Vous êtes sur la page 1sur 40

DISUSUN OLEH:

Fitri Inda
110 210 0069
Anestesi yang diberikan melalui jalur
intravena, baik untuk tujuan hipnotik,
analgetik ataupun pelumpuh otot
 1) induksi anestesia

 2) induksi dan pemeliharaan anestesi pada


pembedahan singkat

 3) menambahkan efek hipnosis pada


anestesi inhalasi dan anestesi regional

 4) menambahkan sedasi pada tindakan


medik
2 golongan:
 1.) Obat yang terutama digunakan untuk induksi
anestesi, contohnya golongan barbiturat, eugenol,
dan steroid.

 2.) obat yang digunakan baik sendiri maupun


kombinasi untuk mendapat keadaan seperti pada
neuroleptanalgesia (contohnya: droperidol),
anestesi dissosiasi (contohnya: ketamin), sedative
(contohnya: diazepam).
 Propofol adalah salah satu dari kelompok
derivat fenol yang banyak digunakan sebagai
anastesia intravena. Pertama kali digunakan
dalam praktek anestesi pada tahun 1977
sebagai obat induksi.
 Waktu paruh 24-72 jam.

 Dosis induksi cepat menimbulkan sedasi (30-


45 detik) dengan durasi berkisar antara 20-75
menit tergantung dosis dan redistribusi dari
sistem saraf pusat.
 Metabolisme terjadi di hepar melalui
konjugasi oleh konjugasi oleh glukoronida
dan sulfat untuk membentuk metabolit
inaktif yang larut air yang kemudian
diekskresi melalui urin
Sistem saraf pusat.
 Dosis induksi menyebabkan pasien
kehilangan kesadaran dengan cepat akibat
ambilan obat lipofilik yang cepat oleh SSP,
dimana dalam dosis yang kecil dapat
menimbulkan efek sedasi, tanpa disetai efek
analgetik.
 Pada pemberian dosis induksi (2mg/kgBB)
pemulihan kesadaran berlangsung cepat.
 Dapat menyebabkan perubahan mood tapi
tidak sehebat thiopental.
 Propofol dapat menyebabkan penurunan
aliran darah ke otak dan konsumsi oksigen
otak sehingga dapat menurunkan tekanan
intrakranial dan tekanan intraokular
Sistem kardiovaskuler.
 Induksi bolus 2-2,5 mg/kg dapat
menyebabkan depresi pada jantung dan
pembuluh darah dimana tekanan dapat
turun.
 Hal ini disebabkan oleh efek dari propofol
yang menurunkan resistensi vaskular
sistemik sebanyak 30%.
Sistem pernafasan.
 Apnoe paling banyak didapatkan pada
pemberian propofol dibanding obat intravena
lainnya.
 Umumnya berlangsung selama 30 detik,
namun dapat memanjang dengan pemberian
opioid sebagai premedikasi atau sebelum
induksi dengan propofol.
 Dapat menurunkan frekuensi pernafasan dan
volume tidal.
 Dosis yang dianjurkan untuk induksi pada pasien
lebih dari 3 tahun dan kurang dari 55 tahun
adalah 2-2.5 mg/kgBB dan untuk pasien lebih
dari 55 tahun, pasien lemah atau dengan ASA
III/IV: 1-1.5 mg/kgBB.
 Untuk pemeliharaan dosis yang dianjurkan pada
pasien lebih dari 3 tahun dan kurang dari 55
tahun adalah 0.1-0.2 mg/menit/kgBB dan untuk
pasien lebih dari 55 tahun, pasien lemah atau
dengan ASA III/IV: 0.05-0.1 mg/menit/kgBB.
 Dosis yang dianjurkan yang dapat
menimbulkan sedasi adalah 0.1-0.15
mg/kgBB sebagai dosis inisial dengan dosis
pemeliharaan yang dianjurkan pada pasien
lebih dari 3 tahun dan kurang dari 55 tahun
adalah 0.025-0.075 mg/menit/kgBB dan untuk
pasien lebih dari 55 tahun, pasien lemah atau
dengan ASA III/IV: 0.02-0.06 mg/menit/kgBB.
 Bradikardi
 Hipotensi
 Myoclonus
 Opisthotonus
 Konvulsi
 Tiopental (pentotal, tiopenton) dikemas
dalam bentuk tepung atau bubuk berwarna
kuning, berbau belerang, biasanya dalam
ampul 500 mg atau 1000 mg.
 1.) Induksi mudah dan cepat
 2.) tidak ada delirium
 3.) kesadaran cepat pulih
 4.) tidak ada iritasi mukosa jalan nafas.
 1.) depresi pernafasan
 2.) depresi kardiovaskular
 3.) kecendurangan tejradinya spasme laring
4.) relaksasi otot perut kurang
 5.) tidak memiliki efek analgesik
 Waktu paruh thiopental berkisar antara 3-6 jam
dengan onset berkisar antara 30-60 detik dan
durasi kerja obat 20-30 menit.
 Bergantung dosis dan kecepatan suntikan,
thiopental akan menyebabkan pasien berada
dalam keadaan sedasi, hipnotik, anesthesia,
atau depresi nafas.
 Metabolisme thiopental terutama terjadi di
hepar dengan sebagian kecil thiopental keluar
lewat urin tanpa mengalami perubahan.
Sistem saraf pusat.
 Seperti barbiturat yang lain, thiopental
menimbulkan sedasi, hipnosis, atau tertidur
dan depresi pernafasan tergantung dosis dan
kecepatan pemberian
Sistem kardiovaskuler.
 Thiopental mendepresi pusat vasomotor dan
kontraktilitas miokard yang mengakibatkan
vasodilatasi, sehingga dapat menurunkan
curah jantung dan tekanan darah.
Sistem pernafasan.
 Efek utama ialah depresi pernafasan karena
efek langsung ke pusat pernafasan dan
penurunan sensitivitas terhadap kadar CO2
sehingga PCO2 akan meningkat dan pH darah
akan naik.
 Dosis yang dianjurkan untuk induksi yang
lambat 2-6mg/kgBB, sedangkan untuk
induksi yang cepat 3-4 mg/kgBB dibagi dalam
2-4 dosis.
 Rasa sakit
 Bengkak
 Kemerah-merahan
 Nekrosis
 Rasa terbakar
 Spasme arteri
 Thrombosis
 Ketamin adalah suatu “rapid acting non-
barbiturate general anesthetic”. Pertama kali
diperkenalkan oleh Domino and Carsen pada
tahun 1965.
 Onset pada pemberian intravena adalah 30
detik sedangkan dengan pemberian
intramuskular membutuhkan waktu 3-4
menit, tetapi durasi kerja juga didapatkan
lebih singkat pada pemberian intravena (5-10
menit) dibandingkan pemberian
intramuskular (12-25 menit).
Sistem saraf pusat.
 Ketamine memiliki efek analgetik yang kuat
akan tetapi efek hipnotiknya kurang (tidur
ringan) disertai anestesia disosiasi.
Sistem kardiovaskuler.
 Tekanan darah akan naik baik sistolik
maupun diastolik. Kenaikan rata-rata antara
20-25% dari tekanan darah semula mencapai
maksimum beberapa menit setelah suntikan
dan akan turun kembali dalam 15 menit
kemudian. Denyut jantung juga meningkat.
Sistem pernafasan.
 Depresi pernafasan kecil sekali dan hanya
sementara, kecuali dosis terlalu besar dan
adanya obat-obat depressan sebagai
premedikasi.
 Dosis yang dianjurkan untuk induksi pada
pasien dewasa adalah 1-4mg/kgBB atau 1-
2mg/kgBB dengan lama kerja 15-20 menit,
sedangkan melalui infus dengan kecepatan
0.5mg/kgBB/menit
1.) untuk prosedur dimana pengendalian jalan
nafas sulit, misalnya pada koreksi jaringan
sikatriks daerah leher;
2.) untuk prosedur diagnostic pada bedah saraf
atau radiologi (radiografi);
3.) tindakan ortopedi, misalnya reposisi;
4.) pada pasien dengan resiko tinggi karena
ketamin yang tidak mendepresi fungsi vital;
5.) untuk tindakan operasi kecil;
6.) di tempat dimana alat-alat anestesi tidak ada;
7.) pasien asma.
1.) Pasien hipertensi dengan tekanan darah
sistolik 160mmHg dan diastolic 100mmHg;
2.) Pasien dengan riwayat CVD;
3.) pasien dengan decompensatio cordis.
 Mimpi buruk sampai halusinasi visual yang
kadang berlanjut hingga 24 jam pasca
pemberian.