Vous êtes sur la page 1sur 3

Audiometri & Tympanometri

http://elektromedik.blogspot.com/2009/06/audiometri-tympanometri.html

Telinga

Dalam mendeteksi kehilangan pendengaran, audiometri dan tympanometri adalah instrumen diagnostik yang membantu untuk mengetahui tingkat ketulian seseorang.

Audiometri adalah alat untuk mengetahui derajat gangguan pendengaran atau jenis ketulian masingmasing telinga secara kuantitatif dan akan bisa dikategorikan menjadi normal, tuli ringan atau tuli berat.

Sedangkan Tympanometri adalah pengukuran tekanan telinga yang berhubungan dengan tuba saluran eustachius pada membran tympani. Eustachian Tube/Tuba Eusthasius menghubungkan telinga tengah dan tenggorokan yang mempunyai tujuan menyeimbangkan tekanan udara ditelinga tengah dan luar serta merupakan ventilasi pada telinga tengah. Tes ETF/Fungsi Tuba Eusthasius dapat digunakan untuk mengetahui jika fungsi tuba eusthasius normal.

Uji audiometri ada dua macam: (1) audiometri nada-murni, di mana stimulus suara terdiri atas nada murni atau musik (semakin keras nada sebelum pasien bisa mendengar berarti semakin besar kehilangan pendengarannya), dan (2) audiometri wicara di mana kata yang diucapkan digunakan untuk menentukan kemampuan mendengar dan membedakan suara.

Agar hasilnya akurat, evaluasi audiometri dilakukan di ruangan yang kedap suara. Respons yang dihasilkan diplot pada grafik yang dinamakan audiogram.

Frekuensi Melihat pada jumlah gelombang suara yang dihasilkan oleh sumber bunyi per detik siklus perdetik atau hertz (Hz). Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran frekwensi dari * 20 sampai 20.000Hz. * 500 sampai 2000 Hz yang paling penting untuk memahami percakapan sehari-hari * Frekwensi 100 Hz dianggap sebagai nada rendah, dan nada * 10.000 Hz dianggap sebagai nada tinggi. Unit untuk mengukur kerasnya bunyi (intensitas suara) adalah desibel (dB), tekanan yang ditimbulkan oleh suara. Kehilangan pendengaran diukur dalam decibel, yang merupakan fungsi logaritma intensitas dan tidak bisa dengan mudah dikonversikan ke persentase. * Ambang kritis kekerasan adalah sekitas 30 dB. Beberapa contoh internsitas suara yang biasa termasuk gesekan kertas dalam lingkungan yang sunyi, terjadi pada sekitar 15 dB; per kapan rendah, 40 dB; dan kapal terbang jet sejauh kaki, tercatat sekitar 150 dB. Suara yang lebih keras i 80 dB didengar telinga manusia sangat keras.

Sedangkan Uji Tympanometri Tes dilakukan dengan memberikan nada murni pada telinga, dan mengukur respon gendang telinga terhadap suara dan perbedaan tekanan. Hasilnya akan ditampilkan pada kurva tympanogram.

[scribd id=21332895 key=key-1pzpevimo4t74fzvwl5t mode=list]

Dian Febri Saputro Timpanometri bukan suatu pemeriksan pendegaran namun timpanometri menunjang pemeriksaan OAE.Timpanometri adalah pemeriksaan atau pengukuran fungsi telinga tengah, antara lain yaitu: Mobilitas gendang telinga, Fungsi tuba Eustachius, Kondisi kavum timpani. Manfaat dari timpanometri untuk screening/menilai kondisi liang telinga.Membedakan secara tegas antara gangguan dengar kondukif dan sensorineural, Tes timpanometri tidak boleh di lakukan apabila : Terdapat perporasi gendang telinga, Otitis Esterna/infeksi telinga luar, Adanya sumbatan di liang telinga (serumen atau benda asing), atresia. Dari hasil timpanometri kita dapat mengetahui :

a. Middle Ear Pressure (Tekanan udara telinga tengah), gendang telinga pada posisi paling compliance, tekanan udara antara bagian luar dengan bagian tengah sama, tekanan udara di telinga luar sangat bervariasi tergantung dari : tekanan udara di telinga tengah, mobilitas gendang telinga dan tulang

pendengaran, satuan dari MEP (Middle Ear Pressure) adalah millimeter air (mmH2O) atau deca pascal (daPa). Nilai MEP yang normal untuk orang dewasa : 1 s/d + 200 daPa, untuk anak-anak 100 = + 50 daPa.

b. Equivalient volume udara, satuan volume udara yang mengisi liang telinga saat dilakukan timpanometri, equivalent volume sangat dipengaruhi oleh : kondisi liang telinga dan kondisi gendang telinga. Nilai equivalent orang dewasa : 0,2 s/d 2,0 cc dan untuk anak-anak 0,3 s/d 2,0 cc. c. Compliance telinga tengah, dipengaruhi oleh : kondisi gendang telinga, kondisi tulang-tulang pendengaran, kondisi kavum timpani. Nilai normal dari compliance dari telinga tengah : untuk orang dewasa 0,3 s/d 2,0 cc dan untuk anak-anak : 0,3 s/d 2,0 cc.