Vous êtes sur la page 1sur 41

PERENCANAAN

CAMPURAN
BERASPAL PANAS

Campuran beraspal atau beton aspal adalah suatu


kombinasi campuran antara agregat dan aspal, dengan
atau tanpa bahan tambahan. Dalam campuran
beraspal,
agregat
berperan
sebagai
tulangan
sedangkan aspal berperan sebagai pengikat atau lem
antar partikel agregat. Sifat-sifat mekanis dalam
campuran beraspal diperoleh dari friksi dan kohesi dari
bahan-bahan pembentuknya, friksi agregat diperoleh
dari ikatan antar butir agregat (inter-locking), dan
kekuatannya
tergantung
pada
gradasi,
tekstur
permukaan, bentuk butiran dan ukuran agregat
maksimum yang digunakan. Sedangkan sifat kohesinya
diperoleh dari sifat-sifat aspal yang digunakan

Beberapa jenis campuran aspal panas yang


umum digunakan di Indonesia, antara lain :
- Lapis Tipis Aspal Pasir (Sand Sheet. SS)
Kelas A dan B
Lapis Tipis Aspal Pasir (Latasir) yang selanjutnya
disebut SS, terdiri dari dua jenis campuran, SS-A
dan SS -B. Pemilihan SS-A dan SS-B tergantung
pada tebal nominal minimum.
Sand Sheet
biasanya
memerlukan penambahan filler agar
memenuhi kebutuhan sifat-sifat yang disyaratkan

Lapis Tipis Aspal Beton (Lataston) yang


selanjutnya disebut HRS, terdiri dari dua
jenis campuran, HRS Pondasi (HRS Base) dan HRS Lapis Aus (HRSWearing
Course, HRS-WC) dan ukuran maksimum
agregat masing masing campuran
adalah 19 mm. HRS-Base mempunyai
proporsi fraksi agregat kasar lebih besar
daripada HRS - WC

Lapis Aspal Beton (Laston) yang selanjutnya


disebut AC, terdiri dari tiga jenis campuran, AC
Lapis Aus (AC-WC), AC Lapis Antara (ACBinder Course, AC-BC) dan AC Lapis Pondasi (ACBase) dan ukuran maksimum agregat masingmasing campuran adalah 19 mm, 25,4 mm, 37,5
mm. Setiap jenis
campuran
AC
yang
menggunakan bahan Aspal Polimer atau
Aspal dimodifikasi dengan Aspal Alam atau
Aspal
Multigrade
disebut
masing masing
sebagai AC-WC Modified, AC-BC Modified, dan
AC-Base Modified
5

Perencanaan pekerjaan campuran


beraspal panas ini mencakup
pembuatan rancangan campuran,
bertujuan untuk mendapatkan resep
campuran dari bahan atau material
yang terdapat disuatu lokasi sehingga
dihasilkan campuran yang memenuhi
spesifikasi campuran yang ditetapkan
Komposisi bahan dalam campuran
beraspal panas terlebih dahulu harus
direncanakan se-hingga setelah
terpasang diperoleh lapisan
perkerasan beraspal yang memenuhi
kriteria
7

1. Stabilitas yang cukup, yaitu mampu mendukung beban lalulintas yang melewatinya tanpa mengalami deformasi
permanen dan deformasi plastis selama umur rencana
2. Durabilitas atau keawetan yang cukup , yaitu mampu
menahan keausan akibat pengaruh cuaca, iklim, dan gesekan
antara roda kendaraan dengan permukaan perkerasan
3. Kelenturan atau fleksbilitas yang cukup , yaitu mampu
menahan lendutan akibat beban lalu-lintas dan pergerakan
dari pondasi atau tanah dasar tanpa mengalami retak
4. Cukup kedap air (impermeabilitas) ), yaitu mampu menahan
rembesan air yang masuk ke lapis pondasi di bawahnya
5. Kekesatan (skid resistance) yang cukup , yaitu cukup kesat
pada kondisi basah, sehingga tidak membahayakan pemakai
jalan (kendaraan tidak tergelincir atau selip)
6. Ketahanan terhadap kelelahan (fatique resistance) ), yaitu
mampu menahan beban lalu lintas berulang tanpa terjadi
kelelahan berupa alur selama umur rencana
7. Kemudahan kerja (workability) ), yaitu mudah dilaksanakan,
dihamparkan, dan dipadatkan
8

Untuk dapat memenuhi ketujuh


kriteria tersebut, maka sebelum
pekerjaan dilaksanakan,
perlu
terlebih dahulu dibuat rancangan
campurannya
atau
Formula
Campuran Rencana (FCR) atau
Design Mix Formula (DMF) sebelum
dijadikan Formula Campuran Kerja
(FCK) atau Job Mix Formula (JMF).

1). Ukuran butir

2).
3).
4).
5).
6).
7).
8).

Gradasi
Kebersihan
Kekerasan
Bentuk partikel
Tekstur permukaan
Penyerapan
Kelekatan terhadap aspal
10

Langkahlangkah sebagai berikut


1. Data

hasil pengujian bahan : aspal, agregat,


dan bahan pengisi (bila diperlukan), termasuk
data gradasi masing-masing jenis agregatnya
2. Penyesuaian gradasi campuran/gabungan
3. Penentuan gradasi agregat gabungan
4. Hitung perkiraan kadar aspal rencana (Pb).
5. Lakukan pembuatan benda uji dalam
percobaan uji Marshall
6. Lakukan pengujian dengan alat Marshall

11

7. Lakukan pengujian untuk memperoleh berat jenis


maksimum campuran (Gmm) pada kadar aspal
tertentu
8. Kemudian hitung besaran volumetrik dari campuran
9. Untuk mencari nilai VIM pada kepadatan mutlak,
buat minimum 3 contoh uji tambahan dengan kadar
aspal, satu kadar aspal pada VIM 6 %
10. Gambarkan grafik hubungan antara kadar aspal
dengan hasil pengujian
11. Pada grafik tersebut gambarkan rentang kadar
aspal yang memenuhi persyaratan
12. Periksa kadar aspal rencana yang diperoleh,
biasanya berada dekat dengan titik tengah dari
rentang kadar aspal yang memenuhi seluruh
persyaratan
13. Pastikan bahwa campuran memenuhi seluruh
kriteria dalam persyaratan
14. Pastikan rentang kadar aspal campuran yang
memenuhi seluruh kriteria harus me-lebihi 0,6 %
sehingga memenuhi toleransi produksi yang cukup
realistis (toleransi penyimpangan kadar aspal
selama pelaksanaan adalah 0,3 %)
12

13

Mulai

Evaluasi jenis
campuran dan
persyaratannya

Kesesuaian
mutu bahan dengan
spesifikasi

tidak

Ganti bahan

tidak

Perbaikan alat
atau ganti alat uji

tidak

Perbaikan gradasi,
jika perlu ganti
bahan

ya

Kesesuaian
peralatan dengan standar
pengujian
ya

Pembuatan FCR untuk mengetahui


karakteristik campuran dari bin dingin

Kesesuaian
karaktristik campuran
dengan spesifikasi

14

ya

Kalibrasi bukaan bin dingin dan menentukan


bukaannya. Selanjutnya pengambilan contoh
dari bin panas dan diuji gradasinya
Penentuan komposisi tiap bin sesuai gradasi rencana,
selanjutnya pembuatan FCR untuk mengetahui
karakteristik campuran. Hasil yang diperoleh dievaluasi
untuk menentukan kadar aspal optimum
Uji coba pencampuran di AMP untuk melihat
kesesuaian operasional dengan rencana
(sebelumnya periksa kondisi AMP)

Sesuai dengan rencana

tidak
ya

Jika perlu atau jika


terjadi banyak
overflow lakukan
perubahan gradasi

Uji coba pemadatan di lapangan untuk


menentukan jumlah lintasan pemadat.

Campuran beraspal
mudah dipadatkan

tidak

Perubahan gradasi atau


penambahan pasir pada
proporsi yang diijinkan

ya

Pengesahan FCR
menjadi FCK
(Selesai)
15

Penggabungan gradasi agregat


dalam campuran rencana dapat
dilakukan dengan 2 cara yaitu cara
analitis dan cara grafis, baik untuk
penggabungan 2 fraksi, 3 fraksi atau
lebih.

16

Tahapan penggabungan gradasi agregat cara


grafis dengan diagonal untuk 3 fraksi agregat
adalah sebagai berikut:
Buat kotak grafik dengan perbandingan panjang
dan lebar 2 : 1, seperti diperlihatkan pada
Gambar L.5.
Bagi sumbu vertikal menjadi 100 bagian dengan
rentang 10 bagian, dari 0 sampai 100 dalam
satuan persen. Tandai sumbu vertikal sebagai
persen lolos saringan.
Tarik garis diagonal antara titik 0 sebelah bawah
kiri ke sudut kanan atas
17

Plotkan titik-titik yang menunjukkan tengah titik


kontrol gradasi yang disyaratkan sesuai dengan
persen lolos masing-masing bahan.
Tarik garis dari titik-titik di atas tegak lurus
sejajar dengan garis tepi.
Cantumkan masing-masing ukuran butir di bawah
ujung garis vertikal pada perpotong-annya
dengan batas horisontal kotak bagian bawah.
Plotkan gradasi masing-masing fraksi agregat A, B
dan C sesuai dengan persentase lolos dan
hubungkan titik-titik tersebut
Tarik garis s yang memotong garis fraksi A dan B
sama panjang pada bagian atas dan bawah dari
kotak (x1 = x2)

18

Beri tanda perpotongan garis s dengan diagonal


sebagai titik R.
Ulangi penarikan garis sehingga jarak antara
perpotongan garis dengan fraksi gradasi A (y1)
sama panjang dengan jumlah jarak yang
memotong fraksi gradasi B dan fraksi gradasi C,
sehingga y1 = y2 + y3 ;karena y3 = 0 maka y1 =
y2; Tandai titik perpotongan antara garis diagonal
dengan garis ABC tsb sebagai titik S.
Tarik garis horisontal dari titik R dan S masingmasing ke sebelah kiri sehingga memotong tepi
kotak di R dan S
Proporsi fraksi agregat A dan B dapat ditentukan
dengan melihat bagian atas, dipe-roleh proporsi
fraksi agregat A = 50%, bagian tengah sebagai
proporsi fraksi agregat B = 43% dan bagian
bawah sebagai proporsi fraksi agregat C = 7%.
19

Periksa apakah proporsi yang diperoleh tersebut


sudah benar atau tidak dengan cara perhitungan
dan persyaratan.
Periksa apakah proporsi yang diperoleh tersebut
sudah benar atau tidak dengan cara perhitungan
dan persyaratan. Jika tidak proporsi diubah
kembali dengan cara coba-coba

20

Gambar. L5

21

Sebagai contoh diperlihatkan hasil


penggabungan 3 fraksi dengan cara
analitis sebagai berikut ini

22

Buat gambar grafik pembagian butir


yang akan membantu mengevaluasi
apabila
dijumpai
gradasi
yang
menyimpang
Dari
hasil
perhitungan
ternyata
diperoleh komposisi gradasi berada di
atas titik kontrol gradasi. Karena itu
dapat
dicoba
dengan
mengatur
proporsi
masing-masing
proporsi
dengan cara coba-coba.

23

Kadar aspal tengah dapat ditentukan dengan


mempergunakan rumus/persamaan :
Pb = 0,035 (%CA) + 0,045 (%FA) + 0,18 (%FF) +
k
dimana :
Pb = kadar aspal rencana awal, adalah % terhadap
berat campuran
CA = agregat kasar, adalah % terhadap agregat
tertahan # no.8
FA = agregat halus, adalah % terhadap agregat lolos
# no.8 dan tertahan # no. 200
FF = bahan pengisi (bila perlu)
K = Konstanta untuk Laston : 0,5 - 1,0, dan
Lataston : 2,0 - 3,0.
Kadar aspal yang diperoleh dibulatkan mendekat
angka 0,5 % yang terdekat
24

Buat campuran pada tiga kadar aspal


di atas dan dua kadar di bawah nilai Pb
dengan perbedaan masingmasing 0,
5%;
Jika hasil perhitungan diperoleh 5,7%
maka dibulatkan menjadi 5,5% dan
buat contoh uji pada kadar aspal 4,5 %,
5,0 %, 5,5%, 6%, 6,5%, 7%
25

Lakukan pengujian berat jenis


maksimum campuran (Gmm) pada
perkiraan kadar aspal Pb sesuai
AASHTO T-209-1990
Lakukan pengujian Marshall untuk
memperoleh : kepadatan, stabilitas,
kelelehan (flow), hasil bagi Marshall
persentase stabilitas sisa setelah
perendaman

26

Berat Jenis Curah gabungan agregat


ditentukan sebagai berikut :
Gsb

P1 P2 ....Pn

P1
P
P
2 .... n
G1 G2
Gn

dimana :
Gsb
= Berat Jenis bulk/curah total agregat

P1, P2, Pn

= persen berat masing-masing fraksi agregat 1, 2, n

G1, G2, Gn = berat jenis bulk/curah masing-masing fraksi


agregat 1, 2, n

27

Berat Jenis Semu (Gsa) dihitung


dengan formula :
P1 P2 ....Pn
G sa
Pn
P1
P2

....
G1 G 2
Gn
dimana :
P1, P2, Pn
G1, G2, Gn

Gsa
= Berat Jenis Semu total agregat
= persen berat semu masing-masing fraksi agregat 1, 2, n
= Berat jenis Semu masing-masing fraksi agregat 1, 2, n.

28

Gse

Pmm Pb

Pmm
Pb

Gmm
Gb

dimana :
Gse = Berat Jenis efektif agregat
Pmm = Persen total campuran lepas/persen terhadap berat total
campuran
Pb
= Kadar aspal, persen aspal terhadap berat total campuran
Gmm = Berat jenis maksimum campuran (tidak ada rongga udara),
(SNI 03-6757-2002)
Gb = Berat jenis aspal
29

Gmm

Pmm
Ps
Pb

GSe
Gb

dimana :
Gmm = Berta jenis maksimum
Pmm = Persen berat terhadap total campuran (= 100 %)
Ps
= Kadar agregat total, persen agregat terhadap berat total
campuran
Pb
= Kadar aspal total, persen aspal terhadap berat total campuran
Vs
= Volume efektif agregat
Vb
= Volume aspal
Gse
= Berat jenis efektif agregat
Gb
= Berat jenis aspal
30

Pbabs

(GSe Gsb) xGbt

x100
Gse xGsb

dimana :
Pbabs = Banyaknya aspal yang terserap oleh
agregat
/penyerapan aspal
Gse
= Berat jenis efektif agregat
Gsb
= Berat jenis bulk/curah agregat
Gbt
= Berat jenis aspal
31

Pba
Pbe Pb (
) xPs
100

dimana :
Pbe

= Kadar aspal efektif, persen tehadap berat total


campuran
Ps
= Persen agregat tehadap berat total campuran
Pb
= Kadar aspal total, persen berat total campuran
Pba = Aspal yang terserap/penyerapan aspal, persen
terhadap berat agregat

32

Gmb xPs
VMA 100 (
)
Gsb
dimana :
Gsb
= Berat Jenis curah agregat
Ps
= Kadar/kandungan agregat, persen
berat total campuran
Gmb = berat jenis curah campuran padat
(ASTM D 2726)
33

Gmb
100
VMA 100
x
100
Gsb (100 Pb)

Dimana
VMA = Rongga diantara Mineral Agregat,
Persen volume bulk
Gsb = Berat jenis bulk agregat
Gmb = berat jenis bulk campuran padat
(AASHTO T-166)
Pb = Kadar aspal, persen total campuran
34

Gmm xGmb
Va Pa 100
Gmm
dimana :
Pa =Va= VIM = Rongga udara dalam campuran padat, persen dari total volume
Gmm = Berat Jenis maksimum campuran (tidak
ada rongga udara)
Gmb = Berat jenis curah campuran padat

35

100(VMA Va )
VFA
VMA
dimana :
VFA = Rongga terisi aspal, persen dari VMA
VMA = Rongga dalam agregate mineral (persen
volume curah)
Pa = Rongga udara dalam campuran padat,
persen (VIM)

36

Gambarkan grafik hubungan kadar aspal


dengan parameter Marshall, sbb :
Kepadatan, Stabilitas, Kelelehan, Hasil bagi
marshall, VFA, VMA, VIM.
Buat min. 3 contoh uji tambahan dengan
kadar aspal berikut; satu kadar aspal pada
VIM 6% dan dua kadar aspal terdekat yang
memberikan VIM diatas dan dibawah 6%
dengan perbedaan kkadar aspal masingmasing 0.5%. Masing2 replika kadar aspal
dibuat minimum 2 buah. Padatkan sampai
mencapai kepadatan mutlak

37

Untuk masing2 parameter sifat


campuran beraspal gambarkan
batas-batas spesifikasinya
Pada grafik tersebut gambarkan
rentan kadar aspal yang memenuhi
persyaratan spesifikasi
Tentukan bahwa kadar aspal rencana
berada dekat atau pada titik tengah
dari rentan kadar aspal yang
memenuhi seluruh parameter yang
disyaratkan
38

Pastikan bahwa kadar aspal campuran yang


memenuhi seluruh kriteriamendekati 6%
atau lebih, sehingga memenuhi toleransi
produksi yang cukup realistis.
Buat 6 benda uji Marshall pada kadar aspal
optimum. Untuk 3 benda uji pertama
dilakukan perendaman dalam air pada suhu
60c selama 24 jam dan lakukan pengujian
Pd.M-06-1997-03. Sisanya dilakukan dengan
pengujian marshall sesuai dengan SNI 062489-1991
Pastikan bahwa campuran yang digunakan
memenuhi seluruh kriteria dalam spesifikasi.

Gambar Alat AMP


(Aspahal Mixing Plant)

41

TERIMA KASIH
42