Vous êtes sur la page 1sur 25

ASMA BRONKIALE

Dr Ferry Wardhana
Definisi :
Berdsarkan GINA (Global Initiative for Asthma) 2017
definisi asma adalah

Asthma is a heterogeneous disease, usually


characterized by chronic airway inflammation. It is
defined by the history of respiratory symptoms such
as wheeze, shortness of breath, chest tightness and
cough that vary over time and in intensity, together
with variable expiratory airflow limitation.”
Gejala klinis:
Sesak napas / dada terasa penuh (chest
tightness)
Napas berbunyi (mengi/wheezing)
Batuk (terutama malam dan dini hari)
Dahak kental sulit dikeluarkan

 Gejala timbul secara episodik berulang


Faktor risiko:
 Genetik (multiple chromosomal region – kadar Ig E tinggi pada
kromosom 5q, 11q, 12q gen Human Leucocyte Antigen/HLA)
 Lingkungan (house dust mite, polusi, cuaca)
Patogenesa
Inflamasi akut:
Reaksi asma tipe cepat  alergen terikat Ig E pd sel mast 
degranulasi sel mast  release preformed (histamin, protease) dan
newly generated mediators (leukotrien, prostaglandin, PAF) 
br.spasme, hipersekresi mukus, vasodilatasi.
Reaksi asma tipe lambat  timbul 6-9 jam stl paparan alergen 
aktivasi eosinofil, sel T CD4+, netrofil & makrofag.
Inflamasi kronik & airway remodeling:
 Melibatkan sel limfosit T, eosinofil, makro-
fag, sel mast, sel epitel, dan fibroblast
 Menyebabkan kerusakan jaringan yg dii-kuti
healing process  perubahan struk-tur (airway
remodeling) berupa:
- Hipertrofi & hiperplasia otot polos br. &
kelenjar mukus
- Penebalan membran reticular basal
- Hipervaskuler
- Perubahan struktur parenkim  fibrosis
ALERGEN PEMICU ASMA
Klasifikasi asma:
1. Asma Atopik/Ekstrinsik/Alergik
2. Asma Nonatopik/Intrinsik

Sindroma Asma:
 Exercise-induced asthma
 Nocturnal asthma
 Occupational asthma
 Aspirin-induced asthma
 Fatal & near fatal asthma
Asma Atopik/Ekstrinsik/Alergik:
 Anak & dewasa muda
 Serangan mendadak stl terpapar alergen, dpt pulih
tanpa obat
 Sering didahului influenza
 Keturunan (+), eksim saat kanak2
 Skin test (+), Ig E & eosinofil 
 Sering alergi aspirin
 Respons tx baik
Asma Nonatopik/Intrinsik:
 Dewasa atau usia pertengahan
 Faktor imunologi (?)
 Sering disebabkan infeksi, dahak purulen
 Riwayat atopi (±)
 Skin test (-), Ig E & eosinofil normal
 Respons tx kurang
 Prognose lebih jelek
 Nocturnal asthma:
- Keluhan batuk / sesak terutama timbul pd
malam – dini hari
- Mekanisme  perubahan suhu yg ekstrim,
pe kadar hormon adreno-corticotropin pd
dini hari
- Terapi: Theophylline SR, LABA + steroid
inh.
 Occupational asthma:
- Penyebab alergen atau iritan di lingkungan kerja
- Keluhan timbul bila px berada di lingkungan kerja &
menghilang setelah px pulang
- Terapi: masker, pindah tempat kerja, 2- agonis & steroid
inhalasi sebelum bekerja
Diagnosa:
1. Anamnesa
2. Pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan penunjang:
- Radiologis: foto toraks
- Test faal paru, uji provokasi bronkus
- Laboratorium: status alergi (darah tepi,
Ig E total, eosinofil count, Ig E Atopy,
skin test, sputum charcot leyden)
Anamnesa:

 Serangan bersifat episodik/berulang /kumat-


kumatan, reversibel
 Memburuk malam & dini hari
 Pencetus/trigger (+)
 Respons thd br.dilator (+)
 Riwayat asma dlm keluarga
 Riwayat alergi, sinusitis
Pemeriksaan fisik:
 Dpt normal, kadang wheezing (+), eks-pirasi
memanjang
 Serangan ringan  wheezing akhir eks-pirasi
paksa
 Serangan berat  wheezing dapat tidak
terdengar, px sianosis, gelisah, taki-kardi,
retraksi ics, penggunaan otot bantu napas
Pemeriksaan penunjang:
 Foto toraks  normal diluar serangan, hi-perinflasi
saat serangan, adanya penyakit lain
 Faal paru (spirometri / PEFR)  menilai berat
obstruksi, reversibilitas, variabilitas
 Uji provokasi bronkus  membantu dx
 Status alergi  skin prick test, Ig E total, eosinofil
count, Ig E Atopy
Diagnosa Banding:
 Dewasa:
PPOK, bronkitis kronis, gagal jantung kongestif,
obstruksi krn tumor, disfungsi larings, emboli paru

 Anak:
Corpus alienum, laringotrakeomalasia,
limfadenopati, bronkiolitis, stenosis trakea, tumor
Klasifikasi derajat berat asma (GINA 2017)
Penatalaksanaan
Tujuan:
 Menghilangkan & mengendalikan gejala asma
 Mencegah eksaserbasi akut
 Me & mempertahankan faal paru optimal
 Mengupayakan aktivitas normal (exercise)
 Menghindari ESO
 Mencegah airflow limitation irreversible
 Mencegah kematian
OBAT HISAP

Metered Dose Inhaler Turbuhaler


Aerosol Dry Powder
NEBULISER

Nebulisasi dengan Micromist Nebulisasi dengan


Masker
Beda Asma Br. dan PPOK
BEDA ASMA BRONKIALE PPOK
Usia Anak, remaja, dewasa Dewasa > 40 tahun
Merokok +/- ++
Reversibiliti Reversibel Non-reversibel
Progresifiti Non-progresif Progresif
Riwayat Alergi ++ +/-
Batuk Malam – dini hari Sewaktu-waktu
Dyspneu on effort Bila serangan ++
Sputum Kental, sulit dikeluarkan +/-
Faal paru Me bila serangan FEV1/FVC < 70%
Variabiliti PF ++ -
Darah Lengkap Normal Polisitemia
Analisa Gas Darah PaO2 N/ PaCO2 , PaO2 N/
Foto Toraks Normal, hiperinflasi saat Hiperinflasi
serangan
Sel-sel inflamasi Eosinofil, CD4+ Netrofil, CD8+
Aeromedical recomendation

 Passengers with asthma and chronic lung disease


(including chronic obstructive pulmonary disease
(COPD) and pulmonary fibrosis) are usually able to
travel safely if the condition is stable and there has
been no recent deterioration.
IATA MEDICALAssessment
Diagnosis MANUALby 2013
a Accept Comments
doctor with
aviation medicine
experience
Asthma Currently
asymptomatic
and
no infection