Vous êtes sur la page 1sur 17

LIMFOMA MALIGNA

OLEH : I Komang Budiana & I Kadek Dian Saputra


Kelenjar Limfa

 Kelenjar getah bening atau Kelenjar Limfa adalah


bagian dari sistem pertahanan tubuh kita. Tubuh kita
memiliki kurang lebih sekitar 600 kelenjar getah
bening, namun hanya di
daerah submandibular (bagian bawah rahang bawah;
sub: bawah;mandibula:rahang bawah), ketiak atau
lipat paha yang teraba normal pada orang sehat.
 Terbungkus kapsul fibrosa yang berisi kumpulan sel-
sel pembentuk pertahanan tubuh dan merupakan
tempat penyaringan antigen (protein asing) dari
pembuluh-pembuluh getah bening yang melewatinya.
Pembuluh-pembuluh limfe akan mengalir ke KGB
sehingga dari lokasi KGB akan diketahui
aliran pembuluh limfa yang melewatinya.
 Oleh karena dilewati oleh aliran pembuluh getah bening yang dapat
membawa antigen (mikroba, zat asing) dan memiliki sel pertahanan tubuh
maka apabila ada antigen yang menginfeksi maka kelenjar getah bening
dapat menghasilkan sel-sel pertahanan tubuh yang lebih banyak untuk
mengatasi antigen tersebut sehingga kelenjar getah bening membesar.
Pembesaran kelenjar getah bening dapat berasal dari penambahan sel-sel
pertahanan tubuh yang berasal dari KGB itu sendiri seperti limfosit, sel
plasma, monosit dan histiosit, atau karena datangnya sel-sel peradangan
(neutrofil) untuk mengatasi infeksi di kelenjar getah bening (limfadenitis),
infiltrasi (masuknya) sel-sel ganas atau timbunan dari
penyakit metabolit makrofaga (gaucher disease)
 Dengan mengetahui lokasi pembesaran KGB maka kita dapat
mengarahkan kepada lokasi kemungkinan terjadinya infeksi atau penyebab
pembesaran KGB.
 Fungsi
 1. Mengembalikan cairan dan protein dari jaringan ke dalam sirkulasi darah.
 2. Mengangkut limfosit dari kelenjar limfe ke sirkulasi darah.
 3. Untuk membawa lemak yang sudah dibuat emulsi dari usus ke sirkulasi darah.
Saluran limfe yang melaksanakan fungsi ini ialah saluran lakteal.
 4. Kelenjar limfe menyaring dan menghancurkan mikroorganisme untuk
menghindarkan penyebaran organism itu dari tempat masuknya ke dalam
jaringan, ke bagian lain tubuh.
 5. Apabila ada infeksi, kelenjar limfe menghasilkan zat anti (antibodi) untuk
melindungi tubuh terhadap kelanjutan infeksi.
Definisi
Limfoma maligna (kanker kelenjar
getah bening) merupakan bentuk
keganasan dari sistem limfatik yaitu
sel-sel limforetikular seperti sel B, sel
T dan histiosit sehingga muncul istilah
limfoma maligna (maligna = ganas).
Ironisnya, pada orang sehat sistem
limfatik tersebut justru merupakan
komponen sistem kekebalan tubuh
Epidemiologi
Saat ini, sekitar 1,5 juta orang di dunia hidup dengan limfoma maligna terutama tipe LNH, dan dalam
setahun sekitar 300 ribu orang meninggal karena penyakit ini.
Dari tahun ke tahun, jumlah penderita penyakit ini juga terus meningkat.
Sekadar gambaran, angka kejadian LNH telah meningkat 80 persen dibandingkan angka tahun 1970-an.
Data juga menunjukkan, penyakit ini lebih banyak terjadi pada orang dewasa dengan angka tertinggi pada
rentang usia antara 45 sampai 60 tahun.
Sedangkan pada Limfoma Hodgkin (DH) relative jarang dijumpai, hanya merupaka 1 % dari seluruh
kanker.
Di negara barat insidennya dilaporkan 3,5/100.000/tahun pada laki-laki dan 2,6/100.000/tahun pada
wanita.
Di Indonesia, belum ada laporan angka kejadian Limfoma Hodgkin. Penyakit limfoma Hodgkin banyak
ditemukan pada orang dewasa muda antara usia 18-35 tahun dan pada orang di atas 50 tahun.
Etiologi
Penyebab dari penyakit limfoma maligna masih belum diketahui
dengan pasti. Empat kemungkinan penyebabnya adalah:

Faktor keturunan

Kelainan sistem kekebalan

Toksin lingkungan (herbisida, pengawet dan pewarna


kimia).

Infeksi virus atau bakteria (HIV, virus human T-cell leukemia/lymphoma


(HTLV), Epstein-Barr virus (EBV), Helicobacter Sp
Faktor Predisposisi
Usia
•Penyakit limfoma maligna banyak ditemukan pada usia dewasa muda yaitu antara 18-35 tahun
dan pada usia lebih dari 50 tahun.

Jenis kelamin
•Penyakit limfoma maligna lebih banyak diderita oleh pria dibandingkan wanita

Gaya hidup yang tidak sehat


•Risiko Limfoma Maligna meningkat pada orang yang mengkonsumsi makanan tinggi lemak
hewani, merokok, dan yang terkena paparan UV

Pekerjaan
•Beberapa pekerjaan yang sering dihubugkan dengan resiko tinggi terkena limfoma maligna
adalah peternak serta pekerja hutan dan pertanian. Hal ini disebabkan adanya paparan herbisida
dan pelarut organik.
Patofisiologi
Proliferasi abmormal tumor dapat memberi kerusakan penekanan atau
penyumbatan organ tubuh yang diserang. Tumor dapat mulai di kelenjar
getah bening (nodal) atau diluar kelenjar getah bening (ekstra nodal)
Gejala pada Limfoma secara fisik dapat timbul benjolan yang kenyal,
mudah digerakkan (pada leher, ketiak atau pangkal paha). Pembesaran
kelenjar tadi dapat dimulai dengan gejala penurunan berat badan,
demam, keringat malam. Hal ini dapat segera dicurigai sebagai Limfoma.
Namun tidak semua benjolan yang terjadi di sistem limfatik merupakan
Limfoma. Bisa saja benjolan tersebut hasil perlawanan kelenjar limfa
dengan sejenis virus atau mungkin tuberkulosis limfa.
Beberapa penderita mengalami demam Pel-Ebstein, dimana suhu tubuh
meninggi selama beberapa hari yang diselingi dengan suhu normal atau
di bawah normal selama beberapa hari atau beberapa minggu. Gejala
lainnya timbul berdasarkan lokasi pertumbuhan sel-sel limfoma.
Klasifikasi Penyakit

Limfoma
Maligna

LH (Limfoma LNH
Hodgkin (Limfoma Non
Hodgkin)

 Keduanya memiliki gejala yang mirip hanya saja LH bersifat local terjadi pada Axila, sedangkan LNH
bersifat multi bisa terjadi dimna saja. Perbedaannya dibedakan berdasarkan pemeriksaan patologi anatomi
dimana pada LH ditemukan sel Reed Sternberg, dan sifat LNH lebih agresif
Klasifikasi Patologi
Klasifikasi limfoma maligna telah mengalami perubahan selama bertahun-tahun. Pada tahun 1956
klasifikasi Rappaport mulai diperkenalkan. Rappaport membagi limfoma maligna menjadi tipe nodular
dan difus kemudian subtipe berdasarkan pemeriksaan sitologi. Modifikasi klasifikasi ini terus berlanjut
hingga pada tahun 1982 muncul klasifikasi Working Formulation yang membagi limfoma maligna menjadi
3 yaitu :

Keganasan
tinggi.
Keganasan
menengah

Keganasan
rendah
Stadium
Stadium I
•Penyebaran Limfoma hanya terdapat pada satu kelompok yaitu kelenjar getah
bening.

Stadium II
•Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok kelenjar getah bening,
tetapi hanya pada satu sisi diafragma, serta pada seluruh dada atau perut.

Stadium III
•Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok kelenjar getah bening,
serta pada dada dan perut.

Stadium IV
•Penyebaran Limfoma selain pada kelenjar getah bening setidaknya pada satu
organ lain juga seperti sumsum tulang, hati, paru-paru, atau otak
Gejala Klinis

Sebagian besar pasien datang dengan pembesaran kelenjar getah bening asimetris yang tidak
nyeri dan mudah digerakkan (pada leher, ketiak atau pangkal paha)

•Demam
•Sering keringat malam
•Penurunan nafsu makan
•Kehilangan berat badan lebih dari 10 % selama 6 bulan (anorexia)
•Kelemahan, keletihan
•Anemia, infeksi, dan pendarahan dapat dijumpai pada kasus yang mengenai sumsum tulang
secara difus
Pemeriksaan Penunjang
 Biopsi kelenjar getah bening, jaringan diambil dari kelenjar getah bening yang membesar.

Biopsi aspirasi jarum-halus, jaringan diambil dari kelenjar getah bening dengan jarum suntik. Ini kadang-kadang dilakukan untuk memantau respon terhadap
pengobatan.

Biopsi sumsum tulang di mana sumsum tulang diambil dari tulang panggul untuk melihat apakah Limfoma telah melibatkan sumsum tulang.

 Terapi

Cara pengobatan bervariasi dengan jenis penyakit. Beberapa pasien dengan tumor keganasan tingkat rendah, khususnya golongan limfositik, tidak membutuhkan
pengobatan awal jika mereka tidak mempunyai gejala dan ukuran lokasi limfadenopati yang bukan merupakan ancaman.

 Radioterapi

Walaupun beberapa pasien dengan stadium I yang benar-benar terlokalisasi dapat disembuhkan dengan radioterapi, terdapat angka yang relapse dini yang tinggi pada
pasien yang dklasifikasikan sebagai stadium II dan III. Radiasi local untuk tempat utama yang besar harus dipertimbangkan pada pasien yang menerima khemoterapi
dan ini dapat bermanfaat khusus jika penyakit mengakibatkan sumbatan/ obstruksi anatomis.

Pada pasien dengan limfoma keganasan tingkat rendah stadium III dan IV, penyinaran seluruh tubuh

 Khemoterapi

1. Terapi obat tunggal Khlorambusil atau siklofosfamid kontinu atau intermiten yang dapat memberikan hasil baik pada pasien dengan limfoma maligna keganasan tingkat
rendah yang membutuhkan terapi karena penyakit tingkat lanjut.

2. Terapi kombinasi. (misalnya COP (cyclophosphamide, oncovin, dan prednisolon)) juga dapat digunakan pada pasien dengan tingkat rendah atau sedang berdasakan
stadiumnya.
Pengkajian
Gejala pada Limfoma secara fisik dapat timbul benjolan yang kenyal, tidak terasa nyeri, mudah
digerakkan (pada leher, ketiak atau pangkal paha). Pembesaran kelenjar tadi dapat dimulai dengan
gejala penurunan berat badan, demam, keringat malam. Hal ini dapat segera dicurigai sebagai
Limfoma. Namun tidak semua benjolan yang terjadi di sistem limfatik merupakan Limfoma. Bisa saja
benjolan tersebut hasil perlawanan kelenjar limfe dengan sejenis virus atau mungkin tuberculosis limfa.
Diagnosa Keperawatan
Nyeri b.d agen cedera biologi
Hyperthermia b.d tidak efektifnya termoregulasi sekunder terhadap inflamasi
Ketidakseimbangan nutrisi ; kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah
Kurang pengetahuan b.d kurang terpajan informasi
Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif b.d pembesaran nodus medinal / edema jalan nafas.
Terima kasih