Vous êtes sur la page 1sur 16

PROGRAM STUDI D-III RPL KEPERAWATAN GIGI

POLTEKKES KEMENKES SURABAYA


JURUSAN KEPERAWATAN GIGI
Semester I, tatap muka ke 4
Tanggal 16 SEPTEMBER 2017
drg. JAHJA, M.KeS.

Jahja-Poltekkes-Sby
SISTEM PENGUNYAHAN
 Fungsi: Mencerna makanan & menyiapkan sebelum
ditelan
 Untuk mencerna, menggerus, memotong & menelan
makanan, lengkung gigi-geligi atas dan bawah harus
dapat dipisahkan & bergerak dengan kuat searah atau
berlawanan arah satu sama lain ( mesio-distal,
belakang-depan atau atas bawah).
 Cara paling sederhana satu lengkung gigi dlm posisi
tetap & gigi yg berhubungan digerakkan
 Makanan dihancurkan & dipotong dg menggerakkan
lengkung gigi bawah.

Jahja Poltekkes Kemenkes Sby 2


 Untuk penelanan mandibula harus stabil pada suatu
ketinggian yg sesuai sehingga dapat mengangkat
tulang hiodeum dan laring.
 Mandibula pada dasarnya adalah suatu tulang
berbentuk U yg dibangun mengitari suatu pusat
pasokan neuromuskuler.
 Pada badan yg berbentuk U ditambahkan berbagai
prosesus yg memungkinkan tulang melakukan fungsi
utamanya mendukung lengkung gigi & menggunakan
gigi untuk mengunyah makanan.

Jahja Poltekkes Kemenkes Sby 3


PROSESUS
1. Prosesus Alveolaris
Memungkinkan gigi berada dalam suatu lengkung
horizontal & mencekatkan gigi pada tulang dasarnya
2. Prosesus Muskularis
Suatu daerah perlekatan (jaringan otot) menyebab
kan mandibula bergerak dalam bidang vertikal &
memberikan daya pengunyahan
3. Prosesus Artikularis
Menstabilkan tulang yg bergerak itu &
memberikan engsel, permukaan perputaran dan
fulkrum untuk mendayagunakan daya itu

Jahja Poltekkes Kemenkes Sby 4


PENGGERAK UTAMA MANDIBULA
 MASSETER: Masa otot yg tebal, berbentuk empat
persegi panjang disebelah pinggir wajah
 Melekat diantara permukaan lateral dari ramus
mandibula dan arkus zigomatikus, persis dibawah
kulit
 Letaknya diagonal dengan satu sudut yg sangat
membulat untuk menyesuaikan dengan garis bentuk
yg membulat dari mandibula.

Jahja Poltekkes Kemenkes Sby 5


FUNGSI MASSETER
 Masseter adalah otot yg tebal, kuat, digunakan apabila
penghancuran & penggilingan yg kuat diperlukan
untuk mengunyah makanan yg keras
 Mengangkat mandibula ke vertikal
 Memberikan vektor anterior pada rahang selama
rahang diangkat dari suatu posisi depresi ke posisi
interkuspal maksimal pada busur mid-sagital
pengangkatan
 Kerja kombinasi antara bagian superfisial & profunda
akan menyebabkan kondil pada sisi yg sama berada
dalam kedudukan close-pack, dengan dorongan
supero-anterior
Jahja Poltekkes Kemenkes Sby 6
 Susunan medio-lateral dari serabut memungkinkan
komponen lateral dari daya dikembangkan
 Persarafan masseter berasal dari saraf kranialis V
 Pasokan arteri berasal dari cabang arteri masseterika
 Susunan multipennate (berempal banyak) dari faskuli
meningkatkan kekuatan dan variasi gerakan lateral
 Bagian dalam dapat mengembangkan komponen
retrusif

Jahja Poltekkes Kemenkes Sby 7


PTERIGODEUS MEDIALIS
 Suatu massa jaringan otot yg kuat, tebal, empat
persegi panjang, terletak pada sisi medial dari ramus
mandibula
 Tidak selebar/ setebal masseter
 Batas posteriornya tersusun serupa dengan batas
posterior dari masseter pada proyeksi lateral, tetapi
batas anteriornya terletak lebih dorsal
 Kebanyakan otot pterigoideus medialis keluar dari
permukaan medial lamina pterigodea lateralis, fosa
pterigodea dan prosesus piramidalis dari tulang
palatum

Jahja Poltekkes Kemenkes Sby 8


KOMBINASI MASSETER DAN PTERIGOIDEUS
MEDIALIS
 Masseter dan pterigoideus medialis besama-sama pada
tiap sisi membentuk bandulan berbentuk V yg
menutupi mandibula dari sisi dan dasar tengkorak
 Perlekatan masseter dan pterigoideus medialis pada
mandibula berhubungan erat
 Gambaran yg bisa menyatakan bahwa keduanya
bertemu pada batas inferior mandibula
 Dua otot ini bekerja secara sinergis sebagai kekuatan
mengangkat, menngerakkan gigi-geligi melalui
makanan yg liat dan memberikan kekuataan untuk
menghancurkan dan menggiling
Jahja Poltekkes Kemenkes Sby 9
TEMPORALIS
 Otot berempal dua dengan origo berbentuk kipas dan
tendon yg sangat besar, kuat serta berinsersio ke
dalam prosesus koronoideus, krista temporalis
profunda dan batas anterior ramus mandibula
 Lebih panjang dari serabut pterigoieus dan masseter
 Otot mandibula yg paling besar, tetapi tidak sebagai
salah satu otot kuat yg melekat pada mandibula.

Jahja Poltekkes Kemenkes Sby 10


Jahja Poltekkes Kemenkes Sby 11
Jahja Poltekkes Kemenkes Sby 12
Jahja Poltekkes Kemenkes Sby 13
Jahja Poltekkes Kemenkes Sby 14
Jahja Poltekkes Kemenkes Sby 15
TERIMAKASIH

Jahja Poltekkes Kemenkes Sby 16