Vous êtes sur la page 1sur 31

Gambaran Penderita Gout Artritis yang

Mengunjungi Poli Lansia Puskesmas


Johan Pahlawan pada Bulan Maret
sampai Juni 2016
Mini Project
OLEH:
dr. Aulia Rizki

Pembimbing : dr. Depi Arisandi Aji

PENDAHULUAN

LATAR
BELAKANG

Penyakit sendi secara nasional prevalensinya berdasarkan


wawancara sebesar 30,3% dan prevalensi berdasarkan
diagnosis tenaga kesehatan adalah 14% (Riskesdas 20072008). Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit sendi adalah
umur, jenis kelamin, genetik, obesitas dan penyakit metabolik,
cedera sendi, pekerjaan dan olah raga. (Rabea, 2009)
Penyakit gout merupakan salah satu penyakit degeneratif.
Salah satu tanda dari penyakit gout adalah adanya kenaikan
kadar asam urat dalam darah (hiperurisemia). Faktor-faktor
yang berhubungan dengan kejadian hiperurisemia adalah
jenis kelamin, IMT, asupan karbohidrat dan asupan purin.
Asupan purin merupakan faktor risiko paling kuat yang
berhubungan dengan kejadian hiperurisemia. (Setyoningsih,
2009)

Satu survei epidemiologik yang dilakukan di


Bandungan, Jawa Tengah atas kerjasama WHO
COPCORD terhadap 4.683 sampel berusia antara
15 45 tahun didapatkan bahwa prevalensi
hiperurisemia sebesar 24,3 % pada laki-laki dan
11,7% pada wanita.(Purwaningsih, 2010)

RUMUSAN
MASALAH

Bagaimana karakteristik penderita Gout


Artritis berdasarkan umur di Poli Lansia
Puskesmas Johan Pahlawan periode
Maret-Juni 2016?
Bagaimana karakteristik penderita Gout
Artritis berdasarkan jenis kelamin di
Poli Lansia Puskesmas Johan Pahlawan
periode Maret-Juni 2016?

TUJUAN PENELITIAN

Umu
m
Untuk mengetahui karakteristik penderita Gout Artritis di Poli Lansia
Puskesmas Johan Pahlawan periode Maret-Juni 2016.

MANFAAT PENELITIAN

Bagi Peneliti
Melalui penelitian ini peneliti dapat menerapkan dan memanfaatkan ilmu
yang didapat selama pendidikan dan menambah pengetahuan dan
pengalaman dalam membuat penelitian ilmiah.
Bagi instansi terkait
Sebagai bahan masukan dan bahan pertimbangan dalam membuat
kebijakan-kebijakan dibidang kesehatan di masa mendatang khususnya
dalam progam penatalaksanaan Gout artritis
Bagi ilmu pengetahuan
Sebagai bahan masukan atau referensi bagi peneliti lain yang akan
melakukan penelitian tentang gambaran gout artritis

TINJAUAN
PUSTAKA

Gout Artritis

Definisi

Artritis
gout
merupakan
penyakit
heterogen sebagai akibat deposisi kristal
monosodium urat pada jaringan atau
supersaturasi asam urat didalam cairan
ekstarseluler (Anastesya W, 2009). Artritis
gout merupakan salah satu penyakit
inflamasi sendi yang paling sering
ditemukan,
yang
ditandai
dengan
penumpukan kristal monosodium urat di
dalam ataupun di sekitar persendian

Etiologi Gout Artritis

Gout Primer
Gout primer dipengaruhi oleh
faktor genetik. Terdapat
produksi/sekresi asam urat
yang berlebihan dan tidak
diketahui penyebabnya.

Gout Sekunder
1.Produksi asam urat yang berlebihan
2. Sekresi asam urat yang kurang

Patofisiologi

Kadar asam urat dalam darah ditentukan


oleh keseimbangan antara produksi (10%
pasien) dan ekskresi (90% pasien). Bila
keseimbangan ini terganggu maka dapat
menyebabkan
terjadinya
peningkatan kadar asam urat dalam darah
yang
disebut
dengan
hiperurisemia
(Manampiring,
2011).

Diagnosa Banding

Osteoartritis
Septic artritis
Rheumatoid artritis

Manifestasi
Klinis
Artritis Gout Akut
keluhan utama berupa nyeri, bengkak, terasa
hangat, merah dengan gejala sistemik berupa
demam, menggigil dan merasa lelah
Interkritikal Gout
Stadium ini merupakan kelanjutan stadium akut
dimana terjadi periode interkritik asimptomatik.
Walaupun secara klinik tidak didapatkan tandatanda radang akut, namun pada aspirasi sendi
ditemukan Kristal urat
Gout menahun dengan Tof
Stadium ini umumnya pada pasien yang
mengobati sendiri sehingga dalam waktu lama
tidak berobat secara teratur. Arthritis gout
menahun biasanya disertai tofi yang banyak dan
terdapat poliartikular

Diagnosis
Adanya kristal urat yang khas dalam cairan sendi
Tofi terbukti mengandung kristal urat
berdasarkan pemeriksaan kimiawi dan
mikroskopik dengan sinar terpolarisasi

Kemerahan di sekitar sendi yang


meradang
Sendi metatarsophalangeal pertama (ibu
jari kaki) terasa sakit atau membengkak

Lebih dari sekali mengalami serangan


arthritis akut

Penatalaksanaan

Farmakologi

Non Farmakologi

Kondisi yang terkait dengan


hiperurisemia adalah diet kaya
purin, obesitas, serta sering
meminum alkohol

Pengobatan arthritis Gout akut


bertujuan menghilangkan keluhan
nyeri sendi dan peradangan
dengan obat-obat, antara lain
kolkisin, OAINS, kortikosteroid
atau hormone ACTH

Prognosis
Tanpa
terapi
yang
adekuat,
serangan
dapat
berlangsung
berhari-hari, bahkan beberapa
minggu.
Periode
asimtomstik
akan memendek apabila penyakit
menjadi progresif. Semakin muda
usia pasien pada saat mulainya
penyakit, maka semakin besar
kemungkinan menjadi progresif

METODE
PENELITI
AN

JENIS PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif

TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Johan


Pahlawan dalam hal ini dilakukan di poli Lansia periode Maret
Juni tahun 2016.

Populasi dan Sampel


Populasi:
semua pasien yang berobat ke puskesmas
johan pahlawan.

Sampel:
Pasien
Pasien yang
yang memenuhi
memenuhi kriteria
kriteria inklusi
inklusi dan
dan eksklusi
eksklusi

Populasi dan Sampel


Kriteria
inklusi:
Berjenis kelamin laki-laki
dan perempuan
Menderita Gout Artritis
Melakukan kunjungan ke
Poli Lansia Puskesmas
Johan Pahlawan

Kriteria Eksklusi:
Bukan penderita Gout
artritis
Tidak
melakukan
kunjungan
ke
Poli
Lansia Puskesmas Johan
Pahlawan

Cara Pengumpulan Data

Data sekunder: Data yang diperoleh dari rekam medis


pasien berupa identitas pasien dan diagnosa dokter
puskesmas

HASIL DAN
PEMBAHAS
AN

Distribusi Proporsi
Penderita Gout Artritis
Berdasarkan Umur
Rentang
Umur
(tahun)

BULAN
Maret

April

Mei

Juni

Jumlah

50-60 tahun

12

14

22

19

67

61-70 tahun

18

37

71-80 tahun

18

>80 tahun

Total

22

26

52

31

131

60
50
40
Laki-laki
30

perempuan

20
10
0
Maret

April

Mei

Juni

Distribusi Proporsi
Penderita Gout Artritis
Berdasarkan Jenis
Kelamin
Bulan

Jenis Kelamin
Laki-laki

Jumlah

Perempuan

Maret

14

16,86

16,66

22

16,79

April

16

19,27

10

20,83

26

19,84

Mei

31

37,34

21

43,75

52

39,69

Juni

22

26,50

18,75

31

23,66

Total

83

63,35

48

36,65

131

100

140
120
100
80
60
40
20
0

Pembahasan

Dari penelitian yang dilakukan tentang profil penderita gout


artritis di Poli Lansia Puskesmas Johan Pahlawan periode
Maret Juni 2016 diperoleh sebanyak 131 kasus. Dari 131
kasus tersebut diperoleh hasil bahwa penderita gout artritis
di poli lansia Puskesmas Johan Pahlawan periode Maret Juni
2016 mayoritas terjadi pada usia 50 - 60 tahun yaitu
sebanyak 67 orang (51,14%) dan minoritas tejadi pada usia
diatas 80 tahun yaitu sebanyak 9 orang (6,87%).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil
bahwa penderita gout artritis di poli lansia Puskesmas Johan
Pahlawan periode Maret Juni 2016 mayoritas terjadi pada
laki-laki yaitu sebanyak 83 orang (63,35%) dan minoritas
tejadi pada perempuan yaitu sebanyak 48 orang (36,65,2%).

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Purwaningsih


(2010) yang menyatakan bahwa usia 50 60 tahun
merupakan usia dimana terjadi peningkatan
kejadian gout artritis. Persentase penderita gout
artritis meningkat sesuai dengan meningkatnya
usia. Usia merupakan salah satu faktor resiko gout
artritis dan mempunyai hubungan yang bermakna
dengan gout oartritis. Dengan bertambahnya usia,
resiko terkena gout oartritis lebih besar sehingga
prevalensi gout artritis dikalangan usia lanjut
meningkat.
Satu survei epidemiologik yang

dilakukan di
Bandungan, Jawa Tengah atas kerjasama WHO
COPCORD terhadap 4.683 sampel berusia antara 15

45
tahun
didapatkan
bahwa
prevalensi
hiperurisemia sebesar 24,3 % pada laki-laki dan
11,7% pada wanita.(Purwaningsih, 2010)

KESIMPUL
AN DAN
SARAN

KESIMPULAN

Jumlah kunjungan pasien dengan diagnosis gout artritis


pada periode Maret-Juni 2016 berjumlah 131 orang.
Karakteristik pasien penderita gout artritis berdasarkan
umur paling banyak terjadi pada kelompok umur 50-60
tahun yaitu 67 kasus atau setara dengan 51,14%.
Karakteristik pasien penderita gout artritis berdasarkan
jenis kelamin paling banyak terjadi pada laki-laki
dibanding perempuan yaitu 83 kasus (63,35%) dan
perempuan insidensi 48 kasus (35,65).

SARAN

Pengadaan evaluasi dan diskusi secara


berkala tentang ilmu kesehatan di
masyarakat khususnya mengenai gout
artritis

Terima Kasih