Vous êtes sur la page 1sur 29

Definisi Akhlak

Kata Akhlak berasal dari Bahasa Arab, Jamak dari


Khuluq, yang artinya tabiat, budi pekerti, watak, atau
kesopanan.Sinonim kata Akhlak ialah tatakrama,
kesusilaan, sopan santun (Bahasa Indonesia), moral,
ethic (Bahasa Inggris), ethos, ethikos (Bahasa Yunani).
a. Ibnu Maskawaih mendefinisikan, Akhlak adalah sikap jiwa
seseorang yang mendorongnya untuk melakukan
perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan
(terlebih dahulu);
b. Prof. DR. Ahmad Amin menjelaskan, sementara orang
membuat definisi Akhlak, bahwa yang disebut Akhlak
ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya bahwa kehendak
itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu
dinamakan Akhlak;
c. Al-Qurthuby mendefinisikan, Akhlak adalah suatu
perbuatan manusia yang bersumber dari adab
kesopanannya yang disebut Akhlak, karena perbuatan itu
termasuk bagian darinya;
d. Muhammad bin Ilaan Ash-Shadieqy mendefinisikan,
Akhlak adalah suatu pembawaan dalam diri manusia,
yang dapat menimbulkan perbuatan baik, dengan cara
yang mudah (tanpa dorongan dari orang lain);
pada dasarnya, Akhlak itu menjadi 2 (dua) jenis,
diantaranya:
1. Akhlak baik atau terpuji (Al-Akhlaaqul
Mahmuudah), yaitu perbuatan baik terhadap
Tuhan, sesama manusia, dan makhluk-makhluk
yang lain. Akhlak yang baik yaitu akhlak yang
diridhoi oleh ALLAH S.W.T.,
2. Akhlak buruk atau tercela (Al-Akhlaqul
Madzmuumah), yaitu perbuatan buruk terhadap
Tuhan, sesama manusia, dan makhluk-makhluk
yang lain.
1. Belas kasihan atau sayang (Asy-Syafaqah), yaitu
sikap jiwa yang selalu ingin berbuat baik dan
menyantuni orang lain;
2. Rasa persaudaraan (Al-Ikhaa), yaitu sikap jiwa yang
selalu ingin berhubungan baik dan bersatu dengan
orang lain, karena ada keterikatan bathin
dengannya
3. Memberi nasihat (An-Nashiihah), yaitu suatu upaya
untuk memberi petunjuk-petunjuk yang baik
kepada orang lain dengan menggunakan perkataan,
baik ketika orang yang dinasihati telah melakukan
hal-hal yang buruk, maupun belum.
4. Memberi pertolongan (An-Nashru), yaitu suatu
upaya untuk membantu orang lain, agar tidak
mengalami suatu kesulitan
5. Menahan amarah (Kazmul Ghaizhi), yaitu upaya
menahan emosi, agar tidak dikuasai oleh perasaan
marah terhadap orang lain
6. Sopan santun (Al-Hilmu), yaitu sikap jiwa yang
lemah lembut terhadap orang lain, sehingga dalam
perkataan dan perbuatannya selalu mengandung
adab kesopanan yang mulia
7. Suka memaafkan (Al-Afwu), yaitu sikap dan
perilaku seseorang yang suka memaafkan
kesalahan orang lain yang pernah diperbuat
terhadapnya.
1. Mudah marah (Al-Ghadhab), yaitu kondisi emosi
seseorang yang tidak dapat ditahan oleh
kesadarannya, sehingga menonjolkan sikap dan
perilaku yang tidak menyenangkan orang lain.
2. Iri hati atau dengki (Al-Hasadu atau Al-Hiqdu), yaitu
sikap kejiwaan seseorang yang selalu menginginkan
agar kenikmatan dan kebahagiaan hidup orang lain
bisa hilang sama sekali
3. Mengadu-adu (An-Namiimah), yaitu suatu perilaku
yang suka memindahkan perkataan seseorang
kepada orang lain, dengan maksud agar hubungan
social keduanya rusak
4. Mengumpat (Al-Ghiibah), yaitu suatu perilaku yang
suka membicarakan perkataan seseorang kepada
orang lain;
5. Bersikap congkak (Al-Asharu), yaitu suatu sikap dan
perilaku yang menampilkan kesombongan, baik
dilihat dari tingkah lakunya maupun perkataannya
6. Sikap kikir (Al-Bukhlu), yaitu suatu sikap yang tidak
mau memberikan nilai materi dan jasa kepada
orang lain
7. Berbuat aniaya (Azh-Zhulmu), yaitu suatu
perbuatan yang merugikan orang lain, baik
kerugian materiil maupun non materiil. Dan ada
juga yang mengatakan, bahwa seseorang yang
mengambil hak-hak orang lain, termasuk perbuatan
dzalim (menganiaya).

















Dia kami perintahkan kepada manusia (berbuat
baik) kepada kedua Ibu Bapaknya, ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua
tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang
tua Ibu Bapakmu, hanya kepada-ku-lah kembalimu.
(Q.S Luqman, 31:14).






Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua
(orang tuamu) dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah : Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka
keduanya, sebagimana mereka berdua telah
mendidik dan merawatku dengan penuh kasih
sayang ketika aku kecil. (Q.S Al-Israa, 17:24).
Dari Abi Usaid ia berkata : ketika kami duduk di sisi
Rasulullah SAW, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki
dari bani salamah seraya bertanya :ya Rasulullah,
apakah masih bisa saya berbuat baik kepada kedua ibu
bapakku sedangkan mereka telah meninggal dunia?
Rasulullah menjawab: Ya (yaitu dengan jelas)
mendoakan keduannya, meminta ampun bagi
keduanya, menepati janji keduanya, memelihara
silaturahmi yang pernah dibuat keduanya dan
memuliakan teman-temannya. (HR. Abu Daud).
Akhlak kepada keluarga adalah mengembangkan kasih
sayang di antara golongan keluarga yang diungkapkan
dalam bentuk komunikasi. Komunikasi dalam keluarga
diungkapkan dalam bentuk perhatian baik melalui
kata-kata, isyarat-isyarat, maupun perilaku. Komunikasi
yang didorong oleh rasa kasih sayang yang tulus akan
dirasakan oleh seluruh anggota keluarga.






Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada
anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya:
Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan
Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah)
adalah benar-benar kezaliman yang besar.
(Luqman, 31 : 13)
A. Berakhlak terhadap jasmani
1) Senantiasa Menjaga Kebersihan
Islam menjadikan kebersihan sebagian dari Iman.
Seorang muslim harus bersih/ suci badan, pakaian,
dan tempat, terutama saat akan melaksanakan sholat
dan beribadah kepada Allah, di samping suci dari
kotoran, juga suci dari hadas.
Artinya : Janganlah kamu bersembahyang dalam
mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh-nya mesjid
yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak
hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di
dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang
yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bersih.
(QS. At Taubah:108)
2) Menjaga Makan dan Minumnya
Allah SWT memerintahkan kepada manusia agar
makan dan minum dari yang halal dan tidak
berlebihan. Sebaiknya sepertiga dari perut untuk
makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga
untuk udara.

Artinya : Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah
diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah ni'mat Allah, jika kamu hanya
kepada-Nya saja menyembah. (QS. An Nahl:114)
3) Menjaga Kesehatan
Menjaga kesehatan bagi seorang muslim adalah wajib
dan merupakan bagian dari ibadah kepada Allah SWT
dan sekaligus melaksanakan anmanah dari-Nya
Dari sahabat Abu Hurairah, Bersabda Rasulullah,
Mumin yang kuat lebih dicintai Allah dari mumin
yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan.
Bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat
bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan
jangan merasa malas, dan apabila engkau ditimpa
sesuatu maka katakanlah Qodarulloh wa maa syaaa
faal, Telah ditakdirkan oleh Allah dan apa yang Dia
kehendaki pasti terjadi. (HR. Muslim)
4) Berbusana yang Islami
Manusia mempunya budi, akal dan kehormatan,
sehingga bagian-bagian badannya ada yang harus
ditutupi (aurat) karena tidak pantas untuk dilihat
orang lain. Dari segi kebutuhan alaminya, badan
manusia perlu ditutup dan dilindungi dari gangguan
bahaya alam sekitarnya, seperti dingin, panas, dll.
Karena itu Allah SWT memerintahkan manusia
menutup auratnya dan Allah SWT menciptakan
bahan-bahan di alam ini untuk dibuatb pakaian
sebagai penutup badan.
B. Berakhlak terhadap Akal
1) Menuntut Ilmu
Menuntut ilmu merupakan salah satu kewajiban bagi
setiap muslim, sekaligus sebagai bentuk akhlak seorang
muslim. Muslim yang baik, akan memberikan porsi
terhadap akalnya yakni berupa penambahan
pengetahuan dalam sepanjang hayatnya. Sebuah
hadits Rasulullah SAW menggambarkan :
( )
Artinya : Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi
setiap muslim. (HR. Ibnu Majah)
2) Mengajarkan Ilmu pada Orang Lain
Termasuk akhlak muslim terhadap akalnya adalah
menyampaikan atau mengajarkan apa yang dimilikinya
kepada orang yang membutuhkan ilmunya.
3) Mengamalkan Ilmu dalam Kehidupan Diantara
tuntutan dan sekaligus akhlak terhadap akalnya adalah
merealisasikan ilmunya dalam alam nyata. Karena
akan berdosa seorang yang memiliki ilmu namun tidak
mengamalkannya.
C. Berakhlak terhadap jiwa
1. Bertaubat dan Menjauhkan Diri dari Dosa Besar
2. Bermuraqabah
Muraqabah adalah rasa kesadaran seorang muslim
bahwa dia selalu diawasi oleh Allah SWT. Dengan
demikian dia tenggelam dengan pengawasan Allah
dan kesempurnaan-Nya sehingga ia merasa akrab,
merasa senang, merasa berdampingan, dan
menerima-Nya serta menolak selain Dia
3. Bermuhasabah
muhasabah adalah menyempatkan diri pada suatu
waktu untuk menghitung-hitung amal hariannya.
Apabila terdapat kekurangan pada yang diwajibkan
kepadanya maka menghukum diri sendiri dan
berusaha memperbaikinya
4. Mujahadah
Mujahadah adalah berjuang, bersungguh-sungguh,
berperang melawan hawa nafsu.
1. Salimul Aqidah
Memiliki akidah yang bersih sehingga dalam
menghadapi klien selalu berusaha menunjukan sikap
empati dengan mengedepankan professionalisme yang
sejalan dengan aqidah Islam yang kuat.
2. Shahihul ibadah
Memberikan pelayanan terbaik kepada klien bukan
semata-mata ingin mendapatkan penghargaan, pujian
atau pemberian yang bersifat materi dari klien tetapi
lebih dari itu adalah untuk beribadah dan mencari
Ridho Allah SWT.
3. Mathinul Khuluq
Memberikan pelayanan kepada klien dengan integritas
profesi yang memiliki kekuatan ahlaq yang Islami yang
berorientasi pada pelayanan terbaik bagi klien.
4. Mutsaqqoful Fikri
Memberikan pelayanan keperawatan kepada klien
dengan menggunakan evidence base/dasar bukti yang
jelas yang dapat dipertanggungjawabkan secara
professional sesuai dengan aturan yang telah
ditetapkan oleh organisasi profesi.
5. Qowiyyul Jismi
Memberikan pelayanan kepada klien harus memiliki
jasmani yang sehat yang tidak beresiko negatif bagi
klien maupun bagi perawat itu sendiri.
6. Qodirun Alal Kasbi
Berhubungan dengan klien dengan
mempertimbangkan kemampuan dirinya dalam
memberikan pelayanan secara professional, sehingga
bidan tidak memberikan pelayanan di luar
kompetensinya sebagai seorang bidan.
7. Munazhzhamun Fi Syuunihi
Bekerja memberikan pelayanan kepada klien dengan
konsep yang sistematis dimulai dari Pengumpulan dan
analisa data, penentuan diagnosa kebidanan,
merencanakan tindakan kebidanan, melaksanakan
tindakan kebidanan dan melakukan evaluasi
keberhasilan asuhan kebidanan.
8. Mujahadatun Linafsihi
Dalam berhubungan dengan klien harus mampu
mengendalikan hawa nafsunya sehingga selalu
memandang pasien dengan holistic mencakup
kebutuhan Bio, Psiko, Sosial dan Spiritual, dan bekerja
dengan mengedepankan empati.
9. Haritsun Ala Waqtihi
Dalam memberikan pelayanan kepada klien harus
menghargai waktu dalam semua fase hubungan dengan
pasien dimulai dari fase pra interaksi, orientasi, interaksi
dan terminasi.
10. Nafiun Lighoirihi
Memberikan pelayanan terbaiknya kepada klien harus
mampu mampu membangun sebuah persepsi yang
dirasakan sebagai sebuah manfaat yang secara langsung
dapat dirasakan oleh klien sehingga perawat dapat menjadi
seorang care giver, advocate, educator, konselor,
kolaburator, coordinator, dan researcher yang dapat
membantu klien dalam upaya mencapai tujuannya untuk
hidup sehat secara optimal.