Vous êtes sur la page 1sur 10

AKAD RAHN

Pengertian dan Dasar Hukum


Transaksi hukum gadai dalam fikih Islam disebut ar-rahn. Ar-
rahn adalah suatu jenis perjanjian untuk menahan suatu barang
sebagai tanggungan hutang. Pengertian ar-rahn dalam bahasa
Arab adalah ats-tsubut wa ad-dawam yang berarti tetap dan
kekal. Pengertian tetap dan kekal yang dimaksud merupakan
makna yang tercakup dalam kata al-habsu yang berarti menahan.
Karena itu secara bahasa kata ar-rahn berarti menjadikan
Suatu barang yang bersifat materi sebagai pengikat uang.
[1]Adapun menurut pengertian syara adalah : menjadikan barang
yang mempunyai nilai harta menurut pandangan syara sebagai
jaminan hutang, hingga orang yang bersangkutan boleh mengambil
hutang atau ia bisa mengambil sebagian (manfaat) barang itu.
[2]Ulama Syafiiyyah mendefinisikan akad ar-rahn seperti berikut:
menjadikan barang sebagai jaminan utang dan barang itu digunakan
Untuk membayar utang tersebut ketika pihak yang berutang tidak bisa
membayar utang tersebut.
Ulama Hanabilah mendefinisikan ar-rahn seperti
berikut : harta yang dijadikan sebagai jaminan utang ketika pihak yang
menanggung utang tidak bisa melunasinya, maka utang tersebut dibayar
dengan menggunakan harga hasil penjualan harta yang dijadikan jaminan
tersebut.
[1] Zainuddin Ali, Hukum Gadai Syari'ah, (Jakarta : Sinar Grafika, 2008).
Halaman 1.
[2] Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, (Bandung : PT. Almaarif, 1987). Halaman
150.
Adapun dasar hukum disyariatkannya akad
gadai dalam Islam didasari dari Al-Quran
surah Al-Baqarah : 283,

Artinya : Jika kamu dalam perjalanan


(danbermuamalah tidak secara tunai)
sedang kamu tidak memperoleh seorang
penulis, maka hendaklah ada barang
tanggungan yang dipegang (oleh yang
berpiutang)....
Adapun dalil dari hadits yaitu[6] :




:

)



(

Artinya : Dari Anas, ia berkat, Nabi SAW pernah
menggadaian sebuah baju besi kepada seorang
Yahudi di Madinah dan Nnabi SAW mengambil
gandum dari si Yahudi itu untuk keluarganya. (HR.
Ahmad, Bukhari, Nasai dan Ibnu Majah).
[6] Faishal bin Abdul Aziz, Nailul Authar, (Surabaya : PT Bina
Ilmu, 2000). Halaman 1771.
Dari dalil-dalil yang didapatkan, ulama sepakat hukum ar-rahn adalah
boleh (jaiz), tidak wajib. Karena ar-rahn adalah jaminan utang, oleh
karena itu tidak wajib. Adapun bunyi ayat farihaanum maqbuudhah
(maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang), perintah
tersebut bersifat irsyad ( pengarahan kepada yang lebih baik) bagi
kaum mukminin, bukan perintah yang wajib. Hal ini berdasarkan bunyi
ayat setelahnya yang artinya akan tetapi jika sebagian kamu
mempercayai yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu
menunaikan amanatnya (utangnya

Rahn dalam syariat memiliki beberapa manfaat, yaitu[8] :


- Menjaga kemungkinan rahin untuk lalai atau bermain-main
dengan hutangnya
- Memberikan kemanan bagi murtahin.

[8] Muhammad Syafii Antonio, Bank Syari'ah, (Jakarta : Gema Insani,


2001). Halaman 129.
Rukun dan Syarat
ar-rahn juga memiliki rukun dan syarat yang
harus dipenuhi agar akad ar-rahn sah dan
mengikat bagi pihak-pihak yang
melakukanakad. Adapun rukun ar-rahn yaitu:
a. Rahin (pihak yang menggadai)
b. Murtahin (pihak yang menerima gadai)
c. Marhun (barang yang digadaikan)
d. Marhun bih (tanggungan utang)
Adapun syarat-syarat akad rahn sebagai berikut[9] :
a. Syarat aqid (rahin dan murtahin)
Pihak yang berakad mestilah memenuhi syarat agar akad rahn yang dilakukan
berlaku sah dan mengikat, adapun syaratnya yaitu ahliyah yakni memiliki
kelayakan, kepatutan dan kompetensi untuk melakukan akad. Para pihak harus
berakal dan mumayyiz. Namun tidak syaratkan baligh, selama ia mumayyiz. Jadi
anak yang belum baligh sah melakukan akad rahn, namun statusnya
digantungkan kepada persetujuan dan pengesahan pihak wali
b. Syarat marhun bih
Marhun bih adalah tanggungan utang pihak rahin kepada pihak marhun. Syarat-
syaratnya yaitu :
- Marhun bih harus merupakan hak yang wajib diserahkan kepada
pemiliknya, maksudnya marhun bih harus berupa utang yang ditanggung yang
wajib dibayar dan diserahkan oleh rahin
- Marhun bih harus berupa utang yang dimungkinkan untuk dibayar dan
dipenuhi dari marhun, karena tujuan menerima gadai adalah untuk mendapatkan
jaminan pembayaran utang. Oleh karena itu jika marhun tidak mampu mengganti
pembayaran utang, maka akad rahn tidak sah.
- Hak yang menjadi marhun bih harus diketahui dengan jelas dan pasti .
c. Syarat marhun
Marhun adalah harta yang ditahan oleh pihak murtahin untuk
mendapatkan pemenuhan atau pembayaran haknya yang menjadi
marhun bih. Jika marhun sama jenisnya dengan marhun bih, maka
pelunasan utang dapat langsung diambil dari marhun. Jika berbeda
jenis maka pelunasan dilakukan dengan menjual marhun terlebih
dahulu untuk diambil harganya dan mengembalikan kelebihan harga
itu (jika ada) kepada rahin.
Qabdhu (serah terima marhun)
Selain syarat-syarat yang harus dipenuhi pada rukun-rukunnya, akad
rahn juga mempunyai syarat lain yaitu Qabdhu, penyerahterimaan
marhun kepada murtahin. Hal ini didasari oleh bunyi ayat yang
artinya maka hendaklah ada berang tanggungan yang dipegang
oleh yang berpiutang (Al-Baqarah : 283)
Qabdhu baru dianggap sah jika memenuhi syarat sebagai berikut :
- Qabdhu harus atas izin dari pihak rahin,
- Ketika dilakukan qabdhu, kedua pihak harus memiliki ahliyah.
Hukum-Hukum Gadai
Akad rahn ada yang sah dan ada yang tidak sah. Akad rahn yang sah adalah
akad yang memenuhi syarat-syarat akad rahn, sedangkan akad yang tidak sah
adalah akad yang tidak terpenuhi syaratnya.
Pertambahan Gadai
Menambah marhun atau marhun bih dalam akad rahn dijelaskan dseperti
berikut.
Menambah marhun adalah memberikan lagi barang gadaian disamping barang
gadaian yang ada dengan utang yang sama. Hal ini hukumnya bolleh menurut
Jumhur Ulama, karena itu merupakan bentuk tambahan penguat jaminan yang
merupakan tujuan inti dari akad rahn.
Sedangkan tambahan utang atas marhun yang sama, maksudnya rahin
meminjam utang lagi dengan barang gadai yang sama, terdapat perbedaan
pendapat tentang kebolehannya : Imam Hanafi dan Ulama Hanabilah
berpendapat hal tersebut tidak diperbolehkan, karena tambahan seperti itu
merupakan akad rahn baru, yang berarti menggadaikan lagi barang sudah
digadaikan. Sementara itu Imam Malik, Abu Yusuf, Abu Tsur berpendapat hal itu
boleh. Karena tambahan dalam marhun bih berarti menghapus akad rahn yang
lama dan mengadakan akad rahn yang baru dengan jumlah marhun bih yang
baru juga.
5. Berakhirnya Akad Gadai
Akad rahn selesai dan berakhir karena beberapa hal, diantaranya :
a. Diserahkannya marhun kepada pemiliknya. Menurut jumhur
selain Syafiiyyah, jika marhun diserahkan kepada pemiliknya
maka jaminan penguat utang akan hilang sehingga akad rahn
menjadi batal.
b. Terlunasinya seluruh marhun bih.
c. Penjualan marhun secara paksa yang dilakukan oleh rahin
atas perintah hakim, atau yang dilakukn oleh hakim ketika rahin
menolak menjual marhun. Apabila marhun dijual dan utang
terlunasi dengan harga penjualan itu,maka akad rahn telah selesai.
d. Terbebasnya rahin dari utang yang ada wlau dengan cara
apapun.
e. Binasanya marhun
f. Marhun ditasharufkan oleh salah satu pihak seperti
meminjamkannya, menjualnya atau menyedekahkannya.