Vous êtes sur la page 1sur 19

Disusun oleh:

Nisa ulfadillah
Nova julita
Yosi silvana putri
PENGERTIAN

Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak
dapat bernapas secara spontan dan teratur. Bayi
dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya
akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan.

Masalah ini erat hubungannya dengan gangguan


kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau masalah
yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau
sesudah persalinan
ETIOLOGI

Faktor ibu
 Preeklampsia dan eklampsia
 Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio
plasenta)
 Partus lama atau partus macet
 Demam selama persalinan Infeksi berat (malaria,
sifilis, TBC, HIV)
 Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu
kehamilan)

Faktor Tali Pusat
 Lilitan tali pusat
 Tali pusat pendek
 Simpul tali pusat
 Prolapsus tali pusat

Faktor Bayi
 Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
 Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar,
distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
 Kelainan bawaan (kongenital)
 Air ketuban bercampur mekonium (warna
kehijauan)
PATOFISIOLOGIS

Bayi kekurangan oksigen Apneu sekunder

Pernapasan cepat (periode Pernapasan makin lama makin


singkat) rendah
Berlanjut
Gerakan bernapas berhenti Bayi terlihat lemas

Denyut jantung menurun Tekanan darah bayi menurun

Tonus neuromuskular berangsur Denyut jantung terus menurun


berkurang
Berlanjut
Apneu primer perna[pasan megap-megap
Tanda dan Gejala

 pernafasan yang cepat dalam periode yang singkat
apabila asfiksia berlanjut,
 gerakan pernafasan akan berhenti,
 denyut jantung juga menurun,
 sedangkan tonus neuromuskular berkurang secara
barangsur-angsur dan memasuki periode apnue
primer.
 Gejala dan tanda asfiksia neonatorum yang khas
antara lain meliputi pernafasan cepat, pernafasan
cuping hidung, sianosis dan nadi cepat.
gejala lanjut pada asfiksia :

 Pernafasan megap-megap dalam
 Denyut jantung terus menurun
 Tekanan darah mulai menurun
 Bayi terlihat lemas (flaccid)
 Menurunnya tekanan O2 anaerob (PaO2)
 Meningkatnya tekanan CO2 darah (PaO2)
 Menurunnya PH (akibat asidosis respiratorik dan metabolik)
 Terjadinya perubahan sistem kardiovaskular
 Pernafasan terganggu
 Detak jantung berkurang
 Reflek atau respon bayi melemah
 Tonus otot menurun
 Warna kulit biru atau pucat
Klasifikasi Asfiksia
Neonatorum

1. Bayi normal atau tidak asfiksia
Skor APGAR 8-10. bayi normal tidak memerlukan
resusitasi dan pemberian oksigen secara terkendali.
2. Asfiksia Ringan
Skor APGAR 5-7. Bayi dianggap sehat, dan tidak
memerlukan tindakan istimewa. tidak memerlukan
pemberian oksigen dan tindakan oksigen.

3. Asfiksia Sedang
Skor APGAR 3-4. Pada pemeriksaan fisik akan terlihat
frekuensi tentang lebih dari 100/menit, tonus otot kurang
baik atau baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada dan
memerlukan tindakan resusitasi serta pemberian oksigen
sampai bayi dapat bernafas normal.

4. Asfiksia Berat
Skor APGAR 0-3. Memerlukan resusitasi segera secara aktif,
dan pemberian oksigen terkendali. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100/menit, tonus
otot buruk, sianosis berat, dan kadang-kadang pucat, reflek
iritabilitas tidak ada,
PENCEGAHAN
1.

Melakukan pemeriksaan antenatal rutin minimal 4 kali
kunjungan untuk mendeteksi secaradini kelainan pada
ibu hamil dan janin dan ibu mendapat rujukan ke rumah
sakit secara segera.
2. Melakukan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan
yang lebih lengkap pada kehamilan yang diduga berisiko
bayinya lahir dengan asfiksia neonatorum untuk
penangan segera agra tidak terjadi kematian ibu dan
bayi.
3. Memberikan terapi kortikosteroid antenatal untuk
persalinan pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu.
4. Melakukan pemantauan yang baik terhadap
kesejahteraan janin dan deteksi dini terhadap tanda-
tanda asfiksia fetal selama persalinan dengan
kardiotokografi untuk mengontrol pernafasan bayi.

5. Meningkatkan ketrampilan tenaga obstetri dalam
penanganan asfiksia neonatorum di masing-masing
tingkat pelayanan kesehatan.
6. Meningkatkan kerjasama tenaga obstetri dalam
pemantauan dan penanganan persalinan.
7. Melakukan Perawatan Neonatal Esensial untuk
meminimalisir resiko saat persalinan berlangsung yang
terdiri dari :
 Persalinan yang bersih dan aman
 Stabilisasi suhu
 Inisiasi pernapasan spontan
 Inisiasi menyusu dini
 Pencegahan infeksi serta pemberian imunisasi
Resusitasi


Persiapan Alat Resusitasi
 2 helai kain/handuk
 Bahan ganjal bahu bayi. Bahan ganjal dapat berupa kain,
kaos, selendang, handuk kecil, digulung setinggi 5 cm
dan mudah disesuaikan untuk mengatur posisi kepala
bayi.
 Alat pengisap lendir DeLee atau bola karet
 Tabung dan sungkup atau balon dan sungkup neonatal
 Jam atau pencatat waktu.
 Lampu sorot
 oksigen

Prinsip-prinsip resusitasi yang efektif :


 Tenaga kesehatan yang slap pakai dan terlatih dalam
resusitasi neonatal harus rnerupakan tim yang hadir pada
setiap persalinan.
 Tenaga kesehatan di kamar bersalin tidak hanya harus
mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga harus
melakukannya dengan efektif dan efesien
 Tenaga kesehatan yang terlibat dalam resusitasi bayi
harus bekerjasama sebagai suatu tim yang terkoordinasi.
 Prosedur resusitasi harus dilaksanakan dengan segera
dan tiap tahapan berikutnya ditentukan khusus atas
dasar kebutuhan dan reaksi dari pasien.
 Segera seorang bayi memerlukan alat-alat dan resusitasi
harus tersedia clan siap pakai.
Langkah-Langkah Resusitasi


1. Letakkan bayi di lingkungan yang hangat kemudian keringkan
tubuh bayi dan selimuti tubuh bayi untuk mengurangi evaporasi.
2. Sisihkan kain yang basah kemudian tidurkan bayi terlentang
pada alas yang datar.
3. Ganjal bahu dengan kain setinggi 1 cm (snifing positor).
4. Hisap lendir dengan penghisap lendir de lee dari mulut, apabila
mulut sudah bersih kemudian lanjutkan ke hidung.
5. Lakukan rangsangan taktil dengan cara menyentil telapak kaki
bayi dan mengusap-usap punggung bayi.
6. Nilai pernafasanJika nafas spontan lakukan penilaian denyut
jantung selama 6 detik, hasil kalikan 10. Denyut jantung > 100 x /
menit, nilai warna kulit jika merah / sinosis penfer lakukan
observasi, apabila biru beri oksigen. Denyut jantung < 100 x /
menit, lakukan ventilasi tekanan positif.

 Jika pernapasan sulit (megap-megap) lakukan ventilasi tekanan
positif.
 Ventilasi tekanan positif / PPV dengan memberikan O2 100 % melalui
ambubag atau masker, masker harus menutupi hidung dan mulut
tetapi tidak menutupi mata, jika tidak ada ambubag beri bantuan dari
mulur ke mulut, kecepatan PPV 40 – 60 x / menit.
 Setelah 30 detik lakukan penilaian denyut jantung selama 6 detik, hasil
kalikan 10.
 Lakukan penilaian denyut jantung setiap 30 detik setelah kompresi
dada.
 Denyut jantung 80x./menit kompresi jantung dihentikan, lakukan
PPV sampai denyut jantung > 100 x / menit dan bayi dapat nafas
spontan.


 Jika denyut jantung 0 atau < 10 x / menit, lakukan
pemberian obat epineprin 1 : 10.000 dosis 0,2 – 0,3 mL
/ kg BB secara IV.
 Lakukan penilaian denyut jantung janin, jika > 100 x /
menit hentikan obat.
 Jika denyut jantung < 80 x / menit ulangi pemberian
epineprin sesuai dosis diatas tiap 3 – 5 menit.
 Lakukan penilaian denyut jantung, jika denyut
jantung tetap / tidak rewspon terhadap di atas dan
tanpa ada hiporolemi beri bikarbonat dengan dosis 2
MEQ/kg BB secara IV selama 2 menit. (Wiknjosastro,
2007)

TERIMA KASIH