Vous êtes sur la page 1sur 13

ASKEP CEREBRAL PALSY

A. LATAR BELAKANG Cerebral palsy merupakan kelainan motoril yang banyak ditemukan pada anak-anak. Di Klinik Tunbuh Kembang RSUD Dr. Soetomo pada periode 1988 1991, sekitar 16,8% adalah dengan cerebral palsy. William Little yang pertama kali mempublikasikan kelainan ini pada tahun 1843, menyebutnya dengan istilah cerebral diplegia, sebagai akibat dari prematuritas atau asifiksia neonatorium. Pada waktu itu kelainan ini dikenal sebagai penyakit dari Little. Sigmund Freud menyebut kelainan ini dengan istilah Infantil Cerebral Paralysis. Sedangkan Sir William Osler adalah yang pertama memperkenalkan istilah cerebral palsy. Nama lainnya adalah Static encephalopathies of childhood. Angka kejadiannya sekitar 1-5 per 1000 anak laki-laki lebih banyak daripada wanita. Sering terdapat pada anak pertama, mungkin karena anak pertama lebih sering mengalami kesulitan pada waktu dilahirkan. Angka kejadiannya lebih tinggi pada bayi BBLR dan anak-anak kembar. Umur ibu sering lebih dari 40 tahun, lebih-lebih pada multipara. Franky ( 1994 ) pada penelitiannya di RSUD sanglah Denpasar, mendapat bahwa umur 58,3% penderita cerebral palsy yang diteliti adalah laki-laki, 62,5% anak pertama, ibu semua dibawah 30 tahun, 87,5% berasal dari persalinan spontan letak kepala dan 75% dari kehamilan cukup bulan. B. DEFINISI Cerebral palsy adalah ensefalopatistatis yang mungkin di definisikan sebagai kelainan postur dan gerakan non-progresif, sering disertai dengan epilepsy dan ketidak normalan bicara, penglihatan, dan kecerdasan akibat dari cacat atau lesi otak yang sedang berkembang. ( Behrman : 1999, hal 67 70 ) Cerebral palsy ialah suatu gangguan nonspesifik yang disebabkan oleh abnormalitas system motor piramida ( motor kortek, basal ganglia dan otak kecil ) yang ditandai dengan kerusakan pergerakan dan postur pada serangan awal. ( Suriadi Skep : 2006, hal 23 27 ). Cerebral palsy adalah kerusakan jaringan otak yang kekal dan tidak progresif, terjadi pada waktu masih muda ( sejak dilahirkan ) serta merintangi perkembangan otak normal dengan gambaran klinik dapat berubah selama hidup dan menunjukkan kelainan dalam sikap dan pergerakan, disertai kelainan neurologist berupa kelumpuhan spastis, gangguan ganglia basal dan sebelum juga kelainan mental. ( Ngastiyah : 2000, hal 54 56 ). Cerebral palsy ialah suatu gangguan atau kelainan yang terjadi pada suatu kurun waktu dalam perkembangan anak, mengenai sel-sel motorik didalam susunan saraf pusat, bersifat kronik dan tidak progresif akibat kelainan atau cacat pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya. ( Yulianto : 2000, http:// www.medicastore .com ). Cerebral palsy adalah suatu keadaan yang ditandai dengan buruknya pengendalian otot,

kekakuan, kelumpuhan dan gangguan fungsi saraf lainnya. ( Santi Wijaya : 1999, http:// www.pediatrik. Com ). C. ETIOLOGI Penyebab Cerebral palsy dapat dibagi menjadi dalam 3 bagian : 1. Pranatal a. Infeksi intrauterin : TORCH, sifilis, rubella, toksoplasmosis, sitomegalovirus. b. Radiasi. c. Asfiksia intrauterine ( abrupsio plasenta previa, anoksia maternal, kelainan umbilicus, perdarahan plasenta, ibu hipertensi, dan lain-lain ). d. Toksemia grafidarum. 2. Perinatal a. Anoksia/hipoksia. b. Perdarahan otak. c. Prematuritas. d. Ikterus. e. Meningitis purulenta. 3. Postnatal. a. Trauma kepala. b. Meningitis/ensefalitis yang terjadi 6 bulan pertama kehidupan. c. Racun : logam berat. d. Luka Parut pada otak pasca bedah. Beberapa penelitian menyebutkan factor prenatal dan perinatal lebih berperan dari pada factor pascanatal. Studi oleh nelson dkk ( 1986 ) menyebutkan bayi dengan berat lahir rendah, asfiksia saat lahir, iskemia prenatal, factor penyebab cerebral palsy. Faktor prenatal dimulai saat masa gestasi sampai saat akhir, sedangkan factor perinatal yaitu segala factor yang menyebabkan Cerebral palsy mulai dari lahir sampai satu bulan kehidupan. Sedangkan factor pascanatal mulai dari bulan pertama kehidupan sampai 2 tahun. ( Hagbreg dkk, 1975 ), atau sampai 5 tahun kehidupan ( Blair dan Stanley, 1982 ), atau sampai 16 tahun ( Perlstein, Hod, 1964 )

D. MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinis cerebral plasy tergantung dari bagian dan luas jaringan otak yang mengalami kerusakan : 1. Spastisitas Tedapat peninggian tonus otot dan reflek yang disertai dengan klonus dan reflek Babinski kerusakan yaitu : a. Monoplegia / monoparesis

Kelumpuhan keempat anggota gerak, tapi salah satu anggota gerak lebih hebat dari yang lainnya. b. Hemiplegia / hemiparisis Kelumpahan lengan dan tungkai dipihak yang sama. c. Diplegia / diparesis Kelumpuhan keempat anggota gerak, tapi tungkai lebih hebat dari pada lengan. d. Tetraplegia / tetraparesis Kelumpuhan keempat anggota gerak, tapi lengan lebih atau sama hebatnya dibandingkan dengan tungkai yang lain 2. Tonus otot yang berubah Bayi pada usia pertama tampak flasid dan berbaring seperti kodok terlentang, sehingga tampak seperti kelainan pada lower motor neuron menjelang umur 1 tahun berubah menjadi tonus otot dari rendah hingga tinggi. Golongan ini meliputi 10-20% dari kasus cerebral palsy. 3. Ataksia Ialah gangguan koordinasi kerusakan terletak di serebulum, terdapat kira-kira 5% dari kasus cerebral palsy. 4. Gangguan pendengaran Terdapat pada 5-10% anak dengan cerebral palsy gangguan berupa kelainan neurogen terutama persepsi nada tinggi, sehingga sulit menangkap kata-kata. 5. Gangguan bicara Disebabkan oleh gangguan pendengaran atau retardasi mental. Gerakan yang terjadi dengan sendirinya dibibir dan dilidah menyebabkan sukar mengontrol otot-otot sehingga sulit membentuk kata-kata dan sering tampak anak berliur. 6. Gangguan mata Biasanya berupa strabismus convergen dan kelainan refraksi, asfiksia berat, dapat terjadi katarak, hamper 25% penderita celebral palsy menderita kelainan mata. Gejala biasanya timbul sebelum anak berumur 2 tahun dan pada kasus yang berat, bisa muncul pada saat anak berumur 3 bulan. Gejalanya bervariasi, mulai dari kejanggalan yang tidak tampak nyata sampai kekakuan yang berat, yang menyebabkan bentuk lengan dan tungkai sehingga anak harus memakai kursi roda. Cerebral palsy dibagi menjadi 4 kelompok : 1. Tipe spastic atau pyramidal ( 50% dari semua kasus CP, otot-otot menjadi kaku dan lemah. Pada tipe ini gejala yang hamper selalu ada adalah : a) Hipertoni ( fenomena pisau lipat ) b) Hiperrefleksi yang disertai klonus. c) Kecenderungan timbul kontraktur. d) Reflex patologis. Secara topografi distribusi tipe ini adalah sebagai berikut : a) Hemiplegia apabila mengenai anggota gerak sisi yang sama. b) Spastic diplegia, mengenai keempat anggota gerak, anggota gerak atas sedikit lebih berat.

c) Kuadriplegi, mengenai keempat anggota gerak, anggota gerak atas sedikit lebih berat. d) Monopologi, bila hanya satu anggota gerak. e) Triplegi apabila mengenai satu anggota gerak atas dan dua anggota gerak bawah, biasanya merupakan varian dan kuadriplegi. 2. Tipe disginetik ( koreatetoid, 20% dari semua kasus CP ), otot lengan, tungkai dan badan secara spontan bergerak perlahan, menggeliat dan tak terkendali, tetapi bisa juga timbul gerakan yang kasar dan mengejang. Luapan emosi menyebabkan keadaan semakin memburuk, gerakan akan menghilang jika anak tidur. 3. Tipe ataksik, ( 10% dari semua kasus CP ), terdiri dari tremor, langkah yang goyah dengan kedua tungkai terpisah jauh, gangguan koordinasi dan gerakan abnormal. 4. Tipe campuran ( 20% dari semua kasus CP ), merupakan gabungan dari 2 jenis diatas, yang sering ditemukan adalah gabungan dari tipe spastic dan koreoatetoid. Berdasarkan derajat kemampuan fungsional : 1) Ringan : Penderita masih bisa melakukan pekerjaan / aktivitas sehari-hari sehingga sama sekali tidak atau hanya sedikit sekali membutuhkan bantuan khusus. 2) Sedang : Aktivitas sangat terbatas, penderita membutuhkan bermacam-macam bantuan khusus atau pendidikan khusus agar dapat mengurus dirinya sendiri, dapat bergerak dan berbicara. Dengan pertolongan secara khusus, diharapkan penderita dapat mengurus diri sendiri, berjalan atau berbicara sehingga dapat bergerak, bergaul, hidup di tengah masyarakat dengan baik. 3) Berat : Penderita sama sekali tidak bisa melakukan aktifitas fisik dan tidak mungkin dapat hidup tanpa pertolongan orang lain. Pertolongan atau pendidikan khusus yang diberikan sangat sedikit hasilnya. Sebaiknya penderita seperti ini ditampung dengan retardasi mental berat, atau yang akan menimbulkan gangguan social-emosional baik bagi keluarganya maupun lingkungannya. Gejala lain yang juga bisa ditemukan pada CP : a. Kecerdasan dibawah normal. b. Keterbelakangan mental. c. Kejang/epilepsy ( trauma pada tipe spastic ). d. Gangguan menghisap atau makan. e. Pernafasan yang tidak teratur. f. Gangguan perkembangan kemampuan motorik ( misalnya menggapai sesuatu, duduk, berguling, merangkak, berjalan ). g. Gangguan berbicara (disatria ). h. Gangguan penglihatan. i. Gangguan pendengaran. j. Kontraktur persendian. k. Gerakan menjadi terbatas. E. PATOFISIOLOGI 1. Adanya malformasi pada otak, penyumbatan pada vaskuler, atropi, hilangnya neuron dan degenerasi laminar akan menimbulkan narrower gry, saluran sulci dan berat otak rendah. 2. Anoxia merupakan penyebab yang berarti dengan kerusakan otak, atau sekunder dari penyebab mekanisme yang lain. CP ( Cerebral Palsy ) dapat dikaitkan dengan premature yaitu

spastic displegia yang disebabkan oleh hypoxic infarction atau hemorrnage dalam ventrikel. 3. Type athetoid / dyskenetik disebabkan oleh kernicterus dan penyakit hemolitik pada bayi baru lahir, adanya pigmen berdeposit dalam basal ganglia dan beberapa saraf nuclei cranial. Selain itu juga dapat terjadi bila gangsal banglia mengalami injury yang ditandai dengan indek terkontol, pergerakan yang tidak disadari dan lambat. 4. Type CP himepharetic, Karena trauma pada kortek atau CVA pada arteri cerebral tengah. Cerebral hypoplasia; hipoglicemia neonatal dihubungkan dengan ataxia CP. 5. Spastic CP yang paling sering dan melibatkan kerusakan pada motor korteks yang paling ditandai dengan ketegangan ototdan hiperresponsif. Refleks tendon yang dalam akan meningkatkan dan menstimulasi yang dapat menyebabkan pergerakan sentakan yang tiba tiba pada sedikit atau semua ektermitas. 6. Ataxic CP adanya injury dari sebelum yang mana mengatur koordinasi, keseimbangan dan kinestik. Akan tampak pergerakan yang tidak terkoordinasi pada ekstremitas aras bila anak memegang / menggapai benda. Ada pergerakan berulang dan cepat namun minimal. 7. Rigid / tremor / atonic CP ditandai dengan kekakuan pada kedua otot fleksor dan ekstensor. Type ini mempunyai prognosis yang buruk karena ada deformities multiple yang terkait dengan kurangnya pergerakan aktif. 8. Secara umum cortical dan antropy cerebal menyebabkan beratnya kuadriparesis dengan retardasi mental dan microcephaly. F. PATHWAY Prenatal Infeksi intra

Radiasi

Asfiksia intrauterin

Toksemia gravidarum

Perinatal Anoksia / hipoksia

Perdarahan

Prematuritas

Ikterus

Meningitis Purulenta

Post natal Trauma

Meningitis

Bilirubin masuk ke ganglion basal Otak

Kernicterus & peny. Hemolitik

Injury basal ganglia Kerusakan jaringan otak tetap

Penyumbatan CSS Penekanan kortek serebri Perdarahan diruang Kelumpuhan spastic Hidrosefalus Perdarahan disruang subarakhnoid G. KOMPLIKASI Kelainan Frekuensi Tipe Cerebral Palsy Retardasi mental Epilepsi Kelainan Virus Strabismus Kelainan refraksi Hemianopsia Kelainan pendengaran Disartria Kelainan kortikal sensori Pertumbuhan ekstremitas tidak Simetris Skoliosis Dismofogenesis Kontraktur sendi Defisit persepsi 75%

25 50% 75% 25 50% 25% 25% 25% 25 50% 25 50% 25% 25% 7% 25 50% Atonik, rigid, spastik Kuadriparesis Hemiplegra, spastik Kuadriparesis Spastik diplegra dan Kuadriparesis Spastes atheroid Hemiplegra Post kern ikterus Athetoid, spastik kuadriparesis Hemiplegra Hemiplegra Spastik yang berat, spastik Athetoid Spastik Spastik Spastik

H. DIAGNOSIS BANDING 1. Mental subnormal 2. Retardasi motorik terbatas 3. Tahanan volunter terhadap gerakan pasif 4. Kelainan persendian 5. Cara berjalan yang belum stabil 6. Gerakan normal 7. Berjalan berjinjit 8. Pemendekan kongenital pada gluteus maksimus, sastrak nemius atau hamstring 9. Kelemahan otot-otot pada miopati, hipotoni atau palsy erb 10. lain penyebab dari gerakan involunter 11. Penyakit-penyakit degeneratif pada susunan saraf 12. Kelainan pada medala spinalis 13. Sindrom lain

I. PENGOBATAN / TERAPI Tapi tidak dapat disembuhkan dan merupakan kelainan yang berlangsung seumur hidup. Tetapi banyak hal yang dapat dilakukan agar anak bisa hidup semandiri mungkin. Pengobatan yang dilakukan biasanya tergantung kepada gejala dan bisa berupa : Terapi fisik. J. PENATALAKSANAAN Pada umumnya penanganan penderita CP meliputi : 1) Reedukasi dan rehabilitasi. Dengan adanya kecacatan yang bersifat multifaset, seseorang penderita CP perlu mendapatkan terapi yang sesuai dengan kecacatannya. Evaluasi terhadap tujuan perlu dibuat oleh masingmasing terapist. Tujuan yang akan dicapai perlu juga disampaikan kepada orang tua/famili penderita, sebab dengan demikian ia dapat merelakan anaknya mendapat perawatan yang cocok serta ikut pula melakukan perawatan tadi di lingkungan hidupnya sendiri. Fisio terapi bertujuan untuk mengembangkan berbagai gerakan yang diperlukan untuk memperoleh keterampilan secara independent untuk aktivitas sehari hari. Fisio terapi ini harus segera dimulai secara intensif. Untuk mencegah kontraktur perlu diperhatikan posisi penderita sewaktu istirahat atau tidur. Bagi penderita yang berat dianjurkan untuk sementara tinggal di suatu pusat latihan.Fisio terapi dilakukan sepanjang hidup penderita. Selain fisio terapi, penderita CP perlu dididik sesuai dengan tingkat intelegensinya, di Sekolah Luar Biasa dan bila mungkin di sekolah biasa bersama-sama dengan anak yang normal. Di Sekolah Luar Biasa dapat dilakukan speech therapy dan occupational therapy yang disesuaikan dengan keadaan penderiata. Mereka sebaiknya diperlakukan sebagai anak biasa yang pulang ke rumah dengan kendaraan bersama-sama sehingga tidak merasa diasingkan, hidup dalam suasana normal. Orang tua janganlah melindungi anak secara berlebihan dan untuk itu pekerja sosial dapat membantu di rumah dengan melihat seperlunya. 2) Psiko terapi untuk anak dan keluarganya. Oleh karena gangguan tingkah laku dan adaptasi sosial sering menyertai CP, maka psiko terapi perlu diberikan, baik terhadap penderita maupun terhadap keluarganya. 3) Koreksi operasi. Bertujuan untuk mengurangi spasme otot, menyamakan kekuatan otot yang antagonis, menstabilkan sendi-sendi dan mengoreksi deformitas. Tindakan operasi lebih sering dilakukan pada tipe spastic dari pada tipe lainnya. Juga lebih sering dilakukan pada anggota gerak bawah disbanding dengan anggota gerak atas. Prosedur operasi yang dilakukan disesuaikan dengan jenis operasinya, apakah operasi itu dilakukan pada saraf motorik, tendon. Otot atau pada tulang. 4) Obat obatan

Pemberian obat-obatan pada CP bertujuan untuk memperbaiki gangguan tingkah laku, neuromotorik dan untuk mengontrol serangan kejang. Pada penderita CP yang kejang pemberian obat anti kejang memamerkan hasil yang baik dalam mengontrol kejang, tetapi pada CP tipe spastik dan atetosis obat ini kurang berhasil. Demikian pula obat muskulorelaksan kurang berhasil menurunkan tonus otot pada CP tipe spastik dan atetosis. Pada penderita dengan kejang diberikan maintenance anti kejang yang disesuaikan dengan karakteristik kejangnya, misalnya luminal, dilatin dan sebagainya. Pada keadaan tonus otot yang berlebihan, otot golongan benzodiazepine, misalnya : valium, Librium atau mogadon dapat dicoba. Pada keadaan choreoathetosis diberikan artane. Tofranil (imipramine) diberikan pada keadaan depresi. Pada penderita yang hiperaktif dapat diberikan dextroamphetamine 5 10 mg pada pagi hari dan 2,5 5 mg pada waktu tengah hari. a. Loraces (penyangga) b. Kaca mata c. Alat Bantu dengar d. Pendidikan dan sekolah khusus e. Obat anti kejang f. Obat pengendur otot ( untuk mengurangi tremor dan kekakuan) : baclofen dan diazepam g. Terapi okupasional h. Bedah ortopedik / bedah saraf, untuk merekonstruksi terhadap deformitas yang terjadi i. Terapi wicara bisa memperjelas pembicaraan anak dan membantu mengatasimasalah makan j. Perawatan (untuk kasus yang berat) Jika tidak terdapat gangguan fisik dan kecerdasan yang bera, banyak anak dengan CPyang tumbuh secara normal dan masuk ke sekolah biasa. Anak lainnya memerlukan terapi fisik yang luas pendidikan khusus dan selalu memerlukan bantuan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Pada beberapa kasus, untuk membebaskan kontraktur persendian yang semakin memburuk akibat kekakuan otot, mungkin perlu dilakukan pembedahan. Pembedahan juga perlu dilakukan untuk memasang selang makanan dan untuk mengendalikan pefluks gastroesofageal. K. FOKUS PENGKAJIAN 1. Identifikasianak yang mempunyai resiko a. Angka kejadian sekitar 1 -5 per 1000 anak 2. Jenis kelamin a. Laki-laki lebih banyak daripada wanita 3. Kap iritabel anak, kesukaran dalam makan, perkembangan terlambat, perkembangan pergerakan kurang, postur tubuh yang abnormal, refleks bayi persisten, ataxic, kurangnya tonus otot. 4. Monitor respon untuk bermain 5. Kap fungsi intelektual a. Pemeriksaan Fisik 1. Muskuluskeletal : - spastisitas - Ataksia 2. Neurosensory : - gangguan menangkap suara tinggi - Gangguan bicara

- Anak berliur - Bibir dan lidah terjadi gerakan dengan sendirinya - Strabismus konvergen dan kelainan refraksi 3. Eliminasi : - konstipasi 4. Nutrisi : - intake yang kurang b. Pemeriksaan Laboraturium dan Penunjang 1. Pemeriksaan pendengaran ( untuk menentukan status pendengaran ) 2. Pemeriksaan penglihatan ( untuk menentukan status fungsi penglihatan ) 3. Pemeriksaan serum, antibody : terhadap rubela, toksoplasmosis dan herpes 4. MRI kepala / CT scan menunjukkan adanya kelainan struktur maupun kelainan bawaan : dapat membantu melokalisasi lesi, melihat ukuran / letak vertikal. 5. EEG : mungkin terlihat gelombang lambat secara fokal atau umum ( ensefalins ) / volsetasenya meningkat ( abses ) 6. Analisa kromosom 7. Biopsi otot 8. Penilaian psikologik L. DIAGNOSA KEPERAWATA 1. Resiko cidera b/d gangguan pada fungsi motorik 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d kesukaran menelan dan meningkatnya aktivitas 3. Gangguan aktivitas b/d kelainan gerakan danpostur tubuh yang tidak progresif 4. Resiko tinggi terhadap trauma b/d ataksia dan kelemahan umum 5. Perubahan perfusi jaringan b/d edema serebral yang mengubah / menghentikan aliran darh arteri / vena 6. Resiko tinggi terhadap infeksi b/d penekanan respon inflamasi ( akibat obat ) 7. Kurangnya pengetahuan b/d perawatan dirumah dan kebutuhan terapi M. FOKUS INTERVENSI 1. Resiko cidera b/d gangguan pada fungsi motorik Tujuan : setelah dilaksanakan perawatan, diharapkan berkurangnya resiko cidera. Kriteria hasil : - menyatakan pemahaman factor yang menyebabkan cidera - Menunjukkan perubahan perilaku, pola hidup untuk menurunkan factor resiko dan untuk melindungi diri dari cidera. INTERVENSI RASIONAL Ajarkan pola makan yang teratur Anjurkan untuk berpartisipasi dalam program latihan / kegiatan, pertahankan kebersihan mulut anak Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian nutrisi Memberikan intake yang adekuat dan menghindari terjadinya komplikasi / memperberat penyakit lebih lanjut Meningkat kerja sistemendorphin sehingga meningatkan kemauan untuk makan Meningkatkan gizi anak 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d kesukaran menelan dan meningkatnya

aktivitas Tujuan : setelah dilaksanakan perawatan, kliendiharapkan nutrisi menjadi adekuat. Kriteria hasil : - adanya kemajuan peningkatan berat badan - Tidak mengalami tanda tanda malnitrisi INTERVENSI RASIONAL Ajarkan gerakan Pxdalam melaksanakan ADL Bantu Px untuk memenuhi kebutuhannya Perhatikan posisi penderita pada waktu istirahat / tidur Mengurangi terjadinya cidera yang dapat memperparah kondisi Px Anak mempunyai banyak kebutuhan yang tidak dapat dilakukan sendiri karena keterbatasan Untuk mencegah kontraktor 3. Gangguan aktivitas b/d kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak progresif Tujuan : setelah dilaksanakan perawatan, tidak terjadi gangguan aktivitas lagi. Kriteria hasil : - aktivitas berjalan normal - tidak ada keluhan terhadap gerakan yang dilakukan INTERVENSI RASIONAL Berikan aktivitas ringan yang dapat dikerjakan anak Libatkan anak dalam mengatur jadwalharian dan memilih aktivitas yang diinginkan Kolaborasi dengan ahli fisioterapi Anjurkan keluarga turut membantu program latihan di rumah Anak dapat meningkatkan kemampuan yang dimiliki anaknya walaupun terbatas Membantu pemenuhan kebutuhan 4. Kurangnya pengetahuan b/d perawatan dirumah dan kebutuhan terapi Tujuan : setelah dilaksanakan perawatan, diharapkan pengetahuan akan perawatan dan terapi meningkat. Kriteria hasil : - menyatakan pemahaman terhadap perawatan dirumah dan kebutuhan terapi - melakukan perilaku / perubahan pola hidup untuk memperbaiki status kesehatan - kebutuhan terapi dapat dipenuhi INTERVENSI RASIONAL Berikan informasi dalam bentuk bentuk dan segmen yang singkat dan sederhana Diskusikan mengenai kemungkinan proses penyembuhan yang lama Berikan informasi tentang kebutuhan untuk diet tinggi protein / karbohidrat yang dapat diberikan / dimakan dalam jumlah kecil tetapi sering Menurunnya rentang perhatian pasien dapat menurunkan kemampuan untuk menerima / memproses dan mengingat / menyimpan informasi yang diberikan Proses pemulihan dapat berlansung dalam beberapa minggu / bulan dan informasi yang tepat mengenai harapan dapat menolong pasien untuk mengatasi ketidakmampuan dan juga menerima perasaan tidak nyaman yang lama Meningkatkan proses penyembuhan, makan makanan jumlah kecil tetapi sering akan memerlukan kalori yang sedikit pada proses metabolisme, menurunkan iritasi lambung dan mungkin juga meningkatkan pemasukan secara total N. IMPLEMENTASI

1. Resiko cidera b/d gangguan pada fungsi motorik a. Mengajarkan pola makan yang teratur b. Menganjurkan untuk berpartisipasi dalam program latihan / kegiatan c. Mempertahankan kebersihan mulut anak d. Mengkolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian nutrisi 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d kesukaran menelan dan meningkatnya aktivitas a. Mengajarkan gerakan Px dalam melaksanakan ADL b. Membantu Px untuk memenuhi kebutuhannya c. Memperhatikan posisi penderita pada waktu istirahat / tidur 3. Gangguan aktivitas b/d kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak progresif a. Memberikan aktivitas ringan yang dapat dikerjakananak b. Melibatkan anak dalam mengatur jadwal harian dan memilih aktivitas yang diinginkan c. Mengkolaborasi dengan ahli fisioterapi d. Menganjurkan keluarga turut membantu program latihan di rumah 4. Kurangnya pengetahuan b/d perawatan di rumah dan kebutuhan terapi a. Memberikan informasi dalam bentuk bentuk dan segmen yang singkat dan sederhana b. Mendiskusikan mengenai kemungkinan proses penyembuhan yang lama c. Memberikan informasi tentang kebutuhan untuk anak diet tinggi protein / karbohidrat yang dapat diberikan / dimakan dalam jumlah kecil tetapi sering.

DAFTAR PUSTAKA

1. Behrman, Kliegman, Arvin, 1999. Ilmu Kesehatan Anak Volume 3 Edisi 15 Nelson, Jakarta : EGC. 2. Dr. Soetjiningsih, SpAK, 1995. Tumbuh Kembang Anak, Jakarta : ECG. 3. Santi Wijaya, Skep. Ns, 1999. Lumpuh Otak, Bandung : http://www.wikipedia.org. 4. Soetomenggolo, Taslim S, 1999. Buku Ajar Neurologi Anak, Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia. 5. Supriadi Skp dkk, 2006. Asuhan Keperawatan Pada Anak, Jakarta :Sagung seto. 6. Yulianto, 2000. Cerebral Palsy Pada Anak, Jakarta : http ://www.pediatrik.com. 20 April 2008. 7. Wong Donna L, 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik Edisi 4, Jakarta : EGC