Vous êtes sur la page 1sur 21

Anti Jamur

EM Sutrisna
pendahuluan
• Pada dasawarsa terakhir, di seluruh dunia
disinyalir adanya peningkatan luar biasa
kasus infeksi oleh jamur. Kasus infeksi
seperti infeksi mukosa mulut, bronchia,
usus, vagina dan lain-lain oleh Candida
albicans.
Penggolongan obat jamur sistemik
• Amfoterisin B. Obat ini dapat menghambat aktivitas Histoplasma
capsulatum, Cryptococcus neoformans, Coccidioides immitis,
beberapa spesies Candida, Torulopsis glabrata, Rhodotorula,
Blastomyces dermatitis, Paracoc braziliensis, beberapa strain
Aspergillus, Sporotrichum schenckii, Microsporum audiouini dan
spesies Trichophyton.
• Flusitosin. Obat ini efektif untuk pengobatan Kriptokokosis,
Kandidosis, Kromomikosis, Torulopsis dan Aspergilosis.
• Ketokonazol dan Triazol. Sebagai turunan Imidazol, Ketokonazol
mempunyai aktivitas anti jamur baik sistemik maupun nonsistemik,
Efektif terhadap Candida, Coccioides immitis, Cryptococcus
neoformans, H.capsulatum, B.dermatitidis, Aspergillus dan
Sporothrix.
• Kalium Iodida adalah obat terpilih untuk Cutaneous lymphatic
sporotrichosis.
• Infeksi jamur (mikosis) sistemik jarang dijumpai, tetapi
berbahaya dan sifatnya kronis.
• Amfoterisin B merupakan obat jamur yang efektif untuk
infeksi sistemik yang berat. Dikarenakan toksisitasnya,
obat ini harus diberikan dengan infus di rumah sakit oleh
tenaga medis yang kompeten.
• Amfoterisin B berikatan kuat dengan sterol yang terdapat
pada membran sel jamur. Ikatan ini akan menyebabkan
membran sel bocor sehingga terjadi kehilangan bahan
intrasel dan mengakibatkan kerusakan yang tetap pada
sel.
• Disamping Amfoterisin B, Ketokonazol adalah suatu obat
jamur untuk infeksi sistemik yang berspektrum luas.
Infeksi jamur sistemik
• Aspergilosis. Aspergilosis paru sering terjadi pada penderita
penyakit imunosupresi yang berat dan tidak memberi respon yang
memuaskan terhadap pengobatan dengan obat jamur. Obat pilihan
untuk penyakit ini adalah Amfoterisin B secara intra vena dengan
dosis 0,5-1,0 mg/kg BB setiap hari.
• Blastomikosis. Obat jamur terpilih untuk Blastomikosis adalah
Ketokonazol per oral 400 mg mg sehari selama 6-12 bulan.
Itrakonazol dengan dengan dosis 200-400 mg sekali sehari juga
efektif pada beberapa kasus. Amfoterisin B sebagai cadangan untuk
penderita yang tidak dapat menerima Ketokonazol.
• Kandidiasis. Pengobatan menggunakan Amfoterisin B. Flusitosin
diberikan bersama Amfoterisin B untuk Meningitis, Endoftalmitis,
Artritis oleh Kandida. Disamping penyebarannya yang lebih baik ke
jaringan sakit, Flusitosisn diduga bekerja aditif dengan Amfoterisin B
sehingga dosis Amfoterisin B dapat dikurangi.
• Koksidioidomikosis. Adanya kavitis (ruang berongga) tunggal di
paru atau adanya infiltrasi fibrokavitis yang tidak responsif terhadap
kemoterapi merupakan ciri khas penyakit kronis Koksidioidomikosis.
Penyakit ini dapat diobati dengan Amfoterisin B secara intra vena,
Ketokonazol, Itrakonazol.
• Kriptokokosis. Obat terpilih adalah Amfoterisin B dengan dosis 0,4-
0,5 mg/kg per hari secara intra vena. Penambahan Flusitosin dapat
mengurangi pemakaian Amfoterisin B (0,3 mg/kg). Flukonazol
bermanfaat untuk terapi supresi pada penderita AIDS.
• Histoplasmosis. Penderita histoplasmosis paru kronis sebagian
besar dapat diobati dengan Ketokonazol 400 mg per hari selama 6-
12 bulan. Itrakonazol 200-400 mg sekali sehari juga cukup efektif.
Amfoterisin B intra vena secara intra vena juga dapat diberikan
selama 10 minggu.
• Mukormikosis. Amfoterisin B merupakan obat
pilihan untuk Mukormikosis paru kronis.
• Parakoksidioidomikosis. Ketokonazol 400 mg
per hari merupakan obat pilihan yang diberikan
selama 6-12 bulan. Pada keadaan yang berat
diberikan terapi awal Amfoterisin B.
• Sporotrikosis. Obat terpilih untuk keadaan ini
ialah pemberian oral larutan jenuh Kalium Iodida
(1 g/ml) dengan dosis 3 kali 40 tetes sehari yang
dicampur dengan sedikit air. Obat Sporotrikosis
yang menyerang paru, tulang,
Amfoterisin B
• Merupakan hasil fermentasi dari Streptomyces
nodosus
• Menyerang sel yang sedang tumbuh dan sel
matang
• Bersifat fungistatik atau fungisidal tergantung
dosis.
• Efektif menghambat Histoplasma capsulatum,
Cryptococcus neoformans, Candida,
Blastomyces dermatiditis, Aspergillus.
• Mekanism kerja : berikatan kuat dengan
ergosterol yang terdapat pada membran sel
jamur, sehingga menyebabkan kebocoran dari
membran sel, dan akhirnya lisis.
• Farmakokinetik : sangat sedikit diserap melalui
saluran cerna diberikan secara IV, distribusi ke
cairan pleura, peritoneal, sinovial dan akuosa,
CSS, cairan amnion. Ekskresi melalui ginjal
sangat lambat.
• Indikasi : mikosis sistemik seperti
koksidioidomikosis, parakoksidiomikosis,
aspergilosis, kandidiosis, blastomikosis,
histoplasmosis.
• Efek samping : demam dan menggigil,
gangguan ginjal, hipotensi, anemia, efek
neurologik, tromboflebitis.
• Penderita yang diobati amfoterisin B harus
dirawat di rumah sakit, karena diperlukan
pengamatan yang ketat selama pemberian obat.
• Sediaan : injeksi dalam vial yang
mengandung 50 mg, dilarutkan dalam 10
ml aquadest diencerkan dengan dextrose
5 % = 0,1 mg/ml larutan.
• Dosis : 0,3 – 0,5 mg / kg BB
Flusitosin
• Spektrum antijamur sempit
• Efektif untuk kriptokokosis, kandidiosis,
kromomikosis, aspergilosis.
• Mekanisme kerja : flusitosin masuk ke dalam
sel jamur dengan bantuan sitosin deaminase
dan dalam sitoplasma akan bergabung dengan
RNA setelah mengalami deaminasi menjadi 5-
fluorourasil. Sintesis protein sel jamur
terganggu akibat penghambatan langsung
sintesis DNA oleh metabolit 5fu.
Flusitosin
• Farmakokinetik : diserap dengan cepat dan
baik melalui sal.cerna, distribusi ke seluruh
tubuh, ekskresi oleh ginjal.
• Indikasi : kromoblastomikosis, meningitis
(kombinasi dengan amfoterisin B)
• Efek samping : toksisitas hematologik,
gangguan hati, gangguan sal.cerna
• Sediaan : kapsul 250 dan 500 mg.
• Dosis : 50 – 150 mg/kgBB sehari dibagi dalam
4 dosis, lakukan penyesuaian dosis pada
penderita insufisiensi ginjal.
Ketokonazol
• Efektif terhadap Candida, Coccodioides immitis,
Cryptococcus, H. capsulatum, Aspergillus.
• Mekanisme kerja : berinteraksi dengan enzim P-
450 untuk menghambat demetilasi lanosterol
menjadi ergosterol yang penting untuk membran
jamur.
• Farmakokinetik : diserap baik melalui sal. Cerna,
distribusi urin, kel.lemak,air ludah, kulit, tendon,
cairan sinovial. Ekskresi melalui empedu,
sebagian kecil ke urin.
• Indikasi :histoplasmosis paru, tulang, sendi dan
jaringan lemak, kriptokokosis, kandidosis.
Ketokonazol
• Efek samping : gangguan sal cerna, efek
endokrin (ginekomastia, pe libido,
impotensi, ketidakteraturan menstruasi)
• Kontra indikasi : tidak boleh diberikan
bersamaan dengan amfoterisin B
Flukonazol
• Efek samping endokrin lebih kecil dibanding
ketokonazol
• Mekanisme kerja : menghambat sintesis
ergosterol membran sel jamur.
• Farmakokinetik : diberikan oral dan IV, absorpsi
baik, ekskresi melalui ginjal.
• Efk samping : lebih kecil dibanding ketokonazol,
mual, muntah, kulit kemerahan, teratogenik.
Itrakonazol
• Obat pilihan untuk blastomikosis
• Efektif untuk aspergilosis, kandedimia,
koksidioidomikosis, kriptokokosis.
• Mekanisme kerja sama dengan azol lain
• Farmakokinetik : absorpsi baik melalui oral,
ekskresi melalui ginjal.
• Efek samping : mual, muntah, kulit kemerahan,
hipokalemia, hipertensi, edema dan sakit
kepala.
Griseofulvin
• Jamur yang menyebabkan infeksi jamur
superfisial disebut dermatofit.
• Mekanisme kerja : obat ini masuk ke dalam sel
jamur, berinteraksi dengan mikrotubulus dalam
jamur dan merusak serat mitotik dan
menghambat mitosis
• Farmakokinetik : absorpsi baik bila diberikan
bersama makanan berlemak tinggi,distribusi
baik ke jaringan yang terkena infeksi, inducer
P-450, ekskresi melalui ginjal.
Griseofulvin
• Efek samping : efek samping berat jarang
terjadi, hepatotoksik, teratogenik.
• Sediaan : tablet berisi mikrokristal 125 mg
dan 500 mg, suspensi 125 mg/ml.
Nistatin
• Merupakan antibiotik polien.
• Mekanisme kerja : berikatan dengan
ergosterol pada membran jamur,
permeabilitas meningkat, sel jamur mati.
• Indikasi : kandidiasis kulit, selaput lendir,
dan saluran cerna.
• Efek samping : jarang ditemukan, mual,
muntah, diare ringan
Mikonazol dan obat topikal lain
• Mikonazol, klotrimazol, ekonazol aktif
secara topikal jarang digunakan
parenteral.
• Efek samping : iritasi, rasa terbakar.
• Mekanisme kerja, spektrum, distribusi
sama dengan ketokonazol.
• Sediaan : Mikonazol krim 2 %, gel 2 %,
klotrimazol krim 1 %.