Vous êtes sur la page 1sur 14

儒家宗教教学

Leander Titan Arya Pratama XII-A2 / 14


Definisi
Agama Khonghucu adalah istilah yang
muncul sebagai akibat dari keadaan politik
di Indonesia. Agama Khonghucu lazim
dikaburkan makna dan hakikatnya dengan
Konfusianisme sebagai filsafat.
History Singkat
Konghucu/Konfusianisme (Inggris: Confucianisme) merupakan agama yang
berkembang dari ajaran filsuf besar Cina, Kong Hu Cu (551-479 SM).
Nama asli agama ini adalah Ru Jiao (儒 教)atau Kong Jiao (孔教). Nama
Konfusianisme (Confucianism) merupakan sebutan dari Misionari Eropa yang datang
ke Cina, sedangkan istilah Khonghucu muncul di Indonesia di masa Orde Baru, yang
merujuk kepada Nabi Khongcu (Konfusius).
Sedangkan Kong Jiao juga diambil dari nama Nabi Kongzi (Konfusius).
Sejarah Panjang
Permulaan
Agama Khonghucu, tepatnya disebut Ru Jiao, sudah ada 2000 tahun sebelum
Nabi Khongcu lahir. Para raja dan rakyat harus menjalankan upacara agama dan
menjunjung tinggi moralitas seperti yang diajarkan oleh para luhur raja. Nabi Khongcu
lahir pada tahun 551 SM. Ia ditugaskan oleh Tuhan untuk menata kembali tata upacara
agama Ru Jiao dan mengajarkan kepada raja dan rakyat Tiongkok tentang spiritual dan
moral agar rakyat Tiongkok hidup lebih sejahtera dan damai. Pada waktu itu di Tiongkok
terjadi perpecahan yang menjadikan negeri Tiongkok kacau balau. Para kepala daerah
ingin menjadi raja, mereka saling berperang berebut wilayah. Zaman itu disebut zaman
Chun Qiu ( Musim Semi dan Musim Gugur).
Sekolah “Mohism”

Nabi Khongcu mendirikan sekolah yang menampung murid sebanyak 3000


orang. Setelah para murid itu pandai banyak yang mendirikan sekolah
meneruskan ajaran Nabi Khongcu. Namun, ada juga murid yang mendirikan
sekolah dengan aliran lain. Pada waktu itu muncul aliran yang bermacam-
macam di Tiongkok, bahkan ada aliran yang bertentangan dengan ajaran Nabi,
antara lain aliran Mohist yang didirikan oleh Mo Zi.
Kong Hu Cu
Kong Hu Cu atau Konfusius, kadang-kadang
sering hanya disebut Kongcu (551 SM – 479 SM)
adalah seorang guru atau orang bijak yang terkenal
dan juga filsuf sosial Tiongkok. Filsafahnya
mementingkan moralitas pribadi dan
pemerintahan, dan menjadi populer karena asasnya
yang kuat pada sifat-sifat tradisonal Tionghoa.
Oleh para pemeluk agama Kong Hu Cu, ia diakui
sebagai nabi.
Meng Zi
Meng Zi mengajarkan:
Manusia akan hidup bahagia apabila negara
makmur dan sejahtera, untuk itu menusia
harus melaksanakan Perintah Tuhan, yaitu
menjalani hidup lurus, jujur, dan tidak serakah.
Kekacauan terjadi dalam masyarakat karena
banyak orang tidak menjalankan hidup sesuai
Perintah Tuhan. Ajaran Meng Zi lebih
mengarah kepada ajaran agama, kekuatan iman
sangat diperhatikan. Meng Zi menyakini bahwa
watak dasar manusia itu baik.
Xun Zi
Xun Zi mengajarkan bahwa manusia bisa
hidup bahagia apabila negaranya kuat dan kaya.
Untuk mewujudkan negara yang kuat dan kaya
perlu dibuat undang-undang yang
berlandaskan cinta kasih dan keadilan, dan
ditentukan sistem kemasyarakatan yang jelas.
Rakyat perlu dididik untuk hidup sesuai
dengan sistem kemasyarakatan yang ada.
Ajaran Xun Zi lebih mengarah kepada ajaran
Filsafat Konfusianisme. Xun Zi tidak yakin
bahwa watak dasar manusia itu baik, maka dia
menyarakan adanya penegakan hukum yang
serius agar rakyat hidup lurus dan benar.
Pada tahun 97 M, diadakan seminar di Gua Macan Putih (nama sebuah gedung di
Istana), untuk menetapkan ajaran Nabi Khongcu yang asli dan dipisahkan dari ajaran
Khongcu yang palsu. Pemisahahan ini mempunyai dampak positif, tetapi juga
mempunyai dampak negatif. Dampak positifnya ajaran Nabi Khongcu yang murni
sudah ditetapkan. Dampak negatifnya, banyak buku tulisan pemikir Ru Jiao yang ikut
tersingkirkan atau tidak diakui sebagai ajaran Ru Jiao. Perlu dijelaskan di sini bahwa
pada zaman itu terjadi pepecahan antara Kelompok teks baru dan teks lama.
Tampaknya yang menentukan putusan dalam seminar itu dari kelompok teks baru.
Tulisan Yang Xiong ( kelompok teks lama) yang berjudul Tai Xuan Jing (Kitab Rahasia
Besar) tidak dimasukkan dalam ajaran Ru Jiao. Tulisan Yang Xiong justru dimanfaatkan
oleh agama Tao sebagai kitab yang amat penting.
Kitab Suci
Wu Jing (五 經) (Kitab Suci yang Lima) yang terdiri Si Shu (Kitab Yang Empat) yang terdiri atas:
atas:
• Kitab Ajaran Besar 大學 Da Xue
• Kitab Sanjak Suci 詩經 Shi Jing
• Kitab Tengah Sempurna 中庸 Zhong Yong
• Kitab Dokumen Sejarah 書經 Shu Jing
• Kitab Sabda Suci 論語 Lun Yu
• Kitab Wahyu Perubahan 易經 Yi Jing
• Kitab Mengzi 孟子 Meng Zi
• Kitab Suci Kesusilaan 禮經 Li Jing
• Kitab Chun-qiu 春秋經 Chunqiu Jing
Agama Khonghucu pada Masa Orde Baru
Di zaman Orde Baru, pemerintahan Soeharto melarang segala bentuk aktivitas
berbau kebudayaaan dan tradisi Tionghoa di Indonesia. Ini menyebabkan banyak
pemeluk kepercayaan tradisional Tionghoa menjadi tidak berstatus sebagai pemeluk
salah satu dari 5 agama yang diakui. Untuk menghindari permasalahan politis (dituduh
sebagai atheis dan komunis), pemeluk kepercayaan tadi kemudian diharuskan untuk
memeluk salah satu agama yang diakui, mayoritas menjadi pemeluk agama Buddha,
Islam, Katolik, atau Kristen. Klenteng yang merupakan tempat ibadah kepercayaan
tradisional Tionghoa juga terpaksa mengubah nama dan menaungkan diri menjadi
vihara yang merupakan tempat ibadah agama Buddha.
Agama Khonghucu pada Masa Reformasi
Seusai Orde Baru, pemeluk kepercayaan tradisional Tionghoa mulai
mendapatkan kembali pengakuan atas identitas mereka sejak masa
kepemimpinan presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) melalui UU No
1/Pn.Ps/1965 yang menyatakan bahwa agama-agama yang banyak pemeluknya
di Indonesia antara lain Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha dan
Khonghucu.