Vous êtes sur la page 1sur 25

Kelompok 2:

Al-afifka feviansyah(168010098)
Erlangga widya putri (168010102)
Eka sarofatul janah (168010101)
Emma nur chayati (16801009)
Ragil saptaningtyas (168010105)
Pengertian Anti Oksidan
senyawa yang mampu menangkal atau
meredam efek negatif oksidan dalam tubuh,
bekerja dengan cara mendonorkan satu
elektronnya kepada senyawa yang bersifat
oksidan sehingga aktifitas senyawa oksidan
tersebut dapat dihambat. (Menurut, winarsih 2007)

Antioksidan adalah senyawa yang mempunyai


struktur molekul yang dapat memberikan
elektronnya cuma- cuma kepada molekul radikal
bebas tanpa terganggu sama sekali fungsinya
dan dapat memutus reaksi berantai dari radikal
bebas.
sebagai senyawa yang dapat menunda,
memperlambat dan mencegah proses oksidasi
lipid. Dalam arti khusus, zat yang dapat menunda
atau mencegah terjadinya reaksi oksidasi radikal
bebas dalam oksidasi lipid (Kochhar dan Rosseli
1990).
Klasifikasi Anti Oksidan
Berdasarkan Jenis utama
Antioksidan enzimatis: merupakan antioksidan endogenus,
enzim superoksida dismutase (SOD),
katalase,
glutation peroksidase (GSH-PX),
glutation reduktase (GSHR).

Sebagai antioksidan, enzim-enzim ini bekerja menghambat


pembentukan radikal bebas, dengan mengubahnya
menjadi produk lain yang stabil, sehingga antioksidan
kelompok ini disebut juga chain-breaking-antioxidant
(Winarsih, 2007)
Superoksid Dismutase (SOD)
SOD adalah enzim intraseluler. Ada tiga bentuk:
(1) Cu-Zn SOD yang terdiri dari dua sub unit dan
terdapat di dalam sitoplasma
(2) Mn-SOD di dalam mitokondria dan
(3) Cu-SOD yang terdapat di ekstraseluler.

Superoksid
Dismutase (SOD)
SOD bereaksi dengan radikal bebas membentuk
H2O2.
Enzim katalase dan glutathione peroksidase
mereduksi H2O2 menjadi H2O
Peningkatan superoksid akan menghambat
glutathione peroksidase dan katalase. Peningkatan
H2O2 akan menurunkan aktifitas CuZn-SOD.
katalase dan glutathione peroksidase dengan
mereduksi H2O2 akan menghemat SOD.
SOD dengan mereduksi superoksid akan
menghemat katalase dan glutathione peroksidase.
tercapailah keadaan SOD, katalase, glutathione
peroksidase, superoksid dan H2O2 dalam keadaan
seimbang.
Katalase
Enzim ini adalah protein yang terdapat di semua
sel aerob pada jaringan tubuh.
terutama terkonsentrasi pada hati dan eritrosit.
Otak, otot rangka, jantung hanya mengandung
katalase dalam jumlah sedikit.
Katalase dan glutathione peroksidase
mengubah hidrogen peroksida menjadi air dan
oksigen. Peningkatan produksi hidrogen peroksida
oleh enzim SOD tanpa diikuti peningkatan katalase
atau glutathione peroksidase akan menyebabkan
penumpukan hidrogen peroksida.
2H2O2 - 2 H2O + O2
Glutation perioksidase
adalah enzim yang berperan aktif dalam
menghilangkan H2O2 dalam tubuh dan
mempergunakannya untuk merubah glutathione
(GSH) menjadi glutathione teroksidasi (GSSG)
dengan reaksi sebagai berikut :
H2O2 + 2GSH 2 H2O + GSSG
Enzim tersebut mendukung aktivitas enzim SOD
bersama-sama dengan enzim katalase dan
menjaga konsentrasi oksigen akhir agar stabil dan
tidak berubah menjadi pro-oksidan.

Glutation perioksidase
Mekanisme Kerja Antioksidan Enzimatis

Enzim SOD memiliki Fungsi : mengubah radikal


bebas superioksida yang berbahaya menjadi
hydrogen prioksida yang lebih aman, tetapi
hydrogen perioksida mudah menimbulkan oksidasi,
Oleh karena itu Tubuh memerlukan Enzim lain yaitu
Katalase dan gluthation perioksida
Katalase dan gluthation perioksida memiliki fungsi
memecah hydrogen perioksida menjadi air dan
oksigen.
Antioksidan Non-enzimatis

antioksidan eksogenus, Terbentuknya senyawa oksigen reaktif


dihambat dengan cara pengkelatan metal, atau dirusak
pembentukannya (Winarsih, 2007).
bisa didapatkan dari komponen nutrisi sayuran, buah dan
rempah-rempah.
meliputi vitamin C, vitamin E, -karoten, Komponen yang
bersifat antioksidan dalam sayuran, buah dan rempah-
rempah flavonoid, isoflavon, flavon, antosianin, katekin dan
isokatekin (Kahkonen et al., 1999).
Alpha tokophertol (Vitamin E)

o larut dalam lemak yang terdapat di dalam sel


o Disebut esensial karena tubuh tidak dapat membuat sendiri
o terdapat dalam minyak, kacang, gandum dan padi.
o Absorbsi tokoferol didalam usus berhubungan dengan
absorbsi lemak.
o Fungsi utama mencegah peroksidasi membran fosfolipid.
o Karakteristik vitamin E yang lipofilik memungkinkan tokoferol
berada di lapisan dalam sel membran (Halliway dan
Getteridge, 1992)
Lanjutan..
Tokoferol OH dapat memindahkan atom hidrogen
dengan satu elektron ke radikal bebas dan
membersihkan radikal bebas sebelum radikal bebas
bereaksi dengan protein membran sel atau bereaksi
membentuk lipid peroksidasi.

Tokoferol-OH yang bereaksi dengan radikal bebas


membentuk tokoferol-H. Tokoferol-H sendiri adalah radikal
bebas juga. Tokoferol-H akan bereaksi lagi dengan
vitamin C membentuk semidehidroaskorbat, suatu radikal
bebas yang lemah.
Asam Askorbat (Vitamin C)

o vitamin yang larut dalam air.


o terdapat dalam buah jeruk, kentang, tomat dan sayuran
yang berwarna hijau.
o Manusia tidak mampu mensintesa l-askorbic acid dari d-
glukosa karena tidak mempunyai enzim l-gulakolakton
oksidase.
o memperoleh asam askorbat dari diet.
o Fungsi kemampuannya sebagai agen pereduksi (donor
elektron) radikal bebas.
o Pemberian satu elektron yang berasal dari asam askorbat
membentuk radikal semi-dehidroaskorbat (DHA).
o Askorbat bereaksi dengan O2- dan OH untuk membentuk
DHA. Menurut penelitian Jialal,1990, askorbat mempunyai
kemampuan yang lebih kuat daripada tokoferol dalam
menghambat oksidasi LDL. Konsentrasi askorbat yang
digunakan untuk menghambat oksidasi LDL adalah sebesar
40-60 ppm
Betakaroten
o Karotenoid adalah mikronutrien yang memberi
warna pada buah dan sayuran.
o prekursor vitamin A dan mempunyai efek
antioksidan. Ada lebih dari 600 karotenoid telah
ditemukan di dalam makanan.
o Yang paling sering adalah alfa-karoten, beta-
karoten, likopen, krosetin, santaantin dan fukosantin
o terdiri dari dua molekul vitamin A (retinol). Beta
karoten yang berasal dari diet diubah menjadi
retinol di mukosa intestinal.
klasifikasi berdasarkan sumbernya
Antioksidan sintetik
Butil Hidroksi Anisol (BHA),
Butil Hidroksi Toluen (BHT),
propil galat (PG),
Tert-Butil Hidoksi Quinon (TBHQ).
Antioksidan tersebut merupakan antioksidan alami
yang telah diproduksi secara sintetis untuk tujuan
komersial (Buck 1991).
Antioksidan Alami
Antioksidan alami di dalam makanan dapat berasal dari
senyawa antioksidan yang sudah ada dari satu atau dua
komponen makanan, senyawa antioksidan yang terbentuk
dari reaksi-reaksi selama proses pengolahan, senyawa
antioksidan yang diisolasi dari sumber alami dan ditambahkan
ke makanan sebagai bahan tambahan pangan (Pratt 1992).
berasal dari tumbuhan.
senyawa antioksidan alami umumnya adalah senyawa
fenolik atau polifenolik yang dapat berupa golongan
flavonoid,turunan asam sinamat, kumarin, tokoferol, dan
asam-asam organik polifungsional.
Lanjutan..
golongan flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan
meliputi flavon, flavonol, isoflavon, kateksin, flavonol
dan kalkon.

turunan asam sinamat meliputi asam kafeat, asam


ferulat, asam klorogenat, dan lain-lain.

Senyawa antioksidan alami polifenolik ini multifungsional


dan dapat beraksi sebagai pereduksi, penangkap
radikal bebas, pengkelat logam, dan peredam
terbentuknya singlet oksigen.
Antioksidan Berdasarkan Mekanisme Kerjanya

1, Antioksidan Primer
berfungsi untuk mencegah terbentuknya radikal
bebas baru
dikenal dengan enzim superoksida dismutase.
sangat penting sekali karena dapat melindungi
hancurnya sel-sel dalam tubuh akibat serangan
radikal bebas.
Bekerjanya enzim ini sangat dipengaruhi oleh
mineral-mineral seperti mangan, seng, tembaga
dan selenium yang harus terdapat dalam makanan
dan minuman.
2. Antioksidan Sekunder
merupakan senyawa yang berfungsi menangkap
radikal bebas serta mencegah terjadinya reaksi
berantai sehingga tidak terjadi kerusakan yang
lebih besar. Contoh : vitamin E, Vitamin C, dan
betakaroten yang dapat diperoleh dari buah-
buahan.
3. Antioksidan Tersier
o merupakan senyawa yang memperbaiki sel-sel dan
jaringan yang rusak karena serangan radikal bebas.
o merupakan jenis enzim misalnya metionin
sulfoksidan reduktase yang dapat memperbaiki
DNA dalam inti sel.
o Enzim tersebut bermanfaat untuk perbaikan DNA
pada penderita kanker.
SUMBER ANTIOKSIDAN MENCEGAH PENUAAN
Vitamin C
Yakni merupakan AO yang larut dalam air, Senyawa ini banyak
dijumpai pada sitrus dan sayuran berdaun hijau gelap. Vitamin C
sangat esensial dalam biosintesis kolagen dan mampu
menurunkan sintesis pigmen dengan menghambat enzim
tirosinase, Vitamin C juga merupakan senyawa reduktor terbanyak
di tubuh dan merupakan AO yang paling dominan di kulit. Dosis
harian vitamin C yang dianjurkan (Recommended Daily
Allowance/RDA) bervariasi dari 40-60 mg/hari sampai 100 mg/hari.

Vitamin E
Vitamin E merupakan scavenger AO fase lipid utama yang
banyak dijumpai dalam kacangkacangan, minyak sayur dan
sayur-sayuran hijau. Saat terjadi stress oksidatif di stratum korneum,
kadar vitamin E akan menurun namun adanya vitamin C dan
CoQ dan selenium sebagai co-AO dapat mempertahankan
proses regenerasi vitamin E. RDA vitamin E ialah 22 IU/hari7 atau 30
mg/hari.
Vitamin A, retinol dan karotenoid
Retinol dan karotenoid merupakan dua bentuk utama vitamin A
di alam. Retinol (preformed vitamin A) banyak dijumpai di telur,
hati dan susu. Sedangkan karotenoid (provitamin A) banyak
dijumpai di buah dan sayuran berwarna.3 Terdapat 3 jenis
karotenoid utama yang berasal dari diet yakni -karoten, lutein
dan likopen.

Flavonoid
Flavonoid merupakan beragam senyawa polifenol aromatik
dengan efek AO. Diantaranya yang paling sering digunakan
ialah genistein (berasal dari kacang kedele) suatu fitoestrogen
yang juga merupakan scavenger AO terhadap gugus peroksil.

CoQ10
CoQ10 adalah suatu koenzim yang di pasaran sering
dikategorikan sebagai vitamin.2 CoQ10 dikenal sebagai AO
intraseluler16 dan banyak berperan dalam reaksi biokimiawi di
mitokondria.
Selenium
Selenium merupakan mikronutrien esensial yang
diperlukan untuk bekerjanya enzim GPX yang
penting dalam sistem pertahanan terhadap stres
oksidatif. RDA selenium ialah 55 g/hari.
Zinc
Zinc termasuk mineral esensial yang memiliki efek
AO yang efektif di jaringan. Kulit dan adneksanya
merupakan area yang kaya akan zinc, yakni 20%
dari total kadar di tubuh. Zinc dianggap
mempunyai 2 mekanisme AO, yakni kemampuan
mengganti logam transisi (Fe2+ atau Cu2+) dan
menginduksi terbentuknya protein yang dapat
menetralisir ROS
PENANGANAN PHOTO AGING

Pencegahan primer berupa pemilihan pakaian, topi dan


kacamata pelindung, serta aplikasi tabir surya (baik organik,
inorganik, spektrum sempit maupun luas). UPF (UV Protection
Factor) sebagai standar dalam menentukan kemampuan
bahan pakaian, topi memberikan fotoproteksi. UPF sangat
dipengaruhi oleh ketebalan bahan, kerapatan jalinan, warna,
dan kondisi basah atau kering, serta menciut atau tidaknya
bahan sesudah dicuci. Untuk mendapat efek proteksi yang
optimal, baju setidaknya harus menutupi tubuh dari leher ke
pinggul dan melewati bahu sampai ke . proksimal lengan
atas.

Dalam tatalaksana sekunder ialah aplikasi asam retinoat


topikal (yang juga berfungsi dalam terapi bila sudah terjadi
kondisi photoaging) dan pemanfaatan AO baik topikal
maupun sistemik
Terima Kasih