Vous êtes sur la page 1sur 59

ABSES HATI

Oleh :
Ahmad Feriansyah Lubis
Wilson
Ruth Dian Giovanni
Jenny Howard
Atika Kharisma
Serepina Oktaviani Simanjuntak
Corry Carolina Br. Sihombing

COW PEMBIMBING : dr. Olga Yanti, dr. Ernita Sinaga


PIMPINAN SIDANG : dr. M.Aron Pase, Sp.PD
BAB 1
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG

3
BAB 2
T I N J A U A N P U S TA K A
DEFINISI

ABSES HATI (LIVER ABSCESS)


EPIDEMIOLOGI
ETIOLOGI

ABSES HATI AMEBIK ABSES HATI PIOGENIK


PATOGENESIS
PATOGENESIS
Demam Intermitten

1 Nyeri perut kanan atas, epigastrium dan menjalar


hingga bahu kanan dan daerah scapulae

Manifestasi
Anoreksia
Klinis:
2 Nausea & Vomitus
Keringat malam
BB menuruun

Abses Hati
Amoebik
3 Batuk
Pembesaran perut kanan atas

(AHA) Ikterus

4 Kadang ditemukan riwayat diare


Nyeri spontan perut kanan atas
Ditandai jalan membungkuk ke depan dengan dua
1 tangan diletakkan
diatasnya
Manifestasi Demam
Klinis: 2
Malaise
Nyeri tumpul pada abdomen yang menghebat
dengan pergerakan

Apabila letakknya dekat diafragma, dapat mengiritasi


Abses Hati diafragma

Piogenik
3 Mual dan Muntah
Berat badan menurun
Malaise

(AHP) Ikterus
4 BAB seperti kapur
Urine berwarna gelap
Penegakkan Diagnosa

Abses Hati Amoebik (AHM)

Kriteria Sherlock Kriteria Ramachandran

Hepatomegali yang nyeri


Riwayat disentri
Leukositosis
Kelainan radiologis
Respons terhadap terapi
amebisid
Penegakkan Diagnosa

Abses Hati Piogenik (AHP)


Pemeriksaan Penunjang (Laboratorium)

Abses Hati
Amoebik
(AHM)
Pemeriksaan Penunjang (Laboratorium)

Abses Hati
Piogenik
(AHP)
Pemeriksaan Penunjang (Radiologi)
Pemeriksaan Penunjang (Radiologi)
PENATALAKSANAAN

Abses Hati Amubik (AHA)


Medikamentosa

Paromomycin 25-35 mg/kg/hari per oral terbagi dalam 3 dosis


selama 7 hari atau lini kedua Diloksanide furoate 3x500 mg per oral
selama 10 hari
Non Medikamentosa

Risiko tinggi untuk terjadinya ruptur abses yang didefinisikan dengan ukuran kavitas lebih dari
5 cm
Abses pada lobus kiri hati yang dihubungkan dengan mortalitas tinggi dan frekuensi tinggi
bocor ke peritoneum atau perikardium
Tak ada respons klinis terhadap terapi dalam 3-5 hari
Untuk menyingkirkan kemungkinan abses piogenik, khususnya pasien dengan lesi multipel

dilakukan dengan tuntunan USG abdomen atau CT scan abdomen

Berdasarkan kesepakatan PEGI (Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia) di Surabaya tahun


1996:2
Abses hati dengan diameter 1-5 cm: terapi medikamentosa, bila respon negatif dilakukan aspirasi
Abses hati dengan diameter 5-8 cm: terapi aspirasi berulang
Abses hati dengan diameter 8 cm: drainase per kutan
PENATALAKSANAAN

Abses Hati Piogenik (AHP)


Non Medikamentosa
KOMPLIKASI Regio thoraks :
Fistula hepatobronkial, Abses paru, Empiema amoeba
Perikardium:
Gagal jantung, Perikarditis, Tamponade jantung
Peritoneum:
Peritonitis, Asites
PROGNOSIS

1 4
2 5
3 Ruptur ke dalam peritoneum, angka
6
kematian 20%
Ruptur ke dalam perikardium, angka
kematian 32-100%
BAB 3
S TAT U S O R A N G S A K I T
STATUS ORANG SAKIT
Nomor Rekam Medis : 00.68.79.04
Tanggal Masuk 30/09/2016 Dokter Ruangan:
dr.Dwi
Jam 23.15 Dokter Chief of
Ward:
dr.Olga
Ruang Rindu A-2 III.2.3 Dokter Penanggung
Jawab:
dr.Juwita, Sp.PD-
KGEH
Anamnesis Pribadi

Nama : Nuahta Barus


Umur : 49 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status Perkawinan: Menikah
Pekerjaan : Supir
Suku : Batak
Agama : Kristen
Alamat : Jalan Nilam 02 no.87
P.Simalingkar Medan Tuntungan
Anamnesis Penyakit

Keluhan Utama

Nyeri perut kanan atas


TELAAH
Hal ini dialami os 2 minggu SMRS. Nyeri bersifat hilang timbul. Nyeri timbul bila os
beraktivitas. Nyeri tekan perut kanan atas dijumpai. Os juga mengeluhkan perut yang
terasa keras di sebelah kanan atas. Demam dijumpai. Demam bersifat hilang timbul dan
turun dengan obat penurun panas, dengan suhu tertinggi demam 39C. Riwayat diare
dijumpai 1 bulan SMRS dengan konsistensi cair, warna kuning, darah tidak dijumpai,
frekuensi 5x/hari. Mual dijumpai. Muntah dijumpai dengan frekuensi maksimal 2x/hari. Isi
muntah adalah apa yang dimakan dan diminum. Keluhan badan kuning dijumpai selama 2
minggu terakhir. Mula-mula kuning terjadi pada mata saja lalu kemudian menjalar ke
seluruh tubuh. Batuk dijumpai. Dahak dijumpai, berwarna putih. Batuk berdarah tidak
dijumpai. Sesak napas tidak dijumpai. Os juga mengeluhkan badan terasa lemas.
Penurunan nafsu makan dijumpai. Penurunan berat badan dijumpai sebanyak 3 kg dalam
1 bulan terakhir. BAK seperti teh dijumpai selama 1 bulan terakhir. BAB berwarna dempul
tidak dijumpai. Riwayat mengonsumsi tuak dijumpai dengan jumlah konsumsi 2 gelas per
hari selama 10 tahun terakhir. Sebelumnya os sudah pernah didiagnosa menderita TB
paru dan diberi OAT, namun os hanya mengonsumsinya selama 1 bulan karena merasa
keadaannya sudah membaik.
RPT : TB paru
RPO : OAT
RESUME
Anamnesa
KU: Nyeri perut kanan atas
Telaah:
Hal ini dialami os 2 minggu SMRS. Nyeri intermitten (+), timbul bila beraktivitas. Nyeri tekan
perut kanan atas (+). Perut mengeras di sebelah kanan atas. Febris yang intermitten dijumpai,
dengan suhu tertinggi 39C dan turun dengan obat penurun panas. Riwayat diare (+) 1bulan
SMRS. Konsistensi cair, warna kuning, darah (-), frekuensi 5x/hari. Nausea(+), vomitus(+), isi
muntah adalah apa yang dimakan dan diminum. Jaundice (+) selama 2 minggu terakhir, mula-
mula sklera ikterik kemudian menjalar ke seluruh tubuh. Batuk(+), sputum (+), warna putih.
Badan lemas (+). Anoreksia (+). Penurunan BB (+) sebanyak 3 kg dalam 1 bulan terakhir. BAK
seperti teh (+) selama 1 bulan terakhir. Riwayat mengonsumsi tuak (+) sebanyak 2 gelas/hari
selama 10 tahun terakhir.

RPT : TB paru
RPO : OAT
Status Presens Keadaan Umum: Sedang
Keadaan Penyakit: Berat
Keadaan Gizi: Berlebih
Pemeriksaan Fisik Sensorium: Compos Mentis
TD: 100/60 mmHg
HR: 72x/I
RR: 24x/I
Temp: 39C
Kepala:
Mata: anemia (+/+), ikterus (+/+)
T/H/M: dbn
Leher: dbn
Paru:
SP: bronkial di lapangan tengah dan bawah kedua paru
ST: ronki basah di lapangan tengah dan bawah kedua paru
Abdomen:
Inspeksi: Simetris
Palpasi: L/R ttb, Hepar teraba 2 jari bpx, 2 jari bac. Nyeri tekan (+)
Ekstremitas: oedema pretibial (+)
Laboratorium Darah:
Rutin Hb: 5,1 (anemia)
Leukosit: 20,21 x 103/mm3 (leukositosis)
Trombosit: 161.000/mm3 (normal)
Urin:
Protein +1, Reduksi (-), Bilirubin (-), Urobilinogen (-)
Tinja: dbn

Diagnosa Banding 1. Abses liver + Susp TB paru dengan sekunder infeksi dd pneumonia dd
mikosis paru + Anemia ec penyakit kronis
2. Hepatoma + Susp TB paru dengan sekunder infeksi dd pneumonia dd
mikosis paru + Anemia ec penyakit kronis
3. Kista Hati + Susp TB paru dengan sekunder infeksi dd pneumonia dd
mikosis paru + Anemia ec penyakit kronis
4. Hepatitis+ Susp TB paru dengan sekunder infeksi dd pneumonia
dd mikosis paru + Anemia ec penyakit kronis
5. Kolesistisis + Susp TB paru dengan sekunder infeksi dd
pneumonia dd mikosis paru + Anemia ec penyakit kronis

Diagnosis Sementara Abses liver + Susp TB paru dengan sekunder infeksi dd pneumonia dd
mikosis paru + Anemia ec penyakit kronis

Penatalaksanaan Aktivitas : Tirah baring


Diet : Diet hati III
Tindakan suportif : IVFD Dextrose 5% 10gtt/i
Medikamentosa :
- Inj. Cefotaxim 1 gram/8 jam
- Inj. Metronidazole 500 mg/8 jam
- Omeprazol 1 x20 mg
- Paracetamol 3x500mg
- N-asetil sistein 3x200 mg
- Inj Ketorolac 1 amp/8jam
- Inj. Novalgin 1 amp jika temp 38,5C
Rencana Penjajakan Diagnostik

1. Darah Lengkap 6. AFP

2. Anemia Profile 7. Kultur liver abses

3. LFT lengkap 8. USG abdomen

4. Elektrolit 9. CT-scan abdomen

5. Viral marker
FOLLOW UP
BAB 4
DISKUSI KASUS
DISKUSI KASUS
TEORI
KASUS
MANIFESTASI KLINIS (AHA)
Demam internitten ( 38-40 oC)
Nyeri perut kanan atas, kadang nyeri epigastrium
dan dapat menjalar hingga bahu kanan dan
daerah skapula
Anoreksia, Nausea, Vomitus
Keringat malam, Berat badan menurun
Batuk
Pembesaran perut kanan atas
Ikterus
Buang air besar berdarah
Kadang ditemukan riwayat diare
Kadang terjadi cegukan (hiccup)
Kelainan fisis : Ikterus, Temperatur naik,
Malnutrisi, Hepatomegali yang nyeri spontan atau
nyeri tekan atau disertai komplikasi, Nyeri perut
kanan atas
DISKUSI KASUS
TEORI
KASUS
MANIFESTASI KLINIS (AHP)
Manifestasi sistemik AHP biasanya lebih berat dari
pada AHA. Sindrom klinis klasik AHP berupa nyeri
spontan perut kanan atas, ditandai jalan
membungkuk ke depan dengan dua tangan ditaruh
diatasnya. Selain itu, demam tinggi (keluhanutama)
disertai keadaan syok. Setelah era pemakaian
antibiotik yang adekuat, gejaladan manifestasi AHP
adalah malaise, demam tidak terlalu tinggi dan nyeri
tumpul pada abdomen yang menghebat dengan
adanya pergerakan.Apabila AHP letaknya dekat
diafragma, akan timbul iritasi diafragmasehingga
terjadi nyeri bahu kanan, batuk, ataupun atelektasis
(terutama akibat AHA).Gejala lain, mual, muntah,
anoreksia, berat badan turun yang unintentional,
badan lemah, ikterus, BAB seperti kapur, dan urin
berwarna gelap.
TEORI
Kriteria
Kriteria Ramachandran Kriteria Lamont
Sherlock (1969) (1973) Dan Pooler
-Hepatomegali yang nyeri Bila didapatkan 3 atau lebih Bila didapatkan 3 atau lebih
tekan dari: dari:
-Respon baik terhadap obat -Hepatomegali yang nyerI -Hepatomegali yang nyeri
amebisid -Riwayat disentri -Kelainan hematologis
-Leukositosis -Leukositosis -Kelainan radiologis
-Peninggian diafragma -Kelainan radiologis -Pus amebik
kanan dan pergerakan yang -Respons terhadap terapi -Tes serologi positif
kurang. amebisid -Kelainan sidikan hati
-Aspirasi pus -Respons terhadap terapi
-Pada USG didapatkan amebisid
rongga dalam hati
-Tes hemaglutinasi positif
KASUS
Pada anamnesis, Pasien mengeluhkan nyeri hipokondrium kanan atas sejak 2
minggu SMRS demam, riwayat mencret dan riwayat minum tuak.
Pada pemeriksaan fisik dijumpai Hepar teraba 2 jari Bpx, 2 jari BAC, kesan
Hepatomegali.
Pada pemeriksaan laboratorium rutin didapatkan:
Hb = 5,1 g%
Eritrosit = 1,82x106/mm3
Leukosit = 20,21x103/mm3
Trombosit = 161x103/mm3
Ht = 15%
MCV/MCH/MCHC : 86/28,1/32,8
Kesan leukositosis dan anemia normokromik normositer
Pada pemeriksaan CT-Scan
Kesimpulan: multiple liver abscess
TEORI KASUS
PENATALAKSANAAN
Abses Hati Amoeba -Tirah baring
1. Obat anti amoeba (Nitroimidazole,
dan luminal amubisida lainnya) - Diet Hati III
2. Nitroimidazole dengan kombinasi -Inj. Cefotaxim 1 gram/8 jam
luminal amubisida dan -Inj. Metronidazole 500mg/8 jam
Aspirasi tertutup
Drainase Kateter perkutaneus -.Inj Ketorolac 1 amp/8jam
Drainase secara operasi (terbuka -Omeprazole 1x20mg
atau laparoskopik) -Paracetamol 3x500mg,
Abses Hati Piogenik -N-asetil sistein 3x200 mg
1.Antibiotik spektrum luas -Inj. Novalgin 1 amp jika temp
Ampisilin, aminoglikosida,
sefalosporin, Metronidazole 38,5C.
2. Kombinasi beta laktam dan
penghambat aktivitas betalaktamase
BAB 5
KESIMPULAN
Nuahta Barus, 49 tahun berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang didiagnosis dengan Abses liver + TB paru dengan
sekunder infeksi + Anemia ec penyakit kronis. Pasien diberikan IVFD
Dextrose 5% 10 gtt/i, tirah baring, diet Hati III+ekstra putih telur, Inj.
Cefotaxim 1 gram/8 jam, Inj. Metronidazole 500mg/8 jam, Omeprazole
1x20mg, Paracetamol 3x500mg, N-asetil sistein 3x200 mg dan Inj. Novalgin 1
amp jika temp 38,5C. Keadaan pasien semakin membaik setelah dilakukan
pungsi dan dianjurkan untuk berobat jalan.
THANK YOU!