Vous êtes sur la page 1sur 47

Anti Jamur

Oleh kelompok II
Patofisiologi
Patofisologi infeksi jamur disebabkan oleh dua faktor , yaitu :
Endogenous
Infeksi jamur dapat diperoleh dari eksogenus dan sumber-
sumber endogenus. Satu-satunya jamur yang dikenal sebagai
flora normal (commensals) dalam tubuh manusia adalah
Pityrosporum obiculare, yang menyebabkan non inflamasi
kondisi tinea versicolor dan Candida spesies. Infeksi ragi ini
berkembang dari flora normal (infeksi endogenus) pasien
sendiri. Infeksi jamur endogenus pada kulit atau selaput lendir
umumnya terjadi ketika perlawanan host diturunkan dari
organisme proliferates dalam nomor tinggi. Kelebihan Panas
dan Kelembapan, pemakaian kontrasepsi oral, kehamilan,
diabetes, malnutrisi, dan immunosuppression memfasilitasi
infeksi lokal endogenus oleh Pityrosporum dan Candida.
Infeksi candidal sistemik terjadi ketika fungsi sistem imun
menurun atau kekurangan genetik ketika organisme mendiami
kulit pasien atau saluran GI menyebarluaskan hematogen di
seluruh tubuh. 3
Patofisiologi
Eksogen
Infeksi eksogen terjadi ketika jamur itu didapat
dari sumber lingkungan. Dalam kasus dermatophytes
(cacingan jamur), organisme dapat diperoleh dari
kotoran, binatang, atau individu terinfeksi lain. Dalam
hasil mycoses di bawah kulit dari bahan yang terinfeksi
flu langsung dan melalui kulit. Infeksi kulit dan jaringan
di bawah kulit oleh zygomycetes (misalnya dan
Aspergillus, Rhizopus, Absidia, Mucor) telah dihasilkan
dari luka yang terkontaminasi. 3
Mikosis
Superfisialis
MIKOSIS
Mikosis
Profunda
Mikosis Superfisialis
Mikosis superfisialis adalah penyakit kulit
yang disebabkan jamur, yang mengenai lapisan
kulit paling atas (epidermis).
Dermatofitosis
Mikosis
Superfisialis
( Dermatomikosis)
Nondermatofitosis
Dermatofitosis2
Definisi
Dermatofitosis adalah penyakit jamur pada
jaringan yang mengandung zat tanduk, seperti
kuku, rambut, dan stratum korneum pada
epidermis, yang disebabkan oleh jamur
golongan dermatofita.
Etiologi2
Dermatofitosis termasuk kelas Fungi imperfecti,
yang terbagi dalam 3 genus, yaitu Microsporum,
Trichophyton dan Epidermophyton.2
Yang terbanyak ditemukan di Indonesia adalah
Trichophyton rubrum. Dermatofita yang lain adalah
Epidermophyton floccosum, Tricophyton
mentagrophytes, Microsporum canis, Microsporum
gypseum, Tricophyton concentricum, Tricophyton
schoenleini dan Tricophyton tonsurans.1
DERMATOFITOSIS
Tinea kapitis

Tinea korporis Tinea Barbe

Dermatofitosis
Tinea
unguium Tinea Kruris

Tinea pedis et
manum
TINEA KAPITIS1
Definisi
Tinea kapitis adalah kelainan kulit pada
daerah kepala berambut yang disebabkan oleh
jamur golongan dermatofita.

Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh spesies
dermatofita dari genus Trichophyton dan
Microsporum, misalnya T.violaceum, T.gourvili,
T.mentagrophytes, T.tonsurans, M.audonii,
M.Canis dan M.ferrugineum.
Gambaran Klinis1
Penyakit ini sering terjadi pada anak-anak, yang dapat ditularkan dari binatang
peliharaan misalnya anjing dan kucing. Keluhan penderita berupa bercak pada kepala,
gatal dan sering disertai rontoknya rambut di tempat lesi tersebut.

Ada 3 bentuk klinis dari tinea kapitis:


Grey patch ringworm: merupakan tinea kapitis yang biasanya disebabkan oleh genus
Microsporum dan ditemukan pada anak-anak. Penyakit ini biasanya dimulai dengan
timbulnya papula merah kecil di sekitar folikel rambut. Papula ini kemudian melebar dan
membentuk bercak pucat karena adanya sisik. Penderita mengeluh gatal, warna rambut
menjadi abu-abu, tidak berkilat lagi. Rambut menjadi mudah patah dan juga mudah
terlepas dari akarnya. Pada daerah yang terserang oleh jamur terbentuk alopesia setempat
dan terlihat sebagai grey patch. Bercak abu-abu ini sulit terlihat batas-batasnya
dengan pasti, bila tidak menggunakan lampu Wood. Pemeriksaan dengan lampu Wood
memberikan fluoresensi kehijau-hijauan sehingga batas-batas yang sakit dapat terlihat
jelas.
Kerion: merupakan tinea kapitis yang disertai dengan reaksi
peradangan yang hebat. Lesi berupa pembengkakan
menyerupai sarang lebah, dengan serbukan sel radang
disekitarnya. Kelainan ini menimbulkan jaringan parut yang
menetap. Biasanya disebabkan jamur zoofilik dan geofilik. 1

Black dot ringworm: adalah tinea kapitis dengan


gambaran klinis berupa terbentuknya titik-titik hitam pada
kulit kepala akibat patahnya rambut yang terinfeksi tepat di
muara folikel. Ujung rambut yang patah dan penuh spora
terlihat sebagai titik hitam. Biasanya disebabkan oleh genus
Tricophyton. 1
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis,
pemeriksaan dengan lampu Wood, dan pemeriksaan
mikroskopis rambut langsung dengan KOH. Pada
pemeriksaan mikroskopis, akan terlihat spora di luar
rambut (ectotrics) atau di dalam rambut (endotrics). 1
Terapi
Pengobatan pada anak biasanya diberikan per oral
dengan griseofulvin 10-25 mg/kg berat badan per hari
selama 6 minggu. Dosis pada orang dewasa adalah 500
mg/hari selama 6 minggu. Penggunaan antijamur
topikal dapat mengurangi penularan pada orang yang
ada di sekitarnya. 1
TINEA UNGUIUM1
Definisi
Tinea unguium adalah kelainan kuku yang
disebabkan oleh infeksi jamur golongan
dermatofita.

Etiologi
Penyebab penyakit yang sering adalah
T.mentagrophytes dan T.rubrum.
Gambaran Klinis1
Dikenal 3 bentuk gejala klinis, yaitu:
Bentuk subungual distalis. Penyakit ini mulai dari tepi distal
atau distolateral kuku. Penyakit akan menjalar ke proksimal
dan di bawah kuku terbentuk sisa kuku yang rapuh.
Leukonikia trikofita atau leukonikia mikofita. Bentuk ini
berupa bercak keputihan di permukaan kuku yang dapat
dikerok untuk membuktikan adanya elemen jamur.
Bentuk subungual proksimal. Pada bentuk ini, kuku bagian
distal masih utuh, sedangkan bagian proksimal rusak. Kuku
kaki lebih sering diserang daripada kuku
terapi1

Pengobatan penyakit ini memakan waktu yang lama.


Pemberian griseofulvin 500 mg/hari selama 3-6 bulan
untuk kuku jari tangan dan 9-12 bulan untuk kuku jari
kaki merupakan pengobatan standar. Pemberian
itrakonazol atau terbenafin per oral selama 3-6 bulan
juga memberikan hasil yang baik. Bedah skalpel tidak
dianjurkan terutama untuk kuku jari kaki, karena jika
residif akan menggangu pengobatan berikutnya. Obat
topikal dapat diberikan dalam bentuk losio atau
kombinasi krim bifonazol dengan urea 40 % dan
dibebat.
TINEA KORPORIS1

Definisi
Tinea korporis adalah infeksi jamur dermatofita
pada kulit tidak berambut (glaborous skin) di
daerah muka, badan, lengan dan tungkai.

Etiologi
Penyebab tersering penyakit ini adalah T.rubrum
dan T.mentagrophytes.
Gambaran klinis1

Bentuk klinis biasanya berupa lesi yang terdiri atas bermacam-


macam eflorosensi kulit, berbatas tegas dengan konfigurasi anular,
arsinar atau polisiklik. Bagian tepi lebih aktif dengan tanda
perdangan yang lebih jelas. Daerah sentral biasanya menipis dan
terjadi penyembuhan, sementara di tepi lesi makin meluas ke
perifer. Kadang-kadang bagian tengahnya tidak menyembuh, tetapi
tetap meninggi dan tertutup skuama sehingga menjadi bercak yang
besar.
Tinea korporis yang menahun ditandai dengan sifat kronik. Lesi
tidak menunjukkan tanda-tanda radang yang akut. Kelainan ini
biasanya terjadi pada bagian tubuh dan tidak jarang bersama-sama
dengan tinea kruris. Bentuk kronik yang disebabkan oleh T.rubrum
kadang-kadang terlihat bersama dengan tinea unguium.
terapi1

Pengobatan sistemik berupa griseofulvin dosis


500 mg/hari selama 3-4 minggu; dapat juga
ketokonazol 200 mg/hari selama 3-4 minggu;
itrakonazol 100 mg/hari selama 2 minggu; atau
terbinafin 250 mg/hari selama 2 minggu.
Pengobatan dengan salep Whitfeld masih cukup
baik hasilnya. Dapat juga diberikan tolnaftat,
tolsiklat, haloprogin, siklopiroksolamin, derivat
azol, dan naftifin HCl.
TINEA IMBRIKATA1
Definisi
Tinea imbrikata adalah penyakit yang disebabkan
oleh infeksi jamur dermatofita yang memberikan
gambaran khas berupa kulit bersisik dengan sisik
yang melingkar-lingkar dan terasa gatal.

Etiologi
Penyakit ini disebabkan jamur dermatofita
T.concentricum.
Gambaran Klinis1
Penyakit ini dapat menyerang seluruh permukaan kulit yang tidak
berambut, sehingga sering digolongkan dalam tinea korporis. Lesi bermula
sebagai makula eritematosa yang gatal, kemudian timbul skuama yang
agak tebal dan konsentris dengan susunan seperti genting. Lesi makin
lama makin melebar tanpa meninggalkan penyembuhan di bagian tengah.
Terapi1
Pengobatan sistemik griseofulvin dengan dosis 500 mg/hari selama 4
minggu. Sering terjadi kambuh setelah pengobatan, sehingga memerlukan
pengobatan ulang yang lebih lama. Obat sistemik lain adalah ketokonazol
200 mg/hari, itrakonazol 100 mg/hari dan terbinafin 250 mg/hari selama 4
minggu.
Pengobatan topikal tidak begitu efektif karena daerah yang terserang luas.
Dapat diberikan preparat yang mengandung keratolitik kuat dan
antimikotik, misalnya salep Whitfeld, Castellani paint, atau campuran
salisilat 5 % dan sulfur presipitatum 5 %, serta obat-obat antimikotik
berspektrum luas.
TINEA KRURIS1
Definisi
Tinea kruris adalah penyakit infeksi jamur
dermatofita di daerah lipat paha, genitalia, dan
sekitar anus, yang dapat meluas ke bokong dan
perut bagian bawah.
Etiologi
Penyebab umumnya adalah E.floccosum, kadang-
kadang dapat juga disebabkan oleh T.rubrum.
Keluhan penderita adalah rasa gatal di daerah
lipat paha sekitar anogenital.
Gambaran Klinis1
Gambaran klinis biasanya berupa lesi simetris di lipat paha kanan
dan kiri, namun dapat juga unilateral. Mula-mula lesi ini berupa
bercak eritematosa dan gatal, yang lama kelamaan meluas hingga
skrotum, pubis, glutea, bahkan sampai seluruh paha. Tepi lesi aktif,
polisiklik, ditutupi skuama dan terkadang disertai banyak vesikel-
vesikel kecil.

Terapi1
Pengobatan sistemik menggunakan griseofulvin 500 mg/hari
selama 3-4 minggu. Obat lain adalah ketokonazol. Pengobatan
topikal memakai salep Whitfeld, tolnaftat, tolsiklat, haloprogin,
siklopiroksolamin, derivat azol dan naftifin HCl.
TINEA MANUS ET PEDIS1
Definisi
Tinea manus et pedis merupakan penyakit yang
disebabkan oleh infeksi jamur dermatofita di
daerah kulit telapak tangan dan kaki, punggung
tangan dan kaki, jari-jari tangan dan kaki, serta
daerah interdigital.

Etiologi
Penyebab tersering adalah T.rubrum, T.
mentagrophytes dan E.floccosum.
Gambaran Klinis1
Penyakit ini sering terjadi pada orang dewasa yang setiap hari harus
memakai sepatu tertutup dan pada orang yang sering bekerja di
tempat yang basah, mencuci, bekerja di sawah dan sebagainya.
Keluhan penderita bervariasi mulai dari tanpa keluhan sampai
mengeluh sangat gatal dan nyeri karena terjadinya infeksi sekunder
dan peradangan.
Terapi1
Pengobatan pada umumnya cukup topikal saja dengan obat-obat
antijamur untuk bentuk interdigital dan vesikular. Lama pengobatan
4-6 minggu. Bentuk moccasin foot yang kronik memerlukan
pengobatan yang lebih lama, paling sedikit 6 minggu dan kadang-
kadang memerlukan antijamur per oral, misalnya griseofulvin,
itrakonazol, atau terbenafin.
NONDERMATOFITOSIS
Pitriasis
versikolor
Keratomikosis Piedra hitam

Nondermatofito
sis
Otomikosis
Piedra putih
Tinea nigra
Palmaris
Pitriasis Versikolor1
Pitriasis versikolor yang disebabkan Malasezia
furfur Robin adalah penyakit jamur superfisial
yang kronik, biasanya tidak memberikan
keluha subyektif, berupa bercak berskuama
halus yang berwarna putih sampai coklat
hitam, terutama meliputi badan dan kadang-
kadang dapat menyerang ketiak, lipat paha,
lengan, tungkai atas, leher, muka, dan kulit
kepala yang berambut.
EPIDEMIOLOGI1
Pitiriasis versikolor adalah penyakit universal,
dan terutama ditemukan didaerah tropis.
GEJALA KLINIS1
Kelainan kulit pitiriasis versikolor sangat
superfisial dan ditemukan terutama dibadan
kelainan ini terlihat sebagai bercak-bercak
berwarna-warni,bentuk tidak teratur sampai
teratur, batas jelas sampai difus. Bercak-bercak
tersebut berfluorosensi bila dilihat dengan lampu
wood. Bentuk papulo-vesikuler dapat terlihat
walaupun jarang. Kelainan biasanya asimtomatik
sehingga adakalanya penderita tidak mengetahui
bahwa berpenyakit tersebut.
Kadang-kadang penderita dapat merasa gatal ringan,
yang merupakan alasan berobat. Pseudoakromia,
akibat tidak terkena sinart mata-hari atau kemungkinan
pengaruh toksis jamur ter-hadap pembentukan
pigmen, sering dikeluhkan penderita. 1
Penyakit ini sering dilihat pada remaja, walaupun anak-
anak dan orang dewasa tua tidak luput dari infeksi.
Menurut BURKE (1961) ada beberapa faktor yang
mempengaruhi infeksi, yaitu faktor heriditer, penderita
yang sakit kronik atau yang mendapat pengobatan
steroid dan mainutrisi. 1
DIAGNOSIS1
Diagnosis ditegakkan atas dasar gambaran
klinis, pemeriksaan fluorosensi, lesi kulit
dengan lampu wood, dan sediaan langsung.
PENGOBATAN1
Pengobatan harus dilakukan menyeluruh, tekun dan
konsisten. Obat-obatan yang dapat dipakai misalnya:
suspensi selenium sulfide (selsun) dapat dipakai
sebagai sampo 2-3 kali seminggu. Obat digosokkan
pada lesi dan didiamkan 15-30 menit, sebelum mandi.
Obat-obat lain yang berkhasiat terhadap penyakit ini
adalah: salisil spiritus 10%; derivat-derivat azol,
misalnya mikonanazol, klotrimazol, isokonazol; sulfur
presipitatum dalam bedak kocok 4-20%; tolsiklat;
tolnaftat, dan haloprogin. Jika sulit disembuhkan
ketokonazol dapat dipertimbangkan dengan dosis
1x200 mg sehari selama 10 hari.
PITIROSPORUM FOLIKULITIS1
DEFENISI
pitirosporum folikulitis adalah penyakit kronis pada folikel
pilosebasea yang disebabkan oleh spesies pitirosporum,
berupa papuldan pustul folikular, biasanya gatal an
terutama berlokasi dibatang tubuh, leher dan lengan
bagian atas.
ETIOLOGI
jamur penyebab adalah spesies pityrosporum yang
identik dengan malassezia furfur, penyebab pitiriasis
versikolor. Spesies ini sekarang disebut kembali sebagai
malassezia setelah ditemukan 7 spesies, sehingga penyakit
yang disebabkan oleh jamur ini atau dihubungkannya yang
dahulu dinamai pitirosporosis sekarang disebut malazesiosis
PATOGENESIS1
spesies malassezie merupakan penyebab
pitirosporum folikulitis dengan sifat dimorfik,
lipofilik, dan komensal. Bila pada hospes
terdapat faktor preisposisi spesies malassezia
yang tumbuh berlebihan dalam folikel
sehingga folikel dapat pecah. Dalam hal ini
reaksi peradangan terhadap produk,
tercampur dengan lemak bebas yang
dihasilkan melalui aktivitas lipase.
Faktor predisposisi antara lain adalah suhu
dan kelembapan udara yang tinggi,
penggunaan bahan-bahan berlemak untuk
pelembab badan yang berlebihan, antibiotik
kortikosteroid lokal/sistemik, sitostatik dan
penyakit tertentu, misalnya: diabetes melitus,
keganasan, keadaan imunokompremais dan
acquired immunodeficiency sydrome (AIDS). 1
GEJALA KLINIS1
malassezia folikulitis memberikan keluhan
gatal pada tempat predileksi. Klinis morfologi
terlihat papul dan pustul perifolikular,
berukuran 2-3 mm diameter, dengan
peradangan minimal. Tempat pridileksi adalah
dada, punggung dan lengan atas. Kadang-
kadang dapat dileher dan jarang dimuka.
DIAGNOSIS BANDING 1
Akne vulgaris
Folikulitis bakterial
Erupsi akneformis
PENGOBATAN 1
antimikotik oral
misalya:
Ketokonazol 200 mg selama 2-4 minggu
Itrakonazol 200 mg sehari selama 2 minggu
Flukonazol 150 mg seminggu selama 2-4
minggu.
antimikotik topikal biasanya kurang efektik,
walaupun dapat menolong.
Prognosis: baik.
PIEDRA 1
DEFENISI
Piedra adalah infeksi jamur pada rambut , ditandai
dengan benjolan (nodus) sepanjang rambut, dan
disebabkan oleh piedraia hortai (black piedra) atau
trichosporon beigelii (white piendra). Diindonesia
hingga sekarang hanya lihat piedra hitam.
Gejala Klinis 1
Piedra hanya menyerang rambut kepala, janggut dan kumis
tanpa memberikan keluhan. Krusta melekat elat sekali pada rambut
yang terserang kuman dan dapat sangat kecil sehingga hanya dapat
dilihat dengan mikroskop. Benjolan yang besar mudah dilihat,
diraba, dan teraba kasar bila rambut diraba dengan jari. Bila rambut
disisir terdengar suara metal (klik).
Piedra hitam, yang hanya ditemukan di daerah tropis tertentu
merupakan penyakit endemis ditempat tertentu, terutama yang
banyak hujan. Piedra hortai hanya menyerang rambut kepala. Jamur
ini menyerang rambut dibawah kutikel, kemudian membengkak dan
pecah untuk menyebar disekitar rambut (shaft) dan membentuk
benjulan tengguli dan hitam.
Piedra putih, yang lebih jarang ditemukan, terdapat di daerah
beriklim sedang, haya sekali sekali ditemukan di daerah tropis.
Infeksi ini menyerang janggut dan kumis. Benjolan berwarna coklat
mudah dan tidak begitu melekat ada rmbut. Diperkirakan bahwa
Trichosporon beigellii hanya dapat menyerang rambut yang telah
rusak.
Pengobatan 1
Memotong rambut yang terkena infeksi
atau mencuci rambut dengan larutan sublimat
1/2000 setiap hari. Obat anti jamur
konvensional dan yang barupun berguna.
TINEA NIGRA PALMARIS
DEFENISI
tinea nigra yang disebabkan cladosporium
wermeckii adalah infeksi jamur superfisial
yang asimtomatik pada stratum korneum.
Kelainan kulit berupa makula tenggulisampai
hitam.telapak tangan yang biasanya tersrang,
walaupun telapak kaki dan permukaan kulit
lain dapat terkena.
EPIDEMIOLOGI
penyakit terutama terdapat diamerika selatan
dan tengah, kadang-kadang ditemukan
diamerika serikat dan eropa. Di asia penyakit
ini juga ditemukan; diindonesia penyakit ini
sangat jarang dilihat.
ETIOLOGI
Penyebab peyakit adalah cladosporium
wemeckii diamerika utara dan selatan,
sedangkan diasia dan diafrika organisme in
disebut cladosporium mansonii.
GEJALA KLINIS
Kelainan kulit telapak tangan berupa bercak-
bercak tengguki hitam dan sekali-sekali bersisik.
Penderita pada umumnya berusia muda dibawah
19 tahunan penyakitnya berlangsung kronik
sehingga dapat dilihat pada orang dewasa diatas
umur 19 tahun. Perbandingan penderita wanita
8x lebih banyak dari pada pria. Faktor-faktor
predisposisi penyakit belum diketahui kecuali
hiperhidrosis. Kekurangan respon imun penderita
rupanya tidak berpengaruh.
DIAGNOSIS
diagnosis dibuat berdasarkan pemeriksaan
kerokan kulit dan biakan. Pada pemeriksaan
sediaan langsung dalam larutan KOH 10%
jamur terlihat sebagai hifa bercabang,
bersekat ukuran 1,5-3 miko.
Pengobatan
Tinea nigra dapat diobati dengan obat
obatan jamur konvensional, misalnya salap
salisil sulfur, whitfield, dan tincura jodii.
DAFTAR PUSTAKA

1. Adhi D, Mochtar H, Siti A, ed. Ilmu Penyakit


Kulit dan Kelamin. Edisi 4. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI, 2005 : 92 99.
2. Harahap, Marwali. Ilmu Penyakit Kulit.
Jakarta: Hipokrates, 2000 : 73 80.
3. Alldredge, B.K., Corelli, R.L., dan Ernst, M.E.,
2012. Koda-Kimble and Youngs Applied
Therapeutics: The Clinical Use of Drugs.
Lippincott Williams & Wilkins.