Vous êtes sur la page 1sur 12

Sistem ventrikular Ventrikel otak: 4 rongga dalam otak yg saling berhubungan, dilapisi sel ependim dan berisi CSF

yang dihasilkan oleh plexus choroideus pada tiap ventrikel 1. Ventriculus lateralis: ada 2 masing2 di tiap hemisfer serebri Rongga berbentuk huruf C yg corpusnya menempati lobus parietalis. Perluasan ke lobus frontalis -- cornu anterior Perluasan ke lobus occipitalis -- cornu posterior Perluasan ke lobus inferior -- cornu inferior Ventriculus lateralis berlanjut ke ventriculus tertius melalui foramen interventrikularis monro 2. Ventriculus tertius: celah sempit diantara 2 talamus Dibagian posterior berhubungan dengan ventriculus quartus melalui aquaductus sylvii -- kanal sempit dengan panjang 1,8cm dan dilapisi sel ependima 3. Ventriculus quartus: rongga berbentuk tenda. Terletak di anterior cerebellum dan di posterior pons dan setengah MO Terdapat 3 lubang: 2 foramen luschka (lateral) dan 1 foramen magendie (medial) yang menghubungan ventriculus quartus dengan subarachnoid space. Ke arah inferior ventriculus quartus berlanjut menjadi canalis spinalis yang terbentang melalui 1/2 bagian inferior MO dan sepanjang MS. Di conus medullaris canalis spinalis meluas dan menutup membentuk ventriculus terminalis. Subarachnoid space: ruangan antara arachnoida and pia mater yang berisi csf dan pembuluh2 darah besar otak. Di bagian inferior subarachnoid space membentang melewati ujung bawah MS dan didalamnya terdapat cauda equina. Subarachnoid space berakhir diantara vertebrae S2-3 CSF -- terdapat di ventrikel otak, subarachnoid space sekeliling otak dan MS. Karakteristik: 1. Jernih, tidak berwarna 2. Mengandung larutan garam anorganik 3. Glucose level setengah dri kadar glukosa darah dan hanya mengandung sedikit protein 4. Vol.total pada subarachnoid space+ventrikel : 130ml 5. Tekanan : 60-150 mmair Fungsi: 1. Bantalan antara ssp dan tulang yang mengelilinya -- pelindung dri trauma 2. Memberi daya apung mekanik dan menyangga otak 3. Membantu regulasi isi kranium 4. Memberi nutrisi untuk ssp 5. Mengangkut zat2 metablit neuron

Produksi Oleh plexus choroideus secara terus menerus dengan kecepatan 0,5ml/menit dan mencapai vol total sebesar 130ml dalam 5jam. Sirkulasi Ventriculus quartus -- subarachnoid space: Melalui cisterna cerebellomedularis dan cisterna pontis mengalir kearah superior melalui incissura tertorii dari tentorium cerebelii untuk mencapai permukaan inferior cerebri kemudian berjalan keatas melalui aspek lateral masing2 hemisfer cerebri Juga mengalir ke inferior ke subarachnoid space medula spinalis dan cauda equina Absorbsi Tempat utama: villi arachnoidales yang menonjol ke dalam sinus venosus duramater terutama sinus sagitalis superior Absorbsi dapat terjadi jika tekanan CSF melebihi tekanan sinus. TOKSOPLASMOSIS Resiko paling berat bila terinfeksi di trimester pertama dan kedua. Di dalam otak, parasit-parasit (tokso) terlihat di dalam sel glia/neuron sebagai parasit-parasit intraseluler/ sebagai koloni-koloni terminal (pseudocysts). Protozoa itu juga berada bebas di dalam jaringan. Reaksi radang umunya terlihat, sebagai gliosis, microglia, atau astrosit-astrosit. Penyerbukan limfosit-limfosit dalam ruang Virchow robin, disamping nekrosa local jaringan otak. Juga terjadi proliferasi sel-sel adventisia, disamping nekrosa local jaringan otak. Perubahan paling banyak terjadi di dalam korteks cerebralis. Parasit juga bisa dijumpai pada selaput otak. HIDROSEFALUS Akibat peningkatan volume CSS akan terjadi dilatasi ventrikel secara progresif yang memberikan gejala hidrosefalus. Penyebab peningkatan volume CSS : 1. Obstruksi aliran CSS di luar system ventrikel (misalnya trauma pada kepala, infeksi intra cranial, kelainan congenital dan perdarahan subaraknoid) 2. Obstruksi aliran CSS di dalam ventrikel (misalnya akibat kelainan congenital, tumor otak, dan perdarahan intraventrikel) 3. Kelainan pada pleksus koroid 4. Gangguan absorpsi CSS SPINA BIFIDA Pada stadium dini pembentukan susunan saraf, di bagian tengah lempeng neural terbentuk celah neural yang kemudian membentuk pipa neural. Pipa neural ini kemudian akan menjadi jaringan otak dan mielum. Proses penutupan pipa neural berlangsung selama minggu ke-4 kehidupan embrio. Gangguan proses ini menyebabkan defek pipa neural.

Gejalanya berupa: - penonjolan seperti kantung di punggung tengah sampai bawah pada bayi baru lahir - jika disinari, kantung tersebut tidak tembus cahaya - kelumpuhan/kelemahan pada pinggul, tungkai atau kaki - penurunan sensasi - inkontinensia uri (beser) maupun inkontinensia tinja - korda spinalis yang terkena rentan terhadap infeksi (meningitis). Hidrosefalus adalah jenis penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran cairan di dalam otak (cairan serebro spinal). Gangguan itu menyebabkan cairan tersebut bertambah banyak yang selanjutnya akan menekan jaringan otak di sekitarnya, khususnya pusat-pusat saraf yang vital. PATOGENESA gangguan aliran cairan otak-berdasarkan riset dari lembaga National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), Amerika Serikat-ada tiga jenis, yakni yang pertama gangguan aliran adanya hambatan sirkulasi, contoh tumor otak yang terdapat di dalam ventrikel akan menyumbat aliran cairan otak. Kedua, aliran cairan otak tidak tersumbat, sebaliknya cairan itu diproduksi berlebihan, akibatnya cairan otak bertambah banyak, contoh: tumor ganas di sel-sel yang memproduksi cairan otak. Kemudian, yang ketiga, bila cairan otak yang mengalir jumlahnya normal dan tidak ada sumbatan, tetapi ada gangguan dalam proses penyerapan cairan ke pembuluh darah balik. Sehingga otomatis, jumlah cairan akan meningkat pula. Misalnya, bila ada cairan nanah (meningitis atau infeksi selaput otak) atau darah (akibat trauma) di sekitar tempat penyerapan. Ketidakseimbangan antara produksi dan penyerapan, dapat perlahan atau progresif, menyebabkan ventrikel-ventrikel tersebut melebar, kemudian menekan jaringan otak sekitarnya. Tulang tengkorak bayi di bawah dua tahun yang belum menutup akan memungkinkan kepala bayi membesar Pembesaran kepala merupakan salah satu petunjuk klinis yang penting untuk mendeteksi hidrosefalus. Menurut peneliti Milrohat TH (1982), Paine RS (1967), dan Brett EM (1983), upaya pengukuran lingkar kepala secara serial dan teratur sangat penting dalam deteksi dini penyakit ini. Perkembangan lingkar kepala normal pada bayi cukup bulan adalah 2 cm per bulan untuk 3 bulan pertama, 1 cm per bulan untuk 3 bulan kedua, dan 0,5 cm per bulan untuk 6 bulan berikutnya. Nellhaus pada tahun 1968 menciptakan diagram persentil lingkar kepala yang masih digunakan hingga sekarang. Manifestasi klinis lain antara lain ialah ubun-ubun besar bayi akan melebar dan menonjol, pembuluh darah di kulit kepala makin jelas, gangguan sensorik-motorik, gangguan penglihatan (buta), gerakkan bola mata

terganggu (juling), terjadi penurunan aktivitas mental yang progresif, bayi rewel, kejang, muntah-muntah, panas badan yang sulit dikendalikan, dan akhirnya gangguan pada fungsi vital akibat peninggian tekanan dalam ruang tengkorak yang berupa pernapasan lambat, denyut nadi turun dan naiknya tekanan darah sistolik Untuk menunjang dan melengkapi diagnosis, diperlukan pemeriksaan tambahan mulai dari yang sederhana, seperti foto polos kepala dan disusul dengan pemeriksaan ultrasonografi. Pemeriksaan dengan sonografi menjadi data minimal untuk menilai pelebaran ventrikel dan ketebalan jaringan otak. Jika ketebalan kurang dari 2 cm, maka dinilai tindakan bedah tidak bermanfaat lagi. Sedangkan pencitraan yang mampu melihat detail ruang tengkorak dan jaringan otak, dipilih pemeriksaan computerized tomography scan (CT scan) atau magnetic resonance imaging (MRI) karena dapat mendeteksi struktur anatomi otak, dan penyebab hidrosefalus, misalnya tumor dalam rongga ventrikel yang semua itu berkaitan dengan strategi penanganan hidrosefalus penanganan hidrosefalus adalah life saving and life sustaining" yang berarti penyakit ini memerlukan diagnosis dini yang dilanjutkan dengan tindakan bedah secepatnya. Keterlambatan akan menyebabkan kecacatan dan kematian penderita. Tindakan bedah pada hidrosefalus sesungguhnya telah dirintis sejak beberapa abad yang silam oleh Ferguson pada tahun 1898 berupa membuat shunt atau pintasan untuk mengalirkan cairan otak di ruang tengkorak yang tersumbat ke tempat lain dengan menggunakan alat sejenis kateter berdiameter kecil. Cara mekanik ini terus berkembang, seperti Matson (1951) menciptakan pintasan dari rongga ventrikel ke saluran kencing (ventrikulo ureter), Ransohoff (1954) mengembangkan pintasan dari rongga ventrikel ke rongga dada (ventrikulo-pleural). Selanjutnya, Holter (1952), Scott (1955), dan Anthony J Raimondi (1972) memperkenalkan pintasan ke arah ruang jantung atria (ventrikulo-atrial) dan ke rongga perut (ventrikulo-peritoneal) yang alirannya searah dengan menggunakan katup pengaman. Teknologi pintasan terus berkembang dengan ditemukan bahan-bahan yang inert seperti silikon yang sebelumnya menggunakan bahan polietilen. Hal itu penting karena selang pintasan itu ditanam di jaringan otak, kulit, dan rongga perut dalam waktu yang lama bahkan seumur hidup penderita sehingga perlu dihindarkan efek reaksi penolakan oleh tubuh. Produk selang pintasan kini semakin canggih, contoh ada yang dilengkapi dengan klep sehingga dapat diatur tekanan aliran cairan otak, ada juga dilapisi dengan bahan antibakteri dan ada campuran materi khusus sehingga selang lebih awet, lentur, dan tidak mudah putus. Tindakan bedah pemasangan selang pintasan dilakukan setelah diagnosis dilengkapi dan indikasi serta syarat dipenuhi. Tindakan dilakukan terhadap

penderita yang telah dibius total, ada sayatan kecil di daerah kepala dan dilakukan pembukaan tulang tengkorak dan selaput otak yang selanjutnya selang pintasan ventrikel di pasang, disusul kemudian dibuat sayatan kecil di daerah perut, dibuka rongga perut lalu ditanam selang pintasan rongga perut antara kedua ujung selang tersebut dihubungkan dengan sebuah selang pintasan yang ditanam di bawah kulit sehingga tidak terlihat dari luar. PEMERIKSAAN PENUNJANG FOTO TENGKORAK : - Kepala membesar dengan disproporsi kraniofasial Tulang menipis Pelebaran sutura Adanya corak corak / konvulsi (gambaran perak ditempa) dan peningkatan tekanan intrakranial dalam waktu lama

Dengan prosedur ini dapat diketahui : a. Hidrosefalus tipe kongenital/infantil b. Hidrosefalus tipe juvenile/adult : oleh karena sutura telah menutup maka dari foto rontgen kepala diharapkan adanya gambaran kenaikan tekanan intrakranial. CT SCAN - Pada hidrosefalus obstruktif CT scan sering menunjukkan adanya pelebaran dari ventrikel lateralis dan ventrikel III. Dapat terjadi di atas ventrikel lebih besar dari occipital horns pada anak yang besar. Ventrikel IV sering ukurannya normal dan adanya penurunan densitas oleh karena terjadi reabsorpsi transependimal dari CSS. Pada hidrosefalus komunikan gambaran CT scan menunjukkan dilatasi ringan dari semua sistem ventrikel termasuk ruang subarakhnoid di proksimal dari daerah sumbatan.

Keuntungan CT scan : o Gambaran lebih jelas o Non traumatik

o Meramal prognose o Penyebab hidrosefalus dapat diduga PX. LCS - Dengan cara aseptik pungsi melalui fontanel mayor atau ventrikel untuk melihat tanda peradangan, perdarahan baru atau lama dan menentukan tekanan ventrikel Pemeriksaan ini dilakukan setelah pemeriksaan radiologi (CT SCAN/MRI) Analisis pada LCS : o Glukosa o Protein o Antibodi IgG dan IgM spesifik toksoplasma o Jumlah total IgG o Eritrosit jika ada perdarahan USG Merupakan penunjang dalam mendeteksi hidrosefalus pada pre-natal dan pasca natal Dapat dilakukan pada bayi melalui fontanel anterior yang tetap terbuka lebar. Menentukan : o Pelebaran ventrikel o Perdarahan dalam Ventrikel / sub ependymal dan inventricular hemmorhage Tidak mempunyai nilai di dalam menentukan keadaan sistem ventrikel hal ini disebabkan oleh karena USG tidak dapat menggambarkan anatomi sistem ventrikel secara jelas, seperti halnya pada pemeriksaan CT scan.

TRANSLUMINASI Penyebaran cahaya diluar sumber sinar lebih dari batas, frontal 2,5 cm, oksipital 1 cm

VENTRIKULOGRAFI - Dengan cara memasukkan kontras berupa O2 murni atau kontras lainnya dengan alat tertentu menembus melalui fontanella anterior langsung masuk ke dalam ventrikel.Setelah kontras masuk langsung difoto, maka akan terlihat kontras mengisi ruang ventrikel yang melebar. Pada anak yang besar karena fontanela telah menutup untuk memasukkan kontras dibuatkan lubang dengan bor pada karanium bagian frontal atau oksipitalis. Ventrikulografi ini sangat sulit dan mempunyai resiko yang tinggi. Di rumah sakit yang telah memiliki fasilitas CT scan, prosedur ini telah ditinggalkan.

PX. TOKSOPLASMOSIS TEST SEROLOGI (TEST ELISA) IgG : Secara pasif didapatkan dari ibu melalui plasenta Muncul 1-2 minggu setelah infeksi mencapai titer maksimum sesudah 6-8 minggu dan kemudian trun dalam waktu berbulan bulan sampai bertahun tahun (biasanya menetap seumur hidup) Tidak berkorelasi dengan keparahan penyakit IgM : - Didapatkan pada neonatus (dibuat oleh janin yang terinfeksi dalam uterus) karena zat anti igM dari ibu yang berukuran lebih besar tidak dapat melalui plasenta Tampak lebih awal (5 hari sesudah infeksi) dan tidak selalu dapat ditemukan karena cepat menghilang dari darah dalam waktu berminggu-minggu/berbulan bulan sehingga jika tidak ditemukan tetap harus di follow up Tidak ditemukan pada pasien imunokompromais dan pada toksoplasmosis yang hanya pada mata

IgA : Uji lebih sensitive daripada igM karena bertujuan untuk mendeteksi infeksi kongenital pada janin dan neonatus dan infeksi akut pada beberapa wanita hamil IgE : Untuk menegakkan diagnosis toksoplasma kongenital atau infeksi akut didapat PCR - Dilakukan dengan mendeteksi DNA parasit pada cairan tubug dan jaringa (menggunakan primer gen B1)

Dapat mendiagnosis dini yang cepat dan tepat pada : o Toksoplasma kongenital prenatal dan postnatal o Infeksi akut pada ibu hamil o Penderita imunokompromais

1. PENGKAJIAN 1.1 Anamnese 1) Riwayat penyakit / keluhan utama Muntah, gelisah nyeri kepala, lethargi, lelah apatis, penglihatan ganda, perubahan pupil, kontriksi penglihatan perifer. 2) Riwayat Perkembangan Kelahiran : prematur. Lahir dengan pertolongan, pada waktu lahir menangis keras atau tidak. Kekejangan : Mulut dan perubahan tingkah laku. Apakah pernah terjatuh dengan kepala terbentur. Keluhan sakit perut. 1.2 Pemeriksaan Fisik 1) Inspeksi : Anak dapat melioha keatas atau tidak. Pembesaran kepala. Dahi menonjol dan mengkilat. Sertas pembuluh dara terlihat jelas. 2) Palpasi Ukur lingkar kepala : Kepala semakin membesar. Fontanela : Keterlamabatan penutupan fontanela anterior sehingga fontanela tegang, keras dan sedikit tinggi dari permukaan tengkorak. 3) Pemeriksaan Mata Akomodasi. Gerakan bola mata. Luas lapang pandang Konvergensi. Didapatkan hasil : alis mata dan bulu mata keatas, tidak bisa melihat keatas. Stabismus, nystaqmus, atropi optic. 1.3 Observasi Tanda tanda vital Didapatkan data data sebagai berikut :

Peningkatan sistole tekanan darah. Penurunan nadi / Bradicardia. Peningkatan frekwensi pernapasan.

a. Aloamnanesis/ amnanesis. Amnanesis perlu dilakukan untuk menentukan hidrosefalus kongenital atau akuisita. Bayi yang lahir prematur atau posterm dan merupakan kelahiran anak yang keberapa adalah penting sebagai faktor resiko. Adanya riwayat cedera kepala sehingga menimbulkan hematom, subdural atau perdarahan subarakhnoid yang dapat mengakibatkan terjadinya hidrosefalus. Demikian juga riwayat peradangan otak sebelumnya. Riwayat keluarga perlu dilacak, riwayat gangguan perkembangan, aktivitas, perkembangan mental, kecerdasan serta riwayat nyeri kepala, muntah-muntah, gangguan visus dan adanya bangkitan kejang. b. Pemeriksaan fisik. Kesan umum penderita terutama bayi dan anak, proporsi kepala terhadap badan, anggota gerak secara keseluruhan tidak seimbang. Anak biasanya dalam keadaan tidak tenang, gelisah, iritable, gangguan kesadaran, rewel, sukar makan atau muntah-muntah. Pada hidrosefalus kongenital kepala sangat besar, fontanela tidak menutup, sutura melebar, kepala tampak transluse, dengan tulang kepala yang tipis, adanya tanda mac ewens cracked pot, tanda berupa sunset sign dengan dahi yang lebar. Pada pemeriksan auskultasi kemungkinan akan terdengarnya bising daerah posterior oleh karena malformasi V. Galeni. Pertumbuhan kepala yang cepat mengakibatkan muka terlihat lebih kecil dan tampak kurus. TOKSOPLASMOSIS KONGENITAL Bila ibu hamil mendapat infeksi primer, kemungkinan ia dapat melahirkan anak dengan toksoplasmosis kongenital. Manifestasi klinis: - prematuritas, postmaturitas - retardasi pertumbuhan intrauterin - retinokoroiditis, strabismus, buta - retardasi psikomotor - mikrosefalus atau hidrosefalus - kejang, hipotonus - ikterus, anemia, hepatosplenomegali Tingkat keparahan infeksi tergantung pada umur janin saat terjadi infeksi (makin muda usia janin, makin berat kerusakan organ tubuh). Infeksi pada kehamilan muda dapat

mengakibatkan abortus spontan dan kematian janin. Ada yang tampaknya normal pas waktu lahir dan gejala klinis baru timbul setelah beberapa minggu sampai beberapa tahun setelah kelahiran. Pada toksoplasmosis kongenital, akan ditemukan gejala2 seperti eristoblatosis, hidrops fetalis, triad klasik, nekrosis, ependimitis, serta infeksi akut. Nekrosis di otak lebih sering terjadi di bagian korteks, ganglia basal dan periventrikular. Kemungkinan juga terjadi ependimitis yang akan menyebabkan adanya sumbatan pada akuaduktus Sylvii atau foramen Monro, ujung2nya terjadi hidrosefalus pada bayi yang tidak bersalah itu. Infeksi akut di retina dapat berupa radang fokal, edema dan infiltrasi leukosit yang menyebabkan akan menyebabkan kerusakan total pada mata. Kelainan SSP sering meninggalkan gejala sisa, misalnya retardasi mental dan motorik Klasik triad yang dimaksud yaitu bayi yang lahir dengan gejala hidrosefalus, kalsifikasi intrakarnial, retinokoroiditis (dengan atrofi retina dan pigmentasi koroid), dan retardasi psikomotorik atau biasa dikenal Tetrade Sabin. Sebagai tambahan, retinokoroiditis karena toksoplasmosis pada remaja dan dewasa biasanya terjadi akibat infeksi kongenital, jarang sekali kasus yang mucul sebagai akibat dari infeksi akuisita. Kalo pada anak yang prematur, gejala klinisnya lebih berat dari bayi yang lahir normal.

Terapi Operasi Operasi biasanya langsung dikerjakan pada penderita hidrosefalus. Pada penderita gawat yang menunggu operasi biasanya diberikan : Mannitol per infus 0,5-2 g/kgBB/hari yang diberikan dalam jangka waktu 10-30 menit. 1. Third Ventrikulostomi/Ventrikel III Lewat kraniotom, ventrikel III dibuka melalui daerah khiasma optikum, dengan bantuan endoskopi. Selanjutnya dibuat lubang sehingga CSS dari ventrikel III dapat mengalir keluar. 2. Operasi pintas/Shunting Ada 2 macam : Eksternal CSS dialirkan dari ventrikel ke luar tubuh, dan bersifat hanya sementara. Misalnya: pungsi lumbal yang berulang-ulang untuk terapi hidrosefalus tekanan normal. Internal a. CSS dialirkan dari ventrikel ke dalam anggota tubuh lain. ~Ventrikulo-Sisternal, CSS dialirkan ke sisterna magna (Thor- Kjeldsen) ~Ventrikulo-Atrial, CSS dialirkan ke atrium kanan. ~Ventrikulo-Sinus, CSS dialirkan ke sinus sagitalis superior ~Ventrikulo-Bronkhial, CSS dialirkan ke Bronkhus ~Ventrikulo-Mediastinal, CSS dialirkan ke mediastinum ~Ventrikulo-Peritoneal, CSS dialirkan ke rongga peritoneum

b. Lumbo Peritoneal Shunt CSS dialirkan dari Resessus Spinalis Lumbalis ke rongga peritoneum dengan operasi terbuka atau dengan jarum Touhy secara perkutan. Tambahan : Sebagian besar pasien memerlukan tindakan operasi pintas yang bertujuan membuat saluran baru antara aliran likuor (ventrikel/lumbar) dengan kavitas drainase (peritoneum, atrium kanan, pleura). Pemilihan kavitas untuk drainase dari mana dan kemana, bervariasi untuk masing-masing kasus. Pada anak2 lokasi drainase yang terpilih adalah rongga peritoneum, karenan mampu menampung kateter yang cukup panjang sehingga dapat menyesuaikan pertumbuhan anak serta resiko terjadi infeksi berat relatif lebih kecil dibandingkan dengan rongga atrium jantung. Biasanya CSF di drainase dari ventrikel, kadang pada hidrosefalus komunikans ada yang di drain ke rongga subaraknoid lumbar, tp jarang dilakukan karena bisa terjadi herniasi tonsil pada beberapa kasus anak. Ada berbagai jenis dan merk alat shunt yang masing2 berbeda bahan, jenis, mekanisme maupun harga serta bentuknya. Pada dasarnya alat shunt terdiri dari 3 komponen : kateter proximal, katub (dengan/tanpa reservoir), dan kateter distal. Komponen bahan dasarnya adalah elastomer silikon. Penempatan reservoir shunt umumnya dipasang di frontal atau di temporo-oksipital yang kemudian disalurkan di bawah kulit. Teknik operaso penempatan shunt didasari oleh pertimbangan anatomis dan potensi kontaminasi yang mungkin terjadi (misalnya ada gastrostomi, trakeostomi, laparostomi, dll). Ada 2 hal yang perlu diperhatikan periode pascaoperasi : - Pemeliharaan luka kulit terhadap kontaminasi infeksi - Pemantauan kelancaran dan fungsi alat shunt yang dipasang Secara umum tidak ada batasan untuk posisi baring dari penderita, namun biasanya penderita dibaringkan telentang selama 1-2 hari pertama. Komplikasi shunt dikategorikan menjadi 3 kelomppok : infeksi, kegagalan mekanis dan kegagalan fungsional. Yang disebabkan jumlah aliran yang tidak adekuat. Infeksi pada shunt meningkatkan resiko akan kerusakan intelektual, lokulasi ventrikel dan bahkan kematian. Kegagalan mekanis mencakup komplikasi seperti : oklusi aliran di dalam shunt, diskoneksi atau putusnya shunt, mingrasi dari tempat semua, tempat pemasangan yang tidak tepat. Kegagalan fungsional dapat berupa drainase yang berlebihan atau malah kurang lancarnya drainase. Drainase yang terlalu banyak dapat menimbulkan komplikasi lanjutan seperti terjadinya efusi subdural, kraniosinostosis, lokulasi ventrikel, hipotensi ortostatik. PENANGANAN ALTERNATIF (SELAIN SHUNTING)

Tindakan alternatif selain operasi shunt diterapkan bagi kasus yang mengalami sumbatan di dalam sistem ventrikel termasuk juga saluran keluar ventrikel 4 (misal : stenosis akuaduktus, tumor fosa posterior, kista araknoid). Terapi etiologik : Yang pertama harus dilakukan misalnya pengontrolan kasus yang mengalami intoksikasi vitamin A, reseksi radikal lesi massa yang mengganggu aliran likuor, pembersihan sisa darah di dalam likuor atau perbaikan suatu malformasi. Penetrasi membran : Penetrasi dasar ventrikel 3 merupakan suatu tindakanmembuat jalan alternatif melalui rongga subaraknoid bagi kasus stenosis akuaduktus atau gangguan aliran pada fosa posterior. Selain memulihkan sirkulasi secara pseudo-fisiologis aliran likuor, ventrikulostomi 3 dapat menciptakan tekanan hidrostatik yang uniform pada seluruh sistem susunan saraf pusat sehingga mencegah terjadinya perbedaan tekanan pada struktur garis tengah yang rentan. Saat ini cara terbaik untuk melakukan perforasi dasar ventrikel 3 adalah dengan teknik bedah endoskopi, dimana suatu neuronendoskop (rigid/fleksibel) dimasukan melalui burrhole koronal (2-3cm dari garis tengah) ke dalam ventrikel lateral kemudian melalui foramen Monroe (diidentifikasi berdasarkan pleksus khoroid dan vena septalis serta vena talamostriata) masuk ke dalam ventrikel 3. Lubang dibuat di depan percabangan arteri basilaris sehingga terbentuk saluran antara ventrikel 3 dengan sisterna interpedunkularis. Lubang ini dapat dibuat dengan memakai laser, monopolar koagulator, radiofrekuensi, dan kateter balon. Seleksi pasien: - Hidrosefalus obtruktif - Usia diatas 1 tahun - Onset baru - Tidak ada riwayat meningitis atau pendarahan subaraknoid - Pembesaran ventrikel dengan anatomi yang masih relatif normal