Vous êtes sur la page 1sur 56

PLENO 1

DISKUSI KELOMPOK 3

1. Adika Muhammad S 7. Nadiaturrofiqok


2. Ahmad Abnan S 8. Nurul Karima
3. Annisa Putri A 9. Siti Habiburrahmah A.S
4. Gabriela Christie S 10. Wahyulin Trisna S
5. Mahardika Lukmanul H 11. Zainab Almuhdah
6. Miftahul Jannah
Suara yang Tak Lagi
Terdengar
Aki, seorang pensiunan PNS yang berusia 65 tahun,
datang ke Praktik Dokter Umum karena mengalami
gangguan pada telinganya sejak 6 bulan terakhir. Pada
awalnya ia sering mengalami tinitus yang sangat
mengganggu di kedua telinganya. Selanjutnya, ia kesulitan
untuk memahami percakapan lawan bicaranya, terutama
jika di tempat yang bising. kemudian akhir-akhir ini ia juga
mengeluhkan penurunan pada kemampuannya untuk
mendengar di kedua telinganya. Tidak ada riwayat infeksi
ataupun trauma pada kedua telinganya. Akibat
permasalahannya tersebut, Aki menjadi kehilangan
kepercayaan diri untuk bersosialisasi, frustasi, dan nyaris
depresi.
Terminologi Keyword

Tinnitus 1. Laki-laki 65 tahun


 Suara bising di 2. Gangguan telinga sejak
telinga seperti dering, 6 bulan lalu
raungan, atau bunyi 3. Tinnitus di kedua telinga
klik. 4. Kesulitan memahami
percakapan terutama di
tempat yang bising
5. Penurunan kemampuan
pendengaran
6. Kehilangan kepercayaan
diri
7. Tak ada riwayat infeksi
atau trauma
8. Nyaris depresi
9. frustasi
Identifikasi Masalah

Laki-laki 65 tahun dengan riwayat di kedua telinga


mengeluhkan penurunan kemampuan mendengar di
kedua telinga sejak 6 bulan terakhir. Kemudian kesulitan
memahami percakapan lawan bicara terutama di tempat
bising
Analisis Masalah
Pertanyaan Terjaring
1. Pendengaran
a. Anatomi
b. Histologi
c. Fisiologi
d. Faktor resiko yang menyebabkan gangguan pendengaran
2. Presbikusis
a. Definisi dan epidemiologi
b. Etiologi dan faktor resiko
c. Klasifikasi
d. Patofisiologi
e. Patogenesis
f. Diagnosis
g. Prognosis
h. Tatalaksana dan edukasi
3. Jelaskan mekanisme terjadinya tinnitus !
4. Mengapa gangguan fungsi pendengaran memberat saat
. bising?
5. Bagaimana cara skrining pada gangguan pendengaran?
6. Interpretasi data tambahan!
Jawaban
Pertanyaan
Terjaring
1.a. Anatomi Telinga
2b. Histologi sistem
pendengaran
1.B. Histologi
Mescher, A. L., & Junqueira, L. C. (2013). Junqueiras basic histology: text and atlas.
New York: McGraw-Hill Medical.
Sumber:Eroschenko, Victor P. 2013. Atlas Histologi di Fiore. Jakarta:EGC
1. c). Fisiologi Pendengaran
A. TELINGA LUAR
Pertama, resonansi telinga luar, khususnya concha dan saluran telinga,
meningkatkan tekanan suara pada gendang telinga untuk beberapa
frekuensi suara sebanyak 20 dB. Maksimum peningkatan amplitudo yaitu
pada frekuensi suara 2 sampai 7 kHz.
Kedua, interaksi gelombang suara dengan telinga eksternal memberikan
informasi yang membantu dalam menilai lokasi sumber suara. Perbedaan
amplitudo dapat dideteksi oleh neuron di otak, yang mendasari
kemampuan kita untuk menentukan arah sumber suara.
1. c). Fisiologi Pendengaran
B. TELINGA TENGAH

Faceplate stapes terletak pada labirin membran di jendela oval, di mana


gelombang suara dikonduksikan oleh koklea. Oksidasi auditori
meningkatkan tekanan yang diberikan oleh gelombang suara pada cairan
koklea. Sehingga memberikan pencocokan impedansi antara gelombang
suara di udara dan getaran suara pada cairan koklea.
1. c). Fisiologi Pendengaran
B. TELINGA TENGAH
1. c). Fisiologi Pendengaran
B. TELINGA TENGAH
Refleks atenuasi dan adaptasi terhadap suara:
1. Merupakan refleks yang terjadi saat bunyi keras suara frekuensi
rendah ditransmisikan melalui sistem ossicular ke dalam sistem saraf
pusat. Itu terjadi setelah masa laten 40-80 ms.
2. Tensor otot tympani menarik pegangan dari malleus ke dalam. Otot
stapedius menarik stapes keluar dari jendela oval. Kedua kekuatan
ini berlawanan satu sama lain. Hal ini menyebabkan seluruh sistem
ossicular menjadi sangat kaku.
3. Mekanisme ini mengurangi konduksi ossicular suara suara keras atau
rendah. Akibatnya intensitas suara, yang masuk ke telinga bagian
dalam berkurang menjadi 30-40 desibel.
C. TELINGA DALAM

Ketika
diperbesar
1. c). Fisiologi Pendengaran
C. TELINGA DALAM
Mekanisme konduksi gelombang suara:
1. Gelombang suara membentur membran timpani. Sistem osikular
melakukan suara ini. Faceplate stapes bergerak ke dalam ke media scala
di jendela oval. Jadi cairan bergerak ke dalam menjadi media scala. Hal
itu menyebabkan getaran membran basilar. Ketika membran basilar
membungkuk ke atas sampai scala vestibuli, sel rambut mendepolarisasi
dan menghasilkan potensial aksi pada serabut saraf saraf koklea.
2. Prinsip tempat menentukan frekuensi suara dengan menentukan posisi
sepanjang membran basilar yang paling terstimulasi. Suara frekuensi
rendah menyebabkan stimulasi maksimal membran basilar di dekat
puncak koklea. Suara frekuensi tinggi menyebabkan stimulasi maksimal
membran basilar di dekat pangkal koklea. Suara frekuensi menengah
menyebabkan stimulasi maksimal membran basilar di tengah koklea.
1. c). Fisiologi Pendengaran
Bagian sentral penganalisis pendengaran:

• Sel rambut adalah sel sensitif sekunder, yang memberi potensi reseptor pada
neuron ganglion spiral Corti. Kemudian urat impuls ke inti nuklei saraf
vestibulokoklear dan ventral di medulla bagian atas - tubuh trapesium -
superior olivary nucleus - lateral lemniscus. Kemudian serat dibagi menjadi
tiga bagian, yang menuju ke:
- inti lemniscus lateral; - pusat yang lebih tinggi;
- colliculi inferior - inti geniculate medial
- korteks pendengaran melalui radiasi pendengaran.

• Korteks auditori terletak pada gyrus superior lobus temporal dan melakukan
pemrosesan akhir informasi pendengaran.
Persarafan Telinga
Indra pendengaran dan keseimbangan
khusus ditransmisikan oleh saraf
vestibulocochlear (VIII).
1 d faktor resiko
• Hipertensi
• DM
• Kolesterol
• Merokok
• Jenis kelamin dan usia
Prebiskusis
A. Definisi :
o berkurangnya ketajaman pendengaran akibat
perubahan degeneratif di telinga yang terjadi
terutama di usia lansia

Yamasoba, T., Lin, F. R., Someya, S., Kashio, A., Sakamoto, T., & Kondo, K.
(2013). Current concepts in age-related hearing loss: Epidemiology and
mechanistic pathways. Hearing Research, 303, 30–38.
http://doi.org/10.1016/j.heares.2013.01.021
Epidemiologi

Prevalensi di USA 2001-2008, dalam grafik ini Kehilangan pendengaran


didefinisikan sebagai PTA 0.5, 1, 2, dan 4 KHz di lebih dari >25dB

Yamasoba, T., Lin, F. R., Someya, S., Kashio, A., Sakamoto, T., & Kondo, K. (2013).
Current concepts in age-related hearing loss: Epidemiology and mechanistic pathways.
Hearing Research, 303, 30–38. http://doi.org/10.1016/j.heares.2013.01.021
2. Presbiskusis
b. Etiologi dan faktor resiko

Etiologi

Schuknecht menerangkan bahwa penyebab kurang pendengaran akibat


degenerasi ini dimulai terjadinya atrofi di bagian epitel dan saraf pada organ corti.
Lambat laun secara progresif terjadi degenerasi sel ganglion spiral pada daerah
basal hingga ke daerah apeks yang pada akhirnya terjadi degenerasi sel-sel pada
jaras saraf pusat dengan manifestasi gangguan pemahaman bicara. Kejadian
presbikusis diduga mempunyai hubungan dengan faktor-faktor herediter,
metabolisme, aterosklerosis, bising, gaya hidup atau bersifat multifaktor.
Faktor resiko
1. Usia dan jenis kelamin
2. Hipertensi
3. Diabetes melitus

Sumber: Schuknecht HF. Cochlear Pathology of Presbycusis. 1993


c. Klasifikasi Prebiskusis
• Sensorik :
• Presbycusis sensorik disebabkan oleh atrofi organ
Corti dan melibatkan sebagian distal segmen
neuron pendengaran
• Penyebab Prebiskus Sensorik bahwa itu karena
"keausan," yaitu degenerasi dari penuaan yang
mengakibatkan aktivitas enzim menurun sehingga
menyebabkan kematian sel-sel yang membentuk
organ Corti
Gambar 1> Presbycusis
Gambar 3. Metabolik Presbycusis. Presbycusis
sensorik biasanya
metabolik
dilihat sebagai gangguan
atau strial adalahdilihat sebagai gangguan
pendengaran sensorineural
pendengaran
frekuensi tinggi bilateral dengan
sensorineural datar dengan
kemampuan diskriminasi ucapan
pelestarian pemahaman ucapan yang baik.
yang bagus.
• Strial/Metabolik

• Akibat dari Degenerasi stria vascularis


• tiga fungsi fisiologis dari stria vascularis sebagai: 1) sumber
untuk potensi endocochlear, 2) penghasil endolymph dan 3)
penghasil energi yang digunakan oleh cochlea.
• Karena stria vascularis mempertahankan fungsi bioelektrik
dan biokimia koklea, kerusakan fungsi yang mempengaruhi
sifat tersebut secara alami akan mengakibatkan disfungsi
pendengaran. Pasien dengan presbycusis metabolik biasanya
memiliki gangguan pendengaran sensorineural datar dengan
kemampuan pengenal kata yang sangat baik pada tingkat di
mana ucapan dapat didengar. Jenis gangguan pendengaran
presbycusic biasanya dicatat pertama kali di kemudian hari,
perlahan berkembang dan menunjukkan pola puretone datar.

https://www.ihsinfo.org/IhsV2/Hearing_Professional/2003/060_November-December/
080_Presbycusis_A_Look_into_the_Aging_Inner_Ear.cfm
Lee, K. (2013). Pathophysiology of Age-Related Hearing Loss (Peripheral and Central).
Korean Journal of Audiology, 17(2), 45.
d. Patofisiologi
Proses degenerasi menyebabkan perubahan struktur
dan N.VIII. Pada koklea perubahan yang mencolok ialah
atrofi dan degenerasi ssel-sel rambut penunjang pada
organ korti. Proses atrofi disertai dengan perubahan
vaskular juga terjadi pada stria vaskularis. Selain itu
terdapat pula perubahan berupa berkurangnya jumlah
dan ukuran sel-sel ganglion dan saraf.
e. Patogenesis
• Degenerasi koklea
o Akibat adanya degenerasi koklea pada stria vaskularis. Awalnya bagian apeks
dan basis koklea mengalami degenerasi yang lama kelamaan mengenai koklea
bagian media seiring dengam bertambahnya usia. Akibat dari degenerasi pada
stria vaskularis menyebabkan menurunnya Na+-K+ ATPase dan berefek pada
penurunan potensial endolimfe yang dapat menurunkan kemampuan
mendengar.

• Degenerasi sentral
o Degenerasi sekundet yang terjadi akibat degenerasi organ korti dan saraf pada
bagian basis hingga apeks koklea, sehingga mengakibatkan terjadinya
asinkronisasi aktivitas daripada nervus auditoris. Keadaan ini mengakibatkan
penderita mengalami kurangnya pendengaran dan pemahaman bicara menjadi
buruk.
• Gangguan transduksi sinyal
o Pada bagian ujung organ korti terdapat sel-sel rambut (stereosilia) yang
berperan sebagai transduksi impuls mekanik yang nantinya merubah impuls
mekanik menjadi sinyal elektrokimia. Penyusun rambut koklea ini adalah
cadherin 23 (CDH23) dan protocadherin 15 (PCDH 15) yang saling berinteraksi
untuk transduksi mekanoelektrikal. Apabila terjadi kerusakan maka akan
menyebabkan gangguan pendengaran non sindrom autosomal- resesif
(DFNB12).
f. Diagnosis
• Anamnesis
o gejala yang timbul adalah penurunan ketajaman pendengaran pada usia lanjut,
bersifat sensorineural, simetris bilateral dan progresif lambat.

• Pemeriksaan fisik
o Biasanya normal setelah pengambilan serumen
o Membran timpani normal tampak transparan

• Pemeriksaan penunjang
o Audiometri nada murni
o Audiometri tutur
Diagnosis banding :
Meniere’s syndrome dan penggunaan obat ototoksisitas

G. Prognosis
Ad vitam : bonam
Ad sanatinam : dubia ad malam
Ad fungsionam : dubia ad malam
1h. Tatalaksana dan Edukasi
Presbikusis
• Amplification devices
• Lip reading
• Assistive listening devices
• Implan kokleas
• Menghindari potensi sumber suara yang memperburuk
gangguan pendengaran sensorineural
• FM System
• Memilih tempat berbincang yang jauh dari keramaian
• Mematikan tv dan radio selama percakapan

Sumber: Roland, Peter S..2017. Presbycusis Treatment & Management.


http://reference.medscape.com/article
3. Mekanisme terjadinya
tinnitus

Sumber: Bertold L. Textbook of Tinnitus. Dallas : Springer. 2010


4 efek bising pada
pendnegaran
• Trauma akustik kompensasi yang terus menerus
kerusakan secara perlahan kerusakan
sementara hingga permanen
• Telinga akan menerima suara dengan gelombang yang
lebih tinggi dibanding suara dengan gelombang rendah.
5. Cara skrining pada gangguan pendengaran
• Tes Penala
1. Tes Rinne
2. Tes Weber
3. Tes Schwabach
• Tes audiometri nada murni
• Tes perkiraan derajat ketulian (WHO)
5. Screening Gangguan
Pendengaran
• Audiometri
o Audiometry Brainstem Response
o Otoancoustic Emission

Soepardi.E.A, N.Iskandar, J.Bashiruddin, R.D.Restuti. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga


Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Vol VI(6). Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2011.
6. Interpretasi data tambahan
• Audiometri Nada Murni
• Pada presbikusis
• Audiometri tutur
Normal : SDS 90%-100%
Tuli konduktif : SDS <90%
Tuli persepsi (SNHL) : SDS <80%
Tuli campur : Bila intensitas suara dinaikkan
akan terjadi perbaikan skor SDSnya namun tidak
mencapai skor yang memuaskan
Critical level : SDS 40%
Hipotesis
1. Laki-laki pada pemicu mengalami presbikusis akibat
faktor usia
2. Laki-laki pada pemicu mengalami presbikusis tipe
sensorik akibat faktor usia