Vous êtes sur la page 1sur 26

AKUNTANSI KEPERILAKUAN

“ Aspek Keperilakuan Pada Etika


Akuntan”

Disajikan oleh :

Indah Aurelia Novryani RRC1C016020


Athiatul Istianah RRC1C0160
Vicky Anthony RRC1C0140
Dilema Etika
 Muncul sebagai konsekuensi audit karena auditor berada
dalam situasi pengambilan keputusan antara yang etis dan
tidak etis dimana ada pihak yang berkepentingan dalam hal
pengambilan keputusan.
 Akuntan didalam aktivitas auditnya memiliki banyak hal yang
harus dipertimbangkan karena auditor mewakili banyak
konflik kepentingan yang melekat dalam proses audit.
Konflik ini akan menjadi sebuah dilema etika ketika auditor
diharuskan membuat keputusan yang menyangkut
independensi dan integritasnya dalam imbalan ekonomis
yang mungkin dijanjikan disisi lain.
PENALARAN MORAL
• Penalaran moral dan pengembangan memainkan peran
kunci dalam seluruh area profesi akuntansi. Akuntan yang
secara kontinu dihadapkan pada dilema berada pada konflik
nilai. Akuntan pajak misalnya, ketika memutuskan kebijakan
mengenai metode akuntansi yang akan dipilih,
membutuhkan waktu untuk memutuskan antara metode
yang mencerminkan sifat ekonomi sesungguhnya dari
transaksi atau metode yang paling sesuai menggambarkan
perusahaan.
Model Pengambilan Keputusan Etis
TEORI PENALARAN MORAL “ KOHLBERG

Menurutnya, individu secara berurutan mengalami


kemajuan ke tingkat atau tahap moral reasoning
yang lebih tinggi sebagai bagian dari proses
pertambahan usia.
Ada tiga tingkatan:
- Prakonvesional
- Pasca Konvesional
- Ukuran Moral Reasoning
Wawancara Penilaian Moral
 Dikembangkan untuk melibatkan
serangkaian paradigma terstandarisasi yang
membutuhkan individu untuk memecahkan
dilema moral.
Alternatifnya  Pengujian Definisi Masalah
(DIT) berupa kuesioner pilihan ganda

DIT mampu mampu menunjukkan


pembenaran etis yang didasarkan pada
ekspetasi,
Pendekatan Kognitif Lingkungan 
Keputusan Etis
• SEM menyebutkan sebagai ukuran kesadaran
moral yang menghubungkan teori
perencanaan perilaku
Dibagi kedalam tiga dimensi :
Keadilan moral ,relativisme dan
kontraktualisme.
Tujuan utama  memvalidasi penggunaan SEM
dalam konteks akuntansi.
Terdapat teori aksi penalaran yang
berhubungan dari komitmen perilaku
yang pada saatnya diprediksi dari sikap
pribadi individu terhadap perilaku dan
norma subjektif .

Misalnya, persepsi individual mengenai


sikap masyarakat terhadap perilaku.
Model Alternatif
Pengambilan Keputusan
Terdapat model pengambilan keputusan berdasarkan
kode etik dan Perilaku Profesional AICPA berdasarkan
prinsip keunggulan.

lampe dan finn  membuat model dari proses keputusan etis


auditor sebagai proses dengan lima elimen (pemahaman
keuntungan, pengendalian dampak, keputusan lain, penilaian
lain, dan pengambilan keputusan final) untuk dibandingkan
dengan model yang berbasis kode etik dan perilaku
profesional AICPA. Dengan cara yang sama, finn dan lampe
membuat model dari keputusan berkaitan dengan
penyampaian pengaduan auditor.

Machintosh  bahwa riset menekan pada perspektif yang


hanya mengukur penerimaan sosial bukan pada perspektif
etis yang sesungguhnya.
RISET PERILAKU ETIS AKUNTAN
• Menyelidiki tingkat moral reasoning
akuntan dan perilaku yang
berhubungan yaitu :
a. Studi Pendidikan Etika
b. Studi Pengembangan Etika
c. Studi Etika Lintas Budaya
A, Studi Pendidikan Etika
Menentukan efek pendidikan terhadap
keahlian moral reasoning dari para
praktisi dan mahasiswi akuntansi.
 M. Amstrong  pendidikan kampus mungkin tidak
mendorong kelanjutan dari pertumbuhan moral
 Ponemon dan Glaser : melakukan penyelidikan
dengan membandingkan mahasiswa dari dua
tingkatan yang berbeda
 St. Pieere,Nelson dan Gubbin : mengkaji hubungan
pendidikan etika terhadap dampak keperilakuan
B. STUDI PENGEMBANGAN ETIKA

berfokus pada pengembangan moral reasoning dalam profesi


akuntansi. Misalnya dalam keyakinan eksistensi sosialisasi
etis.
a. Ponemon 1990 : menyelidiki bukti awal bahwa tingkat
posisi dalam perusahaan dan tingkat moral reasoning
b. Ponemon 1992 : adanya sosialisasi perusahaan bahwa
manajemen lebih bisa mendorong individu yang
mempunyai pandangan organisasi umum yang sama.
c. Shaub : tingkat moral reasoning yang lebih tinggi akan
menunjukkan peningkatan atau penurunan konsistensi
manajemen
d. Sweeney : Investigasi menunjukkan bahwa keahlian moral
sangat berhubungan dengan orientasi politik auditor
Jeffrey dan Weather : Ada komitmen profesional
dan kepatuhan pada aturan secara siginifikan
dan positif saling berhubungan dimana
hubungannya secara terbalik.
Kite , Louwer & Radtke : Tidak mendukung
hipotesis bahwa auditor lingkungan
mempunyai skor DIT yang rata rata lebih tinggi
daripada akuntan praktik
C. STUDI KEPUTUSAN ETIS

a. Isu Independensi
- Auditor dengan skor DIT yang lebih rendah
memungkinkan untuk melangggar aturan
indenpendensi dan lebih spesifik terhadap
faktor penalti. Begitu pula sebaliknya
- Temuan menunjukkan bahwa auditor
dengan yang menguasai situasi etis tidak
terlalu skeptis dan tidak terlalu
memperhatikan isu etis profesional.
b. Pelanggaran Kode Etik dan Profesional
AICPA
- Peningkatan tingkat komitmen profesional
tidak menghasilkan auditor yang lebih
sensitif terhadap etika.
- Bentuk pelanggaran kode etik dan perilaku
profesional akan mencerminkan adanya
sensitivitas etika auditor yang terkait
komitmen profesional mereka dalam hal
pengambilan keputusan.
C. Mendeteksi dan Mengomunikasikan Kecurangan
- Auditor internal dengan skor DIT lebih tinggi
memungkinkan pengungkapan temuan audit
sensitif bahkan ketika tindakan balas dendam
oleh manajemen terjadi . Begitu pula sebaliknya.
- Auditor dengan skor DIT yang tinggi secara
subtansial lebih baik dalam mendeteksi penipuan
daripada auditor dengan skor DIT yang lebih
rendah.
d. Ketidakpatuhan Pembayar Pajak
- Menunjukkan bahwa faktor faktor individual dam
situasional secara psikologis merupakan aspek
yang menonjol dari keputusan keputusan dalam
ketidakpatuhan pajak.
- Perbedaan dalam perilaku dan niatan patuh
tergantung pada perbedaan keyakinan tentang
pentingnya memenuhi kewajiban
kewarganegaraan dan moral pribadi terkait hasil
moneter dari keputusan kepatuhan.
e. Perilaku Disfungsional Lain
 Menjelaskan bahwa pelaporan paling rendah
di kelompok kontrol dan paling tinggi di
kelompok rekan / sekutu .
 Selanjutnya auditor dengan skor DIT yang
lebih rendah secara rata rata membutuhkan
waktu pelaporan yang lebih singkat daripada
mereka dengan skor DIT yang lebih tinggi.
3. STUDI ETIS LINTAS BUDAYA

- Perbedaan budaya dapat memberikan pemahaman


kelompok profesi akuntan yang berbeda pula terkait
penetapan standar organisasi internasional
- Konsistensi sebuah pelaporan menunjukkan adanya
perusahaan multinasional dengan divisi yang terletak
di negara berbeda mungkin perlu
mengimplementasikan sistem pengendalian yang
berbeda untuk mencapai tingkat reliabilitas yang
serupa
- Perbedaan budaya juga akan memungkinkan bias
keinginan sosial diantara kelompok yang melakukan
tindakan /praktik akuntan melainkan juga situasi
khusus.
Implikasi bagi Riset Mendatang
Dalam menyelidiki dimensi etika profesi
akuntansi yang berhubungan dengan
keputusan apakah akan memperluas dan
menyatukan teori konflik dan ukuran dalam
kerangka kerja teoritis kognisi moral
Bahwa keputusan akuntan menjadi objek
dari bermacam macam kinstituen ,pelayanan
kantor profesional dan publik umum.
Terdapat dua dimensi terkait riset mendatang
demi kemajuan yaitu :
a. Melanjutkan integrasi model dan ukuran
kognitif yang berbeda dalam model rest
b. Mengembangkan sebuah model
pengambilan keputusan etis kognitif yang
khusus untuk profesi akuntansi
• Jika terdapat korelasi negatif yang antara
kinerja akuntan dengan dengan moral
reasoning maka, ditemukan bahwa intervensi
pendidikan adalah efektif dalam studi yang
melibatkan mahasiswa akuntansi , dampak
dari intervensi terhadap akuntansi profesional
masih harus dikaji.
• Intervensi pendidikan efektif  efektif dalam
studi yang melibatkan mahasiswa akuntansi
• Riset mengkaji perilaku etis akuntan bahwa
peranan yang dimainkan oleh variabel variabel
moderasi dalam menekan perilaku etis
disfungsional. Contoh , profesi akuntan unik yang
sering kali bertanggungjawab kepada macam
kelompok kontituen.
• Perbedaan persepsi mengenai moralitas terbukti
ada dalam studi lintas budaya yang dapat
memberikan pemahaman lebih lanjut mengenai
perbedaan budaya yang dapat memoderasi
perilaku tidak etis akuntan
KODE ETIK PROFESI AKUNTANSI
• Etik yang telah disepakati bersama oleh anggota dari suatu profesi
disebut sebagai Kode Etik Profesi. Akuntan yang merupakan salah
satu profesi yang memenuhi fungsi auditing haruslah tunduk pada
kode etik profesi dan melaksanakan audit terhadap suatu laporan
keuangan dengan cara tertentu. Etik ini yang merupakan prinsip
moral dan perbuatan yang menjadi dasar untu melakukan tindakan
untuk melakukan sesuatu
• Kode Etik Profesi Akuntan Publik adalah aturan etika yang harus
diterapkan oleh anggota Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI)
yang sebelumnya dinamakan Ikatan Akuntan Indonesia-
Kompartemen Akuntan Publik (IAI KAP) dan staf profesional (baik
yang anggota IAPI maupun yang bukan anggota IAPI) yang bekerja
pada satu Kantor Akuntan Publik/ (KAP).
• Kode Perilaku Profesional
• Perilaku etika merupakan fondasi peradaban
modern. Etika mengacu pada suatu sistem atau
kode perilaku berdasarkan kewajiban moral yang
menunjukkan bagaimana seorang individu harus
berperilaku dalam masyarakat. Jika didefinisikan
secara luas, profesionalisme mengarah pada
perilaku, tujuan dan kualitas yang membentuk
karakter atau ciri suatu profesi atau orang-orang
professional.
Prinsip-Prinsip Etika
• Integritas
Seorang akuntan profesional harus bertindak tegas dan jujur dalam
semua hubungan bisnis dan profesionalnya.
• Objektivitas
Seorang akuntan profesional seharusnya tidak boleh membiarkan
terjadinya bias, konflik kepentingan, atau dibawah pengaruh orang lain
sehingga mengesampingkan pertimbangan bisnis dan profesional.
• Kompetensi profesional dan kehati-hatian
Seorang akuntan profesional mempunyai kewajiban untuk
memelihara pengetahuan dan keterampilan profesional secara
berkelanjutan pada tingkat yang dipelukan untuk menjamin seorang klien
atau atasan menerima jasa profesional yang kompeten yang didasarkan
atas perkembangan praktik, legislasi, dan teknik terkini.Seorang akuntan
profesional harus bekerja secara tekun serta mengikuti standar-standar
profesional dan teknik yang berlaku dalam memberikan jasa profesional.
• Kerahasiaan
Seorang akuntan profesional harus
menghormati kerahasiaan informasi yang
diperolehnya sebagai hasil dari hubungan
profesional dan bisnis serta tidak boleh
mengungkapkan informasi apapun kepada pihak
ketiga tanpa izin yang benar dan spesifik, kecuali
terdapat kewajiban hukum atau terdapat hak
profesional untuk mengungkapkannya.
• Perilaku Profesional
Seorang akuntan profesional harus patuh
pada hukum dan perundang-undangan yang
relevan dan harus menghindari tindakan yang
dapat mendiskreditkan profesi.Akuntan
Prinsip Etika Profesi menurut Ikatan Akuntansi Indonesia yaitu:
• Tanggung Jawab Profesi
Dalam melaksanakan tanggung-jawabnya sebagai profesional setiap
anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan
profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya.
• Kepentingan Publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam
kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan
menunjukkan komitmen atas profesionalisme.
• Satu ciri utama dari suatu profesi
Adalah penerimaan tanggung-jawab kepada publik. Profesi akuntan
memegang peranan yang penting di masyarakat, di mana publik dari
profesi akuntan yang terdiri dari klien, pemberi kredit, pemerintah,
pemberi kerja, pegawai, investor, dunia bisnis dan keuangan, dan pihak
lainnya bergantung kepacla obyektivitas dan integritas akuntan dalam
memelihara berjalannya fungsi bisnis secara tertib.