Vous êtes sur la page 1sur 96

AUTOPSI

Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, yang meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun dalam, dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya sedera, melakukan interpretasi atas penemuan-penemuan tersebut, menerangkan penyebab kematian serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian. Berdasarkan tujuannya autopsy terbagi atas : 1. autopsi klinik dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga terjadi akibat suatu penyakit. Tujuannya untuk menentukan peneyebab kematian yang pasti, menganalisis kesesuaian antara diagnosis klinis dan diagnosis postmortem, patogenesis penyakit, dan sebagainya. Untuk autopsi ini mutlak diperlukan izin keluarga terdekat mayat tersebut, sebaiknya autopsi klinik dilakukan secara lengkap, namun dalam keadaan amat memaksa dapat dilakukan juga autopsy parsial atau needle necropsy terhadap organ tertentu meskipun pada kedua keadaan tersebut kesimpulannya sangat tidak akurat. 1. Autopsi forensic / medikolegal Dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga meninggal akibat suatu sebab yang tidak wajar seperti pada kasus kecelakaan, pembunuhan, maupun bunhu diri. Tujuan pemeriksaan autopsy forensic adalah : 1.
o o o o

Membantu menentukan identitas mayat Menentukan sebab pasti kematian, mekanisme kematian, dan saat kematian. Mengumpulkan dan memeriksa benda bukti untuk penentuan identitas benda penyebab dan pelaku kejahatan. Membuat laporan tertulis yang obyektif berdasarkan fakta dalam bentuk visum et repertum

Autopsi forensik harus dilakukan sedini mungkin, lengkap, oleh dokter sendiri, dan sedini mungkin. 1. autopsy Anatomi dilakukan terhadap mayat korban meninggal akibat penyakit, oleh mahasiswa kedokteran dalam rangka belajar mengenai anatomi manusia, untuk autopsy ini diperlukan izin dari korban (sebelum meninggal) atau keluarganya. Dalam keadaan darurat, jika dalam 2 x 24 jam seorang jenazah tidak ada keluarganya maka tubuhnya dapat dimanfaatkan untuk autopsi anatomi.

Teknik Autopsi Forensik


Terdapat 4 teknik autopsi dasar yaitu : 1. 2. 3. 4. Teknik Virchow Teknik Rokitansky Teknik Letulle Teknik Ghon

Perbedaannya terutama saat pengangkatan keluar organ, baik dalam urutan maupun jumlah / kelompok organ yang dikeluarkan pada suatu saat, serta bidang pengirisan organ yang diperiksa. Pada teknik autopsy modifikasi Letulle, organ dikeluarkan sekaligus, tapi dalam dua kumpulan. Leher dan dada menjadi satu kumpulan, kemudian usus diangkat mulai dari perbatasan duodenojejunal sampai rektosigmoid, baru kumpulan kedua dipisah yaitu antara organ-organ pencernann dan urogenital.

Teknik Pemeriksaan Luar


Sistematika pemeriksaan luar adalah : 1. memeriksa label mayat (dari pihak kepolisian) yang biasanya diikatkan pada jempol kaki mayat. Gunting pada tali pengikat, simpan bersama berkas pemeriksaan. Catat warna, bahan, dan isi label selengkap mungkin. Sedangkan label rumah sakit, untuk identifikasi di kamar zenazah, harus tetap ada pada tubuh mayat. 2. mencatat jenis / bahan, warna, corak serta kondisi (ada tidaknya bercak / pengotoran) dari penutup mayat. 3. mencatat jenis / bahan, warna, corak serta kondisi (ada tidaknya bercak / pengotoran) dari bungkus mayat. Catat tali pengikatnya bila ada. 4. mencatat pakaian mayat dengan teliti mulai dari yang dikenakan diatas sampai bawah, dari yang terluar sampai terdalam. Pencatatan meliputi bahan, warna dasar, warna dan corak tekstil, bentuk / model pakaian, ukuran, merk penjahit, cap binatu, monogram / inisial, dan tambalan / tisikan bila ada. Perlu juga di catat letak dan ukuran pakian bila ada tidaknya bercak / pengotoran atau robekan. Saku diperiksa dan dicatat isinya. 5. mencatat perhiasan mayat, meliputi jenis, bahan, warna, merek, bentuk serta ukiran nama / inisial pada benda perhiasan tersebut. 6. mencatat benda di samping mayat. 7. mencatat perubahan tanatologi : 1. lebam mayat ; letak / distribusi, warna, dan intensitas lebam. 2. Kaku mayat ; distribusi, derajat kekakun pada bebrapa sendi, dan ada tidaknya spasme kadaverik. 3. Suhu tubuh mayat ; memakai thermometer rectal dan di catat juga suhu ruangan pada saat tersebut. 4. Pembusukan 5. Lain-lain ; misalnya mummifikasi atau adiposera.

8. mencatat identitas mayat, seperti jenis kelamin, bangsa / ras, perkiraan umur, warna kulit, status gizi, tinggi badan, berat badan, disirkumsisi / tidak, striae albicantes pada dinding perut. 9. mencatat segala sesuatu yang dapat dipakai untuk penentuan identitas khusus, meliputi tattoo, jaringan parut, kapalan, kelainan kulit, anomaly, dan cacat pada tubuh. 10. memeriksa distribusi, warna, keadaan tumbuh, dan sifat dari rambut. 11. memeriksa mata, seperti apakah kelopak terbuka atau tertutup,tanda kekerasan, kelainan. Periksa selaput lender kelopak mata dan bola mata, warna, cari pembuluh darah yang melebar, bintik perdarahan, atau bercak perdarahan. Kornea jarnih / tidak, adanya kelainan fisiologik atau patologik. Catat keadaan dan warna iris serta kelainan lensa mata.catat ukuran pupil, bandingkan kanan dan kiri. 12. mencatat bentuk dan kelainan / anomaly pada daun telinga dan hidung. 13. memeriksa bibir, lidah, rongga mulut, dan gigi geligi. Catat gigi geligi dengan lengkap, termasuk jumlah, hilang / patah / tambalan, gigi palsu. Kelainan letak, pewarnaan dan sebagainya. 14. pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan. Pada pria dicatat kelainan bawaan yang ditemukan, keluarnya cairan, kelainan lainnya. Pada wanita dicatat keadaan selaput dara dan komisura posterior, periksa secret liang senggama. Perhatikan bentuk lubang pelepasan. 15. perlu diperhatikan kemungkinan adanya tanda perbendungan, ikterus, sianosis, edema, bekas pengobatan, bercak Lumpur atau pengotoran lain pada tubuh. 16. bila terdapat tanda-tanda kekerasan / luka harus dicatat lengkap : 1. letak luka : region anatomis dan koordinat terhadap garis / titik anatomis terdekat. 2. Jenis luka : luka lecet, memar atat terbuka. 3. Bentuk luka : termasuk bentuk luka terbuka setelah dirapatkan. 4. Arah luka : melintang, membujur atau miring. 5. Tepi luka : rata atau tidak beraturan 6. Sudut luka : runcing, membulat, atau bentuk lain. 7. Dasar luak : jaringan bawah kulit, otot, tulang atau rongga badan 8. Sekitar luka : pengotoran atau luka / tanda kekerasan lain di sekitarnya 9. Ukuran luka : untuk luka terbuka juga di ukur setelah luka di rapatkan 10. Saluran luka : penentuan in situ mengenai perjalanan serta panjang luka baru dapat ditentukan pada saat pembedahan mayat. 11. Lain-lain : misalnya pada luka lecet jenis serut diperiksa pola penumpukan kulit ari untuk menentuka arah kekerasannya, pada memar dicatat warnanya.

AUTOPSI FORENSIK

Pembimbing Dr. Ferryal Basbeth, Sp.F

Disusun Oleh :
1. Arief Rachman S ( FK TRISAKTI ) 2. Dinny A. Zailani ( FK UKRIDA ) 3. Andre Nurjayanto ( FK UNTAR ) 4. Nofiyanty Nicolas ( FK UNTAR ) 5. Fitriawati ( FK UKRIDA ) 6. Rita Widya ( FK YARSI ) 7. Hestin ( FK UNTAR ) 8. Hendry Pramudianto ( FK UNTAR ) 9. M. Nur Kholid ( FK TRISAKTI ) 10. Agustine ( FK UKRIDA )

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL KEPANITERAAN KLINIK FKS 2 PERIODE 17 JULI 19 AGUSTUS 2006 RUMAH SAKIT CIPTO MANGUNKUSUMO UNIVERSITAS INDONESIA JAKARTA 2006

AUTOPSI FORENSIK

TIPE OTOPSI
Berdasar konvensi medik dan system legal dari Negara-negara, secara umum ada 2 tipe autopsi yaitu : 1) Kematian non kriminal seperti kecelakaan, bunuh diri, kematian karena bencana alam atau yang berhubungan medis dan operasi, kematian industri dan lain-lain 2) Otopsi forensik untuk suspek pembunuhan, biasanya pada investigasi polisi, kematian ini terdiri dari pembunuhan , pembunuhan orang dewasa, pembunuhan

bayi dan kategari lain dari berbagai macam hukum yang berbeda.

Tipe ahli patologi berbeda kategorinya dari suatu tempat dengan tempat lain dalam sistem yang berbeda. Yang terpenting adalah ahli patologi harus dilatih dan berpengalaman. Beberapa negara dibedakan praktisi forensik patologi dengan orang yang mengajar di Universitas sehingga tidak mudah untuk menjadi pengajar yang baik dan dapat dipercaya kecuali jika praktek langsung pada subjek. Medikolegal otopsi oleh dokter tidak terlatih tidak menguntungkan . sangat penting untuk mendukung berjalannya hukum dan adminisdtrasi keadilan.

PROSEDUR OTOPSI Banyak aspek dari autopsi pada setiap kematian, hal ini akan dibahas berdasarkan semua hal yang bermakna dari barang.

Tujuan dari Sebuah Otopsi :


a. Membuat identifikasi dari tubuh memperkirakan ukuran, fisik dan perawatan b. Menetapkan sebab kematian c. Menetapkan cara kematian dan waktu kematian yang penting dan mungkin

d. Untuk mendemonstrasikan segala kelaian luar dan dalam, malformasi dan penyakit e. Mendeteksi, menggambarkan dan mengukur luka luar dan luka dalam f. Mendapatkan sampel untuk analisis, pemeriksaan mikrobiologi dan histologi dan infestigasi penting lainnya g. Menahan organ dan jaringan yang relevan sebagai bukti h. Mendapatkan foto dan video untuk keterangan dan pendidikan i. j. Menyediakan laporan tertulis yang lengkap untuk temuan otopsi Memberikan interpretasi ahli terhadap semua yang ditemukan

k.

Memperbaiki kondidi tubuh, sebelum diberikan kepada keluarga.

Persiapan Otopsi Otorisai dan Izin Ahli patologi tidak boleh memulai penyelidikan sampai memenuhi

otoritas.pengantar otoritasnya bervariasi di suatu tempat dengan tempat lain, mungkin dalam bentuk dokumen tertulis, kata-kata atau pesan telepon atau peraturan tidak tertulis. Apabila ada 2 instansi kepegawaian yang terlibat, maka harus jelas siapa yang berhak untuk otopsi. Contoh di Inggris dan negara jajahannya polisi yang meminta pemeriksaan ahli patologi, tetapi yang mempunyai hak preogatif adalah penyidik. Pada insiden yang serius polisi meminta saran dari kepala polisi untuk memilih ahli patologi, tetapi keputusan akhir ditangan penyidik . Pada keadaan awal didalam sebuah medikolegal otopsi biasanya tidak diperiksa izin otopsi, tetapi untuk sopan santun sebaiknya keluarga diberitahu kecuali untuk kasus yang mendesak. Dibanyak kasus keluarga dapat hadir pada saat identifikasi pada waktu pemeriksaan. Ahli patologi harus memperhatikan tentang pelaksanaan otopsi yang otoritas dan perizinannya tidak jelas.

Seringkali terjadi dokumen tentang riwayat kematian di Rumah Sakit didapatkan tetapi terlambat dilaporkan untuk medikolegal investigasi. Ahli patologis tidak harus melakukan pemeriksaan sampai ada perintah otopsi dari petugas (mungkin petugas ingin menggunakan ahli patologi lain) jika sudah ditetapkan oleh petugas maka surat penugasannya menjadi berlaku.

Izin untuk menahan bahan otopsi(sampel cairan sampai seluruh tubuh) dalam kasus medikolegal diperiksa otoritasnya. Aspek legal penyimpanan jaringan dan organ organ berbeda=neda di setiap negara, jadi ahli patologi harus memahami peraturan setempat.

Lembaga legislatif yang mengatur penyidikan di Inggris, tidak hanya diizinkan tapi malah diwajibkan bagi ahli patologis untuk mengambil jaringan yang mungkin dapat membantuk penyidikan selanjutnya pada kematian.

Bagaimanapun juga penyidik (atau pengawas fiskal di Scotlandia) hanya mempunyai kekuasaan terbatas untuk melarang penggunaan organ untuk kepentingan investigasi kematian dan tidak dapat memberi izin penggunaan jaringan dan organ untuk transpaltasi, untuk pendidikan dan penelitian. Izin harus didapatkan dari keluarga jika penyidik tidak dapat memberikan izin berdasarkan Human Tissue Act 1996

Siapa yang Hadir pada Otopsi Disetiap negara atau negara bagian mempunyai peraturan untuk mengatur pemeriksaan medikolegal.

Seringkali keluarga dari orang yang meninggal atau tertuduh harus diberi tahu empat dan waktu otopsi sehingga mereka bisa diwakili oleh pengacara atau dokter yang bertindak untuk kepentingan mereka. Dibeberapa hukum termasuk Inggris, tidak ada yang secara khusus melarang keluarganya menghadirkan orang dan ahli untuk hadir. Ahli

patologi dapat menolak melakukan otopsi jika keberatan atas kehadiran mereka.

Izin boleh diberikan penyidik , pemeriksa medik, atau yang setara dengan otopsi legal.Ahli patologi harus memberikan penghargaan yang baik kepada patnernya serta memberikan fasilitas demikian juga sebaliknya.

Yang terlibat biasanya petugas atau petugas departemen yang meminta otopsi seperti penyidik, hakim, jaksa, polisi juga hadir. Jika hal itu diduga sebagai kejahatan atau kematian yang mencurigakan. Dokter, mahasiswa juga diijinkan hadir tergantung permintaan komisi pemeriksa. Jika kematian terjadi pada saat dalam perawatan secara medik maka pelaksanaannya diserahkan kebebasan kepada dokter untuk hadir dan memberikan yang diketahuinya sebaik mungkin.

Pada kasus kriminal atau kasus tersangka, ahli patologis harus membatasi jumlah orang yang hadir, bukan hanya beresiko untuk kehilangan barang bukti juga membuat kamar mayat penuh sesak, ini menghambat gerakan menyebabkan gangguan. Ditambah lagi resiko infeksi dan kontaminasi khususnya HIV dan infeksi Hepatitis B. Tidak seorangpun bahkan pegawai senior kepolisian sekalipun terlibat langsung dalam investigasi. Dengan meningkatnya keahlian dan kompleksnya prosedur forensik dan polisi, banyak orang yang berada dikamar mayat ditambah dengan kamera, video perekam dan lain-lain sampai tidak ada ruang untuk ahli patologi untuk bergerak.

Bagaimanapun juga kehadiran pada saat otopsi kematian krimiinal atau tersangka harus seizimn ahli patologi berdasarkan laporan otopsi.

Pemeriksaan Tempat Kematian Pada bunuh diri, dugaan bunuh diri atau kasus yang tidak jelas, ahli patologi harus melihat ketempat kejadian sebelum korban dipindahkan.

Dokter ahli patologi forensik harus datang bersama dengan polisi ketempat kematian. Tugas ini telah diatur menjadi bagian dari kontrak pelayanan ahli patologi untuk selalu menyediakan waktu dan terlibat dalam upaya membantu polisi.Di Inggris dan negara jajahannya ada kantor ahli patologi dan dapat dipanggil ketempat kejadian. Di beberapa hukum lai seperti pemeriksaan medik Amerika dan Eropa serta Institusi kedokteran Forensik Universitas biasanya tugas sudah diatur sebelum nya untuk menghadiri tempat kematian.fungsi pemeriksaan ahli paqtologi forensik ditempat kematian untuk memperkirakan lingkungan, dan daerah sekitar serta posisi, kondisi tubuh. Sehingga dapat cepat ditemukan tanda kecelakaan bunuh diri bahkan penyebab alami sehingga dapat menghemat biaya.

Ahli patologi harus selalu siap dengan perlengkapannya untuk dibawa ke tempat investigasi . peralatan ini mungkin dibawa jika ada otopsi diluar yang fasilitasnya tidak tersedia. Kebanyakan ahli patologi Forensik membawa murde bag sesuai dengan pengalamannya memilih peralatan.

Peralatannya adalah : 1) Apron tahan air dan sarung tangan

2) Termometer, semprit dan jarum, swab steril. 3) Alat bedah termasuk gergaji 4) Jarum dan benang untuk menutup tubuh 5) Swab dan tempat darah dan cairan tubuh 6) Botol-botol formalin untuk sampel Histologi 7) Kantong-kantong plastik, amplop, kertas, pena dan pensil 8) Kamera tangan, senter, tape perekam kecil 9) Kamera bisanya lensa 35mm dengan lampunya, video kompak ,video kamera, kamera video biasa dapat memperlihatkan ulang kejadian secara instan

Termometer air raksa yang panjang dapat mengukur suhu dari 00sampai 500 C atau yang lebih moderen termometer elektrik. Dinegara berkembang diharapkan tersedia fasilitas kamar mayat yang baik di Rumah Sakit atau dikantor kepolisian, patologi kriminal yang ahli, tempat spesimen dan lain-lain.

Dinegara berkembang dan daerah lainnya diberbagai negara, ahli patologi sebenarnya melakukan sekaligus investigasi dan autopsi. Dikotak medik ahli patologi forensik yang berpengalaman selalu ada baju khusus, sepatu boot, jas hujan dan siap dibawa jika ada panggilan.

Pada tempat kematian ahli patologi bertindak berdasarkan fakta disekeliling, serta

apa yang didapat dari polisi ataupun ahli forensik pembantu. sebagai contoh di inggris beberapa tim bertemu pada tempat kejadian untuk mengumpulkan jejak bukti. Ahli laboratorium forensik terdekat sering hadir bersama polisi begitu juga petugas sidik jari dan petugas investigasi kriminal.

Ahli patologis harus mengumpulkan buktinya sendiri, tetapi perlu diingat keterbatasan keahliannya.

Ahli patologis harus menerima intriksi dati petugas yang bersangkutan yang berada dekat dengan korban.

Dokter tidak harus menyentuh benda-benda yang penting dan tidak merokok atau meninggalkan objek atau serpihan-serpihan. Sebagai tambahan kunjungan pada tempat kriminal diberikan pakaian disposibel dan sepatu untuk digunakan, sehingga serat, rambut, dan lain-lain tadak terdapat di tempat kejadian.

Jika dokter forensik bertindak sebagai ahli petologi dan klionis medikolegal atau polisi ahli bedah harus mengganti pakaian yang dikenakan dengan yang baru untuk perlindungan badan dan untuk menghindari pindahnya barang bukti dari tempat kejadian seprti serat atau rambut dari korban.

Ahli patologis mencatat posisi tubuh sketsa atau foto-foto yang kadang-kadang berguna. Beberapa ahli patologis menggunakan polaroid atau video kamera untuk

perekaman secara instan di tempat kematian.

Pada kasus kematian yang nyata, harus diobservasi. Genangan atau percikan darah harus dicatat hubungannya dengan posisi tubuh. Ukuran percikan harus diamati, batas darah yang tertingal pada permukaan dilingkari.

Jetika fotografi dimbil dari tubuh dari posisi yang sebenarnya. Patologi bersama dengan penyidik mendekat dan memeriksa. Pada akhir pemeriksaan perabaan kulit untuk mengukur temperatur. Mata, leher, dan tangan diperiksa bila perlu, pakaian secara perlahan dipindahkan untuk melihat tenggorokan dan dada atas. Penemuan lain yang relevan harus difoto oleh polisi sebelum terjadi kerusakan.

Jika ahli forensik di tempat kejadian meminta sampel maka harus diberikan. Mereka mungkin akan meminta sampel pada badan untuk melihat apakah ada yang menempel pada kulit dan pakaian untuk mendapatkan rambut yang rontok. Tubuh dipindahkan untuk melihat bagaian sisi dan bawahnya, sekaligus harus berhati-hati agar bukti tidak rusak. Tidak ada peraturan yang baku tergantung pada tiap-tiap kasus.

PERKIRAAN SAAT KEMATIAN Paragraf terakhir diatas menunjukkan bagaimana perkiraan saat kematian. Permasalahannya didiskusikan pada bagian III, tetapi masih terdapat kepentingan yang menunjukkan hubungan antara kegiataan yang dilakukan ahli autopsi tentang cara kematiannya.

Secara umum tangan dan wajah dapat ditentukan hangat atau dingin dengan perabaan dan dengan melihat adanya kaku mayat yang dapat coba dilakukan pada alat gerak. Pengukuran suhu harus dilakukan secepatnya setelah korban ditemukan, hal ini berguna untuk mengantisipasi perubahan dimana biasanya polisi tiba di tempat kejadian lebih awal daripada ahli autopsi. Pengukuran suhu selain diambil dari bagian yang paling dekat dengan korban juga harus diambil suhu lingkungan disekitar korban, seperti didalam gedung ataupun ruangan. Sehingga dapat diketahui hal-hal apa yang menyebabkan perubahan yang dapat terjadi, seperti adanya pintu atau jendela yang terbuka, ada tidaknya perapian, dan penghangat ruangan. Jadi dapat disimpulkan hal-hal yang dapat mempengaruhi pengukuran suhu tersebut. Pengukuran suhu rektal pada saat investigasi, seperti yang disetujui pada beberapa teks-book ternyata masih kontroversi.

Saat terjadinya kematian, korban yang ditemukan tanpa busana, biasanya tampak secara langsung. Hal ini beresiko terkontaminasinya rectum dan perineum, dengan ditemukan cairan semen, dari sekitar anus sampai rektum dapat diambil kesimpulan dengan mengambil swab terhadap cairan semen untuk mengurangi keraguan. Seperti pada banyak kasus kekerasan kriminal baik pada kasus seksual, maupun homoseksual, pengukuran suhu rektal terhadap korban yang ditemukan secara praktis harus dilampirkan hanya jika ahli forensik atau polisi yang menangani membutuhkannya sebagai tambah bukti tambahan selain dari pakaian, swab vulva, vagina, anus, dan lain-lain. Selain itu dapat juga digunakan tanpa menampilkan atau tanpa adanya data pengukuran suhu rektal.

Dengan kata lain, perlu diperhitungkan keuntungan dan kerugian dari analisis terjadinya kematian tersebut. Sehingga kita dapat menyimpulkan apabila pengukuran suhu rektal tersebut sulit dilakukan atau hanya sedikit berpotensi memberikan keuntungan ketika dilakukan pengukuran suhu pada lingkungan sekitar.Jika proses autopsi tidak

langsung dilakukan atau harus menunggu beberapa jam, karena tidak tersedianya fasilitas atau keterlambatan transportasi, seharusnya proses autopsi harus segera dilakukan beberapa saat setelah terjadinya kematian sehingga pengukuran suhu dapat diambil secara tepat.

Alternatif lain yang dapat digunakan yaitu dengan mengukur suhu ditempat lain, kecuali rektum. Pengukuran axilla dan mulut juga dapat memberikan informasi, namun tidak secara tepat karena pengaruh dari suhu sekitar. Lebih bermanfaat dengan mengukur suhu dengan thermometer yang diletakkan pada saluran pendengaran atau dengan probe yang dimasukkan ke dalam saluran tersebut sedalam mungkin sehingga dapat diketahui suhunya.

Ketika seorang ahli autopsi telah melakukan pemeriksaan semaksimal mungkin, tugas selanjutnya adalah memastikan bahwa korban dipindahkan ke kamar jenazah. Ahli autopsi harus mengontrol sendiri pemindahan korban ke kamar jenazah , atau memberikan tugas tersebut kepada seseorang yang telah dipercaya. Korban harus dibungkus plastik, ditutup dengan plester dari kaki sampai kepala.

Tubuh korban harus diletakkan dalam plastik secara hati-hati, diplester, plastik tersebut luasnya lebih kurang 2 meter. Benda-benda yang ada didekat korban, rambut dan serat kain yang melekat pada tubuh korban atau pakaian korban dibungkus terpisah. Bungkusan-bungkusan tersebut dibawa oleh ahli autopsi setelah korban dipindah ke kamar jenazah . selanjutnya pengawasan diserahkan kepada polisi atau agen lain yang berwenang. Tubuh korban di dalam plastik diletakkan diatas fiber glass yang kaku dan dibawa dengan mobil polisi ke kamar jenazah yang telah ditentukan.

Kerusakkan fisik selama pengiriman tersebut harus dibuat seminimal mungkin walau sulit dilakukan. Pada tubuh korban yang terbakar mungkin akan mengalami kerusakkan selama proses ini. Kerusakkan ini diperparah oleh proses kebakaran itu sendiri, air, debris-debris yang melekat pada korban. Penulis mempunyai pengalaman menyaksikan ketika seorang petugas pemadam kebakaran melewati begitu saja dua tubuh yang terbakar sebelum akhirnya dia menyadari bahwa terdapat korban terkubur dibawah furniture yang terbakar. Potonganpotongan tubuh yang ditemukan dapat digunakan sebagai petunjuk apa yang terjadi sebelum kematian ( lihat bab XII ).

Kesimpulannya, ahli autopsi dalam menangani kematian yang mencurigakan adalah untuk mengobservasi situasi yang ada, mengumpulkan fakta-fakta, mengawasi pemindahan korban ke kamar jenazah dan memberikan pendapat berdasarkan pengalamannya mengenai sebab mati yang mungkin terjadi pada korban. Meskipun demikian ahli autopsi tidak boleh bertindak seperti Sherlock Holmes, yang memberikan pendapat, teori yang tidak berdasarkan fakta atau keilmuannya. Ahli autopsi merupakan bagian dari suatu tim yang ahli dibidang masing-masing yang harus bekerjasama, berkoordinasi sehingga hasil terbaik dapat dibuat.

BARANG-BARANG, PAKAIAN DAN IDENTIFIKASI

Peranan seorang ahli autopsi berada pada saat terjadinya kematian dirasa perlu, dimana ia dapat menilai suasana sekitar meliputi pakaian yang dikenakan dan bagian tubuh lainnya saat proses autopsi. Hal ini tidak hanya berlaku pada setiap kasus kriminal atau pada kasus kematian yang tidak wajar tetapi juga bermanfaat pada banyak kasus

kecelakaan lalu lintas, kecelakaan industri, jatuh dari ketinggian, tenggelam, dan lain-lain.

Dalam hal ini tidak akan ada kesempatan untuk menemukan pakaian setelah dibawa kekamar jenazah. Jika kematian terjadi di rumah sakit atau karena kecelakaan, pakaian mungkin dibuang sebelum dipindahkan ke kamar jenazah. Ahli autopsi seharusnya selalu meminta permintaan terhadap korban kecelakaan lalu lintas atau lainnya dimana trauma ditetapkan sebagai sebagai kasus kematian. Jadi seharusnya korban dibawa ke kamar jenazah dengan pakaian yang seharusnya tidak dilepaskan oleh polisi / perawat terlebih dahulu, walaupun korban masih hidup saat tiba di rumah sakit dan pelepasan pakaian tersebut dilakukan sebelum usaha penyadaran atau pengobatan. Yang terbaik kedua adalah adalah saat pakaian dilepaskan seharusnya ketika korban berada di ruang jenazah jadi dapat diperiksa jika pada saat pemeriksaan, ditemui kerusakkan, noda ataupun bukti lainnya. Sayangnya, pakaian korban tersebut biasanya sudah dilepaskan atau di rusak sebelum di periksa / di lihat.

Petugas kamar jenazah sebaiknya dilatih / diberi bimbingan untuk mengenali serta menghargai hak milik korban sebagai bukti yang penting. Dan sistem tersebut seharusnya dibangun untuk mempertahankan identifikasi dan menyimpang baik dari aspek pembuktian dan untuk keamanan yang bernilai. Isi dari kantong, dokumen, kunci dan barang lainnya sebagai alat pembantu identifikasi. Bagaimanapun juga tugas utama polisi, ahli autopsi yang berperan terkait pada bidang yang ada. Jenis pakaian, model, bahan, warna dan semua label sangat membantu proses identifikasi.

Dalam kematian akibat trauma, luka yang terdapat pada tubuh korban seharusnya sesuai dengan kerusakkan yang terdapat di pakaian, juga dibandingkan dengan posisi luka yang terdapat pada tubuh bagian luar, untuk mengetahui aktifitas terakhir sebelum mati.

Dilihat dari adanya beberapa bekas luka yang menimbulkan kerusakan.

Darah, cairan semen, cairan vagina dan cairan tubuh lainnya dapat ditemukan pada pakaian sehingga dapat menjadi bukti selain itu dapat pula dikirim kelaboratorium untuk dianalisa. Ahli autopsi dapat mengetahuinya pertama kali sehingga dapat ditemukan bukti untuk mendeteksi keadaannya.

Pada kecelakaan lalu lintas yang fatal, robekan dari pakaian, bekas oli, jejak roda, kaca pecah, dan tekanan metal dari kendaraan dapat membantu rekonstruksi kejadian dan dalam identifikasi penyebab kematian akibat kecelakaan tabrak lari.

Objek lainnya yang berhubungan denngan tubuh serta mungkin termasuk membantu pengobatan yang bermanfaat menerangkan penyakit-penyakit penyebab kematian contohnya seperti amyl nitrit atau insulin.

Dalam banyak kasus bunuh diri, botol obat yang telah kosong atau kotak racun biasanya ditemukan berada disekitar tubuh korban. Pakaian harus dipindahkan secara hati-hati, khususnya dalam tindak kriminal atau kasus yang mencurigakan. Ahli autopsi sebaiknya mengawasi dan membantu petugas kamar jenasah karena mereka tidak selalu sadar pentingnya pakaian dalam proses rekonstruksi. Jika tidak ditemukan darah atau tubuh yang tercemar bahan lain, sebaiknya melepaskan pakaian dengan cara biasa. Yaitu dengna membuka melewati kepala dan lengan, walaupun mungkin dapat tercampur dengan luka-luka atau kotoran lain. Jika telah terjadi kaku mayat atau jika terdapat darah pada wajah atau tangan pakaian dapat dilepaskan dari tubuh korban dengan memotongnya, namun ini harus dilakukan setelah

berkonsultasi dengan ahli autopsi terlebih dahulu. Jadi pemotongan baju harus dilakuakn oleh petugas yang telah biasa melakukannya untuk menghindari terpotongnya bagian baju yang sebelumnya telah rusak karena kecelakaan.

IDENTIFIKASI KORBAN Identifikasi dari korban yang tidak dikenal adalah tugas utama ahli autopsi (dibahas secara penuh dalam bab IV), akan tetapi sebelum ia dapat melakukan pemeriksaan bedah jenasah maka ahli autopsi tersebut harus mendapatkan persetujuan resmi tentang tindakan tersebut.

Dalam setiap kasus medikolegal, ahli autopsi harus bertanggung jawab terhadap apa yang diperiksanya. Biasanya pembawa korban adalah kerabat dekat korban, yang telah mengetahui kondisi korban sebelum dilakukan autopsi. Oleh karena itu ahli autopsi harus bekerja sama atau berkoordinasi dengan petugas kepolisian atau penyidik untuk memastikan bahwa korban tersebut sesuai dengan identitasnya. Jika tubuh korban terbakar atau termutilasi, identifikasi harus dibuat berdasarkan fakta yang berhubungan misalnya seperti pakaian atau perhiasan yang dikenakan korban.

Dalam kasus non kriminal, seperti kasus kematian mendadak atau tiba-tiba dan beberapa kecelakaan serta kasus bunuh diri, cara mengidentifikasi korban dilakukan dengan melihat pada label ataupun tanda yang dilekatkan pada tubuh korban oleh petugas kepolisian, perawat dan petugas kamar jenasah. Label memuat nama, alamat, nomer seri, dan keterangan lain yang terkait mengenai korban. Label ini biasanya diikatkan pada ibu jari kaki atau di pergelangan kaki. Beberapa kamar jenasah biasa memberi label pada kaki dengan tanda yang tidak bisa hilang, tetapi hal ini menyebabkan tanda tersebut

benar-benar sulit hilang dan menghambat proses outopsi. Ahli autopsi seharusnya selalu teliti ketika menerima korban dengan membandingkan antara identitas pada dokumen yang diberikan pihak berwenang dengan label pada ibu jari kaki korban sebelum dilakukan proses autopsi. Keterangan yang ada harus sesuai, bila tidak sesuai pemeriksa tidak boleh melakukan autopsi sampai keterangan tersebut diperbaiki kembali, bila perlu hingga memanggil kembali petugas kepolisian atau yang menemukan korban untuk dapat memastikan kebenaran dari identitas korban.

Banyak kesalahan yang sudah dibuat pada masa lalu akibat adanya ketidaktelitian dari ahli autopsi tentang pentingnya identitas korban serta ketidaktahuan mengenai prosedur yang harus dilakukan sampai konsekuensi legal yang harus dihadapi. Proses autopsi pada korban yang salah atau kesalahan dalam menentukan sebab mati berakibat pada kesalahan pemakaman bahkan kremasi. Hal ini sering kali terjadi akibat identifikasi yang salah. Untuk menghindari kesalahan tersebut korban harus selalu mempunyai label saat tiba dikamar jenasah. Label harus mudah dikenali dan mudah dicari. Walaupun sebelumnya korban dimasukan dalam pendingin yang mempunyai nomor pada pintunya. Karena jika label tidak melekat pada tubuh korban maka kesalahan identifikasi dapat terjadi oleh petugas kamar jenasah bila ia bertukar jaga, korban sulit dikenali hanya dari nomor pada pintu pendingin.

Beberapa tempat dikamar jenasah menggunakan tempat khusus untuk identifikasi korban, yang menggunakan kamera otomatis yang diletakan tepat di pintu masuk kamar jenasah. Setiap korban baru difoto diatas beranda dan di beri nomor seri yang di tulis pada papan dan diletakkan melintang di atas dada, sehingga mudah terlihat. Nomer seri ini untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Pada kasus khusus seperti pembunuhan, label identitas yang terdapat pada korban tidak menjamin kebenarannya, oleh karena itu, ahli autopsi tidak harus tergantung pada label tersebut. Sebelum autopsi, ahli autopsi harus dapat menyatakan atau memberi informasi bahwa korban itu sesuai dengan identitas yang ada begitu juga saksi menyatakan bahwa korban itu benar adanya. Ahli autopsi harus mencatat hasil autopsi sesuai tanggal, waktu dan identifikasi orang yang melakukan identifikasi korban sehingga dapat menampilkan bukti yang sesuai untuk mencapai tujuan hukum dimana dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk mekanisme membela diri di depan pengadilan.

KEGUNAAN REKAM MEDIK PADA SUATU KASUS Seperti dalam klinik kesehatan, rekam medik tentang kasus kematian pada suatu korban kematian adalah sangat penting dan sangat diperlukan sebagai bagian dari investigasi. Luasnya kasus ini juga mempengaruhi ahli autopsi dalam mengambil keputusan dalam penyebab kematian, bagaimanapun semua ini masih kontroversial.

Pada kasus medikolegal autopsi dibandingkan dengan kasus klinik di rumah sakit, catatan mengenai kasus terkadang kurang, tidak ada bahkan kadang tidak sesuai. Jika seseorang ditemukan meninggal, dimana tidak terdapat catatan medik mengenainya sebelumnya, maka tidak dapat dijumpai data keseluruhan tentang sejarah kesehatan yang sesungguhnya. Dalam kasus kriminal pembunuhan, seseornag yang diduga dibunuh oleh pembunuh, tanpa bekas atau jejak akan memberi perubahan bentuk, menyesatkan atau tidak tampak kesalahan disekitarnya. Patologis Forensik dapat menemukan walau dengan sedikit atau kejadian yang tidak sebenarnya.

Bahkan ketika suda ada runtutan cerita tentang kejadian dan sudah mendapat kepercayaan dari keseluruhan, fakta medik terkadang menyimpang karena kekurngan pengetahuan dan ketidakmengertian. Ini dapat menyesatkan keputusan dari pihak kepolisian / pihak lain selain medik. Jadi hanya ahli autopsi yang berperan mengetahui apa yang terjadi pada korban berdasarkan fakta yang ditemuinya. Kemudian kekurangan keterangan dapat dilengkapi dari informasi yang didapat dari polisi yang menangani / berwenang atasnya. Bila mungkin, ahli autopsi seharusnya mencoba menghubungi dokter yang memeriksa pada saat kematiannya. Dalam keadaan yang mendesak, pada bedah autopsi dalam forensik, bagaimanapun juga baik malam atau libur panjang, autopsi dapat terus berlangsung tanpa adanya tambahan informasi lain.

Sekalipun beberapa hal mungkin dapat diterangkan sebelumnya, namun praktek dalam autopsi mungkin dijumpai berbeda bila sebelumnya telah diketahui keterangan mengenai sebab kematiannya. Sebagai contoh seorang guru akan menampilkan contoh autopsi pada pekerja tambang yang tanpa keterangan lain selain pekerjaannya dan penyakit paru kronik yang dimilikinya. Didapatkan dalam autopsi bahwa terlihat adanya penyakit cardio-pulmonal yang dicatat pada catatan kematian, baru setelah itu tubuh korban dapat dimakamkan. Ini tidak lagi terjadi sampai hari berikutnya dimana polisi membatasi daerah tempat orang tersebut meninggal. Lambatnya penyampaian informasi tentang adanya keterangan tentang ada tidaknya botol kosong berisi obat tidur dan catatan bunuh diri yang ditemukan disamping korban. Secara berlawanan, catatan medik sering kurang diperhatikan dalam kematian akibat kekerasan dimana luka-luka yang diakibatkan dapat menjadi bukti meskipun penjelasan yang didapat dari lain pihak atau dari penampilan luka tersebut dapat membantu dalam menentukan arah luka dari senjata atau sebab lainnya.

Dalam beberapa autopsi, rekam medik secara langsung berperan sebagai data tambahan dalam investigasi yang dapat terjadi pada kasus seperti yang dicontohkan di atas. Beberapa ahli autopsi, menyatakan dalam suatu kumpulan pendapat bahwa autopsi biasa dilakukan tanpa diketahui lebih dahulu apa yang menyebabkan kematiannya sehingga dalam membuat keputusan, ahli autopsi tersebut tidak terpengaruh. Hal ini dilakukan pada setiap autopsi dimana diperlukan keseluruhan data yang lengkap sehingga cara yang dipakai dapat sesuai seperti teknik memindahkan tulang spinal pada beberapa kasus dan semua tambahan keterangan guna keperluan investigasi. Juga diperlukan toksikologi, mikrobiologi, virologi, radiologi, penemuan adanya diatom, histologi dan lain-lain. Semua ini juga bukan berarti rekam medik tanpa bantuan keterangan lainnya tidak dapat digunakan. Dalam pemeriksaan tambahan juga perlu dilakukan secara teliti guna menghindari tercapainya kesimpulan yang salah.

Kenyataan sulit yang sering dijumpai muncul dalam hubungan ketika jenazah di kembalikan ke kota asalnya setelah kematian di negara lain. Permasalahan utama yang muncul antara kesimpulan ahli autopsi dengan penyidik dari negaranya. Walaupun hal ini kurang mendapat hasil yang baik, maka digunakan hubungan dengan polisi internasional untuk menegaskannya. Terkadang, penjelasan dokter dengan dokter yang dilakukan lewat telefon atau faximili bisa menjadi cara terbaik untuk mendapatkan informasi meskipun kematian tidak diperiksa pada saat korban sampai dinegaranya. Jika autopsi dirasa tidak sempurna dari proses sebelumnya dimana ditemukan tanda baru berupa sayatan dengan setik jahitan kulit maka pemeriksaan dapat dilakukan kembali dengan meminta permohonan dari penyidik negaranya walau sebelumnya sudah dilakukan autopsi. Hal ini sesuai tertulis pada International Death Case ( LeadBetter 1991 ; Green )

Kesulitan datang ketika hanya sedikit atau bahkan tidak ada objek yang ditemukan

saat autopsi. Ahli autopsi harus dapat memastikan apa yang menjadi sebab kematian didasari fakta subjektif serta pengalaman yang ada.

Permasalahan ini, secara keseluruhan didiskusikan dalam Lead Better dan Knigth dimana yang tidak biasa terjadi. Sebagai contoh, penderita epilepsi / asthma yang diketahui dapat meninggal secara tiba-tiba / tidak diharapkan, autopsi biasanya dapat menampilkan sebab kematian yang secara morfologi tidak adekuat mendukung data yang ada. Contoh kasus penting lain adalah kumpulan gejala dari kematian infant yang tibatiba, didiskusikan dalam caphter 21, dimana oleh definisi disebut tidak ada hubungan significant antara lesi dan rekam medik yang biasanya tidak selalu ada.

Hipotemia pada pasien yang dipanaskan di rumah sakit namun meninggal pada hari itu atau 2 hari kemudian, mungkin tidak dijumpai apapun saat di autopsi walaupun pada saat itu pengukuran rektal 26 C. Beralih pada kasus forensik, beberapa korban ditemukan tenggelam di sungai tanpa diketahui sebelumnya dan baru diketahui dari baju korban dan catatan bunuh diri yang ada di bank. segera setelah dilakukan autopsi, tidak ditemukan tanda bukti tenggelam / bukti yang mendukung lainnya.

Dalam kasus ini, seharusnya ahli autopsi menghadirkan bukti objektif dengan dilakukan pengukuran suhu terhadap tubuh korban, biasa pada kasus tenggelam tubuh korban dalam keadaan hipotermia. Dengan adanya bukti tersebut walau tanpa bukti lainnya dapat menyingkirkan kemungkinan lain yang dapat menyebabkan korban tersebut meninggal sehingga dapat diketahui apakah hasil obstruksi atau hasil kejahatan. Dengan tidak menghadirkan bukti objektif ini dapat dijadikan kesempatan atau celah untuk terus mendesak ahli autopsi tersebut karena tidak dijumpai apapun dari proses autopsinya.

Jalan terbaik untuk ahli autopsi adalah ahli autopsi dengan pengetahuan dan pengalamannya harus dapat menyatakan sebab kematiannya sehingga dapat dengan jelas dilihat pada laporan autopsi, tentu saja berdasarkan pertimbangan dari sekeliling bukan karena desakan pihak tertentu. Sebab kematian korban diambil berdasarkan rekam medik yang ada.

Seperti yang didiskusikan nanti, laporan autopsi seharusnya tidak hanya semata menilai langsung dari apa yang ditemukan pada pemeriksaan korban secara anatominya tetapi juga meliputi apa yang menjadi kemungkinan lain terutama bila sebab kematiannya belum jelas diketahui. Pada kondisi seperti ini tidak ada jalan lain selain menilai berdasarkan kenyataan-kenyataan lain yang ada.

Kesulitan utama yang dapat timbul untuk menentukan penyebab kematian secara pasti agar sesuai, dimana dapat dimasukkan dalam laporan autopsi yang resmi dan sesuai dengan laporan autopsi yang diakui WHO. Hal ini memberi tidak ada kesempatan untuk membuat kesimpulan secara cepat tetapi dengan menggunakan prinsip tebakan yang tepat, ahli autopsi dapat memilih alasan yang tepat dengan legitimasi yang jujur sehingga sebab kematian dapat dipastikan.

PENCEGAHAN TERHADAP KONDISI YANG DAPAT MENIMBULKAN INFEKSI Beberapa kondisi atau situasi forensik termasuk penyalahgunaan obat dan homoseksual dimana secara statistik dapat menimbulkan resiko timbulnya HIV dan infeksi Hepatitis tercatat banyak dijumpai pada saat proses autopsi berlangsung. Resiko ini dapat terjadi pada ahli autopsi, petugas kamar jenazah, polisi dan petugas laboratorium

yang secara langsung berhubungan karena pengambilan contoh pada saat autopsi

Kejadian mengenai resiko sudah banyak dicatat tetapi belum ada konsensus yang meneliti, sampai didirikan survey mengenai itu yang didirikan Royal College of Pathologist ( tahun 1995 )

Secara keseluruhan, setiap autopsi harus dilakukan dengan pencegahan total terhadap resiko akan infeksi. Jadi setiap macam kasus tanpa kecuali dapat dilakukan proses autopsi tersebut. Bagaimanapun, walaupun hal ini sudah dilakukan oleh seorang pekerja medik bukan tidak mungkin masih dapat terinfeksi ketika proses autopsi dari benda / hasil dari spesimen laboratorium.

Hal biasa yang dilakukan sebelum autopsi, adalah melakukan tes terhadap HIV dan hepatitis dengan mengambil darah korban pada bagian femoral. Hasilnya dapat diketahui dalam beberapa jam sehingga diketahui apa yang akan dilakukan dan bagaimana cara autopsinya atau bahkan menolak untuk melakukan autopsi, jika kerugian dirasa lebih banyak ketika melakukan autopsi. Yang biasa dilakukan ketika hasilnya positif, autopsi dilakukan dengan cara khusus dengan tambahan perlindungan pakaian, kacamata, masker dan sarung tangan metal untuk menghindari serta melindungi pemeriksa, memilih menggunakan teknik yang sesuai dan memberi catatan untuk waspada terhadap setiap contoh yang dikirim ke laboratorium.

Dalam kasus ini, infeksi hepatitis lebih sering dijumpai dan lebih beresiko daripada HIV, meskipun sejauh ini tidak ada laporan mengenai ahli autopsi yang terinfeksi saat pross autopsi berlangsung, walaupun ditemukan petugas kamar jenazah di USA lebih beresiko tinggi terkena HIV.

Waktu yang dibutuhkan untuk menimbulkan potensi menularkan dari HIV masih kontroversi. Infeksi virus yang terdapat dalam larutan darah dengan suhu ruangan masih dapat ditemui virus dengan konsentrasi tinggi dalam waktu 3 minggu ( Cao et al ). Bankowski menemukan 51% dari virus dapat bertahan di plasma dan fraksi monosit dari korban yang terinfeksi HIV lebih dari 21 jam setelah kematian. Serial lain juga masih dapat ditemukan bertahan dalam pemeriksaan setelah 18 jam sampai 11 hari setelah kematian. Virus baru ditemukan dalam limpa setelah 14 hari kematian. Pendinginan mayat membuat perbedaan pada sediaan. Doucheron dkk. Kultur darah dan efusi dari tubuh mayat yang diinginkan dan terdiri dari virus yang terus ada walaupun setelah 16 hari kematian maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada waktu maximal yang tepat kapan sediaan dapat menjadi faktor resiko untuk menginfeksi.

Infeksi lain seperti TBC, anthrax, plaque, Creutzld-Jakob, Marburg, Green Monkey Disease, dll biasanya hanya pada subjek khusus dan tidak menular yang dapat timbul dari kota ke kota.

AUTOPSI : PENGUJIAN INTERNAL Pembedahan dalam kasus forensik secara mendasar adalah sama untuk beberapa otopsi lain, dengan variasi sesuai dengan sifat kematian dan kebutuhan dari investigasi khusus, apakah hal itu dalam kasus kriminal, perselisihan perdata atau penyelidikan kecelakaan.

Ada beberapa karakteristik jumlah yang dikembangkan untuk performance sebuah

otopsi (lihat Ludwig atau Knight, contohnya), dan hal itu baik untuk instruksi atau petunjuk para ahli teknik kamar mayat. Hanya ada suatu gagasan teknik yang ditawarkan disini untuk diperkenalkan bagi pengujian kematian, dimana otopsi ini dipercaya mereka. Dalam penambahannya, prosedur forensik khusus akan dijelaskan, ada juga yang didiskusikan dalam setiap bab dengan menunjukkan pada beragam tipe luka dan kematian. Otopsi pada bayi adalah dijelaskan di bab 20-22.

Bedelan umum ini adalah garis lurus dari laryngeal untuk pubis, yang digunakan untuk menghindari umbilicus atau tali pusar. Pada sisi atas bedelan tidak diperluas diatas larynx atau pangkal tenggorokan, seperti tinggi leher yang kemudian gagal disembunyikan pada garis jahitan bedel.

Metode umum lainnya adalah untuk memotong dari sisi samping untuk telinga pada point atas dari manubrium dan downward dalam bentuk Y. Ini sering dilakukan pada bayi dan diinginkan untuk menghindari noda pada leher. Di AS khususnya, bedelan berbentuk Y atau berbentuk U dengan cara silang di atas dada (menyilang).

Strangulasi, dan beberapa kondisi dimana larynx ini bisa rusak, bedelan berbentuk Y bisa ditunjukkan seperti pada kulit terutama leher sisi atas dan kemdian hal itu bisa dibedah/dipotong hingga mendekati struktur leher. Disini, bedelan ini tidak dibuat setelah skull cap dan otak terlepas, untuk menghindari conestive artefactual haemoorhage dalam struktur leher dijelaskan oleh Prinsloo dan Gordon, dan ini cukup membingungkan dengan kebenaran dari ante mortem trauma. Gordon, et al selanjutnya menyarankan bahwa otak yang terlepas itu pertama kali dikonsepsikan pada semua otopsi dan bisa dideteksi sebelum disii oleh rongga abdominal yang terbuka.

Bedelan berbentuk Y juga dibutuhkan bilamana pembedahan berlangsung, dan untuk melihat luka memar atau kerusakan tulang. Dan kenyataannya wajah dapat dibedah atau dioperasi secara sempurna dari tengkorak dan diganti dengan sedikit pengaruh dari hasil kosmetik, jika pembedahan hati-hati ini dilakukan. Pada bedelan berbentuk Y pada leher dibuat terus menerus atau berkelanjutan dengan bedelan pada kulit kepala dan menyambung sisi telinga, leher dan kulit wajah dapat dilepas.

Kembali pada proses otopsi secara umum, bedelan utama ini memperlihatkan leher untuk menghindari pemotongan struktur yang tidak diinginkan, khususnya pada trachea. Thorac dapat dipotong menurun hingga ke sternum, tetapi perawatan ini tetap dilakukan. Kebocoran ini bisa dibuat dalam peritoneum dan jari-jari tangan dimasukkan kedalam lift dari intestines. Kunci kemudian juga bisa digunakan untuk mengetahui panjang abdomen, untuk menghindari penetrasi intestines.

Bedelan itu untuk mengakses

skull yang dibuat dari sisi telinga, untuk

mempertemukan mahkota kepala. Baik untuk menjaga posterior ini terutama vertex aktual, sekali lagi hal ini membuat dominansi krusial yang lebih terbuka, khususnya pada rambut. Dengan rambut yang tumbuh lebat, khususnya pada anak-anak, rambut ini dibasahi kemudian dibuat garis bedelan prospektif. Rambut ini kemudian dapat dikeraskan dan bisa disisir kebelakang sehingga menutupi jahitan.

MENGEKPLORASIKAN RONGGA TUBUH Kulit, jaringan cabang dan lemak yaitu dikuliti secara lateral dari bedelan utama, perawatan itu tidak dilakukan pada sisi atau point pisau hingga menyentuh kulit,

khususnya dalam area leher, dimana perbaikan ini tidak bisa dikonsepsikan secara tidak jelas. Jaringan ini ditarik kebelakang dan kemudian sisi leher dan sisi terluar dari tulang selangka.

Thorax, jaringan ini termasuk otot pectoral yang dikuliti hingga garis midaxillary pada bagian atas hingga costal margin.

Dinding anterior abdominal biasanya terpisah. Ini bisa dilakukan dalam dua tahap, pertama stripping back dari kulit dan lemak yang dieksposisika melalui otot, atau ketebalan kulit yang penuh, lemak dan otot dapat direfleksikan secara bersama-sama. Otot ini harus dipotong dari costal margin dan jika ketebalan ini berbalik dengan proses bedelan maka bisa dibuat permukaan peritoneal dari dinding perut yang lebih rendah, perawatan ini tidak untuk kulit.

MEMBUKA THORAKS Thorax adalah dibuka pertama kali oleh kedua sambungan sternoclavicular. Ini bisa dilakukan dengan melepaskan shoulder tipe dengan satu tangan, untuk menunjukkan sambungannya. Point pisau ini kemudian diperkenalkan secara vertikal dan memotong secara vertikal lingkaran tengah untuk memisahkan sambungan. Dan terdiri dari hal-hal lain terutama pada gergaji tangan dan guntung lipat. Pada bayi, tulang rawan/muda yang lembut dapat dengan mudah dibagi kedalam scalpel; pada tubuh yang lebih tua, stout knife yang bisa dijaga untuk tujuan menjaga ketumpulan pisau dibutuhkan pembedahan organ. Sering tulang rusuk/iga itu diperlihatkan, dan umumnya dipotong dengan pisau.

Bilamana gergaji itu digunakan, tulang rusuk/iga itu dipotong hingga lateral atau

hingga costchondral dari point costal margin hingga ke sambungan sternoclavicular atau dekat area yang dimaksud. Sternal plate adalah diuji untuk keretakan atau patah sebelum penempatan sisi dilakukan, kerusakan secara umum disebabkan oleh trauma dari resuscitatory cardiac massage yang kadang-kadang dinyatakan dalam point ini.

Thorax atau abdomen secara keseluruhan sekarang terbuka untuk inspeksi atua penyelidikan. Tingkatan inflasi dari paru-paru bisa dinilai, tercatat adanya

penyempurnaan atau partial colapse, emphysema, overdistension dan beberapa asimetri inflasi.

Jika pneumothorax sudah diduga sebelumnya terutama pada post mortem radiograph yang merupakan konfirmasi terbaik. Secara alternatif, dinding dada dapat dilubangi pada garis garis midaxillary serta bisa merefleksikan kulit dengan air untuk mengamati terjadinya pelepasan. Tes in jarang berhasil dan tidak berhasil bilamana ada komunikasi pasien antara rongga pleural dan bronchial tree. Jika ada tanda peregangan pada penumothorax, pelepasan udara ini bisa didengarkan atau bilamana pisau melakukan penetrasi terhadap otot intercostal dan parietal pleura. Rongga selaput dada (pleural) diduga untuk adhesi, efusi, nanah, darah, fibrin dan kandungan gastric.

MENGUJI ABDOMEN Perut kemudian diperiksa, lebih dulu ascites, airan faeculent, nanah dan darah yang selalu dilepaskan pertama kali dari rongga peritoneal atau selaput perut.

Omentum ini bisa memperlihatkan inflamasi atau peradangan atau fat necrosis. Bilamana pemindahan sisi, atau adanya loop isi perut adalah diamati untuk beberapa abnormalitas, khususnya bilamana terjadi kesalahan, peritonitis dan distensi ileus. Disadari adanya kesalahan dari post mortem hypostasis untuk necrosis dari mesenteric embolisme atau strangulasi isi perut. Warna gelap ini bisa disamakan, hypotasis biasanya mempunyai segmen tidak beraturan, dimana kesalahan ini terjadi secara berkelanjutan atau terus menerus, dinding perut akan bisa dianalisa.

PENGUMPULAN SAMPEL CAIRAM TUBUH Dalam proporsi besar dari otopsi forensik dan setiap satu dihubungkan dengan konotasi kriminal, sampel darah dan cairan darah lainnya serta kelenjar / jaringan dibutuhkan untuk pengujian laboratorium. Dalam hubungannya dengan sexual offece, sampel lain ini dijelaskan di bab 18. dimana cairan darah dan cairan lainnya dibutuhkan untuk penyelidikan toxicological, biochemical, microbiological dan serological, mereka biasanya dikumpulkan pada tahap awal dari proses otopsi (lihat bab 27).

Pengumpulan ini secara umum tergantung atas sifat tes. Bilamana sampel untuk analisis toxicologi ini dibutuhkan, pertimbangan perawatan dilakukan dalam sampling, lebih sempurna seperti yang didiskusikan di bab 27.

Dan tidak disarankan bagi penggunaan darah visceral untuk sampling. Khususnya untuk substansi molekul kecil yang mudah tersebar setelah mati; termasuk produk alkohol dan produk farmasi. Buku pelajaran yang lama umumnya menyarankan adanya penggunaan darah jantung / hati sebagai sumber sampel, dan ini bisa dikontaminasikan oleh penyebaran post mortem dari perut dan usus. Setelah mati, hambatan cellular dari mucosa dan membran ini bisa diperhentikan khususnya pada perut dan usus, pasangan

udara dapat dimigrasikan terhadap organ lain dalam rongga thoracoabdominal utama yang menyebabkan adanya kesalahan dari leel darah ante mortem. Pounder (lihat bab 27) yang menyatakan bahwa cercaan yang mengandung alkohol dan paracetamol ditempatkan dalam trachea setelah kematian untuk mengganti kandungan gastric, adanya peningkatan konstrasi terhadap substansi dalam sampel darah yang diambil dari kelenjar thoratic, dimaan darah femoral tidak tercemar.

Zat kimia seperti casrboxyhaemoglobin ini tidaklah bermasalah, tetapi alkohol adalah contoh utama dari sumber utama dari kesalahan yang muncul bilamana darah visceral itu dikumpulkan. Pilihan terbaik untuk pengumpulan ini adalah :

jarum dan tusukan dari femoral vein sebelum bedelan otopsi dimulai. Praktek ini selalu dibutuhkan, tetapi pada orang dewasa, 20 ml biasanya dapat diaspriasikan tanpa adanya hambatan / gangguan. Ini merupakan metode pilihan bilamana hanya ada pengujian eksternal yang dilakukan (memungkinkan).

Dari subclavian atau external iliac veins setelah tubuh sudah mengalami dominasi lain. Kotak kecil pada proses / alat pemotongan ini secara lazim digunakan. Tekanan biasanya dilakukan untuk mendapatkan bedelan/jahitan yang sempurna.

Bilamana kulit itu dibedel, khususnya pada bagian leher, internal jugular vein itu dieksposisikan, khususnya bilamana otot sternomastoid itu dibagi atau ditekannya. Bilamana dipotong, maka alur darah itu biasanya dipastikan, yang bisa dikumpulkan secara langsung kedalam kotak. Hanya ada sisi kerugian dari metode ini yaitu bilamana dinding darah dari thoracic inlet melalui superior vena cava, darah jantung bisa dibaurkan

dengan kesalahan seperti yang disebutkan di awal. Jika darah itu dikumpulkan dari segmen atas khususnya pada bagian leher atau kerongkongan, kemudian darah dari kepala dikumpulkan, alur ini biasanay distimulasikan untuk meningaktkan atau menurunkan kepala selama pengumpulan atau koleksi berlangsung.

Sampel

untuk

serology,

microbiology

dan

analisis

substansi

seperti

carboxyhaemoglobin, yang tidak diserap dari gastrointestinal tract, dapat dikumpulkan dari beberapa kelenjar darah, tetapi darah ini tidak pernah disendok/keduk dari rongga tubuh umumnya setelah eviskerasi berlangsung. Seperti yang bisa dikontaminasikan dengan kerusakan dari sturktur lain seperti gastric atau kandungan isi perut, mucus, urine, usus atau cairan serous.

Darah untuk microbiological culture tidaklah khusus diasimilasikan dari jantung tetapi adanya aspek khususnya yang diperuntukkan pada darah peripheral. Bilamana infective endocarditis diduga sebagai hal yang terbaik. Sebaliknya, darah untuk budaya itu dianalisa melalui septicaeia yang diambil dari peripheral vein. Urine dapat dikumpulkan oleh catheter sebelum otopsi atau adanya suprapubic puncture dengan semprotan jarum panjang.

Pelepasan vitreous humour dan cairan cerbrospinal dibutuhkan untuk toxicology atau usahanya dalam mengestimasikan waktu sejak keamtian oleh kandungan potassium (lihat bab 2). Vitreous humour harus diaspirasikan dengan perawatan bilamana hasil ini bisa diraihnya. Jarum hypodermic bisa diraih untuk jarum berukuran 5 ml yang dimasukkan kedalam outer canthus setelah penekanan melalui kelopak mata.

Cairan cerbrospinal dipastikan dalam cara yang sama seperti kehidupan pasien, penekanan jarum kedalam theca antara lumbar spines. Bayi dapat diangkat dengan bantuan posisi flexed yang sempurna; orang dewasa harus ditekan kedalam flexion pada sisi meja otopsi. Sebuah teknik alternatif adalah dilakukan pada cisternal puncture melalui atlantooccipital membrane.

Adanya tidaknya tekanan dengan theca dalam cadaver, cairan ini secara katif diaspirasikan, dan kadang-kadang semua berusaha untuk memastikan cairan oleh external puncture yang gagal. Hanya ada pilihan yang kemudian mencoba untuk kebocoran entricles melalui permukaan otak bilamana tengkorak dibuka. Usaha untuk memastikan cairan cerebrospinal dari interior tengkorak setelah adanya pelepasan otak yang secara umum bermanfaat; cairan darah itu dapat dipisahkan untuk clarity, komposisi kimia nampaknya tidak dapat diandalkan.

PELEPASAN VISCERA Setelah rongga tubuh diselidiki, organ ini bisa dilepas pada en bloc oleh perubahan prosedur Rokitansky, secara akurat dijelaskan seperti metode Letulle. Pertama, intestine yang dilepaskan adalah sebagai berikut :

Omentum adalah diangkat untuk ekposisi koil pada usus kecil. Bagian teratas dari jejunum diidentifikasi, dimaan penekanan secara retroperitoneal untuk menggabungkan terminasi dari deudoenum. Disini mesentry dilakukan dengan pisau dan pemotongan dilakukan. Jika hal ini dianggap epnting, maka dominasi dari lubang pemotongan itu ditelaat secara benar dengan kandungan isi perut setelah katub ileocaecal diraihnya.

Caecum kemudian dimobilisasi secara medial dengan menggunakan traksi manual dengan kegunaan minimum dari pisau, yaitu untuk menghindari pelubangan lumen. Bilamana hepatic flexure diraih, omentum ditekan untuk menggambarkan transversi colon dan ini bertentangan dengan mesocolon, yang dipotong atau dirawat tanpa membuka atau membedah perut. Spelnic flexure kemudian ditekan secara medial atau menurun, dan direndahkan dan sigmoid colon dipisahkan dari dinding posterior abdominal. Dubur atas dipotong silang, beberapa ahli patologi memasang tali yang dibuat dari usus di luar tubuh, sigmoid dan dubur itu diikatnya.

PELEPASAN STRUKTUR LEHER Untuk membuat atau melepas struktur leher lebih mudah, blok 10-15 cm tingginya ditempatkan di bawah bahu / pundak mayat. Ini diperbolehkan pada kepala yang jatung kebelakang dan kemudian adanya ekstensitas dari leher. Dan ini bisa dilakukan secara bebas, dengan menggantung tubuh, untuk menghindari kesalahan yang tidak diinginkan yaitu pada temperatur C6-C7. ini dapat menimbulkan salah interpretasi seperti pada luka ante mortem, khususnya bilamana artefact lain dari hamorrhage itu bisa disejajarkan seperti pada teori (Prinsloo dan Gordon). Struktur leher adalah dilepaskan dengan menekan pisau dibawah kulit dari leher atas setelah masuk ke rongga mulut. Pisau ini kemudian dikeluarkan disekitar rahang bawah untuk membebaskan lidah.

PEMBUKAAN ORGAN VISCERA Setelah bagian-bagian tubuh di inspeksi, organ-organ mulai di buka satu persatu sesuai dengan modifikasi Prosedur Rokitansky, lebih akurat dideskripsikan dengan Metode Letulles. Pertama-tama, usus dibuka sebagai berikut :

Omentum diangkat naik untuk memperlihatkan lilitan usus halus. Bagian atas dari jejunum diidentifikasi, yang mana melalui secara retroperitoneal untuk bergabung dengan bagian akhir duodenum. Disini mesentery dibuka menggunakan pisau dan usus dipotong keluar. Jika perlu untuk menahan isi gaster / duodenum / usus halus, dua rangkaian sutura mungkin melalui lubang tersebut dan diikat sebelum memotong usus diantaranya, tetapi sedikit isinya hilang jika hal ini tidak dilakukan. Usus diangkat keluar dan dibuka dengan memotong sepanjang mesentery sampai mencapai valvula ileo-caecal.

Caecum kemudian dipindahkan agak ke medial menggunakan traksi manual dengan penggunaan pisau seminimal mungkin, untuk menghindari bocornya lumen. Ketika flexura hepatica telah dicapai, omentum ditarik ke bawah untuk menarik colon transversum berlawanan arah dengan megacalon, yang mana dipotong, perhatikan untuk tidak membuka bagian perut yang berdekatan. Flexura lienalis kemudian ditarik ke medial dan bawah, dan colon descendens serta calon sigmoid dipisahkan dari dinding abdomen posterior. Bagian atas dari rectum dipotong menyilang, melalui beberapa ahli patologi hanya menaruh usus diluar tubuh, membiarkan sigmoid dan rectum tetap melekat pada tubuh.

PEMBUKAAN STRUKTUR LEHER Untuk membuat pembukaan struktur leher lebih mudah, sebuah balok dengan tinggi 10-15 cm sebaiknya diletakkan dibawah bahu cadaver. Ini akan membiarkan kepala jatuh ke belakang dan dengan demikian memperluas daerah leher. Hal ini harus dilakukan dengan halus, dengan pemegangan seluruh tubuh, untuk menghindari yang sering disebut fraktur akibat orang yang melakukan bedah mayat , yang mana subluksasi vertebra cervical bawah disebabkan karena robeknya discus intervertebralis antara C6-C7. Ini bisa disalah interpretasikan sebagai luka sebelum kematian, terutama jika artefak perdarahan umum yang lain sepanjang ligamentum longitudinal anterior dari vertebra cervical

dihadirkan ( Prinsloo dan Gordon ). Stuktur leher kemudian dilepaskan dengan melewatkan pisau dibawah kulit dari leher bagian atas sampai masuk ke dalam dasar mulut. Pisau kemudian mengelilingi bagian dalam mandibula untuk melepaskan lidah. Jaringan di belakang dan disamping faring dipisahkan, dan daerah tonsil dipotong keluar. Jari kemudian dilewatkan ke atas di belakang simpisis mandibula untuk memegang lidah, yang mana kemudian ditarik ke bawah, jaringan yang tersisa di belakang faring dipisahkan untuk melepaskan struktur leher. Ini sebaiknya dilakukan sejauh mungkin dari kateral, sehingga carotid dapat dikeluarkan dari sturktur laring. Sekarang disarankan untuk melihat kedalam laring dan lidah sebelum dilakukan pengrusakan lebih lanjut, untuk melihat jika ada sumbatan, pendarahan, atau kelainan yang lain yang ada dijalan nafas atas.

PEMBUKAAN ISI THORAX Sejumlah pembuluh darah dan saraf subclavia dipisahkan dengan melewatkan pisau dari dalam thorax mengelilingi bagian medial akhir clavicula dan costae I untuk melepaskan trachea dan oesophagus. Dengan tarikan halus, struktur leher dipegang dan ditarik ke caudal, dengan hati-hati bersihkan seluruh sisa-sisa jaringan disekitar vertebra thoracal dengan pisau, perhatikan agar pisau tetap berada pada tulang dan tidak terpisahpisah yang dapat merusak oesophagus / aorta.

Tarikan sebaiknya minimal, begitu mulai pemeriksaan rongga dada, tangan mulai bergerak dari struktur leher kemudian turun diletakkan 2 jari dibawah lobus superior paru, angkat, bersama-sama dengan mediastinum ketika pisau memotong dan membersihkan struktur midline kebawah sampai ke diagfragma. Jika struktur leher tertarik terlalu keras dimana digunakan sebagai tahanan untuk menarik keluar organ viscera thorax yang lain, struktur leher dapat robek. Sebagai tambahan, aorta descendens dapat menahan robekan intima transversal, akibat tarikan, yang mana menyerupai robekan tangga yang asli,

yang banyak dijumpai dalam kecelakaan lalu lintas.

Perlengketan pleura mungkin dapat menghalangi pembukaan paru yang bersih. Jika hanya sedikit, dapat dipotong keluar. Jika seluruh cavitas pleura terjadi perlengketan, dapat ditarik keluar dengan membuat belahan datar dengan tangan dan disingkirkan. Kadang-kadang ( terutama pada penyakit paru akibat industri dan TBC lama ) perlengketannya tebal, kuat atau bahkan mengeras. Pembukaan terhadap paru dapat dilakukan dengan menggerakkan pisau kebawah sepanjang seluruh panjang pleura parietal melewati sisi anterior dalam dari costae, dan dengan tangan melewati celah sampai bidang datar untuk memaksa pleura parietal lepas dari otot intercostal dan costae.

PEMBUKAAN ORGAN ABDOMINAL Ketika organ dada telah lepas, organ-organ tersebut diletakkan kembali kedalam thorax dan diagfragma dipotong. Satu tangan menarik hati dan limpa ke medial, letakkan bagian kiri dari diagfragma diletakkan pada bagian yang merenggang, ketika pisau memotongnya dari lateral, dekat dengan sisi pinggir costae. Potongan melengkung pada bagian belakang di bawah organ untuk mencapai vertebra, yang mana harus dipotong melalui ligamen-ligamen penting, kemudian melalui bagian caudal di belakang ginjal, yang mana dipindahkan kedepan.

Pisau memotong melintang sepanjang otot psoas dan berakhir pada pinggir daerah pelvis. Hal sama dilakukan pada sisi yang berlawanan, operatornya dapat menggeser tubuh mayat tersebut jika perlu. Organ dada kemudian diangkat dan pelan-pelan ditarik kedepan unutk mengambil organ viscera abdomen menuju ke bagian kaki. Berbagai tahanan biasanya berhubungan dengan ligamentum penting yang keras dan tidak komplit.

Akhirnya, organ akan diletakkan terbalik sepanjang pubis, dilindungi hanya oleh pembuluh-pembuluh darah iliaca dan ureter, yang mana akan dipotong, dan seluruh viscera ditarik dan diangkat sampai dengan pemotongan cabang-cabangnya yang mana air mengalir dan penerangan yang cukup harus tersedia. PEMBUKAAN ORGAN PELVIS Perlakukan terhadap isi pelvis tergantung pada tipe kasusunya. Ketika perkiraan sebab kematian tidak berhubungan dengan lesi pada pelvis, pada mayat tersebut kandung kencing mungkin dibuka lebih lebar, mukosa dan trigonum diinspeksi sebelum prostat diincisi untuk pemeriksaan. Testis didorong keatas melalui canalis inguinalis yang mana dibuat lebih lebar menggunakan pisau. Pada wanita, ovarium diincisi dan tuba fallopi di periksa dari atas sebelum uterus disayat pada midline dari fundus sampai cervix.

Pemeriksaan lebih lanjut untuk masing-masing jenis kelamin dapat dilakukan dengan mengenukleasi isi pelvis. Pisau memotong mengelilingi mangkuk pelvis sebelum manarik kandung kencing hingga terpisah dari pelvis. Ketika dinding pelvis sudah lepas semua, pisau memotong melalui bawah prostat kemudian melalui bagian rectum yang lebih rendah agar organ pelvis dapat ditarik keluar. Pada wanita, ovarium dan tuba fallopi dipindahkan kedepan dan pisau diteruskan disekeliling dinding dari mangkuk pelvis, kemudian sampai didepan dan di bawah dari kandung kencing. Atap dari vagina dan rectum dipotong, untuk melepaskan semua isinya. Dalam kasus-kasus yang dicurigai terjadi hubungan seksual atau aborsi, digunakan teknik khusus yang di jabarkan dalam bab 19.

PEMBUKAAN OTAK

Perhatian berikutnya beralih pada kepala. Scalp diincisi sepanjang vertex posterior dari titik di belakang telinga ke titik yang serupa di sisi sebelahnya. Ketika Y incisi digunakan pada leher, anggota dari the Y mungkin bersambung bagian kanannya sepanjang scalp, terutama jika pemotongan pada wajah diperlukan.

Jaringan ditunjukkan ke depan dari dahi bawah dan belakang sampai pada occipital. Jaringan scalp yang lebih dalam mungkin dikupas menggunakan traction ( alat penarik ), tetapi sering dibutuhkan sentuhan pisau untuk melepaskannya. Lebam dicari dan ketika luka pada kepala ada atau diperkirakan ada, scalp harus dibuka hingga tengkuk leher, memberi perhatian khusus pada jaringan di belakang dan di bawah tiap telinga dimana luka yang menyebabkan kerusakan arteri vertebro-basiler terjadi. Jika ada luka pada wajah, kulit wajah mungkin dilepaskan dari garis rahang dan turun dari dahi. Pengembalian bagian-bagian kulit wajahnya sempurna jika tidak terjadi perforasi terhadap kulit wajah tersebut selama pembukaan.

Tempurung kepala terlihat, menggunakan kedua tangan atau alat bantu. Garis pemotongan tidak boleh sepanjang kelilingannya, karena tidak mungkin merekonstruksi kepala tanpa terjadi penggeseran calvaria yang kurang bagus. Harus dilakukan pembukaan sudut segitiga, dengan pemotongan horizontal dari dahi sampai belakang telinga digabung dengan pemotongan kedua yang melewati garis diagonal ke atas pada segitiga yang dangkal sepanjang daerah occipitoparietal. Perhatikan, jangan meletakkan gergaji bagian belakang ini memotong terlalu vertikal ( jangan terlalu anterior ) pada tempurung kepala, atau otak dapat rusak akibat pembukaan yang terlalu sempit.

Calvaria kemudian dibuka dengan mencongkel setelah pemotongan lengkap. Palu dan pahat tidak boleh digunakan dalam otopsi forensik, meski memastikan bahwa duramater tetap utuh. Resikonya dapat terjadi perluasan atau bahkan dapat menyebabkan

fraktur akibat penggunaan alat-alat yang berlebihan tersebut. Hal ini hanya terlalu berlebihan untuk menunjukkan suatu membran duramater yang tidak dikenal. Pemotongan pada duramater mudah dikenali terhadap keadaan patologis yang dapat terjadi. Yang lebih penting adalah untuk melihat permukaan duramater dan otak yang terbuka, dan kemungkinan adanya udem, perdarahan, proses peradangan. Tempurung kepala diperhatikan dengan baik untuk menemukan adanya fraktrur dan duramater dilepaskan dari dalam untuk mempelajari permukaan kulit bagian dalam.

Untuk pembukaan otak, duramater diincisi disekeliling garis dimana tempurung kepala dibuka dan 2 jari diselipkan dibawah tiap lobus frontal. Dengan tarikan yang pelan, lobus frontalis diangkat untuk memperlihatkan chiasma opticum dan nervus cranialis anterior. Falx mungkin harus dipotong untuk melepaskan otak, kemudian skalpel atau alat dengan titik tumpul dilewatkan sepanjang dasar tempurung kepala untuk memisahkan saraf cranial, arteri carotis dan tangkai pituitary sampai sudut terlepas dari tentorium dicapai. Pemotongan dilakukan sepanjang tiap sisi dari tentorium, mengikuti garis tulang petrosus temporal sampai ke dinding lateral dari tempurung kepala. Dilanjutkan dengan penarikan otak, tetapi hati-hati jangan sampai mempengaruhi permukaan atas berlawanan dengan pemotongan dengan gergaji pada bagian posterior. Pisau memutuskan nervus cranialis posterior yang tersisa dan turun kebawah sampai pada foramen magnum untuk memotong medula spinalis sejauh kebawah yang dapat dicapai. Sekarang, tangan menyelinap didasar otak, yang kemudian diputar-putar kearah yang berlawanan agar dapat dilepaskan, duramater yang masih melekat pada tempatnya diputuskan jika perlu. Otak diletakkan pada piring skala dan ditinbang sebelum dilakukan fiksasi atau pemotongan.

Dasar dari tempurung kepala kemudian diperiksa dan basal duramater dibuka dengan tang yang kuat untuk memperlihatkan adanya fraktur basal. Tang gigi yang telah disingkirkan dapat dipergunakan untuk tujuan ini. Sinus venosus diincisi untuk mencari

adanya trombosis. Jika normal ( dan selalu pada bayi ) tulang petrosus temporal terlihat, terpahat atau terpotong dengan penjepit tulang untuk memeriksa adanya infeksi telinga tengah dan dalam.

PEMBUKAAN DAN PEMERIKSAAN MEDULA SPINALIS Ini bukan hal yang rutin dilakukan untuk membuka medula spinalis saat otopsi, kecuali ada indikasi tertentu dimana mungkin ada beberapa lesi. Dimana, hal ini kemungkinan sangat kecil untuk terjadinya kerusakan columna vertebralis, pembuluh darah atau isi dari canalis vertebralis bagaimana pun sebaiknya tidak ada keraguan untuk melanjutkan otopsi sampai memasuki daerah ini.

Ada beberapa teknik pembukaan medula spinalis dan untuk keteranga seluruhnya, teks dari Ludwig atau Knight harus dikonsultasikan. Singkatnya, ada 2 pendekatan utama ke medula spinalis, anterior dan posterior.

Dalam teknik anterior, corpus vertebra dibuka setelah pembukaan organ tubuh lengkap, dengan menggergaji pedicle dengan pemotongan pada lateral bawah tiap sisi lebih baik jika tubuh tidak dibalik sampai wajah tertutup dan incisi dorsal yang luas dihindari, yang mana membutuhkan perbaikan berikutnya. Penulis menemukan bahwa teknik ini lebih melelahkan, tapi bagaimana pun, tetap dibutuhkan terutama pada regio thoracal dimana ujung kepala dari costae membuat pendekatan lebih sulit.

Pendekatan posterior lebih biasa digunakan, membutuhkan incisi midline dari occipital kedaerah lumbal, otot-otot para spinal ditunjukakan sepanjang jaringan subcutan. Dua potongan gergaji pararel kemudian dibuat kebawah sepanjang vertebra untuk

memisahkan lamina kanan dan kiri, dan memberikan akses ke canalis vertebralis. Ini paling baik dilakukan dengan gergaji listrik yang berayun, perhatikan jangan memotong terlalu dalam yang bisa mengenai duramater medula spinalis. Pelepasan tulang diperiksa dengan teliti dari bawah keatas untuk memperlihatkan canalis vertebralis.

Pemotongan sebaiknya ditempatkan cukup lateral sehingga pembukaan medula spinalis tidak megalami kesulitan. Ketika canalis terlihat, duramater medula spinalis diperiksa adanya perdarahan, infeksi, atau kelainan lain, kemudian dibuka tetap dengan duramaternya dengan memotong transversal akar saraf dan duramater, dan mengupasnya dengan progresif dari bawah ke atas. Duramater kemudian pelan-pelan dibuka dengan penjepit dan gunting untuk memeriksa medula spinalisnya. Medula spinalis bisa dimasukkan dalam formalin, dengan otak, segera sebelum pemotongan dan contoh dibawa ke bagian histologi. Fraktur, infark, infeksi, perdarahan, dan proses degenerasi adalah lesi utama dalam konteks forensik. Canalis vertebralis yang kosong harus diperiksa hati-hati untuk melihat adanya kerusakan discus, tumor, fraktur, perdarahan dislokasi, dan kolaps vertebra.

Ketika pada otopsi, dicurigai adanya kerusakan vertebra, latihan permulaan yang baik adalah dengan menggeser tangan dibawah punggung dari tubuh di atas meja otopsi dan menarik vertebra dorso-lumbar ke atas, sambil memperhatikan bagian dalam dari corpus vertebra. Jika ada fraktur atau dislokasi, sudut abnormal yang terjadi tiba-tibaakan terlihat, sebagai ganti pembengkokan yang terjadi secara halus. Vertebra cervical dapat di tes dengan manipulasi manual.Jika sudut yang dicurigakan terlihat, sayatan dapat dilakukan sepanjang vertebra anterior, melalui corpus vertebra dan discus, menggunakan gergaji listrik atau tangan. Ini akan memperlihatkan bagian dalam dari vertebra dan menunjukkan adanya fraktur, perdarahan, atau discus yang robek. Jika salah satunya ditemukan, medula spinalis harus selalu dibuka.

PEMERIKSAAN ORGAN-ORGAN Pemeriksaan Organ-Organ Dalam Organ thoracal dan abdominal diletakkan di atas meja bedah dengan panjang yang sesuai dan di bawah penerangan yang baik. Air mengalir untuk mencuci harus tersedia dari pipa yang flexibel, untuk membersihkan jaringan sebagai prosedur pembedahan. Beberapa ahli patologi ada juga yang mengatakan bahwa hal ini tidak seharusnya dilakukan, karena air dapat memberikan efek terhadap kualitas sayatan histological di kemudian waktu, tetapi hal ini akhirnya tidak dapat dibuktikan (Cotton dan Stephenson). Dalam beberapa kasus, pembukaan bagian inferior yang luas pada pemeriksaan mata yang akan memberikan hasil jika darah tidak dipindahkan pada interval yang singkat secara berlebihan melebihi objek lain dalam hal detail dari struktur sel, terutama dalam kebanyakan otopsi forensik, penampakan secara keseluruhan biasanya jauh lebih penting.

Organ viscera harus dibaringkan sehingga lidah menghadap pemeriksa, dengan aorta pada bagian atas. Urutan yang sama dalam pemeriksan harus diperhatikan meski dalam kasus umum, jadi dengan rutinitas yang tetap akan memastikan tidak ada hal yang tertinggal.

Struktur Leher Lidah diperiksa akan adanya penyakit dan luka, termasuk gigitan lidah dalam rahang sendiri atau karena epilepsi. Lidah disayat untuk mendeteksi adanya perdarahan yang dalam yang kadang-kadang terlihat dalam kasus adanya perlawanan. Perdarahan semacam ini terlihat paling banyak pada pinggir dan tengah dari lidah bagian tengah. Kongesti yang jelas, yang mana berhubungan dengan penekanan pada leher atau model

lain kongesti pada kematian, biasanya terdapat pada bagian posterior lidah. Tonsil dan dinding faring di inspeksi. Glottis diperiksa terhadap adanya sumbatan mekanis atau infeksi, dan tulang hyoid serta tiroid di palpasi untuk mengetahui adanya fraktur. Oesophagus dibuka dengan gunting tumpul yang besar ( 20 cm ), juga dengan pisau 10-15 cm yang matanya sangat tajam dan pisau yang matanya panjang pisau untuk memotong otak adalah peralatan yang paling berguna dalam otopsi.

Arteri carotis di tiap sisi dibuka, termasuk bifurcatio dan sinus. Jika perlu, bagian atas dari carotid dibuka dalam tubuhnya sendiri dan mengikuti dasar dari tempurung kepala. Jika dicurigai ada trombosis, bagian intra-cranial harus diperiksa dalam sinus cavernosus.

Mengembalikan struktur leher, tiroid harus disayat dan di inspeksi, kemudian oesophagus dibuka hampir sampai di bagian cardia dari lambung dan berbagai bahan yang dicurigai seperti kapsul, tablet, bubuk diambil untuk analisa.

Gunting kemudian melewati bawah dari garis posterior laring dan trachea sampai pada carina. Jika dicurigai ada penekanan di leher dengan berbagai tipe seperti adanya perlawanan, kemudian pemeriksaan khusus harus dilakukan, seperti dijelaskan dalam Chapter 14.

Trachea dab bronchus utama harus di inspeksi terhadap adanya penyakit dan sumbatan. Isi lambung sering ditemukan, tetapi nilai pentingnya di diskusikan dalam Chapter 13, sebaiknya tidak diasumsikan bahwa aspirasi sebelum kematian hanya terjadi

dari adanya isi lambung pada jalan napas.

Paru-paru Paru-paru kemudian dibuka, setelah pemeriksaan yang teliti pada permukaan externalnya terhadap patchy kolaps, emfisema dan petechie dan lain-lain. Hampir setiap otopsi akan memperlihatkan sedikit petechie, terutama disekitar hillus dan fissura interlobaris. Nilai pentingnya juga didiskusikan dalam chapter 13. Paru-paru dipindahkan dari rongga thorax dengan memotong dengan menggunakan pisau yang matanya panjang ( seperti pisau untuk memotong otak ) di buh hillus dengan sisi tumpul keatas. Pisau diatur pada diatur pada posisi yang sesuai sebelum diubah ke sisi tajam ke atas untuk memotong hillus. Sebelum melakukan ini mungkin perlu untuk membuka perlengketan sepanjang diagragma dan memotongnya melalui ligamentum pulmonary, yaitu jaringan yang tipis yang terletak pada sisi medial inferior lobus bawah ke mediastinum.

Setelah hillus dipotong, ahli patologi harus memberitahukan jika ada emboli yang terlihat pada arteri pulmonalis. Ini dilakukan karena emboli dapat keluar dan tercuci tanpa pemberitahuan turun ke tempat cuci. Beberapa ahli patologi berkeras bahwa pembukaan batang pulmonal dan bahkan vertikel kanan sebelum pembukaan paru, untuk mencari emboli yang tersembunyi. Hal ini tidak perlu karena emboli besar yang lain akan segera terlihat pada pemeriksaan hepar dan paru pada urutan pemeriksaan yang biasa dilakukan.

Kedua paru diangkat dan hillus diinspeksi sebelum di letakkan untuk dipotong. Paru harus ditimbang sebelum dipotong, karena cairan udem yang memiliki dapat keluar selama dipotong. Kemudian tiap bagian paru diletakkan dengan hillus dibawah diatas

meja bedah, kesempatan ini diambil selama menangani evaluasi berat dan udem, seperti halnya pada emfisema.

Paru dipegang pada bagian atasnya dengan tangan kiri operator ( atau dengan busa spons ) dan organ dipotong sagital dari atas sampai dasar dengan pisau untuk memotong otak yang besar, letakkan pararel dimeja. Prosedur ini dilakukan pada sayatan antero posterior, bagian medial bawah dibawa ke hillus. Permukaan yang dipotong kini dapat dibuka seperti membuka buku dan permukaannya diperiksa terhadap udem, tumor, pneunomia, infark, trauma dan lain-lain. Bronkus yang lebih kecil harus di inspeksi untuk mendeteksi tanda-tanda penebalan mukosa, infeksi dan sumbatan. Arteri pulmonalis yang lebih kecil mungkin memperlihatkan trombosis atau emboli yang tidak terlihat pada pembuluh darah yang lebih besar.

Meletakkan Paru dalam Formalin Dalam beberapa otopsi medikolegal, terutama pada penyakit paru akibat industri seperti preumoconiosis atau asbestosis, 1 atau ke 2 paru perlu diletakkan dalam formalin untuk difixaxi sebelum dipotong. Ini menunjukkan bentuk dan histologi dalam keadaan sempurna, tetapi penundaan pemeriksaan paling lambat beberapa hari. Ini dilakukan dengan memegang atau mengikat cannula kedalam bronkus ketika 10% formal saline di perfusi melalui selang dari tempat persediaannya dengan jarak 1 m di atas paru. Paru kemudian diletakkan dalam bak formalin yang ditutupi dengan kain terendam formalin untuk menghindari proses pengeringan.

JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH BESAR Ada banyak cara untuk memeriksa jantung yang dilakukan oleh seorang patologist, setiap operator harus memutuskan metode apa yang paling baik untuk digunakan. Pada bahasan ini

tidak akan membahas tentang post mortem angiography, disini hanya akan membahas cara yang umum dan rutin dipakai untuk memeriksa jantung. Pertama jantung dan paru-paru diputar sehingga bagian bawah terlihat, pisau disayatkan di a. iliaka melewati kanan atas lengkung aorta lalu mengitari beberapa cm diatas katup aorta, namun tidak boleh melewati lapisan perikardium. Bagian dalam dari aorta dipelajari khususnya pada kasus ateroma, aneurisma atau trauma. Vena kava inferior dibuka. Organ-organ ditarik lalu diputar balik sampai jantung menjadi bagian yang paling atas. Pada lapisan perikardium dilakukan inspeksi luar untuk melihat cairan dan bekuan darah, lalu perikardium dibuka dengan pisau. Jantung dilepaskan melalui insisi dan dilakukan inspeksi luar pada kasus perikarditis, perlekatan, perubahan warna jantung akibat infark dan aneurisma jantung. Pada anak-anak, kelenjar timus harus diperiksa dan dibedah. Lalu jantung dipindahkan dengan cara dipegang dengan tangan kiri supaya

perlekatannya tetap kuat terhadap organ lain. Pisau panjang disayat horisontal melintasi perikardium memotong sepanjang bagian terbawah dari aorta dan pembuluh darah besar lain diatas atrium. Lalu cuci bagian luarnyadan ditempatkan pada posisi anatomis pada meja pemotong dengan bagian apex menghadap operator dan permukaan anterior menghadap keatas. Jantung tidak boleh ditimbang terlebih dahulu sampai selurugh darah dan bekuan darah yang da di dalamnyadikeluarkan. Ukuran normalnya bentuk dan ventrikel ynag emmbesar harus diperhatikan periksa juga apakah ada dilatasi atau penebalan dari conus pulmonalis yang merupakan tanda dari hipertrofi ventrikel kiri, terutama bila terlihat striae pada otot transversal melewati conus.

Atrium kanan dibuka dengan memasukan pisau ke vena kava inferior dan memotong secara pararel melewati bagian dari atrium kanan lalu bagian dalam dari atrium, septum dan katup trikuspid diperiksa. Septum interventrikulare diperiksa bagian luarnya, lalu dengan pisau dipotong kira-kira 15 mm kekanan dan secara pararel sepanjang ventrikel kanan. Hal ini harus dilakukan dengan kedalaman yang cukup untuk memasuki lumen tapi tidak boleh menenai dinding posterior, gunting memotong conus pulmonalis ke arteri pulmonalis sampai terjadi pertemuan. Pengguntingan diperluas sampai ke bagian bawah apex dari ventrikel. Pisau memotong kebawah dan melewati bagian luar sudut kanan, dituntun oleh jari tangan kanan melewati katup trikuspid dari atrium kanan yang telah dibuka. Sekarang semua sisi kanan jantung telah terbuka. Setelah

ini bagian tersebut harus dicuci dan bagian endokardium serta katup harus diperiksa. Dengan cara yang sama dikerjakan pada sisi kiri jantung. Pisau dimasukan ke vena pulmonalis dan melewati bagian horisontal ke vena yang berlawanan, dengan demikian membuka atrium, jari dimasukan ke arah bawah sepanjang katup mitral untuk memastikan ukuran dan mendeteksi adanya stenosis. Jantung dikembalikan ke posisi anatomis, dipotong kembali pararel dari septum, tapi pada sisi kirilebih dalam karena ventrikel kiri lebih tebaldituntun oleh jari pada katup mitral, pemotongan diperluas keatas sepanjang katup dan keluar pada bagian atas atrium. Jari-jari melewati saluran keluar ke aktup aorta untuk memperkirakan ukurannya lalu pisau melewati katup mitral ke katup aorta maka ujung aorta terbuka seluruh bagian jantung sekarang telah terbuka dan dapat dicuci serta dapat ditimbang. Ada bermacam-macam perkiraan ukuran berat dai jantung normal, tergantung dari berat badan dan jenis kelamin meskipun bukan merupakan ukuran pasti. Sesorang dengan postur tubuh sedang tidak memiliki berta jantung yang sesuai dengan ukuran otot sesorang bila orang tersebut memiliki penyakit hipertensi. Persoalan ini masih merupakan perdebatan namun sebagai auan berata jantung normal pada orang dewasa dengan postur tubuh normal 380 gram. Setelah diukur beratnya, endokardium dan klep diperiksa, kemudian arteri koronaria. sekali lagi,terdapat kontroversi pada metoda pembukaan jantung, tetapi metode yang digunakan saat ini adalah memotong dengan potongan melintang dengan pisau dibanding membuka secara membujur dengan gunting kecil. PEMERIKSAAN ORGAN PERUT ( ABDOMEN ) Organ yang akan diperiksa diletakkan di permukaan tempat pemotongan pada posisi antomis denga hepar dan lambung jauh dari pemeriksa dan permukaan anterior menghadap keatas. Lambung dibuka dan apabila ada permintaan dari isi lambung untuk keperluan analisis kita harus menyiapkan tempat untuk menyimpan isi lambung tersebut. Lambung dicuci bagian luarnya dengan air mengalir dan pemotongan kecil pada kurvatura mayor dilakukan. Tempat untuk menyimpan sample dapat ditaruh di bawah meja pemeriksaan, setelah itu kurvatura mayor dibuka lebar dan isi lambung dikeringkanbila ada substansi lain yang melekat pada lambung dapat dimasukan ke tempat penyimpanan sample tersebut. Beberapa pemeriksaan laboratorium membutuhkan contoh dari dinding lambung untuk

dilakukan anlisis, hal ini dapat dilakukan setelah seluruh organ dibuka dan lapisan lambung telah diperiksa.bila isi lambung tidak dibutuhkan tau telah di simpanlambung dibuka dari cardia ke pylorus sepanjang kurvatura mayor setiap lapisan dicucci dan diperiksa, potong melewati pilorus disekitar duodenumsampai ditemukan titik temu.kandung empedu mungkin dapat kita remas untuk mentukan patency dari kandung empedu sebab pada kasus morfin dan CPZ overdosis diperlukan pemeriksaan kandung empedu. Kelenjar adenal diperiksa pada pemeriksaan selanjutnya, bagian kanan adrenal berada diatas ginjal, bagian kiri ada pada sisi medial bila ginjal kanan diambil dengan tangan kiri dan diangkat keatas berlawanan dengan berat dari hepar, pemotongan pada jaringn yang diregangkan antara hepar bagian kiri tertananm pada jaringan diantara pankreas, limpa dan ginjal. Jumlah dari kortikal lipoid, tidak adanya perdarahan dan kelainan lain harus ditulis pada setiap kelenjar yang diperiksa. Limpa dipindahkan dengan memotongmelalui pediclenya dan dipotong menjadi beberapa bagian setelah ditimbang. Pancreas diletakkan di bawah lambung dan dipotong sesuai dengan panjangnya dari lekukan duodenum ke ujungnya ditaruh berlawanan dengan hilus limpa. Ginjal dikeluarkan denagn memotong kapsulnya biasanya setelah lapisan tebal dari perineum dilewati, ginjal dapat dikeluarkan dari kapsulnya kecuali bila telah melekat. Pada ginjal di periksa dengan membuka aorta, namun dapat diperiksa ulang, ureter juga dapat diperiksa. Ginjal dirobek pada bagian hillusnya dan ditimbang, lalu potong sesuai dengan panjangnya untuk memeriksa bagian anterior. Lebar dari korteks ginjal penting untuk diperiksa pada orang normal 1 cm, granuler pada permukaan ginjal dan kejernihan dari cortikomedilary junction dinilai. Usus kecil juga harus diperiksa pada stage awal pemindahan namun pada pemeriksaan usus kecil tidak perlu dibuka semuanya, kecuali bila ada indikasi tertentu. PEMERIKSAAN OTAK Setelah dilakukan penimbangan pemeriksaan otak harus segera dilakukan biasanya dilakukan cara wet cutting yaitu otak ditaruh di dalam kotak berisis formalin, supaya otak terfiksasi sebelum dipotong untuk memudahkan pemotongan supaya lebih akurat. Teknik dari fiksasi otak telah banyak diketahui yaitu otak ditaruh pada tempat penyimpanan yang berisi 5-8 liter formalin yang mengandung10 % buffer formalin. Otak ditaruh dan diikat dengan benang/ paper clip melalui arteri basilaris dn diikuti di bagian mulut atas/ pinggir atas dari tempat penyimpanan tersebut.

Pada otopsi mayor tidak perlu dilakukan fiksasi (perendaman otak pada formalin) bila tidak ada lesi di otak atau hal lain yang mungkin ditemukan pada pemeriksaan luarbila ada kasus seperti ini lebih bagus dilakukan cara wet cutting. Bila hanya terdapat satu lesi lebih baik diperiksa dalam kondisis tidak terfiksasi, pada kasus subarachnoid hemorhage, lebih mudah untuk mencuci dalam keadaan fresh/sebelum diberi formalin, belum difiksasi dan darah dengan air yang mengalir.

Apakah otak diperiksa dalam keadaan basah atau telah terfiksasi urutan pengukurannya sama saja beratnya adalah hal pertama yang harus diukur normalnya untuk pria dewasa 1300- 1450 gram, pada wanita lebih kecil seratus gram, harus diperhatikan bahwa otak yang telah terendan formalin menjadi lebih berat 8 % dari ukuran normalnya. Otak diperiksa apakah ada kelainan pada permukaannya (hemorrhage), perdarahan meningeal lesi yang paling penting pada forensik patology ( baik ekstradural, subdural, atau subarachnoid) ini berarti pemeriksaan darah pada otak terutama arteri dari sirkulasi willis dan pembuluh darah vertebralis sangat pentingterutama untuk pencarian Berry Aneurisma Kesimetrisan dari otak harus dipriksa juga apakah terdapat depresi pada otak karena ada massa atau kompresi dari tulang tengkorak. Perkiraan dari udema otak ditentukan dari beratnya, juga dari gyrus otak yang mendatar, hilangnya sulcus dan terjadinya hernia hipocampus. Herniasi uncus ditandai dengan adanya infark, sama dengan herniasi dari tonsila cerebelar ke foramen magnum. Pemeriksaan teliti dari pembuluh darah basiler dan bagian luar otak dan setelah dilakukan perabaan bila terdapat massa di bawah kortex seperti adanya perdarahan , abcess atau tumor kistik maka otak harus dipotong untuk melihat kelainan apa yang ada. Pemotongan pertama dilakukan di pedunculer otak, pisahkan cerebrum dari cerebelum lalu cerebelum dipisahkan dari batang otak. Lalu otak kecil dipotong untuk memeriksa subsstansia nigra, hal ini dilakukan unutk memeriksa apakah terdapat perdarahan

sekunder/primer akibat tekanan pada intrakranial. Otak kecil dan pons dipotong vertikal kebawah dan dibukla untuk melihat ventrikel 4, nukleus dentatus dan bagian dalam dari cerebelum, bagian bawah pons dan medula dipotong transversal/longitudinal.

Hemisphere otak besar dipotong pada bagian coronal dari lobus frontalis ke occipitalis potongan harus 1 cm tebalnya. Pemotongan ini harus dilakukan dengan hati-hati.

PEMERIKSAAN TAMBAHAN Mikrobiologi Lebih umum pada atopsi klinik, meliputi pemeriksaan contoh kultur untuk bakteriology, virology dan jamur bila diperlukan. Swab dapat dikerjakan juga pada otopsi. Alternative lain yaitu contoh jaringan dikumpulkan pada tempat yang steril hal ini merupakan metode yang umum sebagai contoh untuk kultur virology dari paru dan otak. Kultur darah mungkin diperlukan dan apabila kita akan mengambil darah lebih baik jika kita menggunakan jarum suntik yang sterildarah dapat diambil dari pembuluh darah besar di vena femoralis, sebagai alternative darah dapat juga diambil dari bilik jantung yang baru saja dibuka. Pada seluruh investigasi otopsi kultur dilakukan segera sesudah meninggal atau secepat mungkin karena sering terjadi kontaminasi maka dari itu hal ini harus dilakukan oleh ahlinya. Toksikologi Hal ini sudah pernah dibahas dan akan dibahas lebih lanjut pada bab berikutnya, pada bagian ini pengumpulan spesimen yang harus diperhatikan, spesimen dapat diambil adri darah, urin, isis lambung, organ ( t.u hati), isis usus, cairan otak (cairan cerebrospinal) , kandung empedu dan cairan bola mata. Tempat untuk penyimpanan spesimen harus steril. Pemeriksa spesimen ahrus disertai denagn form yang berisis tentang isi sample yang akn diperiksaidentitas korban, dll.

Histologi

Sebagian besar otopsi (pemeriksaan mayat) tak dapat dielakkan dan selalu berkaian erat dalam kasus kejahatan dan litigious (perkara pengadilan), ahli patologi

membutuhkan suatu pengujian histologi atas jaringan, bilamana hanya mengeluarkan sisi kemungkinan dari penyakit alami. The Royal College of Pathologist merekomendasikan bahwa histologi diambil dari setiap otopsi dan saran ini akan diikuti bilamana memungkinan, dalam beberapa otopsi medicolegal, faktor biaya menjadi hal yang menyulitkan bilamana ada sisi kewenangan terhadap pegawai yang memeriksa sebab musabab kematian seseorang dan pihak lain terhadap dana atau anggaran yang harus dikeluarkan. Dan biasanya hal itu dapat menopang sampel liver, limpa kecil, ginjal, paruparu, tyroid, adrenal, pancreas, dan otot sebagai suatu karakteristik minimum. Dimana ada indikasi untuk menguji bagian lain dari tubuh, dan hal itu ditopang dalam keterikatannya dengan jaringan rutin. Jaringan itu disample-kan oleh pengambilan rangkaian yang besar dari proses otopsi (adanya penurunan ukuran) atau adanya pemotongan blok dari ukuran standar (seperti 20 x 12 x 15 mm) pada waktu otopsi berlangsung.

Jaringan itu ditempatkan dalam volume yang besar dan banyak diikuti oleh asumsi lain yang sifatnya tetap paling sedikitnya selama beberapa hari sebelum proses berlangsung. Volume fixative itu dilakukan selama enam jam dari total volume jaringan; dan ini terlalu umum untuk melihat massa jaringan sambungan kedalam container kecil, dan ditutup dengan formalin, dan sifatnya semi kering. Beberapa prosedur dikhususkan juga dalam penggunaan saat ini, seperti pengujian histochemistry, fluorescent microscopy dan immunohistochemical, yang digunakan secara khusus dalam patologi akibat kematian yang mendadak dimana bukti myocardial infarction awal ini mulai terlihat. Dan

ini didiskusikan dalam bab mengenai sifat kematian yang wajar (bab 25).

Radiologi otopsi

Secara detail penemuan radiologi akan didiskusikan dalam setiap bab, khususnya dalam hubungannya dengan penyalahgunaan obat-obatan pada anak-anak, luka kena tembakan, identifikasi dan ilmu kedokteran gigi. Dan secara umum, radiologi adalah sama untuk photografi dalam ruang otopsi, yang membutuhkan banyak alat yang besar dan seseorang untuk mengoperasikan peralatan dan proses film.

Kualtias bantuan radiografik yang tersedia akan bisa divariasikan secara luas dari tidak adanya penekanan terhadap tekik-teknik, termasuk tomography dan lain-lain, dalam setiap penelaahan, magnetic resonance imaging (MRI).

Perbedaan utama biasanya apakah otopsi itu dilakukan dalam suatu rumah sakit yang memiliki peralatan yang baik, dimana ada alat radiografik, radiographer

menggunakan radiologist untuk membaca film atau apakah otopsi dilakukan dalam tindakan khusus dan tersedia fasilitas klinisnya.

Di beberapa negara berkembang, radiographi menjadi hal yang langka bagi kehidupan pasien, dan beberapa standar bantuan terhadap ahli patologi yang tidak dapat diharapkan. Dalam konsepsi yang lebih besar, negara-negara kaya, selalu menelaah masalah ini secara benar, disini adanya mobilisasi peralatan atau perlengkapan yang tersedia dan kadang-kadang digunakan oleh ahli patologi forensik. Dalam skala kecil, sinar X dapat digunakan dalam dua kopor, dan fungsi ini berasal dari ordinary domestic power supply atau dari portable petrol generator. Pada beberapa kesempatan kamar mayat akan mempunyai mesin portable yang kecil, kadang-kadang dibuang dari kegunaan klinis. Dan hal ini bisa diputarkan kedalam posisi lain bilamana dibutuhkan, dan film dan bantuan teknik dipastikan dari rumah sakit terdekat, yang dekat.

Untuk organ atau jaringan yang dipisahkan, perlengkapan cabinet type radiografic tersedia, dan ini dapat digunakan tanpa bantuand ari radiographer yang terlatih.

Dimana ada isntitusi forensik besar, yang dapat menyempurnakan fsilitas radiologi dengan staf dan perlengkapan pada operator dan proses dominasi lain yang tersedia setiap waktu. Dimana proyek penelitian ini meliputi radiologi, seperti post mortem coronary angiography, digunakan dan biasanya juga untuk fasilitas penggunaan rutin.

Tahapan ini dimana radiologi dilakukan dalam suatu otopsi yang akan divariasikan sesuai dengan kondisi individu, tetapi lebih disukai setelah pengujian eksternal yang sempurna, tetapi sebelum pemotongan atau pembedahan dimulai. Radiografi untuk luka pada tulang tidak sering dibutuhkan seperti skeleton dan ini dapat diinspeksikan secara langsung oleh pembedahan dalam trauma utama. Pengecuali ini khususnya pada penyimpangan anak terhadap obat-obatan/narkotika, dimana seperti diulas di bab 22, survei mengenai kerangka / skeletal dibutuhkan sebelum otopsi berlangsung. Dan tentu saja, beberapa ahli forensi dan ahli patologi paediatric akan menjelaskan pentingnya radiologi pada semua bayi.

Adanya kecurigaan embolisme udara, pneumotorax, barotrauma, luka akibat tembakan senjata dan kematian eksplosif (ledakan) mempunyai pengujian radiologi sebelum otopsi, dan bilamana adanya traumatic subarachnoid haemorrhage, dimana vertebral artery angiographi dibutuhkan, seperti yang dijelaskan di bab 5.

Mutilasi, khususnya dari gangguan massal, dibutuhkan sinar X, beberapa korban yang luka akibat kebakaran dimana adanya kerusakan eksternal yang membuat sulit dilakukan pembedahan. Dimana alat eksplosif, bom masuk dalam keterikatan ini, dan penting adanya radiologi untuk mendeteksi berbagai bagian mekanisme yang dibutuhkan untuk suatu proses jaringan.

Lebih dulu film biasanya diambil sebelum otopsi dimulai, beberapa luka bisa didemonstrasikan secara baik atas isolasi organ atau struktur. Dari penyalahgunaan obatobatan pada anak hal itu bisa divisualisasikan dengan sinar X bilamana chest cage itu dibedah, dan radiografi diambil tanpa kelenjar ataujaringan yang lembut dan struktur yang tak jelas dari sternmum dan tulang rusuk. Dan biasanya blok pada sisi tulang belakang bisa retak, dimana proses vertebral artery atau larynx akan bisa memperlihatkan keretakan hyoid atau thyroid cornuae yang lebih jelas bilamana mereka menggunakan sinar X pada tubuh.

Forensic photography

Beberapa ahli patologi forensik mengambil phografi yang dimiliki mereka dari kedua adegan kematian dan otopsi. Lainnya direalisasikan atas photographer yang profesional seperti polisi, dan photographer medis rumah sakit.

Standar ahli seperti doctor photographer adalah yang terbaik, dan gambar mereka akan terlihat seperti pada beberapa buku pelajaran. Dan hal itu secara umum lebih menekankan pada sisi keahlian operator, dan ini ditawarkan oleh mereka.

Tipe kamera adalah berukuran 35 mm refleksi sinar tunggal, dan sekarang tersedia, dalam semua tingkatan penekanan dan harga. Ini berarti bahwa karakteristik ini penting dari suatu proses forensic photography.

Tipe lensa adalah masalah pilihan pribadi, seperti adanya lensa dengan panjang focal yang beragam. Standarnya adalah 50 mm yang lazim digunakan, tetapi untuk adegan kriminal atau kejahatan digunakan full length shot dalam kondisi yang kaku, luas sudut lensa adalah 28 atau 38 mm sangatlah dibutuhkan. Panjang focal lebih panjang diatas 80 mm dan ini dapat digunakan untuk gambar close up dari luka kecil, tetapi lensa telephoto adalah berukuran 100-200 mm tidaklah dibutuhkan, secara umum dipastikan untuk suatu proses macrophotography.

Beberapa ahli patologi termasuk pengarang, menunjukkan adanya kombinasi lensa dari sebuah bagian integral dari bagian fisik kamera, dan penggunaan automatic thyristor control tidak dikomplikasikan terhadap penghitungan nilai sisi real yang dibutuhkan. Untuk setiap karakteristik kerja, kamera ini tidaklah memuaskan, adanya extension cable yang digunakan dan harganya murah. Cahaya atau kilasan ini dapat dihias dalam ruang otopsi atau ring flas disekeliling lensa yang digunakan untuk menghindari bayangan kamera.

Beberapa diantaranya menyukai menggunakan cahaya lamp TL dibandingkan kamera, ide ini tidaklah praktis kecuali adanya fixed station yang dipasang di ruang otopsi untuk suatu proses photografi organ. Tidaklah praktis digunakan untuk lampu sorot pada tabel meja otopsi atau adegan yang diperlihatkannya.

Tipe film tergantung atas sifat iluminasi atau pencahayaan. Kecepatannya adalah berkisar 100 atau 200 ASA lebih dari sekedar tepat untuk kerja kamera, 400 ASA adalah lazim digunakan saat ini. Beberapa photografer medis meisahkan bagian kamera dengan kecepatan tinggi yaitu berkisar 1000 ASA film untuk penggunaan khusus.

Film ultraviolet (UV) dan film sensitif infra merah sudah lazim digunakan untuk mendemonstrasikan luka permukaan yang tidak terlihat dari mata manusia. Dan ini sudah diklaim adanya luka ataumemar yang bisa ditunjukkan oleh UV photography, seperti pada penyimpangan anak terhadap obat-obatan, tetpai hal ini harus diambil dan adanya sisi keuntungan untuk menghilangkan dominasi positif.

Beberapa dokter menginginkan untuk proyeksi pada aspek pelajaran, dan ini bisa dibuat keadlam print, warna atau monochrom. Jika print, secara khusus diinginkan untuk publikasi hitam dan putih dalam buku atau jurnal, dan ini yang terbaik bagi mereka, yang pada awalnya dilakukan pada film monokrom, sebagai warna negatif yang tidak

menyediakan reproduksi kualitas yang sama dalam warna hitam dan putih.

Beberapa ahli patologi menggunakan kamera polaroid atau bersama-sama dengan film konvensional. Keuntungan print yang cepat ini adalah catatan adanya adegan kematian yang dapat dipastikan sebelum otopsi berlangsung dan adanya penemuan pengecekan kembali dan ini bertentangan dengan dominasi atau aplikasi dari lingkungan sekitar.

Majunya perkembangan dunia elektronik dan revolusi photografi, dan adanya aplikasi yang luas dan karakteristik potensial terhadap kerja forensik dan otopsi. Kamera elektronik bisa divariasikan dari berbagai tingkatan penekanan, resolusi dan biaya, dan ini sekarang secara instan atau cepat dapat menyimpan image atas floppy disc yang kecil, yang kemudian bisa dilihat secara tiba-tiba pada komputer VDU atau dicetak pada printer laser warna. Image ini bisa dimanipulasi dalam beberapa cara untuk memperluas bagian atau membenarkan keseimbangan warna, dan dikirim melalui modem pada lokasi jauh atau adanya penggabungan terhadap bahan tekstual atau laporan. Dan saat ini, kualitas resolusi tidaklah bagik seperti film silver atau perak, tetapi di waktu mendatang secara elektronik hal itu bisa discan selama beberapa menit, image optikal didigitkan kedalam penyimpangan elektronik untuk manipulasi yang sama.

Semua image elektronik dapat disimpan pada alat CD ROM, yang menawarkan penyimpanan yang besar dan kapasitas mendapatkan kembnali untuk mencatat dan untuk tujuan pendidikan. Dalam penambahannya, kearngka tunggal dari kamera video mencatat dan ini dapat dikonsepsikan sebagai gambar atau penyimpanan secara elektronik.

Dalam hubungannya dengan photografi aktual, ditandai adanya peningkatan dalam kualitas gambar dan ini bisa dicapai dengan sedikit perawatan dalam komposisinya. Pada adegan kematian, sudut pandang ini bisa dilihat pada lingkungan sekitar yang diamti atau diphoto seperti keberadaan mereka, tanpa adanya modifikasi atau perubahan. Posisi kamera biasanya dipilih dapat memotong latar belakang yang beragam bilamana memungkinkan. Dalam ruang otopsi biasanya mempertimbangkan peningkatan lain dan ini dibuat oleh penggunaan sudut pandang optimum dan adanya perubahan latar belakang. Beberapa photografi adalah diganggu oleh adanya obyek tidak relavan atau hal-hal lain yang sifatnya membingungkan dalam latar belakang seperti pengamat, ember/timba, boot atau sepatu tinggi dan paraphernalia lainnya dari ruang otopsi. Frame gambar diisi secara sempurna bilamana memungkinkan dengan obyek yang terlihat. Close shot diambil untuk membatasi margin yang tidak relevan, dimana hal ini dibutuhkan, anatomical landmark diamsukkan untuk orientasi peninjau. Kamera ditempatkan pada sudut atau sisi kanan dari obyek yang diphoto, bilamana memungkinkan.

Dimana fitur adalah aspek yang tidak jelas atau tidak signifikan yang

ditindaklanjuti sebagai obyek yang dibuktikan atau adanya jari tangan dalam posisi yang tepat. Dimana bagian area gambar ini terdiri dari logam atau meja otopsi (porselin) atau tempat atau area pembedahan, dan ini dibuat dalam eksposure yang menentukan, dan sangat reflektif terhadap dominasi kamera dan thyristor (kilasan kamera).

Bilamana phografi dari kamera itu dekat dengan frame, maka hal itu harus disempurnakan dan diisi oleh obyek yang ada (yang dibutuhkan). Shot ini dibuat secara vertikal dan sering dibutuhkan untuk menempatkan papan pembeadhan di atas lantai atau untuk photographer pada saat berdiri di atas tempat duduk yang memakai sandaran atau beberapa elevasi (terutama dominasi aspek tinggi).

Dimana isolasi organ yang diphoto, mereka harus menempatkan pada pakaian warna hijau atau biru, seperti pada pakaian atau gaun wanita. Warna putih dapat digunakan, ide ini akan berpengaruh terhadap exposure meter bilamana terlihat pada sekelilingnya. Organ ini bisa ditempatkan pada pakaian dalam satu gerakan atau tidak adanya gerakan sama sekali. Sebaliknya penopangan tempat yang gelap dan basah akan dipaksakan dan didesak atas latar belakang warna hijau atau biru. Organ ini tidak mengeluarkan darah kedalam permukaan atau kedalam latar belakang tertentu. Dan ini bisa dioleskan dengan pakaian yang kering atau sepon sebelum photografi itu diambil atau dilakukan untuk melepaskan kilauan yang basah sifatnya.

Idealnya, tahapan khusus untuk organ ini digunakan, seperti meja kaca dengan latar belakang warna tertentu (biasanya warna hijau) dibawah kaca ada fokus. Cahaya lamp TL digunakan untuk mengambil sisi keuntungan dari tahapan yang tetap ini.

Laporan otopsi

Pentingnya otopsi adalah laporan bahwa ahli pathologi menyediakan suatu proses pengujian yang berantai. Sebuah otopsi memiliki sedikit nilai bilamana penemuan dan opini ahli patologi forensik adalah tidak dikomunikasikan dalam cara-cara yang membantu sifatnya. Laporan ini merupakan bagian integral dari prosedur dan bisa diterima sebagai atensi dari beberapa prosedur fisik dalam ruang otopsi. Sayangnya beberapa ahli patologi menguji proses dalam pembuatan suatu laporan dalam beragam cara, menurunnya tingkat keahlian dimana mereka memilikinya.

Laporan otopsi adalah catatan permanen dari penemuan, dan hal ini sangatlah vital untuk tujuan mediocolegal, bilaman setiap kata diubah dalam suatu peadilan hukum selama beberapa bulan atau beberapa tahun. Dan bilamana adanya rekoleksi pengujian yang sudah dikendalikan dari pikiran ahli patologi oleh ratusan tindakan otopsi. Dalam otopsi klinis di sebuah rumah sakit, pembedahan adalah didemonstrasikan dan didiskusikan dalam waktu yang spesifik oleh para dokter. Walauun, laporan otopsi

forensik menjadi dokumen legal dan hal yang vital dan signifikan, setiap usaha harus dibuat pada waktu yang dominan untuk membuat suatu penelaahan komprehensif dan bermanfaat bilamana memungkinakn.

Bentuk dari laporan otopsi

Kegagalan laporan diamsukkan kedalam dua tipe utama yang dijelaskan di bawah, dan praktek lokal dan tentu saja peraturan yang bisa menentukan. Pilihan ini sering diaplikasikan oleh sifat kasus. Free style essay yang biasanya ditunjukkan pada suatu rangkaian konvensional, tetapi ahli patologi akan memperluas aspek yang beragam. Tipe ini biasanya digunakan dalam kematian akibat kejahatan atau tindakan kriminal dan kasus-kasus litigasi lainnya, juga adanya bentuk laproan yang dikembalikan kedalam suatu legal statement atau deposisi untuk pengadilan dengan sedikit alterasi atau perubahan.

(a)

(b)

Printed proforma, yang mana beragam bagian pengujian dan sistem oragn adalah selalu dipilih oleh ruang terutama insersi penemuannya. Keuntungan ini termasuk fakta adanya shopping list, dimana tindakan ini sebagai aide memoire untuk ahli patologi yang tidak dapat melakukan karakteristik jumlah yang besar dari otopsi.

Tipe bentuk ini adalah hal umum yang digunakan untuk otopsi nonlitigious. Contohnya pegawai yang memeriksa kasus sebab musabab kematian akbiat kematian mendadak atau bunuh diri.

Perhatian in tidaklah lain karena adanya kasus yang serius, laporan dan format ini berisi beberapa informasi yang pasti. Pencatatan atau pengkodean dengan menggunakan komputer dan aspek administratif lain yang secara asumtif dikondisikasi oleh praktek lokal, tetapi selalu mengikuti permasalahan untuk ditindaklanjuti pada semua laporan otopsi, dan ini tidak dibutuhkan dalam rangkaian proses ini, termasuk :

1. Detail informasi individu / subyek, kecuali bila tidak teridentifikasi. Termasuk nama, jenis kelamin, usia, jabatan/pekerjaan dan alamat. 2. Tempat, tanggal dan waktu otopsi. 3. Nama, kualifikasi, dan status pathologist. 4. Seseorang yang melakukan pengujian. 5. Dan biasanya dilakukan oleh pihak yang berwenang melakukan otopsi 6. Catatan identifikasi tubuh. 7. Nama dan alamat subyek. 8. Tanggal dan waktu kematian, dimana dikenal. 9. Sejarah dan riwayat kematian. Kesimpulan ini merupakan otopsi aktual yang tidak diizinkan dalam beberapa luka seperti apa yang didengar sebelumnya, dan laporan ini harus disimpan oleh ahli patologi. Laporan otopsi harus dikonversikan pada statement atau deposisi untuk kegunaan legal, sejarah ini harus diizinkan oleh pihak berwenang, yang berwenang mempertanggungjawabkan dokumen yang dimaksud. 10. Pengujian eksternal

11. Pengujian internal 12. Daftar spesimen dan sampel yang ditopang untuk pengujian selanjutnya. Ditangani oleh agen lain seperti laboratorium ilmu forensik, yang secara formal diidentifikasikan oleh serangkan angka dan nama (yang menangani otopsi). 13. Hasil pengujian selanjutnya seperti histologi, microbiologi, toxicology, serology. Bilamana adanya laoran utama yang dipermasalahkan setelah otopsi berlangsung, dan tidak tersedia suatu laporan tambahan yang dibutuhkan. 14. Ringkasan luka yang diperlihatkan oleh otopsi (sering dikode untuk departemental computer). 15. Diskusi penemuan, bilamana dibutuhkan dalam sejarah otopsi pada pasien. 16. Opini definitif atau lebih disukai adanya rangkaian kegiatan yang mendasarkan pada kematian. 17. Sebab kematian, dalam format yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), cocok untuk penyelesaian terhadap keterangan kematian. 18. Tanda tangan ahli patologi.

Pengujian eksternal akan dicatat secara detail yang dijelaskan di awal bab, unit utamanya adalah :

(a) Tinggi, berat dan satatus nutrisi/gizi.

(b) Presensi penyakit alami seperti oedema, abdominal, gelombang besar, penyakit kulit, perubahan akibat uzur/pikun, dll.

(c) Mengidentifikasi fitur seperti warna kulit, tato, bekas luka, bawaan atau kelainan bentuk/cacat, gigi palsu / buatan, dan warna mata dan warna rambut. Bilamana

identifikasi ini menjadi sebuah masalah, secara natural bagian ini akan diperluas secara dominan.

(d) Presensi rigor atau kekakuan mayat, hypostasis, dekomposisi dan warna kulit abnormal. Temperatur tubuh dan ligkungan harus dicatat secara tepat, dengan penghitungan yang memperhatikan pada estimasi nilai waktu sejak kematian, aspek ini baik dan bisa ditunda atau ditangguhkan secara baik setelah ringkasan atau kesimpulan akhir.

(e) Kondisi mata, termasuk petechiae, arcus sinilis, ukuran biji/manik mata dan kondisi selaput pelangti dan lensa mata.

(f) Kondisi mulut dan bibir, termasuk luka, gigi dan presensi dari bahan asing.

(g) Daftar dan deskripsi dari semua luka eksternal dan tua.

Catatan pengujian eksternal pada semua abnormalitas biasanya dikonsepsikan dalam rangkaian konvensional, seperti :

(a)

Sistem jantung: berat jantung/hati, beberapa perluasan atau pelebaran, ventricular preponderance, kerusakan congenital (bawaan), pericardium, epicardium,

endocardium, katup jantung, arteri koroner, myocardium, aorta, dan pembuluh besar lainnya dan pembuluh peripheral.

(b)

Sistem pernapasan: external nare, glottis, larynx, trachea, bronchi, rongga radang

selaput dada, pleura, paru-paru (termasuk berat) dan pulmonary arteries.

(c)

Sistem gastrointestinal: mulut, pharynx, oesphagus, periotoneal cavity, omentum, perut, dedenum, small dan large intestine, liver (berat), pancreas, gall bladder dan rectum atau dubur.

(d)

Sistem endocrine: pituitary, tyrodi, tymus dan adrenal.

(e)

Sistem reticulo-endothelial: limap kecil (berat) dan lymph nodes.

(f)

Sistem genitourinary: ginjal (berat), saluran kencing, kandung kemih/perkencingan, prostat/anat, uterus, induk/induk telur dan testes.

(g)

Sistem kelenjar otot: tengkorak, tulang belakang, kelenjar lain dan ketegangan otot dimana hal ini dibutuhkan.

(h)

Sistem syaraf tengah: kulit kepala beserta rambut, tengkorak, radang selaput otak, pembuluh otak, otak (berat), telinga tengah, venous sinuses dan spinal cord (bilamana diuji).

Waktu laporan

Seperti dalam hubungannya dengan format, ada dua sekolah yang dipraktekkan dalam skala ini. Satu advokasi dari masalah ini sebagai suatu laporan yang memungkinkan atas penemuan dengan segera seperti otopsi, dan biasanya dilakukan

selama satu hari atau dua hari. Sebelumnya, hal ini hanya dapat secara domina, dan laporan provisional dirubah (kadang-kadang secara radikal) oleh hasil investigasi yang dilakukan selama beberapa hari atua minggu. Budaya virological, pada kesempatan ini bisa ditelaah selama enam minggu sebelum pertumbuhan itu dilaporkan.

Dalam proporsi yang besar khususnya dari kasus forensik, secara khusus diperuntukkan untuk korban, penemuan ini tidak menyukai adanya substansi yang diperbantukan atau yang mengalami perubahan oleh investigasi lanjutan, dan bilamana memungkinkan harus dikonsepsikan dengan keterbukaan data.

Philosofi lain akan ditangguhkan pada beberapa laporan (kecuali tahapan dari suatu opini lisan) setelah ditangani, bilamana dokumen akhir itu disediakan.

Dan tentunya hal itu harus diadopsi (dan pengarang akan menunjukkan adanya dominansi krusial) pada satu aspek yang sifatnya vital bagi keduanya. Fakta deskriptif harus dicatat secara tiba-tiba setelah adanya penyelesaian otopsi. Hal yang vital bukan merupakan interval signifikan, lebih pasti dan tidak lebih selama beberapa jam, dan hal itu harus diikuti antara performance pengujian fisik dan pengaturan lain dari penemuan obyektif. Kata setting down dipilih secara hati-hati sebagai laporan yang ditulis atau

atau diketik.

Di Inggris dan beberapa peradilan lainnya, peradilan meminta untuk melihat beberapa catatan contemporer dan perekaman dari tape recorder. Beberapa diagram, mencatat dan adanya draft yang harus diperbaharui untuk produksi atas permintaan penyesuaian atau adanya advokasi atau saran di pengadilan. Dimana laporan itu disampaikan (untuk sekretaris atau kedalam tape recorder) kemudian diketak (atau kata itu diproses) draft itu merupakan laporan asli dalam hubungannya dengan catatan kontemporer termasuk sketsa tubuh.

Penggunaan sketsa tubuh yang dicetak dapat sangat bermanfaat membantu di ruang otopsi. Beberapa versi ada dari tinjauan sisi depan dan belakang dari anggota tubuh secara keseluruhan, yang digunakan dalam neurologi klinis untuk sketsa ganda dan ini merupakan tinjauan yang sangat memungkinkan dari permukaan tubuh. Diagram yang terpisah adalah tersdia untuk perineium laki-laki dan perempuan dan untuk membedakan proporsi tubuh bayi. Digunakan pada clip board, dimana diagram ini sangat bermanfaat, khususnya akibatnya banyaknya luka, atau area besar dari pembakaran atau abrasi. Setiap luka dapat digambarkan dengan ukuran yang dicatat disisi samping, dan jaraknya berasal dari anatomicallandmark yang dicatat sebelumnya. Data ini berasal sketsa dan bisa ditransposikanuntuk bentuk tertulis di akhir pengujian.

Diskusi dan kesimpulan dalam laporan otopsi

Beberapa ahli patologi biasanya tidak secara normal memperhatikan kasus kriminal dan litigious, klaim bahwa laporan otopsi harus di dikutip kosong dari penemuan fisik, dengan tidak adanya diskusi atau interpretasi signifikansi atas penemuan. Dalam opini pengarang, yang merupakan suatu abdikasi dari tanggungjawab ahli patologi, khususnya dalam kematian akibat tindakan kejahatan, kesimpulannya adalah menarik dan digunakan untuk investigasi officer, pengacara dan pengadilan.

Setelah deskripsi yang detail dari karakteristik eksternal dan internal, resumi singkat ini ditawarkan, penemuan positif utama dan hubungan mereka yang menyebabkan kematian. Dalam beberapa kasus yang muncul sebelumnya, seperti luka di kepala akibat tembakan senjata. Permasalahan ini sebagai tipe yang memungkinkan dari senjata, petunjuk dan kecepatan kematian, walaupun hal ini juga didiskusikan.

Bilamana penemuan ini kurang jelas untuk dikonsepsikan, atau adanya karakteristik ganda, dan kemudian ada berbagai hal yang didiskusikan dengan

memberikan diagnosis yang berbeda yang menyebabkan kematian dan secara detail memungkinkan adanya rangkaian kematian (menimbulkan kematian), kemungkinan alternatif yang beragam itu dapat ditawarkan. Waktu kematian dan batasan akurasi dalam

kasus ini dipilih bilamana masalah ini relevan terhadap investigasi. Apakah hal itu real dan dibutuhkan sebagai suatu interpretasi bilamana memungkinkan, tanpa adanya usaha yang dimasukkan kedalam bidang spekulasi yang tidak diinginkan atau gaya Sherlock Holmes overinterpretasi, yang mana hal itu adalah menjadi kutukan dari patologi forensik selama beberapa tahun, dan hal itu bisa dipraktekkan hingga saat ini, yaitu untuk merugikan reputasi terbaik dari speciality.

POST MORTEM ARTEFAK


Patologi forensik hanya bisa dipelajari dengan pengalaman, namun laporan yang lengkap adalah dengan gambaran catatan pada otopsi artefak yang kadang tidak diperhatikan oleh patologis amatir.

Beberapa kesalahan klasik beberapa tahun yang lalu digambarkan oleh Shapiro (1954) dan Morritz (1942), tapi tiap generasi dari patologis menemukan yang baru atau apa yang salah dari penemuan mereka. Kebanyakan artefak digambarkan sebagai cabang penyaluran dengan lesi spesifik mengingat dari beberapa hal penting dibawah ini :

1. Pankreas mengalami autolisis pertama kali, karena memiliki enzim proteolitik. Jaringan autolisis seringkali berdarah dan mudah disalahartikan sebagai pankreatitis akut, masalah ini akan dipecahkan oleh bagian histologi.

2. Potongan-potongan kecil perdarahan kadangkala sedikit lebih besar, timbul pada jaringan

dibelakang esofagus, di depan permukaan vertebra servikal dan disebabkan distensi dan kebocoran pleksus venosusnya. Digambarkan dengan baik oleh Prinsloo dan Gordon. Hal ini sangat penting untuk menentukan kedalaman perdarahan pada strangulasi (dan kadangkadang dengan fraktur leher), inilah mengapa tengkorak harus dibuka terlebih dahulu daripada leher pada kasus strangulasi atau gantung diri, untuk melepaskan tekanan pada vena leher,

3. Ruptur autolisis pada perut dapat terjadi pada postmortem anak-anak dan orang dewasa. Disebut juga gastromalacia digambarkan seperti lumpur coklat kehitaman yang hancur dari fundus dengan dilepaskannya isi perut ke rongga peritonium. Kadang-kadang diafragma kiri juga mengalami perforasi dimana lambung bisa masuk ke rongga dada.

4. Fraktur tulang, baik tulang tengkorak dan tulang panjang dapat terlihat pada korban-korban kebakaran yang berat tapi bukan karena kekerasan antemortem. Begitu juga pada kebakaran heat hematoma tengkorak bisa terdapat perdarahan ekstradural dari antemortem. Lokasinya lebih sering pada verteks atau oksiput, bagaimanapun berbeda dari parietal hemorogik, tidak ada garis fraktur pada pertengahan arteri meningeal, yang umum menyebabkan perdarahan ekstradural. Gambaran busa kecoklatan dari bekuan yang salah, bersama dengan pengaruh panas di otak dapat mengindikasikan ke arah diagnosis yang benar. Penyusutan duramater karena panas dapat menyebabkan robekan duramater, dengan herniasi jaringan otak menuju ruang ekstradural. Kebakaran berat pada permukaan tubuh dapat mengarahkan kepada kontraksi panas anggota tubuh dan sambungannya misalnya siku. Oleh sebab itu jangan salah membedakan dengan laserasi antemortem atau luka insisi.

5. Pengembungan, perubahan warna, dan melepuh dari tubuh tidak boleh diinterpretasikan sebagai penyakit atau luka. Lepuh sedikit berbeda dengan kebakaran dan daerah kehitaman dari perubahan warna harus dibedakan dengan memar. Potongan histologi mungkin dapat membantu tapi, dimana tubuh telah busuk, noda darah khusus dalam potongan histologi mungkin mungkin dapat menolong, seperti alpha glikophorin mungkin dapat membantu untuk mendeteksi kapsul sel darah merah. Bagaimanapun seringkali sedikit mustahil untuk

membedakan perubahan warna dari pembusukan dengan luka memar.

6. Darah atau cairan darah dari mulut mungkin dapat disebabkan karena proses pembusukan bahkan jika permukaan tubuh belum seluruhnya membusuk. Jika paru-paru dan saluran udara berubah warna dan terisi cairan sanguenus maka hal ini harus diambil karena berasal dari pembersihan mulut dan lubang hidung.

7. Perubahan warna merah tua pada posterior myocardium biasanya karena hipostasis postmortem, bukan infarct dini. Sama dengan hipostasis, bagian usus berubah warna menjadi merah tua atau ungu.

8. Petechiae atau echimosis yang luas , seringkali terlihat pada mayat yang mati karena kongesti atau bagian atas tubuh terletak dibawah setelah kematian. Lokasinya biasa pada dada atas sampai bahu belakang, pada wajah bisa juga terdapat hemoragik.

9. Resusitasi artefact penting untuk pemeriksaan patologi forensik.

PENGGALIAN
Penggalian adalah pencarian bukti pada mayat yang dikuburkan untuk pemeriksasan post mortem. Biasanya setelah otopsi pertama atau reotopsi untuk memperoleh informasi yang baru. Penggalian didasarkan atas satu dari beberapa alasan dibawah ini :
1. Dimana semua atau sebagian makam harus dipindahkan untuk perluasan tanah.

Seringkali tidak ada pemeriksaan khusus pada tiap bagian tubuh kecuali ada

sejarah atau kebutuhan antropologi.

2. Dimana beberapa masalah perdata butuh diinvestigasi, seperti kecelakaan

perorangan untuk asuransi atau proses pengadilan sipil karena kelalaian biasanya dijalan, industri, atau kacelakaan yang lain.

3. Dimana informasi baru atau pernyataan tanpa bukti timbul untuk meyakinkan

bahwa bahwa sebuah kematian disebabkan karena aksi kriminal, begitu juga cedera atau diracun.

4. Untuk kepentingan pendidikan pada pemeriksaan keadaan-keadaan terhadap

individu atau beberapa individu yang memiliki nilai sejarah atau kuno. Di Inggris telah dilakukan beberapa panyelidikan dengan cara menggali lalu mengubur kembali untuk mempelajari pola penyakit dan status gizi pada usia lanjut.

Penulis tidak mengungkapkan mengenai prosedur hukum yang sesuai untuk penggalian karena berbeda-beda dari satu negara ke negara lain. Bagaimanapun disemua hukum negara terdapat aturan ketat untuk mengidentifikasi kuburan dan peti mati. Identifikasi kuburan harus dilakukan dengan perencanaan dan dicatat segala sesuatunya atas ijin petugas pemakaman yang berwenang: petugasnya harus menunjukkan mana makam yang akan digali.

Biasanya penggalian dilakukan saat fajar atau subuh untuk menghindari kerumunan orang yang menonton tapi sebenarnya lebih baik saat hari terang. Sebaiknya penggalian dilakukan dengan peralatan penggalian mekanik atau dengan tukang gali sampai batas peti mayat sehari sebelum para polisi, penyidik, patologis, dan yang lainnya datang untuk memeriksa agar

menghemat waktu. Nama pada peti mayat harus dibersihkan untuk konfiormasi dengan identitas yang ada dan bila perlu petugas yang membawa peti mayat dapat dihadirkan untuk mengidentifikasi petinya.

Jika ada kecurigaan keracunan, sample tanah harus diambil pada permukaan kuburan, bagian disekitar makam dan tanah diatas peti mayat. Saat peti telah dipindahkan ahli forensic akan mengambil sample tanah dari pinggir dan bawah peti mayat. Saat peti diangkat keatas, penutup peti sebaiknya dibuka sedikit dengan membuka mur atau engsel peti agar gas-gas didalamnya bisa dikeluarkan keudara bebas, selanjutnya peti mayat dikirim kekamar mayat; kalau sudah terjadi pembusukan maka ditempatkan potongan kayu atau kerangka fiberglass didasarnya. Tanah dan lumpur harus dipindahkan sebelum peti dikirim kekamar otopsi untuk menghindari pencemaran. Saat ada kecurigaan atau diduga tindak kriminal, rekaman gambar pada setiap bagian identifikasi dimakam harus diambil (biasa difoto oleh polisi) untuk menemukan bukti-bukti selama otopsi.

Dikamar

mayat,

peti

mati

dibuka

dan

bagian-bagiannya

diidentifikasi,

bila

memungkinkan oleh pemimpin pemakaman yang biasanya menguburkan mayat. Dia bisa mastikan keadaan peti mati serta bagian dalam petinya. Ketika mayat tidak dikuburkan untuk waktu yang lama, ia mungkin bisa mengidentifikasikan gambaran dari mayat melalui pengetahuannya sendiri.

Jika dicurigai diracun, contoh dari kain kafan, perlengkapan peti mati dan benda yang hilang seperti cairan harus dianalisis. Mayat dipindahkan, dilucuti pakaiannya dan dilakukan otopsi sesuai kondisi pada tubuh. Pembusukan, adiposera dan mumifikasi merupakan penyulit pemeriksaan, kadang ketiganya bisa ada pada tubuh yang sama.

Ahli patologi kadang ditanya oleh pengacara mengenai pentingnya dilakukan penggalian

karena ada keraguan mengenai keberhasilan nantinya. Tentu saja keseimbangan antara keuntungan potensial harus ditimbang dengan biayanya, pemberitaan, dan bahayanya yang mungkin ditimbulkan. Pada umumnya, mengejutkan bagaimana informasi mungkin didapatkan ketika tubuh sudah dikubur untuk beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun. Kebanyakan tergantung bahan apa yang ada dikuburan : batu kerikil atau tanah berpasir, khususnya pada posisi yang tinggi, akan membuat keadaan mayat lebih baik daripada tanah yang penuh berisi air ditempat penguburan. Penulis pernah melihat kuburan yang sudah 20 tahun dengan peti mati yang kosong mengandung endapan lumpur tapi tidak ada jaringan lunak atau bahkan tulang pada tanah yang mengandung bahan pembakar.

Meskipun informasi negatif didapatkan pada penggalian, seperti ketidakadaan fraktur yang dicurigai telah dinyatakan. Beberapa racun khususnya logam berat, mungkin tetap ada untuk beberapa tahun dalam mayat yang dikubur dan bisa dideteksi pada penggalian. Bahkan beberapa bahan kimia organic bisa tetap ada untuk beberapa tahun lamanya : barbiturat telah ditemukan pada tubuh yang dikubur setelah 7 tahun. Pada semua kasus yang dicurigai diracun, sangat penting bahwa sample kontrol diambil dari sekeliling kuburannya, untuk menghindari bahan abnormal yang ditemukan pada artefak yang tidak berhubungan dengan mayat.

OTOPSI PADA MAYAT YANG BUSUK


Dalam bidang forensik, pembusukan mayat biasa terjadi, khususnya pada iklim tropis. Meskipun nilai otopsi berkurang bersamaan dengan pembusukan yang progresif, tidak ada jalan pintas yang harus diambil oleh ahli patolog hanya karena pemeriksaan pada kondisi yang tidak baik. Bagaimanapun buruknya kondisi mayat, setiap otopsi harus dibuat sebagaimana mestinya. Terkadang dengan penggalian beberapa informasi bisa didapatkan. Bagian dalam badan sering lebih awet daripada tampilan diluar. Pembusukan menyembunyikan luka memar menjadi beberapa derajat, perubahan warna hijau kehitaman dari kulit merupakan gambaran yang biasa pada kontusio. Aberasi, laserasi, luka terbuka dan luka tembak bagaimanapun tetap ada pada

pembusukan. Keluarnya cairan tubuh dari mulut dan lubang hidung sering disalah artikan oleh publik, polisi dan bahkan beberapa dokter sebagai perdarahan, tapi sedikit serosa, darah atau cairan berbusa dari saluran tubuh yang lain adalah suatu tingkat lanjut pembusukan.

Pengelupasan dan kulit yang licin mungkin menyembunyikan aberasi, meskipun hal ini mungkin bisa dilihat ketika deskuamasi epidermis diangkat dan kulit yang terangkat dibuang. Tanda disekitar leher dari jaringan yang bengkak dengan gas telah disalah artikan sebagai strangulasi.

Dimana belatung atau serangga lain telah ada, beberapa mungkin perlu dilakukan pemeriksaan serangga untuk menolong mengetahui interval waktu postmortem sebagaimana dijelaskan pada Bab 2. sebagai pernyataan diatas, pemeriksaan luar harus selalu dilakukan pada mayat yang masih baru dan dibelakang perineum jangan dilalaikan karena kesulitan fisik menangani tubuhnya.

Identitas mungkin suatu masalah ketika penampilan wajah terlalu mengembung untuk dikenali. Sidik jari mungkin didapatkan polisi untuk membantu pengidentifikasian tapi pembusukan mungkin akan menghancurkan sidik jari. Mungkin terjadi bengkak dan deskuamasi atau mungkin pengerutan dan menjadi kasar. Beberapa metode dari pengembalian ujung jari yang terpotong telah dijelaskan beberapa ahli menyarankan sebuah metode dengan cara mencelupkan dalam asam asetat 20% selama 28-48 jam, ketika mengerut akan kembali keukuran semula. Pendapat lain menyarankan pencelupan dalam gliserin.

Pada bagian dalam, sangat tergantung pada tingkat pembusukan. Organ dada dan organ abdomen mungkin lebih awet daripada bagian luar. Jaringan subkutan mungkin bergelembung dan berkrepitasi. Tusukan hati-hati pada peritoneum dengan ujung pisau diperlukan untuk melepaskan tekanan gas. Pemeriksaan organ-organ mengikuti pola yang biasa, dimodifikasi menurut tingkat kebusukan. Jantung mungkin lemah dan berubah warna, dengan tanda hemolisis endokardium dan pembuluh darah. Arteri coronaria sering terlihat, khususnya jika ada ateroma atau kalsifikasi atau keduanya. Trombus antemortem mungkin tetap ada bahkan setelah otot disemiglutinasikan. Laryng mungkin berubah warna tapi tulang hyoid dan tyroid bisa diperiksa untuk fraktur dan mungkin dibutuhkan untuk di X-ray. Ini mungkin sulit

untuk mendeteksi perdarahan antemortem pada sisi fraktur. Fraktur dimana saja pada tengkorak tetap ada dan mungkin terdapat gambaran radiografi dalam mendeteksinya, seperti objek asing misalnya peluru.

Otak seringkali membusuk lebih dulu, gambarannya berupa merahmuda keabuan yang melekat pada duramater. Lesi-lesi yang besar seperti meningen atau intrakranial hemoragik masih baik dipakai tapi trauma dari pemindahan kalvarium dan duramater yang menempel dapat menyebabkan kerusakan cairan otak. Di Belgia, dimana penggalian kuburan biasa dilakukan pada kasus-kasus otopsi primer, telah dikembangkan suatu teknik di universitas Gent, dimana bagian kepala dari tubuh yang telah membusuk dipisahkan dan dibekukan sampai mengeras. Kemudian kepala dipotong sepanjang bidang koronal dengan gergaji, yang tertinggal hanya dua bagian otak pada kranium. Lalu kemudian dicelupkan pada bagian formalin hingga keras, ketika tidak bisa lagi digerakkan dan menjadi keras maka siap untuk pemeriksaan.

Deteksi untuk memar pada subkutanm sangat sulit karena perubahan warna dari proses pembusukan. Pemeriksaan histology seringkali tidak dapat membantu karena telah terjadi degenerasi dan lisisnya sel; warna Hb mungkin dapat membantu dalam melihat adanya lisis darah tapi seringkali menyebar bahkan pada area yang terbatas. Telah ditemukan pemeriksaan pewarnaan Glikophorin-A untuk mendeteksi kapsul sel darah merah yang menghambat difusi dan hemolisis ( Kibayashi et al).

RESUSITASI ARTEFAK SAAT OTOPSI


Beberapa tahun terakhir tugas patologis menjadi lebih sulit pada prosedur resusitasi karena adanya pengaruh terutama agresif dan invasive. Sekarang ini saat otopsi, luka-luka dan abnormalitas sering ditemukan. Bisa karena telah ada sebelum meninggal atau tanda post mortem. Patologis harus mewaspadai hal ini, karena seringkali tidak memperhatikan kerusakan karena luka non-resusitasi, yang nantinya akan menimbulkan kesuliatan interpretasi.

Sekarang ini deskripsi mengenai resusitasi artefak telah banyak dipublikasikan, seperti ulasan oleh

Leadbeater & Knight (1988). Dibawah ini adalah kategori-kategori kerusakan yang harus diwaspadai oleh ahli patologi:
a. memar dibagian anterior dada, perdarahan jaringan subkutan dan muskulus

pektoralis, fraktur sternum, fraktur iga, hemotorak, edem paru, laserasi paru, pericardial hemoragik dan bahkan fraktur tulang belakang, berdasarkan energi eksternal Cardio Pulmonary Resuscitation (CPR). Fraktur tulang belikat jarang pada anak-anak karena cartilago tulang costae masih lunak. Meskipun kadang bisa terjadi juga. Semua tipe kerusakan jantung bisa terjadi termasuk ruptur arteri dan ventrikel, ruptur septum dan kerusakan sekat. Pembuluh darah besar bisa pecah karena trauma berat, seperti yang telah dijelaskan pada terbitan resusitasi artefak terbaru. Telah dilaporkian adanya emboli lemak dan sumsum tulang dipembuluh pulmonal setelah pemijatan jantung. Peteciae dimata dan

perdarahan intraokuler dapat timbul setelah CPR sama seperti saat bersin atau batuk; dikenal sebagai penyebab yang timbul saat batuk.

b. Memar diwajah dan leher, bekas jari dan kuku pada wajah dan leher dan luka

dibibir serta lidah bagian dalam karena resusitasi mouth to mouth, saat wajah dan leher dipegang tangan. Luka dibibir, lidah, gigi dan pharyng dapat timbul dari pernafasan buatan atau endotrakeal tube, terutama saat darurat atau kecelakaan. Trauma laryng kadang termasuk fraktur tulang hyoid dan cornu tyroid juga dapat timbul karena prosedur tadi, dan ini sulit dibedakan dengan pencekikan.

c.

Kebocoran

vena

yang

sulit

dibedakan

dengan

bekas

suntikan

pada

ketergantungan obat. Kanul intravena menuju vena dileher bisa menyebabkan hematom yang luas dan perdarahan sampai kejaringan disekitar laryng. Suntikan intrakardiak bisa meninggalkan tanda didinding dada dan dapat mengarah ke hemopericardium. Akibat dari suntikan noradrenalin dan electrical defibrillation pada myocardium tergambar jelas pada pemeriksaan histology terlihat berupa

gambaran pita kontraksi yang merupakan artefak yang jelas dapat juga disalah artikan sebagai iskemia myocardial dini.

d. Luka dimulut, palatum, pharing dan laring maupun fraktur mandibula dapat timbul

akibat penggunaan laringoskop. Pada bayi baru lahir alat suction di pharing dapat menyebabkan kerusakan mukosa. Kerusakan mukosa pharing bisa menimbulkan perdarahan yang bagi polisi dan keluarga bisa dianggap kejahatan; hal ini mungkin bisa bercampur dengan cairan pada edema paru untuk membentuk copious pink, darah sampai berbusa, dapat terlihat pada beberapa kasus termasuk sindrom sudden infant death

e. Electric defibrillator seringkali meninggalkan bekas di dada dan ini mudah

diidentifikasi kecuali bila bentuknya tidak umum. Defibrillator dan suntikan adrenergik katekolamin seperti noradrenalin dapat menyebabkan kerusakan myocardium berupa koagulasi dan pita kontraksi, yang sulit dibedakan dengan infark atau karena kesetrum. Saat resusitasi dimana defibrilasi dan katekolamin digunakan bersama-sama perubahan pada miokard lebih jelas terlihat. (Karch)

f.

Selama Heimlich manuver untuk membersihkan obstruksi jalan napas, dapat terjadi ruptur esophagus, perut, dan usus. Ruptur pada esophagus bisa berupa perforasi. Eksternal cardiac resusitation di abdomen dapat menyebabkan ruptur perut, hati dan kerusakan limpa dan pancreas.

g. Isi lambung bisa keluar secara spontan melalui saluran udara karena regurgitasi

atau penekanan dada dan bagian atas abdomen selama proses resusitasi. Hal ini mempermudah penemuan penyebab kematian karena adanya muntahan di laring dan trakea, seperti yang dijabarkan pada bab 14.

h. Pemberian oksigen melalui sungkup atau selang bisa menyebabkan kerusakan

seperti pada resusitasi mouth to mouth. Ruptur esophagus dan paru-paru bisa juga terjadi, serta berbagai macam barotrauma termasuk ruptur perut dan usus. Saat timbul lesi pada usus, gas dapat masuk kerongga abdomen. Adanya ventilasi yang berlebihan dapat mengarahkan kemungkinan diagnosis pneumotorak.

i.

Pada SSP, perdarahan subarachnoid telah digambarkan setelah eksternal cardiac massage dan juga dari hiperekstensi dari leher melewati jalan nafas atau resusitasi mouth to mouth. Postur tubuh penolong yang besar dapat menyebabkan sobekan pada arteri vertebra yang bisa menyulitkan patologi forensic dan bisa menimbulkan trauma keleher.

j.

Retina hemoragic, tanda tlasik pada peningkatan TIK dan cedra kepala, bisa juga karena butuh rejan dan setelah CPR

k.

Gambaran otot-otot pada setiap pemeriksaan patologi meliputi maserasi kulit dari tubuh dalam urin, kerosim dll. Mati terbakar dari radiasi panas atau botol-botol air panas dan fetechiae dan perdarahan yang luas pada wajah dari hypotstastis postural.

Bencana publik/ massa nilai-nilai patologi Pengecualian pada kasus pembunuhan perhatian publik lebih terfokus pada hasil kerja patologi forensik terhadap bencana publik/massa.

Tidak menguntungkan, sebagian tragedi meningkat karena terorisme, penyerangan pada fasilitas umum dan sebagian besar pada transporstasi udara.Beberapa tahun terakhir dapat dilihat kejadian lebih tragis untuk itu memerlukan tim penanganan bencana, mengikuti kejadian-kejadian seperti Zebrugge dan estonian ferry capsizes. Tragedi sepak bola seperti Ibrox park, Heysel, Moscow dan Hills borough, Crash tragedi di Mekkah dan sejumlah kecelakaan transportasi udara seperti Tenerife, Air India,Japan dan Lockerbie. Penanganan bencana adalahsebuah disiplin didalamnya hanya keberanian yang mampu menangani ini, bersama-sama menggunakan referensi di akhir setiap sesi.

Perencanaan. Beberapa ahli patologis akan berterima kasih terhadap pengiriman mereka pada karirnya untuk berpartisipasi dalam penanganan bencana besar. Umumnya dikatakan bencana itu apabila kematian lebih dari 12 korban pada suatu kejadian. Tidak ada seorang pun yang dapat memperkirakan kapan bencana akan terjadi, seperti pada tahun 1988 tregedi PanAM hampir 300 orang jatuh dari pesawat dan tidak ada kecurigaan sebelumnya. Ini menjadi suatu tantangan pada setiap institut Forensik Departemen dan ahli patologi harus membuat beberapa perencanaan untuk setiap kejadian. Di Inggris ahli patologi pada royal college telah menerbitkan pedoman dan petunjuk ahlih patologi pada penanganan bencana.

Di beberapa negara maju masing-masing bagian sekarfang mempunyai perencanaan penanganan medis korban dan pelayanan rumah sakit, pemadam kebakaran dan polusi. Inio semua sering di rencanakan, pen anganan setiap aspek pada transfusi, obat-obatan, korban kecelakaan, pembedahan emergensi dan anestesi. Perencanaan berorientasi pada klinik, tetapi sering terabaikan. Prosedur lengkap tentang kematian atau mereka m empunyai beberapa fasilitas untuk orang mati (korban). Seperti penyediaan

kamar jenazah dengan nyata bukan gagasan di berikan untuk bagaimana ratusan mayat ditempatkan dan di periksa atau tidak dikeluarkan, ahli patologi forensik harus energik dan bertanggung jawab sampai membuat perencanaan menyeluruh. Inin memerlukan keseriusan pada penemuan untuk identifikasi area yang bahaya (seperti Airport, lalulintas, rel kereta tempat-tempat instalasi militer) dan mendiskusikan gedung-gedung untuk kamar mayat sementara memerlukan alat-alat seperti petugas, kantong mayat dan label yang mungkin di butuhkan untuk jumlah yang besar pada waktu yan g sedikit. Mengiformasikan terhadap beberapa kelompok seperti polisi, ahli patologi, petugas jenazah dan ahli laboratorium, radiografer dan dokter gigi juga dibutuhkan untuk menemukan dalam identifikasi. Ahli pada direktur jeneral International dengan pengalaman pada korban bencana massa / besar yang tak terhingga.

Objek pada infestigasi bencana publik adalah :


a. Kumpulkan dan satukan tubuh dan bagian bagiannya dengan teratur b. Temukanidentitas diri c. d. Lakukan outopsi pada beberapa atau seluruh tubuh Temukan penyebab kematian pada beberapa atau seluruh pengendara dan kaji dalam urutan terjadi/penyebab bencana e. Dapatkan benda-benda untuk analisa toxilogical (khususnya alkohol dan CO) yang cocok f. Cari fakta-fakta penyebab bencana dari pemeriksaan autopsi, seperti bom atau bagian bagian detonator yang mungkin terdapat pada badan. khususnya pilot dan

Penuntun Penting Pada Perencanaan Penanganan Bencana

Syarat-syarat Ahli patologi dan Staf lain

Keyakinan pada suatu tragedi, ini mungkin jantung untuk merekrut ahli patologi lain untuk mengkaji. Di kota besar munkin cukupahli forensik tetapi di tempat lain ahli patologi mungkin dapat melakukan ahli patologi forensik dari beberapa tempat. Jadi bisa juga sebagai relawan, ini harus di ingat bahwa bencanabesar memerlukan beberapa hari atau minggu untuk mengerjakan dan tiap orang munkin tidak bersedia untuk semua periode. Kebiasaan dan doter ahli, dan semua staf ahli anatomi dan khususnya ahli kejiwaan untuk mengatasi stress akibat pekerjaan dengan batas-batas yang tegas harus di ketahui sebagian efectnya merusak doktor ahli, standar menurun pada kegiatan yang cukup melelahkan dan oleh karena itu mkinat pada suatu investigasi lebih baik ahli patologi sehingga staff yang dibutuhkan dapat di rekrut mungkin lebih mudah di katakan dari pada di kerjakan salah satu orang harus menggunakan pakaian saat investigasi. Biasanya polisi yang senior telah bertanggung jawab tapi aspek medis dengan kuat harus di bawah pengawasan ahli patologi senior, meskipun dia harus mendelegasikan dengan seksama untuk menghindari kesalahan dengan kehilangan tugas-tugas pentingdan dengan demikian seluruh hasil tidak efisien,jaga semua aspek di modifikasi dengan skala pada bencana. Fasilitas yang tepat untuk makanan, tempat istirahat dan mencuci harus didirikan/disediakan dan perencanaan yang sesuai untuk kebutuhan, tetapi vital, lebih utama dental forensik dan ahli radiologi akan dilakukan secara mandiri dengan keahliannya, tetapi harus ditentukan pemimpin pada swenior ahli patologi, siapa yang melakukan sehingga koordinator utama dan pemisah terhadap hal medis. Ketika sebuah bencana hampir-hampir selalu terjadi kasus pesawat terdapat dalam beberapa tempat atau negara dimana semuanya tidak memuaskan dalam forensik atau pelayanan patologi. Biasanya praktek untuk sebuah tim dari negara-negara, pesawat asing atau tim sukarela diatur pada tingkat pemerintah. Dinegara maju khususnya Inggris, pelayanan militer mempunyai ahli patologi yang tetap yang siap apabila ada bencana.

Syarat-syarat dalam fasilitas Kamar Jenazah Hampir setiap rumah sakit mempunyai kamar jenazah dan pada kejadian yang besar sangat terbatas kapasitasnya ini harus di siapkan untuk menampung apabila ada bencana besar.

Bila terjadi bencana harus tersedia tempat untuk jenazah, tersedia sarana transportasi dan logistik lain yang mencukupi dalam penyimpanan dan pemeriksaan mayat/korban lebih dekat dari tempat kejadian. Juga perencanaan barang-barang yang di perlukan untuk ruangan identifikasi,gudang, ruangan kosong, hall dan gedung lain yang dekat dari tempat yang potensial berbahaya seperti Bandara/ Airport, mungkin saja seluruh korban harus diamankan di salah satu tempat, seperti tempat sebagai ruang tunggu, keterlambatan dan kesalahan lain, ini kadang-kadang penting khususnya di beberapa bagian harus di persiapkan kamar mayat tapi di tempat istirahat tidak dapat disediakan dengan beberapa tempat yang sama yang lebih efisien. Di beberapa kejadian hampir semuanya, terbiasa untuk ahli atau pelayanan militer yang membawa keluar korban / mayat dengan helikopter atau kendaraan untuk di pindahkan ke tempat lain, salah satu contoh kejadian Mount Erebus di Antartica, di mana korban/mayat telah dikembalikan ke New zeland.Apabila di gunakan rumah atau ruangan atau gedung yang kecil tentu dengan fasilitas yang minimal yang di perlukan , penerangan yang cukup, lampu portable untuk insfeksi dan power point untuk radiogarfik , saluran air dan tempat mencuci dan fasilitas toilet yang memadai, jika beberapa kekurangan, portble generator dan tangki air harus di suplai oleh militer atau polisi telepon dan jika mungkin telex dan fax harus disediakan untu input pada identifikasi data. Pada musin panas pendingin tubuh sangat di perlukan bukan hanya untuk penyimpanan mayat tapi juga untuk jaringan yang akan di identifikasi. Bila bencana besar terjadi beberapa pendingin di sediakan., kendaraan pendingin juga digunakan untuk penyediaan makanan biasanya dibutuhkan

untuk sumber mata air. Kadang-kadang pendingin portable dipasang di kamar mayat.

Dalam beberapa saat kamar mayat harus disiapkan dengan ruangan yang cukup untuk menampung korban dan tempat yang digunakan untuk pemeriksaan dan autopsi harus tidak ramai. Keamanan harus di jaga merupakan tanggung jawab polisi . Lantai harus kering dan tidak membuat terjatuh. Darah tidak berceceran, lumpur dan serpihan korban dibersihkan dan dimasukkan dalam kantong besar. Meja-meja pemeriksaan terbuat dari kayu yang ditutup dengan polyten, disusun satu meter sampai dua meter antara yang lain.

EVAKUASI KORBAN Ini merupakan tugas polisi atau militer. Tetapi harus diangkut oleh tim forensik yang diakui. Setiap korban perlu diberikan surat keterangan kematian oleh dokter ahli. Pembedahan terhadap korban yang selamat dilakukan oleh dokter ahli segera untuk penyelamatan. Dan untuk memastikan dari korban yang meninggal.Setiap tubuh serpihan harus disusun sesuai urutan dan tidak diulang penomerannya secara seri dan ditempatkan pada tempat yang disediakan. Korban difoto kemudian dimasukan seluruh arsip dalam satu kantong dan di beri nama serta label untuk di kamar mayat. Tim berbeda akan mempunyai metode yang berbeda. Pada pendistribusian logistik diatur secara baik. Untuk pengamanan data disiapkan komputer yang disambungkan ke pusat data. Polisi harus bertanggung jawab dalam hal ini seperti mengumpulkan dan mencatat pakaian korban sebagai identitas personal penting untuk identitas diri.

Seri nomer yang sama digunakan untuk penutup atau label pemeriksaan patologi yang berbeda yang diletakan dalam satu tempat atau kantong termasuk pakaian korban, dompet, cincin, gigi dan perhiasan. Ahli patologi dan asistennya memeriksa barang-

barang tersebut dan disimpan dalam satu kantong plastik.

Beberpa bagian yang hilang akan ditemukan disuatu tempat tetapi harus di label dan diletakkan di dekat korban untuk menghindari suatu kesalahan. Objek yang ditemukan dari tubuh korban di catat dan di inventaris dalam formulir yang tersedia sebagai catatan medis dan aspek anatopatologi, kemudian dilakukan pemeriksaan luar dan diikuti dengan autopsi internal jika dibutuhkan.

Ataupsi dilakukan bukan hanya beberapa korban tetapi seluruh korban yang dilakukan oleh ahli patologi dengan fasilitas yang tersedia, legal dilakukan dan berlaku hampir di setiap negara

Dilaksanakan secara legal, seperti ahli forensik, hakim, petugas kesehatan atau polisi yang akan menetapkan jumlah korban yang harus di autopsi. Ahli patologi akan mendapatkan sanksi bila tidak mau melakukan autopsi. Ahli patologi mampu menemukan identitas korban dari tanda-tanda korban merokok atau tidak dapat ditemukan sel rokok dalam paru.

Seperti yang telah disebutkan diatas alat-alat transportasi udara dan kereta sebaiknya harus selalu dilakukan pemeriksaan dan analisis bagian-bagian mesinnya serta bahan bakarnya. Untuk mencegah bencana . Harus diambil foto dari pakaian dan tubuh mayat dicatat juga tanda-tanda fisik seperti TB, BB, jenis kelamin, ras, warna kulit bekas luka tato dan adanya kerusakan jaringan. Pemeriksaan dental Forensik harus dilakukan iuntuk mengidentifikasi mayat-mayat tak di kenal.

Pemeriksaan radiologi hampir selalu dilakukan untuk melihat bentuk tulang dan bentuik giginya- mungkin juga untuk benda-benda asing yang ada pada tubuh mayat, seperti besi yang ada dalam paha dn bokong akibat kecelakaan pesawat- atau bahkan untuk melihat pecahan bom atau detonator terutama pada kasus serangan teroris.

Pemerikasaan toksikologi harus diambil secepat mungkin, bahkan dari mayat yang tidak dilakukan autopsi. Data yang diperoleh kemudian diberikan pada polisi penyidik sebagai tambahan data yang telah ada dari olah TKP atau keluarga korban. Kemudian data di dokumentasikan secara secara komputerais sehingga bisa dihubungkan antar negara apabila terjadi suatu bencana akan memudahkan investigasi.

AUTOPSI TAK JELAS

Beberapa penelitian pada beberapa negara menunjukkan bahwa seorang dokter mengajukan suatu penyebab kematian tanpa mengunakan hasil dari penemuan autopsi, dengan rata-rata kesalahan 25-50%, meskipun kematian terjadi di rumah sakit. Meskipun demikian nilai dari sebuah autopsi dalam meningkatkan nilai dari sertifikat kematian tidak dapat diragukan, tetapi masih diakui bahwa autopsi tak ada yang sempurna untuk mengungkapkan penyebab kematian yang sebenarnya. Diduga banyak autopsy gagal memperoleh penyebab mati yang adekuat atau hasil otopsi bervariasi antara satu ahli dengan ahli yang lain. Suatu contoh pada kasus Sindrom kematian bayi mendadak (SIDS) dapat disalah artikan sebagai suatu otopsi negative dimana tidak ditemukan hal-hal yang penting.

Meskipun SIDS suatu pengecualian, hal ini kemungkinan 5% angka kesalahan pada suatu otopsi dari suatu pusat kesehatan dan bagian kedokteran forensik. Nilai ini bervariasi tergantung dari kebiasaan, kepribadian dan pengalaman. Ahli patologi muda seringkali kesulitan menentukan penyebab kematian.

Autopsi yang tidak jelas ini seringkali dijumpai pada kelompok usia yang lebih muda. Meskipun bagian dari SIDS, banyak autopsy pada bayi, khususnya neonatus, nilai kepuasan dalam mendefinisikan lesi secara morfologi sangat kurang. Mayat seringkali memiliki biokimia atau hipoksik, meskipun kesimpulan dapat dibuat dari riwayat klinik, sekalipun dokter ahli patologi pediatri dapat melakukan dengan minimal atau tidak ada penemuan yang bermakna dari suatu kasus. Pada remaja dan dewasa muda, usia 35 tahun, merupakan hal yang sering dijumpai dari autopsi negatif dari pada kelompok usia yang lebih tua, yang memberikan beban kerja yang luas. Sebagai contoh adalah sindrom yangtidak jelas di Asia timur, dimana pekerja konstruksi Thailand yang bekerja di Singapura mati mendadak dengan tidak ada tanda-tanda penyebab patologis, hal serupa terjadi juga di Cina, Jepang dan Hongkong.

Jumlah yang lebih besar ini pada kelompok muda dapat membawa suatu pemikiran yang salah, meskipun demikian hal ini dapat meningkatkan kasus ketidakjelasan yang fatal. Dewasa muda hampir tidak memiliki gambaran umum dari penyakit kardiovaskular degeneratif yang dijumpai pada kelompok usia yang lebih tua. Jadi kemungkinan menderita penyakit yang sama terjadi pada kelompok yang lebih tua sama dengan yang lebih muda, tetapi pada yang lebih muda tidak memiliki lesi yang dapat di jadikan patokan seperti suatu penyebab pasti dari kematian . Sebagai contoh, pada suatu autopsy terdapat mayat laki-laki usia22 tahun yang mati setelah bermain sepak bola. Disini mungkin tidak terdapat riwayat kesehatan, pemeriksaan secara kasar menunjukkan tidak ada kelainan dan tanda histology yang spesifik, penilaian toksikologi lengkap, dan penelitian mikrobiologi dan virology yang tidak bermakna. Tidak ada

penyebab kematian yang didapat dari penemuan negative ini dan kasus ini harus dicabut sebagai tidak diketahui atau pandangan Prof Alan Usher dari Sheffield, suatu yang tidak dapat ditentukan jika ahli patologis merasakan bagian dari yang maha kuasa.

Pada meja otopsi yang lain , seorang laki-laki 60 tahun ditemukan meninggal tanpa diketahui riwayatnya. Pada pemeriksaan ditemukan 60 % stenosis cabang anterior descendens arteri koroner, tetapi tidak dijumpai kerusakan miokardium yang baru ataupun lama. Histologi dapat dilakukan dengan tanpa informasi riwayat sebelumnya. Penyebab kematian diduga karena penyakit arteri koroner oleh sebagian ahli patologi, meskipun demikian lelaki tersebut dapat mati karena penyebab yang tidak jelas pada orang muda tetapi karena lelaki tersebut memiliki penyakit degeneratif insufisiensi arteri yang dapat menjadi fatal, yang akhirnya hal ini diterima sebagai yang paling mendekati penyebab kematiaannya. Perasaan kecewa dapat menjadi dorongan untuk melakukan autopsi seorang laki-laki yang dibunuh dengan senjata api, dimana terdapat 80% stenosis dari ketiga pembuluh koroner, yang tidak berpengaruh terhadap kematiannya.

Sebelum proses selanjutnya dilakukan untuk meninjau kembali pembedahan, perhatian harus diarahkan untuk mendapatkan data yang cukup untuk mendukung penyelidikan. Pada banyak kasus, pada kasus sulit khususnya pada orang muda ahli patologis yang dapat menggunakan pemeriksaan berupa contoh darah, urine dan isi lambung yang diambil saat pembedahan rongga isi perut.

Bila sample darah belum diambil, ambil dari vena perifer sekitar aksila atau femoral untuk menghindari kontaminasi. Jika urine tidak didapat dari kanding kemih, beberapa tetes masih dapat ditemukan dengan menyedot dengan spuit, Isi lambung dapat tidak ada tetapi hati dapat digunakan untuk analisa toksikologi. Hal ini dapat berguna

untuk mengambil cairan vitreus bila urine dan isi lambung tidak ada.

Darah digunakan untuk penanaman kultur darah pada botol dan swab dapat diambil untuk pemeriksaan mikrobiologi. Bila dimungkinkan suatu infeksi paru, beberapa gram jaringan paru dapat diambil dan dimasukkan dalam wadah steril atau swab dapat diambil dari cabang bronkus perifer atau dari parenkim paru tersebut. Permukaan dari potongan organ dapat terkontaminasi ketika pemotongan pertama, potongan harus dibuat dengan steril dan baru sehinggajaringan dapatdi kultur dengan baik. Pada saat yang sama, sepotong jaringan paru atau organ lain - seharusnya diletakkan pada tempat steril.

Sebelum jaringan untuk histology diambil, suatu pemeriksaan lengkap dari bagian penting dari potongan seharusnya diperiksa. Meskipun pada korban yang lebih muda wilayang yang perlu diteliti kembali adalah sistem koroner dan pada golongan yang lebih tua kematian yang tidak jelas adalah pentinguntuk memeriksa kembali pembuluh darah ini. Pada kasus trombosis terisolasicurigai pada lumen. Hal ini sebaiknya dilakukan untuk melihat kecurigaan pada lumen.

Pemeriksaan sitem koroner ini terkadang memberi keuntungan, khususnya pada kelompok usia pertengahan yang tampak sekilas memiliki pembuluh darah koroner yang baik. Suatu segmen kecil dapat tersumbat atau stenosis hanya 2-3 mm, baik dengan ateroma murni maupun dengan perdarahan subintimal, plak yang terlepas atau suatu trombosis yang terlokalisasi. Bila tidak ada yang ditemukan, kemudian setelah pemeriksaan singkat dari katup dan pembuluh darah besar, miokardia dapat dipotongpotong secara ekstensif dan beberapa bagian dapat diambil untuk histology, untuk menemukan suatu miokarditis atau kardiomiopati yang tidak jelas.

Organ lain harus diperiksa kembali, arteri pulmonal diperiksa kembali untuk melihat adanya emboli pulmonal pada cabang yang lebih tebal. Hal ini jarang bermanfaat, tetapi penulis pada beberapa pembuluh perifer paru, meskipun demikian suatu penyebab kematian yang valid masih dapat diperdebatkan. Jaringan otak harus diamati lagi, dengan perhatian khusus pada arteri basal. Hal ini juga sering berguna digunakan pada arteri karotis pada leher, karena itu sebaiknya selalu dilakukan pada pemotongan awal dari aorta menuju ke titik distal sinus karotis meskipun area tersebut sulit pada basis tengkorak, hal ini memberikan hasil yang baik untuk pemeriksaan yang terkadang oklusi total trombolitik dapat ditemukan.

Ketika suatu pemeriksaan lengkap dari patologitidak berhasil, suatu pemeriksaan histology lengkap diperlukan, khususnya pada miokardium. Tanda khusus seperti asam haemoxylin phosphotungistik, hematoxylin basa fuchsin asam pikrat, enzim

dehidrogenase histokimia acridin-orange fluorescent dan tehnik lain.Tidak ada kardiomegali atau koroner stenosis dijumpai kemungkinan penemuan kelainan adalah kecil tetapi isolasi miokarditis merupakan di luar kemungkinan.

Toksikologi dapat menjadi kesulitan dan mahal bila tidak ada dugaan penyebab dari obat-obatan atau racun. Suatu pemeriksaan untuk hal yang tidak dikenal dapat menhabiskan waktu untuk laboratorium, dengan biaya cukup banyak. Suatu dugaan pemeriksaanalkohol dan pemeriksaan substansi asam atau basa, meskipun tidak menyeluruh dapat menyingkirkan jenis racun yang dirinya sebagai penyebab. Mikrobiologi dan virology jarang mengarah kepada suatu penyakit yang fatal yang tidak ada proses gejala dan tanda-tanda suatu penyakit yang fatal yang tidak diduga dengan proses gejala dan tanda-tanda sebelum kematian.

Ketika semua hasil telah didapatkan, setelah beberapa minggu , kasus harus diperiksa kembali dan pendapat ditawarkan terhadap penemuan positif yang dapat menyebabkan kematian. Dalam pengalaman penulis,penelitian tambahan iniseringkali tidak banyak membantu, dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan, tetapi hal ini harus dilakukan ketika kemungkinan untuk menyingkirkan suatu penyebab dan untuk mencegah dugaan yang tidak teramati pada mayat sehingga hal ini sebaiknya dilakukan.

Bila pada proses akhirtidak dapat ditemukan penyebab kematian, penelitian yang tepat harus mengatakan bahwa tidak ada opini yang ditawarkan berdasarkan medis dan pengetahuan ilmiah. Hal ini dapat ditambahkan, meskipun demikian ketidak adaan cedera, racun, infeksi yang mematikan atau penyakit alami yang dikenal adalah bermanfaat untuk kejadian negative yang menunjukkan bahwa yang meninggal tidak mati karena sesuatu hal dan diasumsikan bahwa kemungkinan penyebab alami lebih dipertimbangkan daripada kasus tidak alami.

Hal ini harus diselesaikan secara jujur oleh ahlo patologi dan kesiapan untuk menyampai kanbahwa penyebab kematian tidak dapat ditentukan. Penggunaan kata yang diperhalus seperti pada gagal jantung atau gagal jantung dan nafas adalah kurang baik dan terkadang membingungkan bagi oaring non-medis eperti polisi ataupun hakim. Seperti sudah di sebut sebelumnya, suatu kecenderungan pada kelompokseperti sudah disebutkan sebelumnya, suatu kecenderungan pada kelompokmuda ahli patologis atau histo patologis yang jarang terlibat dalam kasus medikolegal untuk menafsirkan beberapa proses penyakit dan tanda-tanda bermakna. Suatu bentuk dari kematian jarang digunakan sebagai pengganti dalam suatu penyebab kematian. Hal ini juga kurang berguna dan sangat berbahaya untuk menduga suatu poses seperti inhibisi vagal, refleks gagal jantung atau sufokasi.

::

2006 All Rights Re