Vous êtes sur la page 1sur 50

Gangguan Kepribadian

Aswir Vembrinaldi 04054821820080


Ayub 04054821719165
Christi Giovani Anggasta H 04084821719204
Deasy Nataliani 04054821820141
Farhan Hadi 04054821820004
Hestika Deliana 04054821820050
Irinne Karina Putri 04054821820076
Ita Rahmatika 04054821719163
Leonardus Yogie Ricardo 04054821719164
Maya Fitriani 04054821820079
Monica Trifitriana 04084821719206
Nigasot Nur Nadya 04054821719075
Nyimas Badrya 04054821820017
Osi Rahmaini 04084821719001

Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa


Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
Rumah Sakit Jiwa Ernaldi Bahar Palembang
OUTLINE

1 PENDAHULUAN

2 TINJAUAN PUSTAKA

3 KESIMPULAN

4
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Kepribadian  totalitas dari ciri perilaku & emosi yang merupakan ciri seseorang dlm kehidup
an sehari-hari, dalam kondisi yang biasa. Sifatnya stabil dan dapat diramalkan. Perkembangan
kepribadian merupakan hasil interaksi dari faktor-faktor: konstitusi (genetik, temperamen),
perkembangan dan pengalaman hidup (lingkungan keluarga, budaya)

Gangguan kepribadian  suatu varian dari sifat karakter seseorang yg tidak seperti umumnya
dan kronis yang ditemukan pada sebagian besar org.
Prevalensinya diperkirakan antara 10 sampai 20% dari seluruh populasi dan durasinya dapat b
erlangsung selama beberapa dekade.

Diperkirakan setengah dari seluruh pasien psikiatrik memiliki gangguan kepribadian, yg sering
komorbid dengan kondisi aksis I. Gangguan kepribadian merupakan faktor predisposisi untuk
gangguan psikiatrik lain di mana hal ini mengganggu hasil pengobatan aksis I dan meningkatkan
menderita ketidakmampuan(cacat) personal, morbiditas dan mortalitas pasien
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Kepribadian merupakan sebuah karakteristik individu akan afek, pengaturan emosi,
perilaku, motivasi, kognisi, dan interaksi individu dengan yang lainnya yang bersifat
menetap dan muncul sejak awal fase dewasa (adolescence)

American Psychiatric Association (APA) menuliskan bahwa gangguan kepribadian


ditandai oleh pola penyimpangan perilaku dan pengalaman individu yang memuncul
kan penyimpangan pada kebiasaan individu, bersifat lama, pervasif dan menetap, dan
tidak stabil.
Gangguan kepribadian muncul pada masa dewasa atau awal masa dewasa, stabil pd
kurun waktu tertentu, dan akan berujung pada kondisi distress atau tidak stabil
Etiologi dan Faktor Risiko
American Psychiatric Association (APA) mengidentifikasi beberapa faktor etiologi yang dapat berkembang
menjadi gangguan kepribadian

Riwayat Keluarga Riwayat Psikoanalitik


01 Riwayat keluarga yang menderita gangguan
kejiwaan termasuk gangguan kepribadian
02 Sigmund Freud menyatakan bahwa sifat
kepribadian berhubungan dengan fiksasi pd
dapat menjadi risiko munculnya gangguan salah satu stadium perkembangan psikosek
kepribadian pada keturunannya sual

Riwayat Trauma Masa Anak Lingkungan


03 Trauma pada masa anak-anak biasanya dida
patkan dari pola asuhan atau kejadian yang
04 Hubungan yang terlalu kuat pada orang-orang
tertentu seperti teman, guru, atau lainnya dapat
memunculkan rasa takut yang menetap pd memberikan dampak negatif pada individu tsb
individu tersebut. karena dapat memunculkan rasa tidak aman
apabila tidak bersama orang tersebut.
Diagnosis

Gangguan kepribadian khas adalah suatu gangguan berat dalam konstitusi karakteriologis dan
kecenderungan perilaku dari seseorang, biasanya meliputi beberapa bidang dari kepribadian, dan
hampir selalu berhubungan dengan kesulitan pribadi dan sosial.
Pedoman Diagnostik
1. Kondisi yang tidah berkaitan langsung dengan kerusakan atau penyakit otak berat (gross brain damage or disease),
atau gangguan jiwa lain;
2. Memenuhi kriteria berikut ini:
• Disharmoni sikap dan perilaku yang cukup berat, biasanya meliputi beberapa bidang fungsi, misalnya afek, kesi
agaan, pengendalian irnpuls, cara memandang dan berpikir, serta gaya berhubungan dengan orang lain;
• Pola perilaku abnormal berlangsung lama, berjangka panjang, dan tidak terbatas pada episode gangguan jiwa;
• Pola perilaku abnormalnya bersifat peruasif ("mendalam") dan maladaptif yang jelas terhadap berbagai keadaa
n pribadi dan sosial yang luas;
• Manifestasi diatas selalu muncul pada masa kanak atau remaja dan berlanjut sampai usia dewasa;
• Gangguan ini menyebabkan penderitaan pribadi (personal distress) yang cukup berarti, tetapi baru menjadi nya
ta setelah perjalanan yang lanjut;
• Gangguan ini biasanya, tetapi tidak selalu, berkaitan secara bermakna dengan masalah-masalah dalam pekerja
an dan kinerja sosial.
3. Untuk budaya yang berbeda, mungkin penting untuk mengembangkan seperangkat kriteria khas yg berhubungan dgn
norma sosial, peraturan dan kewajiban.
Infographic
Klasifikasi Style
DSM-IV

Gangguan Kepribadian Cluster A


Individu dengan gangguan kepribadian cluster A umum
nya terlihat aneh dan eksentrik dibanding orang lain. Yang
termasuk dalam gangguan kepribadian cluster A : ganggu
an kepribadian skizotipal, skizoid, dan paranoid.

Gangguan Kepribadian Cluster C


Gangguan Kepribadian Cluster B Individu dengan gangguan kepribadian cluster
Individu dengan gangguan kepribadian cluster C umumnya terlihat menarik diri dari orang lain.
B umumnya terlihat dramatis dan memiliki Yang termasuk dalam gangguan kepribadian
emosi yang sulit ditebak. Yang termasuk dala cluster C antara lain gangguan kepribadian me
m gangguan kepribadian cluster B antara lain nghindar/avoidant, dependen, dan obsesif-kom
gangguan kepribadian ambang/borderline, pulsif.
dissosial, histrionik, narsistik
.
A. Gangguan Kepribadian Paranoid

• Individu dengan gangguan kepribadian paranoid akan mencurigai dan tidak memiliki kepercayaan pada
orang lain, berpikir bahwa orang lain hanya akan melakukan sesuatu untuk menyakitinya.
• Kecurigaan akan muncul pada rekan kerja, teman, dan akan mengganggu hubungan dengan orang lain
• Gangguan ini juga memunculkan masalah dalam mengontrol amarah ketika berhubungan dgn masalah
kepercayaan, bahkan tidak memiliki kepercayaan terhadap pasangan.
Pedoman Diagnostik (PPDGJ II)
Berikut ini adalah ciri dari fungsi seseorang pada saat sekarang & dlm jangka panjang, dan tdk dibatasi oleh
episode penyakit, dan menyebabkan hendaya yang berarti dalam fungsi sosial, atau pekerjaannya, atau
penderitaan subjektif
A. Kecurigaan dan ketidakpercayaan yang pervasif dan tidak beralasan terhadap orang lain, seperti yang
ditunjukkan oleh sekurang-kurangnya tiga dari hal berikut ini:
1. Merasa akan ditipu atau dirugikan
2. Kewaspadaan yang berlebihan, yang bermanifestasi sebagai usaha meneliti secara terus menerus terhadap
tanda-tanda ancaman dari lingkungannya, atau mengadakan tindakan-tindakan pencegahan yang sebenarnya
tidak perlu
3. Sikap berjaga-jaga atau menutup-nutupi
4. Tidak mau menerima kritik atau kesalahan, walaupun ada buktinya
5. Meragukan kesetiaan orang lain
6. Secara intensif dan pisik mencari-cari kesalahan dan bukti tentang prasangkanya, tanpa berusaha melihat
secara keseluruhan dari konteks yang ada
7. Perhatian yang berlebihan terhadap motif tersembunyi dan arti-arti khusus
8. Cemburu yang patologik.
B. Hipersensitivitas, seperti yang ditunjukkan oleh sekurang-kurangnya dua dari hal berikut ini:
1. Kecenderungan untuk mudah merasa dihina atau diremehkan dan cepat mengambil sikap menyerang
2. Membesar-besarkan kesulitan yang kecil
3. Siap mengadakan balasan apabila merasa terancam
4. Tidak dapat santai.
C. Keterbatasan kehidupan afektif seperti yang ditunjukkan oleh sekurang-kurangnya dua dari hal berikut:
1. Penampakan yang dingin tanpa emosi
2. Merasa bangga bahwa dirinya selalu objektif, rasional dan tidak mudah terangsang secara emosional
3. Tidak ada rasa humor yang wajar
4. Tidak adanya perasaan pasif, lembut, hangat, dan sentimental.
D. Tidak disebabkan oleh gangguan mental yang lain, seperti Skizofrenia atau Gangguan Paranoid.
Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)
1. Gangguan kepribadian dengan ciri-ciri:
• Kepekaan berlebihan terhadap kegagalan dan penolakan;
• Kecenderungan untuk tetap menyimpan dendam, misalnya menolak untuk memaafkan suatu penghinaan dan
luka hati atau masalah kecil
• Kecurigaan dan kecenderungan yang mendalam untuk mendistorsi-kan pen galaman dengan menyalahartikan
tindakan orang lain yang netral atau bersahabat sebagai suatu sikap permusuhan atau penghinaan;
• Perasaan bermusuhan dan ngotot tentang hak pribadi tanpa memperhatikan situasi yg ada (actual situation);
• Kecurigaan yang berulang, tanpa dasar, tentang kesetiaan seksual dari pasangannya;
• Kecenderungan untuk merasa dirinya penting secara berlebihan, yang bermanifestasi dalam sikap yang selal
u merujuk ke diri sendiri (self-refential attitude);
• Preokupasi dengan penjelasan-penjelasan yang bersekongkol dan tidak substantif dari suatu peristiwa, baik y
ang menyangkut diri pasien sendiri maupun dunia pada umumnya.
2. Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.
B. Gangguan Kepribadian Skizoid

Gangguan kepribadian schizoid ditandai oleh buruknya hubungan sosial dan emosional.
Individu dengan gangguan kepribadian skizoid akan mengisolasikan diri dari sosial,
namun tidak mengganggu individu tersebut.
Secara emosional individu dengan gangguan kepribadian skizoid memiliki emosi yang
datar dan tidak terpengaruh dengan kritikan orang lain juga tidak menunjukkan kebaha
giaan ketika mendapat pujian.
Pedoman Diagnostik (PPDGJ II)
Berikut ini adalah ciri khas dari fungsi kepribadian seseorang baik pada saat sekarang, maupun dalam jangka
panjang, dan tidak dibatasi oleh episode penyakit, dan menyebabkan hendaya yang berarti dalam fungsi sosial
atau pekerjaan, atau penderitaan subjektif.
a. Terdapat ciri emosional yang dingin dan tidak acuh serta tdk terdapatnya perasaan hangat atau lembut
terhadap orang lain
b. Sikap yang indiferen terhadap pujian, kritikan, atau perasaan orang lain
c. Hubungan dekat hanya satu atau dua orang saja, termasuk anggota keluarga
d. Tidak terdapat pembicaraan, perilaku, atau pikiran yang eksentrik, yang merupakan ciri khas dari
Gangguan Kepribadaian Skizotipal
e. Tidak disebabkan oleh gangguan psikotik tertentu, seperti Skizofrenia atau Gangguan Paranoid
f. Apabila berusia di bawah 18 tahun, tidak memenuhi kriteria Gangguan Skizoid masa Kanak atau Remaja.
Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)
1, Gangguan kepribadian yang memenuhi deskripsi berikut:
• Sedikit (bila ada) aktivitas yang memberikan kesenangan;
• Emosi dingin, afek mendatar atau tak peduli (detachment);
• Kurang mampu untuk mengekspresikan kehangatan, kelembutan, kemarahan terhadap orang lain;
• Tampak nyata ketidakpedulian baik terhadap pujian maupun kecaman;
• Kurang tertarik utk mengalami pengalaman seksual dengan orang lain (perhitungkan usia penderita)
• Hampir selalu memilih aktivitas yang dilakukan sendiri;
• Preokupasi dengan fantasi dan introspeksi yang berlebihan
• Tidak mempunyai teman dekat atau hubungan pribadi yang akrab (kalau ada hanya satu) dan tidak
ada keinginan untuk menjalin hubungan seperti itu;
• Sangat tidak sensitif terhadap norma dan kebiasaan sosial yang berlaku
Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas
C. Gangguan Kepribadian Skizotipal

Individu dengan gangguan kepribadian skizotipal sering dinilai aneh dan eksentrik. Individu tersebut berpen
ampilan, berbicara, dan berlaku dengan cara yang aneh. Individu tersebut juga memiliki teman yang sedikit
dan sering muncul rasa tidak percaya pada orang lain Karena adanya kecurigaan bahwa orang lain sering
membicarakannya tanpa sepengetahuannya dan orang-orang yang tidak dikenal sering memperhatikannya.
Gangguan ini dimulai dengan awal masa dewasa & hadir dalam berbagai konteks seperti ditunjukkan oleh 5
atau lebih:
1. Ide-ide rujukan (termasuk waham rujukan)
2. Keyakinan aneh atau pemikiran magis yang mempengaruhi perilaku dan ketidak konsisten dengan norm
a-norma subkultur (misalnya, keangkuhan, kepercayaan dalam kemampuan mendapatkan informasi
tanpa menggunakan panca indra tetapi dengan perasaan/telepati, "indra keenam", fantasi atau preoku
pasi yang aneh)
3. Pengalaman persepsi yang tidak biasa, termasuk ilusi tubuh
4. Berpikir & bicara yang aneh (misalnya samar-samar,berputar-putar, metafora, atau stereotipik)
5. Ide-ide kecurigaan atau paranoid
6. Afek yang tidak serasi atau terbatas
7. Perilaku atau penampilan yang eksentrik atau aneh
8. Kurangnya teman dekat atau orang kepercayaan lain selain keluarga derajat pertama
9. Kecemasan sosial yang berlebihan yang tidak berkurang dengan keakraban dan cenderung dihubungkan
dengan ketakutan paranoid bukan penilaian negatif tentang diri.
Pedoman Diagnostik (PPDGJ II)
Yang berikut ini adalah ciri khas fungsi kepribadian seseorang baik pada saat sekarang maupun dlm jangka
panjang, dan tidak dibatasi oleh episode penyakit, dan menyebabkan hendaya yang berarti dalam kehidupan
sosial atau pekerjaannyaa, atau penderitaan subjektif.
A. Sekurang-kurangnya terdapat empat dari hal yang berikut:
1. Pikiran magik atau gaib (magical thinking) seperti takhyul yang tidak sesuai dengan budayanya
(superstitiousness), dapat melihat apa yang akan terjadi (clairvoyance), telepati, indra “keenam”,
“orang lain dapat merasakan perasaan saya” (pada anak-anak remaja terdapat preokupasi dan
fantasi aneh)
2. Gagasan mirip waham yang menyangkut diri sendiri (ideas of reference)
3. Isolasi sosial, seperti tidak memiliki kawan akrab atau orang yang dapat dipercaya, kontak sosial
hanya terbatas pada tugas sehari-hari yang seperlunya
4. Ilusi yang berulang-ulang, seperti merasa adanya “kekuatan” atau “orang” yang sebenarnya tidak ada (misaln
ya merasa seolah-olah ibunya yang sudah meninggal berada bersama dengan dirinya dalam ruangan),
depersonalisasi, atau derealisasi yang tidak berhubungan dengan serangan panik
5. Pembicaraan yang ganjil (tetapi tidak sampai menjurus kepada pelonggaran asosiasi, atau inkoherensi),
seperti pembicaraan yang digresif, kabur, bertele-tele, sirkumstansial, metaforik
6. Di dalam interaksi (tatap muka) dengan orang lain terdapat hubungan (rapport) yanng tidak adekuat akibat
afek yang tidak serasi (inappropriate) atau afek yang terbatas (constricted), misalnya tampak dingin atau
tidak acuh
7. Kecurigaan atau ide paranoid
8. Kecemasan sosial yang tidak perlu atauu hipersensitivitas yang berlebih terhadap kritik yang nyata ataupun
yang dibayangkan.
B. Tidak memenuhi kriteria untuk (kelompok) Skizofrenia.
D. Gangguan Kepribadian Dissosial

Gangguan kepribadian dissosial ditandai dengan keegoisan, sifat tidak bertanggung jawab, tidak taat
aturan, dan perilaku impulsif yang memperlihatkan rendahnya rasa menghargai hak orang lain. Individu
dengan gangguan ini dapat dengan mudahnya berbohong jika memiliki tujuan tertentu.
Pedoman Diagnostik (PPDGJ II)
A. Usia sekurang-kurangnya 18 tahun
B. Timbulnya gejala sejak usia di bawah 15 tahun dan dinyatakan oleh riwayat penyakit yang menunjukkan sekurang-
kurangnya tiga atau lebih dari hal-hal berikut ini:
1. Sering membolos
2. Kenakalan kanak-kanak/remaja (ditangkap atau diadili pengadilan anak, karena tingkah lakunya)
3. Dikeluarkan atau diskors dari sekolah oleh karena berkelakuan buruk
4. Sering kali lari dari rumah (minggat) dan bermalam di luar rumahnya
5. Selalu berbohong
6. Berulang-ulang melakukan hubungan seks, walaupun hubungannya belum akrab
7. Sering kali mabuk atau menyalahgunakan zat
8. Sering kali mencuri
9. Sering kali merusak barang milik orang lain
10. Prestasi di sekolah yang jauh di bawah taraf kemmpuan kecerdasan (iq) sehingga dpt berakjbat tidak naik
kelas
11. Sering kali melawan aturan-aturan di rumah dan atau di sekolah (selain membolos)
12. Sering kali memulai perkelahian
C. Setelah usia 18 tahun, manifestasi gangguan ini sekurang-kurangnya ada empat dari hal-hal berikut ini:
1. Tidak mampu bekerja tetap seperti yang ditunjukkan oleh hal-hal berikut:
a. Sering kali berganti pekerjaan yang tidak oleh sifat pekerjaan, keadaan ekonomi atau kerja musiman
b. Sering kali menganggur (misalnya enam atau lebih dalam lima tahun, padahal ia mampu & mempunyai kesempatan
untuk bekerja)
c. Sering kali absen bekerja
d. Sering kali berhenti bekerja tanpa alasan (Catatan: perilaku yang serupa dapat pula terjadi selama beberapa tahun
terakhir, apabila individu itu bersekolah atau kuliah dan tidak bekerja)

2. Tidak mampu berfungsi sebagai orang tua dan bertanggung jawab, sehingga anak-anaknya terlantar yang dinyatakan oleh
paling sedikit satu dari:
a. Kekurangan gizi pada anak-anaknya
b. Anak-anaknya sakit yang diakibatkan kurang dipenuhinya standar higiene
c. Menelantarkan anak yang sakit berat
d. Menelantarkan anak-anaknya sehingga anakanaknya bergantung kepada tetangga atau kepada siapa saja untuk me
mperoleh makan atau perlindungan
e. Tidak mencari pengasuh bagi anaknya yang berusia di bawah 6 tahun apabila ia pergi
f. Sering kali menghamburkan uang keperluan rumah tangga untuk kebutuhan diri sendiri
3. Tidak menuruti norma-norma sosial dan bertindak sesuai dengan hukum yang berlaku, seperti: berulang-
ulang mencuri, melakukan pekerjaan yang tidak sah (pelacuran, menjual obat terlarang, muncikari/germo),
sering kali berurusan dan ditangkap polisi, berhubungan dengan kelompok penjahat
4. Tidak mampu memelihara hubungan dengan pasangannya, seperti sering kali bercerai atau berpisah,
meninggalkan pasangannya, atau bertukar pasangan (promiskuitas)
5. Iritabilitas dan agresivitas, seperti sering berkelahi atau memukul orang lain ( bukan karna hal itu memang
pekerjaannya atau membela orang lain, atau diri sendiri), termasuk pasangannya ataupun pada anak-anak
nya
6. Kegagalan untuk memenuhi tanggung jawab keuangan, misalnya: sering kali berhutang tanpa membayar ke
mbali dan tidak bertanggung jawab terhadap kebutuhan ekonomi keluarganya secara teratur
7. Impulsif, atau tidak mempunyai perencanaan untuk masa depan, seperti: sering berpergian dr satu tempat
ke tempat lain tanpa direncanakan sebelumnya, atau tanpa perincian kerja atau tujuan yang jelas, atau tak
jelas bilamana kepergiannya itu akan berakhir, atau tak ada alamat yang tetap selama paling sedikit satu
bulan
8. Sering kali berbohong, melakukan praktek penipuan, sering memakai nama-nama samaran (palsu)
9. Sering kali melakukan tlndakan seenaknya sendiri tanpa mengindahkan peraturan, seperti: mengebut atau
mengendarai kendaraan dalam keadaan intoksikasi
D. Terdapatnya pola tingkah laku antisosial yang terus menerus berupa pelanggaran hak-hak orang lain, tanpa sel
ang waktu remisi (bebas gejala) paling sedikit lima tahun sesudah berusia 15 tahun sampai sekarang (dewasa),
(kecuali apabila selang waktu itu dilewatkan dalam penjara atau rumah sakit)
E. Tingkah laku antisosial itu tidak diakibatkan oleh retardasi mental berat, skizofrenia, atau episode manik.
Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)
1. Gangguan kepribadian ini biasanya menjadi perhatian disebabkan adanya perbedaan yg besar antara
perilaku dan norma sosial yang berlaku, dan ditandai oleh:
• Bersikap tidak peduli dengan perasaan orang lain;
• Sikap yang amat tidak bertanggung jawab dan berlangsung terus menerus (persistent), serta
tidak peduli terhadap norma, peraturan, dan kewajiban sosial.
• Tidak mampu memelihara suatu hubungan agar berlangsung lama, meskipun tdk ada kesulitan
untuk mengembangkannya
• Toleransi terhadap frustrasi sangat rendah dan ambang yang rendah untak melampiaskan
agresi, termasuk tindakan kekerasan;
• Tidak mampu mengalami rasa salah dan menarik manfaat dari pengalaman, khususnya dari
hukuman;
• Sangat cenderung menyalahkan orang lain, atau menawarkan rasionalisasi yang masuk akal,
untuk perilaku yang membuat pasien konflik dengan masyarakat.
2. Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas
E. Gangguan Kepribadian Emosional Tak Stabil

Individu dengan gangguan kepribadian emosi tak stabil ditandai dengan disregulasi emosional, ketidak
stabilan hubungan interpersonal, Individu tersebut memiliki emosi yang intens dan kuat, seringkali ini
merupakan reaksi terhadap bagaimana individu tersebut diperlakukan. Mood individu tersebut sangat
kuat dan berubah secara berkala. Perilaku menyakiti diri sendiri srg muncul, seringkali memunculkan
niat dan tindakan untuk bunuh diri seperti memotong atau membakar.

Pedoman Diagnostik
Terdapat kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsif tanpa mempertimbangkan
konsekuensinya, bersamaan dengan ketidakstabilan emosional;
Dua varian yang khas adalah berkaitan dengan impulsivitas dan kekurangan pengendalian diri.
Karakter kelima: F60.30 = Tipe Impulsif
F60.31 = Tipe Ambang (Borderline)
F. Gangguan Kepribadian Histrionik

Individu dengan gangguan kepribadian histrionik sangat aktif dan ekspresif untuk menarik perhatian. Indi
vidu tersebut berlaku seolah-olah sedang berada di atas panggung dan merasa tidak nyaman jika tidak
menjadi pusat perhatian. Individu tersebut juga berpenampilan mencolok untuk mendapatkan perhatian.
Individu dengan gangguan ini cepat merasa dekat dengan seseorang yang baru ia kenal dan cepat berba
gi cerita pribadi kepada orang tersebut
Pedoman Diagnostik (PPDGJ II)
Yang berikut ini adalah ciri khas fungsi kepribadian seseorang baik pada saat sekarang maupun dalam jangka panjang, dan tidak dibatasi
oleh episode penyakit, dan menyebabkan hendaya yang berarti, baik dalam kehidupan sosial atau pekerjaannya, atau penderitaan yang
subjektif.
A. Tingkah laku yang dramatif dan reaktif secara berlebihan, dan dinyatakan secara sangat intensif, seperti yang ditunjukkan oleh seku
rang-kurangnya tiga hal berikut ini:
1. Dramatisasi diri, misalnya ekspresi emosi yang berlebihan.
2. Selalu berusaha menarik perhatian bagi dirinya.
3. Selalu mendambakan rangsangan dan aktivitas yang menggairahkan.
4. Bereaksi secara berlebihan terhadap hal-hal kecil.
5. Ledakan kemarahan, atau merujuk (mengambek) secara tak rasional.

B. Gangguan yang spesifik dalam hubungan interpersonal, seperti yang ditunjukkan oleh sekurang-kurangnya dua dari hal berikut:
1. Tampak dangkal dan tidak sungguh-sungguh oleh orang lain, walaupun secara selintas tampak hangat dan menarik.
2. Egosentrik, selalu ingin memuaskan diri-sendiri, dan kurang menghargai perasaan atau kepentingan orang lain.
3. Suka menuntut dan tampak angkuh.
4. Bergantung pada orang lain, tidak berdaya dan selalu mencari jaminan (dukungan).
5. Cenderung secara manipulatif untuk mengancam, bersikap atau berusaha bunuh diri.
Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)
1. Gangguan kepribadian dengan ciri-ciri:
• Ekspresi emosi yang dibuat-buat (self-dramatization), seperti bersandiwara (theatricality), yang
dibesarbesarkan (exaggerated);
• Bersifat sugestif, mudah dipengaruhi oleh orang lain atau oleh keadaan;
• Keadaan afektif yang dangkal dan labil;
• Terus menerus mencari kegairahan (excitement), penghargaan (appreciation) dari orang lain,
dan aktivitas dimana pasien menjadi pusat perhatian;
• Penampilan atau perilaku "merangsang" (seductive) yang tidak memadai;
• Terlalu peduli dengan daya tarik fisik.
2. Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas
G. Gangguan Kepribadian Anankastik

Kadang-kadang individu dengan gangguan ini mengeluh dirinya sukar untuk menyatakan perasaan lembut.
Penderitaan yang cukup berat seringkali berkaitan dengan ketidakmampuannya untuk membuat keputusan
dan kurang efektivitas secara menyeluruh. Pembicaraan dapat sirkumstansial. Sering ada afek depresif.
Individu dengan gangguan ini cenderung untuk teliti, moralistik, cermat, dan menilai diri sendiri dan orang
lain secara berlebih. Apabila mereka tdk dapat mengendalikan orang lain, situasi atau lingkungannya, sering
kali mereka merenung berulang tentang situasi itu dan menjadi marah, meskipun seringkali kemarahannya
tidak dinyatakan secara langsung. Sering juga terdapat sensitivitas berlebih terhadap kritik sosial, lebih-
lebih apabila datangnya dari orang yang berkedudukan lebih tinggi.
Pedoman Diagnostik (PPDGJ II)
Sekurang-kurangnya terdapat empat dari hal berikut ini, yang merupakan ciri khas kepribadian seseorang baik pada
saat sekarang maupun dalam jangka panjang, dan tidak dibatasi oleh episode penyakit, dan menyebabkan hendaya
yang berarti, baik dalam fungsi sosial atau pekerjaannya, atau penderitaan yang subjektif.
1. Kemampuan terbatas untuk menyatakan kehangatan dan kelembutan perasaannya, misalnya individu itu sangat
konvensional (berpegang teguh pada tatakrama), serius, formal, dan kikir.
2. Perfeksionisme yang menghambat kemampuannya untuk melihat secara keseluruhan, misalnya preokupasi dgn
hal-hal yang remeh, aturan, urutan, organisasi, jadwal, dan daftar.
3. Mendesak kepada orang lain untuk melaksanakan pekerjaan, sesuai dengan cara-cara yang dikehendakinya, dan
kurang menyadari dampak perasaan yang timbul pada orang lain akibat tingkah lakunya itu, misalnya seorang
suami bersikeras memaksa istrinya menunaikan tugas yang diberikannya tanpa memperdulikan rencana-renca
na istrinya.
4. Pengabdian yang berlebihan terhadap pekerjaan dan produktivitas sehingga mengenyampingkan kesenangan
dan nilai-nilai hubungan interpersonal.
5. Tidak dapat mengambil keputusan, seperti menghindar, menunda, atau mengulur-ulur waktu untuk mengambil
keputusan, hal ini mungkin disebabkan oleh karena suatu kekhawatiran yang berlebihan untuk membuat kesalah
an, misalnya individu itu tdk dapat menyelesaikan tugasnya pada waktunya, karena bolak-balik mempersoalkan
urutan prioritas.
Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)
1. Gangguan kepribadian dengan ciri-ciri:
• Perasaan ragu-ragu dan hati-hati yang berlebihan;
• Preokupasi dengan hal-hal yang rinci, peraturan, daftar, urutan, organisasi, atau jadwal;
• Perfeksionisme yang mempengaruhi penyelesaian tugas;
• Ketelitian yang berlebihan, terlalu hati-hati, dan ketertarikan yang tidak semestinya pd produk
tivitas sampai mengabaikan kepuasan dan hubungan interpersonal;
• Keterpakuan dan keterkaitan yang berlebihan pada kebiasaan sosial;
• Kaku dan keras kepala
• Pemaksaan yang tak beralasan agar orang lain mengikuti persis caranya mengerjakan sesuatu
, atau keengganan yang tak beralasan untuk mengizinkan orang lain mengerjakan sesuatu;
• Mencampur-adukan pikiran atau dorongan yang memaksa dan yang enggan.
2. Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari di atas.
H. Gangguan KepribadianH
Cemas (Menghindar)

Gangguan kepribadian menghindar ditandai dengan adanya hambatan hubungan sosial dan sensitif
terhadap penolakan dan kritik dari orang lain. Individu dengan gangguan kepribadian menghindar
mengalami kesulitan dalam berteman dan merasa tidak nyaman dalam situasi sosial

Pedoman Diagnostik
1. Gangguan kepribadian dengan ciri-ciri:
• Perasaan tegang dan takut yang menetap dan pervasive;
• Merasa diri tak mampu, tidak menarik, lebih rendah dari orang lain
• Preokupasi yang berlebihan dengan kritik dan penolakan dalam situasi sosial
• Keengganan untuk terlibat dengan orang lain, kecuali merasa yakin disukai
• Pembatasan gaya hidup karena alasan keamanan fisik
• Menghindari aktivitas sosial atau pekerjaan yang banyak melibatkan kontak interpersonal
karena takut dikritik, tidak didukung atau ditolak
2. Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.
Pedoman Diagnostik (PPDGJ II)
Yang berikut ini adalah ciri khas fungsi kepribadian individu baik saat sekarang maupun dalam jangka
panjang, dan tidak terbatas oleh episode-episode suatu penyakit, dan yang menyebabkan hendaya yang
berarti dalam fungsi sosial atau pekerjaan, atau menimbulkan penderitaan subjektif.
a. Hipersensitivitas terhadap penolakan, misalnya kewaspadaan yang berlebihan terhadap celaan
orang atau penafsiran hal sepele sebagai suatu cemooh.
b. Tak ada kemauan untuk membentuk hubungan dengan orang lain, kecuali jika diberi jaminan yang
kuat bahwa dirinya akan diterima tanpa celaan.
c. Penarikan diri dari hubungan sosial, misalnya menjauhkan diri dan menjaga jarak dalam hubungan
erat dengan orang lain, mengambil peran perifer (tepi) dalam pergaulan maupun dalam pekerjaan
d. Ada keinginan untuk mendapat kasih sayang dan penerimaan orang lain.
e. Rasa rendah diri, misalnya memberi penilaian rendah terhadap hasil yang telah dicapainya dan
merasa sangat terganggu oleh kekurangan dirinya.
f. Apabila berusia dibawah 18 tahun tidak memenuhi kriteria Gangguan Menghindar Masa Kanak atau
Remaja.
I. Gangguan Kepribadian Dependen

Individu dengan gangguan kepribadian dependen memiliki kesulitan ntk mandiri dan memiliki ketergan
tungan yang kuat untuk diperhatikan oleh orang lain. Individu tersebut berpikir mereka tidak akan
mampu merawat diri mereka sendiri. Jika hubungannya dengan orang lain berakhit individu tersebut
akan tertekan dan sedih yang berlebihan lalu akan segera membentuk hubungan lain
Pedoman Diagnostik (PPDGJ II)
Yang berikut ini adalah ciri khas dari fungsi kepribadian seseorang baik saat sekarang maupun dlm jangka
panjang, dan tidak terbatas oleh episode penyakit, dan yang menyebabkan hendaya yang berarti dlm fungsi
sosial atau pekerjaan, atau suatu penderitaan yang subjektif.
a. Secara pasif membiarkan orang lain bertanggungjawab untuk aspek-aspek penting dari kehidupannya,
krn tidak mampu untuk berfungsi sendiri secara mandiri (misalnya membiarkan pasangannya menen
tukan jenis pekerjaan apa yang harus dilakukannya).
b. Menomorduakan kebutuhannya terhadap kebutuhan orang lain tempat ia menggantungkan diri agar
terhindar dari kemungkinan harus berdikari (misalnya sangat mentolerir pasangannya yang sering
memukul).
c. Kurang percaya akan kemampuan diri sendiri (misalnya selalu menganggap dirinya “bodoh” atau tak
berdaya).
Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)
1. Gangguan kepribadian dengan ciri-ciri:
• Mendorong atau membiarkan orang lain untuk mengambil sebagian besar keputusan penting
untuk dirinva;
• Meletakkan kebutuhan sendiri lebih rendah dari orang lain kepada siapa ia bergantung, dan
kepatuhan yang tidak semestinya terhadap keinginan mereka;
• Keengganan untuk mengajukan permintaan yang layak kepada orang dimana tempat ia bergan
tung;
• Perasaan tidak enak atau tidah berdaya apabila sendirian, karena ketakutan yang dibesar-
besarkan tentang ketidak mampuan mengurus diri sendiri;
• Preokupasi dengan ketakutan akan ditinggalkan oleh orang yang dekat dengannya, dan dibiar
kan untuk mengurus dirinya sendiri;
• Terbatasnya hent.am.puan untuk membuat keputusan sehari-hari tanpa mendapat nasehat yg
berlebihan dan dukungan dari orang lain.
2. Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.
J. Gangguan Kepribadian Obsesif-Kompulsif

Gangguan obsesif–kompulsif ditandai dgn adanya pola ketelitian, perfeksionis, kesesuaian sesuatu
terhadap aturan dan ketentuan, sifat yang kaku, dan keras kepala. Individu dengan gangguan ini
merupakan workaholics, yang menghabiskan waktunya untuk bekerja sehingga ia memiliki waktu yg
sangat sedikit untuk keluarga, pertemanan, & hiburan. Individu tersebut akan sulit berhenti memikir
kan sesuatu walaupun hal tersebut tidak memiliki nilai yang penting. Penanda dalam gangguan ini
disebut 3 ‘PS’ parsimonious, perfectionistic, dan punctual.
Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif ditunjukkan oleh 4 atau lebih dari berikut ini:
1. Preokupasi (sibuk) dengan rincian, aturan, daftar, urutan, organisasi, atau jadwal untuk sejauh bahwa
titik utama dari kegiatan ini adalah hilang.
2. Menunjukkan perfeksionisme yang mengganggu penyelesaian tugas (tidak dapat menyelesaikan proyek
karena standar nya terlalu ketat sendiri tidak terpenuhi).
3. Secara berlebihan dikhususkan untuk bekerja dan produktivitas dengan mengesampingkan kegiatan
rekreasi dan persahabatan.
4. Ketelitian yang berlebihan, cermat, dan tidak fleksibel tentang hal-hal moral, etika, atau nilai-nilai (tidak
diperhitungkan dengan identifikasi budaya atau agama).
5. Tidak mampu untuk membuang benda-benda usang atau tidak berharga bahkan ketika mereka tidak
memiliki nilai sentimental.
6. Enggan untuk mendelegasikan tugas atau bekerja dengan orang lain kecuali mereka tunduk kepada
persis nya atau cara dia melakukan sesuatu.
7. Mengadopsi gaya belanja kikir baik terhadap diri dan orang lain, uang dipandang sebagai sesuatu yang
harus ditimbun untuk menghadapi bencana di masa depan
8. Menunjukkan kekakuan dan keras kepala.
K. Gangguan Kepribadian Narsistik

Orang dengan adanya rasa pentingnya diri yang meningkat serta perasaan unik yang berlebihan

Kriteria diagnostik menurut PPDGJ II


Yang berikut ini adalah ciri khas kepribadian seorang baik pada saat sekarang maupun dalam jangka panjang, tidak di
batasi oleh episode-episode suatu penyakit, dan menyebabkan hendaya yang berarti dalam kehidupan sosial atau pek
erjaan, atau penderitaan yang subjektif:
A. Perasaan bangga yang berlebihan tentang kehebatan atau keunikan dirinya, misalnya memperkirakan
kemampuannya, kecantikannya, atau bakatnya secara berlebihan, melebih-lebihkan prestasi yang telah
dicapainya, atau memusatkan perhatian berlebihan pada permasalahan dirinya
B. Preokupasi dengan fantasi tentang sukses, kekuasaan, kecemerlangan, kecantikan, atau mendapatkan
cinta atau pasangan yang ideal.
C. Ekshibisionisme; orang itu selalu membutuhkan perhatlan dan pujian yang terus menerus.
D. Responsnya terhadap kritik, sikap tak acuh dari oranq lain, atau kekalahan, dpt berupa reaksi yang dingin
dan tak acuh, atau suatu respons yang ditandai dengan perasaan marah, rendah diri, malu, terhina, atau k
ekosongan yang hebat.
E. Sekurang-kurangnya menunjukkan dua ciri khas dari hubungan interpersonal yang berikut:
1. Perasaan berhak istimewa: menuntut untuk mendapatkan perlakuan istimewa dari orang lain, tanpa
rasa tanggung jawab untuk membalas hal itu, misalnya heran dan marah apabila orang lain tidak mau
mengerjakan apa yang dikehendakinya.
2. Hubungan interpersonal yang bersifat eksploitatif; mengambil keuntungan untuk diri sendiri dari oran
g lain untuk kepuasan atau kebesaran diri; tidak mempertimbangkan integritas dan hak-hak orang
lain
3. Hubungan interpersonal yang silih bergantian antara dua ekstrem, yang disatu pihak sangat
menyanjung dan di lain pihak yang sangat merendahkan
4. kurang mampu berempati: tak mampu mengenal dan turut menghayati bagaimana perasaan orang
lain, misalnya tak dapat turut merasakan penderitaan orang lain yang sakit berat, atau tidak dapat
menyadari dampak sakit hati pada orang lain akibat tindakannya.
L. Gangguan Kepribadian Siklotimik

Pedoman Diagnostik (PPDGJ II)


A. Selama paling sedikit dua tahun terakhir, terdapat beberapa periode dengan gejala khas dari sindrom depresi
dan hipomanik, tetapi lama dan parahnya gejala-gejala tersebut tidak cukup utk memenuhi kriteria episode
depresif berat atau episode manik

B. Periode depresif dan hipomanik itu dapat diselingi oleh periode afek yang normal yang dapat berlangsung
sehingga beberapa bulan, atau periode itu dapat silih berganti atau bercampur
C. - Selama periode depresif terdapat afek (mood) depresif, atau hilangnya minat atau rasa senang di dalam semu
a atau hampir semua aktivitas yang biasa dilakukan dan dalam waktu senggangnya, dan paling sedikit terdapat
tiga dari gejala berikut ini:
1. Insomnia atau hipersomnia
2. Kurang semangat atau rasa lelah yang kronik
3. Rasa rendah diri atau inadekuat
4. Penurunan aktivitas atau produktivitas di sekolah, pekerjaan, atau di rumah
5. Penurunan perhatian atau konsentrasi, atau kurang mampu berfikir secara jernih
6. Menarik diri dari pergaulan sosial
7. Kehilangan minat atau kenikmatan dalam seks
8. Membatasi diri dalam aktivitas yang menyenangkan, dan merasa bersalah atau menyesali tindakan-tindak
annya di masa lampau
9. Perasaan lamban dan lesu
10. Kurang suka berbicara apabila dibandingkan dengan keadaan biasanya
11. Sikap pesimistik terhadap masa depan atau menyesali hal-hal yang telah lalu
12. Mudah merasa sedih atau mudah menangis
- Selama periode hipomanik ada alam perasaan yang meninggi dan ekspansif atau iritabel, & paling sedikit terdapat
tiga dari gejala-gejala berikut ini:
1. Berkurangnya kebutuhan tidur
2. Lebih semangat dari biasanya
3. Rasa harga diri yang meningkat
4. Peningkatan produktivitas, yang sering berkaitan dengan penambahan jam kerja secara sukarela
5. Cara fikir yang lebih tajam dan lebih kreatif
6. Mencari kontak dengan orang lain secara berlebihan
7. Aktivitas seksual yang berlebihan tanpa menghiraukan akibat yang merugikan
8. Melibatkan diri secara berlebihan dalam aktivitas yang menyenangkan tanpa menghiraukan kemungkinan
yang merugikan dirinya (misalnya mengebut, menanam modal tanpa perhitungan)
9. Kegelisahan fisik
10. Berbicara lebih banyak dari pada biasanya
11. Optimisme yang berlebihan tentang hal-hal yang telah dicapainya
12. Tertawa-tawa, melucu atau bercanda secara berlebihan atau tak pantas.
D. Tidak terdapat ciri psikotik seperti waham, halusinasi, inkoherensi atau pelonggaran asosiasi

E. Tidak disebabkan oleh gangguan mental lainnya, seperti remisi sebagian (partial) dari Gangguan
Bipolar. Perlu dicatat bahwa Gangguan Kepribadian Siklotimik dapat merupakan pendahulu dari
Gangguan Bipolar.
M. Gangguan Kepribadian Eksplosif

Terdapat beberapa episode terbatas yang berulang dari hilangnya pengendalian impuls agresif yang
mengakibatkan tindak kekerasan yang hebat atau kerusakan harta benda. Derajat agresivitas yang terja
di selama episode itu sgt hebat dibandingkan dengan stressor psikososial yg merupakan pencetusnya.
Individu itu sendiri menggambarkan tindakannya sbg “dalam keadaan serangan” atau “sedang kumat”.
Gejala timbul mendadak dalam beberapa menit/jam, dan terlepas dari lamanya, episode umumnya cepat
sekali menghilang. Setelah episode itu, seringkali timbul rasa menyesal atau menyalahkan diri sendiri
akibat tindakannya, dan ketidakmampuannya utk mengendalikan impuls agresinya. Diantara episode itu
tidak terdapat tanda-tanda impulsi atau agresivitas.
Diagnosis tidak dibuat jika hilangnya pengendalian impuls agresif disebabkan oleh Skizofrenia,
Gg Kepribadian Antisosial, atau Gg Tingkah Laku,
Pedoman Diagnosis (PPDGJ II)
A. Terdapat beberapa episode yang terbatas dari hilangnya pengendalian impuls agresif, yang mengakibatkan tindak
kekerasan hebat atau kerusakan harta benda
B. Perilaku ini sangat hebat apabila dibandingkan dengan stresor psikososial sebagai faktor pencetusnya
C. Tidak terdapat tanda-tanda impulsi atau agresivitas di antara episode-episode
D. Tidak disebabkan oleh Skizofrenia, Gangguan Kepribadian Antisosial, atau Gangguan Tingkah Laku.
Thank you
Insert the title of
your subtitle Here