Vous êtes sur la page 1sur 31

AHLI TOKSIKOLOGI

Ahli Toksikologi Klinis Diagnosis dan terapi

Pemeriksaan
Ahli Toksikologi Analitik
laboratorium

Ahli Toksikologi Patologi Mengevaluasi racun

Penyelidikan tentang keracunan fatal harus merupakan usaha


kooperatif, terutama antara ahli patologi dan analis laboratorium
KONSEP DOSIS FATAL
Banyak orang, termasuk beberapa dokter, berada di bawah
ketidakpahaman bahwa untuk sebagian besar zat beracun,
jumlahnya relatif konstan untuk menyebabkan kematian

Tidak ada 'dosis fatal' dalam arti konsentrasi ambang tunggal, di


atas berapa seseorang akan meninggal dan di bawah berapa ia
akan bertahan
KONSEP DOSIS FATAL

Tercatat terdapat kasus bertahan hidup yang terjadi jauh di atas


batas atas dan kematian terjadi dibawah batas bawah.

Dalam kasus tersebut, tugas ahli patologi adalah untuk


mengevaluasi semua data non-toksikologi lainnya untuk
mengetahui apakah terdapat penjelasan yang dapat diterima
sebagai penyebab kematian.
KONSEP DOSIS FATAL

Jauh lebih bermanfaat adalah catatan kumulatif hasil


laboratorium aktual dari pusat toksikologi yang berhubungan
dengan keracunan manusia, yang membangun basis data darah
dan jaringan yang besar, dan menghubungkannya dengan catatan
keadaan klinis, efek toksik dan hasil fatal.
VARIASI DALAM KONSENTRASI FATAL
YANG DIPUBLIKASIKAN
Dalam publikasi tentang rentang terapeutik, beracun dan
mematikan untuk berbagai macam zat beracun, terdapat variasi
yang cukup besar pada tingkat yang dikutip.

Hal ini bisa menyulitkan ahli patologi yanguntuk memutuskan


apakah kematian dapat dibenarkan dikaitkan dengan obat
tertentu atau zat beracun lainnya.
VARIASI DALAM KONSENTRASI FATAL
YANG DIPUBLIKASIKAN
Menurut Dr. A. R. W. Forrest, Ahli Patologi Kimia dan Toksikologi
di Rumah Sakit Royal Hallamshire di Sheffield penyebab variasi
tersebut yaitu :

1. Beberapa hanya merupakan laporan kasus individual

2. Teknik analisis sangat bervariasi, baik dalam metode


dan akurasi

3. Lokasi pengambilan sampel


Autopsi pada Terduga Keracunan
Pemeriksaan toksikologis
Kejadian Banyak bahan beracun
terkini hanya memerlukan
kematian seperti bahan korosif, logam
kuantitas sampel sedikit,
akibat berat dan alkaloid mudah
bahkan pada tingkat
racun, baik terdeteksi.
nanogram sudah cukup.
pada kasus
pembunuha Dewasa ini banyak
n, bunuh diri ditemukan bahan-bahan
atau karena agrokimia dan farmakologis
kecelakaan yang bereaksi pada dosis
sudah rendah dan hampir tidak
banyak meninggalkan jejak pada
berubah. tubuh korban.
Di beberapa bagian dunia, seperti pada Asia
Tenggara, Afrika, dan India, keracunan masih
sering terjadi, dan senyawa yang memang
merusak umumnya ditemukan pada lesi yang
memang menggambarkan kondisi keracunan.
Fungsi utama autopsi : untuk menilai keadaan-
keadaan penyerta baik trauma maupun penyakit
lainnya, serta untuk mengambil bahan yang
sesuai untuk analisis laboratorium.
Pencatatan medis penting
Kematian untuk ditulis dan dipelajari
akibat sebelum autopsi dimulai.
Keracunan Bila terdapat kecurigaan,
di Rumah maka pemeriksaan
Sakit toksikologis sebaiknya
dilakukan
Sampel cairan, seperti urin dan karena kerusakan
sampel akibat
darah ante-mortem lebih perubahan post-
bernilai daripada yang diambil mortem
karena kadar racun
saat autopsi, jadi sebaiknya tidak umumnya lebih tinggi
langsung dibuang. pada kondisi pasien
masih hidup
Teknik
pengambilan
sampel Lokasi
Sampel yg pengambilan
tidak sesuai sampel

Hal yg
mempengaruhi
Jumlah hasil pemeriksaan Penyimpanan
sampel
sampel sampel

Pengirimin
Kondisi sampel
penyerta terlambat
Waktu Pengambilan Sampel
Sebaiknya dilakukan segera
Banyak jenis substansi tidak stabil dan
terurai oleh autolisis post-morterm
dan dekomposisi

Jika tertunda hitungan jam Jika tertunda berhari-hari

Masukkan Ambil sampel


mayat ke kulkas darah, urine, dan
mayat vitreous humour
Identitas
Pasien Rincian
Pemberian singkat
label pada tanda
tiap sampel keracunan
pada pasien
Penyakit
Post-morterm
infeksius yg interval sblm
diderita sampel diambil
pasien Hal yg Perlu dan tgl
(HIV, Hep B, Disampaikan pengambilan
sampel
dll) ke
Laboratorium
Identitas
Metode
dokter yg
penyimpana
n sampel mengirim
sampel
Sifat kimia Daftar
pengawet sampel yg
sampel tersedia
SPESIFIKASI WADAH UNTUK SAMPEL TOKSIK

Baru atau jika sebelumnya pernah digunakan untuk


sampel lain harus dibersihkan dan disterilisasi. Semua
wadah harus bersih secara kimiawi.

Sampel darah harus ditempatkan dalam wadah


bertutup berukuran sekitar 30 ml atau, dalam tabung
plastik tertutup berukuran sekitar 5 ml.

Urine paling baik ditempatkan dalam wadah


berukuran 30 ml.

Sampel Isi perut dapat disimpan dalam wadah seperti


botol kaca atau plastik dengan volume minimal 250
ml.
SPESIFIKASI WADAH UNTUK SAMPEL TOKSIK

Sampel vitreous humor atau cairan serebrospinal


ditempatkan dalam botol bijou dengan kapasitas 5
ml atau tabung kecil dengan ukuran yang sama.

Isi usus, dengan atau tanpa usus itu sendiri, bisa


diletakkan di stoples besar atau pot plastik, mirip
dengan yang digunakan untuk sampel liver.
Sampel untuk analisis paling baik dikirim
dalam keadaan original

PENGAWETAN
Antikoagulan untuk sampel darah
SAMPEL

Pengawet natrium atau kalium florida jika


sampel tidak langsung dianalisis
BERBAGAI PENELITIAN

Glendening and Plueckhahn (1968) Bersama Ballard, dia


Waugh (1965) menemukan menyelidiki
menggunakan bahwa setidaknya penggunaan merkuri
100mg sodium 5mg / ml sodium klorida sebagai
fluoride / 10 ml fluorida pengawet
darah dan tidak diperlukan untuk (Plueckhahn dan
menemukan menghambat Ballard 1968). Zat ini
perubahan aktivitas alkohol juga digunakan oleh
kandungan alkohol dehidrogenase, Bradford (1966) yang
saat sampel yang menambahkan
disimpan pada menghancurkan 0.5mg natrium sitrat
suhu kamar sampai alkohol dan 0,1 mg mercuric
3 bulan. chloride / ml darah
untuk memastikan
bahwa sampel tetap
cair dan steril.
LOKASI PENGAMBILAN SAMPEL UNTUK
ANALISIS TOKSIKOLOGI
Terjadinya difusi mengakibatkan interpretasi komponen
fisiologis, seperti natrium, kalium, kalsium, glukosa, urea dan zat
lainya yang mempengaruhi tingkat post-mortem tidak dapat
dijadikan dasar analisis.

Dengan menerapkan fakta ini ke senyawa toksik, konsentrasinya


dapat sangat bervariasi sesuai dengan lokasi pengambilan
sampel.

Pada analisis alkohol dalam darah pada kasus bencana di


London, didapatkan perbedaan empat kali lipat antara 20 dan
80mg / 100 ml hal ini menunjukkan bahwa kadar alkohol dalam
darah dapat sangat bervariasi antara titik sampling yang berbeda
sesuai dengan lokasi pengambilan sampel.
TEMPAT PENGAMBILAN SAMPLE UNTUK ANALISIS
TOKSIKOLOGI

Jika jarak waktu minum alkohol sebelum kematian adalah


singkat, maka etanol tetap di perut setelah kematian dan tidak
dapat
. terkontribusi secara sempurna.

Plueckhahn dan Ballard (1968) memasukkan alkohol ke dalam perut


mayat dan mengambil sampel pada beberapa tempat (setelah 6 sampai
50 jam kemudian) . Hasilnya menunjukkan bahwa ada difusi alkohol yang
signifikan ke pericardial dan cairan pleura, dan minimal pada darah
jantung intraventrikular, dan kadar alkohol pada cairan perikardial
biasanya sekitar 20mg / 100 ml.
TEMPAT MENGAMBIL SAMPLE UNTUK ANALISIS
TOKSIKOLOGI

Pounder dan Yonemitsu (1991) memasukan alkohol ke tubuh


mayat, kemudian dekstropropoksifen dan parasetamol dimasukan
ke dalam trakea. Setelah 48 jam, dilakukan otopsi dan sampel
diambil pada beberapa tempat. Ditemukan hasil bahwa darah vena
femoralis tetap bersih.

Winek dkk. (1995): pada kasus trauma, dimana saluran


gastrointestinal telah rusak, pengambilan sampel dengan cara
transthoracic needle dianjurkan.
TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL PADA AUTOPSI

I. DARAH
Ada beberapa cara untuk mendapatkan sampel darah saat
autopsi, darah yang diambil dari rongga tubuh setelah
dilakukan eviserasi tidak dianjurkan, karena hampir pasti
terkontaminasi dengan zat tubuh yang lain
TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL PADA AUTOPSI

Pada kasus hemotoraks atau hemoperikardium


yang luas, sampel darah bisa diambil segera
saat membuka dada sebelum diseksi.

Pada kasus yang terbakar parah. Perkiraan


karbon monoksida bisa dilakukan pada darah
yang diambil, jika tidak ada cara yang lain.
TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL PADA AUTOPSI

Pada umumnya, lebih bagus adalah sampel darah yang


diambil dengan cara venipuncture pada vena
femoralis
TEKNIK MENGAMBIL SAMPEL AUTOPSI

II. URIN
Pada kasus tidak dilakukan autopsi, urin diambil dengan kateter atau
menusuk pada suprapubik dengan syringe dan jarum panjang. Pada kasus
dilakukan otopsi, urin diambil setelah dilakukan eviseresi dengan
menusuk pada fundus dengan syringe dan jarum.

III. EMPEDU
Pada beberapa kasus seperti keracunan morfin dan
klorpromazin. Lebih baik cairan empedu dimasukin langsung
ke dalam wardah.
TEKNIK MENGAMBIL SAMPEL AUTOPSI

IV. CAIRAN SEREBROSPINAL


Sering pada penelitian mikrobiologi dan virologi,
diambil dengan tusukkan pada lumbar atau cisternal

V. VITREOUS HUMOR
Pada kasus dengan dekomposisi post-mortem yang
cukup luas, seperti cairan pada bola mata
Vitreous Humor

Berguna terutama pada kasus dekomposisi


post mortem karena cairan mata lebih tahan
terhadap putrefaksi daripada cairan tubuh

Dapat digunakan untuk menentukan waktu


kematian
Isi Lambung

Bagian luar lambung harus bersih dari darah dan


kontaminan lain, serta dilepaskan dari organ yang
menempel

Yang harus diperhatikan:


- Garis lambung
- Bubuk, kapsul, tablet
- Mukosa
Isi Usus

Tidak rutin dilakukan, kecuali dicurigai terdapat racun


gastrointestinal tertentu

Yang harus diperhatikan:


- Pemeriksaan toksikologi
- Pemeriksaan fisik usus
- Pemeriksaan logam berat
Muntah

Jarang dilakukan pada saat otopsi, kecuali


apabila ditemukan sejumlah besar muntah di
saluran udara

Apabila diduga berhubungan dengan


kecurigaan keracunan, maka harus disimpan
dan diberi label untuk pemeriksaan toksikologi
Cairan Lainnya

Cairan lain jarang diperiksa, kecuali


apabila tidak dapat dilakukan
pemeriksaan darah

Cairan lain yang dapat diperiksa antara


lain cairan pericardial, cairan sinovial,
efusi pleura, dan cairan ascites
Pemeriksaan Senyawa Berbahaya

Pada kasus kematian akibat senyawa


berbahaya, material toksik dapat
diisolasi dari seluruh lapang paru

Pada penyimpanan sampel dapat


digunakan kantong nylon, tabung kaca
dengan tutup alumunium atau teflon.
Jaringan Tubuh

Pemeriksaan liver sering dilakukan untuk memeriksa


senyawa dan metabolitnya

Pemeriksaan otak dan ginjal dapat digunakan untuk


pemeriksaan toksikologi

Pemeriksaan jaringan subkutan dan otot digunakan


untuk memeriksa senyawa yang diinjeksikan