Vous êtes sur la page 1sur 20

MORBUS HANSEN

TIPE LL
Oleh :
Chairatu Sadrina Djeni
Syarifah Chaula Amrina
Pembimbing :
Dr. Vella, Sp.KK

PENDAHULUAN

Morbus Hansen (MH) disebabkan oleh Mycobacterium


Leprae yang ditemukan pertama kali oleh Gerard
Armauer Hansen tahun 1873

LAPORAN KASUS

Nama
: Tn. AM
Umur
: 33 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat
: Lamteuba, Aceh Besar
Pekerjaan
: Petani
Status
: Menikah
CM
: 1-07-16-26
Tgl Periksa
: 25 November 2015

Bercak mati rasa pada kaki kanan

KT

KU
Kurang rasa di wajah, tangan dan
kaki, kulit kering, alis rontok, jari
menebal, gangguan penciuman,
benjolan di wajah

Bercak mati rasa sejak 4 tahun yang lalu di kaki kanan pasien.
Keluhan mati rasa ini terjadi bersamaan pada kedua kaki dan
tangan pasien, serta wajah.
Kebas sejak 4 tahun yang lalu, terutama saat menyentuh
sesuatu menggunakan kedua tangan dan tidak merasakan
benda yang disentuh. Hal ini memberat apabila menyentuh
sesuatu tanpa menggunakan sarung tangan. Kaki pasien juga
mengeeluhkan sulit berjalan apabila tidak menggunakan alas
kaki.
Benjolan pada kedua pipi sejak 4 tahun yang lalu.
Jari-jari tangan dan kaki juga dirasakan membengkak dalam 1
tahun terakhir.
Kulit kering sejak 4 tahun yang lalu hingga saat ini dan mudah
mengalami luka.

RPS

RPS
RPO
Neurodex

RPK
Tidak ada

RPD
Mimisan berulang
sejak 6 bulan yang lalu
Stroke tahun 2011

Pekerjaan :
Petani sawit
Tinggal di
daerah
endemik

PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan penunjang :

Pada pemeriksaan BTA RSUDZA (26/11/2015)


didapatkan :
Bacterial Index (BI) : +1
Morfology Index (MI) : 70%

DIAGNOSIS BANDING

Morbus Hansen tipe


LL

Neurofibromatosis
tipe I

Kaposi Sarkoma

Sarkoidosis kutaneus

Tinea Korporis

RESUME
Pasien laki-laki usia 33 tahun, pekerjaan petani,
alamat Aceh Besar
Terdapat bercak mati rasa pada kanan sejak 4
tahun
Kurang rasa pada wajah, tangan dan kaki, disertai
kulit kering, alis rontok, kulit kering, dan perubahan
pada bentuk wajah
Terdapat anestesi glove and stocking, nodul
infiltrat di wajah, facies leonina, madarosis,
penebalan cuping telinga, dan hiposmia
Terdapat penebalan N.Aurikularis magnus dextra
BTA : BI = +1 ; MI = 70%

DIAGNOSIS

MORBUS HANSEN TIPE LL

TATA LAKSANA
FARMAKOTERAPI

MDT MB Bulan-1
Neurodex tab 1x1
Gabapentin 3x300mg
Mecobalamin 2x500mg
Soft U Derm

NONFARMAKOTERAPI
Menjelaskan kepada
pasien :
o Tata cara konsumsi obat
o Minum obat rutin (jangan
putus obat)
o Efek samping obat
o Menggunakan pelindung diri

ANALISA KASUS

o Bercak mati rasa di


kaki kanan, dan
kurang rasa di wajah,
tangan dan kaki
o Hiposmia

Kasus

Teori

Mati rasa disebabkan


infeksi M.leprae yang
berakibat terjadinya
demielinisasi serabut saraf
epidermal.
Hipoestesi pada wajah
ditemukan pada >30%
pasien MH tipe MB
Infeksi M.leprae juga
menyerang reseptor
olfaktorius, terutama pada
stadium lanjut

ANALISA KASUS
o Kepala : perubahan
struktur wajah
o Eksremitas : anestesi
glove and stocking,
patch hiperpigmentasi
o Pembesaran
N.Aurikularis magnus
dextra

Kasus

o Pada tipe LL, gagalnya


imunitas seluler
menyebabkan basil
meluas diseminata ke
multi organ
o Parese trunkus saraf
dan kerusakan serabut
saraf C perlahan
menyebabkan lesi
anestesi/hipostesi
o Penebalan saraf
biasanya pada saraf
dekat permukaan kulit,
karena temperatur lebih
dingin

Teori

ANALISA KASUS
o BTA +1 ; MI 70%
Terapi :
o MDT MB bulan-1
o Neurodex 1x1
o Gabapentin
3x300mg
o Mecobalamin
2x500mg
o Soft U Derm
Kasus

Ada tipe LL, biasanya


ditemukan BI >+3 dan
MI >70%
WHO :
o MH tipe MB
diberikan terapi
MDT (Multidrug
Therapy) selama
12 bulan

Teori

MORBUS HANSEN
Penyakit
granulomatosa
kronis

Penyebab :
Mycobacterium leprae

Morbus
Hansen
Merupakan bakteri
Menyukai
tahan asam (BTA),
lingkungan sejuk
obligat intraseluler
( suhu 33oC)

EPIDEMIOLOGI
Di dunia, angka
kejadian MH stabil
di angka 500.000
kasus baru per
(2)
tahun. (2)

Di Indonesia,
tahun 2011
terdapat 23.186
kasus, dan
prevalensi 8,3 per
100.000 penduduk.
(4)
(4)

Di Aceh, dari 20082012 terdapat 470


kasus MH tipe MB
dan prevalensi 0,8
per 10.000
(5)
penduduk (5)

TT

BT

BL

BB

LL

PATOFISIOLOGI
Multiplikasi
bakteri

M.Leprae

Kegagalan
imunitas
seluler

Manisfestasi
klinis

Destruksi
pada
serabut saraf

Pausibasiler (PB)

Multibasiler (MB)

Tipe MH
TT

BT

BB

BL

LL

Lesi

1-3

Sedikit

Lebih banyak,
asimetris

Banyak

Sangat banyak,
simetris

BTA

Negatif

Neg/+1

+2

+3

+4

Tes lepromin

+3

+2

Negatif

Histologi

Jumlah epitel berkurang, destruksi saraf, tampak


sarcoid-like granuloma

Histiosit meningkat, foam cell,


xanthoma-like granuloma

Penebalan saraf

Biasanya 1 saraf

> 1 saraf

Distribusi

Unilateral atau bilateral asimetris

Bilateral simetris

Bercak

Kering, kasar, batas tegas

Halus, mengkilap, batas tidak tegas

Anestesi

Jelas

Tidak jelas

Tata laksana

TERIMA KASIH