Vous êtes sur la page 1sur 26

Oleh

Eldessa Vava Rilla., S. Kep., Ners


Disampaikan Dalam Kuliah Sistem Sensori dan Persepsi
STIKes Karsa Husada Garut
 Menurut Herman tahun 2010, glaukoma merupakan
suatu kumpulan penyakit yang mempunyai
karakteristik umum neuropatik yang berhubungan
dengan hilangnya fungsi penglihatan. Walaupun
kenaikan tekanan intra okuler adalah satu dari resiko
primer, ada atau tidaknya faktor ini tidak merubah
definisi penyakit.
 Glaukoma bukanlah sebuah penyakit, melainkan
kekomplekan dari gangguan tekanan intraokuler
yang mana mempunyai karakteristik gejala
peningkatan tekanan intraokular pada orang
dewasa.
 Normalnya, tekanan intraokular adalah 10-20
mmHg. Jika hasil pemeriksaan tekanan bola mata
lebih dari 20, maka kita patut curiga terhadap
adanya glaukoma. Apabla hasil menunjukkan
angka lebih dari 25, maka dipastikan orang
tersebut terkena glaukoma.
 Untuk mengetahui, seseorang tersebut terkena
glaukoma atau tidak, bisa dengan pemeriksaan
tonometri (pemeriksaan tekanan bola mata).
 Pendapat yang lain mengatakan bahwa
Glaukoma adalah suatu penyakit dimana
tekanan di dalam bola mata meningkat,
sehingga terjadi kerusakan pada saraf
optikus dan menyebabkan penurunan
fungsi penglihatan. (Anonim,2009)
 Dari beberapa definisi glaukoma diatas,
dapat disimpulakan bahwa glaukoma
adalah penyakit mata yang terjadi karena
peningkatan tekanan bola mata dan
mempengaruhi kepekaan atau kejelasan
penglihatan.
 Umur
Risiko glaukoma bertambah tinggi dengan
bertambahnya usia. Terdapat 2% dari populasi
usia 40 tahun yang terkena glaukoma.
 Riwayat anggota keluarga yang terkena
glaukoma
Untuk glaukoma jenis tertentu, anggota
keluarga penderita glaukoma mempunyai
resiko 6 kali lebih besar untuk terkena
glaukoma.
 Tekanan bola mata
Tekanan bola mata diatas 21 mmHg berisiko tinggi
terkena glaukoma. Meskipun untuk sebagian
individu, tekanan bola mata yang lebih rendah sudah
dapat merusak saraf optik. Untuk mengukur tekanan
bola mata dapat dilakukan dirumah sakit mata
dan/atau dokter spesialis mata. Obat-obatan
 Pemakai steroid secara rutin
Pemakai obat tetes mata yang mengandung steroid
yang tidak dikontrol oleh dokter, obat inhaler untuk
penderita asma, obat steroid untuk radang sendi dan
pemakai obat yang memakai steroid secara rutin
lainnya.
 Riwayat trauma (luka kecelakaan) pada mata
 Penyakit lain
 Riwayat penyakit diabetes (kencing manis),
hipertensi dan migren.(Anonim,2010)
 Perjalanan aliran aqueous humor 80-90% melalui
jaringan trabekular, namun terdapat 10%
melalui ciliary body face, yang disebut jalur
uveoskleral.
 Berdasarkan fisiologi dari sekresi dan ekskresi
cairan aqueous, maka terdapat tiga faktor utama
yang berperan dalam meningkatnya tekanan
intraokular, antara lain
 Kecepatan produksi aqueous humor oleh badan
siliar
 Resistensi aliran aqueous humor melalui jaringan
trabekular dan kanal Schlemm
 Tekanan vena episklera
 Tekanan intraokular normal yang secara umum
diterima adalah 10-21 mmHg
 pemakaian obat-obatan midriatik, berdiam lama
di tempat gelap, dan gangguan emosional.
Bentuk sekunder sering disebabkan hifema,
luksasi/subluksasi lensa, katarak intumesen atau
katarak hipermatur, uveitis dengan
suklusio/oklusio pupil dan iris bombe, atau
pasca pembedahan intraokuler.
 Glaukoma Primer Dewasa
 Glaukoma Sudut Terbuka / Kronis
Glaukoma jenis ini umumnya terjadi karena
keturunan. Glaukoma jenis ini sering terjadi pada
orang yang mempunyai sudut ruang terbuka yang
normal tapi mempunyai resistensi aliran aquous
humor keluar dari ruang sudut.
 Glaukoma Sudut Tertutup
Glaukoma jenis inin jarang terjadi. Ada kesalahan
tempat yang maju dari ujung akar dan gulungan iris
yang melawan kornea.
 Glaukoma Sekunder
Glaukoma ini biasa di bangun dari banyak sebab
seperti uveitis, gangguan neuvaskuler, trauma tumor,
penyakit degenerasi mata, dll.
 Glaukoma Kongenital
Glaukoma ini terjadi di mata selama ada
dalam masa awal tumbuh dan berkembang.
Biasanya terlihat selama 6 bulan kelahiran.
 Glaukoma Absolut
Glakoma ini biasanya adalah hasil dari
beberapa kejadian glaukoma dan itu berarti
mengarah pada kebutaan yang mana
tekanan intraokuler meningkat.
 Aqueous humor adalah cairan pada bola
mata yang di produksi oleh badan siliari
yang mnerupakan kristal jernih.
 Mata terasa sangat sakit. Rasa sakit ini
mengenai sekitar mata dan daerah
belakang kepala.
 Akibat rasa sakit yang berat terdapat gejala
gastrointestinal berupa mual dan muntah,
kadang-kadang dapat mengaburkan gejala
glaukoma akut.
 Tajam penglihatan sangat menurun.
 Terdapat halo atau pelangi di sekitar lampu
yang dilihat.
 Konjungtiva bulbi kemotik atau edema
dengan injeksi siliar.
 Edema kornea berat sehingga kornea terlihat
keruh.
 Bilik mata depan sangat dangkal dengan efek
tyndal yang positif, akibat timbulnya reaksi
radang uvea.
 Pupil lebar dengan reaksi terhadap sinar yang
lambat.
 Pemeriksaan funduskopi sukar dilakukan karena
terdapat kekeruhan media penglihatan.
 Tekanan bola mata sangat tinggi.
 Tekanan bola mata antara dua serangan dapat
sangat normal.
 Kortikosteroid jangka panjang, Miopia,
Trauma mata
 Obstruksi jaringan peningkatan tekanan
Trabekuler Vitreus
 Hambatan pengaliran pergerakan iris
kedepan, Cairan humor aqueous
 TIO meningkat Glaukoma TIO Meningkat
 Gangguan saraf optik tindakan operasi
 Perubahan penglihatan Perifer
 Kebutaan
 Pengukuran dengan tonometri Schiotz
menunjukkan peningkatan tekanan.
Perimetri, Gonioskopi, dan Tonografi
dilakukan setelah edema kornea
menghilang.
 Penderita dirawat dan dipersiapkan untuk
operasi. Dievaluasi tekanan intraokuler
(TIO) dan keadaan mata. Bila TIO tetap tidak
turun, lakukan operasi segera.
 Sebelumnya berikan infus manitol 20% 300-
500 ml, 60 tetes/menit. Jenis operasi,
iridektomi atau filtrasi, ditentukan
berdasarkan hasil pemeriksaab gonoskopi
setelah pengobatan medikamentosa.
Glaukoma Primer
 a) Pemberian tetes mata Beta blocker (misalnya
timolol, betaxolol, carteolol, levobunolol atau
metipranolol) yang kemungkinan akan mengurangi
pembentukan cairan di dalam mata dan TIO.
 b) Pilocarpine untuk memperkecil pupil sehingga
iris tertarik dan membuka saluran yang tersumbat.
 c) Obat lainnya yang juga diberikan adalah
epinephrine, dipivephrine dan carbacol (untuk
memperbaiki pengaliran cairan atau mengurangi
pembentukan cairan)
 d) Minum larutan gliserin dan air biasa untuk
mengurangi tekanan dan menghentikan serangan
glaukoma.
 e) Bisa juga diberikan inhibitor karbonik anhidrase
(misalnya acetazolamide).
 f) Pada kasus yang berat, untuk mengurangi
tekanan biasanya diberikan
manitol intravena (melalui pembuluh darah).
Glaukoma sekunder
 Pengobatan glaukoma sekunder tergantung
kepada penyebabnya. Jika penyebabnya
adalah peradangan, diberikan
corticosteroid dan obat untuk melebarkan
pupil. Kadang dilakukan pembedahan.
Glaukoma kongenitalis
 Untuk mengatasi Glaukoma kongenitalis
perlu dilakukan pembedahan.
 Terapi Laser
1). Pengkajian
a) Aktivitas / Istirahat :
Perubahan aktivitas biasanya / hobi sehubungan dengan
gangguan penglihatan.
b) Makanan / Cairan :
Mual, muntah (glaukoma akut)
c) Neurosensori :
Gangguan penglihatan (kabur/tidak jelas), sinar terang
menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan
perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/merasa di
ruang gelap (katarak).
Penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/pelangi
sekitar sinar, kehilangan penglihatan perifer, fotofobia(glaukoma
akut).
Perubahan kacamata/pengobatan tidak memperbaiki
penglihatan.
Tanda :
Papil menyempit dan merah/mata keras dengan kornea berawan.
Peningkatan air mata.
d) Nyeri / Kenyamanan :
Ketidaknyamanan ringan/mata berair (glaukoma
kronis)
Nyeri tiba-tiba/berat menetap atau tekanan pada
dan sekitar mata, sakit kepala (glaukoma akut).
e) Penyuluhan / Pembelajaran
Riwayat keluarga glaukoma, DM, gangguan
sistem vaskuler.
Riwayat stres, alergi, gangguan vasomotor
(contoh: peningkatan tekanan vena),
ketidakseimbangan endokrin.Terpajan pada
radiasi, steroid/toksisitas fenotiazin.
 Kartu mata Snellen/mesin Telebinokular (tes
ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan) :
Mungkin terganggu dengan kerusakan kornea,
lensa, aquous atau vitreus humor, kesalahan refraksi,
atau penyakit syaraf atau penglihatan ke retina atau
jalan optik.
 Lapang penglihatan : Penurunan mungkin
disebabkan CSV, massa tumor pada hipofisis/otak,
karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma.
 Pengukuran tonografi : Mengkaji intraokuler (TIO)
(normal 12-25 mmHg)
 Pengukuran gonioskopi :Membantu membedakan
sudut terbuka dari sudut tertutup glaukoma.
 Tes Provokatif :digunakan dalam menentukan
tipe glaukoma jika TIO normal atau hanya
meningkat ringan.
 Pemeriksaan oftalmoskopi:Mengkaji struktur
internal okuler, mencatat atrofi lempeng optik,
papiledema, perdarahan retina, dan
mikroaneurisma.
 Darah lengkap, LED :Menunjukkan anemia
sistemik/infeksi.
 EKG, kolesterol serum, dan pemeriksaan lipid:
Memastikan aterosklerosisi,PAK.
 Tes Toleransi Glukosa :menentukan adanya DM.
a. Nyeri b/d peningkatan tekanan intra okuler (TIO) yang ditandai
dengan mual dan muntah.
Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang
Kriteria hasil :
- pasien mendemonstrasikan pengetahuan akan penilaian
pengontrolan nyeri
- pasien mengatakan nyeri berkurang/hilang
- ekspresi wajah rileks
Intervensi :
- kaji tipe intensitas dan lokasi nyeri
- kaji tingkatan skala nyeri untuk menentukan dosis analgesik
- anjurkan istirahat ditempat tidur dalam ruangan yang tenang
- atur sikap fowler 300 atau dalam posisi nyaman.
- Hindari mual, muntah karena ini akan meningkatkan TIO
- Alihkan perhatian pada hal-hal yang menyenangkan
- Berikan analgesik sesuai anjuran
 Gangguan persepsi sensori : penglihatan b.d gangguan
penerimaan;gangguan status organ ditandai dengan
kehilangan lapang pandang progresif.
Tujuan : Penggunaan penglihatan yang optimal
Kriteria Hasil:
- Pasien akan berpartisipasi dalam program pengobatan
- Pasien akan mempertahankan lapang ketajaman
penglihatan tanpa kehilangan lebih lanjut.
Intervensi :
- Pastikan derajat/tipe kehilangan penglihatan
- Dorong mengekspresikan perasaan tentang kehilangan /
kemungkinan kehilangan penglihatan
- Tunjukkan pemberian tetes mata, contoh menghitung
tetesan, menikuti jadwal, tidak salah dosis
- Lakukan tindakan untuk membantu pasien
menanganiketerbatasan penglihatan, contoh, kurangi
kekacauan,atur perabot, ingatkan memutar kepala ke
subjek yang terlihat; perbaiki sinar suram dan masalah
penglihatan malam.
- Kolaborasi obat sesuai dengan indikasi