Vous êtes sur la page 1sur 15

FARMAKOLOGI

OBAT ANTIJAMUR

KELOMPOK 2

LASMITA Y. MOODUTO
VERAWATI
ARIZA NURMADINA
NURMAUL HUSNA
ANTIJAMUR UNTUK INFEKSI SISTEMATIK
1. Amfoterisin B
Asal dan Kimia
Amfoterisin A dan B merupakan hasil fermentasi
Streptomyces nodosus. 98% campuran ini terdiri dari
amfoterisin B yang mempunyai aktifitas anti jamur.

Kristal seperti jarum atau prisma berwarna kuning


jingga, tidak berbau dan tidak berasa ini merupakan
antibiotik polien yang bersifat basa amfoter lemah,
tidak larut dalam air, tidak stabil, tidak tahan suhu
diatas 37oC tetapi dapat bertahan sampai berminggu
minggu pada suhu 4oC.
Aktivitas AntiJamur
Aktivitas antijamur nyata pada pH 6,0 7,5.
Berkurang pada pH yang lebih rendah. Antibiotik ini
bersifat fungistatik atau fungisidal tergantung pada
dosis dan sensivitas jamur yang dipengaruhi.

Mekanisme Kerja
Bakteri, virus dan riketsia tidak dipengaruhi oleh
antibiotik ini karena jasad renik ini tidak mempunyai
gugus sterol pada membran selnya. Pengikatan
kolesterol pada membran sel hewan dan manusia
oleh antibiotik ini diduga merupakan salah satu
penyebab efek toksiknya.
Farmakokinetik
Amfoterisin B sedikit sekali diserap melalui saluran cerna.
Suntikan yang dimulai dengan dosis 1,5 mg/hari lalu
ditingkatkan secara bertahap sampai dosis 0,4 0,6
mg/kgBB/hari akan memberikan kadar puncak antara 0,5-2
ug/mL pada kadar mantap

Efek Samping
Infus amfoterisin B seringkali mnimbulkan kulit panas,
keringatan, sakit kepala, demam, menggigil, lesu, anoreksia,
nyeri otot, flebitis, kejang dan penurunan fungsi ginjal.
Indikasi
Amfoterisin B sebagai antibiotika berspektrum lebar yang
bersifat fungsidal dapat digunakan sebagai obat pilihan untuk
hampir semua infeksi jamur yang mengancam kehidupan.
Biasanya diberikan sebagai terapi awal untuk infeksi jamur
yang serius dan selanjutnya diganti dengan salah satu azole
baru untuk pengobatan lama atau pencegahan kekambuhan.

Sediaan dan Posologi


Amfoterisin B untuk injeksi tersedia dalam vital berisi 50 mg
bubuk liofolik, dilarutkan dengan 10 mL aquades steril untuk
kemudian diencerkan dengan larutan dekstrosa 5% dalam air
sehungga didapatkan kadar 0,1 mg/mL laruran. Sedian ini
dkenal dengan amfoterisin B konvensional atau amforisin B
deoksikolat.
FLUSITOSIN
Asal dan Kimia
Flusitosin (5-fluorositosin;5FC) merupakan antijamur sintetik
yang berasal dari fluorinasi pirimidin, dan mempunyai
persamaan struktur dengan fluorourasil dan floksuridin.

Mekanisme Kerja
Flusitosin masuk ke dalam sel jamur dengan bantuan sitosin
deaminase dan dalam sitoplasma akan bergabung denga RNA
setelah mengalami deaminasi menjadi 5-fluorourasil dan
fosforilasi.
Efek Samping
Flusitosin kurang toksik dibanding dengan amfoterisin B,
namun dapat menimbulkan anemia, leukopenia dan
trombositopenia terutama pada pasien dengan kelainan
hematologik yang sedang mendapat pengobatan radiasi.

Indikasi
pemakaian tunggal flusitosin hanya untuk infeksi Crypcoccus
neoformans, beberapa spesies Candida dan infeksi oleh
kromoblastomikosis.
IMIDAZOL DAN TRIAZOL

Antijamur golongan imidazol dan triazol


mempunyai spektrum yang luas. Kelompok
imidazol terdiri atas ketokonazol, mikronazol,
dan klotrimazol. Sedangkan kelompok triazol
meliputi itrakonazol, flukonazol, dan
vorikonazol.
EKINOKANDIN
Ada 3 ekinokandin untuk penggunaan klinik yaitu kaspofungin,
mikafungin dan anidulafungin. Ketiganya merupakan siklik
lipopeptida dengan inti heksa peptida.
Mekanisme Kerja
Obat ini menghambat enzim yang diperlukan untuk sintesis dinsing
sel jamur yaitu komponen 1,3-B-D-glukan. Hambatan tersebut
menyebabkan kerusakan integritas dinding sek jamur, instabilitas
osmotik dan kematian sel tersebut.
Indikasi
Kaspofungin diindikasikan pada infeksi kandida mukokutaneous
(esophagus dan orofaring), dan diseminata dan terapi empiris
febril neutropenia. Untuk aspergilosis invasive kasfopungin
hanya diberikan pada kasus yang tidak responsif terhadap
amfoterisin B dab vorikonazol.
PENGOBATAN INFEKSI JAMUR SISTEMIK
Infeksi jamur patogen yang terinhalasi dapat sembuh spontan.
Histoplasmosis, koksidioidomikosis, blasmastomikosis pada paru
yang sehat tidak membutuhkan pengobatan.
1. Aspergilosis
Invasi aspergilosis paru sering terjadi pada pasien penyakit
imnunosupresi yang berat dan tidak memberi respons yang
memuaskan terhadap pengobatan dengan antijamur.
2. Blastomikosis
Obat terpilih untuk kasus ini adalah ketokonidazol per oral 400
mg sehari selama 6-12 bulan.
3. Kandidiasis
Bila invasi tidak mengenai parenkim ginjal pengobatan cukup
dengan dengan amfoterisin B 50 ug/mL dalam air steril selama
5 -7 hari.
ANTIJAMUR UNTUK INFEKSI DERMATOFIT DAN
MUKOKUTAAN
1. Griseofulvin
Farmakokinetik
Griseofulvin kurang baik penyerapannya pada saluran cerna
bagian atas karena obat ini tidak larut dalam air. Dosis oral 0,5
g hanya akan menghasilkan kadar plasma tertinggi kira kira 1
ug/mL setelah 4 jam.
Efek Samping
Efek samping yang berat jarang timbul akibat pemakaian
griseofulvin. Leukopenia dan granulositopenia dapat terjadi
pada pemakaian dosis besar dalam waktu lama.
2. Mikonazol dan Klotrimazol
a. Mikonazol
Asal dan Kimia
Mikonazol merupakan turunan imidazol sintetik yang relatif
stabil, mempunyai sprektum antijamur yang lebar terhadap
jamur dermatofit.
Efek Samping
Efek samping berupa iritasi, rasa terbakar dan maserasi
memerlukan penghentian terapi.
Sediaan dan Posologi
Obat ini tersedia dalam bentuk krim 2% dan bedak tabur yang
dipakai dua kali sehari selama 2-4 minggu.
b. Klotrimazol
Klotrimazol berbentuk bubuk tidak berwarna
yang praktis tidak larut dalam air, larut dalam alkohol
dan kloroform, sedikit larut dalam eter.
Obat ini tersedia dalam bentuk krim dan larutan
dengan kadar 1% untuk dioleskan dua kali sehari.
Krim vaginal 1% atau tablet vaginal 100 mg
digunakan sekali sehari pada malam hari selama 7
hari, atau tablet vaginal 500 mg, dosis tunggal. Pada
pemakaian topikal dapat terjadi rasa terbakar,
eritema, edema, gatal dan urtikaria.
3. Tolnaftat dan Tolsiklat
Tolnaftat
Tolnaftat adalah suatu tiokarbarmat yang efektif untuk
pengobatan sebagian besar dermatofitosis tapi tidak efektif
terhadap kandida.

Tolsiklat
Tolsiklat merupakan antijamur topikal yang diturunkan dari
tiokarbamat. Namun karena spektrimnya yang sempit,
antijamur ini tidak banyak digunakan lagi.
TERIMA KASIH