Vous êtes sur la page 1sur 29

dr.

Nana Sulistiani
RSUD Dompu
Kasus

 Perempuan 36 tahun rujukan PKM dengan sesak
napas sejak 3 jam yang lalu SMRS
 Dilakukan nebul 3 kali di PKM namun tidak ada
perbaikan pada kondisi pasien
 Pasien memiliki riwayat asma sejak gadis dan sering
kumat-kumatan, selama 1 bulan terakhir pasien
sudah 6 kali masuk RS dengan keluhan serupa
namun membaik dengan nebulizer 2x, dalam 1
minggu ini pasien sudah 2x terkena serangan asma
namun sekarang dengan pengobatan yang sama
tidak membaik.
Cont

 pasien memiliki riwayat alergi dingin, debu dan
bulu kucing serta ibu pasien diketahui memiliki
keluhan serupa.
 Pasien tidak memiliki riwayat alergi obat-obatan
ataupun makanan.
 Pasien tidak rutin meminum obat-obtan yang
diresepkan dokter berupa salbutamol 4mg dan
methyl prednisolon 4mg.
Pemeriksaan

 Airway : suara napas tambahan (+)
 Breathing : retraksi (+) napas cepat (+)
 Circulation : nadi (+), berkeringat, akral
dingin,sianosis
 GCS : E2V2M4
 Vital Sign :
BP 80/p HR 120x/m RR 48x/m t 36
spo2 56%



KEPALA
Bentuk
Rambut

: Bulat, simetris
: Hitam, tebal, tidak mudah dicabut
 Mata : konjungtiva anemis (-), sklera anikterik.
 Telinga : Bentuk normal, simetris, liang sempit,
 serumen (-/-), pus (-/-)
 Hidung : Bentuk normal, septum deviasi (-
),pernafasan cuping hidung (-), sekret (-)
 Mulut : Bibir basah, lidah kotor (-)
 tonsil T1-T1 tenang, faring tidak hiperemis
 LEHER
 Bentuk : Simetris
 Trakhea : Di tengah
 KGB : Tidak membesar
 JVP : Tidak meningkat



THORAKS
- Inspeksi
PARU

: Bentuk simetris, retraksi intercostal (+)

 Inspeksi : Gerak nafas simetris


 Palpasi : fremitus taktil kanan dan kiri simetris
 Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru kiri dan kanan
 Auskultasi : Suara nafas vesikuler, ronki -/-, wheezing +/+

 JANTUNG
 - Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
 - Palpasi : Iktus kordis teraba sela iga IV garis midclavicula sinistra
 - Perkusi : Batas atas sela iga II garis parasternal sinistra
 Batas jantung kanan sela iga IV garis parasternal dextra
 Batas jantung kiri sela iga IV garis midclavicula sinistra
 - Auskultasi : Bunyi jantung I-II murni, murmur (-)

 ABDOMEN
 Inspeksi : Datar, simetris
 Palpasi : Supel, turgor kulit cukup, hepar dan lien
tidak teraba.
 Perkusi : Timpani
 Auskultasi : Bising usus normal.

 EKSTREMITAS
 Superior : Edema (-/-), Sianosis (+), ikterik (-)
 Inferior : Edema (-/-),Sianosis (+), ikterik (-)
 Kekuatan otot D/S 5/5
 Pulsasi arteri dorsalis pedis D/S (+/+)
 Sensibilitas D/S (+/+)
Pemeriksaan penunjang

 Darah lengkap : WBC 7,01 x 10^3/ul, LYM 2,2 x
10^3/ul, MID 0,4 X 10^3/ul, GRA 4,1 x 10^3/ul,
LYM% 41,8%, MYD% 4,9%, GRA% 53,3%, RBC 3,85
10^6/ul, HGB 13,3 gr/dl, HCT 37,0%, MCV 96,2fL,
MCH 34,5 pg, MCHC 35,9 gr/dl, RDW 12,0%, PLT
165.000/ul, MPV 8,2 fL.
 Pada pemeriksaan kimia klinik, kadar gula darah
322mg/dl, Ureum 37mg/dl, Creatinin0,7mg/dl
 EKG sinus takikardi
Cont...

Diagnosis

 Asma Bronkial akut serangan
berat dengan ancaman gagal
napas
Penatalaksanaan

 Pasien ditatalaksana tirah baring dengan posisi setengah duduk
 oksigen 10 lpm dengan sungkup
 adrenalin 0,3 cc im
 IVFD NaCL 0,9% 20 tetes permenit
 drip aminopilin 1Amp dalam D5% 20 tetes permenit
 bolus aminopilin ½ amp
 injeksi methyil prednisolon 125mg ulang 62,5mg per 12 jam
 Nebulizer 1 kali farbivent ulang per 6 jam
 injeksi omeprazol 2x40mg
 injeksi ceftriaxon 2x 1gram
 jika pasien sadar berikan asetilsistein 3x200mg.
 Stabilkan kondisi pasien jika stabil pindahkan HCU

Pembahasan
Asma bronkial


 Definisi
 Gangguan inflamasi kronik pada saluran napas
 Melibatkan banyak sel-sel radang (eosinofil, sel mast,
leukotrien, makrofag, netrofil, limfosit T, dll)
 Terjadi hiperresponsif jalan napas thd berbagai
rangsangan
 Ditandai dg obstruksi jalan napas yg ber-sifat
reversibel dengan atau tanpa pengobatan

Definisi diambil dari NHLBI (National Heart, Lung


and Blood Institute) - 2007
Gejala klinis dan faktor resiko

 Sesak napas / dada terasa penuh (chest tightness)
 Napas berbunyi (mengi/wheezing)
 Batuk (terutama malam dan dini hari)
 Dahak kental sulit dikeluarkan
 Gejala timbul secara episodik berulang
Faktor resiko
 Genetik (multiple chromosomal region – kadar Ig E tinggi
pada kromosom 5q, 11q, 12q gen Human Leucocyte
Antigen/HLA)
 Lingkungan (house dust mite, polusi, cuaca)
Patogenesis

 Pencetus/trigger (alergen, virus, iritan, psikis) 
hiperresponsif saluran napas  reaksi imunologik
dan atau gangguan keseimbangan biokimia /
neurohumoral  inflamasi akut (reaksi asma tipe
cepat dan tipe lambat)  bronkospasme, edema,
hipersekresi mukus  inflamasi kronik & airway
remodeling

Diagnosis

1. Anamnesis
2. Pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan penunjang:
- Radiologis: foto toraks
- Test faal paru, uji provokasi bronkus
- Laboratorium: status alergi (darah tepi,
Ig E total, eosinofil count, Ig E Atopy,
skin test)
Penatalaksanaan



Terapi adjuvant

 Dosis pemberian MgSO4
- Melalui intravenia MgSO4 50% dengan dosis
20mg/kgBB/jam
- Melalui nebulizer MgSO4 dengan dosis 600mg
ditambah salbutamol 5mg
- Melalui oral MgSO4 dengan dosis 340mg selama 2
bulan
Gagal Napas

 Pengertian
- Gagal nafas adalah kegagalan sistem pernafasan untuk
mempertahankan pertukaran oksigen dan
karbondioksida dalam jumlah yangdapat mengakibatkan
gangguan pada kehidupan (RS Jantung “Harapan Kita”,
2001).
- Gagal nafas terjadi bilamana pertukaran oksigen terhadap
karbondioksida dalam paru-paru tidak dapat memelihara
laju komsumsioksigen dan pembentukan karbon dioksida
dalam sel-sel tubuh. Sehingga menyebabkan tegangan
oksigen kurang dari 50 mmHg (Hipoksemia) dan
peningkatan tekanan karbondioksida lebih besar dari 45
mmHg / hiperkapnia (Brunner & Sudarth, 2001)
Jenis Gagal Napas

 Gagal nafas akut adalah gagal nafas yang timbul
pada pasien yang parunya normal secara struktural
maupun fungsional sebelum awitan penyakit timbul.

 Sedangkan gagal nafas kronik adalah terjadi pada


pasien dengan penyakit paru kronik seperti bronkitis
kronik, emfisema dan penyakit paru hitam (penyakit
penambang batubara).
Etiologi

1. Depresi sistem saraf pusat
2. Kelainan neurologis primer
3. Efusi pleura, hemothoraks dan pneumothoraks
4. Trauma
5. Penyakit akut paru
Patofisiologi

Kriteria gagal napas

 Analisa gas darah
 Apnoe
 Batuk berdahak
 Sianosis
 Sesak nafas/dispnoe
 Perubahan pola nafas
 Suara nafas menurun atau hilang, adanya suara tambahan
seperti stridor, ronkhi atau wheezing
 Takikardia/bradikardia
 Hipertensi/hipotensi
 Gangguan irama jantung
 Gangguan kesadaran akibat hipoksia atau hiperkarbia
Pemeriksaan penunjang

Pemerikasan gas-gas darah arteri
Hipoksemia
Ringan : PaO2 < 80 mmHg
Sedang : PaO2 < 60 mmHg
Berat : PaO2 < 40 mmHg
• Pemeriksaan rontgen dada
Melihat keadaan patologik dan atau kemajuan proses
penyakit yang tidak diketahui
• Hemodinamik
• EKG
Mungkin memperlihatkan bukti-bukti regangan jantung
di sisi kanan
Disritmia
Penatalaksanaan

 Atasi Hipoksemia: Terapi Oksigen
 Atasi Hiperkarbia: Perbaiki ventilasi
 a. Perbaiki jalan nafas
 b. Bantuan Ventilasi: Face mask, ambu bag
 c. Ventilasi Mekanik
 Fisioterapi dada
 Bronkodilator
 Antikolinergik
 Teofilin
 Kortikosteroid
 Ekspektoran
 Kausatif
Alhamdulillah