Vous êtes sur la page 1sur 20

ASSALAMUALAIKUM WR.

WB
KELOMPOK 9
Almira Melina Azaria (3351171421)
Cicilia Resa (3351171456)
Ade Aziza Zalika (3351171496)
Dita Oktaliana Sari (3351171545)
Eko Nugroho Makatita (3351171564)
OBAT YANG TIDAK TEPAT
DIBERIKAN PADA LANSIA (GERIATRI)
GERIATRI (PASIEN LANSIA)
 Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya
secara perlahan lahan kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri dan mempertahankan struktur dan fungsi
normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas
(termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang terjadi.

 Penyakit pada usia lanjut sering terjadi pada banyak organ


sehingga pemberian obat sering terjadi polifarmasi.
Polifarmasi berarti pemakaian banyak obat sekaligus pada
seorang pasien, lebih dari yang dibutuhkan secara logis-
rasional dihubungkan dengan diagnosis yang diperkirakan.
Perubahan Fisiologi Pada Lansia
OBAT –OBAT YANG KURANG TEPAT UNTUK PASIEN
LANSIA (GERIATRI)

Secara Umum
PENYAKIT OSTEOARTRITIS

 Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi


degeneratif yang ditandai oleh kerusakan kartilago
sendi secara perlahan, penebalan tulang
subkondrial, pembentukan osteofit pada tepi sendi
dan peradangan ringan sinovium non spesifik.
 Osteoartritis (OA) adalah penyakit nyeri sendi yang
paling sering ditemukan dan menjadi penyebab
kecacatan, terutama pada usia lanjut.
Pasien Osteoartritis
Pertimbangan Pemilihan Analgetik
Pada Lansia

Penanganan nyeri pada lansia,


sebagaimana penanganan nyeri pada umumnya,
sebaiknya berdasarkan tipe, sifat, dan keparahan
nyeri. Terapi farmakologis tetap memainkan
peranan penting untuk mengatasi nyeri pada
lansia. Penting untuk diingat bahwa pada lansia
terdapat peningkatan sensitivitas terhadap kerja
obat. Oleh karena itu, setiap pilihan analgetik
perlu dimulai dari dosis kecil dan dinaikkan
bertahap sesuai dengan toleransi pasien dan
sasaran terapi.
Dengan mempertimbangkan perubahan fisiologis
yang terjadi pada lansia, efektivitas obat sesuai bukti
ilmiah, dan potensi penyalahgunaannya, maka American
Geriatrics Society menerbitkan Beers criteria. Beers
criteria berisi obat-obatan yang berpotensi terjadi
penyalahgunaan atau penggunaan tidak sesuai pada
lansia, khususnya lansia di komunitas.
Obat-obat analgetik
Obat- obat yang dihindari untuk
pasien geriatri (lansia)
Obat-obat yang harus dihindari pada pasien geriatri dengan riwayat penyakit
tertentu, adalah NSAID (7 kejadian obat). Berdasarakan Beers Criteria 2012,
NSAID harus dihindari pada pasien geriatri dengan riwayat penyakit gagal jantung
karena berpotensi memperburuk kondisi gagal jantung . Hasil ini sesuai dengan
informasi yang diperoleh dari Drug Information Handbook yang menjelaskan
bahwa efek samping aspirin, meloxicam dan Na diklofenak pada sistem
kardiovaskuler dapat memperberat terjadinya edema

 Anti inflamasi non steroid juga perlu diwaspadai penggunaannnya pada lanjut usia
adalah Meloxicam, Natrium diklofenak, Piroxicam.
Meloxicam
 Meloksikam adalah derivat oxicam yang agak selektif menghambat COX-2
lebih kuat daripada COX-1, sehingga kurang merangsang mukosa lambung.
Plasma T½ nya 20 jam.
 Meloxicam bekerja dengan menghambat enzim yang memproduksi
prostaglandin yaitu senyawa yang dilepas tubuh yang menyebabkan rasa
sakit serta inflamasi. Dengan menghalangi produksi prostaglandin, obat ini
akan mengurangi rasa sakit dan inflamasi. Meloxicam hanya dapat
mengurangi gejala dan tidak dapat menyembuhkan artritis

Indikasi Dosis

Terapi jangka pendek


OA, eksaserbasi akut, dan
7.5 mg/hari. Maksimal 15
terapi jangka panjang AR.
mg/hari
Terapi simtomatik
spondilitis ankilosa.
Cara minum obat Meloxicam

1. Minum lewat oral, sekali sehari dengan segelas penuh air (240mL).
2. Jangan berbaring minimal 10 menit setelah meminum obat ini.
3. Jika terjadi sakit perut saat mengonsumsi obat ini, diminum dengan
makanan, susu, atau antasida.
4. Jangan minum lebih banyak obat ini daripada yang dianjurkan karena
dosis yang lebih tinggi meningkatkan kemungkinan sakit maag /
pendarahan.
5. Diperlukan waktu hingga dua minggu sebelum merasakan manfaat penuh
dari obat meloxicam.
6. Gunakan obat ini secara teratur, pada waktu yang sama setiap hari.
Efek Samping
1. Nyeri pada dada, letih, napas pendek, bicara tidak jelas, masalah
dengan penglihatan atau keseimbangan
2. Feses berwarna gelap, atau berdarah
3. Pembengkakan atau kenaikan berat badan yang cepat
4. Buang air kecil lebih jarang dari biasanya atau tidak sama sekali
5. Mual, nyeri pada perut bagian atas, gatal-gatal, kehilangan nafsu
makan, air seni berwarna gelap, feses berwarna seperti tanah liat,
sakit kuning (menguning pada bagian kulit atau mata)
6. Ruam pada kulit, memar, kesemutan parah
7. Reaksi pada kulit yang parah – demam, sakit tenggorokan,
bengkak pada wajah atau lidah, mata terasa terbakar, kulit terasa
sakit diikitu ruam kemerahan atau keunguan yang menyebar
(khusunya pada wajah dan tubuh bagian atas) dan menyebabkan
kulit melepuh dan mengelupas
Na Diklofenak
 Derivat fenilasetat termasuk NSAID yang terkuat anti radangnya
dengan efek samping yang kurang kuat dibandingkan dengan obat
lainnya (Indometasin, Piroksikam). Obat ini sering digunakan untuk
segala macam nyeri, juga pada migrain dan encok. Lagi pula
secara parenteral sangat efektif untuk menanggulangi nyeri kolik
hebat (kandung kemih dan kandung empedu).
 Efek analgetiknya dimulai setelah 1 jam, secara rektal dan
intramuskular lebih cepat, masing-masing setelah 30 dan 15 menit.
Penyerapan garam-K (cataplam) lebih pesat daripada garam-Na.
Plasma T½ nya 1 jam. Eksresi melalui kemih berlangsung untuk 60%
sebagai metabolit dan untuk 20% dengan empedu dan tinja.
 Dosis : oral 150-200 mg/hari (3x1 tablet biasa) dan (1x1
extended release).
Cara minum obat Na Diklofenak
1. Minum lewat oral, sekali sehari dengan segelas penuh air (240mL).
2. Jangan berbaring minimal 10 menit setelah meminum obat ini.
3. Jika terjadi sakit perut saat mengonsumsi obat ini, diminum dengan
makanan, susu, atau antasida.
4. Jangan menghancurkan atau mengunyah obat ini karena dapat
melepaskan semua obat sekaligus.
5. Jangan membagi tablet kecuali diarahkan oleh dokter atau apoteker.
6. Jangan minum lebih banyak obat ini daripada yang dianjurkan karena
dosis yang lebih tinggi meningkatkan kemungkinan sakit maag /
pendarahan.
7. Diperlukan waktu hingga dua minggu sebelum merasakan manfaat penuh
dari obat meloxicam.
Interaksi Obat
 Pemberiaan meloxicam bersamaan dengan kolesteramin akan mengurangi
kadar plasma meloxicam.
 Penggunaan bersamaan natrium diklofenak dengan kolesteramin akan
mengurangi absorpsi dari natrium diklofenak.
 Natrium diklofenak dapat meningkatakan kadar serum dari digoxin.
 Natrium dikofenak atau meloxicam jika dikombinasikan dengan litium akan
akan menurunkan eksresi litium.
 Meloxicam dengan makanan yang mengandung lemak tinggi (75 gram
lemak) menghasilkan konsentrasi obat puncak yang meningkat sekitar 22%.
 Penggunaan metotreksat dengan natrium diklofenak akan menurunkan
eksresi metotreksat.
 Penggunaan sikosporin dengan natrium diklofenak akan menambah resiko
nefrotoksisitas, siklosporin menaikan kadar plasma dikofenak (menurunkan
dosis diklofenak separuhnya).
Monitoring

1. Pasien lanjut usia sebaiknya memeriksakan kondisi OA kepada dokter.


2. Penggunaan obat Natrium diklofenak dan meloxicam pada pasien lanjut
usia (geriatri) diberikan mulai dari dosis kecil dan dinaikkan bertahap
sesuai dengan toleransi pasien dan sasaran terapi bagi pasien manula
intoleran terhadap dosis tinggi, batas takaran maksimal Natrium
diklofenak 200mg/hari dan meloxicam 15mg/hari.
3. Perlu diperhatikan penggunaan obat-obat yang beresiko menimbulkan
interaksi obat dengan Natrium diklofenak dan meloxicam.
4. Segera hubungi dokter jika terdapat reaksi obat yang tidak diinginkan.
Konseling

1. Penggunaan meloxicam diminum saat makan


2. Penggunaan natrium diklofenak diminum saat makan atau
setelah makan.
3. Pada saat mengonsumsi obat meloxicam sebaiknya
menghidari makanan yang berlemak.
4. Pastikan ada jarak yang cukup antara satu dosis dengan
dosis berikutnya (untuk Natrium diklofenak).
Daftar Pustaka
Anggriani, A, et al, 2016. Analisis Masalah Terkait Obat Pada Pasien Lanjut Usia Penderita Osteoartritis Di
Poli Ortopedi Di Salah Satu Rumah Sakit Di Bandung, Jurnal Ilmiah Farmasi. 4(2).

Barus. 2015. Penatalaksanaa Farmakologis Nyeri pada Lanjut Usia. Continuing Medical Education, 43(3).

Baxter, K. 2009. Stockley's Drug Interactions. Pharmaceutical Press:London

Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells., B.G., Posey, L.M., Pharmacotherapy A
Pathophysiologic Seventh Edition. Medical:New York

Negara, Y.R., 2016, Potensi Penggunaan Obat yang Tidak Tepat pada Peresepan Pasien Geriatri Rawat
Jalan di RSD dr. Soebandi Jember Berdasarkan Beers Criteria, e-Jurnal Pustaka Kesehatan, 4(1).

Perdana, L.V. et all. 2014. Farmakoterapi Penggunaan Obat Pada Lansia. Institut Sains dan Teknologi
Nasional:Jakarta.

Tjay, T.H., Rahardja, K., 2013. Obat-obat Penting. PT. Gramedia:Jakarta

Sukandar, E.Y., et al. 2013. ISO Farmakoterapi Edisi I. Isfi:Jakarta.

Octaviana, R et al. 2013. Perbandingan Interaksi Obat Dan Permasalahan Dosis


Pada Pasien Osteoarthritis Di Dua Rumah Sakit. Pharmacy. 10(1).