Vous êtes sur la page 1sur 6

PENERIMAAN PENUGASAN, PERENCANAAN, DAN PELAKSANAAN AUDIT

Penting untuk diketahui, bahwa suatu kegiatan audit pada tahap pertama, dimulai dengan engagement (penugasan/perikatan) audit pihak akuntan publik/auditor dengan pihak klien. Engagement audit mengatur kesepakatan untuk mengikat perjanjian mereka dalam kegiatan tersebut, agar suatu waktu nanti hal tersebut dapat dipetanggungjawabkan dari kedua belah pihak. Dalam ikatan perjanjian tersebut, dijelaskan bahwa pihak klien menyerahkan pekerjaan audit atas laporan keuangan mereka kepada auditor, yang dengan sanggup melaksanakan pekerjaan audit tersebut berdasarkan kompetensi profesionalnya. Di tahap kedua, kegiatan audit yang telah diterima dan disepakati, yang selanjutnya akan dikerjakan, dibuat perencanaannya terlebih dahulu. Keberhasilan penyelesaian engagement audit dimulai dari seberapa matang dan berkualitasnya perencanaan kegiatan audit itu sendiri. Sehingga perencanaan audit dari pihak auditor sangat berpengaruh pada proses akhirnya. Tahap ketiga, sang auditor melakukan apa yang biasa disebut "pekerjaan lapangan", yaitu pengujian audit. Tiga standar menjadi acuan dalam pelaksanaan kegiatan ini. Dengan pengujian ini, auditor mencari bukti audit tentang efektivitas pengendalian intern dan juga kewajaran atas laporan keuangan sang klien. Tahap ini menjadi sebagian besar dari seluruh kegiatan audit. Penjelasan tahap-tahap tersebut dirinci di bagian selanjutnya dimulai dari bawah ini. BAGIAN 1. PENERIMAAN PENUGASAN/PERIKATAN AUDIT Tahap-Tahap Penerimaan Penugasan/Perikatan Audit Dalam pengambilan keputusan sang calon auditor terhadap diterima atau tidaknya engagement (perikatan/penugasan) audit, mereka menempuh suatu proses yang terdiri dari: 1. Mengevaluasi integritas manajemen; 2. Mengidentifikasi keadaan khusus dan risiko luar biasa; 3. Menentukan kompetensi untuk melaksanakan audit; 4. Menilai independensi; 5. Menentukan kemampuan untuk menggunakan kemahiran profesionalnya dengan kecermatan dan keseksamaan; 6. Membuat surat perikatan audit. Mengevaluasi Integritas Manajemen Laporan keuangan merupakan tanggung jawab pihak manajemen intern. Audit atas laporan keuangan bertujuan untuk memberikan pendapat atas laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen. Sehingga calon auditor berkepentingan untuk mengevaluasi integritas manajemen, dan akibatnya laporan keuangan yang disajikan untuk kegiatan audit bebas dari salah saji material. Dalam mengevaluasi integritas manajemen, calon auditor menggunakan cara berikut: 1. Melakukan komunikasi dengan auditor pendahulu; 2. Meminta keterangan kepada pihak ketiga; 3. Melakukan review terhadap pengalaman auditor di masa lalu dalam berhubungan dengan klien yang bersangkutan. Melakukan Komunikasi dengan Auditor Pendahulu Telah tercantum panduan bagi auditor tentang prosedur komunikasi antara auditor pengganti dengan auditor pendahulu1. Meminta Keterangan kepada Pihak Ketiga Pihak ketiga tersebut yaitu: - Penasihat hukum; - Pejabat bank; - dan pihak lain dalam masyarakat keuangan dan bisnis yang mempunyai hubungan bisnis dengan calon klien. Bisa juga mendapatkan keterangan dari sumber informasi lain yaitu, surat kabar, dan laporan audit tahun sebelumnya yang disimpan di BAPEPAM.

SA Seksi 315 Komunikasi antar Auditor Pendahulu dengan Auditor Pengganti

Melakukan Review terhadap Pengalaman Auditor di Masa Lalu dalam Berhubungan dengan Klien yang Bersangkutan Auditor perlu memperitmbangkan adanya kekeliruan atau kecurangan dan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh klien yang ditemukan dalam laporan audit tahun yang lalu. Calon auditor berhak mengajukan berbagai pertanyaan kepada manajemen tentang adanya hal-hal bersyarat (contingencies), kelengkapan notulen rapat dewan komisaris, dan kepatuhan klien terhadap peraturan pemerintah. Mengidentifikasi Keadaan Khusus dan Risiko Luar Biasa Dalam mengidentifikasinya, dilakukan langkah-langkah berikut: 1. Mengidentifikasi pemakai laporan audit; 2. Mendapatkan informasi tentang stabilitas keuangan dan legal calon klien di masa depan; dan 3. Mengevaluasi kemungkinan keberhasilan pengauditan laporan keuangan calon klien. Mengidentifikasi Pemakai Laporan Audit Bapepam, badan pengatur (regulatory body), bank dan lembaga keuangan lain, pemegang saham, dan pasar modal adalah pemakai utama laporan audit. Perusahaan publik yang sebagaian kepemilikannya berada di tangan masyarakat melalui mekanisme pasar modal, memiliki perbedaan tuntutan atas jasa audit tentunya dibandingkan dengan perusahaan perorangan atau perseroan terbatas yang sahamnya dimiliki oleh kalangan tertentu saja. Perusahaan yang berada di bawah pengaturan badan juga berbeda tuntutannya atas jasa audit daripada perusahaan yang bebas. Karena BAPEPAM dan badan pengatur menetapkan persyaratan pelaporan lebih dibandingkan persuahaan-perusahaan biasa. Tambahan persyaratan tersebut akan menuntut tambahan kompetensi yang harus dimiliki oleh auditor, menambah biaya audit, dan meningkatkan tanggung jawab legal auditor. Mendapatkan Informasi tentang Stabilitas Keuangan dan Legal Calon Klien di Masa Depan Contoh kasus: - Calon klien sedang menghadapi tuntutan pengadilan. - Calon klien sedang menghadapi kesulitan memenuhi kewajiban keuangannya. - Calon klien sedang membutuhkan penambahan modal. Permasalahan stabilitas keuangan dan legal calon klien dapat mendorong manajemen melakukan salah saji material dalam laporan keuangannya untuk menutupi masalah keuangan tersebut. Mengevaluasi Kemungkinan Keberhasilan Pengauditan Laporan Keuangan Calon Klien Hal ini dapat diketahui dari ketersediaan catatan akuntansi penting (jurnal, buku besar, buku pembantu), ketersediaan dokumen pendukung transaksi yang dicatat dalam catatan akuntansi, memadainya pengendalian intern yang ditetapkan dalam perusahaan calon klien, pembatasan yang akan dikenakan oleh calon klien kepada calon auditor dalam proses audit yang akan dilaksanakan. Penentuan Kompetensi Auditor untuk Melaksanakan Audit Standar umum yang pertama berbunyi sebagai berikut: "Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis cukup sebagai auditor" Auditor haruslah mempertimbangkan apakah dirinya dan timnya memilki kompetensi memadai, sesuai dengan standar auditing IAI. Mengidentifikasi Tim Audit Tim audit terdiri dari: 1. Seorang Partner yang akan bertanggung jawab terhadap penyelesaian keseluruhan ikatan audit; 2. Satu atau lebih manajer, yang akan mengkoordinasi dan mengawasi pelaksanaan program audit; 3. Staf asisten, yang melaksanakan berbagai prosedur audit yang diperlukan dalam pelaksanaan program audit.

Mempertimbangkan Kebutuhan Konsultasi dan Pengunaan Spesialis Auditor kemungkinan akan menghadapi masalah berikut ini, yang mungkin memerlukan pekerjaan spesialis: a. Penilaian (misalnya, karya seni, obat-obatan khusus, dan restricted securities); b. Penentuan karakteristik fisik yang berhubungan dengan kuantitas yang tersedia atau kondisi (misalnya, cadangan mineral atau tumpukan bahan baku yang ada di gudang); c. Penentuan nilai yang diperoleh dengan menggunakan teknik atau metode khusus (misalnya, beberapa perhitungan aktuarial). d. Penafsiran persyaratan teknis, peraturan atau persetujuan (misalnya, pengaruh potensial suatu kontrak atau dokumen hukum lainnya, atau hak atas properti). Auditor dapat menghadapi dua keadaan berikut ini: (a) Spesialis ditunjuk oleh klien atau badan berwenang; (b) Spesialis dipilih oleh auditor. Spesialis yang independen akan memberikan tingkat keyakinan yang lebih tinggi mengenai keandalan hasil kerja spesialis tersebut, karena objekitivitas spesialis menjadi tinggi. Evaluasi terhadap Indpendensi Auditor Standar umum yang kedua berbunyi sebagai berikut: "Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor" Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik mengatur tentang indpendensi auditor dan stafnya sebagai berikut: 101 Indpendensi Dalam menjalankan tugasnya, anggota KAP harus selalu mempertahankan sikap mental indpenden di dalam memberikan jasa profesional sebagaimana diatur dalam standar profesional akuntan publik yang ditetapkan oleh IAI. SIkap mental independen tersebut harus meliputi indpenden dalam fakta (in fact) maupun dalam penampilan (in appearance). 102 Integritas dan Objektivitas Dalam menjalankan tugasnya, anggota KAP harus mempertahankan integritas dan objektivitas, harus bebas dari benturan kepentingan (conflict of interest) dan tidak boleh membiarkan faktor salah saji material (material misstatement) yang diketahuinya atau mengalihkan (mensubordinasikan) pertimbangannya kepada pihak lain. Penentuan Kemampuan Auditor dalam Menggunakan Kemahiran Profesionalnya dengan Cermat dan Seksama Standar umum yang ketiga berbunyi sebagai berikut: "Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama" Penentuan Waktu Perikatan Umumnya waktu enam sampai dengan sembilan bulan merupakan jangka waktu yang memadai bagi auditor untuk merencanakan secara seksama pekerjaan audit, sehingga idealnya waktu perikatan audit sudah diterima oleh auditor enam sampai sembilan bulan sebelum akhir tahun buku klien. Pertimbangan Jadwal Pekerjaan Lapangan Penggolongan jadwal pelaksanaan pekerjaan ke dalam kedua kelompok berikut ini: 1. Pekerjaan interim (Interim Work) yang merupakan pekerjaan lapangan yang dilaksanakan oleh auditor tiga sampai empat bulan sebelum tanggal neraca. 2. Pekerjaan akhir tahun (year-end work) yang merupakan pekerjaan lapangan yang dilaksanakan oleh auditor beberapa minggu sebelum tanggal neraca sampai tiga bulan setelah tanggal neraca. Pemanfaatan Personel Klien Hal ini akan berdampak terhadap, (1) prosedur untuk memperoleh pemahaman atas pengendalian intern; (2) pengujian pengendalian; dan (3) pengujian substantif. Personel klien dimanfaatkan untuk perikatan berikut ini: 1. Pembuatan daftar saldo akun buku besar (working trial balance); 2. Rekonsiliasi akun kontrol (controlling account) dalam buku besar dengan akun buku pembantu (subsidiary ledger) yang bersangkutan; 3. Pembuatan daftar umur piutang; 4. Pembuatan daftar polis asuransi yang berlaku, piutang wesel, dan penambahan dan pengurangan aktiva tetap dalam tahun yang diaudit.

Pembuatan Surat Perikatan Audit Pembuatan surat perikatan audit dibuat oleh auditor untuk kliennya yang berfungsi untuk mendokumentasikan dan menegaskan penerimaan auditor atas penunjukan klien, tujuan dan lingkup audit, lingkup tanggung jawab yang dipikul oleh auditor bagi kliennya, kesepakatan tentang reproduksi laporan keuangan auditan, serta bentuk laporan yang akan diterbitkan oleh auditor. Isi Pokok Surat Perikatan Audit Umumnya berisi: a) Tujuan audit atas laporan keuangan; b) Tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan; c) Lingkup audit, termasuk penyebutan undang-undang, peraturan, pernyataan dari badan profesional yang harus dianut oleh auditor; d) Bentuk laporan atau komunikasi lain yang akan digunakan oleh auditor untuk menyampaikan hasil perikatan; e) Fakta bahwa audit memiliki keterbatasan bawaan bahwa kekeliruan dan kecurangan material tidak akan terdeteksi; f) Pengaturan reproduksi laporan keuangan auditan; g) Kesanggupan auditor untuk menyampaikan informasi tentang kelemahan signifkan dalam pengendalian intern yang ditemukan oleh auditor dalam auditnya; h) Akses ke berbagai catatan, dokumentasi, dan informasi lain yang diharuskan dalam kaintannya dengan audit; i) Dasar yang digunakan oleh auditor untuk menghitung fee audit dan pengaturan penagihannya. Bahkan ada beberapa hal lagi yang dapat dimasukkan dalam surat perikatan audit, apabila kondisi yang terjadi relevan dengan penambahan isi hal tersebut. Dalam audit yang berlangsung berulangkali, auditor memutuskan pengiriman surat perikatan audit baru apabila faktor-faktor berikut ini terjadi: a. Adanya petunjuk bahwa klien salah paham mengenai tujuan dan lingkup audit; b. Adanya syarat-syarat perikatan yang direvisi atau khusus; c. Perubahan manajemen yang terjadi akhir-akhir ini; d. Perubahan signifikan dalam sifat dan ukuran bisnis klien; e. Persyaratan hukum. BAGIAN 2. PERENCANAAN AUDIT Inilah tahap-tahap yang harus ditempuh auditor setelah menerima perikatan audit dari kliennya: 1. Memahami bisnis dan industri klien; 2. Melaksanakan prosedur analitik; 3. Mempertimbangkan tingkat materialitas awal; 4. Mempertimbangkan risiko bawaan; 5. Mempertimbangkan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap saldo awal, jika perikatan dengan klien berupa audit tahun pertama; 6. Mengembangkan strategi audit awal terhadap asersi signifikan; 7. Me-review informasi yang berhubungan dengan kewajiban legal klien; 8. Memahami struktur pengendalian intern klien. Memahami Bisnis Industri Klien Panduan tentang sumber informasi bagi auditor untuk memahami bisnis dan industri klien2: 1. Pengalaman sebelumnya tentang entitas dan industrinya; 2. Diskusi dengan orang dalam entitas3 4; 3. Diskusi dengan personel dari fungsi audit intern dan review terhadap laporan auditor intern. 4. Diskusi dengan auditor lain dan penasihat hukum atau penasihat lain yang telah memberikan jasa kepada entitas dalam industri; 5. Diskusi dengan orang yang berpengetahuan di luar entitas; 6. Publikasi yang berkaitan dengan industri; 7. Perundangan dan peraturan yang secara signifikan berdampak terhadap entitas; 8. Kunjungan ke tempat atau fasilitas pabrik entitas; 9. Dokumen yang dihasilkan oleh entitas.

2 3 4

SA Seksi 318 Pemahaman atas Bisnis Klien SA Seksi 380 Komunikasi dengan Komite Audit SA Seksi 334 Pihak yang Memiliki Hubungan Istimewa

Melaksanakan Prosedur Analitik Prosedur analitik meliputi perbandingan jumlah-jumlah yang tercatat atau ratio yang dihitung dari jumlah-jumlah yang tercatat, dibandingkan dengan harapan yang dikembangkan oleh auditor5. Hal tersebut diharapkan untuk membantu perencanaan sifat, saat, dan luas prosedur audit yang akan digunakan untuk memperoleh bukti tentang saldo akun atau jenis transaksi tertentu. Prosedur analitik dilaksanakan melalui enam tahap ini: 1. Mengidentifikasi perhitungan/perbandingan yang harus dibuat (Perbandingan data absolut; Common-size income statement; Ratio analysis; Trend analysis); 2. Mengembangkan harapan; 3. Melaksanakan perhitungan/perbandingan; 4. Menganalisis data dan mengidentifikasi perbedaan signifikan; 5. Menyelidiki perbedaan signifikan yang tidak terduga dan mengevaluasi perbedaan tersebut; 6. Menentukan dampak hasil prosedur analitik terhadap perencanaan audit. Dalam mengarahkan perhatian auditor ke bidang yang memilki risiko lebih besar, prosedur analitik dapat bermanfaat dalam pelaksanaan audit yang efektif dan efisien. Mempertimbangkan Tingkat Materialitas Awal Auditor perlu mempertimbangkan materialitas awal pada dua tingkat berikut ini: (1) tingkat laporan keuangan; dan (2) tingkat saldo akun. Pendapat auditor atas kewajaran laporan keuangan diterapkan pada laporan keuangan sebagai keseluruhan, merupakan alasan auditor menetapkan materialitas awal pada tingkat laporan keuangan. Mempertimbangkan Risiko Bawaan Sejak perencanaan audit sampai dengan penerbitan laporan audit, sang auditor harus mempertimbangkan berbagai macam risiko bawaan (inherent risk) -suatu risiko salah saji yang melekat dalam saldo akun atau asersi tentang suatu saldo akun, seperti: - risiko pengendalian (control risk) (tahap pemahaman dan pengujian pengendalian intern); - risiko deteksi (detection risk) (tahap pelaksanaan pengujian substantif); - risiko audit (tahap akhir proses audit). Auditor berusaha untuk membatasi risiko audit pada tingkat saldo akun sedemikian rupa sehingga pada akhir audit, risiko audit dalam menyatakan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan akan berada pada tingkat yang rendah. Mempertimbangkan Berbagai Faktor yang Berpengaruh terhadap Saldo Awal, jika Perikatan Audit merupakan Audit Tahun Pertama Standar pekerjaan lapangan ketiga: "Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan" Auiditor harus menyadari mengenai hal-hal bersyarat (contingencies) dan komitmen yang ada pada awal tahun6. Auiditor harus memperoleh bukti audit yang kompeten yang cukup untuk meyakini bahwa: a. Saldo awal tidak mengandung salah saji yang mempunyai dampak material terhadap laporan keuangan tahun berjalan; b. Saldo penutup tahun sebelumnya telah ditransfer dengan benar ke tahun berjalan atau telah dinyatakan kembali; c. Kebijakan akuntansi yang semestinya telah diterapkan secara konsisten. Mengembangkan Strategi Audit Awal terhadap Asersi Signifikan Pengumpulan dan evaluasi bukti tentang asersi yang terkandung dalam laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen, agar tujuan akhir perencanaan dan pelaksanaan audit yang dilakukan oleh auditor mudah tercapai. Ada dua strategi audit awal yang dapat dipilih: (1) Primarily substantive approach; dan (2) lower assessed level of control risk approach. Me-review Informasi yang Berhubungan dengan Kewajiban Legal Klien Penyajian laporan keuangan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia mewajibkan klien untuk melaksanakan peraturan-peraturan pemerintah dan perjanjianperjanjian legal yang lain.
5 6 SA Seksi 329 Prosdur Analitik SA Seksi 323 Audit Tahun Pertama

Sebelum memulai verifikasi dan analisis terhadap transaksi dan akun tertentu, auditor perlu memahami kewajiban-kewajiban legal dan perjanjian-perjanjian yang menyangkut klien. Informasi tersebut tercantu dalam dokumen berikut ini: 1. Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga; 2. Perjanjian persekutuan (partnership agreement); 3. Notulen rapat direksi dan pemegang saham; 4. Kontrak; 5. Peraturan-peraturan pemerintah yang secara langsung menyangkut perusahaan klien; 6. Arsip korespondensi. Memahami Struktur Pengendalian Intern Klien Salah satu tipe bukti yang dikumpulkan oleh auditor adalah pengendalian intern. Jika auditor yakin bahwa klien telah memilki pengendalian intern yang baik, meliputi pengendalian terhadap penyediaan data yang dapat dipercaya dan penjagaan kekayaan serta catatan akuntansi, jumlah bukti audit yang harus dikumpulkan oleh auditor akan jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan jika keadaan pengendalian internnya jelek. Untuk mendukung keyakinan atas efektivitas pengendalian intern tersebut, auditor melakukan pengujian (test of control). BAGIAN 3. PENGUJIAN AUDIT Dalam audit , auditor melakukan berbagai macam pengujian (test), yang secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 golongan sebagai berikut: 1. Pengujian analitik (analytical test); 2. Pengujian pengendalian (test of control); 3. Pengujian substransif (substansif test). Pengujian Analitik (Analytical Test) Pengujian ini dilakukan pada tahap awal proses auditnya dan pada tahap review menyeluruh terhadap hasil audit. Dengan cara mempelajari perbandingan dan hubungan antara data yang satu dengan data yang lain. Pada tahap awal proses audit, pengujian analitik dimaksudkan untuk membantu auditor dalam memahami bisnis klien dan dalam menemukan bidang yang memerlukan audit lebih intensif. Analisis ratio, analisis laba bruto, analisis terhadap laporan keuangan perbandingan (comparative financial statement) merupakan cara yang umunya ditempuh oleh auditor untuk mendapatkan gambaran menyeluruh dan secara garis besar mengenai keadaan keuangan dan hasil usah klien. Pengujian Pengendalian (Test of Control) Dirancang untuk memverifikasi efektivitas pengendalian intern klien, dan terutama ditujukan untuk mendapatkan informasi mengenai: (1) Frekuensi pelaksanaan aktifitas pengendalian yang ditetapkan; (2) Mutu pelaksanaan aktifitas pengendalian tersebut; dan (3) Karyawan yang melaksanakan aktifitas pengendalian tersebut. Misalkan dari kuesioner pengendalian intern auditor memperoleh informasi bahwa setiap pembelian harus mendapatkan otorisasi dari pejabat yang berwenang, maka sang auditor melakukan pengujian dengan cara memilih secara acak surat order pembelian yang dibuat oleh klien dalam tahun yang diperiksa dan kemudian melakukan audit mengenai: (1) frekuensi pelaksanaan aktifitas pengendalian; (2) Mutu pelaksanaan aktifitas pengendalian; dan (3) Karyawan yang melaksanakan aktifitas pengendalian. Pengujian Substransif (Substansif Test) Merupakan prosedur audit yang dirancang untuk menemukan kemungkinan kesalahan moneter yang secara langsung mempengaruhi kewajaran penyajian laporan keuangan. Kesalahan moneter yang terdapat dalam informasi yang disajikan dalam laporan keuangan kemungkinan terjadi karena kesalahan dalam: a. Penerapan prinsip akutansi berterima umum di Indonesia; b. Tidak diterapkannya prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia; c. Ketidakkonsistensian dalam penerapan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia; d. Ketidaktepatan pisah batas (cutoff) pencatatan transaksi; e. Perhitungan; f. Pekerjaan penyalinan, penggolongan dan peringkasan informasi; g. Pencatuman pengungkapan (disclosure) unsur tertentu dalam laporan keuangan.