Vous êtes sur la page 1sur 8

STUDI KINETIKA TRANSESTERIFIKASI DENGAN KATALIS ASAM (HCL)

MINYAK MENTAH DEDAK PADI MENJADI BIODIESEL



Orchidea Rachmaniah

Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri,
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya


Abstrak
Biodiesel adalah bahan bakar terbaharui, biodegradable, tak beracun dibuat dari
minyak atau lemak melalui transesterifikasi dengan alkohol. Mahalnya bahan baku
merupakan permasalahan utama produksi biodiesel secara komersil. Penggunaan edible oils
sebagai bahan baku mempengaruhi 60-70% harga biodiesel. Nonedible, low-grade oil
ekonomis digunakan sebagai bahan baku. Minyak dedak padi berkandungan asam lemak
tinggi menduduki peringkat pertama diantara minyak non edible, dan low-grade vegetable
oils. Penelitian ini bertujuan mempelajari kinetika reaksi transesterifikasi dan esterifikasi pada
minyak mentah dedak padi berkandungan asam lemak tinggi untuk kepentingan desain dan
scale-up.
Penelitian dilakukan skala laboratorium menggunakan round-bottom flaks berleher tiga
dilengkapi dengan kondensor reflux, pemanas, pengaduk magnetik, dan termometer (20:1
molar ratio metanol terhadap minyak mentah dedak padi, 5%-b/b HCl p.a sebagai katalis dan
suhu 700,1
o
C). Jalannya reaksi dipantau secara kualitatif menggunakan metode KLT
dengan sistem solvent n-heksan/etil asetat/asam asetat (90:10:1, v/v/v). Analisa kuantitatif
produk hasil reaksi (FAME, FA, TG, DG, MG, waxes dan senyawa-senyawa bioaktif)
menggunakan HTGC sesuai metode pada BS EN 14105:2003.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa katalis asam efektif digunakan untuk minyak
berkandungan asam lemak tinggi pada reaksi pembentukan biodiesel/FAME (fatty acid
methyl ester). Laju esterifikasi FA lebih cepat daripada laju transesterifikasi TG pada minyak
mentah dedak padi berkandungan asam lemak tinggi. FAME dapat diperoleh melalui reaksi
esterifikasi minyak berkandungan asam lemak tinggi.

Kata kunci : Kinetika Reaksi, Transesterifikasi, Esterifikasi, Minyak Mentah Dedak Padi,
Katalis Asam

Abstract
Biodiesel is a renewable, biodegradable and nontoxic fuel for diesel engines. It is
derived from oils and fats by transesterification with alcohols. The main hurdle to the
commercialization of biodiesel is the cost of raw materials. The high value of edible oil as a
raw materials makes production of a cost-effective fuel very challenging. Use of edible oils as
biodiesel feedstock can account for 60-70% of biodiesel cost. Nonedible, inexpensive, low-
grade oils is utmost important to make the biodiesel production economical. Rice bran oil
ranks first among the non-conventional, inexpensive, low-grade vegetable oils. In the present
investigation a systematic studies of transesterification and esterification kinetic of high free
fatty acid rice bran oil was carried out to establish reaction condition in design and scale-up
purposes.
Experiment was conducted in laboratorium scale using three necked round-bottom flaks
equipped with reflux condenser, hot plate, magnetic stirer and thermometer (20:1 molar ratio
methanol to crude rice bran oil, 5%-w catalyst HCl and 700,1
o
C. Reaction was detected
quantitatively by TLC-method using solvent system n-hexane/ethyl acetate/ acid acetate
(90:10:1, v/v/v). Reaction products (FAME, FA, TG, DG, MG, waxes and bioactive
compounds) was determined using HTGC according to BS EN 14105:2003 standard method.
Research was found that acid-catalyzed are effective for high free fatty acid oils in
biodiesel production method. Rate esterification reaction of free fatty acid is faster than rate
transesterification of triglyceride for crude rice bran oil high free fatty acid content. FAME
could be produced from esterification method of high free fatty acid oils.

Keywords: Reaction Kinetic, Transesterification, Esterification, Crude Rice Bran Oil,
Acid-catalyzed

Pendahuluan
Menipisnya persediaan bahan bakar petroleum memerlukan bahan bakar pengganti
bersifat terbaharukan. Biodiesel merupakan salah satu bahan bakar alternatif menjanjikan
yang diperoleh dari minyak tumbuhan, lemak binatang atau minyak bekas melalui
transesterifikasi dengan alkohol (metanolisis). Biodiesel memberikan sedikit polusi
dibandingkan bahan bakar petroleum dan dapat digunakan tanpa adanya modifikasi ulang
mesin. Bahan bakar bio berharga lebih mahal dibandingkan bahan bakar petroleum.
Tingginya harga biodiesel disebabkan mahalnya harga bahan baku. Bahan baku memberikan
kontribusi 60-70% terhadap harga produk (Fukuda dkk., 2001). Oleh sebab itu, diperlukan
penelitian untuk mencari bahan baku alternatif untuk menghasilkan biodiesel berharga murah.
Beras merupakan bagian terbesar bahan makanan pokok rakyat Indonesia, dengan
demikian sangat mudah mendapatkan produk samping penggilingan padi yaitu dedak. Dedak
padi di Indonesia saat ini banyak digunakan untuk campuran pakan ternak dan bahan bakar
reboiler. Minyak dedak padi dapat diperoleh dari dedak padi yang belum banyak
dimanfaatkan. Minyak ini berkandungan nutrisi tinggi: berbagai macam asam lemak,
senyawa-senyawa biologis aktif dan senyawa-senyawa antioxidan seperti: -oryzanol,
tocopherol, tocotrienol, phytosterol, polyphenol dan squalene (Goffman dkk., 2003). Selain
itu, minyak mentah dedak padi sulit dimurnikan karena tingginya kandungan asam lemak
bebas dan senyawa-senyawa tak tersaponifikasikan. Lipase dalam dedak padi
mengakibatkan kandungan asam lemak bebas minyak mentah dedak padi lebih tinggi
dibanding minyak mentah lain sehingga tidak dapat digunakan sebagai edible oil (Yi-Hsu dan
Vali, 2005).
Beberapa metode yang pernah digunakan untuk memperoleh fatty acid methyl ester
(FAME) dari trigliserida diantaranya: transesterifikasi dengan katalis basa/asam serta
penggunaan enzim (Fukuda dkk., 2001). Mengingat tingginya kandungan asam lemak bebas
minyak mentah dedak padi maka penelitian ini tidak dapat menggunakan metode
transesterifikasi berkatalis basa. Oleh sebab itu, dipilih metode transesterifikasi dengan
katalis asam untuk pembuatan biodiesel dari minyak mentah dedak padi. Transesterifikasi
dengan katalis asam tidak dipengaruhi oleh tingginya asam lemak bebas sehingga perlakuan
awal/pretreatment minyak tidak diperlukan (Zhang dkk., 2003). Penelitian ini dilakukan untuk
mempelajari studi kinetika transesterifikasi dan esterifikasi minyak mentah dedak padi.
Pemahaman lebih lanjut mengenai kinetika reaksi sangat diperlukan untuk kepentingan
desain dan scale-up di industri.

Metode Penelitian
Bahan
Bahan penelitian utama adalah dedak padi dari sekitar kota Taipei, Taiwan; reagen dan
solvent yang digunakan adalah absolute grade (ACROS organic) meliputi: n-Heksan,
metanol, HCl, khloroform, asam asetat, etil asetat; gas N
2
murni; lempeng aluminum KLT
ukuran 20 x 20 cm, ketebalan 250 m dari Machery-Nagel (Schweiz, Germany). Senyawa-
senyawa untuk standard GC adalah HPLC-grade Sigma Chemical Co., USA sedangkan wax
untuk standard dimurnikan sesuai dengan metode yang dikembangkan oleh Kaimal
dkk.(2002).
Alat
Peralatan yang digunakan pada penelitian terdiri atas: soxhlet, peralatan esterifikasi,
dan peralatan analisa sampel (seperangkat alat GC dan KLT). Labu leher tiga dilengkapi
dengan kondensor reflux, pemanas, pengaduk magnetik, dan termometer digunakan untuk
reaksi transesterifikasi skala laboratorium. Keperluan pengambilan sampel dilakukan dengan
menggunakan mikropipet (5-50 L).

Metode Kerja
Reaksi Transesterifikasi
Kondisi reaksi transesterifikasi dengan katalis asam adalah sbb: 20:1 molar ratio
metanol terhadap minyak mentah dedak padi dan 5%-b/b HCl p.a sebagai katalis. Reaksi
dilakukan dalam skala laboratorium menggunakan round-bottom flaks berleher tiga,
dilengkapi dengan reflux kondenser dan termometer. Suhu reaksi dijaga pada 700,1
o
C
menggunakan oil bath. Campuran reaktan diambil 50L pada interval waktu tertentu untuk
keperluan analisa.


Pengambilan Sampel
Metode KLT digunakan untuk memantau jalannya reaksi transesterifikasi secara
kualitatif dan gas khromatografi suhu tinggi untuk analisa komposisi komponen-komponen
hasil reaksi secara kuantitatif. Sampel sebanyak 10 kali diambil setiap reaksi berlangsung (1
jam). Frekuensi pengambilan sampel bervariasi (0, 1, 2, 4, 6, 8, 10, 15, 30, 45 dan 60 menit)
sesuai dengan kondisi reaksi. Larutan reaksi (50 L) diambil dan dimasukkan botol sampel
yang didalamnya terdapat 2 mL akuades dan 2 mL heksan. Larutan divortex hingga homogen
(2 menit). Bagian atas adalah fase organik yang mengandung fatty acid methyl ester
(FAME), fatty acid (FA), trigliserida (TG) tak habis reaksi, digliserida (DG) dan monogliserida
(MG). Fase aqueous, bagian bawah, mengandung metanol sisa reaksi, gliserol dan katalis
(zgul dkk., 1993).
Analisa Kualitatif dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Jalannya reaksi dipantau secara kualitatif menggunakan metode KLT. Sampel hasil
reaksi (fase heksan) ditotolkan pada lempeng, dielusikan dalam sistem solvent n-
heksan/etil asetat/asam asetat (90:10:1, v/v/v). Spot komponen-komponen produk reaksi
divisualisasi menggunakan uap Iodine (20g silica beads + 1g Iodin) dan diidentifikasi dengan
komponen-komponen standardnya (zgul dkk., 1993).
Analisa Komposisi Produk Reaksi
Analisa kuantitatif produk hasil reaksi: FAME, FA, TG, DG, MG, waxes dan senyawa-
senyawa bioaktif menggunakan gas kromatografi suhu tinggi. Komposisi tersebut dianalisa
menggunakan Shimadzu GC-17A (Kyoto, Japan) gas kromatografi dilengkapi detektor FID.
Kolom yang digunakan DB-5HT (5-Phenyl)-methylpolysiloxane (15 meters X 0.32 mm i.d.;
Agilent Tech. Palo Alto, California). Suhu injektor dan detektor diset pada 365 dan 370
o
C.
Suhu kolom 80C pada kondisi awal, ditingkatkan hingga 370C dengan laju 15C/min serta
dijaga tetap pada 370C selama 10 menit. Split ratio yang digunakan 1:50 dengan gas
pembawa Nitrogen 8,5 mL/min bertekanan 60 kPa (BS EN 14105:2003).
Perhitungan Kinetika Reaksi
Perhitungan kinetika reaksi berdasarkan persamaan reaksi Gambar 1. Mengingat
transesterifikasi terjadi antara minyak (trigliserida) dan metanol, maka untuk perhitungan
selanjutnya hanya digunakan konsentrasi trigliserida (TG) dalam minyak mentah dedak padi.
Perhitungan menggunakan metoda integral sesuai dengan Levenspiel (1999) yang diuraikan
sbb:








Reaksi tersebut disederhanakan sebagai berikut :

TG + 3MeOH 3 FAME + GL

oA + |B cC + D ...................... [1]


Analisa data kinetik dilakukan dengan menggunakan data hasil penelitian menggunakan
batch reaktor. Anggapan-anggapan yang diambil pada analisa kinetik sebagai berikut:
1. Persamaan kinetika reaksi berdasarkan reaksi elementer dan reversibel
2. Penelitian menggunakan metanol berlebih (20:1 molar ratio, metanol terhadap minyak
dedak padi). Mengingat jumlah metanol yang digunakan berlebih maka C
B
~ C
Bo

3. Persamaan laju reaksi berdasarkan trigliserida sebagai limiting reaktan.

k
1

k
2

Triasilgliserida Metanol Fatty acid methyl esters Gliserol

Gambar 1. Transesterifikasi trigliserida dengan metanol
O C
O
HC
H
2
C
H
2
C O C
O
O C
O
O C
O
O C
O
R
1
R
2
R
3
3

C H
3 oH
Catalyst
O C
O
O C
O
O C
O
O C
O
O C
O
R
1
R
2
R
3
C H
3
C H
3
C H
3
O H C
H
2
C
H
2
C OO
OO
H
H
H
Persamaan umum laju reaksi pada pers. [1] dengan anggapan reaksi reversibel :
...................... [2]


menerapkan anggapan reaksi elementer dan penggunaan metanol berlebih, maka pers. [2]
menjadi :

...................... [3]

...................... [4]


dimana k
1
C
Bo
3
= K
1
*
maka pers. [4] menjadi [5]
berdasarkan persamaan stoikiometrinya :
C
A
= C
Ao
(1 - x
A
)
C
B
= C
Bo
C
Ao
.3x
A
= C
Ao
(M - 3x
A
) ; dimana M = C
Bo
/C
Ao

C
C
= C
Co
+ C
Ao
.3x
A
; dimana C
Co
= 0, maka C
C
= C
Ao
.3x
A

C
D
= C
Do
+ C
Ao
.x
A ;
dimana C
Do
= 0, maka C
D
= C
Ao
.x
A

Sehingga pers. [5] menjadi : ...................... [6]
Satuan untuk k
1
, K
1
*
, dan k
2
berturut-turut : mL
3
.mol
-3
.min
-1
; min
-1
; dan mL
3
.mol
-3
.min
-1
. Saat
tercapai kesetimbangan, berlaku persamaan berikut :

De Ce Be Ae
C C k C C k
3
2
3
1
= ...................... [7]

( )
3 3
3
3
3
3
2
1
) 3 ( ) 1 (
Ae Ao Ae Ao
Ae Ao Ae Ao
Be Ae
De Ce
x M C x C
x C x C
C C
C C
k
k
Ke

= = =

3
4
2
1
) 3 )( 1 (
27
Ae Ae
Ae
x M x
x
k
k
Ke

= = ...................... [8]

Subtitusi pers. [8] ke pers. [6], diperoleh persamaan berikut:
[9]

( )
(

=
3
4
*
1
27
1
M
x
Ke
x K
dt
dx
A
A
A
...................... [10]
Dengan ( )
(


3
4
27
1
M
x
Ke
x
A
A
sebagai B sehingga per. [10] menjadi lebih sederhana
menjadi:
B
dx
A
= K
1
*.At ...................... [11]
Pers. [11] diselesaikan dengan membuat plot grafik 1/B vs x
A
dan selanjutnya dengan metode
trapezoidal dihitung luasan area grafik yang merupakan nilai
B
dx
A
. Dengan nilai luasan area
yang diketahui, nilai K
1
*
, k
1
dan k
2
dapat diketahui..


Hasil dan Pembahasan
Profil konsentrasi produk hasil reaksi transesterifikasi minyak mentah dedak padi pada
berbagai prosen kandungan asam lemak (fatty acid/FA) ditampilkan pada Gambar 2. Analisa
( )

D C B A
A
A
C C k C C k
dt
dC
r
2 1
= =
( )
D C B A
A
A
C C k C C k
dt
dC
r
3
2
3
1
= =
( )
D C Bo A
A
A
C C k C C k
dt
dC
r
3
2
3
1
= =
( )
D C A
A
A
C C k C K
dt
dC
r
3
2
*
1
= =
4 3
2
*
1
27 ) 1 (
A Ao A
A
x C k x K
dt
dx
=
4
3
3 *
1 *
1
4 3
1
*
1
27 ) 1 ( 27 ) 1 (
A
Bo
Ao
A A Ao A
A
x
C
C
Ke
K
x K x C
Ke
k
x K
dt
dx
= =
kuantitatif produk hasil reaksi hanya meliputi komponen FAME, FA, TG, MG/DG. Terlihat
bahwa laju reaksi FA lebih cepat dibandingkan TG-nya, selain itu terdapat konsentrasi
MG/DG sebagai produk intermediate disepanjang waktu reaksi. Hal tersebut menunjukkan
bahwa reaksi transesterifikasi antara komponen TG dalam minyak dengan metanol (MeOH)
berjalan bertahap, sehingga di akhir reaksi produk intermediate masih ditemukan.
Hasil penelitian pada minyak berkandungan asam lemak tinggi (15%, 60%, dan 70%
FA) mencapai konversi FAME 85-98% dan untuk minyak mentah dedak padi berkandungan
asam lemak rendah (3%, 7%, dan 10% FA) konversi FAME yang dicapai hanya berkisar 25-
75% dengan waktu reaksi yang sama (satu jam reaksi) (Rachmaniah, 2004). Hal tersebut
dikarenakan komponen TG sedikit terlarut dalam fase MeOH dan TG tidak mudah bereaksi
membentuk FAME pada reaksi transesterifikasi berkatalis asam (Freedman, Pryde dan
Mounts, 1984 dan 1986) akibat reaksi transesterifikasi berjalan berantai (Noureddini, dan
Zhu, 1997) dan TG cenderung membentuk sabun jika berada dalam kondisi asam (Ma dan
Hanna, 1999). Sedangkan komponen-komponen lain (asam lemak dan gliserida) yang akan
terkonversi menjadi FAME dengan katalis asam hanya sedikit terkandung dalam minyak.
zgul dkk. (1993) dan Khan, (2002), menyebutkan asam lemak dan gliserida larut
dalam fase MeOH, sedangkan TG sedikit larut, namun kelarutannya meningkat seiring
peningkatan kandungan asam lemak dalam minyak (zgul dkk., 1993). Peningkatan
kandungan asam lemak dalam minyak mentah dedak padi akan disertai peningkatan
kelarutan TG dan peningkatan konversi metil ester (ME). Akibat terkonversinya semua asam
lemak, sebagian gliserida, dan TG yang terlarut dalam fase MeOH menjadi ME.







































0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
0 10 20 30 40 50 60
w aktu (menit)
k
a
n
d
u
n
g
a
n

(
%
)
FAME
FA
TG
MG/DG
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
0 10 20 30 40 50 60
waktu (menit)
k
a
n
d
u
n
g
a
n

(
%
)
FAME
FA
TG
MG/DG
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
0 10 20 30 40 50 60
waktu (menit)
k
a
n
d
u
n
g
a
n

(
%
)
FAME
FA
TG
MG/DG
Gambar 2. Profil konsentrasi produk hasil
reaksi transesterifikasi minyak mentah dedak
padi (20:1 molar ratio, 5%-b/b HCl, 700,1
o
C)
pada berbagai prosen kandungan FA: (A) 15%
FA, (B) 60% FA, dan (C) 70% FA.
A B
C
Kinetika Reaksi Transesterifikasi Minyak Mentah Dedak Padi
Perhitungan kinetika reaksi transesterifikasi telah diuraikan di atas, selanjutnya
perhitungan dilakukan menggunakan data penelitian batch reaktor pada minyak mentah
dedak padi berkandungan 15, 60, dan 70%-b FA (20:1 molar ratio, 5%-b/b HCl, dan
700,1
o
C). Data penelitian yang diperlukan meliputi: berat minyak dedak padi yang digunakan
15,881 g; berat metanol = 11,7186 g;
minyak
= 0,88 g/mL, volume HCl = 795 L dan
metanol
=
0,791 g/mL (ACROS organic, absolute grade). Sedangkan berat molekul minyak (trigliserida)
sebesar 870 berdasarkan studi pustaka Freedman Pryde dan Mounts (1984). Hasil
perhitungan ditabelkan pada Tabel I.

Tabel I. Nilai konstanta kinetika reaksi transesterifikasi minyak mentah dedak padi
(20:1 molar ratio, 5%-b/b HCl, dan 700,1
o
C).

%FA minyak
k
1

(mL
3
.mmol
-3
.min
-1
)
k
2

(mL
3
.mmol
-3
.min
-1
)
15 0,011608.10
-3
3,8275.10
-3

60 0,015158.10
-3
1,5610.10
-3

70 0,028884.10
-3
0,49808.10
-3


Terdapat kecenderungan kenaikan nilai konstanta kecepatan reaksi kearah pembentukan
produk/FAME (k
1
) dengan meningkatnya kandungan asam lemak dalam minyak. Namun hal
yang berbeda terjadi dengan nilai k
2
. Nilai k
2
lebih besar dibandingkan dengan nilai k
1
,
disebabkan reaksi peruraian FAME (reaksi ke kiri) berjalan lebih cepat dibandingkan reaksi
pembentukannya (reaksi ke kanan). Hal tersebut dapat dijelaskan melalui mekanisme reaksi
transesterifikasi, Gambar 1. Trigliserida sebagai limiting reaktan tersusun atas rantai gliserol
dengan 3 gugus asam lemak. Sehingga dalam reaksinya, terlebih dahulu terjadi hidrolisis
trigliserida oleh katalis asam untuk memotong setiap gugus asam lemak hingga dihasilkan
asam lemak bebas, digliserida dan monogliserida. Selanjutnya asam lemak bebas inilah yang
bereaksi membentuk ester-ester yang bersesuaian (Morrison and Byond, 1975). Akibat reaksi
bertahap tersebut maka nilai k
1
lebih kecil dibandingkan dengan nilai k
2
. Dari hasil
perhitungan kinetika reaksi transesterifikasi (Tabel I) dan hasil penelitian (Gambar 2), diduga
terbentuknya FAME akibat bereaksinya FA dalam minyak melalui reaksi esterifikasi. Oleh
sebab itu, perlu dihitung konstanta reaksi pada reaksi esterifikasi untuk mengetahui
kebenaran dugaan tersebut lebih lanjut.

Kinetika Reaksi Esterifikasi Minyak Mentah Dedak Padi
Profil konsentrasi hasil transesterifikasi (Gambar 2) menunjukkan bahwa laju esterifikasi
asam lemak lebih cepat dibandingkan laju transesterifikasi trigliserida. Gambar 2 juga
menunjukkan peningkatan kandungan asam lemak dalam minyak mentah dedak padi
memperbesar konversi methyl ester yang terbentuk. Kedua hal tersebut yang mendasari
timbulnya dugaan bahwa FAME yang terbentuk berasal dari FA melalui reaksi esterifikasi.
Sebagaimana perhitungan kinetika reaksi transesterifikasi di atas, perhitungan kinetika
reaksi esterifikasi juga menggunakan metode yang sama yaitu metode integral dengan
menghitung luasan area untuk grafik 1/B vs x
A
menggunakan metode trapezoidal. Namun
dalam perhitungan kinetika reaksi esterifikasi nilai B adalah

dan limiting reaktannya adalah asam lemak. Persamaan reaksi esterifikasi yang digunakan
sbb:
FA + MeOH FAME + H
2
O
oA + |B cC + D .......................... [14]

sehingga pers. [6] untuk reaksi esterifikasi menjadi :


.......................... [15]
dengan memasukkan nilai konversi FAME saat terjadi kesetimbangan pers. [15] menjadi
pers. [16], dimana persamaan ini analog dengan pers. [10].

k1
k2
2
2
*
1
) 1 (
A Ao A
A
x C k x K
dt
dx
=
( )
M
x
Ke
x
A
A
2
1
1
( )
(

=
M
x
Ke
x K
dt
dx
A
A
A
2
*
1
1
1 .......................... [16]

Hasil perhitungan konstanta kecepatan reaksi esterifikasi ditampilkan pada Tabel II.

Tabel II. Nilai konstanta kinetika reaksi esterifikasi minyak mentah dedak padi
(20:1 molar ratio, 5%-b/b HCl, dan 70
o
C).

%FA minyak
k
1

(mL.mmol
-1
.min
-1
)
k
2

(mL.mmol
-1
.min
-1
)
15 5,9703.10
-3
0,89535.10
-3

60 7,4115.10
-3
0,78513.10
-3

70 10,664.10
-3
1,0125.10
-3


Sebagaimana nilai konstanta reaksi pada Tabel II, semakin tinggi kandungan asam
lemak dalam minyak mentah dedak padi terdapat kecenderungan kenaikan nilai konstanta
kecepatan reaksi kearah kanan (k
1
) demikian pula dengan nilai k
2
. Walaupun demikian nilai k
1

relatif lebih besar dibandingkan nilai k
2
, dengan kata lain H
2
O hasil esterifikasi tidak akan
mengurangi jumlah FAME yang terbentuk terlihat dengan kecilnya nilai k
2
terhadap nilai k
1
.
Sebagaimana hasil penelitian Khan (2002), bahwa laju peruraian FAME oleh H
2
O (reaksi ke
kiri) tidak mempengaruhi laju pembentukan FAME (reaksi ke kanan) akibat cepatnya reaksi
pembentukan FAME itu sendiri.
Hasil penelitian Rachmaniah (2004) menunjukkan laju esterifikasi asam lemak murni
minyak mentah dedak padi lebih cepat dibanding laju transesterifikasi TG murninya. Namun
dalam reaksi esterifikasi ini, laju peruraian FAME oleh H
2
O tidak mempengaruhi laju
pembentukan FAME dikarenakan mekanisme reaksi esterifikasi asam lemak berjalan
sederhana dan hanya satu tahap (Morrison dan Boyd, 1975) sehingga pengaruh reaksi balik
tidak signifikan.
Nilai konstanta reaksi pada Tabel I dan II menunjukkan bahwa, laju reaksi esterifikasi
berjalan lebih cepat dibandingkan laju transesterifikasinya (k
1
pada reaksi esterifikasi > k
1

pada reaksi transesterifikasi) dan untuk memperoleh biodiesel dari minyak berkandungan
asam lemak tinggi, katalis asam efektif digunakan melalui reaksi esterifikasi.

Simpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa katalis asam efektif digunakan untuk membentuk
biodiesel/FAME dari minyak berkandungan asam lemak tinggi. Laju esterifikasi FA lebih cepat
dibanding laju transesterifikasi TG pada minyak mentah dedak padi dengan kandungan asam
lemak tinggi. FAME dapat diperoleh melalui reaksi esterifikasi minyak dengan kandungan
asam lemak tinggi.

Daftar Notasi
DG Digliserida
FAME Fatty Acid Metil Ester
FA Fatty Acid
GC Gas Chromatography
KLT Kromatografi Lapis Tipis
ME Metil Ester
MeOH Metanol
MG Monogliserida
TG Trigliserida
C konsentrasi (mmol/mL)
C
i
konsentrasi komponen i pada t menit (mmol/mL)
C
io
konsentrasi komponen i pada t = 0 menit (mmol/mL)
C
ie
konsentrasi komponen i pada saat setimbang (mmol/mL)
M ratio konsentrasi C
Bo
/C
Ao

x
A
konversi trigliserida
x
Ae
konversi trigliserida pada saat setimbang
K
e
konstanta kesetimbangan
K
1
*
konstanta reaksi = k
1
.C
Bo
3
(menit
-1
)
k
1
konstanta reaksi ke kanan (peruraian trigliserida/pembentukan FAME)
(mL
3
.mmol
-3
.min
-1
)
k
2
konstanta reaksi ke kiri (peruraian FAME) (mL
3
.mmol
-3
.min
-1
)
subscripts
A komponen trigliserida sebagai limiting reaktan
B komponen metanol
C komponen FAME
D komponen gliserol

Daftar Pustaka
1. Fukuda, H., Kondo A., and Noda H. Biodiesel Fuel Production by Transesterification of
Oils. J. Biosci. Bioeng., 2001; 92: 405-16.
2. Goffman, F.D., Pinson S., and Bergman C. Genetic diversity for Lipid Content and Fatty
Acid Profile in Rice Bran. J. Am. Oil Chem. Soc., 2003; 80: 485-90.
3. Ju, Yi-Hsu and Shaik Ramjan Vali. Rice Bran Oil as Potential Resource for Biodiesel : A
Review. J. Sci. Ind. Res., 2005; 64: 866-82.
4. Zhang, Y., Dube, M.A., McLean, D.D., and Kates, M. Review paper : Biodiesel production
from waste cooking oil : 1. Process design and technological assessment. Bioresour
Technol., 2003; 89: 1-16.
5. Kaimal, Thengumpilil Narayana Balogopala, Shaik Ramjan Vali, Bhamidipati Venkata
Surya Koppeswara Rao, Pradosh Prasad Chakrabarti, Penumarthy Vijayalakshmi, Vijay
Kale, Karna Narayana Prasanna Rani, Ongole Rajamma, Potula Satya Bhaskar, Turaga
Chandrasekhara Rao. Origin Problems Encountered in Rice Bran Oil Processing. Eur. J.
Lipid Sci. Technol., 2002; 104:203-11.
6. zgul-Ycel, Sevil and Selma Trkay. In Situ Esterification of Rice Bran Oil with Methanol
and Ethanol. J. Am. Oil Chem. Soc., 1993; 70:145-7.
7. Levenspiel, O., Chemical Reaction Engineering. 3
rd
. ed., John Wiley & Sons. America,
1999: 60-75.
8. Rachmaniah, O., 2004. Transesterifikasi Minyak Mentah Dedak Padi Menjadi Biodiesel
Dengan Katalis Asam. Laporan thesis, Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS, Surabaya.
9. Freedman,B., Pryde E.H. and Mounts T.L. Variables Affecting the Yields of Fatty Esters
from Transesterified Vegetable Oils. J. Am. Oil Chem. Soc., 1984; 61: 1638-43.
10. Freedman,B., Royden O. B. and Everett H. P. Transesterification Kinetics of Soybean Oil.
J. Am. Oil Chem. Soc., 1986; 63: 10-5.
11. Noureddini, H. and D. Zhu. Kinetics of Transesterification of Soybean Oil. J. Am. Oil
Chem. Soc., 1997; 74: 1457-63.
12. Ma, F. and Hanna M.A. Biodiesel Production : A Review. Bioresour. Technol., 1999; 70,
1-15.
13. Khan, A. K., 2002. Research into Biodiesel Kinetics and Catalyst Development. Thesis.
University of Queensland. Australia.
14. Morrison and Boyd, Organic Chemistry. 3
rd
. ed. 1975: 23-5, Allyn & Bacon Inc. Boston.
15. British Standard International. The European Standard. Determination of FAME, mono-,
di-, tri-glyceride for Oils and Fats. BS EN 14105:2003.