Vous êtes sur la page 1sur 11

Tugas kelompok : Akhlaq

Dosen Pembimbing : Syafril, M.Ag

Akhlak Madzmumah ; Dosa besar dan Dosa Kecil

Disusun oleh : Kelompok 8 1. DEDY IRAWAN 2. SOPIAN 3. TENGKU ARIF FULLAZI

JURUSAN SISTEM INFORMASI 4A FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU PEKANBARU 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Kuasa, atas segala rahmat, karunia dan kesempatan yang diberikan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa adanya kesempatan, mustahil penulis dapat menyelesaikan makalah ini secara tuntas, walaupun masih banyak tedapat kekurangan. Selama dalam penulisan makalah ini, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Untuk itu dari hati yang paling dalam, penulis menuturkan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu dalam penulisan makalah ini. Sebagai manusia biasa, penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini mungkin masih banyak terdapat kekurangan dan kekeliruan, baik dari segi isi maupun penulisannya, dan dengan lapang dada atas segala kritikan dan masukan dari pembaca semoga akan menjadi pembelajaran bagi penulis agar lebih baik lagi untuk kedepannya dalam pembuatan makalah.

Pekanbaru, November 2011

Penulis

BAB I PENDAHULUAN Bermula dari zaman Nabi Adam a.s, manusia sudah ditakdirkan untuk menjalani peringkat hidup duniawi di atas muka bumi ini. Sedari detik itu sehingga kini, manusia terus menjalani hidup dengan berbagai cara dan peristiwa yang membentuk sejarah dan tamaddun manusia. Sifat dan keperibadian manusia penuh pertentangan dan beraneka ragam. Manusia bukan makhluk sosial semata-mata malah bukan jua diciptakan untuk mementingkan diri sendiri semata-mata. Rasulullah SAW diutuskan kepada manusia untuk menyempurnakan akhlak sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis Rasulullah SAW. Dengan akhlak Rasulullah memenuhi kewajiban dan menunaikan amanah, menyeru manusia kepada tauhid dan dengan akhlak jualah baginda menghadapi musuh di medan perang. Dengan akhlak baginda memimpin rakyat dalam perjuangan mencapai cita-cita serta membangunkan Negara yang berdaulat dan merdeka. Sesungguhnya akhlak yang mulia melengkapkan sendiiman untuk menuju kepada kesempurnaan kepribadian manusia sebagaimana keterangan hadis yang berbunyi: Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda: Paling sempurna keimanan orang-orang mukmin ialah yang lebih baik akhlaknya. (HR At-Tirmizi dari Abu Hurairah). Pada umumnya akhlaq terbagi menjadi dua jenis yaitu akhlaq mahmudah dan akhlaq madzmumah. Pada kesempatan ini kami akan mengurai atau menjelaskan tetang akhlaq madzmumah. Selain menjaga akhlak mahmudah (yang baik), seorang muslim juga harus menghindari akhlak madzmumah yang meliputi: tergesa-gesa, riya (melakukan sesuatu dengan tujuan ingin menunjukkan kepada orang lain), dengki (hasad), takabbur (membesarkan diri), ujub (kagum dengan diri sendiri), bakhil, buruk sangka, tamak dan pemarah. Rasulullah SAW bersabda: Ketahuilah, didalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, seluruhnya baik dan apabila daging itu buruk, buruklah seluruhnya Ketahuilah olehmu bahwa segumpal daging itu adalah kalbu (hati). (HR. Bukhari)

Akhlak yang tercela (Akhlaqul madzmumah) yakni, perbuatan buruk terhadap Tuhan (Al-khaliq), perbuatan buruk dengan sesama manusia dan makhluk yang lainnya. Akhlaq buruk terhadap Allah antara lain : a. Takabbur (Al-kibru) yaitu sikap yang menyombongkan diri, sehingga tidak mau mengakui kekuasaan Allah di ala mini, termasuk meningkari nikmat Allah yang ada padanya. b. Musyrik (Al-syirik) yaitu sikap mempersekutukan Allah dengan makhluk-Nya, dengan cara menganggap bahwa ada suatu makhluk yang menyamai kekuasaan-Nya. c. Murtad (Al-Riddah) yaitu sikap yang meninggalkan atau keluar dari agama islam, untuk menjadi kafir. d. Munafiq (An-Nifaaq) yaitu suatu sikap yang menampilkan dirinya bertentangan ddengan kemauan hatinya dalam kehidupan beragama. e. Riya (Ar-Riyaa)nyaitu suatu sikap yang selalu menunjuk-nunjukkan perbuatan baik yang dilakukannya. Maka ia berbuat bukan karena Allah, melainkan hanya ingin dipuji oleh sesame manusia. Jadi perbuatan ini kebalikan dari sikap ikhlas. f. Boros atau berpoya-poya (Al-israaf) yaitu perbuatan yang selalu melampaui batasbatas ketentuan agama. Tuhan melarang bersikap boros, karena hal itu dapat melakukan dosa terhadap-Nya, merusak perekonomian manusia, merusak hubungan social, serta merusak diri sendiri. g. Rakus atau Tamak (al-hirshu atau Ath-Thamau) yaitu suatu sikap yang tidak pernah merasa cukup, sehingga selalu ingin menambah apa yang seharusnya ia miliki, tanpa memperhatikan hak-hak orang lain. Hal ini termasuk kebalikan dari rasa cukup (alQanaaah) dan merupakan akhlaq buruk terhadap Allah, karena melanggar ketentuan larangan-Nya. Akhlak buruk terhadap manusia atau penyakit hati antara lain : a. Mudah marah (Al-Ghadhab) yaitu kondisi emosi seseorang yang tidak ditahan oleh kesadarannya, sehingga menonjolkan sikap dan prilaku yang tidak menyenangkan orang lain. b. Iri hati atau dengki (Al-Hasadu atau Al-Hiqdu) yaitu sikap kejiwaan seseorang yang selalu menginginkan agar kenikmatan dan kebahagiaan hidup orang lain bias hilang sama sekali.

Iri Iri adalah sikap kurang senang melihat orang lain mendapat kebaikan atau keberuntungan. Sikap ini kemudian menimbulkan prilaku yang tidak baik terhadap orang lain, misalnya sikap tidak senang, sikap tidak ramah terhadap orang yang

kepadanya kita iri atau menyebarkan isu-isu yang tidak baik. Jika perasaan ini dibiarkan tumbuh didalam hati, maka akan muncul perselisihan, permusuhan, pertengkaran, bahkan sampai pembunuhan. Sebab-sebab timbulnya sifat Iri: Kalau kita cermati dari kisah Qabil dan Habil, kita dapat melihat bahwa sifat iri ini muncul karena : a. Adanya rasa sombong didalam diri seseorang b. Kurang percaya diri c. Kurang mensyukurui nikmat Allah d. Tidak merasa cukup terhadap sesuatu yang telah dimilikinya. e. Tidak percaya kepada qadha dan qadar. Akibat (berbahayanya) sifat Iri : Sifat iri tidak pernah membawa kepada kebaikan, bahkan pasti membawa akibat buruk. Akibat dari sifat iri tersebut antara lain : a. Merasa kesal dan sedih tanpa ada manfaatnya bahkan bisa dibarengi dosa. b. Merusak pahala ibadah c. Membawa pada perbuatan maksiat, sebab orang yang iri tidak bisa lepas dari perbuatan menyinggung, berdusta, memaki, dan mengumpat. d. Masuk Neraka e. Mencelakakan orang lain f. Menyebabkan buta hati g. Mengikuti ajakan syaitan h. Meresahkan orang lain i. Menimbulkan perselisihan dan perpecahan j. Meruntuhkan sendi-sendi persatuan masyarakat k. Menimbulkan ketidaktentraman dalam diri, keluarga, masyarakat, atau orang lain. Cara menghindari sifat Iri : Diantara cara-cara menghindari sifat iri sebagai berikut : a. Menumbuhkan kesadaran didalam diri bahwa kenikmatan itu pemberian Allah SWT, sehingga wajar apabila suatu saat Allah memberi nikmat kepada seseorang dan tidak memberikannya kepada orang lain. b. Membiasakan diri bersyukur kepada Allah SWT dan merasa cukup terhadap segala sesuatu yang telah diterimanya. c. persaudaraan dengan orang lain, sehingga terhindar dari perasaan benci dan tidak senang apabila orang lain mendapatkan keberuntungan (kesenangan).

d. Membiasakan diri ikut merasa senang apabila orang lain mendapat keuntungan (kesenangan). Dengki Dengki artinya merasa tidak senang jika orang lain mendapatkan kenikmatan dan berusaha agar kenikmatan tersebut cepat berakhir dan berpindah kepada dirinya, serta merasa senang kalau orang lain mendapat musibah. Sifat dengki ini berkaitan dengan sifat iri. Hanya saja sifat dengki sudah dalam bentuk perbuatan yang berupa kemarahan, permusuhan, menjelek-jelekkan, menjatuhkan nama baik orang lain. Orang yang terkena sifat ini bersikap serakah, rakus, dan zalim. ia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya, bahkan tidak segan-segan berbuat aniaya (zalim) terhadap sesamanya yang mendapatkan kenikmatan agar cepat kenikmatan itu berpindah kepada dirinya. Setentang sikap buruk yang namanya dengki ini, simak Hadist tersebut ini : Nabi Muhammad SAW bersabda: Dengki itu memakan kebaikan, sebagaimana api memakan kayu bakar. (HR. Abu Daud) Menimpa kepadamu suatu penyakit umat-umat sebelum kamu, yaitu benci-membenci dan dengki. Dialah pencukur agama, bukan sekedar pencukur rambut. (HR. Turmudzi) Saudaraku, Hadist yang pertama menjelaskan bahwa dengki itu memakan kebaikan seperti api yang memakan kayu bakar. Disini jelas bahwa dengki itu suatu hal yang berlawanan dengan kebaikan, bahkan menjadi musuhnya. Sedangkan Hadist yang kedua menjelaskan bahwa jika suatu masyarakat telah terjangkiti penyakit dengki, maka agama akan hancur, tatanan dan hukum yang ada tidak akan berguna. Oleh karena itu, jika sifat ini tidak dihindari, tatanan kehidupan bermasyarakat akan kacau dan rusak, bahkan agama tidak lagi dijadikan pedoman hidup. Rasulullah SAW bersabda : Manusia akan senantiasa mampu berbuat kebajikan selama tidak saling hasud satu sama lain. (HR. Thabrani) c. Mengadu-adu atau hasud (An-Namiimah) yaitu perilaku yang suka memindahkan perkataan seseorang kepada orang lain, dengan maksud agar hubungan social keduanya rusak, lebih di kenal dengan mengadu domba orang.

Tentang hal ini Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : Jauhilah sifat hasad, karena sesungguhnya hasad itu dapat memakan (menghabiskan) kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. (HR. Abu Daud) d. Mengupat (Al-Ghiibah) yaitu suatu perilaku yang suka membicarakan keburukan seseorang kepada orang lain. e. Bersikap congkak (Al-Asharu) yaitu sikap dan perilaku yang menampilkan kesombongan; baik dilihat dari tingkah lakunya, maupun perkataannya. f. Sikap kikir (Al-Bukhlu) yaitu suatu sikap yang tidak mau memberikan nilai materi dan jasa kepada orang lain. g. Berbuat aniaya (Azh-Zhulmu) yaitu suatu perbuatan yang merugikan orang lain; baik kerugian materil maupun non-materil. Dan ada juga yang mengatakan, bahwa seseorang yang mengambil hak-hak orang lain, termasuk perbuatan dzalim (menganiaya).(Mahyuddin; 1991;26-32) Dari Abu Hurairah R.a, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : Tahukah kalian orang yang muflis (pailit/bangkrut) itu? Para Sahabat menjawab :Orang yang tidak mempunyai harta sama sekali. Lalu Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya orang yang paling pailit dari umatku ialah orang yang datang pada hari Kiamat kelak dengan membawa shalat, puasa dan zakat, tetapi ia telah mencaci maki orang lain, menuduh orang ini, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Maka orang-orang yang telah dianiaya ini diberi kebaikannya. Apabila amal kebaikannya habis sebelum dilunasi semua dosa-dosanya, maka diambillah kesalahan-kesalahan orang-orang (yang pernah dianiaya) dan ditumpahkan semuanya kepada dia, kemudian dia dilempar kedalam Neraka. (HR. Muslim)

Ada beberapa jenis Dosa besar diantaranya adalah: a. Syirik kepada Allah SWT "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya". (An Nisaa: 48) dan Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga". (Al Maaidah: 72) b. Berputus asa dari mendapatkan rahmat Allah SWT. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.(Yuusuf: 87). c. merasa aman dari ancaman Allah SWT

Allah SWT berfirman: "Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orangorang yang merugi." (Al A'raaf: 99) d. berbuat durhaka kepada kedua orang tua Allah SWT mengingatkan orang yang berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya sebagai orang yang jabbaar syaqiy 'orang yang sombong lagi celaka'. Tentang hal ini Allah SWT berfirman: "Dan berbakti kepada ibu, dan Dia tidak menjadikan seorang yang sombong lagi celaka". (Maryam: 32) e. membunuh Dosa besar yang berikutnya adalah: membunuh. Tentang hal ini Allah SWT berfirman: "Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahannam, kekal ia di dalamnya". (An Nisaa: 93). f. menuduh wanita baik-baik berbuat zina Tentang hal ini Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la'nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar". (An Nuur: 23) g. memakan riba Tentang hal ini Allah SWT berfirman: "Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila". (Al Baqarah: 275) h. memakan harta anak yatim Tentang hal ini Allah SWT berfirman:"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)". (An Nisaa: 10) i. berbuat zina Tentang hal ini Allah SWT berfirman: "Barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu". (Al Furqaan: 68-69) Dan tentang menyembunyikan persaksian, adalah seperti difirmankan oleh Allah SWT: "Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya". (Al Baqarah: 283) j. sumpah palsu

Yaitu jika seseorang bersumpah untuk melakukan sesuatu perbuatan, namun ternyata ia tidak melakukan perbuatan itu. atau ia bersumpah tidak akan melakukan sesuatu perbuatan, namun nyatanya ia kemudian melakukan perbuatan itu. Tentang hal ini Allah SWT berfirman:"Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih". (Ali Imraan: 77 ) k. meminum khamar Dosa besar berikutnya adalah: meminum khamar [minuman keras]. Tentang hal ini Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan". (Al Maaidah: 90). l. meninggalkan shalat Tentang hal ini Allah SWT berfirman: "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat". (Al Muddats-tsir: 42-43 ) m. melanggar perjanjian dan memutuskan tali silaturahmi Dosa besar berikutnya adalah: melanggar perjanjian dan memutuskan tali silaturahmi. Karena tali silaturahmi adalah salah satu ikatan yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk disambung. Tentang hal ini Allah SWT berfirman: "(yaitu) orangorang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi". (Al Baqarah: 27 ) Dengan demikian, semua perbuatan dosa tadi adalah bagian dari dosa besar, sesuai dengan keterangan nash Al Quran. Dan masing-masing dosa besar tadi mengandung hikmah, seperti yang diungkapkan oleh Ja'far Shadiq. Dan saat ia ditanya oleh Ibnu Ubaid tentang apa itu dosa besar, Ja'far Shadiq dengan percaya diri menjawabnya dengan urutan seperti tadi. Dan penyebutan urutan tadi pun diungkapkannya dengan tanpa perlu berpikir lama. Yang menunjukkan bahwa masalah ini telah tertanam dalam otaknya; apalagi jika disadari bahwa ayatayat itu terdapat secara acak dalam pelbagai surah dalam Al Quran. Sehingga untuk menyebutkannya ia harus mengutip dan mengumpulkannya dari sana sini; hal ini juga menunjukkan bahwa ia benar-benar telah mendalami rahasia-rahasia kandungan Al Quran. Nabi SAW Bersabda : Ada 6 (enam) kelompok orang yang akan masuk Neraka sebelum dihisab amalnya, disebabkan oleh enam perkara. Yaitu :

1. Penguasa karena ke zalimannya 2. Orang Arab (atau ras lainnya) yang fanatik dengan kesukuannya 3. Para tokoh, karena kesombongannya 4. Para pedagang karena kecurangannya 5. Orang-orang awam karena kebodohannya 6. Para ulama karena hasudnya. (HR. Dailami)

BAB III PENUTUP

Dalam konteks pengamalan syariat yaitu yang meliputi pengabdian hamba terhadap Allah, dapat dilihat pada rukun Islam yang lima dan juga dalam hal muamalah, akhlak berperanan untuk melengkapinya. Manakala dalam hal ibadah, kita akan dapati antara hikmah ibadah-ibadah yang dianjurkan oleh Islam terdapat pertautan yang erat antara akhlak dan ibadah meskipun ibadah itu berlainan pada rupa dan bentuknya tetapi kesemuanya menuju kepada satu sasaran yang digariskan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya: Aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak. Sembahyang, puasa, zakat, haji dan lain-lain amalan yang diperintahkan di dalam Islam adalah merupakan anak tangga untuk mendaki kemuncak kesempurnaan dan sebagai strategi untuk melindungi diri dai kerosakan dan kerendahan moral. Dengan sebab ciri-ciri itu maka ibadah-ibadah tersebut terletak di tempat yang tinggi dalam agama. Persiapan umat Islam untuk menjadi Ummatan Wasathon harus dilengkapi dengan tuntutan untuk dijadikan alat komunikasi dengan sesama manusia. Tuntutan itu berupa ajaran akhlak mulia, yang diharapkan untuk mewarnai segala aspek kehidupan manusia. Kerana itu, sesungguhnya ilmu komunikasi yang paling hebat adalah ilmu yang didasarkan kepada akhlak yang mulia.

http://media.isnet.org/islam/Etc/Dosa02.html

elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/agama_islam/bab5-akhlak.pdf