Vous êtes sur la page 1sur 230

1

SISTEM DRAINASE
JEMBATAN & LERENG

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT


BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
PUSDIKLAT JALAN, PERUMAHAN, PEMUKIMAN DAN PENGEMBANGAN
INFRASTRUKTUR WILAYAH
Nama Ir. SAKTYANU P S DERMOREDJO, MEngSc.

Latar
2
Bekerja di Ditjen Bina Marga Dept. PU,
Belakang Dalam Perencanaan & Supervisi Jalan sejak 1980
S1 Teknik Sipil, Institut Teknologi Bandung. 1979
Pasca Sarjana Jalan Raya PU-ITB. Bandung 1980
Pendidikan S2 Geoteknik, University of New South Wales,
Sydney, Australia. 1992

Jabatan Widyaiswara Madya Bidang Jalan & Sejak 2007


Saat ini Jembatan

Alamat saktyanu54@yahoo.com 0811875557

Riwayat Staf Teknik di Subdit Teknik Jalan & Jbt. 1981-1994


Jabatan Kepala Seksi Perencanaan Geometrik. 1994-1998
Kepala Seksi Diseminasi Standar 1998-1999
Analis Kebijakan, Kementerian Negara PU. 1999-2001
Pejabat Fungsional Teknik Jln & Jbt Madya 2001-2007
Tenaga Fungsional pada BPJT 2005-2007
Widyaswara Madya Bid Jalan & Jembatan 2007- sekarang
Pokok Pembahasan 3

Drainase Jembatan
Drainase Lereng
Ruang Wilayah Yang Dikontrol ?
Pokok Pembahasan Drainase Jembatan 4

Istilah dan Definisi


Ketentuan Umum
Komponen drainase jembatan
Pertimbangan dalam desain
Ketentuan Teknis
Kemiringan dek
Saluran tepi
Inlet drainase
Pipa drainase
Outlet pipa drainase
Pipa cucuran
Lubang drainase
Sambungan pipa Cleanou
Prosedur Perancangan Drainase Jembatan
Pokok Pembahasan Drainase 5

Lereng
Sistem Drainase Lereng
Saluran puncak
Saluran penangkap
Saluran pencegat
Pemeliharaan Drainase lereng
Inventarisasi masalah lereng
Penanganan masalah lereng
Perbaikan drainase lereng
6

Drainase Jembatan
Pengertian dan Cakupan 7

Drainase Jembatan adalah drainase lantai


jembatan yang merupakan komponen yang ada
sepanjang lantai untuk membuang air dari lantai
tanpa mengenai elemen lain

Drainaselantai jembatan ini terdiri dari deck


drain, pipa penyalur, pipa drainase untuk
jembatan
Istilah dan Definisi
8
Cleanout : akses pemeliharaan yang dapat dibuka dan ditutup sesuai
kebutuhan pemeliharaan
cross : slope kemiringan penampang trotoar dari pinggir jalan ke lantai
jembatan
drain : saluran yang menerima dan menyalurkan air
drainase jembatan : seluruh susunan jeruji, saluran air, ruang inlet, pipa,
selokan, parit dan outfalls yang diperlukan untuk mengumpulkan air
dan mengalirnya ke titik pembuangan
inlet : lubang tempat masuknya air permukaan untuk dialirkan ke sistem
drainase yang ada
jeruji (grate): kisi-kisi untuk melewatkan air, yang didesain sedemikian rupa
agar tidak membahayakan pengguna jembatan dan dapat dibuka untuk
pemeliharaan
Kurva intensitas durasi frekuensi (IDF) : kurva yang menggambarkan
intensitas hujan dalam durasi dan periode ulang tertentu
Istilah dan Definisi 9
1) intensitas curah hujan : curah hujan rata-rata pada kurun waktu tertentu
2) periode ulang : jangka waktu untuk hujan atau debit dengan suatu
besaran tertentu, dicapai atau dilampaui
3) pipa outlet : pipa pengalir air menuju titik pembuangan (outlet)
4) outlet : tempat aliran keluar
5) Scupper : lubang kecil untuk pembuangan air, biasanya terdapat di
dek, trotoar, atau pembatas
6) saluran dek jembatan : bagian tepi dek jembatan yang membawa air
limpasan ke samping trotoar
7) waktu konsentrasi : waktu yang diperlukan limpasan untuk mengalir dari
titik hulu ke titik saluran drainase terdekat
Komponen 10
Drainase
Jembatan
Inlet 11
Jeruji 12
Typical inlet 13
desain
Typical inlet 14
desain
Typical inlet 15
desain
Typical inlet 16
desain
Typical inlet 17
desain
Typical inlet 18
desain
Typical inlet 19
desain
Typical inlet 20
desain
Typical inlet 21
desain
Typical inlet 22
desain
Typical inlet 23
desain
KASUS 24
25
Saluran tepi 26
Perancangan inlet drainase 27
PROSEDUR
28
PERANCANG
AN DRAINASE
JEMBATAN
KASUS 29
Kasus 30
31

Drainase Lereng
KESTABILAN LERENG 32

Stabilitas lereng yang dibuat baru atau terjadi


secara alamiah, merupakan hal penting dalam
teknis geoteknik.
Bila membangun jalan kereta, jalan raya,
saluran dan penggalian analisis kemantapan
lereng harus dilakukan.
Jenis lereng : Lereng alam dan lereng akibat
galian, lereng timbunan dan pembuatan dam.
Klasifikasi pergeseran masa lereng adalah :
Fall (runtuh), Slides (menggeser) dan Flows
(mengalir).
LERENG ALAM 33

Lereng alam terjadi oleh dua kategori utama yaitu :


1. Hal ini dibuat oleh satu seri proses jangka panjang,
dimana ia masih banyak yang tetap aktif
2. Hal ini dibuat dalam proses kegiatan dengan jangka
waktu yang singkat, jadi biasanya masih dalam
proses yang aktif.
Untuk yg terakhir ini perlu investigasi teknis,
berkaitan dgn kestabilannya.
LERENG GALIAN 34

Hal kritis yang perlu perhatian terhadap tegangan


air pori yang cenderung meningkat sepanjang
waktu.
Yang berarti pengujian undrianed shear strength
hanya berguna untuk melihat stabilitas dalam waktu
yang sangat singkat.
Tahapan geologis dan sejarahnya harus diketahui
untuk meyakinkan adanya existing tectonic shears.
35

Penggalian lebih rentan terhadap pengaruh tectonic


shears dari pada timbunan karena timbunan
meningkatkan tegangan efektif normal pada
permukaan potensi longsoran.
LERENG TIMBUNAN DAN DAM 36

Timbunan dibuat dgn menghampar dan memadatkan


beberapa lapisan material timbunan pada pondasi
tanah.
Pembangunan ini menyebabkan bertambahnya total
tegangan pada lapisan timbunan itu sendiri dan juga
pada pondasi tanah.
Tegangan air pori awal (uo) tergantung terutama
pada kadar air pemadatan timbunan.
37

Pada akhir pelaksanan timbunan, faktor keamanan


lebih rendah dibanding pada jangka panjangnya. Hal
ini disebabkan air menghilang setelah akhir
pelaksanaan, dengan tegangan air pori menurun
sampai nilai final, untuk jangka panjang.
Dalam hal ini diasumsi permeabilitas lapisan
timbunan padat menjadi renah, sehingga tidak
banyak yang hilang selama pelaksanaan, dimana
pelaksanaan sangat singkat.
TIMBUNAN DAM 38

Hal ini digunakan bilamana dam dari beton tidak


cocok akibat kondisi pondasinya.
Penyelidikan tanah menyeluruh harus dilakukan
sebelum pelaksanaan dam tanah ini, harus
mempertimbangkan pemilihan cut and fill berkaitan
dgn kualitas dan kuantitasnya.
Pembangunan dam tidak homogin dimana ada
daerah yg rendah premeabilitasnya, dgn bahu pada
sisinya.
FAKTOR KEAMANAN 39

Yang paling kritis tahap bagian atas lereng,


pada akhir pelaksanan dan sewaktu
drawdown yang cepat dari tingginya
penampungan air.
Yang paling kritis tahap bagian bawah
lereng, pada akhir pelaksanaan dan
sewaktu rembesan tetap bila reservoir
dalam keadaan penuh.
Sering dipasang sistem Piezometer untuk
mengukur tegangan air pori yang
sebenarnya dan dibandingkan dgn nilai
disain.
40

Nilai ini mempengaruhi pada Faktor


keamanan dari lereng tersebut.
Biasanya kerusakan lereng pada timbunan
dam, terjadi sewaktu atau baru saja selesai
pelaksanaan.
Analisis yang paling tepat adalah
menggunakan effektif stress. Metoda
total stress akan menghasilkan disain yang
over konservatif, karena periode
pelaksanaan terlalu singkat, yg
memungkinkan hilangnya air.
FALL (RUNTUHAN) 41

Hal ini tejadi baik pada masa tanah atau


batuan dan biasanya terjadi pada lereng
yang sangat terjal.
Runtuhan adalah bergeraknya material
terpisah seluruhnya dari muka tanah yang
bergerak.
Material hanya menyentuh muka tanah
beberapa kali sebelum akhirnya berhenti.
Material jatuhan akan pecah, baik
membentur atau ketika bergerak, yang
menghasilkan gundukan pada dasar lereng.
JATUHAN DAPAT TERJADI AKIBAT : 42

Gravity stress yg mengakibatkan tegangan


pada permukaan.
Penggalian lereng (akibat gaya gelombang
air, erosi sungai atau penggalian yang
salah), yang menyebabkan terbentuknya
gantungan yang tidak stabil.
Pelemahan yang cepat dari karang yg terjal
(akibat pelapukan), menyebabkan bongkah
rotasi dan menjadi tidak stabil.
43

Pengaruh air pada rekahan masa batuan.


Bisa disebabkan oleh partikel es, yg
menyebabkan tidak stabil.
Perubahan temperatur pada daerah yg
kering. Hal ini merubah terbuka dan
tertutupnya rekahan batuan, menjadi
butiran kecil yg masuk ke rekahan.
Getaran gempa yang mengguncang batuan.
SLIDES (LONGSOR) 44

Hal ini terjadi pada lereng yg lebih dangkal


dari pada yg terjadi pada runtuhan. Material
berpindah biasanya masih kontak dgn muka
tanah ketika bergerak.
Tegangan permukaan terbentuk antara
tanah atau badan batuan, yg longsor
sepanjang permukaan.Permukan sering
sama seperti lingkaran, tetapi dengan dasar
yang rata.
Hasil longsoran berbentuk, rotational,
translational atau gabungan.
FLOWS (Mengalir) 45

Pengaliran adalah gerakan masa tanah yang


melibatkan deformasi internal yg besar dari
pada longsoran.
Pada tanah kohesif atau tanah lempung,
kadar air tanah harus lebih tinggi dari liquid
limit, bila lebih rendah akan bergerak
seperti longsoran. Pada kasus ini material
menjadi cair.
Hal ini tidak terjadi ada tanah non kohesif,
dan tanah granular, dimana pengaliran
dapat terjadi pada tanah kering.
46

Aliran lumpur mempunyai kemampuan


bergerak pada lereng dengan sudut yang
lebih rendah dari 1 derajat, dan sering
ditandai dengan pergerakan cepat sekitar
10 sampai 1000 m/menit.
Hal ini dimengerti bahwa pergerakan masa
yang cepat yg diakibatkan dari sejumlah air
yang memasuki longsoran, pergerakan akan
seperti mass transport bukan Mass
movement jadi bukan aliran.
KESTABILAN LERENG 47

Jenis keruntuhan lereng :


1. Rotasional, jenis keruntuhan permukaan
baik berupa sirkular maupun non-sirkular
2. Translational, keruntuhan terjadi bila strata
dgn relatif dangkal kedalaman lereng
permukaan
3. Compound, keruntuhan terdiri dari
gabungan penampang berupa lingkaran,
keruntuhan dimana strata cukup besar
permukan lerengnya.
48
49
50
ANALISIS KESTABILAN LERENG 51

YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN DALAM


MENGHITUNG STABILITAS :
1. Investigasi tanah
2. Paling kritis permukaan slip
3. Tension crack
4. Lereng yang terendam
5. Faktor keamanan
6. Stabilitas jangka pendek dan jangka panjang
52

7. Parameter tegangan efektif dan total stress


8. Progressive Failure
9. Pre-existing Failure Surface
10. Asumsi batas Equilibrium
METODA ANALISIS 53

Granular Soil : Metoda C = 0


Tanah kohesif : Kerusakan permukaan sirkular : -
Ide dasar
- Metoda Irisan
- Metoda Fellenius
- Metoda Bishop
Kerusakan non sirkular :
- Metoda Janbu
- Metoda Lereng Infinite
- Grafik stabilitas
1. INVESTIGASI TANAH 54

Sebelum mempelajari lereng yg ada, atau tanah


dimana lereng terjadi, harus dilakukan pengeboran.
Informasi ini memberikan detail strata, kadar air dan
muka air tanah. Juga adanya lapisan plastis
sepanjang daerah geseran.
Piezometer dapat dipasang kedalam tanah untuk
mengetahui tinggi air sepanjang waktu.
Investigasi Tanah 55
INVESTIGASI TANAH 56

Pengujian lapangan dan laboratorium


Photo udara
Studi peta geologi dan cacatan kondisi tanah
setempat
Memeriksa keadaan lereng
BIDANG KRITIS KERUNTUHAN 57

Pada tanah yang homogen yang tidak terpengaruh


patahan atau bedding, bidang keruntuhan
cenderung berbentuk sirkular atau rotasional.
Untuk menemukan bidang yang paling bahaya,
dapat dilakukan dengan trial circle
Metoda sebagai berikut : Buatlah satu rangkaian
bidang gelincir dgn berbagai radius menggunakan
pusat yang sama.
VARIASI BIDANG LONGSOR DGN BERBAGAI
RADIUS DARI SATU PUSAT LONGSORAN 58
Plot Faktor Keamanan (FOS) untuk setiap radius dan 59
tentukan nilai Faktor keamanan yang terendah.
Hal ini harus diulangi untuk beberapa 60
lingkaran, untuk setiap titik pusat
longsoran, yg termudah adalah membuat
titik dari pusat tersebut.
61

Setiap titik pusat longsoran mempunyai satu Fos


minimum dan seluruh fos yang rendah dari semua
pusat longsoran akan terlihat.
Hal ini diasumsi bahwa cukup bidang longsor dgn
radius yang tersebar.
Kemudian kita mempunyai seluruh bidang longsor
yang paling kecil secara individu yang harus menjadi
perhatian.
BIDANG LONGSOR KESELURUHAN SECARA 62
INDIVIDUAL
Satu rangkaian bidang longsor pada timbunan granular 63
abaikan dahulu kemungkinan terjadinya keruntuhan secara
dalam pada lapisan lempung dibawahnya, perlu investigasi
lanjutan.
TENSION CRACK (RETAK TARIKAN) 64

Retak tarikan pada puncak longsoran diperkirakan


bahwa akan terjadi ketidak stabilan.
Retak tarikan sering digunakan dalam perhitungan
kestabilan lereng, dan dipertimbangkan terisi penuh
oleh air.
Bila hal ini yang terjadi maka perhitungkan
terbentuknya tekanan hidrostatis.
Perhitungan hidrostatis dianalisa bila sudah terjadi
retak.
PENGARUH TENSION CRACK PADA PUNCAK 65
LONGSORAN
66

Tension cracks
LONGSOR SEBELUM PERBAIKAN 67

TENSION CRACK
KONSEP DISAIN 68
SETELAH PERBAIKAN 69
LONGSORAN PADA WEATHERED ROCK 70
KERUSAKAN SEBELUM PERBAIKAN
CUT SLOPE 71
SHALLOW FAILURE IN WEATHERED ROCK
LONGSORAN SETELAH PERBAIKAN 72
SUBMERGED SLOPES (LERENG TERENDAM) 73

Bila beban luar dari air bekerja pada lereng, tekanan


ini cenderung mempengaruhi ketidak stabilan lereng.
Tekanan vertikal dan horizontal harus diperhitungkan
pada analisis lereng
ANALISIS PENGARUH TEKANAN AIR PADA 74
LERENG TIMBUNAN
75
FAKTOR KEAMANAN 76

Dalam perencanaan lereng, faktor yang penting


adalah tegangan geser tanah. Beban diketahui secara
tepat karena terdiri dari berat sendiri lereng.
Faktor keamanan dipilih sebagai rasio tegangan geser
yang ada terhadap kebutuhan agar lereng tetap stabil.
PETUNJUK FAKTOR KEAMANAN LERENG 77
STABILITAS JANGKA PENDEK & PANJANG 78
KESTABILAN GALIAN DAN
TIMBUNAN 79
PENGARUH PARAMETER TOTAL STRESS 80

Hal ini penting untuk mengidentifikasi kondisi yg


paling bahaya dan secara praktis parameter tegangan
geser digunakan dalam perencanaan.

Pada analisa Jangka pendek untuk tanah dgn


permeabilitas rendah seperti lempung.

Gunakan asumsi undrained dimana memerlukan


waktu yang panjang sebelum tegangan pori yang
signifikan menghilang. Pada akhir pelaksanaan tanah
masih undrained, gunakan analisis total stress Cu.
PENGARUH PARAMETER TOTAL STRESS 81

Pada tanah yg bebas terdrainase seperti pada pasir/kerikil :

Drainase berlangsung segera, dan berakhir pada akhir selesai


pelaksanaan sehingga kita menggunakan tegangan efektif Cu dan .

Pada analisis jangka panjang : Setelah periode waktu yang lama,


dimana seluruh tanah telah terdrainase dan hanya parameter
tegangan efektif yang digunakan yaitu Cu dan .
KERUSAKAN YANG PROGRESSIF 82

Dalam hal ini menggambarkan kondisi dimana keruntuhan


bagian permukaan berlangsung dalam waktu yang berbeda.

Hal ini sering terjadi apabila potensi kerusakan permukaan


telah mencapai pondasi yang terbuka atau ada celah atau telah
rusak sebelumnya.

Sebagai contoh kita lihat posisi tiga titik pada diagram berikut
ini :
83
PRE-EXISTING FAILURE SURFACES 84

Apabila pondasi lereng berada pada permukaan yg


telah mengalami keruntuhan awal, maka
kemungkinan besar kerusakan akan makin membesar.
Pada lempung non- fissured( ductile) gunakan p dan
cp.
Pada lempung fissured (lebih brittle) gunakan cs.
ASUMSI BATASAN EQUILIBRIUM LONGSORAN 85

Asumsi mekanisme longsoran bentuknya seperti elip


Asumsi bentuk tegangan dalam dua dimensi seperti
dibawah ini.
86

Diasumsi gerakan masa yang kaku berbentuk blok,


yang bergerak hanya pada bidang gelincir saja.
Diasumsi tegangan geser uniform walaupun pada
kenyataannya tidak seluruh bidang gelincir uniform.
ANALISIS KESTABILAN PADA GRANULAR 87
ANALISIS KESTABILAN PADA TANAH KOHESIF 88
BIDANG GELINCIR SIRKEL
89
CONTOH PERHITUNGAN 90
91
METODA IRISAN 92
Asumsi bidang gelincir berbentuk sirkular dgn radius R dan
titik pusat di O.

Masa tanah pada bidang gelincir dibagi manjadi beberapa


bagian secara vertikal, dimana setiap bagian mempunyai
bagian dasar yang relatif lurus.

Faktor keamanan untuk setiap bagian diasumsi sama.


METODA IRISAN 93
94
METODA FELLENIUS 95
96
CONTOH METODA FELLENIUS 97
98
METODA BISHOP 99
100
METODA JANBU 101

Kesulitan menganalisis bidang gelincir non sirkular adalah


sulit menentukan satu titik pusat komponen gaya yang
bekerja.
Jadi menggunakan metoda keseimbangan momen yg
digunakan pada metoda sirkuler tidak cocok diterapkan.
Metode janbu mengunakan metode lain selain
keseimbangan momen.
METODA JANBU 102
METODA JANBU 103
METODA LERENG INFINITE 104

Metode ini menggunakan asumsi irisan yg


diperpanjang, dimana pengaruh bagian puncak dan
dasar longsoran diabaikan.

Juga diasumsi bahwa bidang keruntuhan dianggap


sejajar dengan ground level.
METODA LERENG INFINITE 105
METODA LERENG INFINITE 106
107
GRAFIK KESTABILAN 108

Untuk penggunaan teknis perhitungan stabilitas


jangka panjang cara ini kurang baik.

Grafik ini menunjukkan karakteristik stabilitas untuk


lereng dgn berbagai jenis tanah dan bentuk lereng.
GRAFIK KESTABILAN 109
GRAFIK KESTABILAN 110
111
PERBAIKAN LONGSORAN 112

Loading the Toe (Pemberian beban di dasar lereng)


Perbaikan sudut lereng
Metode drainase
Angker Tanah
Sheet piling
Struktur Penahan
Geotextiles
Penutupan Rumput
PEMBERIAN BEBAN DI DASAR LERENG 113

Metode ini paling efektif untuk mengatasi


keruntuhan yg dalam. Berm ini dapat dibuat
dari material yg dibongkar dari puncak, atau
diambil dari daerah galian.
PERBAIKAN LERENG 114

Dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu dgn merubah lereng


makin datar, sudut lereng yg kecil,

Mengurangi tinggi lereng, dengan memindahkan material dari


puncak dipindah ke dasar lereng.

Pemasangan Sheet Pile


MEMPERKECIL SUDUT LERENG 115
MENGURANGI TINGGI TIMBUNAN 116
PEMASANGAN SHEET PILE 117
SHEET PILE 118
PEMOTONGAN LERENG 119
LONGSORAN DALAM PADA LERENG
GALIAN 120
KONSEP DISAIN 121
SETELAH PERBAIKAN 122
METODE DRAINASE 123

Sulit untuk menentukan efektifitas metode drainase ini, metoda ini


digunakan untuk stabilisasi jangka pendek, dan untuk jangka panjang
drainase memerlukan perbaikan dan pemeliharaan, tentunya sulit dan
mahal.

Metode drainase dibagi beberapa metoda yaitu :


drainase permukaan/dangkal,
drainase dalam,
drainase memperkecil tegangan pori saat pelaksanaan
DRAINASE DANGKAL/PERMUKAAN 124

Gunanya memperkecil air permukaan dimana


mengurangi tegangan pori untuk level yg lebih dalam.
Drainase ini mudah diperbaiki tetapi mudah juga
kerusakannya.
Drainase ini dapat berupa , saluran tanah atau saluran
diperkeras, teras yg diisi kerikil dan dangkal.
Biasanya berbentuk sirip ikan atau chevron untuk
menangkap air run off secara efektif.
DRAINASE PERMUKAAN SIRIP 125
IKAN
DRAINASE PERMUKAAN SIRIP IKAN
126
DRAINASE DALAM 127

Fungsinya adalah memodifikasi arah seepage/aliran rembesan pada


meterial lereng.

Dapat berupa ;
Teras dalam,
vertical bored drains/ drainase vertikal bor yg diisi pasir dan kerikil,
horizontal bored drain yang diisi oleh pipa porus.
DRAINASE UNTUK MENGURANGI TEGANGAN PORI
128

Dibagi menjadi dua jenis yaitu :


Drainage Blanket/selimut drainase dan
Vertical drain well.

Drainase blanket dipasang antara lapisan timbunan material yg


menggunakan material sedikit permeable atau antara timbunan dan
material pondasi.

Vertical drain well diisi pasir pada vertical drain dapat juga memakai
geosintetis.
ANGKER TANAH 129

Sering angker ini dengan tarikan dan gaya dipasang pada


lereng dengan memperhatikan gaya lain sepanjang lereng
tersebut.

Beban aksial pada angker meningkatkan tegangan efektif


pada suatu kedalaman sehingga memperkuat lereng.

Komponen vektor dari gaya juga bertindak membantu


stabilisasi lereng melawan gaya keruntuhannya.
ANGKER TANAH 130
SHEET PILING 131

Prosedur ini merupakan tindakan yang mahal, dan biasa


digunakan untuk longsoran yg besar.
STRUKTUR PENAHAN TANAH 132

Sebagai keseluruhan struktur panahan biasanya tidak


efektif untuk perbaikan lereng.
Sulit pelaksanaannya pada longsoran yg telah
bergerak.
Sekali dipakai harus menjamin keseluruhan stabilitas
lereng.
Dinding menambah tahanan yang hanya disebabkan
oleh deformasi lereng dikemudian hari.
Gaya yg berkerja lihat diagram dibawah.
DINDING PENAHAN TANAH 133
GEOTEKSTIL 134

Geotektil adalah material buatan untuk perkuatan


tanah.
Pada daerah stabilisasi lereng, geogrid digunakan dan
pada timbunan untuk mengurangi kemungkinan
pergerakan sehingga material stabil.
Geogrid biasa digunakan sebagai angker, untuk
menahan momen guling.
Biasa digunakan untuk kerusakan longsoran terbatas.
GEOGRID SEBAGAI ANKER 135
PENUTUPAN LERENG DGN RUMPUT 136

Dengan menutup lereng baik memakai pasir atau


rumput, ini akan mengurangi jumlah air yang
meresap.
Metode ini digunakan berkaitan dgn metoda jangka
panjang.
METODA MANA YANG PALING BAIK 137

Umumnya kita melihat pada lereng yang telah


runtuh, kita perlu stabilisasi yang langsung
berpengaruh untuk menghentikan longsoran
yang disebut sebagai metoda utama.
Sedangkan metoda kedua adalah menjaga
untuk menjamin stabilitas longsoran jangka
panjang dan tindakan untuk memelihara
keefektifan tindakan utama.
Hal ini dapat berupa metode drainase
(dangkal, atau dalam), geotektil dll.
PEMILIHAN MOTODE YANG TEPAT 138

METODA UTAMA CATATAN

1. Berkaitan dgn lereng Mempunyai pengaruh langsung


Biasanya kurang efektif dgn
waktu

2. Drainase Harus digunakan apabila praktis


Efek langsung pada tanah
berpermeabilitas tinggi
Memerlukan waktu panjang pada
tanah berbutir halus
Drainase permukaan lebih umum
dipakai
PEMILIHAN METODE YANG TEPAT 139

METODA UTAMA CATATAN

3. Melibatkan struktur pada lereng Struktur ini secara aktif bekerja


(pengangkeran, geotektil, (stressed nail/angker)
struktur penahan Pasif (mis. dinding atau sheet
piling)
Untuk skeme pasif hanya
berpengaruh pada momen
selanjutnya pada lereng, yg
terjadi mungkin tidak diharapkan.
Sistem Drainase Lereng 140

Mempunyai :

Saluran Puncak,
Saluran Penangkap,
Saluran Tepi / Pencegat
141
Saluran Puncak

Muka tanah asli

Saluran penangkap
Lereng pada galian

Saluran
Pencegat/tepi
Perkerasan
Jalan
Lereng pada timbunan

Bronjong kawat

Ruang Milik Jalan (Rumija)

Sketsa lereng dengan daerah pengaliran.


142

PENANGANAN LERENG
143

Lapisan pelindung dari


1,0 m lempengan rumput

Lereng
Diurug dengan tanah
pada galian
galian, apabila lereng
Galian alami tidak curam
Permukaan
jalan

SALURAN TANPA LAPISAN


PELINDUNG
(a)
144
Semen tanah
(soil cement)

Galian

Lereng Diurug dengan tanah galian,


pada galian apabila lereng asli tidak
Permukaan curam
jalan

Saluran Semen-Tanah
Pada Lereng Asli TIdak Curam

Saluran tanpa lapisan pelindung dan saluran semen tanah


145

Lereng
Semen tanah atau beton
kurus, setebal 5 cm

Saluran Semen-Tanah Pada


Lereng Asli Curam
Saluran tanpa lapisan pelindung dan saluran semen tanah
Saluran bentuk U

146
dengan socket

Penutup

3m

15 cm

Lapisan pelindung bak


berupa lempengan batu penampung
3
1:

Saluran bentuk U
dengan beton anti-slip

(a) SALURAN MEMANJANG BENTUK U & MELINTANGNYA

bak penampung

Pipa dengan socket

(b) SALURAN MEMANJANG DENGAN MENGGUNAKAN PIPA

Gambar 1 Sketsa saluran beton tulangan bentuk U pada saluran drain memanjang
147
Garis lereng alam
148
Muka tanah asli

Muka air tanah


C
L
Subgrade Galian

Urugan
Suling-Suling

Saluran pencegat
Bronjong kawat
lereng
Anak tangga

Lapisan horisontal
diisi batu

(a)

Galian

Subgrade
Bagian transisi
Urugan

Saluran pencegat

Bagian galian Bagian urugan

Gambar 1 Sketsa bocoran lambat (Oozing) pada lereng


149
150
151
152

GALIAN YANG DIISI SALURAN DRAIN


DENGAN BATU PENCEGAT

TATA LETAK TIPE ''W'' TATA LETAK TIPE


''KNOCKHEAD''

Gambar 1 Sketsa galian yang diisi batu beserta tata letak


153

KERANJANG MATRAS
BRONJONG KAWAT BIASA DIPASANG DI UJUNG URUGAN
PADA KAKI

TAMPAK SAMPING
TAMPAK DEPAN

Gambar 1 Sketsa bronjong kawat pada lereng


154
155
Suling-suling
> 50 cm Air rembesan

Tanah kohesif
Jalan

6 cm

Ikatan bambu

Gambar 1 Sketsa suling-suling


156
157
158

la n
J a
A s 90

90

Daerah Datar 0 - 6 %

Gambar 8 Drainase melintang pada bahu jalan


159
60

60

m
15
As Jalan

m
60

15
Saluran bawah
Daerah Tanjakan ( > 6 % ) tanah pada bahu
jalan

Gambar 9 Drainase bahu jalan di daerah tanjakan / turunan


Kemiringan Melintang dan 160
Memanjang

Perkerasan dan bahu jalan

Daerah datar/lurus;
Melandai ke arah selokan samping

Daerah tanjakan/turunan;
Mempertimbangkan besarnya
kemiringan alinyemen vertikal
Bangunan Pemasukan Air (Inlet) 161

Bukaan di dalam sistem drainase untuk


masuknya air limpasan (air hujan)
Terdapat pada;
Hubungan antara permukaan jalan dan
saluran samping pada trotoar; tali air
Pertemuan antara gorong-gorong dan
saluran samping
Pertemuan antara gorong-gorong dan lebih
dari dua saluran samping
Tali air; saluran yang memotong bahu jalan
162
Tali air dipasang berjarak minimum 5 m
Elevasi dasar inlet tali air lebih rendah
atau sama dengan elevasi tepi jalan
163
Bangunan Pematah Arus 164

Kemiringan dasar
saluran (i.) i (%) 6 7 8 9 10

Jarak antara
bangunan pematah
arus
L(M) 16 10 8 7 6
Bangunan Pematah Arus 165

Untuk mengurangi
kecepatan aliran
yang diperlukan
1%
is (%)

lp (m)
L

Tabel 6 Hubungan kemiringan saluran (is) dan jarak pematah arus (lp)

Is (%) 6 7 8 9 10
lp (m) 16 10 8 7 6
166
Bangunan
Pematah 167
Arus
Potongan 168
melintang
169

Pemeliharaan Drainase Lereng


1. Inventarisasi masalah lereng. 170

Kegunaan inventarisasi adalah menyediakan informasi sehingga


evaluasi khususnya timbunan dan galian dapat dibuat aman.
Keuntungan diadakan inventarisasi lereng adalah :
1. Membantu dalam identifikasi potensi kerusakan drainase
2. Membantu dalam identifikasi potensi daerah longsoran akibat
drainase
3. Membantu identifikasi cakupan dan potensi longsoran jalan akibat
drainase
Inventarisasi masalah lereng. 171

3. Memberikan informasi penting untuk melakukan prioritas program


alokasi biaya perbaikan.
4. Memberikan data historis untuk staff geoteknik untuk mereview besar
kecilnya longsoran akibat drainase, atau perlunya melibatkan
geoteknical engeneer.
5. Memberikan komunikasi terbuka supervisi pemeliharaan, dan
geoteknical engineer.
Inventarisasi masalah lereng. 172

Formulir Survey, untuk mencatat data phisik kerusakan, sample


longsoran dan dll.
Beberapa item yang harus dimasukkan dalam formulir survey
sebagai berikut :
Lokasi kabupaten, kampung, ruas jalan dll.
Jenis longsoran batuan, aliran lumpur, rotasi dll.
Faktor yang berkontribusi subsurface drainase, material di sisinya
dll.
Inventarisasi masalah lereng. 173

Ukuran longsoran meliputi : lebar, ketinggian (dasar timbunan


sampai ujung atas timbunan atau dasar galian sampai ujung galian).
Klasifikasi ukuran longsoran :
Kecil, sedang, atau besar.
Inventarisasi masalah lereng. 174

Tambahan catatan sket longsoran.


Photo longsoran
Penampang melintang
Perkiraan metode perbaikan
Perkiraan biaya
Follow up laporan
Gunakan item ditangan bila penelitian dilakukan antara lain :
Inventarisasi masalah lereng. 175

Data pemeriksaan antara lain :


Kecepatan gerakan,
Pengaruh ke jalan,
Pengaruh ke utilitas,
Propertis yg terlibat yg berdekatan,
Pembuangan dari drainase,
Ukuran longsoran.
Inventarisasi masalah lereng. 176

Ukuran longsoran meliputi Lebar, ketinggian (apakah dasar


timbunan atau dasar galian).
Klasifikasi ukuran longsoran : kecil, menengah atau besar.
Tambahan data meliputi : catatan/sket, foto, penampang
melintang, perkiraan metode penanganan, perkiraan biaya
penanganan, diikuti laporan lengkap(apabila benar).
Inventarisasi masalah lereng. 177

Sket dari longsoran harus menggambarkan keadaan tanda kerusakan


seperti antara lain ;
Alinyemen gardril, patok tanda, pagar atau tanaman.
Retakan pada timbunan atau retak pada bagian atas galian lereng.
Settlement timbunan jalan.
Drainase (permukaan dan bawah permukaan, juga gorong-gorong)
Inventarisasi masalah lereng. 178

Slouging/longsor dangkal
Aliran seepage, mata air dan genangan.
Tanda kerusakan lainnya,
Sket nama dan no telepon,
Nama kabupaten, nama ruas, patok km, dll,
Arah utara dari sket tsb.
Ilustrasi sket 179
pada
invertarisasi
Drainase dan
longsoran
Penanganan Masalah Lereng 180

Erosi, secara berkala periksa elemen pengendalian erosi. Hal ini


termasuk antara lain pemeriksaan saluran, pipa dan gorong-gorong,
lereng yg ditembok, penahan tanah dan semua tanaman.

Pemeliharan saluran pencegat, hal ini akan mencegah aliran


permukaan yg cepat air dari aliran diatas lereng yang rusak.
Penanganan Masalah Lereng 181

Lereng harus segera diberi penutup rumput setelah perbaikan. Bila


penanaman ulang bila perlu pakai jaring sehingga tidak mudah erosi.

Kerb, saluran atau bahu yang tidak dipelihara secara baik dapat
mengakibatkan air mengerosi lereng tanah.

Hal ini harus diperbiki sesuai kebutuhannya.


Perbaikan pemeliharaan permukaan 182
Tumbuhan 183

Tumbuhan salah satu alat yg baik untuk menjaga erosi. Sebagai


tambahan, rumput, pohon, dan semak membantu keindahan ROW,
merupakan sabuk hijau sepanjang jalan.

Akar rumput mengikat tanah, mencegah penggerusan oleh air.

Sistem akar dari pohon dan semak tidak hanya mengikat tanah pada
tempatnya juga membantu memperkuat lereng tanah.
Tumbuhan 184

Vegetasi pada saluran drainase harus dikendalikan. Vegetasi harus


tidak terlalu lebat yang dapat menyumbat dan air terkumpul disekitar
vegetasi.
Namun demikian, apabila saluran tidak diperkeras, cukup rumput
pada lajur aliran air untuk mencegah erosi.
Pada lereng dimana vegetasi berguna atau 185
dikendalikan
Pada lereng dimana vegetasi berguna atau 186
dikendalikan

Pada beberapa kasus, water loving plant/tanaman yg suka air


(rumput, willow trees, cattails) dapat ditanam pada derah yang
basah untuk menyerap kadar air berlebihan, sehingga
mengurangi terjadinya longsoran.

Meskipun noxious weed dapat menjadi masalah pada daerah


tertentu, disarankan tidak menyemprot vatetasi pada lokasi
yang mudah longsor.
Pada lereng dimana vegetasi berguna atau 187
dikendalikan

Perhatian khusus harus dilakukan pada lereng yang ada tanamannya.


Pada musim kering, rumput tidak boleh dipotong tertalu pendek dan
penggaruan harus dihindari.
Apabila memungkinkan, tanaman harus diberi air pada musin kering.
Bila basah dan lembek, jangan menyimpan mower/alat garuk pada
lereng. Dapat memasukkan air masuk kedalam material tanah.
Pada lereng yang curam, tanaman harus dipupuk, pada musim yang
tepat
Daerah lereng dimana air dapat menggenang 188
Rockfall 189

Apabila muka jatuhan batuan sangat dekat pada lajur lalu lintas, hal
ini bahaya batuan yang lapuk jatuh ke jalan.

Bagian muka ini harus di periksa secara berkala dan mungkin harus
diseiling secara periodik.

Apabila jarak antara jalan dgn muka batuan, maka harus dibuat
penghalang untuk mencegah longsoran mencapai jalan.
Penggunaan jaring kawat lereng untuk mencegah 190
guguran batu (rock fall) ke jalan

Bilamana jarak yang


tersedia sangat sempit,
dapat dipasang jaring
diatas muka batuan
untuk mencegah
batuan longsor ke jalur
lalu lintas.
191
Gunakan tembok penghalang untuk melindungi 192
jalan dari guguran
193
Irigasi
194

Apabila tumbuhan pada daerah ROW basah, harus di ketahui


jangan ada kebocoran atau kerusakan yang dapat air menjadi jenuh
pada daerah yang terpusat pada lereng.

Air untuk tanaman hanya untuk memelihara agar tumbuh


semestinya. Kelebihan air dapat membuat jenuh dan memasuki
lereng.
Perbaikan Drainase Lereng 195

Apabila terjadi longsoran kecil, dapat dikerjakan dengan sejumlah


pencegahan longsoran agar tidak menjadi makin besar, atau
melambatkan serta menghentikan gerakan longsoran.

Sebagai berikut ini :


Selalu mengarahkan air permukaan menjauh daerah longsoran.
Hal ini dikerjakan menggunakan pipa atau saluran yang
diperkeras.
Metode 196
mengarahkan
air menjauh
daerah
longsoran
Realinyemen pipa drainase dan mengalihkannya 197
dari longsoran
Pengendalian resapan bawah permukaan 198
menggunakan drainase horisontal
Pengendalian resapan bawah permukaan 199
menggunakan drainase horisontal

Apabila kelebihan air pada daerah longsoran, lebih berguna bila


menyediakan beberapa jenis drainase.

Drainase horisontal dapat membantu dalam banyak kasus, apabila


air bawah permukaan merupakan masalah utama.

Saluran atau pipa paling baik untuk mendrainase air permukaan


yang tergenang.
Pengendalian resapan bawah permukaan 200
menggunakan drainase horisontal
Penutupan retak untuk mencegah infiltrasi air 201
permukaan masuk timbunan
Penutupan retak untuk mencegah infiltrasi air 202
permukaan masuk timbunan

Mengadakan penanaman tumbuhan akan membantu menyerap


beberapa kelebihan air dan mencegah erosi.

Semua permukaan retakan harus di tutup untuk mencegah air yang


menyebabkan penjenuhan pada lereng.

Apabila material dan lahan tersedia, dapat mendatarkan lereng. Hal


ini akan memberikan lebih dukungan dari bagian sisi lereng tsb.
Mengurangi kecuraman lereng jalan yang longsor 203
Mengurangi kecuraman lereng jalan yang longsor 204

Material yang lemah dan rentan terhadap air karena


menjadi lembek harus di buang, apabila
memungkinkan, dan di ganti dengan material yang
mempunyai kuat geser yang tinggi.
Mengganti material lemah dgn material baik untuk 205
memperbaiki lereng longsor
Mengganti material lemah dgn material baik untuk 206
memperbaiki lereng longsor

Gerakan yang diketahui atau daerah yang tidak stabil harus dicatat
secara berkala. Hal ini membantu untuk menentukan pemeliharan
apakah pekerjaan sudah memadai.

Ada beberapa masalah yang harus diketahui personil pemeliharaan


bila melakukan pekerjan pemeliharaan pada longsoran kecil adalah
sebagai berikut ini :

Mengganti material lemah dgn material baik untuk 207


memperbaiki lereng longsor

Jangan menggali dasar lereng.


Jangan membongkar setiap penahan lateral lereng atau
timbunan.
Jangan melakukan penggalian atau pekerjaan tanah lainnya
yang akan memungkinkan air tergenang pada daerah
longsoran.
Jangan membebani bagian atas timbunan. Hal ini akan
menambah gaya dorong pada longsoran.
Pekerjaan yg 208
salah,
menempatkan
hasil galian
material pada
bagian atas
lereng
Pekerjaan yg salah penempatan hasil galian 209
meterial pada bagian atas lereng

Jangan menutup setiap struktur drainase, antara lain saluran,


pipa, atau gorong-gorong.

Apabila longsoran berlanjut menyebabkan dorongan


permukaan atau melendut, terlalu seringnya penambalan pada
permukaan akan hanya menambah berat untuk longsoran.
Cara praktis ini harus dihindari dan longsoran harus diperbaiki
secara memadai.
Penambalan yg terus-menerus pada permukaan 210
jalan
Penambalan yg terus-menerus pada permukaan jalan 211

Drainase yang baik untuk permukaan dan bawah permukaan adalah


salah satu aspek penting dalam memelihara lereng agar stabil.

Pemeliharaan air permukaan akan sangat membantu mencegah


longsoran.

Memelihara surface runnof dengan mengalihkan dari daerah


longsoran atau lereng yg tidak stabil. Menjaga pipa dan saluran
drainase bebas dari kotoran, sampah dan tanaman.
Penyumbatan drainase dan genangan pada 212
saluran drainase
Penyumbatan drainase dan genangan pada saluran 213
drainase
Apabila setiap sambungan terpisah pada pipa drainase, harus
segera diperbaiki.

Hal ini dapat mencegah lereng atau timbunan menjadi jenuh


dan juga mengurangi terjadinya erosi.
Perbaiki sambungan yg terpisah pada Pipa 214
Sambungan yg terpisah pada Pipa 215

Jangan menggunakan pipa kaku pada dearah longsoran atau


daerah yang tidak stabil.

Pipa kaku tidak dapat mengakomodasi gerakan yang terjadi


pada daerah tampa memisah pada sambungan.
Pipa Kaku pada daerah yang tidak stabil 216
Penggunaan Head Wall 217

Jangan membiarkan erosi terjadi disekitar ujung pipa. Selalu


gunakan head wall dan proteksi lereng pada inlet dan outlet pipa.

Hal ini akan membantu mencegah erosi disekitar pipa.


Proteksi pipa pada inlet dan outlet 218
Proteksi pipa pada inlet dan outlet 219

Selalu gunakan pipa yang sesuai untuk pekerjaan ini.

Jangan menggunakan pipa yang terlalu kecil akan menyebabkan


ada air meluap.

Selalu gunakan pipa yang lentur pada daerah terjadi gerakan.

Pada daerah yang berasam, hanya gunakan pipa yang tidak


terpengaruh asam.
Genangan air yang disebabkan kecilnya pipa 220
Genangan air yang disebabkan kecilnya pipa 221

Jangan mengijinkan pipa berakhir terlalu pendek,


sehingga air dibuang ke lereng.

Maka akan terjadi kejenuhan dan erosi.


Air mengalir diatas lereng karena pipa terlalu pendek 222
Penggalian berlebihan pada lereng jalan 223

Jangan menggali saluran terlalu berlebihan. Hal ini dapat


membongkar dasar lereng pada timbunan atau galian.

Hal ini juga dapat membuat air tergenang pada saluran, dan air ini
dapat menjenuhkan timbunan.
Penggalian berlebihan pada lereng jalan 224
Air dijauhkan masuk ke lereng 225
Metode yang dianjurkan pembuatan drainase dari kerikil 226
Kondisi drainase bak mandi disebabkan buruknya 227
material drainase
Suling-suling pada dinding tembok 228
Drainase dibelakang tembok penahan tanah 229
Terima Kasih 230