Vous êtes sur la page 1sur 38

ASUHAN

KEPERAWAT
AN KLIEN
DENGAN
TUMOR
OTAK

Apakah Anda sudah pernah merawat


Pasien TUMOR OTAK ?????

Pengertian
TUMOR OTAK adalah suatu lesi
ekspansif yang bersifat jinak (benigna)
ataupun ganas (maligna), membentuk
massa dalam ruang tengkorak kepala
(intra cranial) atau di sumsum tulang
belakang (medulla spinalis).
Neoplasma pada jaringan otak dan
selaputnya dapat berupa tumor primer
maupun metastase.

Apabila sel-sel tumor berasal dari


jaringan otak itu sendiri disebut
tumor otak primer dan bila berasal
dari organ-organ lain (metastase)
seperti kanker paru, payudara,
prostate, ginjal, dan lain-lain disebut
tumor otak sekunder.

Faktor-faktor yang dapat


memicu terjadinya tumor
otak.

HEREDITER
Riwayat dalam satu
anggota keluarga
jarang ditemukan
kecuali pada
meningioma,
astrositoma dan
neurofibroma dapat
dijumpai pada
anggota- anggota
sekeluarga.

SISA-SISA SEL EMBRIONAL


(EMBRYONIC CELL REST)
Bangunanbangunan
embrional
berkembang
menjadi bangunanbangunan yang
mempunyai
morfologi dan fungsi
yang terintegrasi
dalam tubuh

RADIASI
Jaringan dalam sistem
saraf pusat peka
terhadap radiasi dan
dapat mengalami
perubahan degenerasi,
namun belum ada
bukti radiasi dapat
memicu terjadinya
suatu glioma.

SUBSTANSI-SUBSTANSI
KARSINOGENIK
Kini telah diakui bahwa ada substansi
yang karsinogenik seperti
methylcholanthrone, nitroso-ethylurea. Ini berdasarkan percobaan
yang dilakukan pada hewan.

Virus
Banyak penelitian tentang
inokulasi virus pada binatang kecil
dan besar yang dilakukan dengan
maksud untuk mengetahui peran
infeksi virus dalam proses terjadinya
neoplasma tetapi hingga saat ini
belum ditemukan hubungan antara
infeksi virus dengan perkembangan
tumor pada sistem saraf pusat.

TRAUMA
Trauma yang berulang
menyebabkan terjadinya
meningioma (neoplasma
selaput otak). Pengaruh
trauma pada
patogenesis neoplasma
susunan saraf pusat
belum diketahui.

Tanda dan Gejala Umum


Nyeri kepala berat pada pagi hari, makin
bertambah bila batuk, membungkuk
Kejang
Tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial :
Pandangan kabur, mual, muntah, penurunan
fungsi pendengaran, perubahan tanda-tanda
vital, afasia.
Perubahan kepribadian
Gangguan memori
Gangguan alam perasaan

Tanda dan Gejala Menurut


Lokasi
Lobus frontalis
Gangguan mental / gangguan kepribadian
ringan : depresi, bingung, tingkah laku
aneh, sulit memberi
argumenatasi/menilai benar atau tidak,
hemiparesis, ataksia, dan gangguan
bicara.
Kortek presentalis posterior
Kelemahan/kelumpuhan pada otot-otot
wajah, lidah dan jari

Lobus parasentralis
Kelemahan pada ekstremitas bawah
Lobus Oksipitalis
Kejang, gangguan penglihatan
Lobus temporalis
Tinitus, halusinasi pendengaran, afasia sensorik,
kelumpuhan otot wajah
Lobus Parietalis
Hilang fungsi sensorik, kortikalis, gangguan
lokalisasi sensorik, gangguan penglihatan
Cerebulum
Papil oedema, nyeri kepala, gangguan motorik,
hipotonia, hiperekstremitas sendi

Lobus frontalis
Gangguan mental / gangguan kepribadian
ringan : depresi, bingung, tingkah laku
aneh, sulit memberi argumenatasi/menilai
benar atau tidak, hemiparesis, ataksia,
dan gangguan bicara.
Trias Klasik ;
Nyeri kepala
Papil oedema
Muntah

Pemeriksaan Diagnostik ;
Rontgent tengkorak anteriorposterior
EEG
CT Scan
MRI
Angioserebral

Perjalanan Penyakit
(Patoflow)
Tumor otak menyebabkan gangguan
neurologis. Gejala-gejala terjadi
berurutan. Hal ini menekankan
pentingnya anamnesis dalam
pemeriksaan klien. Gejala-gejalanya
sebaiknya dibicarakan dalam suatu
perspektif waktu.
Gejala neurologik pada tumor otak
biasanya dianggap disebabkan oleh 2
faktor gangguan fokal, disebabkan oleh
tumor dan tekanan intrakranial.

Gangguan fokal terjadi apabila penekanan


pada jaringan otak dan infiltrasi/invasi
langsung pada parenkim otak dengan
kerusakan jaringan neuron. Tentu saja
disfungsi yang paling besar terjadi pada
tumor yang tumbuh paling cepat. Perubahan
suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan
tumor yang tumbuh menyebabkan nekrosis
jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri
pada umumnya bermanifestasi sebagai
kehilangan fungsi secara akut dan mungkin
dapat dikacaukan dengan gangguan
cerebrovaskuler primer.

Peningkatan tekanan intra kranial dapat diakibatkan


oleh beberapa faktor : bertambahnya massa dalam
tengkorak, terbentuknya oedema sekitar tumor dan
perubahan sirkulasi cerebrospinal.
Pertumbuhan tumor menyebabkan bertambahnya
massa, karena tumor akan mengambil ruang yang
relatif dari ruang tengkorak yang kaku. Tumor ganas
menimbulkan oedema dalam jaruingan otak.
Mekanisme belum seluruhnyanya dipahami, namun
diduga disebabkan selisih osmotik yang menyebabkan
perdarahan.
Obstruksi vena dan oedema yang disebabkan
kerusakan sawar darah otak, semuanya menimbulkan
kenaikan volume intrakranial. Observasi sirkulasi cairan
serebrospinal dari ventrikel laseral ke ruang sub
arakhnoid menimbulkan hidrocepalus.

Kenaikan tekanan yang tidak diobati


mengakibatkan herniasi ulkus atau serebulum.
Herniasi timbul bila girus medialis lobus
temporalis bergeser ke inferior melalui insisura
tentorial oleh massa dalam hemisfer otak.
Herniasi menekan ensefalon menyebabkan
hilangnya kesadaran dan menekan saraf ketiga.
Pada herniasi serebulum, tonsil sebelum
bergeser ke bawah melalui foramen magnum
oleh suatu massa posterior. Kompresi medula
oblongata dan henti nafas terjadi dengan
cepat. Intrakranial yang cepat adalah bradicardi
progresif, hipertensi sistemik (pelebaran
tekanan nadi dan gangguan pernafasan).

Klasifikasi
a. Berdasarkan jenis tumor
1) Jinak
- Acoustic neuroma
- Meningioma
- Pituitary adenoma
- Astrocytoma (grade I)
2) Malignant
- Astrocytoma (grade 2,3,4)
- Oligodendroglioma
- Apendymoma

b. Berdasarkan lokasi
1) Tumor intradural
a) Ekstramedular
- Cleurofibroma
- Meningioma
b) Intramedular
- Apendymoma
- Astrocytoma
- Oligodendroglioma
- Hemangioblastoma

2) Tumor ekstradural
Merupakan metastase dari lesi
primer, biasanya pada payudara,
prostal, tiroid, paruparu, ginjal dan
lambung.

Penatalaksanaan Medis
a. Operasi
Pembedahan merupakan pilihan utama untuk mengangkat
tumor. Pembedahan pada tumor otak bertujuan utama untuk
melakukan dekompresi dengan cara mereduksi efek massa
sebagai upaya menyelamatkan nyawa serta memperoleh
efek paliasi. Dengan pengambilan massa tumor sebanyak
mungkin diharapkan pula jaringan hipoksik akan terikut serta
sehingga akan diperoleh efek radiasi yang optimal.

b. Radiotherapy
Radioterapi merupakan salah satu modalitas penting dalam
penatalaksanaan proses keganasan. Berbagai penelitian klinis
telah membuktikan bahwa modalitas terapi pembedahan akan
memberikan hasil yang lebih optimal jika diberikan kombinasi
terapi dengan kemoterapi dan radioterapi.

c. Chemotherapy
Pada kemoterapi dapat menggunakan
powerfull drugs, bisa menggunakan satu atau
dikombinasikan. Tindakan ini dilakukan
dengan tujuan untuk membunuh sel tumor
pada klien. Diberikan secara oral, IV, atau bisa
juga secara shunt. Tindakan ini diberikan
dalam siklus, satu siklus terdiri dari treatment
intensif dalam waktu yang singkat, diikuti
waktu istirahat dan pemulihan. Saat siklus dua
sampai empat telah lengkap dilakukan, pasien
dianjurkan untuk istirahat dan dilihat apakah
tumor berespon terhadap terapi yang
dilakukan ataukah tidak.

Pengkajian
a. Identifikasi faktor resiko paparan dengan
radiasi atau bahan bahan kimia yang bersifat
carcinogenik.
b. Identifikasi tanda dan gejala yang dialami:
sakit kepala, muntah dan penurunan
penglihatan atau penglihatan double.
c. Identifikasi adanya perubahan perilaku klien.
d. Observasi adanya hemiparase atau hemiplegi.
e. Perubahan pada sensasi: hyperesthesia,
paresthesia.

f. Observasi adanya perubahan sensori:


asteregnosis (tidak mampu merasakan
benda tajam), agnosia (tidak mampu
mengenal objek pada umumnya), apraxia
(tidak mampu menggunakan alat dengan
baik), agraphia (tidak mampu menulis).
g. Observasi tingkat kesadran dan tanda
vital.
h. Observasi keadaan keseimbangan cairan
dan elektrolit.

i.

Psikososial: perubahan kepribadian dan


perilaku, kesulitan mengambil keputusan,
kecemasan dan ketakutan hospitalisasi,
diagnostic test dan prosedur pembedahan,
adanya perubahan peran.
j. Laboratorium:
1) Jika tidak ada kontraindikasi: lumbal puncti.
2) Fungsi endokrin
k. Radiografi:
1) CT scan.
2) Electroencephalogram
3) Rontgen paru dan organ lain untuk mencari
adanya metastase.

Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan perfusi jaringan otak b/d
kerusakan sirkulasi akibat penekanan
oleh tumor.
b. Nyeri b/d peningkatan tekanan
intrakranial.
c. Kurang pengetahuan mengenai
kondisi dan kebutuhan pengobatan
b/d ketidakmampuan mengenal
informasi

d. Gangguan pertukaran gas b.d disfungsi


neuromuskuler (hilangnya kontrol
terhadap otot pernafasan ), ditandai
dengan : perubahan kedalamam nafasn,
dispnea, obstruksi jalan nafas, aspirasi
e. Perubahan proses pikir b.d perubahan
fisiologi, ditandai dengan disorientasi,
penurunan kesadaran, sulit konsentrasi
f. Resiko tinggi cidera b.d disfungsi otot
sekunder terhadap depresi SSP,
ditandai dengan : kejang, disorientasi,
gangguan penglihatan, pendengaran

Rencana Tindakan
Perubahan perfusi jaringan otak b/d
kerusakan sirkulasi akibat penekanan
oleh tumor.
Data penunjang: peruabahan tingkat
kesadaran, kehilangan memori, perubahan
respon sensorik/motorik, gelisah, perubahan
tanda vital.
Kriteria hasil: Tingkat kesadaran stabil atau
ada perbaikan, tidak adan tanda tanda
peningaktan TIK.

Intervensi & Rasional


1. Pantau status neurologis secara teratur dan bandingkan
dengan nilai standar.
R/ Mengkaji adanya perubahan pada tingkat kesadran dan
potensial peningkatan TIK dan bermanfaat dalam
menentukan okasi, perluasan dan perkembangan kerusakan
SSP.
2. Pantau tanda vital tiap 4 jam.
R/ Normalnya autoregulasi mempertahankan aliran darah ke
otak yang stabil. Kehilanagn autoregulasi dapat mengikuti
kerusakan vaskularisasi serebral lokal dan menyeluruh
3. Pertahankan posisi netral atau posisi tengah, tinggikan
kepala 200-300.
R/ Kepala yang miring pada salah satu sisi menekan vena
jugularis dan menghambat aliran darah vena yang
selanjutnya akan meningkatkan TIK.

4. Pantau ketat pemasukan dan pengeluaran cairan,


turgor kulit dan keadaan membran mukosa.
R/ Bermanfaat sebagai indikator dari cairan total
tubuh yang terintegrasi dengan perfusi jaringan.
5. Bantu pasien untuk menghindari/membatasi batuk,
muntah, pengeluaran feses yang
dipaksakan/mengejan.
R/ Aktivitas ini akan meningkatkan tekanan intra
toraks dan intra abdomen yang dapat meningkatkan
TIK.
6. Perhatikan adanya gelisah yang meningkat,
peningkatan keluhan dan tingkah laku yang tidak
sesuai lainnya.
R/ Petunjuk non verbal ini mengindikasikan adanya
penekanan TIK atau menandakan adanya nyeri ketika
pasien tidak dapat mengungkapkan keluhannya
secara verbal.

Nyeri b/d peningkatan tekanan


intrakranial.
Data penunjang: klien mengatakan nyeri,
pucat pada wajah, gelisah, perilaku tidak
terarah/hati hati, insomnia, perubahan
pola tidur.
Kriteria hasil: Klien melaporkan nyeri
berkurang/terkontrol, klien menunjukkan
perilaku untuk mengurangi kekambuhan.

Intervensi & Rasional


1. Teliti keluhan nyeri: intensitas, karakteristik, lokasi, lamanya, faktor yang
memperburuk dan meredakan.
R/ Nyeri merupakan pengalaman subjektif dan harus dijelaskan oleh pasien.
Identifikasi karakteristik nyeri dan faktor yang berhubungan merupakan
suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi yang cocok dan untuk
mengevaluasi keefektifan dari terapi yang diberikan.
2. Observasi adanya tanda-tanda nyeri non verbal seperti ekspresi wajah,
gelisah, menangis/meringis, perubahan tanda vital.
R/ Merupakan indikator/derajat nyeri yang tidak langsung yang dialami.
3. Instruksikan pasien/keluarga untuk melaporkan nyeri dengan segera jika
nyeri timbul.
R/ Pengenalan segera meningkatkan intervensi dini dan dapat mengurangi
beratnya serangan.
4. Berikan kompres dingin pada kepala.
R/ Meningkatkan rasa nyaman dengan menurunkan vasodilatasi.

Kurang pengetahuan mengenai kondisi


dan kebutuhan pengobatan b/d
ketidakmampuan mengenal informasi.
Data penunjang: Klien dan keluarga
meminta informasi, ketidakakuratan
mengikuti instruksi, perilaku yang tidak
tepat.
Kriteria hasil: Klien/keluarga
mengungkapkan pemahaman tentang
kondisi dan pengobatan, memulai
perubahan perilaku yang tepat.

Intervensi & Rasional


1. Diskusikan etiologi individual dari sakit kepala bila
diketahui.
R/ Mempengaruhi pemilihan terhadap penanganan dan
berkembnag ke arah proses penyembuhan.
2. Bantu pasien dalam mengidentifikasikan kemungkinan
faktor predisposisi.
R/ Menghindari/membatasi faktor-faktor yang sering kali
dapat mencegah berulangnya serangan.
3. Diskusikan mengenai pentingnya posisi/letak tubuh yang
normal.
R/ Menurunkan regangan pada otot daerah leher dan
lengan dan dapat menghilangkan ketegangan dari tubuh
dengan sangat berarti.
4. Diskusikan tentang obat dan efek sampingnya.
R/ Pasien mungkin menjadi sangat ketergantungan
terhadap obat dan tidak mengenali bentuk terapi yang
lain.