Vous êtes sur la page 1sur 28

ASPEK MEDIKOLEGAL DALAM

PELAKSANAAN AUTOPSI

Arrum Chyntia Yuliyanti, S.Ked


H1A 010 024

Pembimbing:
dr. Arfi Syamsun, Sp.KF, M.Si.Med

OUTLINE
1. DEFINISI AUTOPSI
2. MANFAAT AUTOPSI
3. DASAR HUKUM PELAKSANAAN AUTOPSI
4. JENIS-JENIS AUTOPSI
5. PROSEDUR PERSIAPAN AUTOPSI
6. PERAWATAN MAYAT SETELAH AUTOPSI
7. AUTOPSI TERHADAP JENAZAH EKSHUMASI
8. HAMBATAN DALAM PELAKSANAAN AUTOPSI
9. OTOPSI VIRTUAL
10.HAK UNDUR DIRI DOKTER

DEFINISI AUTOPSI
Auto=sendiri dan opsis=melihat.
Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat,
meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun
bagian dalam, dilakukan oleh tenaga medis yang
berkompeten dengan caracara yang dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 1

MANFAAT AUTOPSI
1. bagi penyelenggara layanan kesehatan dan dokter
2. bagi keluarga jenazah
3. bagi kesehatan masyarakat
4. bagi pendidikan kedokteran
5. bagi penelitian klinis terapan dan temuan medis
6. bagi penelitian biomedis dasar
7. bagi pelaksanaan undang-undang dan hukum

DASAR HUKUM PELAKSANAAN


AUTOPSI
Menurut UU Kesehatan No. 23 Tahun 1992 Pasal 70:3
(1) Dalam melaksanakan penelitian dan pengembangan
dapat dilakukan bedah mayat untuk penyelidikan
sebab penyakit dan atau sebab kematian serta
pendidikan tenaga kesehatan.
(2) Bedah mayat hanya dapat dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan untuk itu dan dengan memperhatikan
norma yang berlaku dalam masyarakat.
(3) Ketentuan mengenai bedah mayat sebagaimana

Berdasarkan UU Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009:4


Pasal 121
(1) Bedah mayat klinis dan bedah mayat anatomis hanya
dapat dilakukan oleh dokter sesuai dengan keahlian
dan kewenangannya.
(2) Dalam hal pada saat melakukan bedah mayat klinis dan
bedah mayat anatomis ditemukan adanya dugaan tindak
pidana, tenaga kesehatan wajib melaporkan kepada
penyidik sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 122
(1) Untuk kepentingan penegakan hukum dapat dilakukan bedah mayat forensik
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Bedah mayat forensik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh
dokter ahli forensik, atau oleh dokter lain apabila tidak ada dokter ahli
forensik dan perujukan ke tempat yang ada dokter ahli forensiknya tidak
dimungkinkan.
(3) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas tersedianya
pelayanan bedah mayat forensik di wilayahnya.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan bedah mayat forensik diatur
dengan Peraturan Menteri.

Pasal 124
Tindakan bedah mayat oleh tenaga kesehatan harus dilakukan sesuai dengan
norma agama, norma kesusilaan, dan etika profesi.

JENIS AUTOPSI

autopsi
autopsi
anatomi
k

autopsi
klinik

autopsi
forensik

Autopsi Anatomik
Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1981 Bab III Tentang Bedah Mayat Anatomis :
Pasal 5
Untuk bedah mayat anatomis diperlukan mayat yang diperoleh dari rumah sakit
dengan memperhatikan syarat-syarat sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 huruf a dan c.
Pasal 6
Bedah mayat anatomis hanya dapat dilakukan dalam bangsal anatomi suatu
fakultas kedokteran.
Pasal 7
Bedah mayat anatomis dilakukan oleh mahasiswa fakultas kedokteran dan sarjana
kedokteran di bawah pimpinan dan tanggungjawab langsung seorang ahli urai.
Pasal 8
Perawatan mayat sebelum, selama, dan sesudah bedah mayat anatomis dilakukan
sesuai dengan masing-masing agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan
diatur oleh Menteri Kesehatan.

Autopsi Klinik
Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 yaitu: 3
Pasal 119
(1)Untuk kepentingan penelitian dan pengembangan pelayanan
kesehatan dapat dilakukan bedah mayat klinis di rumah sakit.
(2)Bedah mayat klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk
menegakkan diagnosis dan/atau menyimpulkan penyebab kematian.
(3)Bedah mayat klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan atas
persetujuan tertulis keluarga terdekat pasien.
(4)Dalam hal pasien diduga meninggal akibat penyakit yang
membahayakan masyarakat dan bedah mayat klinis mutlak diperlukan
untuk menegakkan diagnosis dan/atau penyebab kematiannya, tidak
diperlukan persetujuan.

Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1981 Bab III Tentang Bedah Mayat Klinis
Pasal 2
Bedah mayat klinis hanya boleh dilakukan dalam keadaan sebagai berikut:
a. Dengan persetujuan tertulis penderita dan atau keluarganya yang terdekat
setelah penderita meninggal dunia, apabila sebab kematiannya belum dapat
ditentukan dengan pasti.
b. Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya yang terdekat, apabila diduga
penderita menderita penyakit yang dapat membahayakan orang lain atau
masyarakat sekitarnya.
c. Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya yang terdekat, apabila dalam
jangka waktu 2x24 jam tidak ada keluarga terdekat dari yang meninggal
dunia datang ke rumah sakit.
Pasal 3
Bedah mayat klinis hanya dilakukan di ruangan dalam rumah sakit yang
disediakan untuk keperluan itu.
Pasal 4
Perawatan mayat sebelum, selama, dan sesudah bedah mayat klinis dilakukan
sesuai dengan masing-masing agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha
Esa dan diatur oleh Menteri Kesehatan.

Autopsi Forensik/Medikolegal
Autopsi Forensik bertujuan:

membantu dalam hal penentuan identitas mayat


menentukan sebab pasti kematian, memperkirakan cara kematian,
serta waktu kematian
mengumpulkan serta mengenali bendabenda bukti untuk penentuan
identitas benda penyebab serta identitas pelaku kejahatan.
membuat laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta dalam
bentuk visum et repertum.
melindungi orang yang tidak bersalah dan membantu dalam
penentuan identitas serta penuntutan terhadap orang yang bersalah
(rekonstruksi).

PROSEDUR PERSIAPAN AUTOPSI


Melengkapi surat-surat yang berkaitan dengan autopsi yang akan
dilakukan
Memastikan mayat yang akan diautopsi adalah mayat yang
dimaksud dalam surat tersebut.
Mengumpulkan keterangan yang berhubungan dengan terjadinya
kematian selengkap mungkin untuk membantu memberi petunjuk
pemeriksaan dan jenis pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan.
Memastikan alat-alat yang diperlukan telah tersedia.
Mempersiapkan format autopsi, untuk memudahkan dalam
pembuatan laporan autopsi.

PERAWATAN MAYAT SETELAH


AUTOPSI
Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1981
mengharuskan perawatan mayat sebelum, selama, dan
sesudah bedah mayat.
Setelah autopsi selesai, semua organ tubuh dimasukkan
kembali ke dalam rongga tubuh.
Jahitan kulit harus rapi menggunakan benang yang
kuat, mulai dari dagu sampai ke daerah simfisis.
Tubuh mayat dibersihkan dari darah sebelum mayat
diserahkan kembali pada pihak keluarga. 1,6,7

AUTOPSI TERHADAP JENAZAH


EKSHUMASI
Ekshumasi adalah suatu tindakan medis yang dilakukan atas dasar undang

undang dalam rangka pembuktian suatu tindakan pidana dengan menggali


kembali jenazah yang sudah dikuburkan dan berdasarkan permintaan penyidik.
KUHAP pasal 135 yang berbunyi: Dalam hal penyidik untuk kepentingan
peradilan perlu melakukan penggalian mayat, dilaksanakan menurut
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (2) dan pasal 134 ayat
(1) undangundang ini.
KUHAP pasal 136 yang berbunyi: Semua biaya yang dikeluarkan untuk
kepentingan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam bagian kedua bab XIV
ditanggung oleh negara.
ekshumasi membutuhkan lebih banyak biaya tambahan untuk penggalian
kubur, transportasi, pembersihan, pemeriksa medis, penguburan kembali.
hasil pemeriksaan terhadap jenazah yang telah lama dikubur tidak akan lebih
baik

Kepentingan Ekshumasi
1. Penggalian atau pembongkaran kuburan untuk kepentingan
peradilan.
2. Penggalian non forensik atau bukan untuk peradilan.
untuk keperluan kotakota, pengembangan gedunggedung
dan sebagainya atas perintah dari penguasa pemerintah
setempat.
kemauan keluarga sendiri untuk memindahkan kuburan
seseorang ke kuburan lain atau ke kota lain.
Untuk identifikasi

prosedur ekshumasi
Persiapan Penggalian Kuburan :
Surat persetujuan dari keluarga
Surat pernyataan dari keluarga, juru kubur, petugas pemerintah setempat atau saksisaksi lain yang
menyatakan bahwa kuburan tersebut memang kuburan dari orang meninggal yang dimaksudkan.
Surat penyitaan dari kuburan yang akan digali sebagai barang bukti yang dikuasai oleh penyidik
(Kepolisian) untuk sementara.
Surat permintaan Visum et Repertum kepada Dokter untuk pemeriksaan mayat dengan penggalian
kuburan.
Berita acara pembongkaran kuburan harus dibuat secara kronologis
Peralatan dan sarana lain yang diperlukan.
Pelaksanaan Penggalian Kuburan
Perlu dihadiri oleh dokter, penyidik, pemuka masyarakat setempat, pihak keamanan, petugas
pemakaman dan penggali kuburan.
Memastikan kuburan yang harus digali dengan kehadiran pihak keluarga atau ahli waris atau saksi yang
mengetahui dan menyaksikan
Sebelum penggalian, sekitar kuburan harus ditutup dengan tabir (dari bahan apa saja).
Mencatat kronologis acara pembongkaran kuburan.
Penyerahan ke Penyidik
penyerahan kembali ke penyidik. Selanjutnya dibuat berita acara pemakaman kembali dan berita acara
penyerahan kembali kuburan kepada keluarga.
Jenazah yang telah diautopsi dimakamkan kembali.

HAMBATAN DALAM
PELAKSANAAN AUTOPSI
keterbatasan fasilitas
keberatan dari pihak keluarga korban.
Pasal 134 KUHAP:

(1) Dalam hal diperlukan dimana utk keperluan pembuktian bedah mayat tidak
mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahu terlebih dulu kepada
keluarga korban
(2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan sejelasjelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukan pembedahan tersebut
(3) Apabila dalam waktu 2 hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau
pihak yang perlu diberitahu tidak ditemukan penyidik segera melaksanakan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang undang ini

Sanksi hukum
Pada Pasal 222 KUHAP disebutkan:
Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama
sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah.
Pada Pasal 216 KUHAP disebutkan:
Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut UU oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat
berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberikuasa untuk mengusut atau
memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa sengaja mencegah,
menghalang-halangi, menggagalkan guna menjalankan ketentuan diancam dengan
pidana penjara paling lama 4 bulan 2 minggu atau denda paling banyak
sembilan ribu rupiah.

OTOPSI VIRTUAL
otopsi virtual tidak memerlukan diseksi (pemotongan)
jaringan tubuh, melainkan menggunakan alat-alat
diagnostik canggih untuk melihat kelainan yang terjadi
dalam organ-organ dalam.
otopsi virtual lebih baik jika dibandingkan otopsi
konvensional dalam menegakkan diagnosis untuk
kepentingan klinis, namun tidak untuk kepentingan
medikolegal.

HAK UNDUR DIRI DOKTER


KUHAP Pasal 168 yang berbunyi:
Kecuali ditentukan lain dalam undang-undang ini, maka tidak dapat
didengar keterangannya dan dapat mengundurkan diri sebagai saksi:
a.Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dari
terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa.
b.Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa, saudara ibu atau bapak, juga
mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan dan anak-anak saudara terdakwa sampai
derajat ketiga.
c.Suami atau istri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang bersama-sama sebagai terdakwa.

KUHAP pasal 170 ayat 1 yang berbunyi:


Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat, atau jabatannya
diwajibkan menyimpan rahasia, dapat minta dibebaskan dari kewajiban
memberikan keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan
kepada mereka

TERIMA KASIH
MOHON KRITIK DAN
SARAN

1. teknik Virchow
Setelah dilakukan pembukaan rongga tubuh, organ
organ dikeluarkan satu persatu dan langsung diperiksa.
Dengan demikian kelainan kelainan yang terdapat
pada masing masing organ yang tergolong dalam satu
sistem menjadi hilang. Teknik ini kurang baik bila
digunakan pada autopsi forensik, terutama pada kasus
penembakan dengan senjata api dan penusukan
dengan senjata tajam.

2. teknik Rokitansky
Setelah rongga tubuh dibuka, organ dilihat, dan
diperiksa dengan melakukan beberapa irisan in situ,
baru kemudian seluruh organ organ tersebut
dikeluarkan dalam kumpulan kumpulan organ ( en
bloc ). Teknik ini pun tidak baik digunakan untuk autopsi
forensik.

3. teknik Letulle
Setelah rongga tubuh dibuka, organ leher, dada, diafragma, dan perut dikeluarkan
sekaligus ( en masse ). Kepala diletakan di atas meja dengan permukaan
posterior menghadap ke atas. Plexus coeliacus dan kelenjar para aortal diperiksa,
aorta dibuka sampai arcus aortae dan Aa. renales kanan dan kiri dibuka serta
diperiksa. Aorta diputus di atas muara a. Renalis. Rectum dipisahkan dari sigmoid.
Organ urogenital dipisahkan dari organ lain. Bagian proksimal jejunum diikat pada
dua tempat dan kemudian diputus antara dua ikatan tersebut dan usus dapat
dilepaskan. Esofagus dilepaskan dari trakhea, tetapi hubungannya dengan
lambung dipertahankan. Vena cava inferior serta aorta diputus di atas diafragma
dan dengan demikian organ leher dan dada dapat dilepas dari organ perut.
Dengan pengangkatan organ organ tubuh secara en masse ini, hubungan antar
organ tetap dipertahankan setelah seluruh organ dikeluarkan dari tubuh. Kerugian
teknik ini adalah sukar dilakukan tanpa pembantu, serta agak sukar karena
panjangnya kumpulan organ organ yang dikeluarkan sekaligus.

4. Teknik Ghon
Setelah rongga tubuh dibuka, organ leher dan dada,
organ pencernaan bersama hati dan limpa, organ
urogenital diangkat keluar sebagai 3 kumpulan organ
( bloc ).
Pada autopsi jenazah yang baru meninggal dunia,
terkadang sulit untuk menentukan penyebab
kematiannya. Apalagi autopsi pada kasus ekshumasi
dimana jenazah yang sudah dikuburkan mulai dari
beberapa hari sampai beberapa tahun sehingga tidak
semua autopsi pada ekshumasi dapat menjelaskan
tentang penyebab kematiannya, terutama pada jenazah
yang telah mengalami pembusukan.