Vous êtes sur la page 1sur 30

ABSES OTAK PADA ANAK DENGAN

PENYAKIT JANTUNG BAWAAN

Oleh :
Mahardhika KartikandiniG99161058
Yurike Rizkhika G99161113
Anthony Johan G99161018

Pembimbing : dr. Rachmi Fauziah R,


Sp.Rad
LATAR BELAKANG
Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah penyakit dengan
kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi
jantung yang dibawa dari lahir yang terjadi akibat adanya
gangguan atau kegagalan perkembangan struktur jantung pada
fase awal perkembangan janin

Banyak komplikasi yang terjadi, salah satu yang tersering adalah


otak.

Komplikasi sering muncul dalam gejala tidak khas sehingga sering


terlambat ditangani

maka penegakan diagnostik juga harus tepat dan didukung oleh


pemeriksaan penunjang yang baik, salah satunya adalah
Tujuan
Mengetahui struktur anatomi otak.
Mengetahui definisi, jenis, dan komplikasi dari
penyakit jantung bawaan.
Mengetahui manifestasi dan penegakkan
diagnosis komplikasi penyakit jantung bawaan
pada otak dengan pemeriksaan radiografi.
Manfaat
Memberikan pengetahuan tentang struktur anatomi
otak.
Memberikan pengetahuan tentang definisi, jenis,
dan komplikasi dari penyakit jantung bawaan.
Memberikan pengetahuan tentang manifestasi dan
penegakkan diagnosis komplikasi penyakit jantung
bawaan pada otak dengan pemeriksaan radiografi.
TINJAUAN PUSTAKA
Penyakit Jantung Bawaan
PJB ASIANOTIK PJB SIANOTIK
Penyakit jantung bawaan (PJB) non sianotik adalah
kelainan struktur dan fungsi jantung yang dibawa
lahir yang tidak ditandai dengan sianosis.
(1)PJB non sianotik dengan lesi atau lubang di
jantung sehingga terdapat aliran pirau dari kiri ke
kanan, misalnya ventricular septal defect (VSD),
atrial septal defect (ASD) dan patent ductus
arteriosus (PDA)
(2)2) PJB non sianotik dengan lesi obstruktif di
jantung bagian kiri atau kanan tanpa aliran pirau
Penyakit Jantung Bawaan
PJB ASIANOTIK PJB SIANOTIK

Pada PJB sianotik didapatkan kelainan struktur dan fungsi


jantung sedemikian rupa sehingga sebagian atau seluruh darah
balik vena sistemik yang mengandung darah rendah oksigen
kembali beredar ke sirkulasi sistemik.
(1) yang dengan gejala aliran darah ke paru yang berkurang,
misalnya Tetralogi of Fallot (TF) dan Pulmonal Atresia (PA)
dengan VSD
(2) yang dengan gejala aliran darah ke paru yang bertambah,
misalnya Transposition of the Great Arteries (TGA) dan
Common Mixing (Roebiono, 2009).
menyebabkan aliran darah ke paru yang
meningkat. resistensi paru meningkat
Sindrom tekanan a. pulmonal & ventrikel kanan
meningkat

KOMPLIKASI
Eisenmeng Jika tekanan di ventrikel kanan melebihi
er. tekanan di ventrikel kiri terjadi pirau
terbalik dari kanan ke kiri sehingga anak
mulai sianosis.

anak menjadi lebih biru dari kondisi


Serangan sebelumnya, tampak sesak bahkan dapat
timbul kejang. Kalau tidak cepat
sianotik. ditanggulangi dapat menimbulkan
kematian.

Abses diakibatkan adanya hipoksia dan


melambatnya aliran darah di otak.
otak.
Serebrum (Otak besar)
Serebrum adalah bagian terbesar dari otak
Terdiri atas : Hemisfer kanan & kiri. Masing-masing
hemisfer terdiri dari empat lobus. Bagian lobus yang
menonjol disebut gyrus dan bagian lekukan yang
menyerupai parit disebut sulkus.
Keempat lobus tersebut masing-masing adalah lobus
frontal, lobus parietal, lobus oksipital dan lobus temporal

Lobus Lobus :
Lobus Lobus
tempora tempora
frontalis parietal
lis lis
Lobus menerima impuls dari serabut
Parietal saraf sensorik thalamus yang
berkaitan dengan segala bentuk
sensasi dan mengenali segala
jenis rangsangan somatik
Lobus terdapat area motorik untuk
Frontalis mengontrol gerakan otot-
otot, gerakan bola mata; area
broca sebagai pusat bicara;
dan area prefrontal (area
asosiasi) yang mengontrol
aktivitas intelektual
Lobus kemampuan pendengaran,
temporali pemaknaan informasi dan
s bahasa dalam bentuk suara
Lobus Berhubungan dengan
Oksipitali rangsangan visual, sehingga
s mampu melakukan interpretasi
terhadap objek yang ditangkap
Serebelum (Otak Kecil)
komponen terbesar kedua otak
mengontrol banyak fungsi otomatis otak, diantaranya:
mengatur sikap atau posisi tubuh, mengontrol keseimbangan,
koordinasi otot dan gerakan tubuh.
gerakan otomatis yang dipelajari seperti gerakan mengendarai
mobil, gerakan tangan saat menulis, gerakan mengunci pintu
dan sebagainya
Batang Otak
Berada di dalam tulang tengkorak atau rongga
kepala bagian dasar dan memanjang sampai
medulla spinalis.
Batang otak bertugas untuk mengontrol tekanan
darah, denyut jantung, pernafasan, kesadaran,
serta pola makan dan tidur.
Bila terdapat massa pada batang otak maka
gejala yang sering timbul berupa muntah,
kelemahan otat wajah baik satu maupun dua sisi,
kesulitan menelan, diplopia, dan sakit kepala
Mesenceph Saraf kranial III dan IV
alon mengontrol respon
penglihatan, gerakan
mata, pembesaran
pupil mata, mengatur
gerakan tubuh dan
pendengaran
Pons Saraf kranial V
Medula CN IX, X, dan XII
Oblongata disosiasikan dengan
medulla, sedangkan
CN VI dan VIII berada
pada perhubungan
dari pons dan medulla
Pada PJB sianotik didapatkan kelainan struktur dan fungsi jantung
sedemikian rupa sehingga sebagian atau seluruh darah balik vena
sistemik yang mengandung darah rendah oksigen kembali beredar ke
sirkulasi sistemik.
(1)yang dengan gejala aliran darah ke paru yang berkurang, misalnya
Tetralogi of Fallot (TF) dan Pulmonal Atresia (PA) dengan VSD
(2)(2) yang dengan gejala aliran darah ke paru yang bertambah,
misalnya Transposition of the Great Arteries (TGA) dan Common
Mixing (Roebiono, 2009).
Jarang, umumnya dilakukan
pada fraktur

X-Ray

Lebih sensitive dan Pemeriks


mampu memeriksa
aan
jaringan lunak dan CT Jarang, umumnya
jaringan saraf lebih
MRI radiograp Scan dilakukan pada fraktur
detail dari berbagai hy untuk
posisi dan potongan kepala

Angiog
raphy

Pencitraan pembuluh darah


Komplikasi PJB Pada Otak

Atrofi Hipoksia Abses Otak

Gangguan
Gangguan
perkembang stroke
tingkah laku
an saraf
Abses
Serebri
Penyebaran infeksi
melalui :
1.Struktur yang
berdekatan
sinusitis
2.Hematogen
Perubahan aliran
Abses serebri adalah reaksi piogenik yang
darah right-to-left
berfokus pada jaringan otak shunt pada PJB
sianotik
PATOGENESIS

pembentuka
cerebritis n kapsul
awal (1-4 awal (11-14
hari) hari)

cerebritis pembentuka
akhir (4-10 n kapsul
hari) akhir (14
hari)
1) Stadium cerebritis
dini
reaksi radang local dengan
infiltrasi polymofonuklear
leukosit, limfosit, plasma sel,
dan sel-sel inflamasi
Sel-sel radang pada pembuluh
darah dan mengelilingi daerah
nekrosis infeksi
2) Stadium cerebritis
lanjut
Pembentukan nanah & debris
nekrosis membesar
Fibroblast menjadi reticulum
membentuk kapsul
kolagen
Lesi membesar
3) Stadium pembentukan
kapsul dini
Pusat nekrosis mengecil
Makrofag menelan debris
Fibroblast meningkat
pembentukan kapsul
Terlihat daerah anyaman reticulum
membentuk kapsul kolagen, reaksi
astrosit otak meningkat
4) Stadium pembentukan
kapsul lanjut
Perkembangan lengkap abses
dengan :
Pusat nekrosis berisi debris dan sel
radang
Daerah tepi dari sel radang,
makrofag, fibroblast
Kapsul kolagen tebal
memudahkan deteksi Diagnosis
dini, lokalisasi
CT SCAN yang MRI
tepat, karakterisasi
MRI mampu mengenali abses
akurat, penentuan
piogenik yang lebih akurat dan
jumlah, ukuran dan spesifik
staging abses. Karakteristik :
Gambaran pada CT Scan T1WI : lesi fokal dengan
Cincin jaringan iso atau intensitas rendah, kapsul
hiperdens, biasanya ketebalan berbatas jelas
homogeny
T2WI : bagian tengah abses
Terdapat atenuasi central yang
hiperintens dan kapsul
biasanya diisi oleh cairan atau
pus sekitarnya hipointens
Densitas rendah pada sekitar Kedua karakteristik diatas
(edema vasogenik) adalah gambaran sugestif
Tampak ventrikulitis kapsul abses
Gambaran abses otak pada CT Scan Gambaran abses serebri pada CT Scan
dengan kontras pada pasien dengan
fraktur cranium depresi. Tampak abses
spatium subgaleal (SGA), abses
spatium epidural (EDA), dan abses
pada hemisfer kiri (CA). Abses diikuti
dengan edema (panah kuning), dengan
Gambar 7. Gambar kiri : gambaran lesi bulat pada lobus frontalis kiri, curiga abses (panah Gambar 8. Gambaran abses otak pada MRI potongan sagittal pada pasien
putih) pada pemeriksaan MRI kepala pada pasien 47 tahun dengan atrial fibrillation dan dengan demam pasca trauma kepala. Tampak gambaran osteomyelitis
serangan kejang pada daerah trauma (panah kuning). Tampak abses pada otak (panah
Gambar kanan : pemeriksaan MRI ulang setelah 8 minggu setelah drainase otak, merah), dengan tepi mass effect pada lobus parietalis kiri (panah putih).
menunjukkan tidak ada pengulangan abses. (Lee et al, 2011)
PENUTUP
Kesimpulan
1. Komplikasi pada otak merupakan komplikasi yang
sering terjadi pada pasien dengan penyakit
jantung bawaan terutama penyakit jantung
bawaan yang sianotik, salah satunya adalah
abses otak
2. Diperlukan pemeriksaan penunjang radiologi
untuk menetapkan diagnosis lebih dini
3. Diagnosis sedgini mungkin akan berpengaruh
terhadap kesembuhan pasien dan mencegah
komplikasi lainnya
DAFTAR PUSTAKA
Allen HD, Franklin WH, Fontana ME. Congenital heart disease: untreated and operated. Dalam: Emmanoulides
GC, Riemenschneider TA, Allen HD, Gutgesell HP, penyunting. Moss and Adams heart disease in infants,
children, and adolescents. Edisi ke-5. Baltimore: Williams & Wilkins; 1995. h. 657-64.
Bushberg JT, Seibert JA, Leidholdt EM, Boone JM. 2011. The Essential Physics of Medical Imaging. Third Edition.
Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins
Chowdhury R, Wilson I, Rofe C, Lloyd-Jones G. 2010. Radiology at a Glance. London : John Wiley & Sons.
Ellis H. 2013. Clinical Anatomy Thirteenth Edition. US : Blackwell Publishing.
Harrigan MR & Deveikis JP. 2013. Handbook of Cerebrovascular Disease and Neurointerventional Technique.
New York : Springer Sience & Business Media
Isada, Carlos M. 2010. Brain Abcess. Cleveland Clinic.
http://www.clevelandclinicmeded.com/medicalpubs/diseasemanagement/infectious-disease/brain-
abscess/ - diakses Januari 2017
Lee M, Pande RL, Rao B, Lanzberg MJ, Kwong RY. 2011. Cerebral Abscess Due to Persistent Left Superior Vena
Cava Draining Into the Left Atrium. Circulation 124:2362-4
Miller SP, McQuillen PS. 2007. Neurology of congenital heart disease: insight from brain imaging. Arch Dis Child
Fetal Neonatal Ed. 92(6): F435F437.
Moore KL dan Agur AMR. 2007. Anatomi Klinis Dasar. alih bahasa, Hendra Laksman. (Ed) Vivi Sadikin dan Virgi
Saputra. Jakarta: EGC.
Muzumdar D & Goel SJA. 2011. Brain abcess : An overview. International Journal of Surgery 9:136-144
Rollins CK,Newburger JW. 2014. Neurodevelopmental Outcomes in Congenital Heart Disease. Circulation