melengkapinya. perempuan semakin masif, yang disebutnya sebagai
Menggunakan perspektif feminis radikal, kekerasan struktural. Struktur yang menempatkan
Galtung mengidentifikasi sumber-sumber kekerasan perempuan sebagai manusia kelas dua dalam
langsung yang dikatakannya sebagai fenomena laki- kehidupan, diperkuat dengan penempatan
laki, karena kekerasan bersumber dari laki-laki sebagai perempuan pada bidang kehidupan yang dianggap
salah satu jenis kelamin biologis dengan fisiologi dan tidak produktif, membuat perempuan dalam bahasa
hormonal yang memungkinkan terbentuknya Galtung, semakin teralienasi.
kekerasan dalam diri laki-laki. Dia menegaskan adanya Perspektif feminis liberal, bagi Galtung
perbedaan laki-laki dan perempuan, yang selanjutnya bermanfaat untuk mendorong perempuan
perbedaan itu mewujud pada perempuan memiliki berpartisipasi dalam upaya mewujudkan melawan
lebih banyak sifat positif yang berkecenderungan pada kekerasan dengan cara yang berbeda dengan yang
perdamaian, dan sifat buruk laki-laki yang condong selama ini dilakukan oleh laki-laki. Tentang
kepada kekerasan. kesetaraan hak seperti yang dinginkan kaum feminis
Nampaknya Galtung menyadari kelemahan liberal, Galtung juga sepakat dengan reformasi
feminis radikal, sehingga kemudian Galtung pendidikan dan hukum untuk memberikan hak yang
mengungkapkan bahwa sebenarnya faktor biologis sama bagi laki-laki dan perempuan. Disisi lain
hanya sedikit berpengaruh terhadap terbentuknya sifat Galtung juga khawatir metode pendidikan dengan
kekerasan pada laki-laki. Faktor struktur dan kultur tidak menghilangkan dan mengubah pola pikir dan
struktur patriarki yang sebenarnya menjadi sumber mendapatkan pendidikan formal guna memperoleh
kekerasan, justru akan membuat perempuan menjadi kesetaraan justru menjadi korban dari sistem tersebut.
seperti laki-laki. Dengan menggunakan beberapa perspektif
Perspektif ekofeminisme membantu Galtung feminis tersebut di atas, Galtung berupaya untuk
untuk melihat kedekatan perempuan dengan alam, mendapatkan gambaran secara menyeluruh tentang
yang juga membuat perempuan berbeda dengan laki- kekerasan yang menimpa perempuan. Setidaknya ini
laki dalam hal femininitasnya. Galtung juga merupakan nilai positif di mana Galtung
memanfaatkan kelebihan ekofeminisme yang mampu memberikan perhatian khusus terhadap perempuan.
menjelaskan bagaimana semua sistem dan struktur Seperti yang dikatakan Muthien bahwa model
opresi yang menimpa perempuan saling berkaitan dan Galtung adalah yang paling komprehensif dalam hal
saling mempengaruhi. Galtung ingin mengembangkan inklusivitas, dia menghormati dan berkeinginan
ide feminisme supaya perempuan tidak berubah adanya keterlibatan perempuan dalam analisisnya
menjadi seperti laki-laki, karena menurutnya (Muthien, 2003).
perempuan memiliki keunggulan dibandingkan laki-
laki dalam upaya melawan kekerasan. Galtung KESIMPULAN
mengkhawatirkan fenomena perempuan yang Johan Galtung menggunakan pendekatan
memperjuangkan cita-cita feminisme, yakni feminisme, yang berangkat dari perbedaan gender,
kehidupan yang adil dan setara antar gender justru dengan tidak menjadikan seksualitas sebagai satu-
menggunakan cara-cara seperti yang dilakukan laki- satunya faktor yang menentukan terbentuknya sifat
laki. Dengan demikian menyebabkan peradaban kekerasan. Kekerasan bukan semata-mata milik laki-
modern yang ada saat ini semakin didominasi kualitas laki, perempuan juga bisa menjadi maskulin dan
maskulin, dan yang terlihat adalah kompetisi, cenderung kepada kekerasan.
egoisme, dominasi dan eksploitasi, yang bermuara Sebagai aktifis perdamaian, Galtung juga peduli
kepada kekerasan. dengan kekhawatiran yang meluas di kalangan laki-
“Memerangi patriarki berarti memerangi budaya dan laki sendiri jika ternyata perempuan yang memiliki
struktur patriarki dan sampai pada pembagian kekuasaan akan memperlakukan laki-laki dengan cara
kekuasaan yang lebih adil antar gender. Bahayanya
adalah, dalam proses perjuangannya, perempuan
bagaimana laki-laki memperlakukan mereka.
mungkin menggunakan nilai-nilai laki-laki yang Menurutnya yang harusnya dibenci adalah patriarki,
mereka perangi.” (Galtung, 1996: 5). dan bukannya laki-laki.
Upaya Galtung untuk mengintegrasikan
Dengan perspektif feminis posmodern, Galtung feminisme dalam studi perdamaian sepatutnya
yang melihat sumber kekerasan juga berasal dari dihargai, meskipun bagi Galtung, gender hanyalah
kultur yang melegitimasi kekerasan atau paling tidak salah satu variabel dalam analisis kekerasan. Karena
membuatnya nampak seolah-olah bukan kekerasan, sebenarnya tujuan Galtung akan adanya dunia damai
berharap perempuan bisa mempertahankan sifat bisa sejalan dengan tujuan feminisme yakni
positifnya, dan tidak harus mengikuti segala sesuatu terwujudnya kesetaraan dan keadilan bagi perempuan
yang selama ini ditentukan oleh laki-laki yang dan laki-laki.
didasarkan pada keyakinan-keyakinan bahkan agama Kekerasan langsung, kekerasan struktural dan
tertentu yang ditafsirkan secara timpang, bahkan kekerasan kultural bisa dihapuskan dan digantikan
cenderung selalu menempatkan perempuan dalam dengan perdamaian. Jika semua orang sepakat tidak
posisi yang buruk. Demikian pula halnya dengan melakukan kekerasan fisik, yang di dalamnya ada
perkembangan ilmu pengetahuan yang kekerasan berbasis gender, maka semua orang juga
disosialisasikan melalui sekolah-sekolah, sampai akan mendapatkan perdamaian. Jika institusi di
kepada universitas yang sangat maskulin, menurut masyarakat diubah dan tidak lagi berdasarkan pada
Galtung akan sangat berbahaya. Perempuan yang kekerasan, maka seksisme, rasisme, ageisme, klasisme,
juga akan hilang dan yang muncul adalah perdamaian
struktural. Demikian pula bila masyarakat tidak lagi (http://www.peaceactionme.org, diakses pada 10 Agustus
2010).
sepakat dengan budaya kekerasan, maka yang akan ______ 2009. European Commission Speech, Making the Difference:
terbentuk adalah budaya perdamaian. Dengan Strengthening the Capacities to Respond to Crises and Security
mengubah lembaga, pola pikir, dan sikap, maka Threats. Brussels. (Online),
(http://www.peaceactionme.org/blog/johan-galtung-s-view-
kekerasan berbasis gender akan hilang dan digantikan europe-women-and-men-peace-and-security, diakses pada
dengan perdamaian positif yang di dalamnya terdapat 11 januari 2011).
______ 2010. Women and the 21st century. (online),
harmoni dan keseimbangan. (https://www.transcend.org/tms/2010/12/women-and-the-
21st-century/, diakses pada 15 Januari 2010).
______ 2010. ‘Violence Typology’. Peace Education Basic Course 2.
REFERENSI (online),
Coser, L.A. 1971. Masters of Sociological Thought: Ideas in Historical
(http://www.dadalos.org/frieden_int/grundkurs_2/typologie.
and Social Context, Harcourt Brace Jovanovich, Inc.
htm, diakses pada 11 September 2010).
Fakih, Mansour. 2008. Analisis Gender dan Transformasi Sosial.
Gen C Magazine, Interviews with Johan Galtung. (online),
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
(http://www.generation-c.org/galtung_interview.html/2010
Galtung, Johan. 1969. Violence, Peace, and Peace Research, Journal
diakses pada 7 Februari 2011).
of Peace Research. (online) Vol. 6, No. 3, hal. 167-191,
Jamil, M Muchsin. 2006. Resolusi Konflik: Berbagai Model. (online),
(http://www.jstor.org/stable/422690 diakses pada 7 Februari
(http://wmc-iainws.com/home.php, diakses pada 25 Agustus
2011).
2010).
______ 1971. A Structural Theory of Imperialisme, Journal of Peace
Mas’oed, Mochtar. 1992. Galtung, Perspektif Kritis, dan Hubungan
Research (online) Vol 8 No 2,
Internasional, Sebuah Pengantar, dalam I Marsana Windhu.
(http://www.jstor.org/stable/423477 diakses pada 7 Februari
1992. Kekuasaan dan Kekerasan Menurut Johan Galtung.
2011)
Jogjakarta: Kanisius.
______ 1986. Age, Gender and Race, Nation and Class : What Is The
Mies, Maria. 1993. “The Need for a New Vision: The Subsistence
Relationship with Cosmology. Priceton, New Jersey: Center
Perpektive”, dalam Mies dan Shiva. Ecofeminisme, London:
of International Studies, Princeton University.
Zed.
______ 1990. Cultural Violence, Journal of Peace Research. (online)
______ 1993. “White Man’s Dillema: His Search for What He Has
Vol. 27, No. 3. hal. 291-305,
Destroyed” dalam Mies dan Shiva. Ecofeminism. London,
(http://www.jstor.org/stable/423472 diakses pada 7 Februari
Zed.
2011).
Muthien, Bernedette. 2003. Engendering Security. (online)
______ 1993. Kulturelle Gewalt; in: Der Bürger im Staat 43, 2/1993.
(http://www.engender.org.za/publications.html diakses pada
p. 106, (online), (http://www.dadalos.org/ diakses pada 11
11 Januari 2011).
September 2010).
Nur Syam. 2005. Islam Pesisir. Yogyakarta: LkiS.
______ 1996. Peace by Peaceful Means, Peace and Conflict,
Pilcher, Jane & Whelehan, Imelda. 2004. 50 Key Concepts in Gender
Development and Civilization. London: PRIO, SAGE
Studies, London: SAGE Publication.
Publications.
Salmi, Jamil. 1993. Violence and Democratic Society, New Approach to
______ 2000. Local Authorities as Peace Factors/Actors/Workers.
Human Right. London: Zed Book.
Journal of World-Systems Research. (online), Vi, 3,
Windhu, I Marsana. 1992. Kekuasaan dan Kekerasan Menurut Johan
Fall/Winter 2000, 860-872, (http://csf.colorado.edu/jwsr,
Galtung. Yogyakarta: Kanisius.
diakses pada 15 Oktober 2011).
Johan Galtung, Honorary Award 1987. (online),
______ 2004. Transcend and Transform, An Introduction to Conflict
(http://www.rightlivelihood.Org/galtung.pdf, diakses pada 1
Work. London: Pluto Press.
Oktober 2010).
______ 2007. A Mini Theory of Peace. (online),
Johan Galtung in Brief . (online),
(www.transnational.org, diakses pada 10 Agustus 2010)
(http://www.brad.ac.uk/acad/confres/dislearn/galtung.html,
______ 2007. Learning from Gandhi: Towards a nonviolent world
diakses pada 11 Januari 2011).
order. New Delhi: The Satyagraha Centenary. (online),
Addressing Gender-Based Violence Through Community Empowerment.
(www.transnasional.org, diakses pada 12 Februari 2011).
(online), (http://www.lac.org.na/publications/alphabet.html,
______ 2009. Johan Galtung’s view from Europe: Women and Men,
diakses pada 5 Oktober 2010).
Peace and Security. (online),