Vous êtes sur la page 1sur 26

ASAM SALISILAT

Pembimbing :
Lusiani Tjandra, S.Si, Apt, M.Kes

Nata Utama 12700183


Anisa Ryani Mafitri 12700194
Nailus Saadah 12700215
Indra Firismanda Dermawan 12700194
Natasya Cindy C. T. 12700258
PENDAHULUAN
2

Asam salisilat atau minyak gandapura adalah


merupakan bahan yang mempunyai berbagai
kegunaan.
Sebagai bahan obat metal salisilat merupakan
salah satu obat anti inflamasi non steroid
(NSAID) golongan salisilat.
Bahan ini dapat dibuat dalam bentuk
linimentum atau salep
Golongan utama senyawa salisilat yang dipakai
dalam pengobatan adalah asam salisilat bentuk
ester.
RUMUSAN MASALAH DAN TUJUAN
3

Rumusan Masalah
Apakah Asam salisilat mampu sebagai
terapi lini pertama pada penyakit kulit?

Tujuan
Untuk memahami kandungan dan
kegunaan dari senyawa obat Metil
salisilat.
Sifat Fisiko Kimia dan Rumus Kimia Obat
4

Asam salisilat, dikenal juga dengan 2-hydroxy-


benzoic acid atau orthohydrobenzoic acid,
memiliki struktur kimia C7H6O3 . Asam salisilat
memiliki pKa 2,97.
Bentuk makroskopik asam salisilat berupa bubuk
kristal putih dengan rasa manis, tidak berbau,
dan stabil pada udara bebas. Bubuk asam
salisilat sukar larut dalam air dan lebih mudah
larut dalam lemak. Sifat lipofilik asam salisilat
membuat efek klinisnya terbatas pada lapisan
epidermis (Sulistyaningrum K Sri dkk, 2012).
Dosis Asam Salisilat
5

Pada konsentrasi 0,5-2%, asam salisilat memiliki stabilisasi


stratum korneum yang menyebabkan efek keratoplastik.
Asam salisilat memiliki efek anti-pruritus ringan. Efek ini
dapat diamati pada konsentrasi 1-2%.
Asam salisilat menghambat biosistesis prostaglandin dan
memiliki efek anti-inflamasi pada sediaan topikal dengan
konsentrasi 0,5 - 5%.
Turunan Asam salisilat Methyl salicylicum dengan
konsentrasi 12,5 15% memiliki efek analgesic.
Asam salisilat sebagai antifungal Efek ini diamati pada
konsentrasi rendah 2-3g/l (<1%).
Asam salisilat sebagai antiseptic dengan konsetrasi 1 3%
Khasiat Asam Salisilat
6

Psoriasis
Sering dikombinasikan dengan sulfur

dalam vehikulum vaselin. Efek desmolitik


asam salisilat terbukti meningkatkan
penetrasi kortikostoroid topikal.
Penggunaan kombinasi asam salisilat dan

betametason dipropionat sama efektif


dengan salap kalsipotriol dalam mengobati
psoriasis kuku selama 3 bulan terapi.
Khasiat Asam Salisilat
7

Dermatitis Seboroik dan Psoriasis pada Skalp


Berbagai sampo terapeutik mengandung asam

salisilat 2-3%, serta kombinasi sulfur dan ter.


Efektif mengatasi psoriasis pada skalp dan
dermatitis seboroik bermanisfetasi sebagai
seborrhea capitis sicca dan cradle cap.

Iktiosis
Terapi bertujuan mengurangi manifestasi klinis

penyakit ini melalui efek hidrasi, lubrikasi, dan


keratolitik. Preparat asam salisilat 3-6% dalam
vehikulum salap bermanfaat untuk
mengeliminasi skuama tebal.
Khasiat Asam Salisilat
8

Hiperkeratosis Lokalisata dan Kalus


Asam salisilat 50% dalam sediaan plester

maupun salap (10-50%) dengan oklusi


dapat digunakan untuk terapi kalus.
Asam salisilat 6% dalam sediaan gel

(1x/hari selama 2 minggu) terbukti cukup


efektif mengatasi hyperkeratosis
Khasiat Asam Salisilat
9

Veruka
Merupakan terapi lini pertama

Sediaan asam salisilat topikal untuk terapi veruka

bervariasi antara 10-60%.


sediaan kombinasi dengan asam laktat maupun

podofilin. Masa terapi bervariasi sekitar 6-12 minggu.

Moluskum Kontagiosum
Terapi asam salisilat gel 12% (2x/ minggu)

penggunaan povidon iodine 10% dilanjutkan dengan

plester asam salisilat 50% (1x/hari) digunakan untuk


terapi moluskum kontagiosum.
Khasiat Asam Salisilat
10

Dermatomikosis Superfisialis
Salap Whitfield yang mengandung asam salisilat 6%

dan asam benzoat 12% digunakan sebagai preparat


terapi tinea.
Konsentrasi asam salisilat dan asam benzoat dapat

diturunkan menjadi 3% dan 6% untuk mengurangi


kejadian iritasi

Akne Vulgaris
asam salisilat topikal 30% digunakan sebagai bahan

peeling
bersifat lipofilik ini mampu berpenetrasi ke dalam unit

pilosebaseus dan memberikan efek komedolitik


Kontra Indikasi
11

Asam salisilat topikal relatif aman.


Biasanya intoksikasi terjadi pada
pemberian dosis besar yang berulangkali.
Pasien dengan riwayat sensitivitas atau
alergi kontak terhadap asam salisilat
topikal sebaiknya tidak diberikan
preparat ini.
Asam salisilat diekskresi pada ASI dan
berpotensi menimbulkan abnormalitas
trombosit dan perdarahan pada bayi.
Kontra Indikasi
12

Penggunaan aspirin pada ibu hamil dan


menyusui tidak dianjurkan.
Terdapat laporan sindroma Reye pada
penggunaan aspirin peroral pasien
dengan varisela sehingga salisilat dan
turunannya tidak direkomendasikan pada
pasien yang menderita varisela, enam
minggu pasca- varisela, dan pasien yang
baru mendapat vaksinasi varisela.
Pola ADME (Absorbsi, Distribusi,
Metabolisme, Ekskresi)
13

Absorbsi: Semakin luas permukaan aplikasi,


semakin sering frekuensi aplikasi dan semakin
lama durasi pengunaan asam salisilat topikal,
serta oklusi akan meningkatkan absorpsi
sistemik. Keadaan kulit, terutama fungsi sawar,
berpengaruh terhadap absorpsi asam salisilat
perkutan.
Distribusi: ke seluruh jaringan dan cairan
tubuh dengan kadar tertinggi pada plasma,
hati, korteks ginjal , jantung dan paru-paru.
Mula kerja : 20 menit -2 jam.
Pola ADME (Absorbsi, Distribusi,
Metabolisme, Ekskresi)
14

Metabolisme : sebagian dihidrolisa


rnenjadi asam salisilat selama absorbsi
dan didistribusikan ke seluruh jaringan
dan cairan tubuh dengan kadar tertinggi
pada plasma, hati, korteks ginjal ,
jantung dan paru-paru.
Ekskresi : dieksresi melalui ginjal
sebagai asam salisilat bebas, salicyluric
acid, dan asam gentisat.
Waktu Paruh dan Ikatan
15
Protein
Waktu Paruh (t )
Waktu paruh asam asetil salisilat 15-20
rnenit ; asarn salisilat 2-20 jam
tergantung besar dosis yang diberikan.

Ikatan Protein
Kadar puncak dalam plasma : kadar
salisilat dalam plasma tidak berbanding
lurus dengan besanya dosis.
Bioavaibility
16

Bioavaibility
Bioavaibility tergantung pada dosis,
bentuk, waktu pengosongan lambung,
pH lambung, obat antasida dan ukuran
partikelnya. Bioavailibilitas absopsi asam
salisilat melalui kulit bervariasi antara
11,8%-30,7%.
Gejala Intoksikasi
17

Intoksikasi akut : nausea dan vomitus yang timbul


segera setelah termakan, diikuti dengan hiperpnea,
tinnitus, ketulian dan letargi. Gejala Intoksikasi berat :
koma, kejang, hipoglikemi, hipertermi bahkan edema
pulmonal, perdarahan pulmonal, ARF, oliguria. Edema
serebral dan pulmonal lebih sering terjadi pada
intoksikasi akut. Dapat terjadi kematian akibat kegagalan
saraf pusat dan kolaps kardiovaskuler.

Intoksikasi kronik. Diagnosis sering terlewat karena


gejala tidak spesifik seperti bingung, dehidrasi dan
metabolik asidosis menyerupai sepsis, pneumonia dan
gastroenteritis. Mortalitas dan morbiditas lebih tinggi
daripada intoksikasi akut. Keracunan berat dapat timbul
Penanganan
18

Keadaan darurat.
Pertahankan jalan nafas dan respirasi, bila perlu oksigen.
Pemeriksaan gas darah arteri dan X-ray untuk memantau
adanya edema pulmonal.
Tangani koma, kejang, edema pulmonal dan hipertermi jika
terjadi.
Terapi asidosis metabolik dengan infus sodium bikarbonat
intravena. Pemberian infus di stop jika pH darah & lt; 7,4.
Ganti kekurangan cairan dan elektrolit akibat muntah dan
hiperventilasi dengan cairan kristaloid intravena. Hati-hati
jangan sampai terjadi edema pulmonal.
Monitor penderita asimptomatis minimum dalam 6 jam (atau
lebih lama terutama jika disebabkan oleh tablet salut enterik
atau dosis besar). Penderita dengan gejala intoksikasi sebaik-
nya dimasukkan dalam ICU.
Penanganan
19

Antidotum dan obat khusus


Antidotum spesifik tidak ada. Dapat diberikan sodium
bikarbonat untuk mencegah terjadinya asidemia dan
untuk meningkatkan eliminasi melalui ginjal.

Mempengaruhi eliminasi
Alkalinisasi urin / meningkatkan pH urin efektif
mempengaruhi ekskresi salisilat urin.
Hemodialisis. Sangat efektif mengeluar-kan salisilat
dengan cepat, koreksi keseimbangan cairan dan asam
Hemoperfusi Sangat efektif tapi tidak dapat
mengkoreksi gangguan asam basa dan cairan.
Ulangi terapi karbon aktif untuk mengurangi waktu
Penelitian Yang Pernah Dilakukan Orang Lain
20

Pada clinical trial membandingkan


Efektivitas Pemakaian Kombinasi Salep
2-4 dengan Sulfur 10% dibandingkan
dengan Pemakaian salep 2-4 Tunggal,
tidak didapatkan perbedaan secara
bermakna.
Penelitian Yang Pernah Dilakukan Orang Lain
21

Case History:
An. A, umur 6 tahun, tinggal di panti asuhan datang dengan
keluhan gatal-gatal pada seluruh tubuh sejak kurang lebih tiga
bulan yang lalu.
Gatal dirasakan terutama pada malam hari di daerah sela-sela
jari, tangan, lipatan bokong, punggung dan perut. Pasien sering
menggaruk bagian tubuh yang gatal.
Anggota panti asuhan 20 dari 74 anak yang lainnya juga memiliki
keluhan yang sama.
Diagnosa: scabies
Terapi: Salep 2-4 terdiri dari asam salisilat 2% dan sulfur 4%
selama 3 hari berturut-turut pada malam hari .
Penularan scabies terutama melalui kontak langsung yang erat,
maka untuk keberhasilan terapi seluruh keluarga yang tinggal
dalam satu rumah harus diobati dengan anti scabies secara
serentak (Abubakar,2014).
Penelitian Yang Pernah Dilakukan Orang Lain
22

Eksperimen Lain:
Hasil dari pemakaian salep 2-4 pada 96 orang (84,96%)
santri putra dari 113 santri di pondok pensantren Nawawi,
Berjan Purworejo, Jawa Tengah didiagnosis menderita
skabies berdasarkan manifestasi klinisnya dan yang positif
ditemukan S.scabiei var.hominissebanyak 23 orang
(23,95%) santri yang diberikan salep 2-4.
efektif pada stadium nimfa dan dewasa, tidak efektif
untuk stadium telur dan aman diberikan pada semua usia.
Alasan kegagalan terapi dapat disebabkan oleh
penggunaan obat topikal yang tidak digunakan pada
seluruh badan, tidak mengaplikasikan kembali obat
topikal setelah mencuci tangan, dan tidak diberikannya
terapi profilaksis seluruh anggota keluarga yang kontak
dengan penderita.
Pembahasan
23

Scabies merupakan penyakit kulit


disebabkan oleh parasitic yang disebut
Sarcoptes scabei huminis.
Penyakit kulit ini sering terjadi
dikarenakan hyginenitas dari orang
tersebut kurang terjaga dengan baik
Sering ditemukan di pondok-pondok
pesantren dimana santrinya hidup
bersama-sama
Gejala yang ditimbulkan gatal hebat
terutama malam hari, papul dan
Pembahasan
24

Pada clinical trial membandingkan Efektivitas


Pemakaian Kombinasi Salep 2-4 Dengan Sulfur 10%
Dibandingkan Dengan Pemakaian Salep 2-4 Tunggal.
Pada terapi yang diberikan pada 24 orang selama 3
minggu tidak didapatkan perbedaan secara
bermakna.
Oleh sebab itu pemberian salep 2-4 saja pada pasien
scabies tetap boleh diberikan tanpa harus ditambah
lagi dengan sulfur 10%.
Pemberian pengobatan pada scabies didasarkan pada
perbaikan kebersihan diri individu dan lingkungan,
sedangkan untuk mengobati gejalanya diberikan
salep 2-4 yang berisikan acid salicylate dan sulfur ppt.
DAFTAR PUSTAKA

25

Daniel, Chairul Saleh dan Sujudi Hanef. SINTESIS 2-HIDROKSI-N-FENIL


BENZAMIDA MELALUI ESTERIFIKASI ASAM SALISILAT DILANJUTKAN PROSES AMIDASI
DENGAN FENILAMINA. Samarinda: Program Studi Kimia F.MIPA Universitas
Mulawarman
Sumardjo Damin. 2006. Pengantar Kimia Buku Panduan kuliah mahasiswa
kedokteran dan program starata I fakultas Bioeksata. Penerbit buku kedokteran EGC:
Jakarta.
Qonita, H. 2015. Efektivitas Pemakaian Kombinasi Salep 2-4 dengan Sulfur 10%
Dibandingkan dengan Pemakaian Salep 2-4 Tunggal. Hal 27-43.
Abubakar, R. 2014. Management of Scabies in Children Orphanage. Journal
Medula Unila. Vol 3 No 1.
Darsono, L. 2002. Diagnosis dan Terapi Intoksikasi Salisilat dan Parasetamol. JKM.
Volume : 2, Nomor : 1.
Sulistyaningrum, S, K., Nilasari, Hanny., Effendi, E, H. 2012. Penggunaan Asam
Salisilat dalam Dermatologi. J Indon Med Assoc, Volum: 62, Nomor: 7.
Penggunaan Asam Salisilat dalam Dermatologi, Sri Katon Sulistyaningrum, Hanny
Nilasari, Evita Halim Effendi. J Indon Med Assoc, Volum: 62, Nomor: 7, Juli 2012
Hessel AB, Cruz-Ramon JC, Lin AN. Agents used for treatment of hyperkeratosis.
In: Wolverton SE, editor. Comprehensive dermatologic drug therapy. 2nd Ed.
Philadelphia: WB Saunders; 2007;41:745-60.
DAFTAR PUSTAKA
26

Tosti A, Piraccini BM, Cameli N, Kokely F, Plozzer C, Cannata GE, et al.


Calcipotriol ointment in nail psoriasis: a controlled double-blind comparison
with betamethasone dipropionate and salicylic acid. Br J Dermatol.
1998;139:655-9.
Burkhart CN, Katz KA. Other topical medications. In: Wolff K, Goldsmith LA,
Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editors. Fitzpatricks Dermatologic
in general medicine. 7th Ed. New York: Mc Graw Hill Medical; 2008. p. 2130-
7.
Baden HP, Baden LA. Keratolytic agents. In: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI,
Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editors. Fitz Patrick Dermatology in
General. 5th Ed. New York: Mc Graw Hill medical. 2003; p. 2352-5.
Bashir SJ, Dreher F, Chew AL, Zhai H, Levin C, Stern R, et al. Cutaneous
bioassay
of salicylic acid as a keratolytic. Int J Pharmaceutics. 2005;292:187-94.
Bole WP, Shalita AR. Effective over the counter acne treatments.
J S Cutan Dermatol. 2008;170-6.